Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 129. Sarita


__ADS_3

"Sarita!!" Bentak Satya pada wanita cantik dan seksi itu.


Perempuan itu bernama Sarita yang memang sudah menginginkan Satya sejak dulu. Ketampanan pria berbuntut dua itu tak pernah tertelan waktu meski sudah mencapai kepala empat. Sarita masih saja mengejarnya dan selalu sigap mengambil kesempatan mendekati pria yang mampu membuat hatinya jatuh cinta.


Bentakan Satya membuat Sarita dan Belva menatap pria itu. Satya tampak kesal dan marah saat Sarita membentak Belva. Dia tidak pernah rela ada orang lain yang menyakiti dan berusaha merendahkan istrinya.


"Sayang, ini... Ini tidak sama seperti yang kamu lihat. Tadi..." Ucapan Satya terpotong oleh pertanyaan dari Sarita.


"Sayang? Kamu memanggil gadis ini sayang? Tunggu apa maksud kamu dia sugar baby mu atau dia putri mu?"


"Sarita!!! Jaga ucapanmu dia bukan sugar baby saya!" Satya semakin emosi kala Sarita mengatakan jika Belva adalah sugar baby nya.


Sarita sedikit ternganga ia paham maksud Satya. Ia yang tadi bersikap kasar dan ketus tiba-tiba berubah manis dan lembut.


"Ah maaf jadi kamu putri dari Tuan Satya? Maafkan Tante, sayang. Harusnya kamu ketuk pintu dulu agar tidak mengganggu urusan orang dewasa." Ucap Sarita tanpa tahu jika Belva adalah istri Satya.


Belva langsung mengangkat satu alisnya, ia merasa kesal, emosi, kecewa semua campur aduk. Tapi ia sangat berusaha keras untuk tak menangis meraung atas apa yang suaminya lakukan. Belva tidak ingin terlihat lemah yang akan membuat dirinya diperlakukan semena-mena oleh orang lain lagi.


Satya tak menyangka jika reaksi Sarita akan berlebihan seperti itu saat mengira Belva adalah putrinya. Sarita mendekati Belva untuk memeluk Belva tapi rentangan tangan itu di tepis oleh Belva.


"Apakah urusan kalian sangat penting hingga aku harus mengetuk pintu? Kenapa tidak di kunci saja pintunya atau lebih aman lagi sewa hotel." Ucap Belva dingin.


Deg!!!


Jantung Satya berdegup tak karuan, sudah yakin pasti Belva kini tengah marah atas tindakan tak pantas yang terjadi di ruangannya tadi.


"Sayang, itu tidak seperti yang kamu lihat." Bantah Satya.


"Satya, memang seharusnya kita tadi ke hotel saja. Putri mu sangat pintar sekali mengerti permasalahan orang dewasa."


"Diam kamu Sarita!!" Bentak Satya. Dia merasa Sarita semakin memperkeruh suasana.


Sarita kembali terkejut, ia merasa kesal kenapa Satya begitu marah. Padahal putrinya sangat memahami mereka.


"Tidak seperti yang aku lihat? Lalu yang aku lihat baru saja itu seperti apa?" Tanya Belva.


"Ini salah paham, sayang. Kamu tidak mengerti yang sebenarnya." Ujar Satya.


"Ya aku tidak mengerti apakah ini bagian dari sebuah pekerjaan di kantor besar seperti ini. Kalian ada hubungan lebih dari sebatas rekan kerja bukan?" Ucap Belva.


"Kamu memang cerdas, sayang. Satya kamu beruntung punya putri secantik dan secerdas dia." Ucap Sarita kembali. Wanita itu benar-benar mulutnya tidak bisa diam. Semakin membuat keadaan lebih memanas.


"Dan anda Tante... Apakah anda tidak memiliki etika melakukan hal tak sepantasnya di tempat seperti ini?"


"Apa maksud kamu?" Tanya Sarita.


"Apa kalian tidak sadar ini adalah kantor tempat untuk bekerja. Bukan tempat untuk saling memuaskan diri." Ujar Belva dengan penuh sindiran untuk kedua orang yang terpergok tadi.


"Jika anda wanita baik-baik dan terhormat setidaknya anda memiliki pikiran untuk melakukannya di tempat yang bersifat privasi. Tapi aku rasa Tante seperti sudah biasa melakukannya dimana saja benar begitu kan Tante?" Ucap Belva menohok dan tajam. Kalimat yang terlontar dari bibir bervolume itu langsung dapat menyinggung hati Sarita.


Sarita yang sudah bersikap manis pada Belva kini ia merasa sangat kesal dan sakit hati. Dikenalkannya tangan miliknya hingga otot urat tangan itu tercetak menonjol.


"Kamu tidak sopan sekali berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua." Ujar Sarita.


"Jangan berkata bahwa aku tidak sopan jika anda sendiri saja bersikap tidak sopan di kantor dimana tempat yang layak untuk bekerja."


Belva melihat pergelangan tangannya dilihatnya waktu semakin berjalan dan waktu makan siang semakin habis. Ia membuang waktu untuk menyaksikan hal yang paling menyakitkan. Ia mengambil paper bag yang sempat terjatuh.


Belva tersenyum sinis dan miris. "Aku membuang waktu untuk hal tak berguna seperti ini. Permisi silahkan lanjutkan kegiatan orang dewasa yang kalian maksud. Saranku kunci pintu atau sewa hotel saja."


Belva berbalik hendak meraih handel pintu tapi Satya dengan cepat bergerak maju menahan istrinya.


"Sayang, tunggu jangan pergi." Satya meraih lengan istrinya.


"Lepas." Ujar Belva dengan nada rendah dan dingin.


"Tidak, kamu tetap disini." Ucap Satya tetap menahan.

__ADS_1


"Untuk apa? Melihat kalian memuaskan diri di dalam ruangan ini?" Ujar Belva menusuk hati Satya.


"Satya, biarkan putrimu pergi. Aku ingin berbicara berdua denganmu." Ujar Sarita.


"Dengar? Biarkan PU-TRI mu pergi. Lepas."


Belva menekankan pada kata putri pada Satya. Pria itu semakin geram, ia mencekal lengan Belva semakin kencang. Tubuhnya berbalik menghadap ke aarah Sarita tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Belva.


"Sarita, mulutmu memang tak pernah punya sopan santun. Pergi dari ruangan ku." Usir Satya dengan nada dingin.


Sarita mendelik tak terima diusir oleh Satya.


"Kamu mengusirku hanya demi putrimu? Cih... Kamu takut pada putrimu Satya?"


"Dia bukan putri saya dan bukan sugar baby saya. Dia adalah istri saya." Ucap Satya tegas dan mantap.


"Hahaha... Apa aku tidak salah dengar? Jangan berbohong kamu Satya."


Sarita tak percaya pada apa yang Satya katakan, setahunya Satya sudah bercerai dengan mantan istrinya dan memiliki anak yang sudah besar yang diperkirakan seusia Belva.


"Terserah yang jelas dia adalah istri saya. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah datang lagi di kantor ini."


"Aku tidak percaya, apa buktinya jika dia adalah istri mu. Aku tahu Satya kamu sudah bercerai belum lama ini."


"Kamu mau bukti?" Tanya Satya dengan nada serius dan dingin.


Satya menarik lengan Belva dan mencium istrinya, melu*mat bibir manis milik istrinya. Belva terkejut dengan sikap Satya yang spontan paper bag yang ada di genggamannya kembali terjatuh. Tangan Belva mendorong tubuh Satya tapi pria itu justru raih punggung dan tengkuk istrinya agar semakin rapat dengannya.


Sarita jelas sekali membulatkan matanya melihat Satya mencium gadis cantik yang ia kira adalah putri Satya. Sarita berjalan menghampiri Satya dan Belva lalu menarik bahu Satya dengan kuat agar pria itu terlepas dari memeluk Belva.


"Satya!! Apa yang kamu lakukan!!" Ucap Sarita.


Pelukan Satya pada Belva terlepas secara paksa. Pria itu menatap tajam pada Sarita.


"Kenapa? Kamu mau bukti kan? Atau kamu mau melihat yang lebih dari ini?" Ucap Satya penuh penekanan.


"Apa maksud kamu, Satya?" Tanya Sarita.


"Apa perlu dihadapan mu, kami melakukannya?" Ujar Satya kembali.


"Mas!!!" Pekik Belva yang merasa tak nyaman dengan ucapan Satya.


Satya dan Sarita menatap Belva sekilas. Sarita tak menyangka jika perempuan muda yang ada dihadapannya itu adalah istri Satya, ia masih tak percaya akan hal itu.


"Sekarang kamu keluar dari ruangan saya dan jangan pernah datang lagi ke tempat ini." Usir Satya.


Belva menatap tajam pada Sarita, ia tak suka melihat wanita berpakaian seksi itu yang nyaris seperti hanya memakai pakaian dalam saja.


"Cepat!!! Tunggu apa lagi huh!!" Bentak Satya pada Sarita. Belva pun ikut terkejut dengan bentakan itu.


Dengan kesal Sarita merampas tas mahalnya yang ada di atas sofa lalu pergi keluar dari ruangan Satya. Kini tinggal hanya ada Satya dan Belva, wanita itu masih merasa kesal dan emosi dengan suaminya.


"Sayang." Panggil Satya ia mendekat ke arah Belva.


Tapi sayang Belva mendorong tubuh Satya dengan kuat hingga suaminya itu mundur ke belakang. Belva kesal melihat suaminya tengah berciuman dengan wanita lain lalu tak berselang lama bibir yang terkontaminasi menyambar bibir nya.


Belva berlari keluar ruangan Satya, ia tak ingin melihat suaminya saat ini. Rasa hatinya masih kesal, kecewa, sedih dan emosi menjadi satu. Satya memanggil Belva tapi tak dihiraukan, bahkan mengejar istrinya hingga keluar ruangan.


Grace yang duduk di kursinya cukup merasa bingung karena sedari tadi semua orang yang keluar dari ruangan bos-nya memperlihatkan wajah yang tak menyenangkan. Ia tak tahu jika ada keributan di dalam ruangan Satya karena ruangan Satya memiliki peredam suara.


Ia hanya melihat bos-nya itu berlari ke luar menyusul perempuan cantik yang masih muda tadi yang sempat masuk dengan ijin membawakan makanan pesanan Satya.


Semua mata tertuju pada Satya yang berjalan dengan langkah lebar dan terburu-buru. Keduanya diam tak berbicara, Satya tak ingin masalahnya diketahui oleh banyak orang dan menjadi konsumsi publik. Dirinya masih memikirkan harga diri sebagai seorang pimpinan perusahaan. Belva juga diam saja tak membuka suara, ia pun turut menjaga harga diri suaminya di depan banyak orang dengan tidak bersikap urakan.


Sampai di parkiran Belva masuk ke dalam mobil yang dikendarai nya sendiri. Mobil baru dari satya karena mobil miliknya sendiri diserahkan pada Bella. Satya ikut masuk ke dalam mobil milik istrinya dengan raut wajah yang penuh beban masalah.


"Yank, dengar. Semua yang kamu lihat itu salah paham."

__ADS_1


"Lalu pemahaman yang benar dari pemandangan tadi adalah kamu berciuman mesra dengan wanita itu bahkan terlalu menikmati hingga suara ketukan pintu pun tak terdengar, begitu?" Ucap Belva menatap marah pada suaminya.


"Bukan seperti itu, sayang. Mas dengar suara ketukan pintu itu tapi dia memaksa mas." Ucap Satya.


"Bagaimana cara dia memaksa hingga duduk dipangkuan mu, berpelukan, berciuman seperti itu dan kamu..." Belva menunjuk dada Satya dengan satu jari telunjuk nya.


"Bahkan kamu, tanganmu dengan enteng merayap di paha wanita itu. Cih... Begitu ketahuan bisa-bisa nya mengatakan ini hanya salah paham."


Satya memejamkan matanya, ia merasa sangat bersalah dan merasa bodoh. Helaan napas dalam terdengar dari Satya. Baru saja merasakan indahnya berumah tangga tapi di luar dugaan rumah tangga yang belum genap satu bulan itu sudah diguncang permasalahan orang ketiga.


"Sayang, tolong dengarkan penjelasan, mas. Mas tidak berbohong padamu."


"Aku harus kembali ke butik."


"Sayang."


"Waktu makan siang sudah habis, kembalilah bekerja. Aku harus bertemu dengan klien ku." Ujar Belva menatap lurus ke depan.


"Mam, kita harus selesaikan permasalahan ini dulu. Daddy tidak bisa bekerja kalau seperti ini."


Satya mencoba memeluk Belva tapi sayang Belva melepaskan pelukannya.


"Mas, kamu keluar atau aku yang keluar." Belva tak menanggapi ucapan suaminya.


Satya tetap diam menatap istrinya. Hatinya gusar, dia tak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi. Dia tak mau pernikahannya gagal lagi hingga menjadi pernikahan yang kesekian baginya.


"Oke biar aku yang keluar." Belva hendak membuka pintu mobil.


"No, sayang. Oke mas yang keluar. Tapi mas akan turun saat sopir kantor datang. Mas tidak mau kamu pergi dengan keadaan seperti ini."


"Tidak perlu aku bisa sendiri." Tolak Belva.


Keberuntungan bagi Satya, sopir kantor nya melintas di parkiran. Dengan cepat Satya membuka pintu mobil dan memanggil pria paruh baya itu. Mendekati sang bos dengan patuh atas panggilan yang didengarnya.


"Ada apa, Tuan?" Tanya sopir itu.


"Antarkan Nyonya ke butik. Dia sedang tidak baik-baik saja untuk menyetir sendiri." Ujar Satya.


"Baik Tuan. Saya akan antar Nyonya."


Meski tidak tahu dengan jelas Nyonya yang dimaksud Satya itu ada hubungan apa dengan bos-nya tapi pria paruh baya itu tetap melaksanakan tugasnya.


Pintu kaca kembali ditutup oleh Satya setelah memberikan perintah pada sopir kantor. Satya turun dari mobil istrinya, berjalan memutari mob dan membukakan pintu mobil kemudi.


"Turun yank. Biar sopir yang bawa." Titah Satya pada istrinya.


Belva mendengus kesal, ia melihat suaminya sudah berdiri dengan pintunya yang terbuka. Mau tak mau Belva turun dari mobil, ia tidak mau berdebat ataupun bertengkar dihadapan karyawan suaminya.


Satya lalu membukakan pintu mobil belakang untuk istrinya. Sebelum Belva masuk Satya hendak mencium kening sang istri tapi Belva malah melengos begitu saja masuk ke dalam mobil. Satya menghela napas, pasrah akan kemarahan sang istri.


"Kita bicarakan nanti di rumah, tunggu Daddy pulang. Mami hati-hati di jalan." Ucap Satya saat membungkukkan badannya untuk mengatakan hal itu pada istrinya.


Belva hanya diam tak menjawab apapun. Sekuat tenaga ia menahan emosi nya agar tak mencuat hingga lepas kendali berteriak-teriak yang akan menjadi pusat perhatian banyak orang.


Sopir yang akan mengantar Belva datang setelah menyelesaikan tugas sebelumnya. Satya menutup pintu mobil istrinya dan membiarkan sopir kantor mengantar istrinya.


"Hati-hati pak, ingat antar sampai butik. Jangan ke lain tempat." Pesan Satya sebelum mobil melaju.


"Siap Tuan. Saya permisi dulu antar Nyonya."


Satya mengangguk, mobil perlahan melaju meninggalkan area parkir kantor. Satya menatap kepergian mobil istrinya. Hatinya merasa tak tenang saat ini, helaan napas berat kembali dilakukan oleh Satya. Dia meraup wajahnya berharap nanti permasalahannya dengan sang istri bisa segera selesai saat mereka kembali pulang ke rumah mereka.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang

__ADS_1


Maaf malam banget dan cuma sedikit banget part nya.


Tetap terima kasih banyak atas support kalian sampai saat ini. Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Sehat selalu buat kalian 🤗🙏🙏


__ADS_2