
Mendengar rumah Satya direnovasi, Belva tak mau bertanya lebih lanjut lagi. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian penuh bekerja. Wanita itu duduk di sofa ruang tamu apartemen Satya. Tubuhnya disandarkan pada sandaran sofa, rasanya begitu nyaman saat dirinya bisa merilekskan otot-otot tubuhnya.
Satya memperhatikan serta menatap wajah lelah Belva. Masih terlihat cantik meski dalam keadaan lelah seperti itu. Pria itu berlalu ke dapur lalu kembali lagi menuju ruang tamu dengan segelas air putih di tangannya.
"Kamu lelah ?" Tanya Satya.
Belva membuka kelopak matanya yang sempat dipejamkannya.
"Kenapa ?" Tanya Belva.
"Minumlah." Ucap Satya. Satu gelas itu disodorkan pada Belva.
"Aku tidak haus, kenapa memberiku minum." Ucap Belva.
Wanita itu benar-benar tidak peka dengan perhatian yang diberikan oleh Satya padanya. Pria itu hanya menghela napas pelan, terus bersabar menghadapi wanita dambaannya itu. Satya meletakkan gelas itu di atas meja.
"Mandilah jika tubuhmu lelah."
"Nanti saja di rumah. Menunggu anak-anak bangun baru kita akan kembali pulang."
Sejujurnya Satya tak ingin mengantar mereka kembali ke rumah minimalis Belva. Di apartemen miliknya Satya merasa sepi. Kehadiran Duo Kay menjadi penghibur dan pengisi keceriaan dalam waktu yang dilaluinya.
"Jika boleh meminta bolehkah kalian disini saja malam ini ?" Tanya Satya.
"Hari ini bukan hari akhir pekan. Belum jadwalnya mereka tidur bersamamu."
"Ck... Hanya untuk bersama mereka kenapa harus menunggu akhir pekan." Satya kesal setiap kali dirinya ingin lebih la dengan Duo Kay pasti selalu terhalang dengan sebuah jadwal.
"Sudah sesuai kesepakatan dengan anak-anak juga kan. Jangan mengubah kesepakatan itulah akan membuat mereka tidak disiplin." Ucap Belva setelahnya meraih gelas berisi air putih di meja depannya dan meneguknya sedikit lalu melekatkannya kembali.
Hembusan napas kasar Satya lakukan untuk membuang kekesalannya. Pria itu meraih gelas berisi air putih yang sempat diraih Belva. Meneguk isinya hingga tandas setengah gelas. Dia berdiri dari sofanya lalu pergi meninggalkan Belva seorang diri di ruang tamu. Wanita itu hanya melirik Satya dengan tatapan seolah berkata dia kenapa.
Seharian bekerja juga membuat Satya merasakan tubuh yang lelah. Memasuki kamar miliknya, pria itu langsung menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya degan air dingin. Terasa segar, seakan semua lelahnya ikut mengalir luruh bersama air yang membasahi tubuhnya.
Ternyata meski semuanya seperti berjalan dengan lancar tapi Satya cukup kesulitan mendekati Belva. Wanita itu lebih terkesan cuek dan tidak peka dengan Satya.
Selesai berganti pakaian dengan pakaian rumahan yang tampak lebih santai. Satya sudah terlihat lebih segar, wajah tampannya semakin terlihat meski memang usianya sudah memasuki kepala empat lebih.
"Mandi saja dulu, mumpung anak-anak masih tidur." Ujar Satya menghampiri Belva.
"Nanti saja lagipula aku tidak membawa perlengkapan mandi dan baju ganti."
"Semuanya sudah ada termasuk baju gantimu, mandilah."
"Maksudnya ? Aku tidak pernah membawa pakaian ku disini, bagaimana bisa ada baju ganti ku."
"Semua yang kamu butuhkan sudah ada di apartemen ini. Kamu tak perlu khawatir. Keperluan mu dan anak-anak semuanya sudah tersedia." Ujar Satya.
Belva meletakkan ponselnya dan beralih menatap Satya. Bagaimana maksud pria itu semua keperluannya sudah tersedia.
"Keperluan anak-anak ada di kamar mereka dan keperluan mu ada di kamar saya."
Belva membulatkan matanya. Mengapa harus seperti itu, itu artinya dirinya harus masuk ke kamar Satya. Hal yang paling malas Belva lakukan.
Semakin lama gelap semakin menyapa, Satya lupa ternyata sedari pagi gorden apartemennya belum ditutupnya. Langkah kakinya mendekati jendela besar apartemennya.
Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, terlihat langit begitu gelap. Beberapa kali kilat menyambar hingga terlihat kilat cahaya di langit.
Satya kembali ke sofa, duduk di sofa yang tadi ditempatinya. "Hujan deras, sebaiknya menginap saja disini. Beberapa jalan pasti macet karena banjir."
Belva mendesah malas, dirinya harus kembali menginap bersama Satya di satu atap.
***
Di tempat lain, Budhe Rohimah sudah menunggu kepulangan cucunya dan juga Belva maupun Bella. Wanita paruh baya itu hanya sendiri menunggu di rumah.
Hujan pun juga turun sangat deras di rumah minimalis Belva. Budhe Rohimah terlihat begitu khawatir, ia duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa pada belum pulang ya ? Hujannya deras sekali." Gumam Budhe Rohimah.
"Tadi Nak Satya bilang mau jemput si kembar dan Belva tapi kenapa tidak sampai-sampai."
Bersamaan pintu rumah terketuk, ragu-ragu Budhe Rohimah membuka pintu. Sebelumnya ia mengintip dari balik jendela kaca.
"Siapa itu ?" Batin Budhe Rohimah.
Tak urung dibukanya pintu rumah. Seseorang dengan jas hujan dengan motor yang diteduhkan di dalam teras. Orang itu begitu nekat saat memasukkan motornya di teras rumah Belva.
"Selamat malam Bu."
Saat pintu dibuka pria tersebut menyambut Budhe Rohimah dengan salamnya.
__ADS_1
"Iya malam. Ada apa ya ?" Tanya Budhe Rohimah dengan wajah penasaran dan waspada dalam hatinya.
"Maaf Bu, saya lancang parkir di teras. Hujan deras soalnya takut makanannya basah. Maaf ini tadi saya simpan di dalam jok motor."
Satu bungkus kantong plastik putih berukuran sedang diberikan pria itu pada Budhe Rohimah.
"Makanan ? Darimana ini ? Saya tidak pesan makanan." Ujar Budhe Rohimah semakin waspada.
"Ini dari warung sate Bu Bambang. Pesan dari yang punya warung katanya ini pesanan dari suaminya Non Belva."
"Suami Belva ? Siapa yang mereka maksud ?" Batin Budhe Rohimah.
"Ini Bu, mohon diterima. Saya mau lanjutkan perjalanan." Ucap pria yang masih terlihat mudah itu.
"Ini hujan deras sekali. Lebih baik tunggu saja disini dulu. Duduklah tapi maaf tunggu diluar ya mas."
"Terima kasih Bu. Tidak apa-apa disini saja sudah cukup."
"Sama-sama. Terima kasih untuk makanan ini." Ujar Budhe Rohimah.
Budhe Rohimah kembali masuk ke dalam rumah setelah pria pengantar makanan itu mengangguk. Merasa penasaran wanita tua itu menghubungi Belva.
Terdengar suara pria yang mengangkat panggilannya. Siapa lagi jika bukan Satya.
"Hallo Bu ?"
"Hallo... Nak Satya ? Belva mana kok Nak Satya yang angkat telepon ?"
"Belva sedang mandi Bu. Anak-anak dan Belva mampir ke apartemen saya. Ada apa Bu ?"
"Ini tadi ada orang antar makanan, pesannya dari suami Belva. Ibu takut kalau hanya ada orang iseng saja." Ujar Budhe Rohimah.
"Makanan ? Sate ?" Tanya Satya.
"Iya sate." Jawab Budhe Rohimah.
"Itu saya yang beli Bu. Tadi sebelum pergi saya sempat bilang kan kalau ibu tidak perlu masak. Saya yang cari lauk buat makan malam. Maaf hanya beli itu saja untuk ibu dan tidak mengantar langsung."
"Ohh dari kamu. Tapi kenapa mereka bilang dari suami Belva ?"
"Mereka kira saya suami Belva Bu, kita tadi malam bersama di warung tenda."
"Ohh... Ya sudah kalau begitu. Terima kasih Nak. Oh iya kapan cucu-cucu ibu akan pulang ?"
"Ah baiklah. Ibu tidak khawatir lagi kalau mereka bersamamu. Ya sudah ibu matikan teleponnya."
***
Satya baru saja meletakkan ponsel Belva ke atas meja. Belva baru saja keluar dari kamar Satya.
"Kenapa pegang-pegang ponselku ?" Tanya Belva menyelidik.
"Ibu menghubungi tadi." Jawab Satya santai.
"Ibu ? Budhe ?" Tanya Belva.
"Hm... Lihat saja di riwayat panggilan telepon."
Belva mengecek riwayat panggilan telepon miliknya. Membuktikan jika Satya tidak berbohong. Ternyata benar adanya Budhe Rohimah menghubungi dirinya.
"Budhe bilang apa ? Pasti mencari kami agar cepat pulang kan ?"
"Tidak, hanya menanyakan makanan yang datang saja. Sate tadi saya memesankan untuk ibu dan Bella."
Belva hanya ber-oh ria saja. Kembali ponselnya dibawa olehnya. Wanita itu memasuki kamar Duo Kay. Meninggalkan Satya begitu saja. Pria itu hanya melirik kepergian Belva lalu menggelengkan kepalanya.
"Susah sekali mendekatimu. Aku harus cari cara agar bisa dengan cepat mendekatimu. Ah tidak bukan mendekati lagi kalau bisa mendapatkan mu sekaligus." Gumam Satya.
Di dalam kamar Duo Kay. Kedua bocah itu tidur dengan posisi yang sudah tidak beraturan. Mereka tertidur dengan berlawanan arah. Sudah mulai malam, Belva tak tega membangunkan mereka tapi mereka belum mandi dan berganti pakaian.
Belva berjalan mendekati lemari yang ada di kamar itu dibukanya ternyata memang benar beberapa baju berukuran kecil berada di dalam lemari itu. Semua baju berukuran pas untuk Duo Kay. Pasti memang Satya sudah mempersiapkan dengan sengaja untuk Duo Kay.
Mau tak mau Belva, harus melepaskan pakaian mereka satu persatu secara perlahan. Digantikan oleh nya pakaian si kembar.
Saat sudah hampir selesai memakaikan baju pada Kaila. Satya menyusul masuk ke dalam kamar Duo Kay.
"Mereka belum bangun ?" Tanya Satya, Belva menggelengkan kepala.
"Lebih baik jangan dibangunkan. Kasihan pasti mereka lelah." Ujar Satya.
"Aku juga tak tega membangunkan mereka, maka dari itu ku ganti pakaian mereka saja."
__ADS_1
Satya duduk di pinggir ranjang Duo Kay. Menatap wajah kedua anaknya yang tertidur pulas. Ingin rasanya setiap hari bisa menatap wajah polos mereka.
"Apa mereka tak menanyakan saya setiap hari jika saya tidak ada di samping mereka ?"
"Kadang... Mereka terlalu senang jika bersamamu."
"Maka dari itu ijinkan kami bersama setiap hari." Ujar Satya.
"Bagaimana maksudnya setiap hari ? Kamu mau mengambil hak asuh mereka begitu ?" Ucap Belva menatap Satya tajam.
Beralih Satya dari duduknya dan mendekati Belva. Diraih tangan Belva dan digenggamnya. Belva sedikit terkejut merasakan genggaman Satya.
"Kamu sakit ?" Tanya Belva.
"Tidak." Jawab Satya.
Tangan Satya terasa panas menurut Belva. Meski Satya mengatakan tidak tapi suhu tubuh Satya tidak bisa berbohong.
"Suhu tubuh mu tinggi."
"Saya tak mengambil hak asuh anak-anak tapi kita yang akan mengasuh mereka bersama." Ujar Satya yang tidak nyambung sama sekali dengan ucapan Belva yang terakhir.
"Belva menikahlah denganku." Ucap Satya secara spontan.
Belva kembali terkejut bahkan matanya melebar dan mulut nya sedikit terbuka. Pria dihadapannya ini sedang tak baik-baik saja. Dia sakit, suhu tubuhnya tinggi pasti berbicara melantur tak jelas seperti itu.
"Sebaiknya kamu istirahat, kamu sedang sakit."
"Aku baik-baik saja." Ucap Satya.
"Tidurlah di kamarmu. Kamu harus istirahat."
Satya tetap menggelengkan kepalanya, bersikeras untuk tetap berada di kamar anak-anaknya. Menunggu respon dari Belva atas ucapannya.
Tak ingin terjadi sesuatu, Belva berdiri dari bibir ranjang. Menarik tangan Satya keluar dari kamar Duo Kay.
"Ayo ikut." Tarik Belva.
Satya hanya menurut saja saat itu. Tanpa menolak sedikitpun tarikan tangan Belva pada lengannya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar Satya.
"Kamu beristirahatlah. Aku ambilkan obat penurun demam. Tubuhmu panas." Belva menempelkan punggung tangannya pada Satya. Pria itu tersenyum tipis dengan apa yang Belva lakukan.
"Kamu khawatir pada saya ?" Tanya Satya.
"Khawatir, sesama manusia aku tidak bisa membiarkan orang lain dalam keadaan tak baik-baik saja. Berbaringlah."
Belva mendorong sedikit tubuh Satya agar duduk dan berbaring di atas ranjang. Lagi-lagi Satya hanya menurut saja. Dirinya berbaring di atas ranjang. Belva menarik selimut untuk menutupi tubuh Satya.
Langkah kaki Belva menuju dapur dan beberapa tempat dimana diletakan sebuah kotak obat. Di sudut dekat ruang makan Belva mendapatkan kotak obat tersebut. Hanya ada termometer dan tidak ada obat penurun panas.
"Air... Iya kompres saja pakai air dingin." Gumam Belva.
Disiapkan nya baskom beserta air dingin dari keran serta sebuah handuk kecil. Tak lupa termometernya juga dibawanya untuk mengecek suhu tubuh Satya.
Pria itu sedang Demam, Belva mencoba untuk membantu dan menolong pria yang menjadi Daddy dari anak-anak nya itu. Walau bagaimanapun Belva tak mungkin acuh dan tak perduli pada pria itu.
Diberikan termometer pada mulut Satya. Tapi pria itu menolak, dengan alasan termometer itu biasa digunakannya pada ketiak nya. Belva menurut saja atas kemauan Satya, diletakkan termometer pada ketiak pria itu.
Sembari menunggu hasil termometer, Belva mencoba mengompres dahi Satya dengan air dingin yang ada di baskom.
"Kenapa harus dikompres. Saya tidak apa-apa."
"Panas begini tidak apa-apa ? Kalau sakit sampai masuk rumah sakit nanti aku yang repot. Anak-anak akan terus merengek menjenguk mu dan itu tidak baik untuk mereka sering di rumah sakit."
"Kamu saja yang merawat jadi tak perlu ke rumah sakit." Ucap Satya cuek dan datar.
"Ck... Semakin merepotkan ku. Sudah diam."
Satya diam tak bersuara, entah dalam waktu tertentu pria itu selalu saja menurut pada Belva. Sikapnya yang keras kepala dan tidak mau diatur kini berubah saat bersama Belva. Dulu saat bersama Sonia, Satya akan marah jika wanita itu mengatur kehidupannya.
Dengan telaten Belva mengompres Satya. Berdalih dengan alasan kemanusiaan dan akan membuatnya repot jika Satya sakit, membuat Belva mau tak mau harus mengurus Satya saat ini.
Perlahan Satya menutup kelopak matanya, berkata dirinya baik-baik saja tapi nyatanya tubuhnya memang terasa lelah dan panas. Matanya juga terasa panas akibat suhu tubuhnya yang tinggi. Hingga pria itu benar-benar tak sadar dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
Pergerakan teratur dari perut Satya menandakan jika pria itu sudah tertidur dengan hembusan napas yang juga teratur. Dilepaskan termometer yang terselip di ketiak Satya. Terlihat jika suhu tubuh pria itu mencapai 39 derajat.
"Pantas saja terasa panas sekali. Bagaimana bisa dia tahan dengan suhu sepanas ini." Gumam Belva.
****
To Be Continue...
__ADS_1
Terimakasih atas segala bentuk support dari kalian. Author tiap hari selalu berusaha buat up karena semangat dan dukungan dari kalian yang terus kejar author buat lanjut... lanjut... dan lanjut... 💪💪