
Nyonya Hector dan Belva sudah sampai di rumah sakit. Dengan langkah cepat Belva berjalan. Ia merasa tidak enak hati pada Mbok Yati yang sedari kemarin sore menemani Budhe Rohimah.
"Pagi Mbok. Maaf merepotkanmu." Belva masuk ke dalam ruangan dan meletakkan tas di atas Sofa bersamaan dengan Nyonya Hector yang duduk di sofa.
"Pagi neng. Tidak masalah mumpung Mbok ada waktu jaga Bi Imah."
Mbok Yati tersenyum pada Belva, matanya beralih menatap Nyonya Hector sedetik kemudian ia mengangguk hormat. Dalam hati bertanya siapakah wanita paruh baya yang bersama dengan Belva ini. Ia tak mengenalnya sama sekali.
"Iya Mbok. Sekarang biar aku yang jaga Budhe. Mbok Yati kalau mau pulang tidak apa-apa. Tapi sarapan dulu, aku sudah membawakan sarapan untuk kalian." Sembari mengobrol tangan Belva sibuk menyiapkan sarapan untuk Mbok Yati dan juga Budhe Rohimah. Meski dari rumah sakit sudah ada jatah makan sendiri terkadang Budhe Rohimah tidak berselera dengan masakan rumah sakit.
"Nduk... Budhe sebenarnya sudah tidak apa-apa. Tidak perlu dijaga, budhe bahkan sudah ingin pulang. Tidak betah lama-lama disini."
"Iya Budhe nanti Belva urus semuanya biar budhe segera pulang ke rumah. Sekalian mumpung ada Mbok Yati juga disini. Nanti setelah keluar dari rumah sakit, bagaimana kalau Budhe tinggal bersama Belva saja. Berhentilah bekerja Budhe."
Mbok Yati tidak terlalu terkejut, karena ia pun tahu apa yang terjadi pada temannya itu. Memang sudah benar jika Belva meminta Budhenya berhenti bekerja.
"Budhe pun sudah memikirkannya. Memang lebih baik keluar saja dari pekerjaan. Biar Budhe bisa menjaga dan merawat cucu-cucuku."
Budhe Rohimah juga ternyata sudah memikirkannya. Belva merasa lega jika mereka sepemikiran. Akan lebih aman jika memang mereka tinggal bersama bisa saling menjaga satu sama lain.
"Kalau itu sudah keputusanmu, tidak apa-apa Bi Imah. Aku pun memahaminya, nanti biar ku sampaikan pada Tuan saja jika sudah pulang. Hanya saja aku merasa sedih kita tidak bisa bekerja bersama lagi. Jajak mungkin juga akan sama sedihnya denganku." Mbok Yati mencoba tersenyum, dalam hatinya merasa sedikit tidak rela dan kehilangan jika harus berpisah dengan Budhe Rohimah.
Mereka sudah bekerja bersama sejak puluhan tahun yang lalu, meski Mbok Yati lebih tua dari Budhe Rohimah. Tapi Budhe Rohimah adalah karyawan terlama yang bekerja di rumah Satya. Sejak Satya belum menikah belum menikah.
"Terima kasih Mbok Yati. Kita masih bisa bertemu nanti, mungkin saat berbelanja di pasar kita bisa janjian belanja bersama." Ucap Budhe Rohimah yang mengundang tawa mereka yang ada di dalam ruangan rumah sakit.
Sesudah perbincangan itu Mbok Yati melakukan kegiatan sarapannya sebelum pulang karena paksaan dari Belva. Selesai makan wanita berusia lanjut itu berpamitan untuk kembali ke rumah majikannya. Takut jika nanti Alya tiba-tiba saja pulang ke rumah.
Dokter muda yang menangani Budhe Rohimah pun datang ke ruang rawat itu. Jadwal rutinnya untuk mengecek pasiennya yang terasa berbeda dengan yang lain. Karena adanya seorang perempuan muda yang setia menjaga. Hal itu membuat dokter muda yang bernama Dimas itu merasa bersemangat.
"Selamat pagi." Sapa Dimas masuk ke dalam ruangan Budhe Rohimah.
"Eh selamat pagi dokter." Jawab Belva bersamaan dengan Budhe Rohimah dan Nyonya Hector.
Dokter muda itu tersenyum manis mendengar suara Belva. Dia melanjutkan kegiatan yang seharusnya dilakukannya.
"Bagaimana keadaan anda Nyonya ? Apa masih ada yang terasa sakit atau tidak nyaman ?" Tanya Dimas.
"Sudah baikan dokter. Saya tidak nyaman jika berlama-lama tidur di ruangan ini." Jawab Budhe Rohimah sesuai dengan apa yang dirasakannya.
Jawaban itu membuat dokter Dimas tertawa. Sudah berulangkali dia mendengar keluhan seperti itu dari para pasiennya.
"Baiklah, memang sepertinya begitu Nyonya. Hasil pemeriksaan anda memang sudah baik-baik saja. Besok anda sudah bisa kembali ke rumah."
"Benarkah dokter ?" Tanya Belva dan Budhe Rohimah bersamaan.
Dokter Dimas tersenyum mendengar kekompakan kedua perempuan berbeda usia itu. "Sepertinya kalian sangat menantikan hari itu ya ?"
"Tentu saja dokter karena sudah banyak yang menanti kepulangan Budhe di rumah." Jawab Belva tersenyum.
Sedikit perbincangan terjadi diantara mereka. Sepertinya beberapa waktu Budhe Rohimah dan Belva berada di rumah sakit itu membuat mereka tampak akrab dengan dokter Dimas.
Pemerikasaan berakhir, dokter Dimas harus pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya. Tak mungkin hanya karena perempuan muda yang menarik perhatiannya itu dia harus mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
"Nyonya, terima kasih sudah menolong keponakanku. Berkat dirimu saya bisa bertemu kembali dengannya." Tiba-tiba Budhe Rohimah membuka suara, berterima kasih pada Nyonya Hector.
Sudah lama ia ingin bertemu dengan keluarga yang telah menolong kehidupan keponakan satu-satunya itu. Baru kali ini akhirnya bisa bertemu. Tanpa menunggu ucapan terima kasih itu keluar dari bibir Budhe Rohimah.
"Jangan terlalu formal seperti itu dengan Mbak. Vanthe adalah putriku sekarang, jadi aku rasa kita adalah keluarga Mbak." Ucap Nyonya Hector.
"Nyonya, panggil saja Imah itu lebih baik sepertinya Nyonya lebih tua dariku." Budhe Rohimah merasa tidak enak jika orang sekelas Nyonya Hector memanggilnya seperti itu.
"Astaga, apakah aku terlihat sangat tua ? Tapi tak bisa dipungkiri memang aku sudah tua hahaha. Jadi, kalau begitu akulah yang menjadi kakakmu. Jangan terus memanggilku Nyonya. Kamu bukan pelayanku tapi kakakmu sekarang."
"Ah baiklah, terima kasih Mbak. Aku merasa sangat bahagia bisa memiliki banyak keluarga kembali sekarang." Ucap Budhe Rohimah.
Kembali perbincangan terjadi diantara mereka, mengenai bagaimana masa lalu Belva yang diceritakan oleh Budhe Rohimah. Begitu juga bagaimana dulu Belva bisa masuk ke dalam keluarga Hector. Sifat dan sikap Belva yang begitu menarik perhatian keluarga Hector diceritakan begitu saja oleh Nyonya Hector. Membuat Belva merasa malu dan juga bahagia.
"Sayang, bagaimana dengan rencanmu yang akan membuka butik. Apakah sudah ada pandangan akan seperti apa ?" Tanya Nyonya Hector.
"Belva akan membuka butik ?" Tanya Budhe Rohimah yang baru tahu rencana Belva.
Nyonya Hector menangguk. "Iya Budhe, aku memutuskan menetap disini. Jadi, aku juga harus memiliki pekerjaan. Selama ini aku bekerja di butik Mama. Aku rasa hanya itu keahlianku." Ucap Belva.
"Budhe selalu mendukung apapun keputusanmu Nduk. Terima kasih sudah kembali."
"Iya Budhe. Hanya Budhe keluarga kandungku satu-satunya." Belva memeluk Budhe Rohimah.
"Untuk butik, bagaimana kalau kita membuka cabang de'La Hector untuk aku kelola nanti Ma ?" Belva meminta pendapat Mamanya.
"Tidak sayang. Mama rasa butik itu harus berdiri sendiri atas namamu. Setelah butikmu berdiri baru Mama akan membuka cabang di sini dan akan kamu kelola juga nanti."
"Apa aku bisa Ma ? Aku masih ragu jika nanti aku tidak bisa seperti de'La Hector."
"Yakin sayang kamu paati bisa. Butik Mama menjadi lebih meningkat karena kamu yang mengelolanya kan. Jadi, Mama yakin butik mu nanti akan jauh lebih ramai karena kamu yang akan turun langsung menangani semuanya dari awal."
Nyonya Hector terus mendorong dan mendukung Belva. Memotivasi putrinya agar dapat berkembang dan berdiri sendiri. Karena Nyonya Hector sangat yakin akan kemampuan yang dimiliki Belva.
"Mama, akan memberikan modal untuk pembukaan butik itu. Tidak ada penolakan sayang."
"Oke aku tidak akan menolak. Tapi aku juga akan mengembalikan modal itu saat semuanya sudah berjalan dan tidak ada penolakan Mama." Kalimat Nyonya Hector dikembalikan oleh Belva.
__ADS_1
Tentu Nyonya Hector tertawa dengan kelakuan putrinya. Hafal akan sikap Belva yang selalu berusaha keras berjuang untuk dirinya sendiri.
"Ah baiklah, Mama bisa apa. Kamu selalu saja seperti itu."
Pasrah hanya itu yang bisa Nyonya Hector lakukan jika Belva juga sudah berkeinginan. Akhirnya Nyonya Hector memutuskan untuk kembali pulang karena ia juga harus menjemput Duo Kay.
****
Mbok Yati sudah sampai di rumah Satya, ternyata ia kembali bersamaan dengan datangnya si Tuan rumah. Satya memutuskan kembali ke rumah karena pekerjaannya di Jerman sudah bisa diselesaikannya.
Hari ini pria itu ingin mengistirahatkan diri di rumah. Sudah beberapa minggu hingga bulan ia gunakan untuk bekerja. Sampai di rumah ternyata keadaan sangat sepi. Tentu hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupannya. Istrinya yang sibuk sendiri dan anaknya yang sudah beranjak dewasa pun pasti juga sudah sibuk sendiri.
"Mbok, dari mana ?" Tanya Satya.
"Ah dari itu Tuan... Maaf dari rumah kerabat ada yang sakit jadi saya menyempatkan diri untuk menjenguk."
"Sepagi ini ?" Dahi Satya mengerut.
"Anu... Maaf Tuan saya tadi malam menginap disana." Dengan perasaan takut dan ragu Mbok Yati terpaksa mengatakan ia menginap.
Hal ini diluar prediksinya jika ia tiba dirumab bersamaan dengan majikannya.
"Siapa yang mengijinkanmu ?" Tanya Satya dengan suara dinginnya.
"Maaf Tuan saya salah." Mbok Yati hanya bisa tertunduk dengan kedua tangan meremas ujung bajunya.
Satya menghela nafas, dirinya masih dalam keadaan lelah saat ini. Mengapa harus dihadapkan dengan permasalahan kecil seperti ini. Akhirnya Satya memilih untuk mengabaikan.
"Aku lelah. Panggilkan Bi Imah." Satya melangkah pergi meninggalkan Mbok Yati.
Mbok Yati bingung, bagaimana bisa memanggilnya jika orang yang dimaksud saja tidak ada.
"Maaf Tuan. Bi Imah tidak ada disini. Dia..."
"Tidak ada ? Jadi selama saya pergi kalian keluyuran di luar sana dan mengabaikan pekerjaan kalian !"
Satya yang sudah lelah merasa geram akan kelakuan kedua pembantu rumah tangganya itu. Pria itu memang tidak suka melihat pekerjanya bekerja semaunya sendiri. Gaji yang diberikan sudah terbilang tinggi jadi dia tak mau mendapatkan pekerja yang tidak bertanggung jawab.
"Sakit. Bi Imah sakit." Dengan cepat Mbok Yati berbicara agar tak terpotong lagi oleh majikannya.
Kembali Satya mengerutkan dahi, langkahnya yang sudah terhenti tadi kini kembali lagi berjalan mendekati Mbok Yati.
"Bagaimana maksudnya Mbok ? Tidak ada disini dan sakit ? Kemana dia ?"
"Bi Imah saat ini berada di rumah sakit Tuan. Sudah hampir dua minggu berada di rumah sakit."
"Jelaskan semua padaku apa yang terjadi." Ucap Satya.
"Saat ini Bi Imah berada di rumah sakit Global Medika Tuan. Jajak mengatakan jika Bi Imah kecelakaan jatuh dari tangga dan tidak sadarkan diri untuk beberapa hari. Sekarang keadaannya sudah membaik Tuan."
"Apa Mbok Yati sehabis dari sana ?" Tanya Satya kembali. Ia merasa jika sebenarnya Mbok Yati tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Mau tak mau wanita tua itu mengangguk. Semua sudah diceritakannya, tidak semua sebenarnya karena seseorang yang menyebabkan Budhe Rohimah kecelakaan tidak berani dia jelaskan.
"Ya sudah kembali lah bekerja Mbok." Ucap Satya yang akhirnya benar-benar meninggalkan Mbok Yati.
Mbok Yati kembali untuk bekerja. Sedangkan Satya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Jordi setelah mengantar bosnya langsung kembali pulang ke rumah ibunya.
Terasa sangat melelahkan, jas yang sedari tadi berada di lengannya diletakkan secara sembarang di pinggir ranjang. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak terasa rasa lelah membuatnya tertidur lelap.
Hingga sore hari, Satya terbangun. Rasanya tak nyaman. Tubuhnya terasa gerah dan lengket. Pantas saja tadi sebelum tidur belum sempat mandi bahkan belum mengganti baju sama sekali. Sepatunya saja masih terpasang di kakinya.
Dia merasa percuma saja memiliki istri tapi tak bisa mengurusnya. Sudah seperti bujang lapuk yang semuanya diurus sendiri. Asisten rumah tangga yang biasanya membantunya saat ini sedang sakit.
Budhe Rohimah adalah asisten rumah tangga yang paling dipercayai oleh Satya untuk mengurus dirinya sejak dulu sebelum menikah dengan Sonia. Dia tak merasa nyaman dengan orang lain selain Budhe Rohimah.
Mandi adalah pilihan yang tepat saat ini. Menyegarkan tubuhnya yang masih terasa lelah. Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan tubuh, dia mengganti pakaiannya. Rencananya dia akan menjenguk Budhe Rohimah di rumah sakit yang di telah diceritakan Mbok Yati.
Pria tampan itu langsung saja keluar rumah tanpa berpamitan pada asisten rumah tangganya. Menggunakan mobilnya yang selalu terparkir di dalam garasi. Mobil itu jarang digunakan karena dia selalu diantar jemput oleh Jordi.
Sementara Belva yang berada di rumah sakit kini masih saja mengobrol dengan Budhenya. Banyak hal yang mereka obrolkan terutama pembahasan untuk kehidupan mereka ke depannya nanti.
"Nduk, Budhe sudah kangen sekali dengan si kembar."
"Sabar Budhe besok sudah bisa pulang. Nanti aku akan membereskan administrasinya terlebih dahulu agar besok kita bisa langsung pulang."
"Iya Nduk. Budhe sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu mereka."
Belva hanya tersenyum menanggapi semangat Budhenya. Ia pun sangat bersyukur akhirnya mereka bisa pulang dan berkumpul kembali. Hati Belva senang sekali nanti akan tinggal bersama orang-orang yang di sayangi nya.
Satya sudsh sampai di rumah sakit. Langkah kakinya menuju bagian resepsionis untuk menanyakan kamar rawat inap Budhe Rohimah. Suster yang berjaga menjadi resepsionis merasa terpana akan wajah tampan Satya. Untuk sejenak suster muda itu tertegun menatap Satya.
"Sus... Suster." Tangan Satya melambai-lambai di depan wajah suster tersebut.
"Ah iya... Iya bagaimana Tuan ?" Suster itu gelagapan saat itu juga.
"Sus, saya tanya dimana ruangan Ibu Rohimah."
"Oh iya sebentar saya cek dulu Tuan."
"Ruangan atas nama Nyonya Rohimah ada di ruang Anggrek nomor 2. Silahkan Tuan naik ke lantai 2 dari lift nanti lurus saja lalu belok kiri." Suster menjelaskan.
__ADS_1
"Baik. Terima kasih. Permisi." Hanya tiga kata penting saja yang Satya keluarkan saat mengetahui informasi dari suster.
"Sama-sama Tuan."
Satya pergi melangkahkan kakinya menuju jalan yang sudah ditunjukkan. Suster tersebut masih saja terpana dan terus menatap Satya. Bahkan punggung Satya sepertinya masih memiliki daya tarik bagi suster tersebut.
Saat Satya berjalan dan hampir mendekati ruangan Budhe Rohimah tak sengaja Belva melihat kedatangan Satya. Perempuan cantik itu begitu terkejut. Namun, dengan cepat ia mengembalikan ekspresi wajah menjadi biasa saja.
"Dia menuju ke sini ? Jangan-jangan mau menjenguk Budhe." Batin Belva yang melihat Satya semakin mendekat tapi pria tersebut masih fokus pada ponselnya.
Saat Satya telah kembali fokus pada jalan dengannya. Pria itu melihat Belva, dia nampak terkejut di kini sibuk dengan pikirannya sendiri. "Itu kan perempuan yang di pesta Tuan Max waktu itu. Iya aku tidak salah, wajah cantik itu aku tidak asing dengannya." Batin Satya.
Satya tanpa sadar menarik sedikit sudut bibirnya. Ada perasaan senang bisa bertemu kembali dengan perempuan yang sampai saat ini masih menjadi seseorang yang terasa familiar baginya.
Seketika senyum itu menyusut. Pusat dahinya mengekerut. Kembali dia disibukan dengan pikirannya, berbagai pertanyaan muncul dalam kepalanya.
Saat langkahnya sudah hampir dekat dengan Belva dan bibirnya hendak menyapa perempuan itu tapi urung dilakukan. Belva dengan cepat membelokkan langkah kakinya dan menghampiri seseorang. Satya tampak memperlambat langkah kakinya dan menatap ke arah Belva.
Tampak beberapa meter dari titik berdiri Satya. Belva tanpa ragu menggandeng lengan seorang pria, hingga membuat pria itu terkejut.
"Nona, ada apa ?" Tanya Roichi.
Roichi diutus oleh Nyonya Hector untuk menemui Belva di rumah sakit. Pria itu mendapatkan perintah untuk mencari lokasi dimana Belva akan membuka butiknya. Roichi datang untuk membahas hal tersebut.
"Sstt... Pelankan suara Om. Om kenapa datang ke rumah sakit ?" Tanya Belva. Tangannya masih melilit lengan kekar Roichi.
"Ada apa ? Saya diperintahkan mencari lokasi untuk butik yang akan Nona buka. Dan saya sudah mendapatkan beberapa lokasi, saya kesini untuk membahas hal itu." Jelas Roichi.
"Oke. Ayo kita bahas di taman saja. Budheku sedang istirahat." Ajak Belva menarik lengan Roichi.
Roichi merasa aneh dengan sikap Nonanya ini. Tapi pria itu juga gemas dengan sikap Belva yang seperti anak kecil. Roichi tersenyum ke arah Belva dan tanpa sadar mengusak rambut Belva.
"Ck... Om. Berantakan rambut aku." Belva seketika melepaskan belitan tangan Roichi dan merapikan rambutnya dengan wajah cemberut.
Roichi terkekeh dan membantu merapikan rambut Belva. "Maaf Nona, ayo kita ke taman untuk membahas lokasinya."
Kembali pria itu mengusap rambut Belva tapi karena takut rambutnya akan diacak-acak kembali oleh Roichi dengan cepat Belva mengambil tangan Roichi. Belva menggandeng Roichi untuk segera keluar lorong rumah sakit. Karena ia melihat Satya masih menatap ke arah mereka.
Semua gerakan yang dilakukan Roichi dan Belva tak luput dari pandangan Satya. Sejak tadi pria itu terus menatap. "Pria itu bukan kah itu Tuan Roichi ? Ada hubungan apa mereka ?" Gumam Satya lirih.
Sampai kedua orang berbeda jenis kelamin itu benar-benar menghilang dari hadapannya. Satya baru melanjutkan langkahnya menuju ruangan Budhe Rohimah.
Tapi pikirannya masih saja terus berputar memikirkan pertemuannya tak sengajanya dengan Belva. Ia masih tampak terus berpikir akan sosok perempuan yang tak asing baginya dan juga ada hubungan apa antara perempuan itu dengan asisten Tuan Hector.
Sampai di depan ruang Anggrek nomor 2, Satya membuka pintu tersebut. Dilihatnya asisten rumah tangganya tengah terbaring dengan menutup kedua matanya. Tapi mata itu seketika terbuka saat mendengar suara pintu terbuka.
"Bi..." Sapa Satya berjalan mendekat ke arah Budhe Rohimah.
"Tuan... Tuan kenapa bisa ada disini ?" Budhe Rohimah terkejut akan kedatangan Tuanya itu.
"Mbok Yati mengatakan Bibi sedang sakit dan di rawat disini. Jadi, saya ingin menjenguk."
"Oh iya. Terima kasih Tuan. Seharusnya Tuan tidam perlu repot-repot menjenguk saya." Budhe Rohimah merasa sungkan dijenguk oleh Tuannya. Wanita paruh baya itu tak enak hati karena Tuannya itu merupakan seorang yang super sibuk tapi masih menyempatkan untuk menjenguknya.
"Tidak masalah. Bagaimana bisa Bi Imah kecelakaan ?" Tanya Satya penasaran, dia tidak ingin standar keamanan di rumahnya berkurang hingga membuat para pekerja kecelakaan saat bekerja.
"Eeemm... Maaf ini keteledoran saya Tuan hingga saya terpeleset dari tangga. Tapi saya sudah baik-baik saja. Dan besok sudah bisa keluar dari rumah sakit."
"Lain kali berhati-hatilah dalam segala hal Bibi. Syukurlah besok saya akan menyuruh Pak Jajak untuk menjemputmu."
"Tidak perlu Tuan, saya bisa pulang sendiri."
"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Budhe Rohimah. Ada perasaan sungkan saat ingin mengatakan jika dirinya harus resign.
"Ada apa Bi ?" Tanya Satya.
"Maaf Tuan... Sebenarnya saya... Saya ingin menyampaikan jika saya akan berhenti bekerja." Cap Budhe Rohimah dengan hati-hati.
Satya terkejut dengan penyampaian Budhe Rohimah. Selama ini hanya wanita itu yang selalu membantunya. Dan hanya dengannya, dia bisa merasa nyaman.
"Alasan apa yang membuat Bibi memutuskan berhenti bekerja di rumah saya ?"
Satya merasa aneh tiba-tiba asisten rumah tangga kepercayaannya memilih berhenti bekerja. Setahunya wanita paruh baya itu sangat membutuhkan pekerjaan untuk membayar hutang-hutangnya. Lagi pula Budhe Rohimah juga sudah tak memiliki keluarga dan pernah menyampaikan akan tetap tinggal di rumah Satya setelah mendengar berita kematian Belva.
"Saya rasa tubuh saya sudah tidak kuat bekerja lagi Tuan terlebih dengan kondisi saya saat ini." Alasan yang logis dari Budhe Rohimah.
"Bibi bisa beristirahat hingga pulih. Hanya Bibi yang saya percaya untuk mengurus segala keperlu saya."
"Maaf sekali Tuan saya tidak bisa. Saya harus berhenti bekerja."
"Lalu Bibi akan tinggal dimana nanti ? Apa Bibi akan pulang kampung ?" Tanya Satya.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π
__ADS_1