Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 132. Diduga Orang Ketiga


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, Belva sudah bangun sejak subuh seperti biasa membantu para asisten rumah tangga di rumah Tuan Hector memasak sarapan untuk mereka. Selesai dengan kegiatan itu Belva kembali ke kamar untuk membersihkan diri, ia teringat jika dirinya tadi malam tak tidur bersama sang suami tapi pikirannya juga kembali mengingat jika mereka sedang bermasalah. Pikir Belva pasti Satya sedang tidur di kamar anak-anak mereka.


Belva berniat membangunkan Duo Kay dan mempersiapkan mereka untuk sekolah pagi ini. Tentu dengan memasang sikap cuek memasuki kamar Duo Kay karena pikir Belva suaminya tertidur di dalam kamar Kaili dan Kaila.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, pasangan mata Belva tertuju pada ranjang milik anaknya. Kedua bocah itu masih tertidur berdua saja tanpa ada orang lain lagi.


"Loh kok cuma berdua? Bapaknya kemana?" Gumam Belva sangat lirih.


Di edarkan kembali pandangan nya ke seluruh kamar anaknya tetap tak menemukan sosok suaminya. Perlahan langkahnya memasuki kamar mendekat lebih dalam. Pendengaran nya ia pasang baik-baik barangkali Satya berada di dalam kamar mandi tapi tak terdengar suara seseorang sedang menggunakan kamar mandi. Dengan yakin dibukanya pintu kamar mandi yang ternyata benar-benar kosong.


"Kemana dia?" Gumam Belva kembali.


Setelah penasaran mencari keberadaan suaminya, ia kembali tersadar.


"Ck... Kenapa harus mencarinya, pasti juga pergi ke perempuan itu kan ada kesempatan buat bebas." Gerutu Belva dengan hati yang kesal.


Belva lalu kembali pada niatnya membangunkan anak-anaknya. Ia kembali berjalan mendekati ranjang Duo Kay.


"Sayang, ayo bangun sudah pagi kita harus siap-siap ke sekolah."


Secara bergantian Belva membangunkan si kembar. Hanya ada geliatan dari kedua bocah itu seperti biasa saat dibangunkan.


"Sayang ayo dong bangun. Jangan malas, hari ini ada kelas modeling saja setelah itu kalian pulang lebih awal."


Mendengar kata pulang lebih awal Kaila langsung tergugah. Gadis kecil itu membuka matanya dengan cepat dan menghadapkan wajahnya ke arah Maminya.


"Benar Mi kita pulang cepat sekolahnya?"


Belva tersenyum, "Iya sayang, Miss kalian sedang ada rapat bulanan jadi kalian diperbolehkan untuk pulang lebih awal."


"Oke Mi, Kaila bangun. Tapi nanti habis pulang sekolah kita jalan-jalan ya, Mi." Pinta Kaila.


"Iya, nanti setelah Mami jemput kalian kita langsung jalan-jalan."


"Tapi sama Daddy juga maunya." Rengek Kaila.


Belva menghela napas, malas harus pergi bersama suaminya itu. Ia masih belum merasa nyaman untuk berdekatan dengan sang suami.


"Sudah yang penting kalian ayo siap-siap dulu. Keburu terlambat, ayo."


"Kak, ayo bangun." Belva kembali membangunkan putranya yang masih tertidur pulas.


"Aaa Mami, kaili masih mengantuk."


"Nanti terlambat sayang, Kaila saja sudah bangun, ayo."


"Mami, aku mandi lebih dulu saja biar kaili tidur biar dia terlambat nanti kita tidak ajak dia jalan-jalan." Ucap Kaila dengan pikirannya.


Kaila menarik-narik tangan Maminya, terpaksa Belva menuruti putrinya. Kaila dimandikan lebih dulu setelah itu baru Belva membangunkan putranya. Kaili tentu saja bangun karena Kaila sudah selesai mandi dan berdiri di atas ranjang sembari meloncat-loncat seakan dirinya tengah bermain di atas trampolin.


Ibu dan anak itu telah selesai mempersiapkan diri untuk berangkat memulai aktivitas mereka. Di meja makan mereka berkumpul untuk makan bersama terasa sepi karena hanya ada Belva dan juga kedua anaknya saja. Satya sang suami tak tampak batang hidungnya.


"Sayang, kalian makan dulu, Mami mau siapkan bekal untuk kalian dulu di dapur. Jangan aneh-aneh, makan dengan benar."


"Oke Mi." Ucap Kaili.


"Iya Mami." Ucap Kaila.


Belva berjalan menuju dapur yang disana masih ada para asisten rumah tangga Tuan Hector.


"Selamat pagi Nona muda." Ucap Bi Marni.


"Selamat pagi Bi, Bi lihat Tuan Satya?" Tanya Belva.


"Tuan? Maaf Nyonya pagi ini saya tidak melihat. Tapi sepertinya tadi malam Tuan pergi."


"Pergi?" Kening Belva mengkerut.


"Iya Nyonya tadi tengah malam Tuan keluar rumah saat saya mau cek pintu."


Belva mengangguk dan tak lagi membalas percakapan tersebut. Tak tahu lagi apa yang dirasakannya, rasa kesal, marah dan kecewa masih ada. Wanita muda itu lalu melanjutkan niatnya untuk menyiapkan bekal untuk kedua buah hatinya. Ia tak lagi mencari sang suami, akibat rasa kesalnya ia tak perduli suaminya pergi kemana.


***


Di rumah minimalis namun tetap terlihat mewah dan elegan itu pasangan suami istri Jack dan Noella tengah beradu mulut. Akibat pengakuan Alya atas kehamilan wanita itu.


"Honey... Aku bahkan tidak yakin jika itu anakku."


"Jack, Alya bukan wanita yang sembarangan tidur dengan pria bahkan selama aku berteman dengannya kamu orang pertama yang menjadi kekasihnya."


"Tapi saat pertama kali aku melakukan itu dengannya dia sudah tak suci lagi, tidak ada ciri-ciri yang biasa aku dapatkan saat meniduri seorang gadis." Jack selalu membela diri meyakini bahwa anak Alya bukanlah hasil dari hubungannya dengan Alya.


"Jack, kamu jangan jadi pria bodoh. Kamu mau mengatakan jika Alya sudah tak perawan lagi saat kamu menidurinya? Apa dengan mengeluarkan darah baru bisa kamu sebut dengan perawan?" Ucap Noella marah.


"Tapi seperti itu kenyataannya, beberapa gadis yang masih original mereka selalu seperti itu sedangkan Alya tidak!!"


"Oh astaga mengap aku menikahi pria bodoh seperti dia." Ucap Noella merasa kesal dengan suaminya.


"Jack, gadis perawan itu tidak selalu dicirikan dengan seperti itu. Alya pernah mengalami kecelakaan saat belajar berkuda. Dan aku yakin anak Alya adalah anakmu. Dia sudah lahir jadi kita akan melakukan tes DNA terhadap anak itu."


"Oke, kita tes DNA. Aku yakin anak itu bukan anakku." Jack masih tetap bersikekeh menolak darah dagingnya.


Sebelum bukti nyata dari pihak medis keluar maka Jack akan tetap pada pendiriannya tak mempercayai bayi Alya yang terlahir prematur.


Jack dan Noella tengah beradu mulut saat kedua orang tua mereka datang berkunjung. Pintu terdengar berbunyi hingga mengurai perdebatan mereka. Noella langsung membuka pintu rumah sedangkan Jack masih duduk di sofa menyugar rambutnya merasa stress dengan keadaannya saat ini.


"Tidak mungkin bayi itu anakku." Gumam Jack.


"Jack, ada apa? Kamu seperti sedang tak baik-baik saja." Ujar ibu mertua Jack.


Jack terkejut dan langsung mendongak ke arah mertuanya.


"Mama..." Panggil Jack.


"Kamu sakit? Atau sedang ada masalah?" Tanya ibu mertuanya yang tak lain adalah Mama Noella.


Jack melirik Noella sejenak, "Ti...dak Ma. Mama dan Mama Dona mau pergi bersama Noe?"


"Rencana nya begitu, kami mau pergi jalan-jalan bersama biasa kita mau ke salon." Ucap Mama Jack.


"Kamu di rumah saja atau mau ikut bergabung dengan Papa-Papa mu mereka mau pergi memancing." Ucap Mama Noella bernama Dona.

__ADS_1


"Aku di rumah saja, aku merasa sedikit lelah." Ucap Jack.


Perasaan dan pikiran nya masih kacau jadi pria itu merasa tidak bersemangat dalam melakukan segala hal.


"Ma, aku siap-siap dulu ya." Ujar Noella.


Mama Noella dan Mama Jack mengangguk dan tersenyum untuk menanggapi Noella. Tak butuh waktu lama Noella telah selesai bersiap, ia hanya butuh berganti pakaian saja dan mengambil tas nya.


"Sayang, aku pergi dulu dengan Mama." Pamit Noella, ia bersikap biasa saja terhadap suaminya agar permasalahan mereka tak tercium oleh kedua orang tua mereka.


Akan menjadi lebih rumit jika kedua orang tua Jack dan Noella mengetahui permasalahan ini. Ini sungguh permasalahan yang besar dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Noella berusahalah bersikap tenang dalam menghadapi permasalahan besar ini agar rumah tangganya tak hancur begitu saja. Gagal dalam berumah tangga bukanlah impian setiap pasangan suami istri termasuk Noella dan Jack.


Jack tersenyum canggung, ada beban yang sedikit terlihat di wajah pria itu.


"Hati-hati honey. Mama dan Mama Dona juga kalian berhati-hati lah. Jika terjadi apa-apa atau butuh bantuan hubungi saja Jack." Ujar Jack.


"Baiklah kami pergi." Ujar Mama Jack.


Noella melirik suaminya sejenak tanpa ada senyum untuk Jack. Ia berlalu bersama Mama dan Mama mertuanya keluar rumah. Ayah dan Ayah mertua Jack sebenarnya sudah datang dan sampai di rumah Jack hanya saja mereka belum masuk karena masih sibuk di samping rumah mempersiapkan barang bawaan mereka untuk memancing.


***


Hari-hari berlalu permasalahan rumah tangga Satya dan Belva masih belum terselesaikan hingga hampir satu minggu lamanya. Belva masih tetap tinggal di rumah Tuan Hector, ia tak mau kembali ke rumah Satya karena masih merasa nyaman di rumah orang tua angkatnya. Hatinya masih belum bisa menerima kecurangan Satya yang dilihatnya secara langsung.


Permintaan Kaila untuk jalan-jalan bersama Daddy nya pun tak dapat dilakukan karena Belva beralasan jika Daddy mereka sedang sibuk dan berada di luar kota. Selama hampir satu minggu itu pula Satya tak menemui istrinya hanya mengirim pesan saja tapi Belva tak membalas satu pesan pun dari Satya.


Hari ini Belva sedang melakukan pertemuan dengan Nona Azura guna membahas gaun pengangguran yang sedang dikerjakan oleh butik Belva. Gaun pesanan milik putri Nyonya Dimitri itu rupanya sudah selesai.


"Oh iya bagaimana gaun Bridesmaids yang ku pesan?" Tanya Nona Azura.


"Untuk gaun Bridesmaids baru saja akan kita proses, sketsa belum seluruh nya jadi." Ucap Belva.


"Aku ingin melihat sketsa yang sudah jadi apa bisa?"


"Tentu saja Nona, mari ikut dengan saya ke ruangan saya." Ajak Belva.


Kedua wanita cantik itu naik ke lantai dua butik Evankay. Kaila dan Kaili berada di dalam ruangan khusus milik Belva seperti biasa jika mereka selesai bersekolah.


"Silahkan duduk, Nona." Ucap Belva dengan ramah.


"Hai... Kita bertemu kembali." Ucap nona Azura yang melihat Kaila dan Kaili di dalam ruangan yang baru saja dimasukinya.


"Hai aunty." Sapa Kaila melambaikan tangan.


Kaili hanya menatap dengan wajah biasa-biasa saja tanpa menjawab sapaan Nona Azura. Hal biasa bagi pria kecil itu jika tak terlalu mengenai orang lain.


Belva berjalan ke arah mejanya mengambil sketsa gaun Bridesmaids milik Azura yang sudah jadi.


"Ini Nona sketsa yang sudah jadi. Sisanya masih dalam proses." Belva menunjuk dua lembar kertas bergambar pada Nona Azura lalu beralih menunjukkan sisa sketsa yang baru dalam proses penggambaran oleh Kaila.


"Dia yang menggambarkan desain gaun Bridesmaids untukku?" Tanya Nona Azura.


"Iya putriku Kaila membantu dalam beberapa pembuatan desain gaun di butik ini."


Mulut Nona Azura sedikit menganga, ia sedikit terkejut rupanya apa yang pernah Mamanya katakan saat itu mengenai gadis kecil Belva itu benar adanya.


"Jujur aku terkejut, Nona. Meski aku pernah mendengar Mama pernah bercerita padaku tapi baru kali ini aku benar-benar melihatnya secara langsung. Putrimu sungguh luar biasa, dia masih kecil tapi memiliki kemampuan yang sama dengan orang dewasa."


"Terimakasih, Nona. Kaila juga masih belajar beberapa hal masih belum dia ketahui." Ujar Belva.


"Anda terlalu memuji, saya merasa sungkan, Nona."


Nona Azura hanya membalas dengan senyuman, ini adalah kejutan untuk nya. Acara pernikahan nya ternyata juga dihandel oleh seorang bocah kecil sungguh hal yang sangat langka sekali.


Kaila sibuk menggoreskan pensil nya di atas kertas saat Maminya berbincang dengan Nona Azura. Merasa tertarik dengan gadis kecil itu maka Nona Azura mendekati Kaila. Sungguh nyata Nona Azura menyaksikan sendiri kelihaian seorang gadis kecil nan cantik sedang menggambarkan sebuah gaun yang terlihat cantik di atas kertas tersebut.


"Kaila, ini bagus sekali sangat cantik, sayang."


"Terimakasih aunty. Ini milik aunty kan? Mami bilang aunty akan menikah dan ini untuk gadis-gadis yang mengiringi aunty." Kaila tersenyum manis pada Nona Azura.


"Iya sayang, kamu pintar sekali. Aunty senang pasti nanti gaun untuk teman-teman aunty ini hasilnya akan cantik sekali."


"Tentu saja karena Kaila yang gambar dan Mami yang jahit bajunya." Ucap Kaila dengan percaya diri.


Kaili sedari tadi hanya diam saja, tak menanggapi dan tak menyimak pembicaraan para perempuan yang ada di sekitarnya. Pria kecil itu terlalu sibuk dengan hobi nya menggambar sebuah bangunan, banyak sekali koleksi gambar bangunan yang sudah di selesaikan oleh anak laki-laki itu. Disela-sela waktu luang aktivitasnya dia selalu mengisinya dengan menggambar dan menggambar. Bila bosan dia hanya akan bermain Lego menyusun benda-benda kecil beraneka warna dan ukuran serta bentuk itu hingga menjadi sebuah bangunan ataupun bentuk-bentuk yang lain.


"Nona, gaun anda sudah bisa dicoba apa anda tidak ingin mencobanya?"


"Benarkah? Aku sangat ingin mencobanya. Dimana gaun itu?"


"Mari ikut saya, gaun masih berada di ruang produksi bawah."


"Oke kita ke bawah." Ujar Nona Azura.


"Cantik, aku dan Mommy mu ke bawah dulu untuk mencoba gaun milikku." Pamit Nona Azura.


"Sayang, Mami tinggal sebentar ya." Pamit Belva.


"Iya Mami." Jawab Kaila.


"Kak, Mami ke bawah jangan berantem ya dengan Kaila." Pamit Belva pada putranya yang terlihat sibuk sendiri.


"Oke Mi." Jawab Kaili.


Belva dan Nona Azura keluar dari ruangan khusus milik Belva. Mereka turun ke lantai satu.


"Apa mereka sering berantem?" Tanya Nona Azura.


Belva tersenyum, "Kadang kala seperti itu, maklum masih anak-anak terkadang dari mereka ada yang tidak mau mengalah."


"Ah itu sangat wajar untuk anak-anak. Aku sangat berharap besok akan memiliki anak-anak yang lucu, tampan atau cantik dan pintar seperti anak-anak mu."


"Tentu saja itu bisa anda dapatkan. Anda sudah cantik Nona tentu saja anakmu nanti juga akan cantik seperti mu." Ujar Belva.


Merek masih terus berbincang data menuruni tangga hingga sampai di ruang produksi. Ternyata gaun milik Nona Azura sudah dipindahkan bke ruangan khusus dimana beberapa gaun eksklusif di simpan pada beberapa manekin. Ruangan kaca dengan beberapa manekin berselimut gaun-gaun cantik hasil rancangan Belva dan Kaila.


Melihat gaun pengantin itu terpasang di manekin saja sudah terlihat sangat cantik dan indah. Manik mata Nona Azura langsung berbinar bahagia, ia berjalan mendekat gaun itu, menyentuh dan memutari gaun itu dengan perasaan bahagianya.


"Ini canti sekali. Aku mau mencobanya, aku sudah tidak sabar."


"Anda bisa mencobanya sekarang, Nona."


Nona Azura mengangguk antusias.

__ADS_1


"Anggi minta tolong bantu Nona Azura memakai gaunnya." Titah Belva pada salah satu karyawan yang mengikutinya masuk ke dalam ruangan kaca tersebut.


"Baik Nona. Mari Nona Azura saya bantu."


"Terimakasih, Nona." Ucap Nona Azura pada Anggi dengan sopan dan ramah.


Dengan telaten dan sabar Anggi membantu Nona Azura memakai gaun tersebut. Gaun itu berbentuk lebar dan besar mengembang dengan warna putih yang cantik disertai dengan beberapa hiasan yang mewah dan mahal. Batu-batu kristal Swarovski turut mempercantik gaun tersebut.


Saat Belva membantu kliennya tersebut rupanya terdengar suara dering ponsel. Setelah panggilan itu selesai maka Belva terpaksa meninggalkan pekerjaannya untuk keluar sejenak.


"Maaf saya tinggal sebentar, Nona. Anggi akan membantu mu." Pamit Belva pada Nona Azura.


"Tidak apa-apa Nona, maaf merepotkan mu dan Nona Anggi." Ucap Nona Azura.


"Tidak apa ini sudah tugas kami. Anggi saya pergi dulu."


"Baik Nona berhati-hati lah." Ujar Anggi.


Belva berlalu sebelum benar-benar pergi ia berpamitan terlebih dahulu pada kedua anaknya dan juga Bella. Lalu pergi dengan menggunakan mobil miliknya. Menuju suatu tempat yang dimana dirinya sudah ditunggu oleh seseorang.


Sampai ditempat itu Belva langsung turun dari mobil. Manik matanya bergerak kesana-kemari mengamati seluruh tempat yang mampu ia sapu oleh pandangan matanya. Satu orang yang tertangkap sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan saat berada dalam panggilan telepon tadi. Belva mendekati orang tersebut bersamaan dengan orang tersebut yang menoleh ke arah Belva.


"Marko..."


"Belva Evanthe..."


Mereka berdua tertawa secara bersamaan.


"Kamu menjemput ku?" Tanya pria yang bernama Marko itu.


"Tentu saja sesuai ciri-ciri baju yang kamu sebutkan." Belva tertawa.


Marko pun ikut tertawa, "Baiklah kamu benar sekali haha."


"Ayo..." Ajak Belva.


Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil. Beberapa pasang mata menatap mereka karena paras yang cantik dan tampan yang mereka miliki. Bahkan banyak dari mereka yang berbisik bawa keduanya serasi.


"Biar aku saja yang setir mobil." Ucap Marko.


"Kamu tidak hafal dengan jalan di sini biar aku saja." Tolak Belva.


"Kamu meremehkan ku? Tinggal tunjukkan saja jalannya. Aku ini pria mana mungkin membiarkan seorang wanita menyetir sedangkan aku hanya duduk manis saja. Sudah sini kunci mobilnya."


"Baiklah terserah padamu saja. Ini kuncinya." Belva memberikan kunci mobil miliknya pada pria tampan yang usianya tak jauh beda dengannya.


Mereka berdua memasuki mobil, pria itu mengemudikan mobil dengan santai. Keduanya senang bisa bertemu kembali setelah beberapa lama nya tak bertemu.


"Bagaimana kabarmu? Aku tak menyangka kita akhirnya bisa bertemu."


"Kabarku baik, Marko. Bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kamu lihat dan kamu pasti sudah tahu sendiri bukan bagaimana kabarku."


"Yayaya... Aku tahu itu. Kamu terlihat sangat bahagia saat ini." Ujar Belva.


"Tentu saja bahkan kebahagiaan ku bertambah setelah bertemu denganmu. Bagaimana keadaan anak-anak ku?" Tanya Marko melirik Belva.


"Siapa maksudmu?" Belva mengangkat satu alisnya menatap Marko.


"Hahaha wajahmu lucu sekali. Tentu saja anak-anak kembar yang kamu kandung."


Belva memutar bola matanya jengah.


"Mereka sangat baik, tumbuh dengan sehat bahkan tampan dan cantik. Mereka sudah besar."


Marko tersenyum, "Ya pasti cantik seperti mu dan tampan seperti diriku." Ujar Marko dengan percaya diri.


"Putraku lebih tampan dari mu." Ujar Belva mencebik kesal.


"Benarkah jika dia lebih tampan dariku? Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengan mereka."


Mereka terus berbincang, mengobrol dengan hangat seperti yang pernah mereka lakukan dulu. Belum sampai di butik Evankay, Marko menghentikan mobil Belva di sebuah toko bunga. Mereka turun bersama Belva sangat senang melihat bunga-bunga yang berjajar rapi tersusun di toko tersebut. Sangat cantik dan indah dengan berbagai warna dan macam jenis bunga.


"Tolong bungkus yang cantik." Ujar Marko pada penjaga toko bunga tersebut.


"Baik Tuan."


Sudah terbiasanya dan sudha menjadi pekerjaan sehari-hari tentu saja penjaga toko itu dengan mudah menyusun dan mengemas bunga mawar merah beberapa tangkai itu dengan lihai dan dengan hasil yang cantik. Setelah selesai membayar Marko memberikan bunga tersebut pada Belva, keduanya masuk ke dalam mobil kembali dan melanjutkan perjalanan menuju butik Belva.


Tak sengaja Satya melintas di depan toko bunga tersebut setelah betenu dengan kliennya tanpa seorang Jordi. Manik mata Satya membulat sempurna melihat istrinya pergi bersama pria lain dan diberikan bunga oleh pria itu. Senyum pun tampak diwajah belva saat menerima bunga tersebut. Keduanya terlihat berbincang saat berjalan menuju mobil. Entah apa yang mereka bicarakan Satya tak tahu karena dia melihat dari seberang jalan saja.


Rahang Satya mengeras, tangannya mengepal kuat. Umpatan pun keluar dari mulutnya tanpa bisa dikontrol.


"Berengsyek!! Berani sekali kamu berselingkuh dengan pria lain. Apa karena kamu berpikir aku selingkuh jadi kamu mau membalasnya." Gumam Satya kesal di dalam mobil.


Mobil nya yang semula akan berjalan ke arah kantor kini berputar balik mengikuti mobil Belva yang dikendarai oleh pria asing yang tak Satya kenali. Hatinya begitu panas saat melihat sang istri pergi bersama pria lain tanpa diketahui nya dari bibir sang istri. Justru Satya mengetahui dengan tak sengaja hal itu.


Emosi Satya sudah meningkat selama oerjalan mengikuti mobil istrinya. Mobil itu menuju butik Belva. Satya kembali membulatkan matanya tak percaya bawah Belva membawa pria itu ke butik miliknya. Pikiran Satya sudah tak jernih lagi saat ini karena emosi sudah menguasai dirinya. Dia tak rela jika ada pria lain yang mendekati istrinya dan dia pun tak ingin rumah tangganya berakhir hancur karena adanya orang ketiga.


Mobil Belva berhenti tepat di parkiran butik dengan Satya yang juga mengikuti dari arah belakang dan parkir berselang dua mobil dengan mobil Belva karena hanya tempat itu yang kosong.


Belva dam Marko turun secara bersama dari mobil. Belva berjalan dengan masih membawa bunga yang tadi Marko berikan padanya. Pria itu sibuk dengan ponselnya karena akan menghubungi seseorang. Tiba-tiba suara bariton yang terdengar tegas dan penuh kemarahan mengejutkan mereka.


"Belva!!!" Satya memanggil istrinya dengan suara yang terdengar mengandung bahaya.


Belva dan Marko sontak saja langsung menoleh ke arah belakang. Manik mata Belva membulat kala mata Satya memandang Marko dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.


Bugh...


Mulut Belva menganga lebar dengan kelopak mata yang juga melebar akibat terkejut dan panik. Satya dengan cepat langsung memberikan bogem mentah untuk Marko.


"Mas!!! Apa-apaan kamu!!" Bentak Belva.


Bunga yang diberikan Marko di letakkan Belva pada kap mobil nya. Ia berjalan cepat menghampiri Marko yang terhuyung hampir saja ambruk tapi untuk pria itu tersandar pada mobil pengunjung lain yang terparkir disana.


"Kamu yang apa-apaan!! Berani kamu jalan dengan pria ini huh!!" Ucap Satya dengan nada marah. Satya menunjuk dengan hari telunjuknya pada pria yang diduganya menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga nya dengan sang istri.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang

__ADS_1


Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini. Terimakasih buat kalian yang masih bersedia menghargai karya receh ku. Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Terimakasih banyak buat kritik dan saran dari kalian. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia merasa terhibur dengan karya receh author. πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2