
Suasana acara pernikahan sederhana itu masih terasa. Sembari merayakan hari ulang tahun Belva. Sebenarnya Belva tidak ingin dirayakan secara berlebihan tapi mengingat hari ini juga hari pernikahan nya maka menjadi kesempatan untuk menyenangkan anak-anak panti asuhan yang ada di tempat itu.
Hari ini menjadi momen yang membahagiakan bagi wanita itu. Hari kelahiran nya kini menjadi satu dengan hari pernikahan nya. Bisa dikatakan jika pernikahan nya ini menjadi kado istimewa bagi Belva.
Duo Kay sudah lepas dari Satya maupun Belva. Dua anak itu sudah berbaur dengan anak-anak panti. Pasangan pengantin yang menjadi bintang utama di acara ini terlihat sangat cerah. Sejauh ini Satya tak lepas dari Belva, pria itu tetap terus berada di samping istrinya. Menggenggam erat tangan Belva, hingga menghampiri meja yang tersaji banyak makanan pun Satya tetap menemani Belva.
"Mas duduk saja, nanti aku ambilkan makanan." Ucap Belva dengan lembut.
"Tidak, mas tetap mau menemani kamu. Atau lebih baik kamu duduk saja biar mas yang ambilkan makanan untuk mu."
"Aku bisa ambil sendiri mas."
"Tapi kamu terlihat sedikit kesulitan untuk berjalan sayang. Duduklah nanti kamu lelah."
"Tidak apa-apa lah mas, ayo kita ambil makanan. Mas mau makan apa ?"
"Samakan saja sayang. Sini biar mas yang pegang piring nya, kamu yang ambil makanannya. Satu piring berdua saja biar tidak repot."
Belva mengambil beberapa makanan ringan yang tersaji, diantaranya aneka kue dan juga puding serta jajanan pasar. Semua makanan itu disediakan oleh pihak panti yang bersedia membantu mempersiapkan acara pernikahan Satya dan Belva.
Keduanya kembali duduk di kursi. Dengan satu tangan kanan membawa piring dan tangan kirinya menggandeng Belva menuju kursi yang kosong.
Belva mulai makan beberapa makan yang telah di bawa Satya. Seperti nya ia memang kelaparan karena terlihat lahap saat memakan kue. Tapi untuk makan nasi dirinya kurang merasa nyaman entah mengapa.
"Lapar sayang ?"
"Sedikit mas, tadi siang belum sempat makan." Jawab Belva.
"Memang apa yang kamu lakukan tadi siang ?"
"Tidur... Budhe dan Mama bilang aku harus istirahat sejenak agar saat acara ini terlihat lebih fresh."
Satya tak mengetahui itu karena dirinya sejak pagi sibuk ikut mempersiapkan acara ini dibantu oleh Jordi dan juga orang-orang anak buah Tuan Hector.
"Pantas kamu kelaparan. Pelan-pelan makannya nanti kamu tersedak."
"Iyaaa... Mas mau ?" Belva menyodorkan kue nya untuk Satya.
Satya mengambil kue itu dan menyuapkan pada Belva. "Loh kok aku ?" Tanya Belva memundurkan kepalanya.
"Sudah buka mulutmu saja aaa..."
Belva membuka mulutnya, ia menggigit kue itu hingga seperempat. Lalu Satya memakan sisa kue Belva yang ada di tangannya.
Mereka terlihat romantis, beberapa orang memperhatikan mereka. Senyum pun turut terkembang dari bibir mereka.
"Mamiii..." Panggil Kaila yang tengah berlari ke arah Satya dan Belva.
"Ada apa sayang ?" Tanya Belva.
"Sini, ila mau makan kue ?" Ucap Satya.
Pria itu mencium kepala putrinya yang sedikit berkeringat akibat berlarian bersama anak-anak panti. Kaila dan Kaili tampak senang bermain di panti ini.
"Tidak." Tolak Kaila saat Satya menawarkan kue dibarengi dengan gelengan kepala.
"Mami, disini ada Yossy loh." Cerita Kaila pada Maminya.
Kening Belva mengernyit. "Yossy ? Teman sekolah mu sayang ?"
Kaila mengangguk. "Iya, itu main bersama Kaili."
Belva langsung merasa bingung akan kehadiran Yossy di panti ini. Satya langsung menatap Belva, merasa ditatap Belva pun ikut menatap Satya.
"Sayang, apa kamu mengundang dokter itu ?"
"Tidak, aku tak mengundang siapapun. Bahkan Maria pun tidak aku undang di acara ini."
"Kenapa bisa anak kecil itu berada disini ?" Tanya Satya penasaran dan menyelidik.
Belva menghendikan bahunya. Ia pun merasa bingung. Pernah ia mengetahui memang bahwa Yossy anak yatim piatu yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh kedua orang tuanya. Gadis kecil itu hanya diasuh oleh om dan tantenya.
Pikiran Belva menerawang, mengira-ngira apa yang terjadi hingga membuat Yossy bisa berada di tempat ini. Apakah keluarga Yossy memang membawa anak itu ke panti asuhan ini, sekedar berkunjung atau memang diserahkan di panti asuhan.
"Sayang, kenapa melamun ?" Tanya Satya. Menepuk bahu Belva.
"Hah ? Tidak mas." Belva tersadar.
"Kamu memikirkan keberadaan dokter itu ?"
"Tidak, aku hanya bingung saja mengapa Yossy bisa berada di panti ini."
"Memikirkan Yossy sekaligus memikirkan keberadaan dokter itu kan ?" Tatapan Satya berubah sedikit tajam pada Belva.
"Apa sih mas, tidak usah berlebihan. Siapa yang memikirkan dokter Dimas. Jangan merusak suasana ya mas." Belva tak kalah tajam menatap Satya.
Pria itu jika sudah berkaitan dengan pria lain yang terhubung dengan Belva akan menjadi menyebalkan bagi Belva.
"Oke, kita bahas nanti di rumah." Ujar Satya menyudahi perdebatan mengenai keberadaan Yossy.
"Mami... Daddy..." Panggil Kaila.
"Iya sayang." Jawab Satya dan Belva secara bersamaan.
"Aku mau minum." Pinta Kaila.
"Tunggu sebentar, Daddy ambilkan."
"Es krim boleh ?" Tanya Kaila mencoba mencari peluang.
Satya menatap Belva seolah meminta ijin pada istrinya. Dia tahu jika Belva tak sembarangan memberikan ijin kedua anaknya untuk mengkonsumsi es krim.
"Boleh... Tapi makan nya duduk diam disini tidak boleh lari-larian." Putus Belva.
Kaila tersenyum senang, ia duduk diam di samping Belva. Sembari menunggu Daddy nya mengambilkan es krim untuknya, Kaila bercerita banyak hal tentang permainan apa saja yang dia lakukan bersama anak-anak panti tadi. Gadis kecil itu memang lebih banyak berbicaralah daripada Kaili. Sudah sifat sedari kecil, keduanya seakan melengkapi satu sama lain jika Kaili lebih cenderung diam maka Kaila lebih cenderung banyak bicara.
Dari kejauhan Satya memperhatikan anak dan istrinya. Rasa hatinya semakin bahagia tiada terkira. Memiliki keluarga yang utuh dengan keadaan harmonis bersama orang yang dicintainya adalah mimpi Satya selama ini.
Satu tangan membawa es krim dan satu tangan lagi membawa segelas air sirup bercampur dengan es batu di dalamnya. Dia mendekati anak dan istrinya di tempat duduk yang semula.
"Ini sayang es krim milik mu." Ucap Satya menyodorkan satu cup berisi es krim rasa strawberry kesukaan Kaila.
"Terima kasih Daddy." Ucap Kaila tersenyum manis.
__ADS_1
"Sama-sama sayang." Satya mengusap kepala Kaila.
"Ini untuk mu sayang." Satya menyodorkan satu gelas berisi air sirup merah.
"Oh terima kasih mas." Belva tersenyum.
Ia senang dan bersyukur Satya begitu perhatian pada dirinya dan anak-anak. Tidak bisa diucapkan bagaimana rasa bahagia Belva saat ini.
Dalam acara bahagia itu silih berganti penghuni panti mengucapkan selamat pada sang pengantin. Doa baik pun mereka terima dari mereka yang mengucapkan selamat pada Satya dan Belva.
Di sudut lain panti asuhan, beberapa bocah kecil bermain bersama termasuk Kaili. Mereka bermain rumah-rumahan dengan masing-masing anak menggunakan nama samaran ala imajinasi mereka.
"Panggil aku Aurora." Ucap anak berambut kepang dua dengan nama asli Mia.
"Oke kalau aku mau pakai nama Bianca saja." Ucap gadis kecil berambut keriting.
"Kamu nama pura-pura mu siapa ?" Tanya Mia pada gadis kecil yang cantik dengan senyum manis dan lesung pipi.
"Yessy saja." Ucapnya.
"Kok pakai nama itu sih kamu." Protes Mia.
"Tidak apa-apa, aku suka sama nama Yessy. Jika tidak boleh aku tidak ikut main." Ucap gadis itu tersenyum.
"Nama Yessy juga bagus kok." Ucap Kaili. Dia tidak ingin temannya itu tidak jadi ikut bermain bersama mereka.
"Iya... Tidak apa-apa yang penting kita tetap main bersama. Kalau aku mau pakai nama Alberto." Ucap pria kecil yang usianya lebih tua dari Kaili dan anak-anak yang lain.
"Kalau kamu mau pakai nama apan ?" Tanya pria kecil yang mengaku sebagai Alberto pada Kaili.
"Emm... Ken saja." Ucap Kaili. Dia memilih nama itu karena Daddy nya sering memanggil nya dengan nama tersebut.
Akhirnya mereka bermain bersama tanpa seorang Kaila yang sedang sibuk sendiri bersama es krim nya.
Tampak Kaili lebih merasa dekat dan akrab bersama temannya Yossy yang lebih memilih menggunakan nama Yessy saat mereka bermain. Pria kecil itu meski cuek tapi bersama Yossy, dia merasa nyaman bermain.
"Yossy, aku mau minum kamu tidak haus ?" Tanya Kaili.
"Kok Yossy ? Aku mau dipanggil Yessy saja." Protes gadis kecil itu.
"Ya sudah berarti kamu panggil aku ken saja." Kaili tak mau kalah dengan Yossy.
"Kamu mau minum ?" Tanya gadis kecil itu yang lebih memilih dipanggil Yessy. Nama pura-puranya dalam bermain.
"Iya ayo kita minum." Ajak Kaili.
Mereka bergandengan tangan menunu meja yang tersusun banyak makanan dan minuman.
"Meja nya terlalu tinggi Ken."
"Iya... Sebentar kamu tunggu dulu."
Kaili menoleh ke kiri dan kanan, dia mencari kursi kosong untuk digunakan nya mengambil minuman.
"Ayo bantu aku ambil kursi itu." Ajak Kaili.
Dua bocah itu akhirnya bergotong royong untuk mengambil kursi kosong. Kursi itu mereka angkat hingga mendekat pada meja. Setelah benar-benar sesuai, Kaili naik ke atas kursi dan mengambil satu gelas minuman untuk teman sekolahnya itu.
"Ini untuk mu." Kaili mengulurkan kedua tangannya yang memegang segelas minuman.
Kaili lalu kembali mengambil segelas minuman untuk dirinya sendiri. Pria kecil itu duduk di kursi yang digunakan nya untuk berpijak setelah misinya mengambil gelas telah selesai.
Entah apa yang dibicarakan oleh kedua bocah itu, mereka asik mengobrol berdua. Hingga anak-anak panti dipanggil oleh ibu pengurus panti.
"Ken, aku ke sana dulu ya. Ibu sudah memanggil kami." Ucap Gadis kecil itu.
"Oh oke. Aku mau ke Mami ku dulu." Ucao Kaili turun dari kursi.
"Ini untuk mu." Sebuah gelang dengan bulatan manik hitam hasil karya gadis kecil itu berkat bantuan pengurus panti diberikan kepada Kaili.
"Kenapa untuk ku ?" Tanya Kaili bingung.
"Iya karena kamu teman ku yang baik. Mulai sekarang aku akan terus memanggil mu Ken. Kendy haha."
"Hah ? Kendy ??" Kaili bingung.
"Iya kamu teman ku yang bersikap manis dengan ku. Manis seperti permen." Ucap nya dengan tersenyum manis hingga lesung pipi gadis itu terlihat cukup dalam.
"Oke aku juga akan memanggil mu Yessy terus." Ucap Kaili.
Gadis kecil cantik itu mulai bergerak berjalan meninggalkan Kaili dengan melambaikan tangan pada pria kecil itu. Melihat teman bermainnya sudah berlalu Kaili memasukkan gelang itu di saku jas kecil miliknya. Dia pun berlalu mencari keberadaan Maminya.
Ditengah-tengah asiknya menikmati acara pesta sederhana ini. Jordi tampak terganggu dengan panggilan pada ponselnya yang terjadi secara berulang.
"Ck... Siapa sih mengganggu saja." Gumam Jordi sembari merogoh saku celananya, dimana ponselnya bersemayam.
Dilihatnya layar ponsel yang menunjukkan sebuah nama dari anak buahnya. Mata Jordi sedikit menyipit, otaknya kini mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang sangat penting ketika anak buahnya sudah menghubungi dirinya.
"Ya hallo..." Jawab Jordi.
"Gawat bos." Ucap seorang pria yang berada di seberang telepon.
"Katakan ada apa ?" Tanya Jordi dengan nada serius.
"Anu bos... Em... Itu.. wanita itu kabur." Ucap anak buah Jordi dengan nada yang jelas merasa ketakutan.
Mata Jordi mendelik saat mendengar berita yang buruk menurut dirinya. Emosi nya mulai meningkat akibat kabar buruk tersebut. Jordi mengumpat dan mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana bisa ? Cepat temukan sekarang." Ucap Jordi dengan menekan nada suaranya agar tak terdengar terlalu keras akibat emosinya.
Bisa jadi dirinya menjadi perhatian banyak orang jika meninggikan suaranya di depan banyak orang. Selain itu Jordi tak ingin membuat kacau acara bos-nya itu.
"Ba-baik bos... Kami akan segera menemukannya."
"Bagus... Atau kalian akan tahu akibatnya." Ucao Jordi dengan nada dingin tak terdengar jika pria itu saat ini marah dan tak menerima berita buruk sedikitpun.
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Jordi. Pikirannya saat ini sudah tak fokus lagi untuk menikmati acara bahagia bos-nya.
Keluarga kecil yang kini tampak bahagia itu sedang asik bercengkrama. Tiba-tiba Satya memilih untuk berpamitan sejenak pada Belva.
"Sayang, tunggu disini dulu. Mas harus berbicara dengan Jordi sebentar." Pamit Satya.
"Iya mas. Tapi tunggu sebentar, ini acara kita sampai jam berapa ?"
__ADS_1
Satya melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Mungkin satu jam lagi sayang. Kamu sudah lelah ?"
"Tidak, mungkin anak-anak yang sudah lelah." Ucap Belva.
"Nanti biar anak-anak pulang lebih dulu jika mereka lelah. Tunggu disini sebentar."
Belva mengangguk, Satya berlalu meninggalkan anak dan istrinya. Dia berjalan menuju dimana Jordi berdiri. Rupanya Satya melihat raut wajah Jordi yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Raut wajah itu yang selalu Satya lihat ketika Jordi tengah menghadapi sebuah masalah.
"Ada apa ?" Tanya Satya yang tiba-tiba menepuk bahu Jordi.
Asistennya itu sedikit terkejut akibat tepukan dari Satya yang cukup keras dirasakan pada bahunya.
"Tuan..."
"Ada masalah ?"
"Sedikit Tuan. Anda tenang saja semua bisa saya atasi."
"Saya percaya padamu. Masalah apa yang terjadi hingga membuat wajah mu sedikit kusut."
Jordi menghela napas secara kasar. "Wanita itu kabur."
Jawaban yang mampu membuat Satya langsung menatap tajam pada Jordi. Rahangnya mengeras, raut wajah bahagia pria itu kini berganti dengan raut wajah emosi dan marah.
"Urus secepat nya. Setelah acara selesai kita akan ke sana."
"Ta-tapi Tuan, bagaimana dengan istri anda. Biar saya saja yang menyelesaikannya."
"Kamu terlalu lembut padanya dan itu tidak bagus untuk kenyamanan hidup keluarga saya." Satya menepuk bahu Jordi sebelum pergi meninggalkan Jordi dan kembali pada anak dan istrinya.
Hari terus bergerak, kini sudah mulai petang. Meski belum waktunya untuk tidur tapi Duo Kay sudah tampak kelelahan akibat bermain bersama anak-anak panti.
Menyadari jika Duo Kay tidur di pangkuan Belva dan di gendongan Satya. Budhe Rohimah berinisiatif untuk membawa Duo Kay pulang lebih awal. Kedua bocah kembar itu pulang bersama Budhe Rohimah dan juga Bella.
Acara berakhir dengan mulus selesai tepat pukul tujuh malam. Setelah acara makan malam bersama di panti asuhan tersebut. Kini keluarga besar Hector yang meliputi Satya serta Jordi di dalamnya, mereka berpamitan untuk kembali pulang.
Beberapa makanan yang masih ada memang sengaja diberikan untuk pihak panti asuhan. Tak hanya itu beberapa bingkisan juga diberikan untuk panti.
"Ibu Santi, kami mohon pamit. Terima kasih sudah memberikan kami ijin menggunakan tempat ini untuk acara kami." Ucap Nyonya Hector.
"Silahkan Nyonya. Seharusnya kami yang berterima kasih atas acara yang kalian adakan. Ini menjadi momen bahagia untuk anak-anak disini." Ucao ibu Santi selalu kepala panti asuhan.
"Sama-sama Bu Santi. Kami senang bisa membagi kebahagiaan dengan kalian disini." Kembali Nyonya Hector membuka suara.
Ibu Santi terseo penuh dengan ketulusan dari wanita paruh baya tersebut. "Selamat sekali lagi untuk Nona Belva dan juga Tuan Satya. Semoga kalian selalu bahagia dan dapat menjalani bahtera rumah tangga kalian dengan sangat baik. Kami pihak panti hanya bisa memberikan doa dan harapan terbaik kami untuk kalian."
"Terima kasih Bu Santi. Amin, terima kasih juga atas doanya untuk kami." Ucap Belva dengan lembut dan tulus.
"Terima kasih Bu, anda sudah membantu acara ini dengan sangat baik." Ucap Satya yang juga mengucapkan terima kasih atas kebaikan pihak panti asuhan yang bersedia memberikan tempat untuk nya dan membantu segala kebutuhan pernikahan sederhana ini.
"Sama-sama Tuan Satya. Kami senang bisa membantu kalian."
"Ya sudah kami pamit dulu. Lain waktu kita bisa berjumpa lagi karena kami pasti akan mengunjungi panti ini kembali." Ycao Tuan Hector.
Mereka semua berjalan menuju mobil masing-masing. Tuan dan Nyonya Hector masuk ke dalam mobil mereka. Satya, Belva dan Jordi berada di mobil Satya.
Sudah menjadi istri sahnya maka Satya dengan bebas dan mudah mendapatkan persetujuan dari kedua mertuanya untjm membawa Belva.
"Jalan Jordi." Titah Satya.
"Baik Tuan." Jordi mengangguk.
Mobil dikendarai Jordi debgan kecepatan sedang. Dirinya fokus pada jalanan dihadapannya sedangkan bos-nya sibuk menempel pada Belva di kursi belakang.
"Sayang, kamu lelah ?" Tanya Satya dengan nada yang terdengar sangat lembut.
Baru kali ini Jordi mendengar suara Satya yang lembut dan hangat. Sangat jauh dari sikapnya sehari-hari sebelum bertemu dengan Belva.
"Sedikit, baju ini semakin lama membuat ku gerah dan sesak." Ucao belva dengan jujurnya.
"Kamu tenang saja, nanti di rumah kita lepas." Bisik Satya pada telinga Belva. Wanita itu seketika memerah wajahnya karena malu. Bulu kuduknya meremang akibat bisikan lembut Satya meski terdengar lembut tapi terselip nada nakal dan menggoda.
Belva langsung memukul pelan paha kanan Satya dengan tangan kirinya. Berusaha menyadarkan pria yang beberapa jam lalu menjadi suami sah nya agar tidak berbuat hal seperti itu. Terlebih di dalam mobil itu terdapat Jordi yang sedang menyetir. Belva takut jika Jordi mendengar bisikan Satya untuk dirinya.
Satya menggenggam tangan Belva. Jari jemari mereka saling mengisi pada selah-selah jari mereka masing-masing. Sesekali Satya mencium punggung tangan Belva dengan sayang.
"Mas... Jangan seperti ini. Malu jika Tuan Jordi melihatnya." Lirih Belva agar tak terdengar oleh Jordi.
Tapi sebenarnya Jordi mendengar apa yang diucapkan Belva dan juga melihat sikap sepasang pengantin baru itu melalu kaca spion yang ada di atas kepala pria itu.
"Astaga, seperti itu kah sikap seorang pria setelah menikah ? Sungguh tidak ku sangka." Batin Jordi yang melihat kelakuan Satya yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Loh mas, ini kok jalan nya menuju arah rumah kamu mas ?" Tanya Belva, ia baru sadar jalan yang mereka lalui tak asing baginya.
"Iya sayang. Mulai saat ini kita akan tinggal di rumah itu. Renovasi sudah selesai, rumah itu kini menjadi rumah kita sayang."
"Tapi mas..." Belva seolah masih merasa kurang nyaman berada di rumah tersebut.
Banyak kenangan yang dirinya alami di rumah tersebut. Tak hanya kenangan dirinya, yang jelas kenangan Satya menjalani rumah tangga bersama Sonia dulu.
"Mas tahu pasti kamu tidak terlalu menyukai keputusan mas. Tapi kita lihat saja dulu hasil renovasi rumah kita. Setelah itu kamu boleh mengambil keputusan apakah akan tinggal disana atau tidak."
Tak berapa lama mereka sampai ke kediaman rumah besar Satya. Mobil memasuki gerbang menembus halaman rumah Satya yang sangat luas. Cat rumah itu sedikit berubah, lebih putih dan bersih.
Mobil berhenti, Satya keluar lebih dulu membuka pintu lalu mengulurkan tangannya pada sang istri. Satya tersenyum saat Belva menyambut uluran tangannya. Pria itu menuntut sang istri memasuki pintu utama.
Penataan rumah itu sudah berubah, beberapa perabotan rumah itu juga sudah diganti oleh Satya. Pada ruang tamu, sengaja tak dipasang foto mereka sama seperti rumah besar Tuan Hector.
Bener pelayanan menyambut kedatangan mereka. Janis tersenyum manis saat melihat Belva dituntun mesra oleh Satya.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya." Ucap Mbok Yati yang sudah pulang lebih dulu khusus untuk menyambut kedatangan majikan mereka.
Belva terkejut saat Mbok Yati memanggil nya dengan sebutan Nyonya. Itu terlalh berlebihan menurutnya dan merasa sedikit kurang nyaman. Meski begitu Belva tetap mencoba tersenyum menghargai apa yang dilakukan oleh Mbok Yati.
Dua pasang mata menatap tak suka pada Belva. Dua asisten rumah tangga Satya yang sampai saat ini entah apa masalah mereka. Tuti dan Inah dua wanita muda itu melirik sinis pada Nyonya baru mereka. Tidak takut sama sekali saat Belva menangkap lirikan sini keduanya.
"Kenapa mereka seperti itu padaku ?" Gumam Belva dalam hati sesaat setelah tak sengaja melihat lirikan sinis dan tidak suka dari Tuti dan Inah.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
__ADS_1
Terimakasih yaa selalu author ucapkan buat support kalian yang luar biasa Setia nya sama author. Enggak tahu lagi deh author mau bilang apa kalian setia banget, kalian semangat nya author. I love you sehat selalu buat kalian.
Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman nya dan Vote dari kalian. Jangan lupa kasih vote ke author setiap hari senin guys 😁🤭🙏🙏