
Seorang pria yang mati-matian ingin mendapatkan bayi Alya kini sedang berkunjung ke kantor polisi. Tujuannya adalah menjenguk ibu dari almarhumah putrinya. Terpaksa mau tidak mau Sonia menemui pria yang menjadi ayah biologis putrinya meski dalam hati terasa berat dan malas.
"Ada apa kamu kemari?" Tanya Sonia malas.
"Hanya menjengukmu, bagaimana kabarmu?"
"Tidak perlu basa-basi, katakan tujuanmu." Ujar Sonia kembali.
"Katakan rahasia besar apa yang mantan suamimu miliki?
"Apa maksud mu?" Tanya Sonia tak paham.
"Pria itu begitu kuat meski masalah menimpa perusahaannya. Tunjukkan padaku satu kelemahan yang dimiliki pria itu."
"Cih... Untuk apa aku mengatakannya padamu. Tidak ada untungnya bagiku." Tolak Sonia dengan nada sinis.
Pria itu mengeraskan rahangnya, tujuannya menemui Sonia adalah ingin mengetahui letak kelemahan dari seorang Satya. Musuh bebuyutannya sejak jaman dahulu.
"Kamu menginginkan kebebasan? Aku akan menjamin dirimu." Ucap pria itu memberikan iming-iming yang pasti diharapkan oleh banyak narapidana yang tengah menjalani masa hukuman.
"Bebas? Untuk apa? Bahkan aku sudah tak memiliki siapapun jadi untuk apa aku bebas."
Sonia rupanya lebih nyanyam berada di dalam penjara. Di dalam penjara dirinya tak merasa sepi karena wanita itu sudah memiliki banyak teman yang perduli padanya. Jika dirinya bebas untuk apa lagi? Bahkan akan ada banyak cibiran dan sanksi sosial yang akan diterimanya nanti di luar penjara.
Wanita yang dulu terkenal sombong dengan gaya hidup glamornya menjadi seorang mantan narapidana. Tentu akan menjadi bahan pergunjingan banyak orang terlebih mereka yang mengenal Sonia. Jika itu terjadi padanya dimana lagi dirinya akan berlindung.
Dulu Satya menjadi tempat perlindungannya dengan status sosial yang tinggi, Faris yang dulu digadang-gadang menjadi pengganti Satya justru berbanding terbalik dengan apa yang diharapkannya.
"Bukankah kamu masuk ke tempat ini karena upah mantan suamimu? Tidakkah kamu ingin membalas dendam padanya?" Pancing pria yang menjadi Ayah kandung Alya.
"Dulu Satya menyayangi wanita itu sebelum bersamaku bahkan dia sempat menolak perjodohan kami. Tapi Papa mertua melakukan segala cara termasuk ingin menyakiti Mama mertua dan juga wanita itu. Satya lemah jika itu berhubungan dengan orang-orang yang dia sayangi tapi tidak akan terpengaruh bila itu bukan orang yang penting untuknya." Ujar Sonia mengingat bagaimana masa lalunya bersama Satya saat sebelum mereka menikah.
"Termasuk dirimu bagian orang yang tidak penting dalam hidupnya?" Pria itu seolah mengejek Sonia.
"Cih... Terserah. Nyatanya semua kulakukan bukan untuk diriku sendiri. Pergilah kamu mengganggu waktu istirahatku."
"Kapan kamu mau bebas? Aku akan mengurusnya." Tanya pria itu.
"Sampai masa hukumanku selesai." Ucap Sonia.
Wanita itu sudah lelah dalam menjalani kehidupannya. Ia berpasrah diri pada apa yang terjadi dalam hidupnya. Semakin lama di dalam penjara, ia merenungkan semua jalan kehidupan yang telah ia lewati. Banyak dari teman narapidana yang berada satu sel dengannya yang bercerita mengenai penyesalan dan kerinduan mereka pada keluarga. Betapa berharga dan pentingnya kehidupan dan keluarga setelah menjalankan masa hukuman.
Sonia hendak beranjak untuk meninggalkan pria yang ada dihadapannya tapi tertahan oleh ucapan pria itu.
"Kamu tidak ingin segera keluar dari sini? Membalas dendam pada pria yang tak pernah mencintaimu. Bahkan sekarang pria itu hidup enak menikmati hidup bersenang-senang dengan wanita lain meski dia sudah menikah lagi."
Sonia kembali duduk untuk merespon ucapan ayah kandung Alya.
"Itu tidak mungkin terjadi." Ujar Sonia.
Wanita itu paham bagaimana watak dan perilaku Satya selama ini. Bahkan saat menikah dengan dirinya pun Satya masih setia pada cinta masa lalunya. Mereka menjalani pernikahan yang begitu hambar bak artis yang hanya menjalani skenario yang telah disusun dengan apik. Bagaimana mungkin Satya bisa berselingkuh saat sudah memiliki pasangan sendiri.
"Cih tapi nyatanya itu benar-benar terjadi, pria sok kaya dan sok tampan itu bahkan baru saja berlibur dengan selingkuhannya ke luar pulau."
"Aku tak perduli, itu bukan urusanku lagi." Ujar Sonia.
"Ya karena kamu adalah wanita bod*oh maka dari itu pria itu tidak mencintai mu dan hidupmu berantakan."
Sonia mengeraskan rahangnya, pria dihadapannya itu semakin membuatnya geram. Sonia muak dengan pria yang telah memberikannya seorang putri yang kini telah tiada. Kehidupan Sonia hancur? Itu memang benar karena semua tidak lain akibat terjadinya konspirasi antara keluarganya dan juga keluarga pria yang ada dihadapannya.
"Diam kamu Fahmi!!! Kalau bukan karena orang tuamu hidupku akan baik-baik saja. Kamu dan ibumu lah yang menciptakan skenario bo*doh ini. Kamu dan ibumu yang menghancurkan hidupku. Dan kamu ingat baik-baik, kamu menghancurkan orang lain maka dirimu pun akan hancur sama sepertiku. Jangan pernah temui aku lagi, kita sudah tidak ada hubungan apapun." Usir Sonia.
Fahmi yaa pria itu bernama Fahmi, ayah kandung dari Alya yang selama ini tak memberikan status dan haknya sebagai seorang ayah untuk Alya. Perlu diketahui Fahmi adalah kakak dari Faris kekasih dari Sonia.
"Wanita bod*oh seperti mu masih bisa sombong dihadapan ku huh?! Kamu ingat baik-baik... Selama ini yang sibuk mengemis untuk datang menemuiku siapa huh?!" Ucap Fahmi dengan nada kesal.
Sonia sudah berdiri dari duduknya, Ia menatap tajam pada Fahmi.
"Bukankah seharusnya memang sudah menjadi tanggung jawabmu membantu seorang yang menjadi putri kandungmu? Perlu kamu ketahui jika bukan demi almarhum Alya aku tidak akan datang mengemis padamu."
Merasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan lagi dalam pertemuan kali ini tanpa menunggu jam kunjung usai, wanita itu sudah memilih pergi dari ruangan tersebut.
Fahmi tak perduli jika Sonia tidak ingin keluar dari penjara, dirinya hanya ingin mengetahui satu hal yang menjadi kelemahan Satya saja. Sonia adalah salah satu wanita yang hidup dengan jangka waktu yang cukup lama dengan Satya maka tentu wanita itu tahu apa saja yang menjadi bagian hidup Satya.
'Setidaknya aku mengetahui apa yang menjadi kelemahan mu anak pungut.' Batin Fahmi.
**
Perlahan satu persatu bukti di dapatkan oleh Belva. Tapi tetap wanita itu berusaha untuk tetap tenang. Hingga Satya kembali dirinya tetap menyambut kedatangan sang suami meski dengan sikap yang dingin.
Berbeda dengan Belva, Duo Kay menyambung dengan riang gembira kedatangan Daddy mereka. Anak-anak memang tak akan dibiarkan oleh Belva mengerti mengenai kelakuan Daddy mereka. Masih kecil dan belum paham bagaimana sikap orang dewasa, Belva tetap membiarkan Duo Kay merasakan keluarga yang utuh seperti anak-anak yang lainnya.
"Daddy!!! Yeee Daddy pulang!!" Sorak Kaila dan Kaili melihat kedatangan Daddy mereka.
Satya tersenyum bahagia kedatangannya dinanti oleh keluarga kecilnya. Pria tampan dan matang itu berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Duo Kay dan merentangkan tangannya. Ayah dan anak itu langsung saling berpelukan dengan erat.
"Hmm wangi baju Daddy beda." Ujar Kaila saat usai memeluk Satya.
Satya yang begitu menyadari ucapan putrinya langsung panik. Dirinya lupa jika sebelum kembali pulang ke rumah dirinya mengantarkan Siwi terlebih dahulu ke apartemen, sudah hafalkan jika Siwi selalu bergelayut manja pada lengan Satya.
'Mati aku, kenapa bisa lupa semprot parfum dulu.' Batin Satya.
Belva hanya diam seolah tak mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya tapi jangan senang dulu, wanita itu tetap memasang tajam pendengarannya.
"Ah... I-iiya em.. Daddy tadi pakai parfum uncle Jordi." Ucap Satya tak lancar dalam beralasan.
Belva yang tengah menggendong baby As kemudian mendekat pada Satya matanya menatap lekat pada bola mata Satya membuat pria itu menjadi salah tingkah.
"Daddy tak memelukku? Tidak rindu pada istrimu ini?" Ujar Belva.
Satya menjadi bingung dan khawatir sendiri saat Belva meminta untuk dipeluk oleh dirinya. Mendengar ucapan Kaila setelah berpelukan dengan dirinya saja sudah membuat jantungnya bekerja dengan cepat. Bagaimana jika benar-benar Belva menghirup aroma parfum lain di tubuhnya, bisa-bisa terjadi perdebatan lagi seperti sebelum dirinya pergi ke Bali.
"Emm... M-maaf, Mam bukankah Mami sedang menggendong baby As. Daddy baru saja dari luar takutnya nanti adankuman yang menempel pada bayi kita."
"Oohh yaa... Daddy benar, kasihan nanti bayi kita akan tertempel kuman. Kalau begitu seharusnya bersihkan diri dulu sebelum pulang, Dad. Agar tidak ada kuman dan penyakit menjijikan yang menempel padamu dan seharusnya jangan peluk-peluk Kaila dan Kaili." Ucap Belva tersenyum pada Satya tapi senyum itu seakan-akan meremehkan Satya. Belva pun menekankan pada kata menjijikan.
Satya merasa aneh pada sang istri, sebelumnya istrinya itu mendiamkannya tapi saat ini istrinya seakan menatap remeh padanya.
"Apa maksud kamu, Mam?" Tanya Satya.
"Maksudku, jangan sampai kamu pulang membawa penyakit dan kuman bagi anak-anak saja. Kasihan mereka sudah menahan rindu tidak dikasih kabar eh begitu ketemu Daddy nya malah sakit-sakitan lagi kan bahaya, kasihan juga." Ucap Belva santai.
"Ayo anak-anak kita ke kamar." Ajak Belva.
Ibu muda itu begitu kesal dengan tingkah sang suami yang seolah-olah tak melakukan apapun di belakangnya.
"Tapi masih rindu Daddy." Rengek Kaila.
__ADS_1
"Daddy kalian pasti lelah habis bekerja siang malam, biarkan dia istirahat. Sudah ayo jangan membantah Mami, sayang."
Satya semakin merasa aneh dengan tingkah istrinya.
"Mam, maaf bukan maksud Daddy tak memberikan kabar. Daddy tidak..."
"Iya paham, tidak memiliki waktu dan terlalu sibuk di Bali. Tidak masalah, sebagai istri aku paham bahkan sangat paham, sayang." Ucap Belva memotong ucapan Satya dan bersikap semanis mungkin meski menahan kesal setengah mati.
Belva kemudian berlalu meninggalkan Satya dengan satu tangan memegang baby As yang digendong menggunakan kain sedangkan satu tangannya yang lain menggandeng Kaila. Kaili, bocah lelaki itu tentu saja langsung mengikuti Mami dan adik-adiknya yang dibawa oleh Maminya.
Satya menatap kepergian Belva dan anak-anaknya. Pikirannya menjadi frustasi melihat keadaan hubungan rumah tangganya. Biasanya Belva akan menyambut hangat dirinya saat pulang kantor tapi kini istrinya berubah lebih dingin dan cuek.
'Apa Belva tahu aku membohonginya? Tapi kenapa dia tidak marah-marah seperti kemarin? Ck... Aaarrghh... Bagaimana ini tapi aku tidak bisa mengakhirinya sekarang, Siwi sangat penting untukku.' Gumam Satya dalam hati. Pria itu begitu frustasi ketika berada di rumah.
Sedari kemarin memang Satya semakin merasa tidak nyaman saat berada di rumah. Rumah tangganya berubah menjadi kurang harmonis seperti sebelumnya.
Walau bagaimanapun Satya tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya, keberadaan Siwi tidak akan dibiarkannya menjadi penghancur rumah tangganya. Sekalipun nanti Belva mengetahui kebohongannya dan marah besar, pria itu tidak akan melepaskan wanita yang paling dicintainya itu.
Semakin hari rumah tangga Satya semakin terasa dingin meski Belva masih tetap melayani Satya sebagaimana mestinya hanya saja wanita itu tak banyak bicara pada sang suami.
"Sayang, kenapa kamu akhir-akhir ini diam saja. Kamu marah pada mas hemm?"
"Tidak hanya sedikit lelah saja." Jawab bva sekenanya.
"Maaf mas dan Jordi terlalu sibuk sehingga kami belum menemukan baby sitter untuk baby As."
"Tidak masalah, aku masih bisa mengurus anak-anakku."
"Tapi kamu saat ini sedang hamil, sayang. Mas khawatir jika kamu kelelahan."
"Masih ingatkan dulu aku bahkan mengurus kedua anakku sendiri." Ujar Belva dengan santai.
Satya langsung terdiam, sendok yang dipegangnya kini dilepaskan dengan sedikit kasar. Satya tak suka jika istrinya bersikap seperti itu padanya. Belva terdiam sebentar saat mendengar suara gaduh dari sendok dan piring tapi dirinya kembali melanjutkan menyiapkan makanan untuk Duo Kay. Ia tak perduli dengan apa yang Satya lakukan bahkan saat suaminya itu berdiri dengan sedikit kasar dan pergi meninggalkan meja makan.
"Daddy, mau ke mana?" Tanya Kaili.
"Maaf boy ada berkas Daddy yang harus Daddy cari di ruang kerja."
Kaili mengangguk begitu saja, lalu kembali menghadap Maminya.
"Daddy, tidak marah kan Mami?" Tanya Kaili.
"Mami tidak tahu, sayang makanlah habis ini kalian masuk kamar. Apa kalian ada PR?"
"Ada, Mi... Miss Anna memberikan pekerjaan rumah untuk membuat kolase hewan dari potongan kertas warna-warni."
"Baiklah nanti Mami bantu kalian, tapi kita kerjakan di kamar baby As saja ya sekalian kita jaga baby As."
"Oke Mami." Jawab Duo Kay.
Belva benar-benar menyibukkan diri untuk lebih banyak mengurus anak-anaknya. Selesai membantu Duo Kay mengerjakan PR dan membersihkan diri sebelum tidur, wanita itu keluar dari kamar Duo Kay hendak masuk ke kamar baby As.
Satya yang sudah frustasi melihat tingkah istrinya yang terkesan cuek dang dingin padanya, sedari tadi pria itu mencoba mengalihkan pikirannya dan emosinya dengan bekerja tapi tetap saja bayangan sang istri yang berubah terhadapnya membuatnya tak tahan. Satya langsung keluar dari ruang kerja tapi dirinya melihat sang istri keluar dari kamar baby As makan dirinya menahan diri untuk mendekat justru sengaja bersembunyi di balik pintu ruang kerjanya.
Seeett...
Satya langsung menarik lengan sang istri dan membawanya masuk ke dalam ruang kerja membuat Belva terkejut dan kesal pada Satya.
"Mas! Apa-apaan kamu? Membuatku kaget saja. Awas aku mau ke dapur."
Belva berusaha melepaskan lengannya yang dicekal kuat oleh Satya. Tapi sayang Satya memegangnya dengan sangat erat.
Pria itu tetap tak mau melepaskan genggamannya, dia justru menatap istrinya dengan tajam dan dalam.
"Mas, lepas! Jangan membuatku keshmmmp."
Satya rupanya tak tahan lagi untuk tak berdekatan dan tak menyentuh barang sedikitpun terhadap istrinya. Bener hari ini Belva menghindarkan Satya bahkan saat tidur pun Belva lebih banyak tidur dinkamar baby As dengan alasan ingin menjaga bayi kecil itu sendiri agar baby As lebih merasakan ikatan batin dengan dirinya sebagai ibu sambung.
Lum*atan dan cecap*an itu terjadi tanpa Belva duga. Satya tak mau melepaskan Belva karena sudah merasa lama sekali tak memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan sang istri. Belva berusaha mendorong Satya sekuat tenaga hingga terlepas.
Napas wanita itu bergemuruh dan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia merasa kesal dan marah pada kelakuan suaminya itu.
"Mas, kamu apa-apaan sih!! Bisa tidak jangan membuatku kesal huh!" Nada suara Belva sedikit meninggi karena semakin kesal dan marah pada Satya.
Bugh!!
Belva memukul dada Satya sekuat-kuatnya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Sayang sekali pukulan Belva yang hanya sekali saja itu tidak berefek apapun pada Satya. Hanya terasa beberapa detik saja setelah itu tak terasa apapun lagi bagi Satya.
"Awas kamu!" Bentak Belva kesal.
Wanita itu langsung berusaha pergi dari dalam ruang kerja Satya.
"Sayang... Yank!!" Panggil Satya tapi tak digubris oleh Belva.
Bahkan Satya kembali mencekal lengan Belva agar tak pergi dari dalam ruangan tersebut.
"Mas, lepas atau aku marah padamu."
"Bukankah kamu memang sudah marah pada mas. Bener hari ini kami berubah, yank."
"Berubah? Bukankah sebaliknya? Harusnya kalimat itu kamu tujukan pada dirimu sendiri. Awas aku tidak mau berdebat denganmu, anakku menunggu ku di kamar."
Belva benar-benar melepaskan diri dari cekalan Satya dan keluar ruangan tersebut dengan membanting pintu membuat Satya terkejut.
"Astaga!! Dia kalau marah memang menyeramkan." Gumam Satya sembari mengusap dadanya karena terkejut.
"Ck... Aaarrghh... Kenapa harus seperti ini sih." Pekik Satya frustasi. Dia mengacak rambutnya.
**
Hampir dua bulan lamanya hubungan Satya dan Belva masih sama dengan keadaan dingin rasanya seperti kopi yang dibiarkan hingga mendingin tanpa tersentuh sama sekali.
Merasa bosan dan suntuk berada di rumah terus menerus, Belva akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan tanpa membawa anak-anaknya. Duo Kay sedang sekolah sedangkan baby As ditinggalkan bersama Janis untuk sementara waktu. Belum waktunya dirinya membawa baby As jalan-jalan keluar karena pasti sedikit repot mengingat Duo Kay pasti akan merajuk jika tidak diajak jalan-jalan.
Saat berkeliling pusta perbelanjaan, ponselnya berbunyi. Dilihat layar ponsel tertulis Dady Satya dengan emoticon love.
"Hallo."
"Hallo, kamu di mana, sayang? Mas telepon tidak diangkat dari tadi, mas telepon ke rumah kata orang rumah kamu sedang keluar. Kamu ke mana?"
"Di mall." Jawab Belva singkat sembari masuk ke dalam salah satu butik.
"Bersama siapa?"
"Sendiri." Jawab Belva sembari tangannya memilah-milah pakaian yang tergantung.
"Mall mana? Mas ke sana."
__ADS_1
"Tidak usah, bekerjalah bukankah yang kamu biayai sekarang ini bertambah banyak."
"Maksudmu apa, sayang? Cepat katakan di mall mana kamu sekarang."
"Ck... Mal biasanya." Jawab Belva kesal.
"Tunggu jangan ke mana-mana."
Satya langsung mematikan ponselnya, pria itu buru-buru untuk menyusul sang istri. Satya tidak ingin istrinya itu pergi sendirian, sudah bisa dipastikan bahwa akan ada banyak pria yang mencoba menggoda sang istri. Penampilan Belva meski sederhana tapi terlihat modis, jangan lupakan bahwa wanita itu masih terlihat sangat segar seperti wanita yang belum berkeluarga meski perutnya sudah mulai sedikit cembung tapi Belva menggunakan pakaian longgar sehingga tak terlalu terlihat jika dirinya tengah mengandung.
Saat berada di depan meja Grace, Satya berpapasan dengan Siwi yang hendak masuk ke dalam ruangan Satya. Tapi pria itu tak memperdulikan Siwi karena merasa ini masih di area kantor dan juga Belva lelbih penting saat ini.
"Grace, saya keluar dulu." Pamit Satya.
"Eh masu ke mana, Tuan? Ini banyak berkas penting yang harus anda tanda tangani dan koreksi." Ucap Grace.
"Istri saya lebih penting." Ujar Satya tanpa memikirkan perasaan Siwi.
'Kurang ajar dia bahkan mengatakan itu di depanku lagi.' Batin Siwi merasa kesal dan emosi.
Satya langsung pergi dan menghilang di dalam lift yang berjalan menuju ke bawah. Grace yang melihat Siwi masih menatap Satya pun merasa sedikit kesal pasalnya Grace tahu jika wanita itu sering sekaki berusaha mendekati Satya yang jelas-jelas sudah beristri.
"Untuk apa kamu masih di sini? Tuan Satya pergi jadi kami pergilah." Usir Grace.
Siwi langsung menatap tajam pada Siwi merasa tak terima dengan perlakuan Grace padanya.
"Cih hanya sekertaris saja gayanya selangit. Dipecat baru tahu rasa kamu." Ujar Siwi dengan nada sinis.
"Heleh... Karyawan baru saja sudah kegatelan." Balas Grace dengan pedas. Sekertaris Satya itu memang ceplas-ceplos dalam berbicara jika tidak menyukai seseorang. Ia akan memperliahy rasa tak suka nya dengan terang-terangan.
"Apa kamu bilang? Tunggu yaa tidak lama lagi aku akan menikah dengan mas Satya, kamu orang pertama yang aku pecat."
"Hah? Ahahaha menikah? Mas Satya? Heh karyawan baru bangun woi, tidurmu kebanyakan bantal jadi otaknya nge-ganjel." Ucap Grace dengan nada dan sikap yang tengil.
Semakin emosi saja Siwi dibuat oleh sekretaris Satya. Melihat Satya sudah menghilang Siwi buru-buru pergi hanya untuk mengikuti ke mana Satya akan pergi menemui istrinya.
Rupanya Siwi sudah merasa tidak tahan untuk menyembunyikan kedekatannya dengan Satya. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya spesial bagi Satya termasuk menunjukkan hubungannya pada istri sah Satya.
'Awas saja kamu, sayang sudah cukup aku diinjak oleh karyawan mu. Aku tidak mau lagi diperlakukan seperti itu, kamu harus segera menikahiku.' Batin Siwi.
Keberuntungan berpihak pada Siwi, ia masih bisa mengejar mobil Satya dengan taksi yang ditumpanginya. Mobil pria pujaan hatinya itu menuju sebuah pusat perbelanjaan, Siwi terus mengikuti Satya hingga masuk ke dalam tempat ramai itu.
Satya menghubungi istrinya kembali untuk mengetahui di mana istrinya berada saat ini. Terlihat Belva keluar dari butik, Satya langsung menghampiri istrinya, perasaannya lega karena bisa menemukan sang istri.
"Sayang..." Panggil Satya.
Belva langsung menoleh pada sumber suara yang dikenalnya dengan baik itu.
"Mas, untuk apa kamu ke sini?"
"Menemanimu, kenapa kamu jalan sendiri tidak meminta orang rumah untuk menemani mu."
"Aku mau me time jadi tidak perlu teman." Ujar Belva cuek dan sekenanya.
"Kamu sedang hamil, sayang. Mas takut kamu kenapa-kenapa."
"Ck... Mas, kamu ke sini mau ceramah atau mau membuang waktuku." Ucap Belva tak suka.
"Iyaa... Iya jangan marah. Mau jalan ke mana lagi, mas temani kamu." Ucap Satya mengalah pada istrinya.
Tahu jika sikap Belva berubah karena dirinya maka pria mencoba memperbaiki hubungan dengan sang istri.
"Mau beli baju hamil."
Satya tersenyum lalu mengusap lembut perut Belva.
"Iya, ayo kita ke sana." Satya menyetujui keinginan Belva.
Keduanya berjalan memasuki toko perlengkapan ibu dan bayi. Satya menggandeng Belva, tidak ada penolakan dari Belva meski dirinya merasa kesal dengan suaminya tapi sejujurnya dalam hati yang paling dalam Belva masih sangat mencintai suaminya.
Di dalam toko perlengkapan ibu dan bayi itu mereka melihat-lihat koleksi produk yang dijual di toko tersebut.
"Sayang, ini bagus untuk baby As." Ujar Satya saat melihat sepasang sepatu berbentuk sepatu boot kecil.
"Tapi kan baby As belum bisa pakai ini, mas. Ini masih terlalu besar untuk kakinya."
"Tidak apa-apa kita beli saja untuk besok." Ujar Satya.
Pria itu ingin menghabiskan waktu siang ini bersama sang istri. Mencoba bersikap seperti sebelum-sebelumnya. Satya sangat merindukan sikap harmonis mereka.
Tak disangka oleh Satya, Siwi tiba-tiba datang menghampirinya dan Belva. Membuat Satya menegang dan panik tapi dia mencoba untuk mengendalikan diri.
"Hai, mas... Kamu buru-buru rupanya ke sini ya?" Sapa Siwi pada Satya.
Belva langsung menoleh ke arah Siwi, diperhatikan dengan seksama wajah Siwi yang tak asing baginya.
'Siwi? Untuk apa dia ke sini? Ini gila jika dia terlalu nekat di depan Belva.' Batin Satya. Otaknya sudah mulai berpikir untuk mencari-cari alasan.
"Siapa mas?" Tanya Belva pada Satya.
Bukan tak mengenali tapi Belva berpura-pura tidak tahu saja dihadapan kedua orang tersebut.
"Ini... Dia karyawan di kantor." Jawab Satya. Tidak berbohong kan memang kenyataannya Siwi adalah karyawan nya di kantor.
"Oh... Tapi kenapa memanggil mu seperti itu?"
"Ah... Itu..." Satya bingung harus menjawab seperti apa. Otaknya tiba-tiba saja buntu untuk mencari alasan.
"Mas, bolehkah aku berkenalan dengannya? Dia bukan istrimu kan?" Tanya Siwi dengan sengaja.
"Perkenalkan aku Siwi, calon istri mas Satya." Ujar Siwi dengan percaya diri.
Manik mata Satya membulat sempurna, rahangnya mengeras. Siwi terlalu nekat dan Satya tidak memperhitungkan jika wanita yang tergila-gila padanya itu bisa senekat itu memperkenalkan diri pada sang istri. Perkenalan antara Belva dan Siwi terjadi di luar kendalinya.
Panik tentu saja, Satya begitu panik. Keringat sudah mulai merembes keluar dari pori-pori kulit nya. Jantungnya berdegup kencang saat ini, nasib rumah tangganya sudah tak bisa Satya bayangkan lagi saat ini.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terima kasih masih setia support author sampai saat ini ππ
Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Meski Like dan komen berkurang tak masalah author masih seneng karena masih ada yang setia menanti kelanjutan cerita receh nya author ππ
Maaf belum bisa crazy up sesuai permintaan karena waktu yang harus terbagi dengan pekerjaan jadi cuma bisa tiap malem aja author bisa up. mohon bersabar yesss kita ikuti saja alurnya.
__ADS_1
Bagaimana reaksi Mami Belva nanti?? simak terus ya dear βΊοΈπ€π