Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 42. Pertemuan Belva Sonia


__ADS_3

Sejak kejadian memalukan di cafe beberapa waktu lalu, Alya merasa semakin benci terhadap Belva. Entah mengapa wanita yang selalu dipanggilnya perempuan kampung itu justru selalu selamat dari segala rencananya busuknya.


Memang jika seseorang yang sudah membenci pasti rasa itu akan mendarah daging dan tak akan merasa puas jika orang yang dibencinya merasa sengsara.


"Sialan. Kenapa perempuan kampung itu selalu saja mujur. Lihat saja aku tidak akan berhenti membuat hidupmu tak tenang."


Lagi-lagi Alya sibuk mencari cara untuk membuat Belva merasa sengsara. Ia masih tak rela jika perempuan yang pernah menjadi temannya semasa SMA itu merasakan kebahagiaan.


"Sudah cukup rasa senangmu Belva. Dulu kamu bisa tersenyum sedangkan aku selalu merasa terhina oleh orang tuaku sendiri. Kali ini kupastikan hidupmu akan sengsara."


Selesai melupakan kekesalannya, ia meraih satu batang rokok dari wadahnya dan menyulutnya dengan korek api. Asap mengepul dengan cukup tebal kala hembusan itu keluar dari mulut Alya.


Setelah menghisap rokok itu Alya merasa lebih tenang dan nyaman. Sementara bisa mengalihkan permasalahannya dan juga perasaannya yang tak karuan. Rasa tak tenang, rasa tak bahagia seakan selalu Alya dapatkan semasa ia menjalani kehidupannya. Entah hal itu berasal dari mana Alya sendiri pun tak pernah tahu atau tak pernah sadar.


Namun, kembali lagi pertemuannya dengan Jack seakan menjadi angin segar bagi kehidupan Alya. Ia dapat merasakan kebahagiaan dari seorang Jack. Kebebasan yang Alya jalankan saat ini semuanya berasal dari Jack yang selalu mengatakan jika Alya butuh hiburan, Alya butuh melepaskan penat dan segala macam penuturan dari Jack.


Lelah, gadis itu tertidur dengan sendirinya di dalam kamar. Cukup lama gadis itu tertidur hingga hari mulai sore. Saat terbangun ia memilih untuk mandi terlebih dahulu lalu mengisi perutnya yang sudah lapar.


Perintah-perintah yang tak melihat seberapa besar selisih usia diantara mereka selalu keluar dari mulut Alya. Meski dengan Mbok Yati yang usianya jauh lebih tua Alya tak perduli. Ia menyuruh tanpa ada kata tolong, maaf dan terimakasih.


Angkuh dan kasar yang para pekerja rasakan jika Alya memerintah mereka. Bagi Alya mereka adalah pembantu yang tak gratis dipekerjakan. Mereka digaji memang untuk diperintah. Para ART tak bisa berkutik, tugas mereka melayani dan membantu majikan meski perlakuan sang majikan tam membuat mereka nyaman.


Dalam kegiatan makannya, ia memiliki ide yang menurutnya sangat brilian. Tersenyum senang tak sabar untuk menjalan idenya tersebut. Selesai makan, ia kembali lagi ke kamar.


Sonia dan Satya yang juga baru pulang saat waktu hampir menunjukkan pukul tujuh. Mereka tidak pergi bersama, melainkan sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Habis dari mana saja kamu." Tanya Satya datar dan dingin.


"Arisan lah apalagi." Jawab Sonia dengan enteng. Di tangan wanita itu sudah ada beberapa paper bag.


"Kegiatan tak penting." Gumam Satya yang berlalu meninggalkan Sonia dengan langkah kakinya yang panjang.


Sonia tak perduli sama sekali, ia kembali berjalan mengikuti Satya karena tujuan mereka memang sama-sama ke kamar.


Berada dalam satu rumah tapi lebih banyak merasa seperti orang asing yang berkumpul menjadi satu. Itulah yang Satya rasakan saat anak dan istrinya berada di rumah bersama dirinya.


Makan malam kembali dilakukan oleh keluarga kecil itu. Saat makan malam berlangsung sesuai dengan ketentuan Sonia, untuk yang bekerja memasak dan melayani makan malam harus siap siaga di dapur sedangkan yang lain diperbolehkan makan di tempat khusus para ART.


Alya yang sore tadi sudah makan, kini gadis itu kembali menikmati makan malam. Suara dari bibir tak berani keluar jika tidak ada hal yang penting seperti menambah lauk atau yang berhubungan dengan makanan yang ada dihadapan mereka.


"Mbok Yati, buatkan kopi dan antar ke ruang kerjaku." Ucap Satya saat sudah selesai makan malam.


"Baik Tuan."


Mbok Yati berlalu dari meja makan melakukan tugasnya. Satya hendak berlalu meninggalkan meja makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun untuk anak dan istrinya.


"Dad sudah selesai ?" Tanya Sonia saat Satya mulai melangkah.


"Ya... Selesai makanan kalian." Ucap Satya menjawab saat mendengar pertanyaan istrinya lalu benar-benar berlalu.


Saat Satya sudah tak terlihat lagi, kini Alya yang membuka pertanyaan untuk sang Mommy.


"Mom, mana gaun yang kamu pesan di butik itu ?" Tanya Alya.


"Belum Mommy ambil, tapi mommy sempat meminta foto gaunnya. Cantik sekali Alya, ini kamu lihat kamu pasti suka." Ucap Sonia antusias lalu menyodorkan ponselnya yang telah dibuka untuk memperlihatkan gambar gaun pesanannya.


Alya mengamati gambar tersebut dengan seksama. "Benarkan bagus ? Pakaian Mommy akan terlihat lebih bagus dari pada wanita sok anggun itu."


Sonia tampak sangat bangga dan bahagia akan hasil dari gaun yang dipesannya itu. Ia puas atas hasil karya Evankay boutique. Meski hanya melihat melalui foto saja tapi ia yakin hasil nyatanya akan lebih bagus lagi jika dikenakannya sendiri. Bahkan merasa terkejut dengan hasilnya Sonia melakukan panggilan Video dengan Bella tadi saat berada di luar rumah, Bella menunjukkan hasil gaunnya dan Sonia benar-benar yakin atas hasilnya.


"Bagus juga gaunnya, tapi pasti bukan perempuan kampung itukan yang membuatnya." Gumam Alya dalam hati.


"Heemm lumayan." Jawab Alya.


"Ck... Lumayan bagaimana ? Lihat ini perhatikan baik-baik. Gaunnya sangat bagus seperti ini kami bulamg lumayan. Ini dirancang langsung oleh pemilik butik yang dari Jerman itu." Ucap Sonia dengan sedikit kesal.


"Benarkan, pasti bukan perempuan kampung itu pantas saja hasilnya bagus sekali." Gumam Alya kembali dalam hati.


"Iya itu bagus sekali. Kapan Mommy akan mengambilnya. Aku ingin melihatmu memakai pakaian itu."


"Besok siang Mommy akan mengambilnya. Kamu mau ikut ?"


"Lihat besok saja Mom, aku tak tahu karena harus mengantarkan Jack ke Bandara."


"Oke terserah kamu saja." Ucap Sonia.


Pagi menjelang Alya masih bersantai di dalam kamarnya. Masih sebentar lagi ia pergi mengantar Jack. Tapi ponselnya sudah berdering, satu panggilan dari Jack yang menyuruhnya datang ke apartemen lebih awal.


Alya segera bersiap-siap untuk pergi, pakaian sudah rapi. Kini ia menuju ruang makan, Mommy sudah berada di sana, mereka memulai sarapan tanpa Satya karena pria itu sudah berangkat terlebih dahulu ke kantor.


Bertemu dengan Jack adalah kebahagiaan tersendiri untuk Alya. Dengan semangat mengendarai mobilnya menuju apartemen Jack. Langkahnya begitu ringan saat memasuki lift menuju lantai apartemen Jack. Sampai di depan pintu apartemen Jack, ia baru tersadar jika kekasihnya itu sebentar lagi akan pergi dengan waktu yang cukup lama menurut Alya. Jack mengatakan jika pria itu ada urusan keluarga di Singapura dalam waktu dua minggu lamanya.


Menekan tombol password pintu Alya dapat dengan mudah masuk ke dalam apartemen Jack. Tampak sepi di ruang tamu, Alya mencari Jack di dapur pun tak ada. Berati sudah pasti kekasihnya itu berada di dalam kamar. Tanpa canggung Alya masuk ke dalam kamar Jack. Disaat bersamaan Jack keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.


"Baby, kamu baru saja datang ?" Tanya Jack sembari mengusap-usap rambutnya yang basah.


"Iya Beb. Kenapa menyuruhku datang lebih awal ?" Alya berjalan masuk dan meletakkan tasnya di atas ranjang.


Jack menghampiri Alya, bau harus sabun dengan aroma maskulin itu masuk menyeruak dalam indera penciuman Alya. Jack mendekap tubuh Alya dari belakang.


"Aku akan berangkat ke Singapura sebentar lagi. Jadi aku ingin kita menikmati waktu bersama sebelum keberangkatanku." Ucap Jack dengan lembut, tangan kekarnya menyingkirkan rambut Alya dan sesekali bibirnya mencium leher Alya.


"Beb... Geli..." Suara manja Alya keluar saat diperlukan Jack seperti itu. Tapi Jack tak menghiraukan sama sekali, pria itu masih saja sibuk dengan aktivitasnya sendiri.


"Baby... Kita beberapa hari kedepan tidak akan bertemu. Tentu aku akan sangat merindukanmu." Suara Jack sudah parau dan berat.


Alya merasa sedih mendengar ucapan Jack. Ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Jack. Lalu memeluk tubuh pria itu dengan sangat erat.


"Hei Baby, jangan menangis." Jack mengangkat wajah Alya, memang wanita itu menangis saat memeluk erat tubuh Jack.


"Beb, kamu pasti akan kembali ke sini lagi kan ?" Tanya Alya lirih.


"Tentu saja." Jack menghapus air mata Alya. Perlakuan yang begitu lembut dari seorang Jack.


"Aku akan kembali asal kamu tersenyum dan kita habiskan waktu bersama di sana." Lirikan mata Jack terarah pada ranjang miliknya.


Alya paham akan apa yang dibicarakan oleh Jack. Ia sedikit tersenyum dan mengikuti apa yang Jack inginkan. Wanita itu takut kehilangan kekasihnya yang selama ini memperlakukannya dengan lembut.


Waktu yang singkat tak lebih dari dua jam itu dipergunakan Jack dan Alya dengan sebaik mungkin. Senyum puas mengembang di bibir pria itu kala mendapatkan apa yang diinginkannya sebelum pergi. Alya masih memeluk tubuh kekasihnya dengan keadaan polos. Hingga waktunya hampir tiba mereka membersihkan diri dan pergi dari apartemen menuju Bandara.


****


Di rumah minimalis milik Belva, seluruh penghuni rumah telah bersiap untuk melakukan kegiatan mereka hari ini. Sarapan pun sudah mereka lakukan. Sejak Belva sakit waktu lalu, Budhe Rohimah tetap ingin membantu Belva di butik sekaligus menjaga Duo Kay setelah pulang sekolah. Meski kehadirannya di butik hanya setengah hari saja.


"Kak, kemarin ada customer yang melakukan panggilan video padaku. Dia terlihat sangat senang dan puas atas gaun pesanannya."


"Oh ya ? Bagus kalai begitu jadi kita tambah semangat kerjanya. Gaun yang mana Bel ?" Tanya Belva.


"Itu yang warna biru, pesanan atas nama Nyonya Aruni. Orangnya sih agak judes dan sombong gitu sih."


"Husss... Jangan bilang seperti itu. Bagaimana pun juga dia akan menjadi pelanggan tetap kita kalau dia merasa puas."


Budhe Rohimah menyimak pembicaraan Belva dan juga Bella. Nama yang disebutkan oleh Bella terdengar familiar baginya.

__ADS_1


"Aunty... Pewarna aku yang tadi malam disimpan dimana ?" Tanya Kaila.


"Pewarna ? Oh sebentar aunty ambilkan. Ayo kita ke kamar." Bella dan Kaila masuk ke dalam kamar mereka.


"Nduk... Budhe mau bicara sebentar ? Penting karena Budhe lupa kemarin." Tanya Budhe Rohimah.


"Apa Budhe kok mukanya serius sekali."


"Nduk, beberapa waktu lalu, Budhe melihat Nyonya Sonia di butikmu." Ucap Budhe Rohimah lirih.


Belva terkejut mendengar penuturan Budhe Rohimah. Kenapa bisa orang itu berada di butiknya pikir Belva. Ada rasa khawatir dalam benak Belva jika harus bertemu lagi dengan mantan majikannya.


"Maaf Budhe lupa cerita padamu. Waktu itu Budhe sangat terkejut saat akan ke ruangan Bella. Nyonya Sonia sedang berjalan keluar sembari melihat-lihat koleksi pakaian butik. Jadi, dia tidak menyadari keberadaan Budhe."


"Coba kamu pastikan, apakah salah satu customer mu itu Nyonya Sonia atau bukan. Entah dia sudah tahu keberadaanmu atau belum tapi Budhe takut terjadi yang tidak-tidak. Tadi Budhe mendengar nama Aruni disebut sebagai customer kamu, coba pastikan. Cari fotonya di sosial media lalu tanyakan pada Bella."


Budhe Rohimah mengusap punggung Belva agar keponakannya itu sedikit tenang. Sangat terlihat dari raut wajah Belva jika ia tadi begitu terkejut dan juga takut.


Segera Belva mengambil ponselnya dan mencari di media sosial Instagram. Tak susah mencari akun Sonia. Sebagai keluarga pengusaha yang sudah masuk ke deretan orang-orang penting tentu mereka terkenal dan pasti sudah masuk ke dalam media pencarian. Diambil foto itu yang nanti akan ditunjukkan pada Bella untuk memastikan.


"Bella, emm... Apakah salah satu customer kita adalah wanita ini ?" Belva menunjukkan foto Sonia.


"Kok kakak tahu ? Kamu mengenalnya ?" Tanya Bella penasaran karena setahunya Belva belum bertemu sama sekali saat di butik.


"Ah aku tak sengaja saat membuka Instagram, ternyata dia menandai butik kita, kamu mengirimkan foto hasil gaunnya padanya ?"


"Oh iya kak, kemarin dia meminta difotokan. Memang benar dia yang memesan gaun itu atas nama Nyonya Aruni."


Hati Belva sudah tak karuan, kenyataannya memang benar mantan majikannya memesan gaun di butik nya. Ia sudah berpikir keras agar tidak lagi bertemu dengan orang-orang di masa lalunya dengan berhadapan secara langsung. Ibu muda itu saling melirik dengan Budhe Rohimah. Wanita paruh baya itu juga sudah terlihat khawatir.


"Emm... Oke... Kapan... gaun itu akan diambil ?" Tanya Belva berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Dia bilang nanti siang kak."


Belva hanya mengangguk, ia tak lagi berminat untuk membicarakan lebih. Pikirannya kini tertuju untuk mencari cara agar tak bertemu dengan customernya yang satu itu.


Selesai sarapan mereka kembali melanjutkan kegiatan selanjutnya. Belva mengantar Duo Kay berangkat ke sekolah sedangkan Budhe Rohimah dan juga Bella berangkat terlebih dahulu ke butik.


Pikiran Belva saat ini tak tenang. Setelah sekian lama ia berusaha menguburkan semua kenangan termasuk orang-orang di masa lalunya tapi mengapa seolah mereka satu persatu muncul dihadapannya. Jika bertemu dengan Alya, Belva masih merasa mampu menghadapi gadis itu.


Ada rasa marah dan kesalnya pada Alya, karena gadis itu semua permasalahan hidupnya muncul. Belum lagi sikap kasar alya terhadap Budhe Rohimah semakin membuat Belva enggan mengenal Alya. Jika berhadapan dengan Sonia, ia tak seberani menghadapi Alya, wanita itu dulu bahkan nekat ingin membunuhnya. Rasa trauma itu masih ada saat mengenang Sonia.


Sekembalinya mengantar Duo Kay dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Pikiran itu benar tak bisa diajak kompromi. Ia duduk gelisah, entah mengapa perasaannya hari ini tak enak saat mendengar Sonia akan datang ke butik.


Budhe Rohimah yang melihat gelagat keponakannya langsung menghampiri. Ia juga merasa kalau saat ini Belva sedang tidak baik-baik saja.


"Nduk... Apa yang kamu rasakan, cerita sama Budhe."


"Budhe, aku takut jika harus bertemu kembali dengannya. Kalau wanita itu berbuat nekat lagi bagaimana ?"


"Budhe juga takut Nduk... Begini saja biar Budhe bilang pada Bella jika kamu sedang tidak enak badan. Si kembar Budhe yang jemput saja dan langsung bawa ke rumah." Saran Budhe Rohimah.


"Ah iya... Iya... Budhe benar. Aku harus melindungi anak-anak ku." Wajah Belva masih terlihat panik.


"Sudah kamu tenang Nduk. Kita hadapi sama-sama." Budhe Rohimah memeluk tubuh keponakannya itu dengan lembut. Mencoba menenangkannya meski ia sendiri saat ini juga merasa takut jika sampai terjadi hal yang buruk kembali pada keponakannya.


"Budhe... Aku takut..." Suara lirih Belva, ia memeluk erat tubuh Budhenya.


Siang pun tiba, kini waktunya Duo Kay pulang sekolah. Seperti rencananya tadi, Budhe Rohimah lah yang akan menjemput Duo Kay.


"Budhe mau kemana ?" Tanya Bella.


"Budhe mau jemput si kembar. Belva sakit Nduk, sebaiknya biarkan dia istirahat saja di dalam."


"Tidak usah Budhe saja sekalian mau pulang ke rumah."


"Ya sudah. Budhe hati-hati, aku ke atas dulu."


Bella naik ke lantai dua ruangan khusus Belva. Terlihat Belva sedang melamun. Masuknya Bella saja tak dirasakan oleh wanita itu bahkan sentuhan tangan Bella pada pundaknya membuatnya terkejut.


"Nona, anda sakit ?" Tanya Bella.


"Eh iya... Iya badanku tak nyaman. Jadi, tolong kamu handle seluruh customer yang datang. Aku tak bisa bertemu dengan mereka."


"Baiklah, beristirahatlah. Saya keluar dulu Nona."


Sedangkan Budhe Rohimah Nyang baru saja keluar karena taksi online pesanannya sudah datang pun terkejut dengan kedatangan Alya. Mata wanita paruh baya itu membulat lebar, degup jantungnya pun lebih cepat dari biasanya karena terkejut.


"Astaga aku sudah tua kenapa harus dikejutkan dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba." Gumam Budhe Rohimah dalam hati.


"Dia pembantu sialan itu ada di sini. Berarti memang benar disinilah perempuan kampung itu berada." Gumam Alya saat melihat Budhe Rohimah.


Langkah Alya semakin cepat untuk mendekati Budhe Rohimah tapi wanita paruh baya itu dengan cepat pula masuk ke dalam mobil yang sudah tak jauh berhenti di depannya.


"Jalan Pak cepat !!" Ucap Budhe Rohimah panik tanpa sadar bersuara sedikit lantang. Sopir yang terkejut langsung menjalankan mobilnya sesuai perintah.


"Ck... Ah sialan !! Wanita tua itu benar-benar menyebalkan."


"Oke tenang Alya. Wanita tua itu tak penting bagimu. Sekarang yang terpenting adalah kita mulai pertunjukan hari ini." Gumam Alya dengan wajah dihiasi senyum sinisnya.


Langkah yang begitu bersemangat untuk memasuki butik. Pandangan pertama kali kala memasuki ruangan yang penuh dengan tatanan baju yang rapi itu sejujurnya membuat Alya menyukai tempat itu. Sapaan ramah dari pegawai butik pun sudah bisa dikatakan cukup baik untuk sebuah pelayanan. Deretan baju-baju yang tergantung itu juga menarik perhatian Alya.


"Benar kata Mommy, koleksinya bagus-bagus." Batin Alya.


Gadis itu berkeliling melihat-lihat beberapa koleksi bajunya yang tertata rapi. Ia sangat yakin jika butik ini bukanlah milik Belva. Meski ia sempat mengira jika butik ini milik Belva. Tapi jika Belva hanya karyawan mengapa wanita itu tak terlihat pikir Alya.


"Ada yang bisa saya bantu Nona ?" Tanya pegawai butik.


"Tidak ada. Saya hanya ingin melihat-lihat saja. Oh ya untuk pemesanannya bagaimana ?"


"Kalau untuk pemesanan Nona bisa ke ruangan Nona Bella. Dia yang bertanggung jawab untuk bagian pemesanan."


"Bella ? Belva ? Kenapa mirip ? Apakah itu nama panggilan si perempuan kampung itu ?" Gumam Alya dalam hati.


"Nona Bella ? Apa dia masih muda seumuran dengan saya ?" Tanya Alya ingin lebih memastikan.


"Benar Nona, sepertinya memang seusia Anda."


"Berkulit putih dan berbuat panjang ?" Tanya Alya kembali dan diangguki oleh pegawai butik.


"Dimana pemilik butik ini ? Kalau bisa aku ingin bertemu."


"Maaf Nona, beliau sedang tidak bisa diganggu untuk hari ini. Jika sudah seperti itu maka semua akan dipercaya pada Nona Bella selalu kepercayaan pemilik butik."


Alya merasa yakin jika Bella itu adalah nama panggilan Belva di butik ini. Semakin yakin pula bagi Alya untuk menjalankan aksinya. Terlebih penjelasan jika yang bernama Bella itu ditunjuk sebagai kepercayaan otomatis semua permasalahan hari ini menjadi tanggung jawab Bella.


"Jadi semua pemesanan harus ke ruangan Nona Bella ya ?"


"Iya Nona, anda bisa ke sana bersama pegawai yang itu." Tunjuk pegawai butik pada pegawai baru setelah pegawai baru itu datang ia pergi untuk mengurus pekerjaan yang lain.


Dengan diantar oleh pegawai itu Alya pergi untuk beberapa saat. Dan kembali lagi ke depan tanpa pegawai yang mengantarkannya. Saat itu juga ia melihat kedatangan Mommy nya yang masuk ke dalam butik.


"Mom, kenapa sudah sampai bukannya Mommy bilang nanti habis makan siang baru ke sini ya ?"

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sampai sini rupanya. Tunggu rambutmu tercium sangat wangi." Ucap Sonia.


"Ah iya Mom tadi aku sempat ke salon creambath dulu sambil menunggu waktu agar tak terlalu pagi datang ke sini." Alya tersenyum kikuk saat Mommy membahas rambutnya.


"Oh... Kenapa tidak mengajak Mommy kan bisa sama-sama perawatan kita sayang."


Dari arah belakang Bella bertemu dengan pegawainya yang tengah berjalan terburu-buru. "Inggit, dari mana kamu kenapa buru-buru begitu ?"


"Eh Nona Bella, saya dari toilet Nona. Permisi saya harus ke depan karena ada customer yang datang." Ucap Inggit pegawai butik.


"Oh oke... Jangan lari-lari Inggit nanti kamu terpeleset bisa repot." Ucap Bella.


Inggit mengangguk dan berjalan lebih cepat dari Bella. Sedangkan Bella juga berjalan menuju arah depan sehabis dari ruang produksi. Saat akan memasuki ruangan, ia melihat customernya datang dan tahu persis pasti akan mengambil pesanan. Bella menghampiri customer nya dengan ramah.


"Selama pagi menjelas siang Nyonya. Anda ingin mengambil gaun pesanan anda ?" Tanya Bella dengan senyum ramahnya.


"Siang. Iya. Mana gaun pesananku. Aku sudah tak sabar ingin mencobanya. Pasti sangat cantik saat kupakai." Ucap Sonia dengan antusias.


"Baik Nyonya, pegawai kami akan mengambilkan pesanan anda. Mari ikut saya ke ruang ganti." Bella mengajak Sonia ke ruang ganti yang ada di samping ruangan khusus gaun pesanan.


"Inggit ambilkan pesanan Nyonya Aruni, gaun warna biru yang ada di pojok."


"Baik Nona."


Inggit pergi mengambilkan gaun yang ada di ruangan khusus pemesanan gaun yang telah jadi.


"Anda sudah lama sampai butik Nyonya ?" Bella mencoba memecahkan keheningan saat menunggu gaun datang.


"Baru saja. Pemilik butik tidak ada di tempat ?" Tanya Sonia.


"Maaf beliau akhir-akhir ini sedang tidak fit jadi tidak bisa diganggu karena sedang beristirahat."


Sonia mengangguk paham, Alya sedari tadi menatap Bella. Ia masih bingung dengan gadis yang ada dihadapannya. Mommy nya sedari tadi juga tak menyebutkan nama gadis itu. Yang dipikirkan Alya adalah dimana Belva sekarang kenapa tidak muncul-muncul.


Saat gaun datang, Alya hanya melirik saja. Dalam hati ia menanti-nanti pasti setelah ini Belva akan keluar menunjukkan batang hidungnya.


"Wah astaga gaun ini bagus sekali. Sini berikan padaku biar kucoba sekarang." Ucap Sonia dengan mata berbinar bahagia.


"Tentu Nyonya silahkan." Ucap Bella tersenyum.


Sonia masuk ke dalam kamar pas, di dalam ruangan kecil itu terdapat cermin besar seukuran dengan tubuh manusia bahkan lebih tinggi lagi. Dengan semangat ia mengganti pakaiannya dengan gaun pesannya.


Alya menunggu di luar dengan sikap cuek tanpa menyapa Bella sama sekali. Bella pun tak ambil pusing dengan sikap gadis yang ada dihadapannya.


Tak lama Sonia keluar dengan menggunakan pakaiannya kembali. Bella menanti dengan senyum berbeda dengan Sonia yang dengan wajah masam tak sedap dipandang bahkan terlihat garang. Raut wajah Bella berubah saat melihat wajah Sonia yang seperti menahan emosi.


"Ada apa Nyonya ? Apa ada masalah ?" Tanya Bella dengan lembut.


"Apa-apaan ini ?!! Saya pesan gaun disini dengan harga mahal kenapa justru hasilnya berantakan seperti ini." Sonia marah dengan menyodor- nyodorkan gaun pesanan yang ada di tangannya.


Bella mengerutkan keningnya. Bagaimana maksud dari customernya ini ? Kenapa marah-marah seperti itu. Begitulah pikir Bella.


"Bagaimana maksudnya Nyonya, bisa dijelaskan secara perlahan jika ada yang kurang dari gaun ini."


Sonia melempar gaun itu ke arah Bella, terkejut itu pasti dengan sigap gadis itu menangkap gaun yang dilempar ke arahnya.


"Kalian bisa membuat gaun pesanan saya atau tidak ? Jika tidak katakan sejak awal !! Saya sudah bayar mahal-mahal tapi apa yang saya dapatkan. Gaun rusak begitu kalian berikan kepada saya huh !!"


"Rusak ? Tidak mungkin Nyonya kami tak pernah memberikan barang yang rusak pada customer kami." Jawab Bella dengan masih menggunakan nada lembut dan sopan.


"Lihat itu !! Kamu periksa !! Kamu pasti tidak buta kan. Lihat ini." Sonia menunjukkan letak gaun yang robek dan jahitan yang renggang di beberapa tempat.


"Barang seperti ini kalian berikan pada pelanggan kalian ? Harusnya kalian cek terlebih dahulu sebelum memberikannya pada pelanggan. Sungguh butik ini mengecewakan sekali. Tidak profesional dalam bekerja."


Bella melihat di beberapa bagian memang rusak. Ia begitu terkejut pasalnya kemarin sebelum ia memfoto dan menerima panggilan video dari Sonia. Gaun itu sudah dicek olehnya sendiri dan dalam keadaan baik-baik saja.


"Kami mohon maaf Nyonya ini di luar kendali kami karena sebelumnya kami sudah mengecek gaun ini dan semua sudah beres Nyonya. Biar nan..."


"Sudah, saya kecewa dengan butik ini. Bagaimana bisa tidak bekerja secara profesional. Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini sekarang juga." Ucap Sonia memotong pembicaraan Bella.


"Maaf tidak bisa Nyonya, pemilik butik sedang tidak enak badan dan tidak bisa diganggu."


"Apa maksudmu huh ?! Kalian mau mencoba menipu begitu ?!!" Sonia semakin murka.


Terjadilah keributan di ruangan itu hingga suara terdengar sampai lantai atas. Belva yang mendengar keributan ia dengan cepat turun ke bawah.


"Ada apa ini ?" Tanya Belva pada pegawai yang lain.


Beberapa pengunjung yang datang juga terdiam mendengarkan perdebatan yang terjadi di ruangan yang berbeda. Suara Sonia yang menggelegar di tambah Alya yang membela ibunya dengan menggebrak meja membuat suasana semakin riuh.


"Maaf Nona kami tidak tahu. Sepertinya di ruangan ganti."


Belva langsung berlari ke ruangan ganti diikuti oleh beberapa pegawainya yang juga penasaran. Terburu-buru Belva memasuki ruangan itu.


"Bella apa yang..." Kalimat Belva terhenti, matanya membulat dengan mulut terbuka. Sangat terlihat jelas jika dirinya begitu terkejut melihat manusia-manusia yang ada di dalam ruangan itu.


"Nyonya Sonia... Alya..." Gumam Belva dalam hati.


"Nona..." Panggil Bella.


"Oohohoho... Mommy... Perhatikan baik-baik siapa perempuan yang ada dihadapanmu." Ucap Alya tersenyum sinis.


Sonia yang tadi fokus dengan perdebatannya juga sontak menoleh saat suara Belva memecah perdebatan mereka. Ucapan Alya didengar oleh Sonia. Wanita matang itu memperhatikan Belva dengan seksama.


"Mommy tahu siapa dia ? Apa Mommy ingat ?" Tanya Alya yang belum mendapatkan jawaban Sonia.


"Pembantu tidak tahu diri Mommy. Perempuan yang mencoba menggoda Daddy, Mom. Apa Mommy ingat ?" Alya mengingatkan kembali kenangan buruk di masa lalu.


Sonia dan juga Belva sama-sama membulatkan mata mereka mendengar ucapan Alya. Hati Belva sangat sakit mendengar ucapan Alya hingga akhirnya bayangan kelam itu kembali diingatnya. Sonia, wanita itu teringat masa lalu yang buruk hingga rasa benci dan marah itu kembali timbul dari dalam hatinya.


"Kamu keponakan Rohimah ? Bukankah kamu sudah mati ?" Tanya Sonia masih belum percaya sebenarnya dengan kejadian Belva.


"Belum Mom, perempuan kampung itu masih hidup. Dan Mommy tahu di punya dua anak saat ini." Alya terus saja membuka luka itu dan semakin menimbulkan rasa sakit bagi Belva dan kebencian dalam diri Sonia.


"Ooohh rupanya manusia tidak tahu diri ini masih hidup."


Plak... !!!


"Perempuan murahan... Untuk apa kamu kembali muncul disini huh ?!! Kamu mau mengganggu rumah tanggaku ? Dasar wanita murahan, wanita penggoda !!"


"Nyonya... Tidak saya bukan wanita seperti itu. Nyonya salah paham." Ucap Belva. Air matanya sudah menetes, ia begitu ketakutan dengan kemarahan Sonia. Trauma masa lalu kala Sonia hendak membunuhnya dengan mencekik lehernya.


Sonia dan Alya menyeret Belva hingga ke depan butik tanpa bekas kasih. Bahkan dihadapan beberapa orang pengunjung serta pegawai butik. Belva sungguh ketakutan saat itu.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2