
Beberapa hari berlalu, Satya mengurungkan niatnya untuk bertanya secara langsung pada Sonia dan juga Belva atas video itu. Dia justru ingin menyelidiki sendiri apa yang sedang terjadi pada anak dan istrinya.
Sebagai orang yang memiliki bisnis besar, tentu hal ini membuat nya semakin merasa terbebani. Dirinya bukan orang yang memiliki jadwal santai. Jadwalnya setiap hari selalu padat, diisi dengan pekerjaan dan bertemu dengan beberapa klien.
"Tuan, besok malam jangan lupa kita ada undangan lelang di hotel Xx."
"Ya saya tidak lupa. Apa ada yang lain ?"
"Apa Tuan akan datang bersama Nyonya ?"
"Tidak."
Jawaban yang sangat tegas diberikan boleh Satya. Pria itu menolak membawa istrinya ke acara lelang. Pasti akan banyak bertanya bermunculan saat Sonia berada di acara tersebut. Satya akan merasa risih jika itu sampai terjadi, cukup kelakuan Sonia yang sudah keterlaluan itu mempermalukan dirinya. Saat beberapa klien bertanya padanya kemarin tentu Satya menjawab dengan tegas jika tidak terjadi sesuatu dalam rumah tangganya karena memang Satya saat itu belum mengetahui kabar tersebut. Jadi, Satya hanya menjawab dengan santai jika itu hanya kabar bohong belaka dan pria itu tak terpengaruh sama sekali justru cuek dengan pertanyaan tersebut.
"Kenapa tidak dibawa saja sekalian Tuan lelang Nyonya Sonia di sana." Batin Jordi.
Sejak dulu Jordi memang tak menyukai Sonia. Ingat saat pertama kali Satya menikah dengan Sonia. Wanita itu merasa sudah memiliki status sebagai istri pemilik Bala Corp hingga bertingkah menyebalkan menyuruh ini itu pada Jordi seenak jidat.
"Baik Tuan. Ini ada dokumen yang harus anda periksa. Sebagian sudah saya periksa dan butuh tanda tangan Tuan."
"Oke. Letakkan saja di meja."
Jordi keluar dari ruangan Satya, langsung bertemu dengan Grace. Tentu saja meja Grace berada di depan ruangan Satya seperti satpam yang menjaga toko.
"Tidak lupa kan ada acara lelang besok malam."
"Iya... Tenang saja." Jawab Jordi.
"Kalian berangkat dengan Nyonya Nela ?"
"Tidak. Tuan tak mau mengajaknya."
"Kenapa ? Seharusnya bagus jika di ajak barangkali bisa menambah pemasukan perusahaan kan ?"
Jordi tersenyum lebar, sepertinya sekertaris bos-nya itu sepemikiran dengannya.
"Bagaimana bisa nanti urusan si bos tengah malam bagaimana haha." Jordi tertawa.
"Cari baru lah... Masih saja betah dengan yang palsu-palsu begitu."
Jordi hanya tersenyum. "Sudah kerja lagi. Kamu malah mengajakku bergosip."
"Ck... Situ di ajak gosip juga mau." Cibir Grace.
Jordi berlalu tanpa menghiraukan Grace. Masuk ke dalam ruangannya. Jordi segera menghubungi seseorang. Wajahnya sangat serius saat berbicara pada seseorang yang berada di balik ponselnya.
"Baiklah... Lakukan saja tugas mu dengan baik dan tepat sasaran."
Panggilan di tutup oleh Jordi. Kembali dilanjutkan pekerjaan nya yang masih menumpuk.
Baru beberapa menit fokus pada pekerjaannya. Pintu ruangannya tanpa diketuk tapi langsung terbuka begitu saja membuat pria itu terkejut.
"Heh apa-apaan ini ? Kamu mau membuatku jantungan ?!" Ucap Jordi kesal.
"Ada apa mau mengajak bergosip lagi ?"
"Ck... Kalau tidak darurat sepatu hills ku sudah mendarat dengan cantik di kepalamu."
"Ada apa ?"
Mereka berdua sama-sama kesal dan ketus saat ini.
"Itu Nyonya mu datang buat ulah di mejaku."
Jordi segera berdiri dari kursinya dan berlari keluar di susul oleh Grace. Di meja sekertaris Tuan Satya itu sudah terdapat tiga orang yang sedang adu mulut.
"Kalian minggir !!" Bentak Sonia. .
"Nyonya, maaf tapi anda harus bertanggung jawab terlebih dahulu." Ucap satpam kantor.
"Bertanggung jawab apa ? Memang apa yang saya lakukan huh !!"
"Nyonya, wanita di depan itu terluka. Daripada nanti kantor ini di serbu masa.lebih baik Nyonya selesai kan dulu urusan itu."
"Sudah saya katakan saya tidak melukai siapapun. Minggir kalian, saya mau bertemu dengan suami saya !!"
"Ada apa ini ? Kenapa ribut-ribut begini ?" Tanya Jordi.
"Tuan... Maaf bukan maksud kami melakukan keributan tapi di depan ada beberapa orang yang mencoba masuk untuk mengejar Nyonya Sonia."
Saat satpam sedang menjelaskan apanyang terjadi Sonia mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan Satya. Tapi Grace mencekal wanita itu, Sonia pun tak menyukai sikap sekertaris suaminya itu. Dihempaskan dengan kasar lengan Grace dan masuk ke dalam ruangan Satya.
Satya yang tengah fokus dengan beberapa dokumennya sontak mengangkat kepalanya. Dilihatnya istrinya telah masuk ruangan dan sekertaris nya berada di belakang Sonia. Terdengar suara yang cukup ramai karena biasanya area ruangan Satya cukup sepi.
"Ada apa kemari ?" Tanya Satya dengan cuek.
"Satya, apa maksud mu memblokir kartu kredit ku ?" Tanya Sonia kesal.
Pria itu hanya melirik saja, lalu beralih pada Grace. "Ada apa di luar ?" Tanya Satya.
Pertanyaan istrinya justru diabaikan begitu saja. Dia lebih tertarik mendengar jawaban dari sekertaris nya.
"Ada sedikit masalah Tuan. Jordi sedang mengurusnya." Jawab Grace yang membuat Sonia langsung berputar ke belakang.
"Satya aku bertanya padamu !!" Bentak Sonia.
"Tidak bisakah tekan suara mu agar lebih pelan Sonia ?"
Satya berdiri dari kursinya lalu keluar ruangan. Tak biasanya dia melihat satpam berjalan hingga depan ruangannya jika tidak ada masalah dengan seseorang yang ada disekitarnya atau yang berhubungan dengan dirinya.
Sonia kesal Satya mengabaikan nya dan justru mengurus masalah tak penting bagi Sonia.
"Ada apa Jordi ?"
"Ini Tuan dari penjelasan Satpam. Nyonya menyerempet seseorang di depan kantor dan beberapa orang saat ini sedang berada di depan kantor untuk meminta pertanggungjawaban. Bahkan ada beberapa yang kesal melakukan aksi nekat, perusakan barang."
Satya mengurut pangkal hidungnya. Semakin lama istrinya itu semakin tak terkendali. Banyak ulah yang membuatnya semakin pusing. Tatapan tajam Satya langsung menghunus ke arah mata Sonia.
"Apa lagi yang kamu lakukan huh ?"
"Aku tak melakukan apapun. Mereka saja yang mengada-ada." Ucap Sonia santai. Bahkan wanita itu merasa tam terintimidasi dengan tatapan Satya.
"Tapi mereka memaksa masuk Tuan karena mereka yakin jika Nyonya yang melakukan itu." Ucap Satpam.
"Diam kamu !!! Jangan mengarang, bisa saja orang itu hanya menipu dan menginginkan uang saja." Ucap Sonia.
Pikiran Sonia yang selalu menghubungkan segala sesuatu dengan uang. Pikiran nya sangat picik sekali, kehidupan nya yang tak pernah susah membuatnya sulit berempati dengan orang lain kecuali orang yang benar-benar dekat dengannya atau orang yang disukainya.
"Sudah kita turun Jordi." Putus Satya.
Pria itu tak ingin kantornya menjadi penilaian buruk oleh orang-orang hanya karena kesalahan kecil terlebih sebuah kesalahpahaman.
"Satya... Urusan kita belum selesai. Biarkan saja mereka, akuntak melakukan apapun." Cegah Sonia.
Tapi pria itu tetap saja berjalan menjauhinya ruangannya. Belum benar-benar menjauh dia kembali berhenti.
"Bawa Sonia turun. Dia harus meluruskan masalah ini." Perintah Satya pada Jordi.
"Grace, tutup pintu ruangan ku."
"Baik Tuan." Jawab Grace dan Jordi.
Mereka tahu jika Satya tak suka ada orang lain berada di ruangannya jika dirinya tak ada meskipun itu istrinya sendiri.
"Mari Nyonya ikut kami ke bawah." Pinta Jordi yang masih menggunakan tutur kata sopan.
"Tidak mau. Kalian saja malas saya berurutan dengan orang-orang tak jelas." Jawab Sonia.
Jordi melirik tak suka tanpa sepengetahuan Sonia. "Anda dengar sendiri ini perintah Tuan Satya."
"Sudahlah Nyonya jangan membuat kami semakin repot." Ucap Grace dengan berani.
Sonia menatap tajam Grace. Ia tak menyukai sekertaris suaminya itu. Ingin rasanya menendang keluar wanita itu tapi Sonia tak memiliki wewenang di perusahaan.
Mau tak mau Sonia mengikuti Jordi. Dan Grace yang penasaran pun ikut turun ke lantai bawah. Dengan mengunci ruangan Satya serta Jordi sebelumnya.
Di lantai satu benar saja banyak orang berkerumun. Beberapa satpam berjaga berusaha menenangkan mereka agar tak membuat keributan di kantor itu. Para karyawan yang mengetahui pun mereka tak kalah penasaran, dari dalam kantor mereka memperhatikan apa yang tengah terjadi.
Perusahaan besar itu menjadi sorotan oleh banyak orang. Mereka yang berada di jalanan pun tak kalah untuk datang mendekat.
"Ada apa ini ? Apa ada demo karyawan ?"tanya beberapa orang yang ada di jalanan.
"Entahlah. Sejak tadi sudah berkerumun."
Karena ada seseorang yang menjadi provokator menyuarakan agar bisa menerobos masuk maka kondisi menjadi tak terkendali.
Beberapa karyawan laki-laki yang menonton pun turut membantu satpam karena mereka tak tega. Lagi pula kantor itu adalah tempat mereka bekerja.
"Tenang... Tenang... Jangan rusuh !!! Kita selesai baik-baik !!" Teriak satpam yang suaranya kalah oleh suara banyak orang.
Rombongan Satya sudah sampi di lantai satu tapi melihat keadaan yang tak kondusif Jordi menjadi khawatir pada bos-nya jika mendekat.
"Tuan sebaiknya anda tunggu saja disini. Nanti biar saya yang mengurusnya terlebih dahulu. Kondisi tak memungkinkan jika anda mendekat."
Grace yang tiba belakangan melihat suasana seperti itu pun sedikit ngeri. Matanya mengawasi banyak orang yang berkerumun dan berteriak-teriak itu. "Waduh Si Nela bisa tewas di keroyok masa ini sih." Gumam Grace.
"Tuan... Maaf sebelumnya. Sepertinya ini masalah serius sampai mereka demo seperti itu." Ucap Grace.
"Serius apa maksudmu ? Saya tak melakukan apapun." Ucap Sonia yang muak dengan Grace.
"Loh ? Lalu apa Nyonya pikir satpam, karyawan yang lain dan juga orang-orang itu sedang bermain bersama ?" Ucap Grace dengan santai dan cuek. Meski di hadapan Satya Grace tak ambil pusing nyatanya bos-nya sendiri saja tak sedekat pasangan suami-istri lainnya.
"Ck... Dasar sekertaris..."
"Sonia bisakah kamu diam ? Jika bukan karena dirimu pasti tidak akan seperti ini." Ucap Satya dingin.
Grace tersenyum mengejek pada Sonia. Wanita itu diam tak lagi membuka suara untuk memancing kekesalan Sonia. Ia terlalu pintar melihat situasi dan kondisi untuk memprovokasi Sonia.
"Bapak-bapak ibu-ibu tenang !! Tenang dulu !!" Ucap Jordi dengan suara keras dan tegas.
__ADS_1
Melihat penampilan Jordi yang terlihat seperti seorang atasan. Beberapa masa itu sedikit demi sedikit mulai tenang dan tak berteriak-teriak lagi.
"Kami tenang jika diijinkan masuk mencari wanita tak bertanggung jawab itu !!"
"Iya benar... Benar... Suruh dia keluar !!"
Masa kembali riuh dengan suara-suara mereka yang menyerukan tanda setuju.
"Tenang !! Tenang !!" Jordi mengangkat kedua tangany tinggi-tinggi.
Masa kembali tenang dibantu dengan satpam dan karyawan laki-laki.
"Kita selesaikan masalah ini baik-baik. Saya meminta perwakilan dua orang untuk membicarakan masalah ini." Ucap Jordi.
"Sebaiknya saksi mata dan juga korban bisa dihadirkan." Imbuh Jordi.
"Korban langsung dilarikan ke rumah sakit Tuan. Disini ada anak korban." Ucap seseorang pria.
"Oke, saksi mata dua orang dan anak korban bisa ikut saya masuk."
"Ayo yang lain segera membubarkan diri atau bisa menunggu di kantin saja." Ucap satpam.
"Ayo kita bubar... Sudah ada yang masuk mengurus permasalahan ini." Ucap salah satu masa.
Mereka semua tertib membubarkan diri meski ada beberapa yang mencibir karena kesal dan tak suka atas sikap tak bertanggung jawab itu.
Dua saksi mata dan satu anak korban yang masih berusia remaja itu masuk mengikuti Jordi ke tempat dimana Satya menunggu.
Pembahasan masalah pun dimulai, saksi mata bercerita awal mula kejadian. Dan tentu saja Sonia selalu membantah karena tak mau dituding menjadi pelaku tabrak lari.
"Jika kamu tak bisa diam. Aku sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi." Ucap Satya dengan penuh penekanan dengan suara yang ditekan sekecil mungkin.
"Tuan lebih baik kita lihat saja cctv kantor." Saran Jordi. Satya mengangguk itu langkah yang tepat untuk membuktikan kebenaran.
Jordi pergi ke ruang IT untuk mengecek cctv kantor yang sedang dipantau oleh beberapa karyawan disana. Begitu diputar ulang Jordi melihatnya terelbih dahulu hingga selesai lalu meminta salinan rekaman cctv tersebut.
Kembali Jordi pada Satya dan beberapa orang yang menantikan mereka. Flashdisk berisi rekaman cctv diberikan pada Satya, saat Jordi pergi Grace mengambil laptop.
Rekaman itu diputar, Satya mengamati rekaman dengan teliti hingga selesai. Dari hasil rekaman menyatakan jika memang Sonia bersalah. Mobil yang digunakan Sonia menyerempet seorang wanita paruh baya hingga terjatuh dan sepertinya kepala wanita itu membentur trotoar.
"Saya mewakili Nyonya Sonia yang tidak sengaja menyerempet korban. Memohon maaf atas kejadian ini." Ucap Satya.
Meski pria itu dingin dan arogan tapi jika menyangkut nama baik mau tak mau dua harus melakukan sesuatu agar tak mencoreng nama baiknya dan perusahaannya. Kejadian itu terjadi di depan jalan kantornya persis dan pelakunya tak lain adalah Sonia istrinya sendiri.
"Kami akan bertanggungjawab. Nanti asisten saya yang akan mengurusnya." Ucap Satya.
"Baik Tuan. Terima kasih atas kebaikan Tuan dan tanggung jawabnya." Ucap anak remaja yang ibunya menjadi korban.
Satya hanya mengangguk tanp senyum. Grace tersenyum pada anak itu saat anak remaja menatap Grace.
"Kalau begitu permasalahan ini sudah selesai Tuan. Saya harap kalian benar-benar bertanggung jawab. Karena anak ini adalah anak yatim jika kalian tak bertanggung jawab bagaimana dengan biaya rumah sakitnya. Meski tak parah tapi setidaknya perbuatan salah harus dipertanggungjawabkan." Ucap seorang Bapak yang menjadi saksi.
Anak tersebut rupanya bermukim di dekat perkantoran. Maka dari itu beberapa saksi mata mengenal anak remaja itu dan ibunya. Tak heran jika mereka berbondong-bondong membela anak itu.
"Baik. Bapak-bapak tenang saja kami akan benar-benar bertanggung jawab. Harap tinggalkan nomor telepon dan juga alamat rumah sakitnya. Kami akan mengganti biaya rumah sakit." Ucap Jordi.
Setelah urusan selesai mereka semua membubarkan diri. Satya, Jordi dan Grace kembali ke lantai atas ruangan Satya. Tentu Sonia masih mengekor meski wanita itu sedari tadi tak diajak bicara oleh siapapun terakhir hanya ucapan tekanan dari Satya.
"Hebat juga kamu, jadi pawang demo hahaha." Ucap Grace tertawa.
Jordi menatap malas pada Grace. Sebenarnya dia kesal lagi-lagi istri bos-nya itu membuatnya repot. Sungguh Jordi malas jika harus direpotkan oleh Sonia maupun Alya.
Di ruangan Satya, Sonia yang awal kedatangannya bertujuan untuk protes akan kartu kredit nya yang diblokir oleh Satya pun berganti dengan dirinya yang mendapatkan amukan dari Satya. Pria itu jika sudah marah kalimat yang keluar adalah kalimat yang pedas yang menyakitkan hati.
****
Di Jerman, sepasang suami istri yang sudah renta tengah bersantai di kediamannya. Rumah yang besar itu memiliki halaman belakang yang cukup luas. Mereka bersantai dengan menyesap secangkir teh masing-masing.
Menikmati senja di sore hari sembari berbincang ringan. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari masa muda mereka dulu bersama teman-teman mereka hingga perjalanan hidup mereka berdua sampai saat ini.
Tuan Hector, pria tua itu meski telah berusia lanjut rasa cintanya pada istri nya Zeta yang kini sering di panggil Nyonya Hector tak pernah pudar. Mereka hanya hidup berdua, saling menguatkan satu sama lain.
Beruntung di perjalanan hidup yang sudah semakin menua itu mereka diberikan kesempatan oleh sang pemberi hidup. Dipertemukan dengan Belva saat ini menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi mereka terutama Nyonya Hector.
Wanita itu tak pernah merasakan bagaimana memiliki seorang anak, pernah mengurus bayi namun anak yang pernah diurusnya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Keinginan nya memiliki seorang anak tak pernah bisa terkabulkan akibat rahimnya yang harus diangkat akibat kecelakaan dan didukung dengan penyakitnya sendiri.
Mengapa tak mengadopsi anak saja ? Pernah hal itu dilakukan tapi niat itu diurungkan sebab saat masa mudanya dulu wanita itu harus menemani Tuan Hector untuk perjalanan bisnis. Kasihan jika anak yang di adopsi harus berpindah-pindah tempat.
Kehadiran Belva yang menggerakkan hati Tuan dan Nyonya Hector dengan niat awal menolong wanita itu kini berakhir dengan mengangkat Belva sebagai anaknya. Ditambah kehadiran Duo Kay menjadi kebahagiaan dua lansia itu lebih besar.
"Pa... Bagaimana ya kabar Vanthe dan anak-anak."
"Mereka tak menghubungi mu ?" Tanya Tuan Hector.
"Akhir-akhir ini jarang menghubungi Mama. Mama merindukan mereka."
"Mungkin sedang sibuk Ma... Papa juga sudah menyuruh Roi sekalian menjaga mereka. Tujuan Papa mengutus Roi untuk menghandle pekerjaan di Indonesia."
"Nanti jika ada waktu kita akan ke Indonesia lagi untuk menjenguk mereka. Sekarang jika kamu merindukan mereka, maka hubungi saja."
"Mama coba dulu Pa... Kemarin Mama hubungi tidak bisa. Tapi Vanthe tetap membalas dengan mengirimkan pesan."
"Jika seperti itu pasti dia sangat sibuk. Mama juga tahu putri kita sedang merintis butik nya."
Nyonya Hector mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ponsel putrinya. Panggilan itu tersambung tapi belum juga diangkat oleh Belva. Hingga beberapa detik akhirnya panggilan itu terjawab.
"Hallo Mama."
"Hallo sayang. Nak... Bagaimana kabar mu ? Mama sangat merindukan mu."
"Mama, kabar ku baik. Maafkan Vanthe... Disini Van sedang sibuk. Butik ramai sekali belum lagi Van harus menemani anak-anak pemotretan."
Belva tak mengatakan jika dirinya sibuk dengan permasalahan yang menghampiri. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya itu dan benar-benar menjaga mereka agar tak merasa sedih dan terbebani. Meski Tuan Hector sudah pasti akan selalu membantu jika putrinya itu tengah mengalami permasalahan.
"Pemotretan ? Apakah cucuku sekarang menjadi model ?" Tanya Nyonya Hector antusias.
"Iya Mama... Anak-anak mendapatkan tawaran dari Ivalloth."
"Astaga benarkah itu ? Brand itu sudah sampai mancanegara sayang. Apa kamu tidak salah sebut nama itu ?" Nyonya Hector saja merasa tak percaya. Seterkenal itu brand yang melirik Duo Kay.
"Tentu saja tidak Ma. Itu benar-benar nyata, kemarin beberapa hari yang lalu mereka sudah melakukan pemotretan."
"Oke... Mama percaya. Tidak heran jika mereka mendapatkan tawaran itu. Cucu-cucu ku tampan dan cantik."
"Iya Ma... Bagaimana kabar Mama dan Papa ?"
"Kami disini baik-baik saja sayang sama seperti mu. Besok jika kami ada waktu, kami akan mengunjungi kalian sayang."
"Benarkah ? Oke Ma... Kami tunggu, kabari saja jika akan kemari. Kami juga berencan jika anak-anak libur akan berkunjung ke sana bertemu Mama dan Papa."
"Ah baiklah sayang. Kami pun menunggu kedatangan kalian."
"Dimana Papa ? Vanthe mau bicara dengan Papa sebentar." Ucap Belva.
Ponsel Nyonya Hector diberikan pada suaminya. Pria lansia itu tentu saja merasa senang dicari oleh putrinya.
"Hallo Nak, ada apa ? Kabar mu baik hemm ?" Ucap Tuan Hector.
"Baik Pa, Papa sehat-sehat saja kan ?"
"Seperti kata Mamamu, kami baik-baik saja. Papa sehat."
"Pa, apa Papa tidak kesulitan mengurus pekerjaan di Jerman jika Om Roi ada di sini ?" Tanya Belva. Sejujurnya ia khawatir jika Papa nya kelelahan bekerja di usia yang sudah tua.
"Kamu tenang saja Nak. Asisten Papa tidak hanya Roichi seorang. Memang dia orang yang paling Papa percaya. Maka dari itu Papa menyuruhnya untuk mengurus perusahaan yang ada di Indonesia sekalian menjaga kalian disana." Ucap Tuan Hector.
"Oke baiklah Van mengerti. Tapi Papa janji tidak boleh kelelahan bekerja ya."
"Siap putri Papa. Papa senang kamu mengkhawatirkan Papa Nak. Kamu jaga diri baik-baik disana jika terjadi sesuatu hubungi Papa atau minta bantuan Roi."
"Iya Papa... Ya sudah kututup dulu ya. Besok kita sambung lagi."
"Iya Nak." Jawab Tuan Hector.
Panggilan terputus.
Kedua pasangan lansia itu sudah merasa lega dan senang. Dengan bisa bertukar kabar saja sudah mengobati rasa rindu mereka.
Kini mereka tak lagi merasa sendiri. Memiliki Belva dan si kembar mampu menghibur mereka di masa tuan mereka. Mereka jadi memiliki kesibukan untuk memikirkan tumbuh kembar cucu-cucu mereka. Selama berada di Indonesia, Roichi pun selalu mengirim foto dan video si kembar pada Tuannya. Memang hiburan dan kebahagiaan tersendiri bagi Tuan dan Nyonya Hector.
****
Setiap ada acara bergengsi, maka akan banyak pelaku bisnis besar yang juga hadir di acara tersebut. Seperti malam ini di sebuah hotel Xx sedang diadakan acara Lelang.
Banyak sekali pengusaha dari kalangan menengah ke atas mendapatkan undangan untuk jadi di acara lelang tersebut. Termasuk Satya dan juga Roichi. Kedua pria itu menghadiri acara tersebut dengan Roichi sebagai pengganti Tuan Hector yang tidak tinggal di Indonesia.
Jika Satya berangkat hanya dengan Jordi karena tak ingin membawa Sonia. Maka, berbeda dengan Roichi yang membawa Belva dan juga Duo Kay serta Bella.
Roichi, tahu yang terbaik untuk Belva dan juga Duo Kay. Tanpa sepengetahuan Belva, pria itu pun juga membawa bodyguard bayangan untuk menjaga tiga manusia kesayangan keluarga Hector.
Belva sudah menyimpan diri jika memang di acar tersebut akan bertemu dengan keluarga Satya. Roichi sudah menginformasikan jika akan banyak pengusaha yang datang di acara tersebut.
Lelang itu adalah acara yang diselenggarakan untuk penggalangan dana bagi panti asuhan, panti jompo dan tempat-tempat yang membutuhkan bantuan sosial. Mereka memiliki sebuah organisasi sendiri yang mengumpulkan para pengusaha untuk penggalangan dana. Ada yang ikut karena sebuah pencitraan ada pula yang benar-benar murni dari hati untuk membantu.
Saat memasuki ballroom hotel, penampilan rombongan Roichi menjadi pusat perhatian. Terlebih pria itu memboyong dua wanita cantik dan juga dia bocah kecil yang tampan dan juga cantik bersamanya.
"Astaga itu perempuan cantik sekali meski tak berdandan secara berlebihan." Ucap lirih beberapa wanita yang ada di dalam ruangan hotel.
Bisik-bisik itu membuat beberapa pria pun turut memperhatikan wajah cantik Belva dan Bella.
"Istri Tuan Roichi kah itu ?"
"Mungkin saja. Tapi yang mana istrinya ? Yang pakai baju rambut panjang itu atau yang lebih pendek rambutnya ?"
Satya yang sudah datang terlebih dahulu bersama Jordi pun ikut menatap kedatangan rombongan Roichi. Terdengar lirih orang-orang yang lebih banyak membahas kecantikan Belva.
Entah rasanya Satya tak suka jika mereka terus menatap dan juga membicarakan kecantikan Belva. Memang sejak pertama kali melihat Belva saat di acara pernikahan putri Tuan Maxim itu Satya memang sudah merasa memiliki ketertarikan dengan mantan pembantu nya itu.
"Tuan Roichi... Anda datang bersama keluarga ?" Sapa salah satu pengusaha yang hadir di sana."
__ADS_1
"Ah iya Tuan... Ini keluarga saya."
"Apa itu anak-anak anda ?" Tanya orang itu kembali.
"Ya ini putra dan putri saya."
"Mami, bisakah kita duduk ? Aku ingin duduk." Ucap Kaila. Anak itu memang selalu lebih repot dibandingkan saudara laki-laki nya. Maklum perempuan.
Baru saja pengusaha yang menyapa Roichi tadi hendak bertanya yang mana istri Roichi tapi diurungkannya karena telah mendengar gadis kecil itu memanggil salah satu wanita yang sudah dipastikan adalah istri Roichi yaitu Belva.
Orang luar memang mengira seperti itu karena sesuai rencana agar Sonia tak kembali mengusik ketenangan hidup Belva dan dua buah hatinya.
"Ayo sayang kita duduk." Jawab Belva.
"Papi ayo ikut." Ajak Kaili.
"Sebentar sayang. Papi masih harus menyapa teman-teman Papi dulu. Kaili duduk dengan Mami, aunty dan Kaila dulu ya." Ujar Roichi lembut.
"Oke Papi."
Dua wanita cantik dan dua bocah itu duduk di kursi yang namanya khusus untuk Tuan Hector dan keluarga.
"Tuan Satya. Tuan Jordi kalian sudah datang rupanya." Sapa Roichi.
"Oh ya Tuan Roichi. Baru beberapa menit yang lalu. Rupanya anda datang rombongan." Ucap Satya.
Roichi tersenyum. "Ya... Mumpung berada di Jakarta, menghabiskan waktu bersama keluarga."
Jordi diam hanya menatap Roichi setelah menyapa dengan sebuah senyuman. Perbincangan diantar keduanya terjadi cukup lama. Beberapa kali Satya tertangkap mata Roichi melirik ke arah Belva.
"Maaf saya harus bergabung bersama keluarga dulu. Mari Tuan Satya... Tuan Jordi."
"Iya... Silahkan Tuan." Jawab Satya.
Meja itu melingkar begitu pula kursinya mengikuti arah dari bentuk meja tersebut. Roichi duduk bersebelahan dengan Belva.
Saat Satya akan melangkahkan kaki menuju mejanya. Seorang pria datang menyapa Satya.
"Hallo Tuan Satya. Apa kabar ?" Ucap pria itu tersenyum.
Satya mengerutkan keningnya, tak mengenal pria tersebut tapi sepertinya tak asing. Pernah bertemu tapi dimana dan kapan Satya tak ingat.
Mengerti dengan tatapan itu pria itu menjelaskan dirinya. "Ah anda pasti lupa. Kita pernah bertemu saat rapat tender di Surabaya. Apa anda masih ingat ?"
Ingat... Satya baru ingat jika pria itulah yang mengalahkan dirinya dalam tender di Surabaya. Rahangnya mengeras, mengingat bagaimana kekalahannya saat itu. Wajahnya yang sedari tadi menunjukkan ekspresi dingin dan datar itu kini tetap sama bahkan semakin dingin.
"Oh ya ? Tapi maaf saya tak mengenal anda." Ucap Satya dingin. Lalu pergi meninggalkan pria itu.
Pria itu matanya sedikit membola saat Satya mengucapkan itu. Di hadapan beberapa orang dirinya merasa ditolak oleh Satya.
"Cih sombong sekali." Umpat pria itu.
Pria yang dulu memenangkan tender, pemilik FF Group. Satya tentu tak akan lupa dengan cara perusahaan itu mengalahkan dirinya.
Meja Satya dan Jordi berada di sebelah meja Belva dan Roichi. Keberuntungan Satya bisa menatap Belva dengan jelas. Belva duduk menghadap mejanya sedangkan Roichi duduk menghadap depan. Tak sengaja pandangan mereka bertemu. Tapi Belva segera memalingkan wajahnya ke arah depan.
"Dia kenapa menatap ku seperti itu." Batin Belva.
"Cantik." Batin Satya. Sedikit bibirnya tersenyum tapi sayang sangat tipis hingga tak ada yang melihatku.
Acara pun dimulai, suasana cukup meriah dengan beberapa pengusaha yang saling berebut harga untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan.
Sebuah sepatu anak bermodel boots berwarna pink dikeluarkan oleh pihak panitia. Dipajang di depan, agar tamu undangan yang duduk di bagian paling belakang dapat melihat batang yang mereka tunjukkan maka pihak panjang menyorot batang tersebut hingga gambar dapat di tampilkan di layar monitor yang cukup besar.
"Wah cantik sekali." Spontan Kaila memekik kegirangan dengan bertepuk tangan.
Tamu undangan yang mendengar suara Kaila dan melihat tingkah bocah itu pun menjadi beralih pada Kaila. Termasuk Satya dan Jordi.
Roichi mengusap kepala Kaila dengan penuh kasih sayang. "Kaila mau itu sayang ?"
"Mau Papi." Dengan semangat empat lima Kaila menjawab.
"Oke Tuan dan Nyonya... Ini sepatu anak dari salah satu Brand terkenal yang khusus diproduksi untuk acara lelang ini. Mereka hanya memproduksi tiga pasang saja, dua pasang untuk kado ulang tahun putri pemilik perusahaan XX."
"Sudah bisa dipastikan bahan yang digunakan berkualitas tinggi dan premium dengan model yang di desain khusus. Baik saja langsung kita buka dengan harga 20 juta saja." Ucap pembawa acara.
Cukup banyak yang berminat dengan sepatu anak kecil itu. Mereka berlomba mendapatkannya untuk anak, keponakan atau cucu mereka.
"Tujuh puluh lima juta." Ucap Roichi.
Semua tertuju pada Roichi, disaat mereka berebut dengan harga terakhir yang mencapai lima puluh juta. Roichi memberikan tawaran harga dengan lompatan lebih tinggi. Itu dilakukan Roichi untuk memenangkan lelang, pria itu menunggu waktu yang tepat.
"Delapan puluh juta." Ucap Satya.
Lagi, perhatian tamu undangan mengarah pada Satya termasuk Roichi dan juga Belva. Roichi terkejut Satya ikut menawar untuk sepatu anak-anak itu.
"Untuk apa dia menawar sepatu anak ?" Batin Belva.
"Si bos menawar sepatu anak-anak untuk apa ?" Batin Jordi.
Banyak yang menatap bingung, setahu mereka Satya tak memiliki bocah kecil. Tapi sebagian ada yang berpikir mungkin untuk keponakannya Satya atau keluarga yang lain.
"Delapan puluh lima juta." Ucap Roichi.
"Sembilan puluh lima juta." Ucap Satya.
"Seratus juta." Ucap Roichi.
Seperti pertarungan sengit lelang itu diperebutkan antara Roichi dan Satya.
"Seratus lima puluh juta." Ucap Satya.
"Waahh... Serius Tuan Satya menawar harga sebuah sepatu dengan harga setinggi itu." Lirih tamu undangan.
"Oke... Ada yang masih mau memberikan tawaran ?" Tanya pembawa acara.
"Seratus tujuh puluh juta." Ucap Roichi tak mau kalah.
"Dua ratus lima puluh juta." Ucap Satya dengan mantap.
Semua melongo menatap Satya termasuk Roichi menoleh ke arah pria itu dengan pikiran penuh tanya. Hingga tanpa sadar pembawa acara beberapa kali bertanya apakah masih ada yang ingin memberikan penawaran harga. Tak ada yang menyahut.
"Baik... Kita hitung sampai hitungan ketiga jika tidak ada penawaran lagi maka Tuan dengan meja nomor tiga lah pemenang nya."
"Satu... Dua... Tiga... !!! Oke... Sepatu brand Xx dimenangkan oleh Tuan nomor tiga. Beri tepuk tangan meriah."
Mendengar tepuk tangan riuh, Roichi baru tersadar. Belva bertepuk tangan dengan wajah yang menyiratkan penuh tanya.
Satya tersenyum bisa memenangkan lelang sepatu anak tersebut. Hal itu memang sengaja dilakukannya demi seorang Kaila. Gadis kecil yang sampai saat ini masih melekat dalam ingatannya.
Acara selesai, rombongan Roichi keluar dari ballroom. Tapi sebelum itu Satya menghentikan mereka.
"Ada apa Tuan Satya ?" Tanya Roichi.
Belva hanya menatap dalam diam begitu juga dengan yang lain. Beberapa pasang mata juga menatap dua pengusaha besar itu.
"Maaf Tuan Roichi, saya hanya ingin memberikan ini pada gadis kecil yang cantik ini." Satya memberikan paper bag yang berisi sepatu yang telah di menangkannya tadi.
"Opa... Kenapa Opa ada disini ?" Tanya Kaila.
Roichi dan Belva mengerutkan kening. Melihat reaksi Kaila dan juga sikap Satya. Belva selalu melihat Satya bersikap dingin tapi dengan Kaila sikap itu tidak tampak sama sekali.
"Apa yang terjadi ? Tidak... Ini tidak boleh terjadi. Jangan sampai ini menjadi bencana." Batin Belva, ia sudah mulai tak tenang.
"Hallo cantik... Kita bertemu lagi. Ini untuk mu." Ucap Satya tersenyum lembut.
"Benarkah untuk ku ?" Mata Kaila berbinar melihat gambar dari paper bag tersebut.
"Tentu saja. Sebagai ucapan terima kasihku padamu." Ucap Satya yang masih tersenyum lembut sembari menunjukkan dua bungkus permen dari Kaila yang masih disimpannya.
Kaila tersenyum dan mengangguk. Tapi Belva berniat menolak pemberian itu.
"Terima kasih Tuan tapi sebaiknya tidak perlu. Ayo sayang kembalikan." Ucap Belva.
Satya menatap kecewa pada Belva, wanita yang menarik hatinya itu menolak pemberian nya untuk gadis kecil itu.
"Sayang, tak apa. Tidak baik menolak pemberian seperti itu." Ucap Roichi membujuk Belva dengan lembut.
"Terima kasih Tuan untuk pemberian Anda. Kami harus segera pamit karena kasihan anak-anak ini sudah malam." Ucap Roichi.
"Ah iya tentu. Hati-hati Tuan Roichi."
Satya menatap Belva tapi wanita itu memalingkan wajahnya. Dan segera berlalu meninggalkan ballroom hotel.
"Tuan, ternyata itu untuk anak Tuan Roichi. Anda lucu sekali sampai bersaing dengan ayahnya sendiri." Ucap pengusaha yang lain.
"Persaingan anda tadi sudah seperti seorang Ayah yang sedang memperjuangkan barang untuk anak anda sendiri." Ucap yang lain.
"Tapi, jika dilihat anak-anak Tuan Roichi lebih cocok menjadi anak-anak anda haha. Wajah kalian terlihat lebih mirip."
Satya hanya menanggapi dengan senyum tipis lalu berpamitan untuk pulang bersama Jordi. Kedua pria itu berjalan keluar dari ballroom hotel.
"Loh ? Kenapa wanita itu ada disini dengan pria itu ?" Batin Jordi.
Dia tak salah lihat, karena wajah keduanya sudah terekam jelas dalam ingatan Jordi. Sampai sepasang manusia itu hilang dari pandangannya.
****
ππππππππππππππππ
Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. βΊοΈ
Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. βΊοΈπ€²π
________________________________________________
...Bonus !!! Bonus !!! Bonus !!!...
...Author kenyang kalian senang ππ...
__ADS_1
...Nb : Kenyang kejar tayang buat kasih bonus buat my dear yang selalu setia support....
________________________________________________