
Perasaan Belva dan juga pikirannya kini tak tenang. Bayangan pemandangan yang benar-benar nyata ia lihat masih saja terbayang jelas dalam ingatannya. Selama dalam perjalanan ia duduk diam di dalam kursi penumpang mobil. Ia merenung bagaimana bisa Satya melakukan hal yang sangat tam pantas itu di kantor bersama perempuan lain.
Sopir kantor yang Satya utus untuk mengantar Belva kini sudah berhenti tepat di depan butik milik Belva. Pria paruh baya itu turun membukakan pintu mobil untuk Nyonya yang jadi penumpang nya. Dia masih tidak mengetahui jika Belva adalah istri dari bos-nya. Pernikahan Satya dan Belva masih belum banyak diketahui oleh orang lain. Hanya beberapa orang penting saja dan keluarga inti mereka saja.
"Mari Nyonya silahkan turun."
"Terima kasih, Pak."
Belva turun dari mobilnya. Sebelum masuk ia memperhatikan sopir kantor suaminya.
"Bapak bagaimana pulangnya?" Tanya Belva.
"Saya bisa naik taksi, Nyonya."
Pria paruh baya itu bersiap memberikan kunci mobil pada Belva tapi ponselnya berbunyi. Menatap layar ponsel ternyata panggilan dari nomor yang bisa dipastikannya itu adalah nomor telepon rumah atau kantor. Ternyata benar itu adalah nomor kantor Satya dan secara langsung pimpinan perusahaan Bala Corp itu yang menelpon secara langsung dan mengatakan bahwa dia bisa pulang kembali ke kantor dengan membawa mobil milik istrinya. Tentu sebagai seorang karyawan hanya bisa patuh atas perintah bos-nya.
"Maaf Nyonya, Tuan Satya baru saja menghubungi saya untuk kembali ke kantor dengan membawa mobil ini."
Kening Belva mengerut, apa maksud suaminya membiarkan sopir kantor nya membawa mobil yang biasa dipakainya sejak menikah dengan Satya. Tapi Belva tak mau ambil pusing, kepalanya sudah cukup pusing dengan kelakuan Satya tadi. Ia membiarkan sopir itu pergi dengan mobilnya dan masuk ke dalam butik.
"Ya. Hati-hati Pak." Ujar Belva lalu berlalu masuk.
Setiap sapaan karyawan nya hanya dibalas dengan anggukan dan senyum kecil saja. Ia tak ingin mengecewakan karyawan yang telah bekerja dengan baik hanya karena masalahnya pribadi.
Belva masuk ke dalam ruangannya sendiri. Ia tampak kembali duduk termenung di kursi sofa ruangannya. Dipejamkan matanya dengan erat dan menghela napas dalam-dalam. Tak habis pikir, ia kira Satya sosok pria yang setia tapi nyatanya pria itu juga bermain perempuan. Ia merenung apa yang menjadi kekurangannya hingga Satya tega dan berani bermain perempuan di belakangnya.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu terdengar dan membuyarkan fokus Belva pada suaminya. Ia berdiri lalu membuka pintu tersebut.
"Bella, ada apa?"
"Nona, ada yang mencari anda."
"Siapa?"
"Nona Azura. Dia berada di ruangan saya."
"Ah iya, aku akan segera kesana tunggu sebentar."
"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Bella karena melihat wajah Belva yang tidak seperti biasanya. Lebih lesu dan tampak berbeban.
Belva tersenyum kecil. "Tidak, aku hanya sedikit tidak enak badan. Tunggulah sebentar lagi aku ke ruangan mu."
"Apa sebaiknya anda ingin beristirahat, biar saya sampaikan pada Nona Azura."
"Tidak. Jangan. Biar saja aku akan menemuinya, kasihan dia sudah jauh-jauh datang ke sini. Tunggulah sebentar lagi aku akan ke ruangan mu."
Bella mengangguk. "Baiklah saya permisi, Nona."
Belva tak ingin mengecewakan kliennya, Nona Azura adalah putri dari Nyonya Dimitri yang paling dekat dan royal sebagai kliennya. Ia tidak akan membiarkan Nona Azura datang dan pergi dengan sia-sia.
Belva menutup pintu setelah Bella pergi, ia lantas mencuci muka dan membenarkan tatanan make up nya yang sangat sederhana dan tipis.
Ia sudah kembali terlihat segar dan mencoba mengalihkan fokus nya untuk pekerjaan saja. Kedatangan Nona Azura mau tak mau membuatnya harus bisa fokus. Belva mendatangi ruangan Bella yang dimana sudah ada Nona Azura menunggu disana.
Belva memberikan senyuman ramahnya seperti biasa pada setiap kliennya saat bertemu dengan Nona Azura.
"Selama siang, Nona." Sapa Belva.
"Nona Vanthe, selamat siang."
Mereka berjabat tangan dan cipika cipiki.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Nona."
"Tidak masalah, Nona Vanthe."
Sebelumnya mereka berbicara basa-basi lalu percakapan serius mengenai pekerjaan mereka pun dimulai. Pembahasan mengenai pembuatan gaun pernikahan Nona Azura yang sudah hampir siap ternyata bisa selesai lebih cepat.
Ketiga wanita muda dan cantik itu lalu pergi ke bagian produksi di butik Belva yang terletak dibagian belakang. Nona Azura ingin melihat secara langsung gaun miliknya.
"Wah sudah ini cantik sekali, Nona." Ujar Nona Azura saat melihat gaun yang belum seratus persen jadi itu.
"Ya gaun milikmu memang cantik terlebih saat nanti anda memakainya pasti baik gaun dan pemakai nya akan terlihat lebih cantik." Ujar Belva tersenyum.
"Aku tidak sabar untuk mencobanya. Kapan ini akan selesai?"
"Beberapa minggu lagi sudah bisa selesai ini hanya kurang sedikit saja. Apa anda akan lebih lama di Indonesia?" Tanya Belva.
"Baiklah aku akan menunggu disini saja sekalian aku masih ingin jalan-jalan di negara ini. Nanti calon suami ku juga akan datang menyusul."
"Kami sangat senang mendengarnya, jika anda butuh bantuan kami saat berada di Indonesia, kami akan dengan senang hati membantu mu, Nona." Ujar Bella.
"Tentu, aku belum hafal tempat ini kalian lah yang paling aku kenal." Ucap Azura.
Mereka kembali berbincang asik serta serius masalah pekerjaan dan beberapa hal yang lain. Rupanya Nona Azura pun tertarik untuk membuka sebuah usaha dibidang fashion, ia berencana untuk mengajak Belva untuk bekerjasama membuka sebuah brand baru kolaborasi antara mereka. Belva pun menyambut dengan baik ajakan Nona Azura mereka akan membicarakan hal itu lebih lanjut lagi di kemudian hari.
Pertemuan Belva dengan Nona Azura rupanya mampu mengalihkan perhatiannya dari permasalahan rumah tangga yang sedang dihadapinya. Selesai dengan pertemuannya bersama Nona Azura kini Belva melanjutkan kegiatannya mendampingi Duo Kay yang sudah kembali memiliki jadwal pemotretan. Belva rasa jadwal pemotretan kedua anaknya itu tak mengganggu waktu belajar serta waktu luang Kaili dan juga Kaila.
"Bella, aku harus pergi ini sudah jam tiga, Kaila dan Kaili hari ini ada pemotretan kembali." Ujar Belva pada Bella saat sebelum pergi dari ruangan Bella.
"Baiklah, Nona. Anda ingin pulang sekarang?" Tanya Bella.
"Iya, aku akan menjemput mereka di rumah Mama. Jangan lupa nanti ikut antar ke bandara. Tidak lupakan apa yang tadi aku katakan."
Bella menghela napas, sejujurnya ia masih tidak rela untuk ikut mengantar ke bandara nanti malam.
"Tentu, aku pasti ingat." Ujar Bella.
"Ya sudah aku pergi dulu." Pamit Belva dan Bella hanya mengangguk saja.
Belva kembali ke ruangannya, ia bersiap untuk pergi meninggalkan butik menuju rumah Mamanya. Mengingat tidak ada mobil lantas ia memesan taksi online.
__ADS_1
Sampai di rumah Mamanya, Belva langsung masuk ke dalam rumah. Beberapa asisten rumah tangga menyapa dirinya dengan ramah.
"Sayang, kamu sudah datang?" Tanya Nyonya Hector.
"Ma, sudah. Mana anak-anak?" Tanya Belva. Ia memeluk dan mencium punggung tangan serta kedua pipi Mamanya.
"Di kamar mereka, sedang bersiap-siap. Benarkah cucuku akan melakukan pemotretan?"
"Iya, Ma. Mama mau ikut untuk melihat mereka? Sebelum Mama berangkat nanti malam."
"Baiklah, Mama siap-siap dulu. Mama sangat ingin melihat mereka berpose di depan kamera seperti apa."
Nyonya Hector tampak sangat antusias sekali. Sejak awal mendapatkan berita bahwa kedua cucunya mendapatkan tawaran menjadi model cilik, Nyonya Hector sangat antusias dan senang.
Mereka bersiap dengan segera karena waktu terus berjalan. Tak ingin waktu pemotretan molor hingga membuat Duo Kay akan selesai lebih lama dan kelelahan. Mereka pergi dengan mobil Nyonya Hector yang tentu akan diantar oleh sopir keluarga Hector. Wanita paruh baya itu tidak membiarkan Belva menyetir sendiri.
"Aku bisa menyetir sendiri loh, Ma."
"Tidak, untuk apa Papa mu membayar mahal sopir yang ada di rumah jika mereka tidak bekerja."
Belva hanya pasrah saja jika Mamanya sudah seperti itu. Ia tak ingin berdebat dengan Mamanya hanya karena masalah kecil seperti ini.
Sampai lokasi yang digunakan oleh pihak Ivalloth mereka turun dengan dibukakan pintu oleh sopir keluarga Hector. Lokasi mereka adalah di sebuah cafe yang menawarkan seni interior sangat indah. Cafe yang bertema tradisional itu akan dijadikan tempat pemotretan untuk produk pakaian Ivalloth yang bertema modern namun masih di padukan dengan bahan sejenis kain tradisional.
"Mami, boleh makan es krim dulu?" Tanya Kaila yang melihat foto menu makanan di banner yang terpasang dekat meja kasir. Menu baru yang sedang promo di cafe tersebut.
"No, sayang. Kalian akan melakukan pemotretan jadi harus rapi. Nanti setelah selesai baru boleh." Ucap Belva.
Kaili hanya cuek-cuek saja berjalan dengan digandeng oleh Oma nya. Kaili berjalan digandeng oleh Maminya.
Nona Ivanka Elizabeth sudah menunggu kedatangan mereka. Wanita itu terlihat paling senang jika jadwal pemotretan dilakukan oleh Duo Kay entah diantara banyaknya model-model Ivalloth, Ivanka merasa sangat senang jika Duo Kay yang melakukan pemotretan.
"Hallo sayang. Kalian sudah datang." Sambut Ivanka dengan ramah.
"Hai aunty." Sapa Kaila dengan senyum cerianya dan lambaian tangan kecilnya.
"Hai aunty." Sapa Kaili tapi masih terlihat sifat cuek bocah pria kecil itu.
Kedua bocah itu membuat Ivanka tersenyum.
"Hai Nona Belva." Sapa Ivanka memeluk dan cipika cipiki dengan Belva.
Ivanka melihat satu wanita paruh baya yang datang bersama Belva dan Duo Kay sedari tadi dirinya penasaran karena merasa tak asing dengan wanita paruh baya itu. Belva tahu jika Ivanka melirik ke arah Mamanya.
"Nona, perkenalkan ini Mama saya." Ujar Belva.
"Ah iya... Tapi mohon maaf saya seperti tidak asing melihat anda Nyonya." Dalam pikiran Ivanka sudah menebak satu nama.
"Benarkah? Perkenalkan saya Zeta Hector." Ujar Nyonya Hector.
Ivanka membulatkan matanya, satu nama yang sudah ia tebak dalam benaknya nyatanya sama. Zeta Hector seorang wanita yang memiliki nama dalam dunia fashion di Paris.
"Nyonya, saya sangat senang bertemu dengan Anda. Saya kira saya salah melihat orang ternyata ini benar anda." Ucap Ivanka. Ia merasa senang dan tersanjung bisa bertemu dengan Zeta Hector.
"Saya tidak menyangka jika model cilik saya ini ternyata cucu anda, Nyonya." Ivanka tersenyum.
Mereka lalu berjalan ke sebuah ruangan yang dipergunakan sebagai ruang make up dan mengganti baju. Team make up mempersiapkan kedua bocah itu. Dan mereka segera melakukan pemotretan.
Sore hari waktunya pulang bekerja, Satya berniat menjemput sang istri ke butik karena dia tahu jika mobil istrinya dibawa kembali ke kantor. Meski sedang bermasalah dengan sang istri Satya tak ingin membiarkan sang istri pulang sendirian.
"Bella, kamu sudah mau pulang?" Tanya Satya saat bertemu di parkiran.
"Eh om, iya. Om kesini mau apa?"
"Jemput Belva."
"Loh bukannya kak Vanthe bawa mobil sendiri kenapa harus di jemput."
"Tidak tadi siang mobil dibawa sopir ke kantor. Belva masih di dalam?"
Bella menggelengkan kepalanya. "Kak Vanthe sudah pulang sejak tadi karena Kaili dan Kaila ada jadwal pemotretan hari ini."
Satya cukup terkejut, pasalnya dia tak diberitahu oleh Belva jika kedua anaknya melakukan jadwal pemotretan.
"Dimana?"
"Aku kurang tahu, mungkin Mama tahu karena tadi kak Vanthe menjemput anak-anak di sana."
"Oke, terima kasih Bella, saya pergi dulu." Pamit Satya. Bella mengangguk.
Wanita itu memperhatikan Satya yang berlalu dengan mobil mewah milik pria itu dengan kecepatan sedikit lebih tinggi. Tapi ia tak melihat tanda-tanda adanya permasalahan dalam ruamh tangga Satya dan Belva jadi Bella mengabaikan begitu saja lalu melanjutkan niatnya untuk kembali ke rumah.
Satya melakukan perjalanan menuju rumah mertuanya. Ia sedikit kesal karena Belva tak memberitahukannya jika anak-anak nya sudah mendapatkan jadwal pemotretan. Seharusnya Belva meminta ijinnya terlebih dahulu untuk kedua anaknya, Satya ingin tahu bagaimana jadwal yang dimiliki Duo Kay apakah mengganggu waktu kedua bocah itu atau tidak.
Sampai di kediaman keluarga Hector, Satya turun dari mobil dan berjalan sedikit lebih cepat. Asisten rumah tangga yang melihat kedatangan Satya langsung menunduk memberi hormat.
"Bi, dimana Mama?"
"Nyonya besar sedang pergi keluar bersama Nona muda dan juga Nona kecil dan Tuan kecil."
"Tahu mereka pergi kemana?" Satya kembali bertanya.
"Maaf Tuan saya tidak tahu. Anda ingin menunggu di dalam? Saya buatkan minuman, Tuan."
"Papa ada?" Tanya Satya.
"Tuan Hector juga sedang berada di luar."
Satya menghela napas, "Ya sudah saya pulang saja, Bi. Nantu kalau istri dan anak saya ke sini bilang kalau saya kesini mencari mereka."
"Baik, Tuan."
Satya kembali meninggalkan kediaman keluarga Hector. Di dalam ruang itu tak ada siapapun kecuali asisten rumah tangga saja dan Satya merasa tak nyaman jika berada di rumah itu sendiri lebih baik dia kembali ke rumah meski sendiri dia bisa mengerjakan sesuatu di rumahnya.
__ADS_1
Sebelum melajukan mobilnya Satya sempat menghubungi istrinya tapi panggilan itu tak mendapatkan jawaban. Satya mengumpat kesal, hari ini benar-benar membuatnya pusing. Pekerjaannya yang sedikit bermasalah di tambah masalah keluarga yang tak seharusnya terjadi. Satya ingin mendinginkan kepalanya menyegarkan badannya. Mobil kembali dia lajukan menuju rumahnya sendiri.
Hingga sampai malam pukul tujuh belum ada tanda-tanda kepulangan sang istri. Satya kembali gusar, dia takut jika Belva pergi karena permasalahan kesalah pahaman diantara mereka. Berkali-kali Satya menghubungi tapi tak mendapatkan jawaban. Entah mengapa Belva tak mengangkat panggilan Satya, Satya pikir jika Belva sangat marah padanya hingga tak mau mengangkat panggilan darinya.
Pria itu tak bisa tinggal diam, dia kembali mengambil kunci mobilnya serta jaket, dompet dan juga ponselnya. Mobilnya dipacunya menuju rumah mertuanya dengan kecepatan tinggi. Dia tak bisa seperti ini, tak sabar menjelaskan pada Belva sebenarnya apa yang terjadi.
Kembali mobil itu sampai di halaman rumah mertuanya. Tapi salah satu satpam rumah keluarga Hector menghampiri nya.
"Loh Tuan tidak ikut ke bandara?" Tanya Satpam rumah keluarga Hector.
Satya mengerutkan keningnya atas pertanyaan satpam rumah mertuanya.
"Ke bandara? Untuk apa?" Tanya Satya. Perasaan nya sudah tidak nyaman, pikirannya sudah melayang kemana-mana.
"Tuan dan Nyonya besar kembali ke Paris. Nona muda, Nona kecil dan Tuan kecil juga ikut mereka ke..."
"Sejak kapan mereka berangkat?" Tanya Satya memotong pembicaraan satpam.
"Hampir satu jam yang lalu, Tuan."
Satya langsung bergegas pergi dari hadapan satpam itu. Dia berlari masuk ke dalam mobilnya. Belva nekat pergi dari rumah tanpa berpamitan apapun padanya setelah permasalahan mereka. Kembalinya kedua mertuanya pun Satya tak tahu dan Bella yang sempat di temuinya tadi juga tak mengatakan apapun padanya seolah tak ada rencana apapun yang dilakukan oleh istrinya. Satya tak bisa kehilangan istri dan anak-anaknya. Dadanya bergemuruh, detak jantungnya berdegup sangat kencang. Ada rasa marah, kesal, kecewa dan sedih menyeruak dalam hatinya.
Sial, bagi Satya dalam perjalanan menuju bandara dirinya terjebak macet akibat kecelakaan yang terjadi di depan. Satya mengumpat kesal, dia sudha berusaha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar sang istri tapi justru keadaan mempersulit dirinya.
"Berengsyek!!! Kenapa macet seperti ini." Umpat Satya.
Pria itu melirik pergelangan tangannya yang terdapat jam tangan melingkar disana. Diburu waktu, sembari menunggu kemacetan Satya mengecek melalui ponselnya untuk penerbangan menuju Paris. Dalam layar ponselnya tertera deretan jadwal penerbangan bersama dengan maskapai menuju Paris. Matanya membulat satu jam lagi penerbangan terakhir menuju negara menara Eiffel dan dia tak bisa memastikan kemacetan saat ini bisa terurai hingga berapa lama. Hatinya sudah gusar dan panik saat ini, dia beralih menghubungi Belva tapi kesialan baginya kembali menghampiri. Nomor ponsel sang istri sudah tidak aktif.
***
Di rumah sakit Jack dan Noella duduk di depan ruang IGD dengan perasaan tak menentu. Jack dengan rasa campur aduk bingung, khawatir dan juga cemas dua hal yang membuatnya seperti itu yang paling utama adalah takut jika rumah tangga nya dengan Noella hancur karena perbuatannya sebelum menikah dan yang kedua adalah dia masih takut jika pengakuan Alya adalah sebuah kenyataan yang harus diterimanya.
Sudah satu jam lebih Alya berada di dalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis. Dokter yang berada di dalam belum keluar sama sekali hanya ada suster yang beberapa kali keluar masuk dengan terburu-buru.
Cklek...
Pintu terbuka dokte keluar dari ruangan, mengamati kursi tunggu yang terlihat dua orang pria dan wanita sedang menunggu.
"Keluarga pasien atas nama Nyonya Alya?" Ucap snag dokter yang beridir di depan pintu yang sudah kembali tertutup.
Jack dan Noella segera berdiri dan mendekat ke arah dokter berdiri.
"Kami dok. Bagaimana kondisinya?" Tanya Noella.
"Pasien mengalami pendarahan hebat, kandungannya ternyata cukup lemah. Kita harus melakukan operasi untuk menyelamatkan bayi di dalam kandungan pasien karena bayi itu tidak akan bisa bertahan lagi di dalam kandungan ibunya."
Noella terkejut, pasalnya ia baru saja sebelum terjadi pendarahan ia mendengar jika usia kandungan Alya belum cukup umur untuk dilahirkan.
"Tapi dok apakah bayi itu bisa selamat, bukankah usianya belum cukup untuk lahir." Ujar Noella penasaran.
"Usia kandungan memang belum cukup untuk lahir. Usia kandungannya sudah jalan tujuh bulan, kita bisa mengupayakan untuk menyelamatkan bayinya dengan peralatan medis yang ada. Yang terpenting untuk saat ini kita harus melakukan tindakan untuk menyelamatkan ibu dan bayinya." Ujar dokter menjelaskan pada Noella dan Jack.
Noella tampak mendengarkan penjelasan sang dokter berbeda hal dengan Jack yang tampak hanya bisa diam sejak tadi. Perasaan dan pikiran nya begitu kacau saat ini.
"Lakukan yang terbaik, dokter." Putus Noella.
Walau hatinya sakit tapi ia seorang perempuan yang nanti juga pasti akan mengandung sama seperti Alya. Bayi yang harus mereka selamatkan juga itu adalah anak dari suaminya meski bukan dari rahimnya. Sejak Kristal bercerita akan kehamilan Alya yang diduga anak dari Jack suaminya ia sudah berpikir harus bertindak seperti apa.
"Baik kalau begitu kalian bisa urus administrasi nya. Kami akan melakukan pemindahan ke ruang operasi untuk pasien."
Noell mengangguk, dokter kembali masuk untuk menginformasikan kepada team nya yang masih berada di dalam ruangan tersebut. Demi kelancaran operasi Noella segera bergerak menuju ruang administrasi.
"Honey... Aku..."
"Jack, ini bukan waktunya kamu menjelaskan. Mereka berada di ambang kematian kita tidak bisa membuang banyak waktu." Ujar Noella dengan wajah dan sikap datar.
Perempuan itu kemudia pergi berlalu meninggalkan sang suami yang diam terpaku. Ia harus segera mengurus administrasi agar Alya segera ditangani oleh tema medis.
Tak lama brangkar yang diatasnya terdapat Alya berbaring dengan wajah pucat dan perut membuncit itu keluar dari ruangan IGD menuju ruang operasi khusus untuk ibu hamil.
Noella yang melihat itu secara otomatis mengikuti team medis yang menangani Alya. Jack pula mau tak mau harus mengikuti sang istri. Operasi dimulai sesuai prosedural yang ada. Beberapa jam mereka menunggu dengan penuh kecemasan hingga operasi selesai. Kembali dokter keluar dari ruang operasi tersebut dan Noella yang paling aktif dalam penanganan Alya.
"Dokter bagaimana operasi nya?" Tanya Noella yang langsung menghampiri sang dokter.
"Mari ikut saya ke ruangan." Ujar dokter.
Noella mengikuti langkah sang dokter dengan diikuti oleh Jack yang setia mengekor pada istrinya. Mereka masuk ke dalam ruangan dokter. Duduk saling berhadapan dengan meja yang menjadi pemisah diantara mereka.
"Bagaimana operasi nya dokter?" Tanya Noella kembali.
"Operasi berjalan lancar kita bisa menyelamatkan bayinya,meskipun kita masih harus berjuang mempertahankan nya agar tetap bertahan hidup dengan peralatan medis. Anda tahu sendiri jika usia bayi itu yang seharusnya masih berada dalam kandungan."
Noella mengangguk paham, bayi itu memang tak seharusnya lahir untuk saat ini. Tapi apa mau dikata semua sudah terjadi.
"Dimana suami pasien?" Tanya dokter.
Noella terdiam dan saling Padang dengan Jack.
"Emm... Suaminya sudah tidak ada, dok." Ujar Noella.
Jack langsung menoleh pada istrinya tapi Noella hanya menatap datar pada suaminya.
"Sayang sekali, padahal ibu dan bayi sangat membutuhkan peran suami dan ayah dalam melewati masa kritis."
"Maksud dokter?" Tanya Jack tiba-tiba bersuara.
****
To Be Continue...
Nah loh Om Satya kelabakan kan 🤭🤭
Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini. Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Kalian sehat-sehat terus ya. 🤗🙏🙏❤️
__ADS_1