Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 184. Bandung


__ADS_3

Siwi berbalik badan dengan tersenyum sinis. Dirinya sudah berjanji dalam hati bahwa ia akan membuat bos-nya yang tampan dan menggoda itu bertekuk lutut padanya.


"Ya, Tuan? Anda memanggil saya?"


"Kemarilah." Ujar Satya.


Dengan hati yang senang dan juga penasaran Siwi mendekat ke arah Satya yang masih duduk di kursi kebanggaannya. Tatapan Satya terfokus pada Siwi membuat wanita itu merasa salah tingkah.


"Em.... ekhem. Ada apa, Tuan?"


"Persiapkan besok dua hari lagi beberapa karyawan termasuk kamu, kita akan pergi ke Bandung. Kamu dan Andi yang menjadi perwakilan paling utama untuk pembahasan proyek baru kita. Jadi, jangan kecewakan saya."


"Satu lagi harus saya tekankan padamu bersikaplah profesional ketika berada di lingkungan kerja terutama kantor. Saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu, kendalikan dirimu jika masih ingin terus bekerja di perusahaan ini. Saya tidak akan main-main dalam bekerja, fasilitas apapun akan saya berikan bagi mereka yang memberikan hasil pekerjaan yang memuaskan, jadi banyak yang ingin menggantimu jika kamu melanggar aturan saya." Imbuh Satya.


Lagi-lagi sebuah peringatan disertai sedikit ancaman untuk Siwi. Wanita itu tentu saja mulai khawatir dengan peringatan Satya. Hal itu pun membuat Siwi merasa kesal dalam harinya. Rupanya meluluhkan Satya agar bisa bersikap hangat padanya adalah sebuah tantangan besar dan itu membuat Siwi semakin tertantang untuk menaklukkan Satya.


"Apa kamu paham?"


"Pa-paham, Tuan." Jawab Siwi.


"Keluarlah." Titah Satya dengan tenang dan dingin.


Siwi keluar dari ruangan Satya dengan perasaan kesal. Tak membuahkan hasil untuk membuat Satya bersikap baik padanya meski di lingkungan kerja atau di tempat umum. Dirinya merasa tertantang kala pertama kali melihat wajah tampan bos-nya dan juga mendengar desas-desus bahwa Satya memiliki sifat yang dingin, cuek dan tak perduli dengan para karyawan perempuan di perusahaan Bala Corp. Ada pula selentingan kabar yang didengarnya bahwa Satya menduda ada pula yang mengatakan bahwa Satya masih beristri.


Kenyataannya Satya telah beristri karena beberapa kali Satya selalu mengucapkan seolah istrinya adalah yang paling utama. Hal itu semakin membuat Siwi tertantang untuk bisa membuat Satya luluh padanya. Menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya mampu berada di samping pria sekelas Satya.


'Siyalan... Kupikir dia akan menerima tawaranku tadi. Oke tak apa, masih ada seribu jalan menuju roma.' Batin Siwi.


Tekadnya bulat untuk mendekati Satya, ia tak akan mundur sedikitpun sebelum benar-benar mendapatkan Satya. Pria tampan, mapan dan yang sangat penting adalah menggoda. Ketika memikirkan Satya yang ada dipikiran Siwi hanya bayangan mereka berada di bawah selimut yang sama dengan saling memberikan kehangatan satu sama lain. Pergu*latan yang pernah ia lakukan semakin terbayang dengan wajah Satya yang mengungkung dirinya posesif.


'Uuuhhh... Kegiatan yang menyenangkan itu akan kembali aku rasakan bersama mu bos-ku yang tampan dan menggoda.' Siwi kembali bergumam dalam hati.


Otaknya sudah terkontaminasi dengan obsesi dan ambisinya mendapatkan Satya dan ia memiliki rencana jika berhasil mendapatkan Satya ia akan segera mengumumkan di depan umum bahwa Satya pasti lebih memilihnya dibandingkan istri Satya.


Hari berganti hari ini adalah hari dimana Satya harus berangkat ke Bandung demi meninjua secara langsung tanah lapang yang akan menjadi proyek baru mereka. Jordi sudah menjemput sejak pagi dan ikut sarapan bersama di rumah besar Satya.


"Kay, susah selesai?" Tanya Satya.


"Sudah Daddy." Jawab Duo Kay.


"Kita berangkat sekarang ya, Daddy harus segera ke kantor."


Duo Kay mengangguk, Belva sudah selesai menyiapkan bekal untuk kedua anak kembarnya. Turun dari kursi, Satya dan Belva membantu dua bocah kembar itu untuk memakaikan tas mereka. Satya menyempatkan untuk mengantar kedua anaknya pergi ke sekolah bersama Belva. Jordi mengendarai mobil dengan membawa penumpang satu keluarga kecil yang tampak harmonis itu.


"Daddy nanti perginya lama tidak?" Tanya Kaila yang duduk di pangkuan Satya.


"Hanya satu hari saja, sayang nanti Daddy pulang lagi jika perkejaan Daddy selesai."


"Kenapa tidak tunggu kita libur sekolah? Kan kita bisa ikut sama Mami juga." Ucap Kaili.


Satya tersenyum dan mengelus kepala putranya yang duduk di tengah-tengah dirinya dan sang istri.


"Ini masalah pekerjaan, boy. Daddy tidak bisa menundanya. Daddy janji jika kalian libur panjang kita akan jalan-jalan bersama. Oke."


"Oke." Jawab Kaili mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


"Sayang, bekalnya nanti dihabiskan ya soalnya Mami siapkan lebih banyak seperti biasanya."


"Oke beres, Mami." Jawab Kaila semangat.


Kaila selalu bersemangat jika masalah makanan karena putri Satya dan Belva itu hobi makan. Badannya yang lebih subur membuatnya terlihat menggemaskan sekaligus cantik.


"Nanti boleh bagikan ke teman?" Tanya Kaili.


"Boleh, sayang." Ucap Belva tersenyum lembut pada Kaili.


Jordi menjadi saksi bagaimana keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia dan bos-nya benar-benar terlihat menikmati kebahagiaan bersama keluarga barunya. Bersyukur sudah pasti Jordi ucapkan, Satya berubah lebih terkontrol dan lebih halus sejak memperistri Belva dan memiliki dua anak kembarnya.


Sampai di sekolah TK Seven Blue School Satya mengantar Duo Kay bersama Belva hingga ke dalam kelas. Ini pertama kalinya Satya pergi ke luar kota sejak menikahi Belva dan selalu bersama kedua anaknya.


"Kalian sekolah yang rajin dan jangan nakal ya, Daddy pergi dulu." Pamit Satya.


"Iya Daddy hati-hati." Ucap Kaili.


"Daddy, jangan lupa beli oleh-oleh ya nanti." Ucap Kaila.


"Beres nanti Daddy beli oleh-oleh untuk kalian." Usapan lembut Satya berikan pada kepala Duo Kay.


"Ya sudah Mami juga pulang dulu ya nanti pulang sekolah Mami jemput lagi kalian."


"Oke Mami." Jawab Duo Kay.


Satya menggandeng tangan Belva hingga menuju parkiran. Rupanya Pak Sugeng sopir pribadi Belva memang sengaja diperintahkan untuk mengikuti mobil Satya. Sampa di mobil milik sang istri, Satya langsung membukakan pintu mobil bagian belakang untuk sang istri. Dirinya pun tak lantas pergi begitu saja tapi mengikuti sang istri masuk ke dalam mobil. Buka membatalkan rencananya dan ikut kembali pulang melainkan Satya ingin berpamitan sebelum pergi ke Bandung.


"Pak Sugeng, bisa tolong keluar sebentar."


"Baik, Tuan."


Mengikuti perintah majikanya, Pak Sugeng keluar dari dalam mobil. Satya menginginkan waktu beberapa saat untuk berpamitan pada istrinya dan anaknya yang ada di dalam kandungan istri nya.


"Sayang..."


"Iya?" Belva menoleh pada suaminya tapi dengan cepat Satya me**ncium bibir Belva membuat istrinya itu sedikit reflek terkejut.


******an kecil Satya berikan pada bib*ir Belva. Tak memberikan jeda, pria itu menikmati setiap sent*uhan demi sentu*han antar bibir tersebut. Seakan ciu*man tanpa pamit itu akan menjadi bekal bagi Satya selama berada di Bandung yang tidak bisa melihat atau memeluk secara langsung sang istri.


"Mas..." Panggil Belva saat pagu*tan itu terlepas.

__ADS_1


"Hemm... Mas berat meninggalkan mu, sayang."


Pasangan suami istri itu kini beradu kening setelah saling merasai manisnya bi*bir di pagi hari. Belva tersenyum, ia pun merasa berat saat sang suami tak ada di sisinya. Sudah terbiasa bersama pasti akan terasa sedikit aneh.


"Pergilah, mas kamu ke sana hanya bekerja saja bukan?"


"Tentu saja, sayang. Untuk apa lagi jika bukan karena pekerjaan mas tidak akan mau pergi tanpa kalian." Ucap Satya sembari tangannya mengusap bi*bir istrinya yang basah akibat bertukar sali*va.


"Iya aku tahu itu. Berhati-hatilah, mas."


Kini Satya mengecup kening Belva, dia tak bisa lagi berlama-lama di dalam mobil atau dirinya bisa jadi mengurungkan niatnya dan menunda jadwal kepergiannya.


"Oke mas pergi dulu, sayang." Ucap Satya lalu fokusnya beralih pada perut istrinya.


"Hai baby, Daddy pergi dulu. Maaf mungkin malam nanti Daddy tidak bisa menemanimu tidur. Tapi Daddy janji akan cepat pulang." Pamit Satya mengusap lembut perut Belva dan mengecup perut sang istri.


Belva mengusap punggung suaminya saat Satya membungkuk berbicara dan mengecup perut nya.


"Sudah, mas. Om Jordi pasti sudah menunggu mu. Dia pasti kesal sekarang karena terlalu lama menunggu."


"Iya sayang. Sudah ya mas berangkat dulu. Hati-hati jaga diri jika terjadi sesuatu langsung hubungi, mas atau Jordi."


Belva mengangguk, Satya keluar dari mobil. Pak Sugeng rupanya sedang berbincang dengan Jordi. Satya mendekati mobilnya sebelum masuk dia berpesan pada sopir pribadi sang istri.


"Pak Sugeng, hati-hati di jalan. Di manapun dan kapanpun Pak Sugeng mengantar atau menjemput istri dan anak-anak saya berhati-hatilah. Istri dan anak-anak saya jangan sampai lecet."


"Baik, Tuan. Siap." Jawab Pak Sugeng dengan mantap.


Akhirnya Jordi dan Satya pergi meninggalkan area sekolah Duo Kay menuju kantor terlebih dahulu. Belva pun langsung berangkat ke butik dengan di anatai oleh Pak Sugeng.


Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani sebelum pergi ke Bandung. Berjaga-jaga jika memang berkas-berkas milik karyawan nya segera dibutuhkan jadi tidak perlu repot-repot menunggu dirinya kembali dari Bandung.


Beres dengan beberapa berkasnya, Satya dan Jordi bersiap untuk berangkat ke Bandung. Karyawan yang juga ikut meninjau di lapangan pun sudah siap di dalam mobil kantor. Grace sengaja tidka dibawa karena wanita itu harus standby di kantor untuk menghandle pekerjaan yang ada di kantor.


Siwi dari dalam mobil terus mengamati Satya yang hendak memasuki mobil. Hari ini Satya terlihat sangat tampan seperti biasanya, Siwi selalu terpesona dengan pemilik Bala Corp itu.


"Lihat apa, Nona Siwi?" Tanya Wulan.


"Hah? Tidak ada hanya melihat ke arah luar saja. Sedikit bosan menunggu sedari tadi belum berangkat juga." Jawab Siwi menutupi hal yang sebenarnya.


Ia tak ingin sesumbar lebih dulu sebelum dirinya benary bisa memastikan bisa mendekati Satya.


"Kita menunggu Andi dia sedikit terlambat karena ban motornya bocor." Ucap Wulan.


"Ah baiklah." Ucap Siwi yang terus mengikuti arah mobil Satya yang sudah mulai bergerak meninggalkan area kantor.


'Coba saja berangkat ke Bandung bersama si tampan dan seksiku pasti terasa sangat menyenangkan.' Batin Siwi.


Perjalan yang sedikit memakan waktu hingga tiga jam lebih karena terjadi kecelakaan hingga membuat kemacetan panjang akhirnya mereka semua telah sampai di Bandung.


Sebuah hotel mewah menjadi pilihan Satya dan Jordi untuk mereka menginap dan juga untuk para karyawan nya. Satya memang tak pernah perhitungan untuk fasilitas yang dia diberikan bagi karyawan nya karena mereka juga harus tahu diri untuk bekerja dan memberikan hasil maksimal untuk dirinya dan perusahan.


Siwi menggunakan kesempatan makan siang ini untuk mendekati Satya. Satu gelas air jus stroberi yang ia bawa dengan sengaja ditumpahkan pada kemeja Satya.


Bruk...


Manik mata Siwi terbuka lebar begitu juga dengan beberapa karyawan yang melihat hal tersebut. Satya jelas saja terkejut dan kesal dengan sikap Siwi yang dirasanya ceroboh dan tidak berhati-hati. Pria itu menatap Siwi dengan tajam.


"Maaf... Maaf, Tuan saya tidak sengaja."


"Lain kali hati-hati." Ujar Satya dingin dan datar.


Satya berlalu ke toilet yang ada di kamar hotelnya. Siwi dengan sengaja mengikuti Satya hingga ke dalam kamar hotel tanpa Satya ketahui karena suami dari Belva itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Begitu keluar Satya sangat terkejut denga kehadiran Siwi yang ada di depan pintu kamar mandi.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan di sini?!" Tanya Satya dengan suara membentak.


"Hanya... Hanya ingin memastikan kemeja, Tuan." Ucap Siwi berusaha menguasai diri agar tetap santai.


Satya langsung menarik lengan Siwi agar wanita itu segera keluar dari kamar nya. Apa yang akan dikatakan para karyawannya nanti jika melihat dirinya dan Siwi berada di alam kamar hotel. Reputasi dan juga rumah tangganya akan hancur nanti.


"Apa kamu melupakan peringatan saya kemarin huh?!" Ucap Satya sembari menarik lengan Siwi.


"Lepas, Tuan. Anda menyakiti lengan saya." Ringis Siwi.


Tiba-tiba pintu terbuka karena Siwi masuk tanpa mengunci pintu tersebut. Mereka terkejut melihat seseorang yang masuk ke dalam kamar hotel milik Satya.


"Tu-tuan??"


"Jo-Jordi."


Kedua pria itu merasa sama-sama terkejut. Satya langsung melepaskan tangan Siwi dengan cepat. Sebelumya Satya tak pernah merasa gugup dihadapan sang asisten tapi kali ini dirinya kepergok berada di dalam kamar hotel bersama wanita lain yang bukan istrinya.


"Tu-tuan apa yang anda..." Ucapan Jordi tak sampai selesai karena untuk bertanya pun dirinya merasa sungkan.


"Tuan, tolong saya. Tuan Satya memaksa saya." Ucap Siwi.


Jordi langsung menatap Satya, sedangkan yang ditatap seperti merasa mati kutu. Satya takut jika kejadian ini sampai pada telinga istrinya.


"Jordi, ini... Ini bukan seperti yang kamu pikirkan." Ucap Satya.


Tapi Jordi merasa sedikit aneh, pasalnya Satya saat ini sedang menggunakan handuk kimono yang disediakan oleh pihak hotel dan tadi menarik lengan karyawan baru Bala Corp.


"Siwi... Kamu keluar sekarang juga. Jordi bawa dia keluar dari sini."


"Saya tidak menyangka, Tuan akan melakukan hal seperti ini pada saya." Ucap Siwi yang selalu tak jelas dari tadi.


Satya mengurut pangkal hidungnya. Siwi tak bisa diperingatkan dengan kata-kata saja. Jordi melihat Satya yang sedang tak baik-baik saja langsung membawa Siwi keluar meski dengan memaksa.

__ADS_1


Jadwal yang direncakan hanya meninjau pekerjaan lalu kembali pulang kini mereka semua harus terjebak cuaca ekstrem yang mengakibatkan beberapa tempat longsor dan Satya serta semua karyawannya tak bisa kembali pulang ke Jakarta. Tepat yang akan digunakan untuk membangun resort baru itu terletak sedikit di perbukitan dengan tujuan mereka bisa mendapatkan pemandangan yang indah saat resort itu telah jadi nanti.


"Ck, bagaimana Jordi apa ada jalan lain untuk kembali ke Jakarta?" Tanya Satya.


"Maaf, Tuan tidak ada jalan lain. Jalan yang di tertimbun longsor itu merupakan jalan satu-satunya menuju Jakarta."


Satya kembali frustasi karena ponselnya tak mendapatkan sinyal di saat cuaca ekstrem seperti ini. Terlebih di tempat perbukitan yang sangat minim sinyal meskipun di saat cuaca normal.


Pintu kamar Satya terketuk dan ternyata Wahyu salah satu karyawannya datang untuk meminta ijin.


"Ada apa, Wahyu?" Tanya Jordi saat membukakan pintu.


"Tuan Jordi, maaf saya mau meminta ijin apakah boleh saya kembali ke rumah bibi saya yang ada di dekat sini? Mumpung hujansedang reda."


"Ke rumah bibi mu? Emm apa dari rumah bibi mu ada jalan lain menuju Jakarta?" Tanya Jordi mencoba mencari cara lain.


"Maaf, Tuan rumah bibi saya pun menggunakan jalan satu-satunya yang tertimbun longsor jika untuk menuju kota."


Jordi menatap Satya, dengan menghela napas Satya mengijinkan Wahyu. Dia tak ingin dipusingkan dengan masalah pribadi karyawan nya.


"Ya sudah tapi nanti jika keadaan sudah membaik kembali ke Jakarta." Ucap Jordi.


"Baik, Tuan kalau begitu saya pamit bersama teman-teman yang lain. Mereka juga ingin ikut ke rumah bibi saya."


Jordi mengangguk tanda mengijinkan. Wahyu langsung pergi setelah mendapatkan ijin dari atasannya.


Selang beberapa jam, hujan kembali mengguyur daerah tersebut. Kilat dan petir saling bersahutan, pintu kamar Satya kembali terketuk. Satya lah yang membuka pintu, Jordi duduk di sofa.


"Tuan, saya takut." Ujar Siwi di depan pintu menampakkan raut wajah ketakutan dan cemas.


Jordi mengerutkan keningnya, Siwi begitu berani menghadap pada Satya serta bebicar pada bos-nya itu.


Gleder!!!!


Suara petir begitu nyaring berbunyi membuat semua yang mendengar terkejut. Siwi langsung memeluk Satya tanpa ragu. Manik mata Satya membulat kala Siwi langsung memeynya dihadapan Jordi. Kembali Jordi melongo dengan kejadian yang ada di depan mata.


"Siwi, lepaskan!" Tangan Satya mencoba melepaskan pelukan tersebut.


"Tuan, saya takut."


Klap...


Lampu seluruh ruangan padam, huja petir disertai listrik yang padam membuat Siwi mengambil kesempatan sebaik dan sebanyak mungkin.


Mau tak mau Satya membawa Siwi masuk ke dalam kamarnya. Tak hanya berdua tapi Jordi pun masih berada di tempat itu.


Sudah terhitung empat hari dan setiap pagi di kamar hotel, Satya sudah tampak segar setelah mandi dan menggunakan baju santai. Jalan yang masih belum terkondisikan membuatnya tak bisa kemanapun ditambah cuaca yang tak menentu dan ekstrem. Saat Satya keluar dari kamar mandi, Siwi baru saja bangun ia menyibakkan selimut nya dan duduk bersandar di kepala ranjang menatap wajah tampan Satya.


'Astaga mimpiku benar-benar terwujud, sudah beberapa hari ini aku melihat wajah tampan dan menggoda dari Tuan Satya.' Batin Siwi tersenyum bahagia.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Satya.


"Memandangi wajah tampanmu." Ucap Siwi dengan santai.


"Bersiap lah kita akan sarapan." Titah Satya.


"Oke, tunggu aku." Siwi dengan semangat empat lima bersiap membersihkan diri.


Selama beberapa hari ini Siwi tidur di kamar hotel Satya sejak hujan petir yang terjadi beberu hari yang lalu. Kini mereka makan bersama Jordi di restoran hotel.


Hingga lima hari lamanya Satya tak kembali pulang ke Jakarta membuat Belva merasa cemas karena suaminya itupun tak bisa dihubungi sejak terakhir menghubungi nya sebelum jam makan siang hari pertama Satya tiba di Bandung.


"Mas Satya kok tidak bisa dihubungi ya?" Gumam Belva lirih.


Belva mondar-mandir di depan ruang keluarga memikirkan dengan cemas akan kondisi suaminya.


"Mami, kok Daddy tidak pulang-pulang? Apa Daddy lupa lagi jalan untuk kembali ke rumah seperti dulu yang Mami ceritakan." Ucap Kaili.


Tak hanya Belva yang menunggu kepulangan Satya tapi kedua anaknya juga menantikan kepulangan Daddy mereka.


"Tidak, sayang Daddy mungkin masih sibuk jadi belum bisa kembali ke rumah." Ucap Belva menenangkan putranya.


Sejujurnya dirinya sendiri merasa tidak tenang saat ini tapi jika dirinya juga menunjukkan itu pada Duo Kay yang ada kedua anaknya akan semakin merasa sedih dan takut jika Daddy mereka tak kembali lagi seperti dulu.


"Kita tidur saya ya, mungkin besok pagi Daddy pulang." Ajak Belva pada Duo Kay.


Untung saja kedua anaknya menurut dan tak banyak bertanya macam-macam. Selama Satya tak berada di rumah Belva selalu tidur bersama kedua anaknya agar tak merasa kesepian.


Total Satya berada di Bandung selama satu minggu tanpa kabar yang diberikan pada Belva. Kini Satya dalam perjalanan menuju Jakarta tapi kali ini dia tak langsung kembali pulang ke rumah melainkan meminta Jordi untuk mengantar Siwi kembali ke apartemen terlebih dahulu.


"Jordi, antar Siwi kembali lebih dulu baru kita pulang." Titah Satya.


"Baik, Tuan." Jordi hanya patuh dan patuh saja di hadapan Satya dan Siwi.


Mendapatkan kesempatan emas, Siwi memilih duduk di bangku belakang bersama dengan Satya. Dalam hatinya ia merasa bangga dan bahagia perlahan misinya berjalan dengan lancar. Satya terluhat tak keberatan saat Siwi duduk di sampingnya.


Siwi terus memandangi wajah Satya dengan tatapan kagum, senyum manis di bibirnya tak pernah surut selama perjalan menuju Jakarta. Jordi yang berada di depan melihat Siwi menatap kagum pada Satya pun merasa muak. Jordi tak menyukai sikpa Siwi tapi dia tak memperlihatkan itu dihadapan wanuta tersebut.


Nekat Siwi tak bisa lagi membendung keinginannya untuk lebih dekat dengan Satya. Ia memeluk lengan Satya dengan manja hal itu semakin membuat Jordi mengumpat kesal dalam hatinya.


"Siwi lepaskan tanganmu, bersikaplah sopan dihadapan Jordi. Saya tidak ingin Jordi keceplosan dihadapan istri saya."


Satya berusaha melepaskan rangkulan tangan Siwi dari lengannya. Siwi berubah cemberut saat Satya menolak dirinya. Satya terdiam dalam hatinya kini menjadi sedikit merasa bersalah terhadap sang istri. Tapi mau bagaimana lagi semua karena keadaan yang memaksaku dirinya untuk bersikap demikian bersama Siwi.


Ketiganya sampai di Jakarta, mobil menuju apartemen Siwi. Jordi dan Satya tak turun hanya Siwi saja yang turun dari mobil tersebut.


****

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2