
Satya tak cukup berhenti di ruang tamu, bahkan entah keberanian dari mana yang dia dapatkan saat ini. Ini bukanlah kebiasaan Satya yang tak mengindahkan kesopanannya.
Kakinya melangkah lebih dalam lagi. Tak perduli apakah pemilik rumah itu akan marah sama seperti yang dikatakan oleh Budhe Rohimah atau tidak.
Kurir di depan tak perduli dengan tingkah Satya, dia tak mengenal Satya mungkin pria itu juga pemilik rumah itu atau bagian dari pemilik rumah itu, begitulah pikir si kurir. Kurir itu berteriak permisi agar si tuan rumah keluar.
Teriakan kurir terdengar jelas karena pintu depan rumah yang terbuka dan lagi pula pintu kamar Belva yang juga tak tertutup rapat.
Saat Satya berhenti di depan kamar yang tak tertutup rapat itu bersamaan muncul seorang pria. Keduanya sama-sama terkejut saat berhadapan. Tak berselang beberapa detik seorang wanita keluar dari tempat yang sama.
"Sia..." Ucapan itu tak terselesaikan. Ekspresi terkejut membuatnya tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.
Belva, wanita itu terkejut hingga seluruh bagian tubuhnya menegang. Satya tak kalah terkejut dengan wanita itu. Ditatap lekat wajah wanita dihadapannya. Ingatannya semakin menguat saat menatap wajah wanita itu dengan bantuan sebuah nama yang baru saja didengarkannya. Mata yang saat ini tak lagi menggunakan softlens, penampilan yang sangat sederhana itu. Ya... Satya bisa mengingat siapa wanita itu.
Ditatap seperti itu oleh Satya, Belva semakin menegang. Tanpa sadar tangannya mencengkram kuat lengan Roichi hingga kuku lentik wanita itu menancap di kulit pria berkulit putih itu.
"Tuan Satya. Kenapa anda bisa ada disini ?" Roichi membuyarkan fokus pria yang ada dihadapannya.
"Ah... Tuan Roichi. Anda tinggal disini ?"
"Saya mencari seseorang. Bibi Rohimah." Saat nama itu disebut Satya menatap tajam Belva.
Roichi tahu Belva saat ini sedang tak baik-baik saja saat melihat rekan kerja nya. Ditarik tubuh wanita itu mendekat padanya. Tangan kekarnya mengusap lembut pada punggung Belva.
"Sayang, kamu masuk ke kamar dulu." Ucap Roichi.
"Permisi... Pakeett..." Teriakan yang sedikit mengendurkan ketegangan itu.
"Oh ya di depan ada paket untuk Nona Belva Evanthe." Ucap Satya.
"Aku... Aku ke depan dulu." Ucap Belva. Langkahnya dengan cepat meninggalkan dua orang pria itu.
"Dia kenapa bisa ada disini ?" Tanya Belva dalam hati. Cemas perasaan itu yang kembali dirasakannya. Bayangan masa lalu yang kelam itu kembali berputar.
"Anda mengenal Ibu Rohimah ? Lalu bagaimana anda bisa masuk ke rumah ini tanpa kami bukakan pintu ?" Tanya Roichi sedikit tak suka pada Satya.
"Ah maaf... Karena saya ingin bertemu dengan Bibi Rohimah. Kami sudah seperti keluarga. Dia bilang saat ini tinggal bersama keluarga angkatan setelah tak lagi bekerja di rumah saya." Ucap Satya.
"Maaf atas kelancangan saya Tuan Roichi. Saya tidak tahu jika anda lah seseorang yang tinggal bersama Bibi Imah."
"Ya... Tapi ibu sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang pulang kampung. Mari duduk di depan." Ucap Roichi.
Satya dan Roichi berjalan untuk duduk di ruang tamu. Belva setelah menerima surat paket itu, ia kembali masuk meski harus bertemu dengan seseorang yang membuat perasaan nya kembali kacau.
"Saya masih tak percaya jika Bibi Imah tinggal bersama Anda Tuan. Karena setahu saya beliau sudah tak punya keluarga. Setelah keponakan satu-satunya meninggal dunia saat itu." Ucap Satya dengan sengaja saat Belva melewati nya.
Belva kembali menegang dan gugup. Ia bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Menyapa ataukah berpura-pura tak mengingat pria itu. Belva memutuskan untuk berpura-pura tak mengenal pria itu. Ia berusaha menutupi kekacauan hatinya saat ini.
"Meninggal ?" Tanya Roichi.
"Ya meninggal karena hanyut di sungai saat itu." Ucap Satya dingin dan tegas.
"Vanthe, kemari lah. Perkenalkan ini Tuan Satya rekan bisnis aku dan Papa mu. Tak baik jika hanya melewati nya saja." Ucap Roichi.
Belva berbalik, mendekati Roichi dan duduk di samping pria itu.
"Ayo Vanthe. Perkenalan dirimu."
"Ah i-iiya." Saat ini Belva benar-benar gugup.
"Tenang Belva... Tenang... Tidak ada yang perlu ditakutkan. Lupakan masa lalu itu." Batin Belva menyemangati dirinya sendiri.
"B... Vanthe. Salam kenal Tuan." Ucap Belva masih sedikit gugup. Di ulurkan tangannya pada Satya.
"Suara itu masih sama. Dia benar-benar gadis itu. Masih hidup tapi kenapa tak mengenalku ?" Batin Satya.
"Satya... Oh Nona Vanthe. Belva Evanthe benar bukan ?"
"Ya... Iya itu nama saya." Ucap Belva.
"Ini istri Anda Tuan Roichi ? Keponakan Bibi Imah adalah istri anda rupanya."
"Permisi..." Sapaan kembali terdengar sari Jordi.
Semua yang ada di dalam menoleh. Roichi mempersilahkan masuk tak mungkin dia akan menolak atau mengusir dua pria itu dari rumah minimalis Belva. Mereka adalah rekan kerjanya, meski Roichi tahu saat ini Belva sedang tak nyaman. Jordi sudah duduk di samping Satya.
"Tuan Roichi... Jadi benar dugaanku jika Bi Imah ada berhubungan dengannya. Wanita itu... Bukankah dia istri Tuan Roichi tapi... Sebentar... Dia wajahnya sama dengan keponakan Bibi Imah." Batin Jordi.
"Papi, oh ternyata Papi disini."
Suara Kaili mengalihkan semua perhatian para orang dewasa yang ada di ruang tamu. Bocah itu tak tahu jika ada tamu di rumahnya. Satya menatap bocah itu begitu juga dengan Jordi.
Deg...
Belva kembali menegang saat Satya dan juga Kaili bertatap muka. Jordi menatap lekat Kaili dan juga Satya secara bergantian.
"Aku tidak salah bukan ? Wajah mereka sangat mirip." Batin Jordi.
"Jika dilihat memang wajah Kaili dengan Tuan Satya begitu mirip." Batin Roichi.
"Kaili... Kenapa kamu keluar Nak." Batin Belva gusar.
"Bocah itu... Bukannya anak TK yang waktu lalu berkelahi. Dia memanggil Tuan Roichi dengan sebutan Papi. Lalu wanita waktu itu siapa ? Bukankah dia ibunya ?" Batin Satya. Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam pikirannya. Dia merasa pusing sendiri dengan pikirannya.
"Nak, ada apa ?" Tanya Roichi.
"Aku mencari Papi di kamar Mami tapi tak ada ternyata disini. Mainan robot ku kemarin dimana ?" Tanya Kaili.
Bocah itu tak perduli dengan tamu yang datang. Yang dia pikirkan saat ini adalah mainannya.
"Ayo Mami bantu cari. Maaf saya permisi." Ucap Belva ini adalah kesempatan nya untuk menghindar dari hadapan Satya dan Jordi. Ia masih belum bisa bertemu Satya secara mendadak seperti ini hatinya belum siap.
Satya dan Jordi masih menatap lekat ibu dan anak itu. Pikiran mereka sedang sibuk saat ini.
"Tuan Roichi, sekali lagi saya minta maaf atas ketidak-sopanan saya. Kalau begitu saya permisi dulu. Salam untuk Bibi Imah." Ucap Satya.
"Ah iya maaf jika tidak bisa menjamu anda dengan baik. Sejujurnya saya juga terkejut atas kedatangan anda."
Satya dan Jordi mengangguk dan segera pergi dari rumah minimalis itu. Roichi menatap kepergian dua orang pria itu. Lalu masuk kembali ke dalam rumah dengan menutup serta mengunci pintu.
Di dalam mobil Satya dan Jordi sibuk bergeming dengan pikiran masing-masing. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Satya masih terkejut dengan apa yang ditemukannya hari ini. Jordi semakin sibuk dengan rasa penasaran nya.
"Jordi."
"Tuan."
Mereka sama-sama memanggil satu sama lain. Ingin mengatakan apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.
"Apa aku tak salah melihat wanita itu, istri Tuan Roichi. Benarkah itu keponakan Bibi Imah ? Apa... Kamu berpikiran sama dengan ku ?"
"Iya Tuan. Gadis itu memang mirip sekali dengan keponakan Bibi Imah. Belva, bukankah dia sudah meninggal saat itu ?"
"Entahlah. Tapi apakah kamu merasa Bibi Imah menyembunyikan semua ini ?" Tanya Satya.
__ADS_1
"Iya saya rasa seperti itu Tuan."
"Emm... Tuan."
"Ada apa ?"
"Itu... Emm... Apa tuan tadi memperhatikan anak kecil tadi ?"
"Hemm ya kenapa ?"
"Emm maaf sebelumnya tuan jika saya lancang. Saya hanya merasa..."
"Sebentar Jordi. Ada telepon."
"Iya Tuan." Jordi masih ragu antara ingin mengatakan nya atau tidak.
"Ada apa Jordi ? Kamu tadi ingin mengatakan apa ?" Tanya Satya.
"Sebenarnya ini hanya perasaan saya saja Tuan. Saya takut anda akan marah jika saya mengatakannya."
"Katakan saja cepat." Ucap Satya. Pria itu memang tak suka berbasa-basi.
"Saya perhatikan anak laki-laki itu terlihat mirip dengan anda Tuan."
Kening Satya mengerut saat mendengarkan ucapan asistennya. Mirip ? Bagaimana bisa mirip sedangkan dirinya tak memiliki hubungan apapun pada anak itu pikir Satya.
"Jangan ngawur kamu Jordi. Mereka bukan bagian dari keluargaku mana mungkin mirip."
Jordi hanya terdiam saat Satya merasa mengatakan itu. Meski memang apa yang dilihatnya seperti itu tapi dia tak ingin memaksakan itu pada Satya. Dia akan menyelidiki hal ini sendiri nanti.
"Tapi benar juga kata Tuan. Mereka tak memiliki hubungan kekeluargaan. Tapi bagaimana bisa mereka semirip itu." Batin Jordi.
"Maaf Tuan itu hanya penglihatan saya saja. Tapi sampai sekarang saya penasaran bagaimana ceritanya keponakan Bibi Imah bisa dikabarkan meninggal waktu itu tapi kita baru saja melihat bukan ? Jika wanita tadi bisa jadi keponakan Bibi Imah." Ucap Jordi.
Satya mencoba mengingat kembali masa lalu, sebab dari perginya seorang pembantu mudanya dulu. Hal itu bukan sesuatu yang penting bagi Satya. Baginya semua pekerjaan yang ada di rumahnya itu hanya perlu melakukan tugas mereka sesuai dengan pekerjaan mereka.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor. Satya tak bisa fokus, menurutnya terlalu banyak hal yang tak diketahuinya dengan pasti. Sikapnya yang cuek dan dingin yang hanya mementingkan pekerjaan selama ini.
****
Di rumah minimalis Belva, wanita itu masih termenung akibat pertemuannya yang secara tiba-tiba tanpa diduganya dengan mantan majikannya. Pria yang menjadi ayah kandung dari si kembar.
Kegiatan liburannya kemarin memang sudah ia putuskan untuk tak kalah dengan masalahnya sendiri. Tak perlu takut pada mereka yang mencoba menghancurkan hidupnya. Tapi maaf saja, perasaan dan hatinya tak bisa secepat itu menghilangkan masa kelamnya dulu.
"Vanthe... tenanglah. Mereka sudah pergi." Roichi masuk ke dalam kamar Duo Kay.
"Apa maksud Om ?" Tanya Vanthe mencoba menutupi.
"Tidak usah berpura-pura. Saya tahu kamu tidak nyaman dengan kedatangan Tuan Satya dan asistennya. Wajahmu, sorot matamu semuanya terlihat jelas Vanthe."
"Tidak... Aku hanya terkejut saja dengan pria itu yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Bagaimana jika dia orang jahat ? Lalu kenapa Om tak mengunci pintu tadi." Ucap Belva kesal.
Jika saja Roichi mengunci pintu depan maka pria itu tidak akan bisa masuk begitu saja. Belva merasa kesal kini, kedatangan Satya membuatnya seketika cemas dan gugup.
Sesiap-siapnya seseorang dalam mendengarkan sebuah ledakan. Tak bisa dipungkiri pasti akan ada bagian lain yang tak bisa mendukung kesiapan itu. Pasti tetap akan terkejut juga. Seperti itulah Belva saat ini.
Tapi beruntungnya saat ini ia lebih mudah menetralisir perasaannya agar tak terlalu larut dalam kecemasan seperti hari-hari kemarin.
"Kalaupun memang harus bertemu mereka kembali. Tak masalah Belva, kamu tak salah, ini bukan rencana yang kamu buat, ini bukan keinginanmu. Jadi, bersikaplah biasa saja dan pertahankan apa yang kamu punya saat ini. Kaila dan Kaili adalah harta berhargamu dari apapun, kamu tak boleh lemah lagi." Batin Belva
"Ingat... Ceritakan apapun yang membuatmu tak nyaman. Jangan sampai masalah yang mengendalikan dirimu Vanthe." Pesan Roichi.
Belva mengangguk. "Ya sudah bersiaplah. Kita akan berangkat, si kembar pasti akan terus menangis tanpa henti jika kita tidak jadi pergi." Ucap Roichi.
Bermain dan jalan-jalan adalah kegiatan rutin yang mereka lakukan saat Roichi menyambangi rumah minimalis itu. Tentu hal itu adalah keinginan si kembar. Dan pria itu tak akan mampu untuk menolak.
Kali ini Roichi tak menyetir sendiri melainkan menggunakan sopir yang biasa mengantar jemputnya ketika berada di Jakarta. Kaili dia tak duduk dibelakang karena lebih memilih duduk di pangkuan Roichi yang tengah duduk di samping sopir.
Sampai di pusat perbelanjaan besar itu, tujuan pertama pasti Timezone. Arena bermain yang menjadi langganan si kembar. Mereka seakan tak pernah bosan datang ke tempat itu. Karcis-karcis yang harus mereka kumpulkan sebanyak-banyaknya itu lah yang membuat mereka merasa bersemangat dan ingin mencoba lagi dan lagi. Hingga akhirnya bisa ditukarkan dengan hadiah.
"Yeeaayy... Dapat boneka lagi." Ucap Kaila dengan riang.
"Kaila... Kaila... Lihat ini aku dapat jam, ini kalau di tekan lampunya bisa nyala loh." Ucap Kaili tak kalah riang.
Mereka berdua sibuk mengamati hadiah yang mereka dapat dan bertukar cerita tentang permainan yang baru saja mereka coba satu persatu setiap weekend.
"Sayang, kalian mau main lagi ?" Tanya Belva.
"Emm... Aku lapar. Boleh kita makan dulu habis itu jalan-jalan lagi ?" Ujar Kaili.
"Boleh dong sayang. Ayo kita makan. Sebentar lagi juga kayaknya aunty Bella bakal menyusul kita."
"Bella menyusul kesini ?" Tanya Roichi.
"Iya Om. Dia tadi bilang sedang bertemu dengan temannya di mall ini juga. Kita makan sama-sama sekalian ya."
"Oke. Kita tunggu sambil cari tempat makan." Ucap Roichi.
Sampailah mereka di restoran cepat saji. Tempat makan usulan dari Duo Kay. Dua orang dewasa itu hanya menurut saja. Mencari tempat duduk yang kosong yang bisa dipakai untuk lebih dari empat orang karena akan ada Bella nanti.
Tempat yang cukup ramai, karena weekend biasanya akan lebih banyak orang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan menyegarkan pikiran dari padatnya aktivitas serta pekerjaan di hari biasa.
Tak lama pelayanan datang untuk mengantarkan pesanan mereka bersamaan dengan datangnya Bella. Gadis cantik itu masih saja terlihat bersemangat meski sudah lelah seharian bekerja.
"Hai kak... Maaf lama ya ?" Sapa Bella.
"Hai Bel... Tidak juga kami baru saja sampai. Mau pesan apa mumpung ada Mbak pelayanan di sini." Ucap Belva.
Bella memesan makanan yang sama dengan Belva. Malas untuk membuka buku menu, melihat makanan yang dipesan Belva saja sudah menggugah selera makannya.
"Vanthe saja yang kamu sapa ?" Ucap Roichi.
"Astaga Ayah... Ingin sekali ya aku sapa. Hei Ayah." Ucap Belva dengan malas.
Roichi hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aunty lihat aku tadi dapat boneka." Pamer Kaila.
"Ini aku juga." Kaili mengulurkan lengannya.
"Wah kalian dapat hadiah dari mana ?" Tanya Bella.
"Dari Timezone aunty." Jawab Kaila.
Bella mengangguk tersenyum, tangannya mengacak gemas Kaila dan Kaili. Mereka belum juga makan karena masih menunggu pesanan Bella. Tapi berbeda dengan Kaila yang langsung memakan makanannya. Melihat Kaila makan Kaili juga ikut menikmati pesanannya. Hingga pesanan Bella datang barulah orang-orang dewasa itu makan bersama.
"Om... Bella... Aku ke toilet dulu ya. Dari tadi nahan pipis." Ucap Belva tanpa malu-malu.
"Iya kak..." Jawab Bella. Roichi hanya mengangguk.
"Sebentar ya sayang, Mami ke toilet sebentar." Pamitan Belva hanya diangguki Duo Kay yang sedang sibuk makan.
Memang sedari tadi Belva sudah menahan panggilan alam itu. Setelah menghabiskan makanan Belva menuju toilet. Tapi sayang tempat makan cepat saji itu penuh dan mengantri. Sudah tak tahan lagi, ia memilih keluar dari tempat itu menuju ke tempat terdekat.
__ADS_1
"Huufft... Lega." Gumam Belva.
Wanita cantik itu merapikan diri di depan cermin, memastikan pula tak ada sisa makanan yang menempel di sekitar mulutnya. Dirasa cukup Belva meninggalkan toilet yang masih ada beberapa orang wanita di dalamnya.
"Aaaooww... !!" Pekik Belva.
Terkejut dan juga sakit yang Belva rasakan. Bagaimana tidak jika tiba-tiba saja rambut panjangnya di tarik begitu saja oleh orang yang tak diketahuinya.
Tarikan itu terasa sangat sakit, matanya mencoba menoleh siapa pelaku kekerasan itu. Alya... Dia adalah Alya yang menjambak rambut Belva dengan begitu kasar hingga kepala ibu muda itu terasa berdenyut.
"Alya lepas...!! Alya...!!"
Teriakan Belva yang terdengar menahan sakit itu tak juga dihiraukan oleh Alya. Bahkan beberapa orang wanita yang ada di dalam toilet mereka keluar melihat apa yang sedang terjadi. Mereka terkejut melihat keributan itu, beberapa dari mereka mencoba melerai tapi Alya menendang bahkan mendorong mereka dengan kasar. Bahkan pergerakan Alya membuat Belva merasakan kesakitan.
Pasrah, tak bisa menolong wanita cantik yang tengah dijambak rambutnya itu. Mereka tak ingin ikut terkena kekerasan dari Alya.
"Perempuan kampung. Harusnya kamu tidak berada di tempat ini. Melihat wajahmu yang terus tersenyum itu aku muak." Ucap Alya dengan sedikit berbisik pada Belva.
Tak tahan dengan rasa sakitnya. Belva, ia tak ingin menjadi wanita lemah lagi. Rambutnya, kepalanya itu adalah miliknya. Tidak ada yang boleh menyakiti dirinya lagi. Sudah cukup perbuatan Alya selama ini.
"Aaakkhh...!!" Teriak Alya saat Belva mencakar wajah Alya.
Bahkan cakaran itu tak terlepas dari wajah Alya. Belva mencengkram kuat cakarannya. Ia tah perduli bagaimana kesakitan Alya saat ini, hingga cengkraman Alya pada rambutnya terlepas barulah Belva melepas cakarannya.
Wajah mulus itu sudah memerah bahkan mengeluarkan darah. Alya meringis kesakitan dan juga marah pada Belva.
"Perempuan kampung !!! Perempuan kurang ajar !! Berani kamu melukai wajahku." Alya geram.
Tangannya kembali akan membalas perbuatan Belva. Tapi dengan cepat Belva menangkis dan mendorong Alya beberapa kali hingga membentur tembok.
"Jangan pernah tangan kotormu itu berani menyentuhku lagi perempuan iblis. Sekali kamu menyentuhku, dua kali aku membalas menyentuhmu." Ucap Belva.
Belva dengan mencekik leher Alya dengan kuat. Disalurkannya rasa kesal, kecewa dan marahnya selama ini. Semua perasaan itu timbul saat mengingat apa yang telah dilakukan Alya padanya dulu hingga hidupnya berubah seperti sekarang ini. Kepedihan dan kehancurannya dulu teringat dengan sangat jelas, membuat cekikan itu semakin kuat.
Belva wanita yang lembut dan sopan itu kini berubah bak monster saat dihadapan Alya. Bayangan dirinya beberapa waktu lalu yang telah diperlakukan kasar serta dipermalukan dihadapan orang juga turut menjadi penyebab berubahnya Belva.
Ia sudah berjanji, bahwa tidak akan lagi menjadi wanita lemah. Jika Alya berani menyentuhnya maka ia akan membalasnya. Mata dibalas mata, tangan dibalas tangan. Seperti itulah kini prinsip Belva.
Beberapa wanita yang ada di sana panik saat Belva mencekik leher Alya hingga wajah Alya memerah. Satu dari mereka mencoba menarik Belva hingga tangan itu terlepas dari leher putih Alya yang telah berubah menjadi merah.
"Nona, anda bisa membunuhnya." Ucap wanita yang tak dikenal itu.
Belva hanya diam tak menanggapi. Matanya menatap tajam penuh kebencian pada Alya. Alya sudah sesak napas hingga terbatuk-batuk. Wajahnya pun meringis merasakan kesakitan yang mungkin lebih sakit dari jambakan yang diberikannya pada Belva.
Alya dapat melihat tatapan mata Belva padanya. Tatapan yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Seketika nyali Alya menciut saat itu.
"Alya... Kamu kenapa sayang ?" Sonia panik saat melihat wajah putrinya yang sudah kacau. Wajah penuh luka, ekspresi meringis dan Alya sibuk memegang lehernya yang terasa sakit.
Arah mata Sonia menangkap kehadiran Belva. Merasa lebih aman karena Sonia berada di sana maka Alya mengadu pada Mommy nya.
"Perempuan kam-pung i-tu melu-kaiku." Ucap Alya terbata-bata akibat tenggorokannya terasa sakit.
"Wanita ****** !! Berani kamu melukai putriku huh ?" Bentak Sonia.
Belva menatap Sonia yang tengah menatapnya tajam. Wajah itu terlihat sangat marah dan menyeramkan. Tapi kini wajah Belva berubah saat menatap Sonia. Tak ada wajah yang mengekspresikan kemarahan yang menggebu-gebu seperti tadi. Ekspresi itu berubah, berubah menjadi datar tapi tatapan mata indahnya tetap tajam mengarah pada Sonia.
Sonia hendak menampar wajah Belva, tangan itu telah melayang. Sonia seakan sangat ringan sekali mengayunkan tangannya untuk kesekian kali pada Belva.
Sayang, Belva kali ini benar-benar tak mau kalah dengan dua wanita jelmaan iblis itu. Tangan itu mampu ditangkap oleh Belva dan dihempaskan dengar kasar. Tak rela jika wajahnya kembali mendapatkan tamparan oleh Sonia.
"Berani kamu padaku perempuan ****** ?!! Wanita tidak tahu diri, wanita penggoda !!"
Belva tersenyum sinis. "Ya jika aku perempuan ****** lalu anda apa ? Penjual gorengan yang harus menawarkan paha atau dada pada pembelinya begitu ?"
Ucapan yang tak mampu ditelaah oleh Sonia tapi beberapa orang disana paham akan makna yang diucapkan oleh Belva. Mereka tersenyum saat Belva mengatakan hal itu.
"Apa maksud mu perempuan kampung ?!"
"Nyonya yang terhormat, berasal dari golongan atas. Lihatlah sekeliling mu mereka lebih pintar untuk mengerti kata-kata ku." Ucap Belva sinis.
Kata-kata Belva mengisyaratkan jika Sonia adalah wanita yang bodoh. Sonia memandang sekeliling, banyak dari mereka yang tersenyum saat itu. Dada Sonia bergemuruh apa maksud dari perempuan yang ada dihadapannya.
"Lihatlah penampilan anda Nyonya. Bukankah seorang ****** juga berpenampilan seperti ini untuk mendapatkan mangsanya. Benar begitu bukan ?"
"Jadi, berkacalah sebentar sebelum kata-kata itu keluar dari mulut kotor anda Nyonya."
Tiba-tiba terdengar kekehan dari beberapa orang di sekelilingnya yang tengah menyaksikan pertikaian mereka. Semakin panas saja hati Sonia. Amarahnya sudah tak terbendung lagi, ia merasa dipermalukan oleh anak kecil seperti Belva.
"Kamu beraninya mempermalukanku seperti ini. Wanita penggoda !!"
Sonia mendorong Belva hingga wanita itu terjatuh dilantai dengan membabi buta Sonia berusaha melukai Belva. Tapi ibu dari Duo Kay itu tetap mempertahankan diri, dengan cepat berdiri tapi terpojokkan oleh Sonia hingga dinding toilet hingga tak bisa lagi mundur. Sonia berteriak mengeluarkan umpatan dan juga memaki Belva. Susah payah Belva mempertahankan diri. Hingga satu suara memisahkan mereka. Sonia ditarik oleh dua satpam.
"Hentikan ini." Suara bariton itu terdengar bersamaan dengan dua satpam menarik Sonia.
"Lepaskan aku... Biar kubunuh wanita ****** itu. Wanita penggoda sepertimu tak pantas hidup." Teriak Sonia.
"Seperti inikah sikap Anda nyonya ?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Roichi.
Sonia baru sadar dan menghadap ke arah Roichi. Tak asing dengan wajah Roichi. Ia terdiam menatap lekat wajah itu.
"Lupa dengan saya Nyonya. Perkenalkan saya rekan kerja suami Anda yang saat itu sedang terburu-buru untuk menolong istriku yang tengah pingsan." Ucap Roichi sedikit panjang guna mengingatkan pertemuannya dengan Sonia dan Satya beberapa waktu lalu.
Mata Sonia membulat, ia ingat pria itu memang rekan kerja suaminya. Wajah Sonia yang semula garang telah berubah pias.
Roichi menarik Belva untuk lebih dekat dengannya. Merapikan rambut Belva yang berantakan. "Kamu tak apa-apa ?" Tanya Roichi. Belva hanya diam tak menjawab ia masih berusaha mengendalikan perasaannya yang kacau.
"Apakah permasalahan ini harus terdengar sampai telinga suami anda Nyonya ?? Tanyakan pada suamimu siapa wanita yang telah berusaha Anda lukai ini." Ucap Roichi.
"Jika dia tak melukai putriku maka aku tak akan membalasnya. Wanita penggoda seperti dia pasti sudah mencuci otak suamiku pastilah suamiku akan membelanya." Ucap Sonia yang masih berani menjawab ucapan Roichi.
"Sayang, benarkah kamu melukai putrinya ?" Tanya Roichi pada Belva.
"Iya... Jika dia tak melukaiku terlebih dulu tentu aku tak akan melukainya. Apa aku salah mempertahankan diriku ? Lebih baik aku membunuhnya lebih dulu daripada aku yang terbunuh." Ucap Belva dengan santai meski perasaannya masih saja kacau.
"Anda dengar Nyonya ? Aku tahu wanita cantik di sampingku ini bukanlah wanita jahat dan licik."
"Anda yakin ibu dari anak-anakku ini adalah wanita yang menggoda suamimu ?" Tantang Roichi.
Kembali Sonia terkejut tapi tak terlihat oleh mereka. Tak menyangka jika mantan pembantunya itu adalah istri dari rekan kerja suaminya. Kini ia pun semakin cemas sudah dua kali ia mendapatkan ancaman justru ancaman itu dari orang-orang terdekatnya suaminya. Mereka yang tak terlibat dengan masalahnya dengan Belva justru ternyata menjadi senjata yang siap melukainya.
Alya pun sama terkejutnya, tapi gadis itu sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tubuhnya terlalu lemas saat ini, ditambah rasa perih di bagian wajahnya. Akan terasa lebih sakit jika ia banyak berbicara.
Suasana yang tampak mencekam dan menegangkan itu kini perlahan memudar saat Sonia dan juga Alya dibawa oleh dua satpam pusat perbelanjaan. Beberapa orang sakit yang bersedia memberikan keterangan diminta untuk ikut. Bella dan Roichi pun mereka melangkah mengikuti satpam yang menggiring Sonia dan Alya. Beberapa pengunjung yang tadi menonton mulai membubarkan diri.
****
ππππππππππππππππ
Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. βΊοΈ
Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. βΊοΈπ€²π
________________________________________________
__ADS_1
...Bonus satu bab untuk hari ini buat my dear yang masih pada setia buat support. Semoga tetap berkenan ya untuk terus membaca....
________________________________________________