
Rumah sakit adalah tempat untuk ke sekian kalinya Belva dan Satya pijak. Beberapa kali Satya mengingat saat awal pertama mengetahui sebuah fakta bahwa dirinya memiliki anak dari Belva saat itu Kaila putri kecilnya sedang berada di rumah sakit. Satya selalu berusaha ikut menjaga putrinya diam-diam tanpa sepengetahuan Belva selama Kaila berada di rumah sakit.
Sekarang Satya kembali ke rumah sakit pun untuk kembali menjenguk bayi Alya yang ke dua kalinya. Bayi malang yang telah ditinggal pergi ibunya untuk selama-lamanya dan tak diharapkan oleh keluarga dari ayah kandungnya sendiri.
Satya dapat merasakan bagaimana rasanya diperlakukan tak adil dan tak diakui seperti bayi Alya. Pasti kelak saat bayi itu tumbuh dewasa hatinya akan merasakan sakit yang luar biasa. Makhluk kecil itu tak pernah berharap dan tak pernah bisa memilih dari mana dan di dalam keluarga seperti apa dirinya lahir.
"Kita langsung bertemu dokter atau mau menengok bayi Alya?" Tanya Satya pada istrinya.
"Kita jenguk bayi Alya dulu boleh mas?"
Satya mengangguk dan tersenyum pada istrinya.
"Boleh, ayo kita ke sana." Satya langsung meraih pinggang istrinya.
"Noella, kita jenguk bayi Alya dulu ya." Ujar Belva pada Noella.
"Baik, Nona. Kita ke sana sekarang." Respon Noella.
Ketiganya berjalan menuju ruangan khusus bagi bayi-bayi yang sedang dalam perawatan intensif seperti bayi Alya. Raut wajah Belva tak dapat di definisikan bagaimana wanita itu berekspresi saat memandang penuh pada bayi mungil Alya. Wajah itu mirip dengan wajah ibunya, Alya meninggalkan beberapa bagian tubuhnya pada bayinya.
"Dia sangat kecil sekali, kapan dia akan bertumbuh besar." Gumam Belva memandang bayi itu.
Satya mengusap punggung sang istri,
"Dia akan tumbuh besar, melebihi tubuhmu, sayang." Ucap Satya pada istrinya.
Senyum kecil terbit dari bibir Belva mendengar ucapan suaminya. Berharap penuh bahwa bayi yang ada dihadapannya dapat bertumbuh dengan baik dan normal seperti anak-anak lainnya.
"Dia sangat kuat, meski kita tahu bagaimana kondisinya. Saya yakin bayi ini akan tumbuh menjadi anak yang kuat." Ujar Noella.
Belva mengangguk membenarkan ucapan Noella. Sesaat matanya melirik pada papan nama yang menempel pada sisi inkubator. Nama bayi itu masih atas nama Alya.
"Kalian belum memberikan nama untuknya?" Tanya Belva.
"Belum, saya belum memikirkan nama untuknya." Jawab Noella.
"Suamimu juga tak memberikan nama untuknya?" Tanya Belva kembali karena jawaban dari Noella tak membawa nama Jack.
"Dia... Entahlah saya tidak tahu." Ucap Noella pasrah.
Suaminya memang masih belum bisa menerima kehadiran bayi mungil itu. Kasihan sekali, disaat banyak orang merasa bahagia atas kelahiran seorang bayi justru Jack tak merasakan hal itu. Mungkin karena kehadirannya yang tak pernah diinginkan dan direncanakan sebelumnya.
"Kita temui dokternya dulu, yank." Ujar Satya.
"Hmm... Ayo mas, kita tanyakan lebih lanjut keadaan nya."
"Noella, mari kita ke ruangan dokter." Ajak Belva.
"Maaf, Nona saya harus seegra pulang orang tua saya sudah beberapa kali menghubungi saya tapi sengaja saya abaikan sejak tadi."
"Ya sudah tidak apa-apa, pulanglah." Ucap Belva tersenyum pada Noella.
"Terima kasih, Nona." Ucap Noella.
Noella setelah keluar dari ruangan khusus bayi itu langsung pergi kembali menuju rumahnya sedangkan Satya dan Belva berjalan bergandengan tangan menuju ruangan dokter yang menangani bayi Alya.
"Permisi, selamat sore." Ucap Belva saat memasuki ruangan dokter.
Seorang dokter berwajah cantik menyambut dengan senyum ramahnya.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter tersebut.
Satya dan Belva duduk di hadapan dokter cantik tersebut. Banyak hal yang ingin mereka tanyakan pada dokter tersebut, perkembangan dan apa saja yang harus bayi Alya jalani.
"Dokter, kami ingin menanyakan bagaimana perkembangan bayi dari Nyonya Alya." Ucap Satya pada dokter cantik itu.
"Ah maksud anda bayi yang maaf ibunya sudah meninggal dan sering di jenguk oleh Nyonya Noella?"
"Benar dokter, untuk saat ini kami yang memantau perkembangan bayi tersebut karena perawatan dan pengasuhan bayi itu diserahkan pada kami." Jelas Satya.
Tapi tampaknya dokter tak begitu saja percaya pada Satya dan Belva. Sebagai seorang dokter yang tidak bisa sembarangan memberikan informasi bersifat pribadi dan mendetail dari pasiennya pada seseorang yang belum jelas keterikatannya dengan si pasien. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti informasi yang disalahgunakan.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Selama ini kami hanya bisa memberikan informasi pasien pada seseorang atau wali yang kami anggap sah sesuai prosedur rumah sakit. Apakah ada surat kuasa dari Nyonya Noella yang diberikan kepada anda? Nyonya Noella belum menginformasikan kepada saya maupun asisten saya dalam hal ini." Ucap dokter cantik tersebut.
Satya sedikit kesal sebenarnya karena tidak bisa mendapatkan informasi dengan segera bagaimana kondisi bayi Alya tapi dirinya masih bisa terima karena Noella rupanya membawa Alya dan bayinya ke rumah sakit yang cukup bagus dengan sistem yang ketat untuk melindungi pasien mereka.
Belva terdiam, wanita itu cukup mengerti dan memahami bagaimana setiap peraturan rumah sakit berlaku pasti berbeda-beda. Digenggamnya tangan sang suami agar tetap tenang, kurang lebih dirinya tahu bagaimana sifat sang suami yang masih memiliki sikap arogan. Teringat saat dulu menjadi asisten rumah tangga di rumah sang suami, Satya kerap marah dan membanting barang ataupun menggebrak meja saat pria itu sedang marah atau kesal.
"Baiklah, kami mengerti dengan peraturan rumah sakit ini. Tapi kami hanya ingin mengetahui saja bagaimana perkembangan dan tindak lanjut medis yang harus dijalani oleh bayi kami... Emm maaf maksud saya bayi Nyonya Alya." Ucap Belva dengan lembut dan tenang.
"Pada intinya bayi Nyonya Alya untuk saat ini baik-baik saja. Tindak medis selanjutnya kita harus pantau lebih lanjut kondisi kesehatan nya." Ucap dokter tersebut secara garis besar dan kurang jelas.
"Maaf saya tidak bisa menjelaskan secara rinci, ini privasi pasien. Jika ada surat kuasa dari Nyonya Noella mungkin saya akan bisa menjelaskan secara detail." Imbuh dokter tersebut.
Satya dan Belva cukup paham dokter itu tetap tak mau menceritakan secara detail. Untuk hari ini mereka datang ker umah sakit dengan informasi yang tidak maksimal seperti yang mereka harapkan.
"Baiklah, terima kasih dokter. Kalau begitu kami pamit undur diri. Lain waktu kami akan datang kembali untuk berdiskusi lebih lanjut." Ucap Belva.
"Sayang." Panggil Satya pada istrinya. Pria itu masih belum puas sebenarnya dengan penjelasan sang dokter.
__ADS_1
"Kita pulang, mas. Aku merasa sudah lelah dan ingin beristirahat." Ucap Belva menggunakan kondisinya agar Satya tak banyak menuntut di dalam ruangan dokter tersebut.
"Baiklah, kita pulang. Kami permisi dokter." Pamit Satya.
"Baik Tuan, Nyonya. Silahkan." Ujar dokter.
Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan dokter. Sebelum mereka benar-benar pergi dari rumah sakit tersebut, mereka kembali menyempatkan diri untuk menjenguk bayi Alya. Hanya dari kaca jendela saja mereka memperhatikan bayi Alya.
"Kita akan mengurus semuanya agar bisa lebih leluasa meraaat dan mengurus bayi itu." Ujar Satya mengusap punggung istrinya.
"Iya mas, tapi kita juga harus membicarakan hal ini pada anak-anak agar mereka tidak terkejut dengan kehadiran bayi Alya."
"Mas setuju, nanti kita bicarakan pada Kay sekaligus kita harus segera memberikan nama padanya."
Belva mengangguk setuju dengan senyum tipis yang melengkapinya. Mereka akhirnya kembali pulang ke rumah karena Satya merasa khawatir dengan kondisi istrinya. Dia tidak ingin istrinya kelelahan dan akan mengganggu kehamilan istrinya yang masih muda.
Hari berganti saat ini adalah hari dimana sebagian banyak pekerja dan pelajar libur dari tugas dan tanggung jawab mereka sementara waktu.
Sarapan pagi mereka dengan diisi drama sedikit menyebalkan dari Satya yang tidak mau memakan makanan yang sudah disediakan boleh asisten rumah tangga. Pria itu tidak berselera dan merasa mual saat mencium aroma makanan tersebut.
"Yank, mas mual sama makanannya."
"Pilih saja makanan mana yang tidak mual buat kamu, mas."
"Tidak bisa yank semuanya membuat mas merasa mual mas tidak bisa memakannya."
"Ya sudah mau diganti makanan apa?" Tanya Belva dengan sabar karena paham dengan kondisi suaminya.
Mendengar pertama dari istri cantiknya, sekilas mata Satya melirik ke arah nasi goreng di atas meja.
"Nasi goreng udang saja." Jawab Satya.
Belva menatap suaminya dengan tatapan tak percaya dan sedikit kesal.
"Ini kan sudah ada nasi goreng udang, mas. Mbok Yati sudah buatkan untuk sarapan kita."
"Tapi mas maunya kamu yang masak, yank."
Belva menghela napas, "Oke, tunggu sebentar nanti aku buatkan."
"Sayang, kalian mau makan apa nak?" Tanya Belva pada kedua anaknya.
"Aku mau makan roti selai saja tapi pakai selai strawberry." Jawab Kaila.
"Aku sama seperti Kaila tapi pakai selai coklat." Jawab Kaili.
"Baiklah, Mami siapkan sebentar ya."
Selesai dengan menyiapkan makanan untuk Duo Kay, Belva hendak berdiri untuk pergi ke dapur memasakkan nasi goreng keinginan suaminya tapi ditahan oleh Satya.
"Yank, mau ke mana?"
"Mau ke dapur lah mas kan mau masak nasi goreng."
"Kamu tidak makan dulu?" Tanya Satya.
"Nanti saja setelah selesai memasak nasi goreng untuk mu."
"Mending Mami makan dulu, kasihan baby kita, sayang." Ujar Satya.
Perkataan Satya terdengar oleh Mbok Yati yang sekilas membawakan potongan buah untuk Duo Kay di meja makan. Ia begitu terkejut sekaligus senang atas kabar bahagia ini.
"Tuan, benarkah Nyonya sedang mengandung?" Tanya Mbok Yati secara spontan.
Satya melirik Mbok Yati begitu juga Belva, sadar saat kedua majikannya melirik dirinya Mbok Yati langsung tertunduk karena merasa telah lancang.
"Iya, Mbok istri saya sedang hamil." Ucap Satya.
Mbok Yati langsung mengangkat pandangan ke arah Belva, ia tersenyum menatap Belva. Rasanya bahagia mendengar Belva benar-benar hamil sama seperti perkiraannya. Ia pun melihat Satya yang tampak bahagia dari pancaran wajah pria itu.
"Selamat, Nyonya saya turut bahagia mendengarnya." Ucap Mbok Yati.
"Terima kasih, Mbok." Ucap Belva pada Mbok Yati.
Mbok Yati mengangguk dan tersenyum, "Kalau begitu benar kata Tuan, lebih baik Nyonya sarapan saja dulu nanti saya bantu untuk memasak nasi goreng yang baru."
"Dengar kata Mbok Yati, yank. Makanlah dulu."
"Iyaaa..." Ucap Belva pasrah saja.
Belva makan dengan tenang, Satya sibuk bercengkrama dengan Duo Kay.
"Kay... Kalau kalian nanti ada adik bayi, kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Satya berusaha menyinggung soal bayi Alya yang akan mereka bawa pulang.
"Adik bayi? Adik yang di perut Mami itu kan?" Tanya Kaili.
Satya melirik istrinya begitu juga dengan Belva. Wanita itu masih belum tahu hendak berbicara apa pada kedua anaknya, ia masih fokus untuk makan.
"Emm... Nanti setelah Daddy makan, kita bercerita di kamar kalian ya, mau kan? Mami dan Daddy ingin bercerita bersama kalian." Ucap Belva disela-sela makannya.
__ADS_1
"Sayang, selesaikan sarapan mu dulu." Ucap Satya.
"Iya mas, stop membicarakan hal itu jika kamu tidak ingin kebingungan nanti." Ucap Belva.
"Iya sayang." Ucap Satya mengikuti saran istrinya.
"Aku sudah selesai makan, Mami." Ujar Kaila.
"Oh oke sayang. Kalian mau menonton atau mau main saja?" Tanya Belva.
"Menonton dulu saja, tadi kata Mami jika Daddy selesai makan kita kan bercerita di kamar kita." Ujar Kaila.
"Aku mau nonton di tablet PC ku saja." Ujar Kaili.
Pria kecil itu selalu lebih suka menonton di tablet PC nya, acara yang dilihat tak lain dan tak bukan adalah berberapa video mengenai berbagai macam bangunan-bangunan. Sedangkan Kaila saat ini ingin menonton film kartun boneka cantik dan bertubuh sempurna apalagi jika bukan film kartun Barbie.
"Baiklah, biar Daddy menemani kalian. Mami selesaikan makan dulu ya."
"Oke Mami." Ucap Duo Kay.
"Ayo kita ke ruang keluarga saja dulu sambil menunggu Mami selesai makan." Ajak Satya.
Duo Kay mengangguk, mereka berusaha turun dari kursi mereka.
"Sayang, mas tinggal dulu nanti mas ke sini lagi."
"Iya mas."
Satya berjalan di belakang Duo Kay yang sudah berjalan lebih dulu. Kedua bocah itu berlari menuju ruang keluarga, senyum kecil terbit dari bibir Satya memperhatikan tingkah kedua anaknya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya sembari terus berjalan mengikuti Duo Kay.
Beberapa menit satya menemani kedua anaknya di ruang keluarga. Namun, saat melihat Janis melintas Satya langsung memanggil perempuan itu.
"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu?" Tanya Janis.
"Kamu jaga anak-anak saya dulu, saya mau ke dapur."
"Ada sesuatu yang mau Tuan ambil? Biar saya saja Tuan."
"Tidak istri saya di dapur saya mau ke sana kamu jaga mereka dulu."
"Oh iya baik, Tuan."
Satya langsung pergi menuju dapur setelah Janis menyanggupi perintahnya. Di dapur Belva sibuk mempersiapkan beberapa hal yang diperlukannya untuk memasak bersama Mbok Yati.
Saat Satya sampai di dapur beberapa asisten rumah tangga menatap Satya dan pria itu memberikan kode agar para asisten rumah tangganya pergi dari dapur. Mereka semua pergi sesuai dengan kode yang Satya berikan.
Pria itu berjalan perlahan dengan kedua tangan masih berada di dalam saku celananya menuju sang istri. Belva masih belim sadar jika para asisten rumah tangganya telah pergi meninggalkannha seorang diri bersama Satya. Satya memeluk Belva dari arah belakang dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Fokus sekali." Ucap Satya.
"Mas!!! Kamu mengejutkan ku, lepas ih kamu tidak malu dilihat Mbok Yati sama yang lain." Ucap Belva berusaha melepaskan pelukan sang suami karena merasa malu banyak asisten rumah tangga mereka di dapur.
"Malu kenapa? Tidak ada siapa-siapa, kalaupun ada mereka juga mereka tidak akan berani melihat kita, sayang." Satya menge*cup pipi Belva beberapa kali.
Belva semakin merasa risih dan malu jika Satya terus saja seperti itu padanya, sekuat tenaganya Belva melepaskan diri dari pelukan Satya.
Berhasil melepaskan tangan Satya karena memang pria itu sengaja mengendurkan pelukannya pada snag istri agar bisa memperhatikan sekitar ruangan mereka.
"Loh, kok sepi? Pada ke mana mereka, mas?"
"Kan mas sudah bilang kalau di sini tidak ada siapapun." Satya kembali memeluk istrinya.
"Pasti mas suruh mereka pergi kan?" Tanya Belva dengan penuh selidik pada Satya.
"Mas, mau berdua saja dengan mu, yank. Sini mas bantu masak nasi gorengnya."
"Harusnya mas duduk saja menunggu bersama anak-anak biar aku saja yang masak, mas."
"Tidak, yank. Mas mau bantu kamu, kasihan baby kita nanti kelelahan. Tapi mas pingin makan masakan dari tangan mu langsung. Mas bantu ya biar cepat selesai."
Belva pasrah saja karena berdebat dengan Satya justru membuat waktu habis dan masakan pun tidak akan selesai. Kini mereka memasakn berdua di dapur besar itu, sesekali Satya mengusap lembut perut Belva. Dia sangat senang sekali dengan kehamilan istrinya, bagai anugerah yang sungguh membuatnya bahagia teramat sangat.
****
To Be Continue
Hai my dear para readers ku tersayang
Selalu author ucapkan thanks buat support kalian sampai saat ini. Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏🙏
buat kakak² di atas 👆👆👆 selamat sekali lagi
kak @afida rosita
kak @brigitta prima
kak @Siti Chasanah Anna
__ADS_1
Masih author tunggu yaa, untuk chat author segera guna klaim kejutan kecil kalian. Author tunggu sampai Minggu depan jika melebihi batas waktu mohon maaf jika harus hangus. Terima kasih 🙏🙏