Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 62. Cerita Budhe Rohimah


__ADS_3

Di dalam kamar Belva duduk di atas ranjangnya. Ia tak perlu takut dan khawatir lagi Satya mengejar dirinya karena pintu kamar sudah ia kunci. Iantak mengerti kenapa Satya tiba-tiba bersikap seperti itu padanya.


"Apa karena waktu itu aku melukai Alya jadi dia akan membuat perhitungan padaku ?" Gumam Belva.


Pikirannya kemana-mana karena Satya tiba-tiba berubah bersikap frontal padanya. Biasanya pria itu bersikap dingin dan datar dalam artian selalu tenang.


Meski Belva tahu jika Satya tak dekat dengan Alya. Tapi walau bagaimanapun Alya adalah anak dari Satya. Sebagai seorang ayah pasti akan melindungi putri nya. Saat Alya berada di rumah sakit, Satya bahkan terlihat beberapa kali berada di rumah sakit menemani putrinya.


Ia ingat dulu saat diganggu oleh teman sekolahnya. Ayahnya lah yang membela dirinya sampai datang ke sekolah mencari siswa yang menggangu Belva. Seorang ayah pasti sangat melindungi putrinya, pikiran itu yang diterapkan Belva pada Satya saat ini.


Bayangan akan kenangan Ayahnya dulu membuat Belva larut dalam kenangan-kenangan bersama Ayahnya. Tiba-tiba dirinya sangat merindukan sang Ayah. Hingga larut dalam kenangan itu Belva lupa apakah Satya masih berada di dalam rumahnya atau sudah pergi.


Wanita itu kemudian keluar dari dalam kamarnya. Berjalan perlahan ke arah kamar Budhe Rohimah, tempat itu masih kacau akibat benda-benda yang dilempar olehnya. Lanjut ia berjalan ke ruangan yang lain tak ada sosok Satya. Belva bernapas lega, pria itu sudah tak ada. Kini Belva baru ingat jika Kaili belum juga makan siang, maka ia akan menyiapkan makanan untuk Kaili setelahnya baru akan dibangunkan bocah itu dari tidurnya.


Sejak menjaga Kaila di rumah sakit, dirinya baru kali ini memasak di rumah. Bella pasti hanya memasak sedikit, cukup untuk dirinya dan juga Kaili saja. Saat ini Belva memasak makanan kesukaan Kaili. Ayam kuah kuning adalah makanan kesukaan Kaila dan Kaili selain dari cemilan sosis mie gurita.


Sedangkan di dalam kamar Kaili, Satya masih setia menunggu dan menatap putranya. Senyum tersungging dari bibirnya, mengetahui jika dirinya memiliki seorang putra. Tidak hanya putra tapi juga putri kandung. Alya gadis itu bukan putrinya itu cukup membuatnya lega karena dia tak harus berhubungan dengan wanita-wanita pembuat masalah itu.


Satya melihat pergerakan Kaili di atas ranjang. Mata bocah kecil itu mengerjap, seragam sekolahnya masih melekat ditubuh kecilnya.


"Mamiii..." Rengek Kaili lirih.


"Hei... Kamu sudah bangun ?" Tanya Satya dengan nada suara yang lembut.


Kaili langsung menolehkan wajahnya ke arah sumber suara.


"Opmud... Kenapa bisa di kamarku ?" Tanya Kaili bingung. Wajahnya menggemaskan dan imut saat bangun tidur. Satya tersenyum melihat wajah bocah itu. Hatinya terasa menghangat saat itu juga.


"Tentu saja menemani dan menjaga tidurmu. Apa tidurmu nyenyak ?"


Kaili mengangguk.


"Ini kamar mu dengan Kaila ?" Tanya Satya.


"Iya... Dengan aunty Bella juga." Jawab Kaili.


Kasihan putranya harus tidur di ruangan yang sempit seperti ini. Sejujurnya dibalik rasa syok nya hatinya merasa senang memiliki seorang putra terlebih saat mengetahui kenyataan Alya bukan anaknya kebahagiaan jauh lebih besar tak hanya putra tapi juga putri kecil yang cantik dan menggemaskan. Tapi sayang saat dirinya tahu akan kenyataan itu justru kini putri kecilnya tengah terbaring lemah. Sungguh pertemuan yang menyedihkan.


"Kalian tidur bertiga di kamar ini ? Apakah tidak sempit ?" Tanya Satya.


"No... Kata Mami kita harus tetap bersyukur." Ucap Kaili.


"Oh ya ? Mami bilang seperti itu ?"


"Tentu saja, Mami cerita kalau di luar sana banyak anak kecil yang tidak punya kamar sepertiku dan Kaila." Ujar Kaili.


"Ada juga yang kamarnya satu dipakai banyak anak-anak kecil." Imbuh Kaili.


"Banyak anak kecil ? Maksudnya ?" Tanya Satya.


"Iya banyak anak kecil. Mereka tidur bersama. Mami bilang mereka dititipkan disana lama. Namanya panti sasuhan kita pernah kesana."


"Pantai asuhan maksud mu ?" Satya membenarkan nama yang disebutkan oleh Kaili.


"Oh iya itu."


"Belva mendidik mereka dengan baik rupanya." Batin Satya tersenyum.


Sangat berbeda dengan cara Sonia mendidik Alya. Bahkan ibu dan anak itu sangat anti pada orang-orang kecil.


Entah bersama Satya bocah itu tak merasa takut meski baru beberapa kali bertemu. Justru terlihat akrab sama seperti berbincang dengan Roichi. Biasanya Kaili akan cuek pada orang yang baru dikenali dan irit bicara.


Belva tak tahu jika putranya telah bangun dan sibuk mengobrol dengan Satya di dalam kamar. Satya tak canggung sama sekali saat mengobrol bersama anak kecil. Pada dasarnya Satya bila bersama keluarganya dia akan menjadi sosok yang penyayang.


Mengapa terhadap Sonia dan Alya berbeda ? Itu karena sikap Sonia dan Alya yang sudah keterlaluan. Lagi pula jika boleh jujur Satya merasa tak memiliki ikatan batin antara anak dan bapak jika dengan Alya.


"Selesai... Tinggal bangunkan Kaili. Pasti dia senang, sudah beberapa hari aku kurang memperhatikannya." Gumam Belva.


Disiapkan semua makanan di atas meja makan dengan rapi. Apron yang menempel pada tubuhnya dilepaskan lalu pergi ke kamar Kaili.


Begitu di depan pintu kamar Kaili, Belva mengernyitkan keningnya. Sayup-sayup terdengar suara dari dalam kamar Kaili.


"Kaili sudah bangun ? Atau mengigau ?" Gumam Belva.


"Jangan-jangan..."


Belva segera membuka pintu itu, benar saja Kaili sudah terbangun dan sedang asik mengobrol bersama Satya. Mata Belva membulat, terkejut dan kesal. Pria itu tidak pergi tapi justru masuk ke dalam kamar Kaili.


Satya dan Kaili menatap ke arah Belva yang tengah berada di ambang pintu. Wajah wanita itu tidak menunjukkan sikap yang ramah.


"Mami.. !" Panggil Kaili.


"Kaili, kamu sudah bangun Nak... Kamu tak apa-apa ?" Tanya Belva khawatir. Belva takut jika Satya menyakiti Kaili.


Satya diam melihat interaksi Belva dan juga Kaili. Wanita yang menarik hatinya bersama putranya.


"Tuan Satya yang terhormat. Anda benar-benar tak punya sopan santun. Berani sekali masuk ke kamar putraku." Ucap Belva tak suka.


"Kamu akan marah-marah di depan Kaili ?" Ujar Satya.


"Keluar dari kamar ini. Selain ini kamar putraku, kamar ini juga milik seorang gadis. Anda tak sopan masuk begitu saja di kamar orang lain."


Kaili bingung dengan dua orang dewasa yang terlihat sedang bertengkar. "Mami kenapa marah-marah ?"


"Mami mu marah karena saya disini." Ucap Satya.


"Kenapa Mi... Opmud baik kok. Dia tidak jahat." Ucap Kaili.


"Kaili, ganti baju Nak." Belva berlalu mengambil baju ganti Kaili tanpa merespon pertanyaan Kaili.


Saat Belva mengurus Kaili itu semua tak lepas dari pandangan Satya. Sedikit bibirnya tersenyum melihat pergerakan Belva yang menggantikan baju untuk Kaili.


"Sudah selesai kita makan. Mama sudah masak makanan kesukaan kamu. Dan anda Tuan silahkan keluar dari rumah saya."


Kaili sudah berlari terlebih dahulu saat Mami nya mengatakan sudah memasak makanan kesukaan nya. Satya masih berada di dalam kamar tersebut menatap Kaili yang sudah lebih dulu keluar. Ia tak perduli dengan ucapan Belva.


"Seharusnya kamu berikan kamar khusus untuk Kaila dan Kaili. Tidak bercampur dengan orang lain." Ucap Satya.


Belva kesal dan lebih kesal lagi dengan Satya. Pria itu melepaskan jas nya dan diletakkan di atas ranjang Kaili.


"Hei Tuan. Bawa barang mu jangan tinggalkan di kamar putraku."


Satya mendekati Belva. "Memangnya kenapa ? Ini juga kamar putraku."


Deg... Jedeeer...


Lagi-lagi terkejut dengan ucapan Satya. Degup jantung Belva berdetak lebih cepat. Sudah bersyukur degup jantungnya kembali normal saat Satya mencoba mengurungnya di kamar Budhe Rohimah. Kini kalimat itu seperti kilatan petir yang menyambar Belva.


Belva masih mematung saat mendengar kalimat itu dari bibir Satya. Hingga ia tak sadar Satya sudah melangkah menjauhinya.


"Apa yang anda katakan !! Anda jangan sembarangan bicara, Tuan !!" Ucap Belva dengan suara meninggi saat Satya hendak mencapai pintu.


"Kaili sudah menunggu. Saya butuh berbicara dengan kamu dan jangan menghindar." Ucap Satya lalu keluar dari kamar Kaili.

__ADS_1


Belva masih terdiam di dalam kamar itu. Ia tak siap jika harus membicarakan permasalahan ini dengan Satya. Ini terlalu mendadak untuknya.


"Ada apa ini ? Apakah dia sudah tahu ? Apa ini mimpi ?" Lirih Belva.


Selama ini ia tak pernah berharap Satya menemuinya untuk membicarakan perihal Duo Kay. Tekadnya sudah bulat menjauh dari keluarga Satya. Tapi... Semua seakan tak diijinkan untuknya menjauh dari semua yang berhubungan dengan Satya.


Satya sudah menyusul Kaili yang ada di meja makan. Dia duduk di sebelah anak lelakinya. Di atas meja dirinya melihat makanan yang tertata rapi. Ayam kuah kuning adalah makanan kesukaan Kaili dan Kaila. Aroma makanan itu sudah menguar masuk ke dalam indera penciuman Satya.


"Mami... Kok lama sih ?" Tanya Kaili


"Mau Daddy ambilkan ?" Tanya Satya tanpa sadar.


"Hah ? Daddy ?" Tanya Kaili.


"Eh maksudnya mau Opmud ambilkan ?"


Kaili mengangguk. Satya mengambilkan mengambilkan nasi untuk Kaili.


"Segini cukup ?"


"Cukup." Jawab bocah itu.


"Mau pakai lauk yang mana ?"


"Ayam itu." Tunjuk Kaili pada ayam kuah Kuningan.


"Nah... Sudah. Makanlah." Ucap Satya.


"Terima kasih Opmud. Ini makanan kesukaanku dan Kaila." Ucap Kaili.


Satya tersenyum. "Ternyata memang mereka anak-anakku. Bahkan makanan kesukaan mereka pun sama dengan ku." Batin Satya.


Kaili makan dengan lahap meski terkadang Satya membantunya. Saat Kaili makan, Belva baru datang menghampiri di meja makan. Ia melihat betapa Satya berbeda sekali sikapnya dengan Kaili. Hangat dan juga lembut berbeda saat bersama dirinya yang terkesan dingin, datar dan tegas.


"Mami... Mami kenapa lama ?" Tanya Kaili.


"Maaf sayang...Selesaikan makanan mu segera."


"Kenapa ? Mami tidak makan ? Mami sakit ?" Tanya Kaili.


"Tidak sayang. Mami hanya tak berselera makan."


Satya pria itu hanya melirik Belva, fokusnya lebih tertarik pada putranya. Belva menatap tajam pada Satya yang masih betah berada dalam rumahnya. Baru kali ini dirinya benar-benar melihat sikap Satya yang menyebalkan.


"Mami aku sudah selesai."


"Emm... Baiklah, mau masuk ke kamar atau mau main di ruang keluarga ?" Tanya Belva.


"Mami... Apa Kesyi sudah hilang ?" Jawaban yang tak sesuai dengan pertanyaan Belva.


"Maaf sayang, Mami tidak tahu. Besok kita cari lagi ya."


"Oke, aku ke kamar saja. Mau gambar Kesyi."


"Oke... Hati-hati turun dari kursi."


Belva pergi dari meja makan demi menghindari Satya. Kaili sudah selesai makan jadi tugasnya menemani di meja makan sudah selesai. Tanpa membereskan meja makan Belva beranjak. Satya tetap tak menyerah mengikuti Belva.


"Kita harus bicara." Ucap Satya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan Tuan."


"Belva... Tolong. Maaf jika tadi saya membuat mu ketakutan."


"Lupakan dan pergilah Tuan."


Belva berpikir jika nanti Roichi tahu, maka akan banyak sekali pertanyaan dari Roichi mengapa Satya bisa berada di rumahnya.


"Duduk di ruang keluarga." Ucap Belva.


Satya berjalan ke arah ruang keluarga dengan masih menggandeng tangan Belva.


"Ck lepas." Ucap Belva ketus. Satya langsung melepaskan tangan Belva. Mereka duduk di sofa yang berbeda. Belva di sofa yang bisa digunakan untuk duduk dua orang sedangkan Satya duduk di sofa single.


Keduanya sama-sama diam, Satya masih bingung harus memulai dari mana. Sedangkan Belva memilih diam karena sebenarnya malas berbicara dengan Satya yang hari ini membuat suasana hatinya menjadi buruk.


"Belva..." Panggil Satya, wanita itu tak bergeming.


Satya mengambil napas dalam tapi tak diperlihatkannya. "Belva, kenapa kamu harus menghindari saya ? Bersembunyi dari saya ? Berpura-pura tak mengenal saya ?"


"Itu bukan urusan anda Tuan."


"Kenapa ? Apa saya tidak boleh tahu akan keberadaan anak-anak saya ?"


Sesak... Dada wanita itu terasa sesak. Apa yang harus dikatakannya saat ini. Tapi ia harus menjadi wanita yang kuat, bukankah selama ini dirinya bisa melalui semuanya meski terkadang memendam perasaan lukanya sendirian.


Senyum miris dan sinis menjadi satu yang Belva keluarkan. "Anda bicara apa Tuan. Siapa yang anda maksud."


"Kaili dan Kaila mereka anak-anakku. Kenapa kamu mencoba menutupi nya."


"Saya tak menutupi apapun. Saya hanya ingin hidup tenang bersama anak-anak saya." Mata Belva sudah mulai berkaca-kaca.


"Jadi, silahkan... Anda keluar dari rumah saya. Saya tidak ingin kehadiran anda membuat keluarga saya tidak tenang."


Sudah kesekian kali Satya diusir oleh Belva. Baru pertama kali seorang Satya Balakosa diusir oleh orang lain.


"Baiklah saya akan pergi. Tapi Kaili akan bersama dengan saya."


Mata Belva membelalak. "Tidak bisa, apa maksud anda !! Dia bukan anak anda jadi anda tidak berhak membawa Kaili." Bentak Belva.


"Saya berhak. Saya Daddy nya, hasil tes DNA Kaila menunjukkan jika dia adalah putri saya. Jadi otomatis Kaili juga putra saya. Darah daging saya."


Belva menegang, bagaimana bisa Satya melakukan tes DNA itu. Yang dilihat Belva saat ini bukanlah sebuah penolakan seperti yang Sonia katakan waktu itu. Tapi justru Satya berniat mengambil anak-anaknya dari dirinya. Belva tidak bisa, mereka adalah separuh hidupnya. Susah payah bahagia dan kesusahan Belva tanggung sendiri sejak mereka berada dalam kandungan. Kini justru akan dirampas begitu saja.


Belva menggelengkan kepalanya. "Jangan !! Tolong jangan bawa Kaili. Kenapa kalian selalu mengganggu hidupku !! Kalian menghancurkan ku seenaknya. Apa maksud kalian huh ?!! Apa salahku pada kalian ?!!


Wanita itu histeris, berteriak dan menangis. Meluapkan segala keluh kesah yang selama ini dirasakannya. Ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama anak-anak nya, keluarga sedarah yang ia miliki saat ini.


Satya berpindah tempat duduk ke sofa yang Belva duduki. Pria itu tak tega melihat Belva histeris saat dirinya berkata akan membawa Kaili. Sejujurnya dirinya tak bermaksud seperti itu. Hanya kalimat spontan karena Belva terus mengusirnya.


"Belva tenang..." Satya meraih pundak Belva dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Pergi kamu !! Pergiii !! Jangan bawa anakku hiks... Hiks... Aku yang susah payah mengandung dan melahirkannya. Kalian tidak tahu bagaimana kehidupan kami. Kenapa kalian tega berbuat jahat padaku. Apa belum puas kalian menghancurkan hidupku !!" Belva memberontak dan memukul tubuh Satya secara sembarang bagian mana saja yang bisa diraih oleh tangannya.


Semakin erat Satya memeluk Belva, agar wanita itu lebih tenang Satya mengusap lembut punggung Belva.


"Maaf... Maafkan saya yang sudah membuat masa depanmu hancur. Maaf... Maaf Belva."


Belva masih terus menangis, mengingat betapa pilu dan sengsara dirinya dulu saat belum bersama Tuan Hector. Mulai dari diusir, difitnah, ditampar dan dicekik. Sebuah kesalahan yang sebenarnya bukan salahnya. Ia hanya dijebak oleh Alya yang sengaja ingin menghancurkannya. Hidup lontang-lantung di jalanan tanpa mengenal siapapun. Hingga mencoba bunuh diri sebagai pilihan terakhirnya. Tapi sayang, niat bunuh dirinya tak terkabulkan. Hanyut di sungai dan dirinya harus hidup di tengah hutan yang bisa dibilang tinggal di sebuah gubuk kecil tak layak huni, jauh dari desa, jauh dari fasilitas dalam keadaan hamil.


"Aku hanya ingin hidup bahagia dan tenang hiks... Tolong jangan ganggu aku jangan ganggu kami lagi hiks..."


Tangisan pilu Belva menandakan jika wanita itu sangat-sangat menderita selama ini. Satya teringat akan video yang pernah dilihatnya saat Sonia dan Alya menyeret Belva dan menuduhnya menjadi seorang pelakor. Hingga video perkelahian Sonia yang menyerang Belva. Iba yang kini Satya rasakan untuk Belva.

__ADS_1


"Saya tidak akan membawa Kaili. Kamu tenang... Kamu tenang Belva."


Saat Belva dan Satya tengah berpelukan, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Raut wajah kesedihan Belva membuatnya ikut merasakan kisah pilu itu.


Hingga akhirnya Satya sadar jika mereka ada yang memperhatikan. Orang itu terkejut, tapi Satya segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Tanda bahwa orang tersebut harus diam, orang itu mengangguk dan pergi dari tempatnya berdiri.


Belva masih terus menangis, dihadapan Satya yang ingin membawa Kaili. Ucapan Satya adalah suatu ancaman dan bahaya bagi Belva. Ia tak akan sanggup bila berpisah dari anak-anaknya. Apapun akan ia lakukan asalkan tak berpisah dengan Kaili dan Kaila.


Lama Belva menangis, hingga wanita itu kelelahan. Yaa... Ia kelelahan, beberapa hari menunggu Kaila di rumah sakit membuatnya tak bisa istirahat dengan cukup. Ditambah menangis membuatnya semakin terkuras energinya.


Satya masih mengusap lembut wanita yang malang, wanita yang mampu menarik hatinya, wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Sudah tenang lah saya tak akan membawa Kaili. Tapi tolong jangan menjauhkanku dari mereka. Mereka anak-anakku juga. Maaf sudah membuat mu dalam kesulitan." Ucap Satya lembut.


Pelukan yang sedari tadi tak mendapatkan balasan dari Belva itu, tapi Belva pun meski sempat memberontak tetap berada di pelukan Satya kini diurai oleh Satya. Terlihat jelas wajah sedih dan mata sembab Belva. Telapak tangan Satya yang besar itu menangkup wajah Belva, lalu jari jempolnya menghapus air mata wanita itu.


"Jangan menangis lagi." Ucap Satya.


"Jangan temui kami lagi." Ucap Belva lirih.


Satya memejamkan mata dan menghela napas. "Kamu menyuruh saya menjauhi anak-anak saya ? Belva... Please. Mereka juga darah daging saya, meski kamu yang mengandung dan melahirkannya tetap saja mereka berasal dari benih saya."


Belva memalingkan wajahnya yang sedih dan kacau itu tak ingin melihat Satya. Apa yang dikatakan Satya tidak salah sama sekali. Benar adanya jika Kaili dan Kaila adalah darah daging Satya. Jika kejadian kelam itu tak terjadi tentu tak ada anak kembar itu. Mungkin saat ini Belva belum memiliki anak sama sekali.


"Saya bertanggung jawab atas mereka, jadi tidak bisa jika saya harus menjauh dari mereka." Imbuh Satya.


"Tapi saya tidak membutuhkan tanggung jawab dari anda. Semua sudah berlalu, saya mampu menghidupi anak-anak saya sendiri tanpa anda." Ucap Belva. Kekhawatiran akan keselamatan Duo Kay adalah yang utama untuk Belva. Bukan sombong atau merasa sok bisa sendiri tapi semua demi anak kembarnya. Berulang kali dirinya hanya ingin hidup bahagia tanpa ada gangguan dari siapapun.


"Saya tahu kamu wanita mandiri, bisa mendidik mereka dengan baik. Tapi apa saya salah jika mau bertanggung jawab pada mereka. Apa karena sudah ada Roichi jadi saya sebagai ayah kandungnya tak dibutuhkan lagi ?"


Deg...!!! Kalimat yang menyakitkan untuk Belva. Bukan dirinya yang tak butuh tentu anak-anaknya yang lebih butuh. Hanya keadaan yang membuatnya harus mengambil sikap.


"Kamu bahkan menyembunyikan mereka dari saya. Bagaimana bisa saya mengetahui jika saya punya mereka. Kejadian lima tahun yang lalu, saya benar-benar tidak tahu jika itu terjadi. Maafkan saya Belva saya tidak sadar saat itu."


"Maaf Tuan... Saya lelah. Silahkan anda pulang. Terima kasih sudah mengantar." Belva berlalu dengan langkah lemas. Dirinya tak siap membahas hal itu. Hatinya masih merasa sakit atas kejadian itu. Meski ia pun tahu saat itu Satya pun dalam keadaan tak sadar.


Satya membiarkan Belva masuk ke dalam kamarnya. Pria itu tak lagi memaksa, melihat Belva begitu histeris tadi membuatnya yakin jika Belva sangat menyayangi Duo Kay. Kalimatnya yang tak sengaja keluar dari bibirnya mampu membuat Belva menjadi kacau seperti itu. Belva yang semula terlihat kuat dengan sikap ketusnya akhirnya runtuh dengan nama Duo Kay. Satya memberikan waktu pada Belva agar mau menerima dirinya yang bersedia bertanggung jawab atas Duo Kay.


Disandarkan tubuhnya di sandaran sofa, akhir-akhir ini banyak hal yang menguras energinya melebihi saat dirinya berpikir keras untuk mencari ide baru dalam pekerjaannya.


Satya beranjak dari ruang keluarga dan berniat masuk ke dalam kamar Kaili untuk mengambil jasnya. Seseorang sudah menemani Kaili di dalam kamar bocah kecil itu. Saat Belva berteriak histeris Kaili sempat keluar tapi digiring masuk kembali oleh orang tersebut.


"Tuan... Apa yang terjadi tadi ?"


"Bi Imah..." Panggil Satya.


Orang yang melihat Satya dan Belva berpelukan adalah Budhe Rohimah. Wanita paruh baya itu tiba-tiba memutuskan pulang saat mendapatkan kabar dari Bella jika Kaila mengalami kecelakaan.


"Opmud... Kenapa Mami teriak-teriak dan menangis ?" Tanya Kaili.


"Ah... Tadi... Tidak apa-apa, Mami hanya ketakutan saja, ada ular di dapur." Jawab Satya berbohong.


"Hah ? Lalu dimana ularnya ?"


"Sudah Opmud usir. Boleh Opmud pinjam Bi Imah ?" Tanya Satya.


"Uti Imah ?" Tanya Kaili memastikan.


"Iya Uti Imah."


"Boleh." Jawab Kaili.


"Bi... Saya ingin bicara."


"I-iiya Tuan. Mari kita di ruang tamu saja." Ujar Budhe Rohimah.


Sebelum keluar Satya mengambil jasnya. Diusapnya kepala Kaili dengan lembut lalu keluar kamar bocah kecil itu. Menyusul Budhe Rohimah yang sudah duduk terlebih dahulu di sofa ruang tamu.


Wajah Budhe Rohimah terlihat sedikit tegang. Akhirnya mantan majikannya itu bisa menemukan mereka di rumah minimalis itu. Entah sejak kapan Satya menemukan Belva, budhe Rohimah masih saja terus bertanya pada dirinya sendiri. Selama ini dirinyalah yang berusaha membantu Belva untuk bersembunyi dari orang-orang masa lalu Belva.


"Tuan bagaimana kabarnya ?" Tanya Budhe Rohimah basa-basi.


"Bi Imah lihat sendiri saya bagaimana saat ini." Jawab Satya dengan santai tapi tetap terasa dingin dan datar.


Budhe Rohimah mengangguk kecil. Ia diam bingung harus mengeluarkan pertanyaan atau pernyataan seperti apa. Tadi ia sudah melihat apa yang terjadi pada Belva dan Satya.


Melihat Budhe Rohimah yang memilih diam, Satya membuka suaranya. Banyak hal yang ingin Satya tanyakan pada mantan asisten rumah tangga kepercayaannya itu.


"Bi Imah..."


"Ya Tuan."


"Bi Imah sudah melihat saya tadi. Bi Imah selama ini menyembunyikan dari saya ?"


"Saya sudah tahu semuanya, saya hanya ingin bertanya dengan Bi Imah. Apa yang terjadi kenapa Alya yang menjebak Belva hingga terjadi sesuatu lima tahun yang lalu ?" Tanya Satya pada Budhe Rohimah.


"Tuan maafkan saya. Semua saya lakukan untuk kebaik keponakan saya."


"Saya tidak sanggup melihat Belva dalam keadaan yang menyedihkan. Dia hanya punya saya waktu itu, tidak memiliki keluarga lagi selain saya. Saya hanya ingin melindungi nya Tuan." Budhe Rohimah tak bisa membendung tangisannya. Wanita tua itu terlalu menyayangi Belva yang sudah menjadi anak yatim piatu akibat bencana longsor.


"Ceritakan padaku semuanya Bi. Agar saya tahu apa yang harus saya lakukan. Kaila dan Kaili anak-anak saya, tapi saya baru tahun beberapa hari ini. Budhe Rohimah tahu sendiri bagaimana saya."


Sifat dan sikap Satya, Budhe Rohimah sudah sangat memahaminya. Satya orang yang dingin, datar dan sedikit arogan. Tapi pria itu juga seorang yang pekerja keras dan bertanggung jawab.


"Saya tahu Tuan. Tapi, kami hanyalah orang biasa tak sebanding dengan Anda. Belva, dia gadis yang baik dan polos. Tapi Nona Alya dengan tega menjebak Belva dengan memberikan minuman yang diberikan obat oleh Non Alya. Awalnya niat Non Alya ingin menjebak Belva bersama Paijo sopir tetangga rumah Tuan. Tapi entah bagaimana ceritanya Non Alya pun tidak tahu jika ternyata justru anda yang terjebak bersama Belva." Air mata Budhe Rohimah bercucuran mengenang kejahatan yang dilakukan Alya pada Belva. Fakta yang ditemukan Budhe Rohimah setelah beberapa minggu Belva diusir dan ditemukan jejak bunuh diri Belva.


"Istri dan putri anda memperlakukan Belva dengan sangat jahat seolah-olah keponakan saya lah yang salah. Padahal dia hanya dijebak. Nyonya Sonia dan Non Alya berusaha menyingkirkan Belva karena mereka tahu jika Belva sudah mengandung anak anda. Bahkan mungkin sampai sekarang mereka terus mengincar Belva dan si kembar. Maka dari itu saya terpaksa harus menyembunyikan keberadaan keponakan saya dan cucu-cucu saya demi keselamatan mereka."


Beberapa kali Budhe Rohimah, menyeka air matanya yang terus saja mengalir saat bercerita pada Satya. Wanita paruh baya itu benar-benar ikut merasakan bagaimana penderitaan Belva. Dirinya seorang perempuan membayangkan bagaimana hidup Belva yang harus bertahan hidup dalam keadaan hamil tanpa seorang suami.


"Apa karena itu Belva juga menolak keberadaan saya sebagai ayah kandung si kembar ?" Tanya Satya.


"Belva hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama si kembar. Dengan menghindari Tuan maka itu akan lebih aman untuknya. Istri dan putri anda tidak akan mengganggu Belva dan si kembar. Nyonya Sonia dan Non Alya takut jika anda mengetahui semuanya."


"Selama ini hidupnya sudah sangat menderita Tuan. Dia harus bertahan hidup dalam keadaan hamil di tempat terpencil jauh dari desa pun pernah dia lalui. Jadi tolong, saya mohon menjauhlah dari keponakan saya. Agar istri dan putri anda tidak terus mengincar Belva."


Budhe Rohimah berucap panjang lebar agar Satya tahu bagaimana penderitaan Belva. Agar pria itu bisa berpikir untuk tak mendekati Belva. Sudah cukup penderitaan yang Belva alami selama ini.


Satya mendengar dengan jelas meski Budhe Rohimah bercerita sembari menangis terisak. Hatinya merasa sedih dan merasa bersalah. "Se-menderita itu kah kamu ?" Batin Satya.


Tekadnya semakin kuat untuk bertanggung jawab pada Belva dan juga Duo Kay. Semua kehidupan menderita yang Belva alami itu juga dirinya turut menyumbangkannya. Meski Satya juga tak bersalah seratus persen dalam kejadian ini. Jika saja dulu Satya mengetahui jika Belva mengandung anaknya mungkin saja dirinya akan bertanggung jawab meski tetap sama Sonia tidak akan menerima itu.


Bersyukur saat sebelum mengetahui keberadaan Duo Kay Satya sudah lebih dulu menggugat cerai Sonia atas kesalahan wanita itu sendiri. Jadi, saat ini dirinya bisa sebebas mungkin untuk bertanggung jawab pada Belva dan Duo Kay tanpa memikirkan perasaan dan sikap Sonia maupun Alya.


"Tapi sudah ada Roichi yang mendampinginya. Apakah dia juga mengetahui jika Kaili dan Kaili adalah anak-anakku ?" Tanya Satya pada dirinya sendiri dalam hati.


Satu hal yang membuatnya harus menahan diri lagi untuk mendekati Belva dan Duo Kay. Mungkin jika dirinya bertanggung jawab pada Duo Kay itu masih wajar. Mereka adalah anak-anaknya berbeda lagi dengan Belva yang sudah menjadi tanggung jawab Roichi sebagai suami wanita itu.


Satya memang bertekad bertanggung jawab pada Duo Kay saja yang paling utama. Untuk Belva dirinya mungkin akan sedikit membantu hanya karena wanita itulah ibu dari anak-anaknya. Meski dirinya memiliki ketertarikan pada Belva tapi dirinya juga masih sadar jika wanita yang disukainya telah bersuami. Tak mungkin jika dirinya merebut istri orang lain terlebih rekan kerjanya.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya.


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2