Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 213. Drama Persalinan


__ADS_3

Jika para penghuni di dalam sibuk lari keluar rumah maka beberapa satpam penjaga rumah justru berlari masuk ke dalam rumah untuk mengecek keadaan.


"Kebakaran!!! Kebakaran!!! Kita masuk coba kita lihat di dalam." Ajak Xander pada beberapa penjaga yang lain.


"Sepertinya itu alarm di bagian dapur." Ucap yg lain.


Mereka lekas masuk ke dalam menuju dapur yang menjadi sumber suara alarm. Sedangkan para penghuni yang ada di dalam kalang kabut bangun dari ranjang mereka.


"Kebakaran, Pa! Kita keluar cepat!" Ucap Nyonya Hector dengan panik.


Tuan Hector masih dalam keadaan belum sadar sepenuhnya pun menjadi linglung saat suara alarm yang terdengar keras dan juga guncangan pada bahunya yang dilakukan oleh Nyonya Hector.


"Hah? Suara apa itu?" Ucap Tuan Hector.


"Papa itu alarm kebakaran ayo keluar!" Nyonya Hector berbicara dengan nada sedikit berteriak karena panik.


"Hah kebakaran! Mama kenapa masih di sini cepat keluar! Mama mau jadi Zeta panggang heh." Ucap Tuan Hector saat menyadari itu alarm kebakaran.


"Ayo cepat!!" Teriak Nyonya Hector dengan kesalm Suaminya bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu sedangkan ia masih berada di situ karena membangunkan suaminya.


Kedua paruh baya itu tergesa-gesa kelaut dari kamar, Tuan Hector sempat terhuyung saat berlari karena tak seimbang dan masih belum sadar secara penuh.


Sampai di luar kamar Nyonya Hector langsung berlari menuju kamar cucu-cucu nya terlebih dahulu. Pikiran pertamanya saat keluar kamar adalah Duo Kay dan baby As.


Duo Kay telah terbangun dengan keadaan bingung di atas tempat tidur sedangkan baby As menangis dengan kencang karena terkejut dengan suara alarm. Segera Nyonya Hector menghampiri baby As dan menggendongnya serta menenangkan bayi itu. Tuan Hector yang menyusul dari belakang ikut mengevakuasi Duo Kay. Mereka turun dari lantai dua dengan tergesa-gesa.


"Ini ada apa, Opa?" Tanya Kaila.


"Alarm kebakaran, sayang kita harus berjalan cepat untuk keluar rumah."


"Kebakaran? Di mana?" Tanya Kaili.


"Opa tidak tahu ayo cepat kita keluar dulu."


"Daddy? Kok tidak keluar?" Tanya Kaila.


Pertanyaan Kaila terabaikan karena kepanikan yang terjadi. Mereka keluar dari rumah menuju halaman depan. Para asisten rumah tangga pun berhamburan keluar rumah.


"Mami dan Daddy ke mana? Kok tidak keluar?" Kini Kaili yang bertanya namun dengan suara yg lirih dan hanya Kaila yang mendengarnya.


Kaila mulai berkaca-kaca dan akhirnya menangis tak mendapati kedua orang tuanya.


"Huuuhuu... Mamiii... Daddyyy..." Tangis Kaila.


"Oma, Daddy dan Mami?" Tanya Kaili.


"Ha? Iya... Mami dan Daddy kalian ke mana? Pa, kok Vanthe dan Satya tidak keluar apa mereka terjebak di dalam?"


Pikiran Nyonya Hector mengarah kepada putri dan menantunya yang terjebak di dalam kamar. Kaili pun ikut mulai berkaca-kaca karena melihat Kaila menangis. Mereka takut jika tak bisa bertemu dengan kedua orang tua mereka.


"Kebakaran kok tidak ada asapnya? Kebakaran nya dimana?" Tanya Tuan Hector dalam hati.


"Mama tunggu di sini sama anak-anak." Ucap Tuan Hector.


Pria paruh baya itu berlari masuk ke dalam karena merasa penasaran. Di dalam kamar Satya terbangun dan panik mendengar suara alarm. Lebih panik lagi karena tak mendapati sang istri di dalam kamar bersama dirinya.


"Astaga! Belva... Ke mana dia?" Gumam Satya terkejut.


"Sayang!! Belva!!" Panggil Satya berlari kecil dan panik membuka pintu kamar mandi.


Nihil Belva tak berada di kamar mandi, semakin parah saja rasa panik dan cemas yang Satya rasakan. Di situasi genting seperti ini justru istrinya tak tahu di mana keberadaannya.


"Apa dia sudah keluar lebih dulu?" Gumam Satya.


Satya berlari keluar tapi masih saja terus memanggil nama istrinya. Keadaan di dalam rumah tampak kosong, ia berlari turun dengan cepat.


"Sayang!! Mi... Mami!!"


"Aduh di mana istriku." Gumam Satya.


Sampai di lantai satu tepatnya berada di ruang tamu pria itu bertemu dengan Ayah mertuanya. Tuan Hector berlari masuk sedangkan Satya berlari menuju keluar.


"Satya."


"Pa.."


Keduanya saling memanggil saat bertemu.


"Belva mana?"


"Vanthe mana?"


Pertanyaan yang sama mereka lontarkan satu sama lain.


"Loh kok tanya Papa?"


"Dia tidak ada di kamar." Ucap Satya dengan panik.


Perasaan Satya sudah kacau karena tak tahu di mana istrinya berada. Tuan Hector pun sama dia khawatir dengan putrinya. Tak lama mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Xander dan Gerda penjaga rumah mereka yang datang dengan mengangkat tubuh Belva.


Kedua bola mata Satya terbelalak melihat istrinya dipapah oleh kedua pria bertubuh kekar itu. Tuan Hector mengerutkan kening dalam benaknya bertanya-tanya ada apa dengan putrinya.


Wajah Belva sudah terlihat pucat dan berkeringat. Wajah wanita itu sedikit meringis menahan kesakitan. Berkali-kali terlihat pula ia menarik dan menghembuskan napas.


"Sayang!! Kamu kenapa?" Tanya Satya panik dan bingung.


"Perut nona sakit, Tuan." Ucap Xander mewakili Belva.


"Sakit?! Kamu kena luka bakar, sayang?"


"Cepat bawa keluar dulu!!" Ucap Tuan Hector.


Pikir Tuan Hector untuk segera mengevakuasi Belva sebelum api mulai merambat meski dia pun belum melihat di mana letak kebakaran terjadi.


Mereka membawa Belva keluar dari rumah. Terlihat Duo Kay masih menangis dan kini baby As pun ikut menangis karena merasa tak nyaman dengan keadaan sekitar. Nyonya Hector yang semula berusaha menenangkan baby As langsung menatap kedatangan Belva. Demikian para asisten rumah tangga pun merasa terkejut dan penasaran dengan apanyang terjadi pada Belva.


"Mamiii!!! Huuuhuuu... Daddyyy... Mami kenapa huhuhu." Kaila menangis melihat keadaan Maminya yang sudah lemas dan terlihat kesakitan.


"Sayang, perut mu bagian mana yang terbakar?!" Tanya Satya.


Nyonya Hector terkejut dengan pertanyaan menantunya. Ia menjadi khawatir dengan kondisi putrinya.


"Sayang, apa itu benar? Mana yang luka? cepat kita bawa ke rumah sakit!" Ucap Nyonya Hector yang sama paniknya dengan Satya.


"Aw... Sshh... Perutku mules, Ma..." Rintih Belva.


"Hah? Mules?" Gumam Nyonya Hector.


"Kotak obat!! Cepat bawa kotak obat ke sini!! Kenapa kalian diam saja! Setidaknya pertolongan pertama untuk istriku!" Teriak Satya.

__ADS_1


Nyuuttt....


Sebuah cubitan Satya dapatkan, sedikit pedis terasa tepat di bahunya. Pria itu meringis merasakan rasa cubitan tersebut. Rupanya Nyonya Hector yang melakukan hal itu pada Satya. Mertua Satya itu gemas dengan sikap Satya yang tidak peka dan tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Belva.


"Kita bawa ke rumah sakit cepat!"


"Pertolongan pertama dulu, Ma... Siram luka bakarnya pakai air dingin untuk meredakan rasa panas pada luka bakarnya." Ucap Satya.


"Satya, istri kamu itu mau melahirkan apanya yang mau disiram. Cepat angkat istrimu ke mobil."


"Melahirkan? Masa? Kan dokter bilang masih tiga hari lagi." Gumam Satya.


"Xander! Cepat siapakan mobil." Titah Nyonya Hector.


"Baik, Nyonya." Jawab Xander.


"Eh ayo cepat, Satya!! Lama-lama kamu yang Mama siram ya!" Ujar Nyonya Hector gemas.


Wanita paruh baya itu sampai memukul kembali bahu Satya yang tadi sempat dicubitnya. Xander pergi menyiapkan mobil yang akan majikannya gunakan. Semua orang di depan rumah itu tampak sibuk dengan kepanikan mereka. Rumah Tuan Hector mendadak riuh akibat keadaan Belva.


Para asisten rumah tangga yang lain tak hanya sibuk dengan Belva tapi sebagian dari mereka juga sibuk memeriksa keaday rumah. Tak lama bahkan dua mobil polisi dan pemadam kebakaran pun datang ke rumah Tuan Hector. Kedatangan mereka karena salah satu penghuni rumah menghubungi kantor polisi dan pemadam kebakaran. Semakin ramai saja halaman rumah Tuan Hector dibuat oleh Belva.


"Selama malam, permisi Tuan kami datang karena terlah terjadi kebakaran dan dari pihak anda menghubungi kami, apakah tu benar? Tapi kami tidak melihat adanya kepulan asap atau api." Tanya salah satu anggota polisi.


Mereka mengkonfirmasi peristiwa itu karena mereka pun tak melihat adanya kepulan asap atau hal lainnya yang berkaitan dengan adanya bencana. Tuan Hector memperhatikan sekeliling memang tak ada hal yang memperlihatkan adanya tanda-tanda kebakaran.


"Maaf kami juga tidak tahu, alarm rumah kami berbunyi saat kami semua tertidur." Ujar Tuan Hector.


"Baiklah mungkin anggota kami akan memeriksa lebih dulu."


"Terima kasih, Tuan. Maaf kami harus pergi ke rumah sakit, putri kami akan melahirkan." Ucap Tuan Hector pada salah satu anggota polisi.


"Baiklah, perlu kah kami hubungi ambulance untuk membantu putri kalian."


"Tidak perlu, Tuan kami bisa menggunakan mobil kami sendiri." Jawab Tuan Hector.


"Baik kalau begitu berhati-hati lah, Tuan. Semoga semua berjalan dengan lancar."


"Terimakasih. Kami permisi." Pamit Tuan Hector.


Satya sudah membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Demikian Nyonya Hector dan yang lain pun telah masuk ke dalam mobil. Terakhir Tuan Hector menyusul masuk ke dalam mobil seusai berpamitan dengan pihak kepolisian yang datang ke rumahnya.


Xander yang mengendarai mobil diperintahkan untuk secepat mungkin sampai di rumah sakit. Satya berada di samping sang istri bersama Nyonya Hector. Duo Kay berada di bagian paling belakang menyaksikan bagaimana kesakitannya Mami mereka. Tuan Hector berada di kursi depan bersama Xander dan baby As.


"Sshh... Huufffftt... Sshh... Huufffftt..."


Belva menarik ulur pernapasannya, mengelola pernapasan agar kondisinya tetap stabil tapi mau bagaimana lagi kontraksi pada perutnya kadang muncul kadang menghilang. Terkadang ketika merasa tak sanggup ia memegang tangan Satya dengan begitu kencang. Menyalurkan rasa sakitnya pada genggaman tangan yang begitu kuat.


Satya menunduk dan mengelus-elus perut Belva sembari berbicara di hadapan perut buncit istrinya. Pria itu mencoba berkomunikasi pada sang calon bayi yang sebentar lagi akan melihat dunia ini.


"Baby... Anak Daddy yang pintar, sabar sayang jangan buat Mami kesakitan." Ucap Satya lirih tepat di depan perut Belva.


"Huufffftt... Haduuhh..." Ringis Belva.


Tanpa sadar tangannya mencengkram kuat rambut Satya sembari meringis menahan sakit. Tak hanya Belva yang meringis tapi Satya pun meringis kesakitan saat merasakan rambutnya yang tertarik meski tak keras tapi cukup membuat Satya kesakitan.


"Aduh... Duh... Sshh..." Rintis Satya.


"Sakit, yank." Keluh Satya.


Ciiiitt...!!!


Satya terdorong maju akibat rem mobil yang mendadak, dia terdorong dan membentur kursi bagian belakang pengemudi. Semua penumpang terkejut dengan rem dadakan tersebut. Untung saja semua anggota keluarga Tuan Hector menggunakan sabuk pengaman dan tuan Hector pun siaga dalam menggendong baby As. Putra terkecil Satya dan Belva itu menangis karena terkejut.


"Heh? Ada apa?!" Tanya Nyonya Hector khawatir bercampur terkejut.


Detak jantung mereka berdetak dengan cepat. Mobil yang mereka tumpangi hampir saja mengalami kecelakaan. Seekor kucing jalanan melintas di depan mobil membuat Xander sang pengendara mobil terkejut dan reflek mnginjak remnya.


"Maaf Nyonya, ada kucing di depan." Jawab Xander.


"Xander, kamu hati-hati jika berkendara. Kamu bisa mencelakakan kita semua." Ucap Satya kesal.


Sudah merasakan sakit di kepalanya, dia harus dikejutkan dengan rem mobil dadakan membuat emosinya seketika meningkat.


"Maaf, Tuan saya reflek menginjak rem."


"Gara-gara kamu kepala saya tambah sakit."


Satya sibuk mengeluarkan kekesalannya pada Xander. Belva kembali merasakan sakit yang luar biasa, tubuhnya kini mungkin sudah basah dengan keringat.


"Hhaaahh... Huufffftt bayiku sudah keluar." Ucap Belva sembarang.


Ia tak sanggup merasakan kesakitannya, suaminya justru sibuk berdebat membuatnya ikut kesal setengah mati.


"Hah? Keluar? Mana? Dari mana dia keluar?" Tanya Satya beruntun.


"Oh astaga kenapa menantuku menjadi bod*oh seperti ini." Gumam Nyonya Hector dalam hati.


"Sudah... Sudah... Cepat... Cepat... Cepat... Xander lanjutkan mobilnya." Titah Nyonya Hector.


Xander hanya mengangguk menjalankan perintah dari majikannya. Perlahan mobil itu mulai berjalan kembali.


"Hati-hati Xander, kamu membawa anak dan cucu-cucu ku." Ucap Tuan Hector.


"Baik, Tuan saya akan berhati-hati."


Kembali mobil di pacu dengan kecepatan tinggi tapi tetap pria itu mengutamakan keselamatan. Dia sangat fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Mereka sampai di rumah sakit swasta yang sebelumnya adalah rumah sakit tempat Belva memeriksakan kandungannya selama ini. Samapi di lobi rumah sakit, Satya buru-buru turun dari mobil dan menggendong isterinya memasuki rumah sakit.


Suster jaga bersikap siaga, mereka datang dengan membawa brankar untuk Belva yang sudah pasti menjadi pasien mereka.


"Tolong istri saya, suster." Ucap Saya.


"Apa istri anda akan melahirkan?" Tanya suster.


Satya mengangguk, "Iya, cepat bawa dia. Bayi kami sudah keluar tadi di mobil."


"Hah?" Gumam suster.


Bola mata suster berwarna hijau emerald itu langsung menatap ke arah perut Belva. Sekeliling pun ia tatap satu persatu dari anggota keluarga yang datang mendampingi Belva.


Bayi mana yang pria tanpa baju itu maksud? Tidak ada bayi merah yang baru saja dilahirkan berada dalam gendongan mereka. Hanya bayi berusia kurang lebih delapan atau sembilan bulan yang suster itu perkirakan. Tak lain adalah baby As yang masih dalam gendongan Tuan Hector. Sudah jelas pula perut Belva masih membuncit itu artinya bayi masih berada di dalam kandungan.


"Bisakah putriku kalian tangani sekarang? Kasihan dia sangat kesakitan." Ucap Nyonya Hector.


"Baik, Nyonya." Jawab suster.


Suster itu mendorong brankar yang menampung tubuh Belva disusul oleh suster yang lain menghampiri brankar itu dan membantu mendorong brankar. Anggota keluarga Tuan Hector mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Beberapa pasangan mata menatap Satya dengan tatapan aneh ada pula dengan tatapan tertarik. Pria itu tak sadar jika dirinya tak menggunakan baju hingga dada bidangnya terekspos dengan jelas. Dia hanya menggunakan celana pendek saja. Alarm yang berbunyi membuatnya panik dan khawatir tak lagi memikirkan apa yang dikenakan nya saat itu. Sudah menjadi kebiasaan bagi Satya jika tidur tanpa menggunakan baju.


Sampai disebuah ruangan di mana Belva harus bersalin Satya ikut hendak ikut masuk ke dalam ruangan tersebut tapi seorang perawat pria menahan dirinya.


"Maaf, Tuan anda jangan masuk." Ucap perawat pria itu.


"Kenapa? Saya ingin mendampingi istri saya." Ucap Satya dengan wajah tak suka.


"Tidak bisa, Tuan anda tunggu saja di luar."


"Kamu siapa berani melarang saya? Saya suaminya kenapa saya tidak boleh masuk."


"Tuan..." Perawat itu tak melanjutkan kalimatnya karena Nyonya Hector mengangguk dan mengangkat tangan nya paham dengan maksud sang perawat.


Perawat pria itu masuk ke dalam untuk melakukan tugasnya membantu team nya dalam menangani persalinan pasien mereka. Tapi sayang sekali perawat pria itu harus mendapatkan halangan. Satya menarik baju perawat pria itu dari arah belakang seperti membawa seekor kucing jalanan.


"Heh... Kamu juga tidak boleh masuk! Enak saja kamu melarang saya tapi kamu malah masuk ke dalam." Ucap Satya kesal.


Perawat itu mundur dan berhadapan dengan Satya. Pria itu juga nampak sedikit kesal dengan apa yang dia dapatkan baru saja tapi dia mencoba memahami kekesalan suami dari pasiennya.


"Tuan, maaf jika anda berada di dalam maka anda akan kedinginan. Ruangan di dalam cukup dingin untuk anda."


Xander datang dengan membawa jaket Hoodie berwarna putih, pekerja rumah Tuan Hector itu begitu peka dengan kondisi majikannya. Hoodie itu diambil oleh Nyonya Hector dan diberikan kepada Satya.


"Pakai ini. Dimana-mana orang ke rumah sakit itu pakai baju ini malah bertelanj*ang dada." Omel Nyonya Hector.


Satya menerima Hoodie yang diberikan oleh Nyonya Hector. Barulah Satya mulai menyadari beberapa pasang mata yang menatap ke arah dirinya termasuk para suster yang melintas. Pria itu menengok ke arah kanan dan kiri terakhir menatap ke arah dirinya sendiri. Kelopak matanya melebar melihat dada bidangnya sendiri. Satya menatap ke arah kedua mertuanya.


"Astaga.... Kenapa aku tidak menyadarinya." Gumam Satya dalam hati.


Ayah empat anak meski satu anaknya masih dalam proses launching itu langsung memakai Hoodie yang diberikan oleh mertuanya. Setelah itu dia masih bersikeras untuk ikut masuk ke dalam ruangan bersalin. Bersamaan dengan dokter yang akan menangani persalinan Belva, Satya mendapatkan persetujuan masuk ke dalam ruangan.


Semua peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang proses persalinan pun telah siap di dalam ruangan. Belva sudah berada dalam posisi berbaring seperti pada umumnya para ibu hamil akan melahirkan. Seperti saat pertama ia melahirkan si kembar dulu untuk persalinan keduanya saat ini ia pun memilih untuk melahirkan secara normal.


"Bagaimana apa pembukaan sudah siap?" Tanya dokter.


"Tinggal beberapa saat lagi sudah siap dokter, kita masih menunggu pembukaan terakhir." Jawab suster.


"Franco, bantu suster Jeslin berjagalah di samping kanan kiri pasien."


"Baik, Dok." Jawab Franco dan suster Jeslin.


Franco adalah asisten dokter yang menangani persalinan Belva. Keduanya mulai mengambil posisi untuk melakukan tugas mereka. Satya yang awalnya fokus menenangkan istrinya kini beralih pada suara perintah dokter berjenis kelamin perempuan tersebut pada kedua sang dokter.


"Sebentar... Dia ikut menangani persalinan istri saya?" Tanya Satya.


"Iya, Tuan... Mereka adalah team saya dalam menangani persalinan." Jawab dokter wanita.


"Tidak... Tidak... Tidak bisa dia tidak boleh ikut." Tolak Satya.


Mereka semua saling pandang mendengar penolakan dari Satya. Franco menatap dokter yang selalu di dampinginya itu. Pikir Franco sang asisten dokter itu mengira bahwa Satya masih merasa kesal padanya atas kejadian yang terjadi tadi sebelum masuk ke dal.ruangan bersalin.


"Maaf ada apa, Tuan?" Tanya dokter.


"Dia itu laki-laki, saya tidak ijinkan dia melihat persalinan istri saya."


Belva yang sudah kesakitan hanya diam saja merasakan rasa sakit yang luar biasa, ia tak peduli dengan suaminya yang banyak berbicara di dalam ruangan tersebut. Perdebatan kecil sempat terjadi membuat Belva semakin merasa tertekan dengan situasi yang ada.


"Sshh... Aduh astaga mas bisakah kamu diam." Ucap Belva dengan nada lemahm


"Tapi sayang dia laki-laki, saya tidak ijinkan dia melihat mu."


Belva pasrah, berdebat dengan suaminya memang tak akan menang jika suaminya itu sudah berkehendak. Dokter yang melihat perdebatan kecil itu pun memutuskan untuk memindahkan Franco ke bagian yang lain demi kelancaran persalinan pasiennya.


"Franco, kamu siapkan saja kamar pasien setelah melahirkan." Titah dokter itu.


"Baik, dokter." Jawab Franco. Pria itu menurut dengan perintah atasannya.


Setelah Franco keluar, merrka masih menunggu pembukaan secara lengkap. Semua yang ada di ruangan tersebut berjenis kelamin wanita kecuali Satya sendiri yang mendampingi sang istri.


Aba-aba dari dokter terdengar setelah pemeriksaan sudah menunjukkan pembukaan terakhir. Belva yang sudah memiliki pengalaman serta persiapan sebelum melahirkan dengan cukup sedikit banyak ia mampu mengelola pernapasan dengan baik. Ditambah dukungan dari sang suami yang setia di sampingnya meski terkadang cukup membuatnya semakin tertekan dan kesal.


"Tarik napas dan hembuskan perlahan, Nona tunggu aba-aba dari saya jangan terlalu banyak mengejan ya."


Belva mengangguk sembari mengatur pernapasannya. Satya mendampingi tepat do samping kepala Belva. Diusap lbut wajah dan rambut Belva, setiap keringat yang keluar membasahi wajah cantik istrinya itu selalu diusap lembut oleh Satya.


"Semangat, sayang... Mas ada di sini untukmu." Bisik Satya tepat di telinga Belva.


"Mulai mengejan, Nona." Titah dokter memberikan aba-aba.


"Egghh... Egghh... Hhaahh..."


"Dorong terus, Nona sedikit lebih kuat kepala bayi sudah terlihat."


"Egghh... Egghh..." Belva mengejan dengan kuat.


Tangannya yang digenggam oleh Satya pun pada akhirnya mendapatkan respon dari Belva dengan genggaman yang sangat kuat pada saat mengejan.


Satya melihat dengan jelas betapa keras perjuangan Belva dalam melahirkan bayi mereka. Keringat, bibir sedikit pucat dengan wajah memerah karena berusaha keras mengeluarkan tenaga.


Sesekali Belva merasa lelah dan berhenti mengejan. Satya terus memberikan dorongan semangat untuk sang istri. Sebenarnya dia tak tega melihat istrinya kesakitan dan lemah seperti itu.


"Kuat sayang... Bantu bayi kita melihat dunia yang baru, dia ingin bertemu dengan kita." Ucap Satya terus membisikkan kalimat-kalimat penyemangat untuk Belva.


Dikecup berkali-kali kening Belva, dia memejamkan mata seakan ikut merasakan betapa lelah dan sakit yang Belva rasakan. Ditengah rasa lelah itu Belva terus berusaha sekuat tenaganya. Suaminya terus memberikan dukungan padanya, rasa sayangnya pada calon bayinya pun seketika menggebu-gebu. Dengan sisa tenaganya Belva kembali mengejan.


"Oek...Oeekk... Oeekk..."


Suara tangis bayi terdengar nyaring di dalam ruangan tersebut. Telinga mereka hanya dipenuhi dengan suara tangisan bayi yang baru saja merasakan suasana dunia yang berbeda, mungkin saja suasana yang di rasakan berbeda jauh dari zona nyaman yang selama ini dirasakannya saat berada di dalam perut sang ibu.


Seketika pula tangis Satya pecah saat mendengar suara tangis bayinya. Belva yang sudah lemah itu pun tak kuasa menahan air matanya karena berhasil mewujudkan sang bayi merasakan dunia yang baru.


"Terimakasih, Mam... Terimakasih, sayang... Bayi kita sudah lahir."


Satya berucap dengan penuh haru dan bahagia. Pria itu mengecup kening dan seluruh wajah istrinya berkali-kali sebagai rasa terimakasih yang sangat luar biasa besar pada istrinya.


Belva yang lemah tak mampu berkata-kata lagi, tangis haru dan bahagia juga ia rasakan saat ini kala mendengar suara tangis bayinya. Anak yang sembilan bulan ini ia tunggu-tunggu kehadirannya. Anak yang mereka nantikan untuk menambah keceriaan, keramaian dan kebahagiaan keluarga kecil mereka.


****


To be continue


Hai my dear para readers ku tersayang


Mohon maaf sekali author terlalu sibuk bekerja jadi jarang up... Terimakasih yang masih menunggu update dariku 🙏🙏🙏


Apakah masih ada yg ingin menantikan kelanjutan cerita ini ??


Kira-kira bayi Om Satya dan Mami Belva laki-laki apa perempuan yaa?? Ada yg bisa tebak 😂

__ADS_1


__ADS_2