Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 153. Terpantau


__ADS_3

Suasana dan kondisi yang berbeda kini dirasakan oleh Belva maupun Satya. Mereka seperti pasangan pengantin yang baru saja menikah tadi pagi. Menikmati kebersamaan di kamar pengantin, mereka terlihat sangat romantis dan sangat dekat.


"Nanti malam mas pingin jalan-jalan, kita jalan yuk."


"Jalan ke mana, mas?"


"Ke Monas, yank."


"Hah? Mas kita sekarang bukan di Jakarta loh, mana ada Monas."


"Ya sudah kita ke menara Eiffel saja kalau begitu."


"Emm tapi besok kan kita ada acara ke pernikahan Marko, mas. Kalau anak-anak kelelahan bagaimana?"


"Anak-anak biar di rumah saja, kita berdua saja yang pergi."


"Eh? Mana bisa seperti itu. Pasti mereka akan merengek meminta ikut. Kasihan mereka mas, kita pergi nya setelah acara saja ya." Pinta Belva.


Satya tampak berpikir sejenak, dirinya sangat ingin sekali pergi mengunjungi tempat itu tapi mendengar kondisi saat ini Satya kembali berpikir ulang. Mereka baru saja sampai dengan perjalanan jauh, besok sudah ada acara tujuan mereka datang ke negara tersebut, terlebih ada dua bocah yang pasti akan merasa kelelahan.


"Oke kita pergi nya setelah acara saja." Ucap Satya mengalah demi mempertimbangkan keadaan anak-anaknya.


Di sisi lain kamar, Duo Kay begitu senang di dalam kamar mereka. Mereka berlarian di dalam kamar dan memainkan semua mainan yang ada di dalam kamar tersebut. Tapi rupanya Kaila mulai merasa jenuh.


"Kaila, kamu mau ke mana?"


"Mau ke kamar Mami."


"Tidak boleh kata Mami dan Daddy, kita harus di dalam kamar agar Oma tidak tahu. Kita kan mau kasih kejutan untuk Oma." Ucap Kaili.


"Tapi aku bosan di sini." Ucap Kaila dengan bahu merosot ke bawah.


"Kamu tidak gambar baju untuk butik Mami? Kan kita pergi jauh dan lama pasti butik Mami kehabisan baju nanti."


"Memang benar seperti itu? Kan baju di butik Mami banyak." Ucap Kaila mulai tertarik dengan pembicaraan Kaili.


"Butik Mami banyak yang datang pasti mereka banyak beli baju. Nanti saat kita pulang pasti baju-baju nya habis karena Mami dan kamu tidak gambar lagi."


"Iya sih butik Mami selalu banyak orang tapi kan kemarin bajunya masih banyak sekali."


"Gambar saja Kaila, kalau bajunya habis nanti Mami tidak bisa jual baju lalu nanti kalau tidak jual baju kita tidak bisa jajan." Ucap Kaili.


Kedua bocah itu terlibat perbincangan serius seperti orang dewasa, Kaila berdiri bersandar pada ranjang sedangkan Kaili duduk di karpet bulu yang halus berwarna putih.


Mereka yang sedari kecil sudah terbiasanya diberikan pengertian oleh Belva bahwa sang Mami berjualan baju agar mereka bisa mendapatkan uang dan bisa digunakan untuk jajan serta membayar sekolah. Hidup mereka pun sudah terbiasa diajarkan agar untuk mendapatkan uang jajan maka mereka harus berusaha terlebih dahulu. Bukan berarti Belva mengeksploitasi anak-anaknya melainkan mengajarkan pada anaknya agar tidak terbiasa untuk meminta tanpa berusaha. Duo Kay bahkan sedari kecil seali diberi pengertian untuk bisa menabung sebagian uang yang mereka miliki.


Akhirnya dari perbincangan tersebut, Kaili mampu menahan Kaila agar tak keluar dari kamar mereka. Hingga sampai pada jam makan siang Satya dan Belva menghampiri mereka untuk turun ke meja makan setelah salah satu ART dari Tuan Hector memberitahu pada Belva dan Satya.


"Sayang, kalian sedang ada?" Tanya Belva.


Kedua bocah itu langsung menoleh ke arah suara sang Mami.


"Mami, kita sedang gambar." Ucap Kaila.


"Gambar apa hari ini?" Tanya Belva kembali.


"Kaila gambar baju karena nanti pasti baju di butik Mami habis saat kita pulang ke rumah."


"Kalau baju Mami habis nanti kita tidak bisa berjualan kita tidak ada uang buat makan, buat jajan dan sekolah kan." Imbuh Kaila.


Satya mendekati putrinya, dia merasa gemas dengan sang putri. Ada rasa bangga dengan pemikiran putrinya yang sudah mengerti dengan keadaan.


"Sayang, kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" Tanya Satya pada putrinya.


"Mami kan selalu bilang seperti itu, kata Mami kita harus berjualan kalau mau dapat uang atau kita harus menabung dulu kalau mau beli sesuatu."


Bukan Kaila yang menjawab melainkan Kaili.


"Iya kata Mami seperti itu sejak kita tinggal di rumah bersusun seperti Lego milik Kaili jadi kita ingat terus karena Mami sering berkata seperti itu." Imbuh Kaila.


Satya mengerutkan keningnya mendengar istilah yang diucapkan oleh putrinya. Pria itu langsung menoleh ke arah istrinya untuk menanyakan maksud Kaila. Dari sorot mata Satya, Belva langsung paham.


"Maksud Kaila, apartemen kami dulu."


"Kalian tidak tinggal di sini? Tanya Satya.


"Sejak usia mereka satu tahun aku memutuskan untuk tinggal sendiri bersama mereka."


"Ayo kita ke bawah makan siang dulu, kita kasih kejutan untuk Oma." Ajak Belva.


Mengingat ini sudah waktunya makan siang dan Nyonya Hector pasti sudah pulang. Keluarga kecil Satya turun denagn langkah santai menuju meja makan. Benar saja Nyonya Hector sudah duduk di meja makan bersama sang suami. Sengaja Tuan Hector tak menceritakan jika putri mereka datang.


"Omaaa!!!" Panggil Duo Kay dengan suara yang cukup nyaring berteriak memanggil Oma kesayangan mereka.


Nyonya Hector sangat terkejut dengan teriakan panggilan dari suara yang sangat dikenalinya. Secara spontan wanita paruh baya itu menoleh ke belakang. Manik matanya membulat dan mulutnya menganga binar bahagia terpancar secara langsung dari sorot mata Nyonya Hector.


"Sayaaanngg!!! Cucu-cucu Oma. Kalian kapan datang?" Nyonya Hector berucap heboh.

__ADS_1


Duo Kay langsung memeluk Oma mereka, mengelendot di pangkuan Nyonya Hector karena wanita tua itu sedang duduk di kursi meja makan. Diusap lembut kepala Duo Kay oleh Nyonya Hector dan dicium secara bertubi-tubi oleh Nyonya Hector.


"Ma..." Sapa Belva.


"Sayang." Nyonya Hector mendongak menatap putrinya dan mengulurkan tangan untuk berpelukan. Belva langsung menyambut uluran tangan tersebut.


Kedua wanita berbeda generasi itu kini saling berpelukan, manik mata Nyonya Hector berkaca-kaca melihat cucu dan anak serta menantunya datang.


"Satya." Panggil Nyonya Hector.


"Mama apa kabar?" Satya mendekati dan menyalami mertuanya tapi Nyonya Hector justru merangkul Satya dan memeluknya sama seperti yang ia lakukan pada Belva tadi.


"Mama baik, Nak. Terima kasih sudah membawa Vanthe ke sini, Mama senang."


"Sama-sama Ma." Satya tersenyum tipis. Ada rasa hangat di dalam hatinya, Satya merasa kini kembali memiliki keluarga.


"Sudah-sudah kangen-kangenan nya, kita makan siang dulu Papa sudah lapar."


"Iya. Ayo sayang kita makan dulu. Satya, Vanthe duduklah. Cucu-cucu Oma duduk di samping Oma ya."


"Oke Oma." Jawab Kaili.


"Aku di dekat Opa." Pinta Kaila.


Gadis kecil itu dibantu oleh Tuan Hector yang sudah duduk di kursi utama tapi harus berdiri untuk membantu Kaila duduk di kursi sedangkan Nyonya Hector membantu Kaili. Satya dan Belva duduk berdampingan di seberang Nyonya Hector.


Makan siang mereka mulai dengan sedikit perbicangan, Satya yang sejak duli terbiasa makan dengan tenang kini sedikit merubah kebiasaannya sejak kehadiran Duo Kay.


Malam hari keluarga yang baru saja bertemu itu kini tengah duduk bersama di ruang keluarga. Canda tawa kembali terjadi karena celotehan Kaila yang memang memiliki sifat suka berbicara lebih banyak daripada Kaili.


"Sayang, apa kalian datang ke sini untuk menghadirkan pernikahan putri Nyonya Dimitri?" Tanya Nyonya Hector pada Belva.


"Iya, Ma. Sebelum Marko dan Azura kembali mereka mengundang kami untuk menghadiri pernikahan mereka." Jawab Belva.


"Mama sudah menduganya karena Nyonya Dimitri mengatakan jika kamu harus datang tapi kemarin kamu bilang tidak bisa datang karena urusan pekerjaan Satya dan sekolah si kembar. Mama sedih kamu tak bisa datang, Mama sangat berharap sekali kamu datang ke sini."


Belva tersenyum dan menggenggam tangan Nyonya Hector. "Maaf, Ma. Van hanya ingin memberikan kejutan untuk Mama dan Papa. Mas Satya pasti meluangkan waktunya, sepertinya Marko sudah dianggap adik oleh mas Satya." Ucap Belva tersenyum melirik suaminya.


"Benarkah? Bagus lebih banyak saudara lebih bagus." Ucap Nyonya Hector.


"Iya, Ma. Mama benar, tidak memiliki saudara itu kurang menyenangkan. Maka dari itu Satya ingin nanti anak-anak memiliki banyak saudara tidak kesepian seperti Mami dan Daddy nya." Ucap Satya.


"Memang kalian berencana memiliki berapa anak?" Tanya Tuan Hector.


"Sebanyak-banyaknya, Pa. Itu kalau Belva mau." Ucap Satya.


Pembahasan perihal anak nyatanya membuat Belva sedikit merasa malu tapi ini bukanlah hal yang tabu bagi mereka yang sudah berumahtangga. Belva mencoba menguasai sikap dan perasaannya saat ini agar terlihat biasa-biasa saja.


"Entah, Ma. Van serahkan saja nanti pada yang di atas kalau rejekinya dikasih banyak kita tidak boleh menolak juga kan." Ucap Belva.


Jawaban Belva membuat Satya terus memperhatikan istrinya. Ingin rasanya Satya memelik istrinya dengan erat dan tidak akan melepaskannya. Saat ini posisi duduk Satya tam berdampingan dengan sang istri karena Belva duduk di sofa berdampingan dengan Nyonya Hector.


Perbincangan terjadi hingga larut mulai dari kondisi di Indonesia, perkembangan usaha mereka hingga perbicangan receh yang sangat terkesan santai dan tidak penting.


"Mami, Kaila mengantuk." Rengek Kaila.


"Ayo kita tidur, sini gendong Daddy." Ujar Satya menawarkan diri.


Pria itu tak pernah absen untuk memperhatikan kedua anaknya terutama jika dalam hal gendong menggendong Satya memangebih banyak menggendong Kaila karena tubuh Kaila yang lebih besar di bandingkan Kaili. Dia tak tega melihat istrinya menggendong Kaila yang lebih berat dari Kaili.


Menurut saja Kaila mendekat pada Daddy nya, Satya langsung berdiri untuk menggendong Kaila.


"Kaili mau gendong juga?" Tanya Belva pada Kaili. Pria kecil itu menggeleng memilih berjalan saja. Belva menggandeng tangan Maminya.


"Pamit dulu dengan Opa dan Oma, sayang." Ucap Satya.


"Oma... Opa... Kaila tidur dulu ya."


"Iya sayang tidurlah semoga mimpi indah cucu Opa." Ucap Tuan Hector.


"Mimpi indah sayang." Ucap Nyonya Hector.


"Selamat malam Oma, Opa." Ucap Kaila dan Kaili bersamaan.


"Selamat malam, Nak." Jawab Nyonya Hector, Tuan Hector tersenyum menatap kedua cucunya lalu pria paruh baya itupun juga menjawab salam dari kedua cucunya.


"Pa, Ma... Kami ke kamar anak-anak dulu." Pamit Belva.


"Iya, Nak." Ucap Tuan Hector.


"Kami juga akan kembali ke kamar kami, ini sudah larut kalian juga istirahat." Ucap Nyonya Hector.


"Iya, Ma. Kami permisi." Ucap Satya yang mendapat anggukan dari Tuan dan Nyonya Hector.


Satya dan Belva mengantar kedua anaknya ke kamar mereka. Menemani dua bocah itu untuk bersiap-siap tidur. Setelah semua siap tak butuh waktu lama keduanya sudah tertidur pulas.


"Mas, ayo ke kamar. Mereka sudah tidur."

__ADS_1


"Yank, mas pingin jalan ke menara Eiffel."


"Mas, ini sudah larut malam. Kan kita sudah sepakat besok setelah acara pernikahan Marko kita baru akan mulai jalan-jalan."


"Ya sudah kita ke taman belakang saja ya, bagaimana?" Tawar Satya.


"Mau apa ke sana? Dingin mas jangan aneh-aneh deh."


"Ayolah, yank temani mas. Sekalian nanti bikin kopi biar tidak dingin."


"Nanti mas tidak bisa tidur kalau minum kopi." Ucap Belva.


"Mas belum mengantuk yank, ayolah temani mas sebentar saja." Satya mulai merengek hampir sama seperti Kaila dan Kaili.


Berdebat akan membuat kedua anaknya terbangun karena mereka masih berada di dalam kamar Duo Kay. Mau tak mau Belva terpaksa menuruti keinginan suaminya daripada terus merengek.


"Ya sudah ayo, tapi aku ke dapur dulu buat kopi." Ucap Belva pasrah.


Satya tersenyum senang mendengar keinginannya diikuti oleh Belva.


"Ayo mas temani nanti kita ke taman belakang sama-sama."


Satya langsung meraih pinggang istrinya dan mengecup pipi Belva dengan rasa bahagia. Mereka kini berada di dapur untuk mbuat kopi. Hanya satu cangkir kopi saja yang Belva buat untuk sang suami sedangkan dirinya membuat coklat panas untum mwnghalau hawa dingin nanti saat di taman belakang.


Duduk di bangku taman memang sama seperti yang Belva katakan, dingin langsung menyapa tubuh mereka. Tapi Satya tetap antusias duduk di bangku taman itu dengan memeluk erat bahu istrinya. Bintang-bintang di langit menjadi pemandangan yang membuat hati Satya gembira.


"Yank, bintangnya banyak ya."


Manik mata Belva langsung memandang ke atas. "Mas, ke sini cuma mau lihat bintang saja?"


"Iya. Bagus ya?" Jawba Satya yang masih memandang ke arah langit.


Belva tak habis pikir, jika hanya memandang bintang saja dari balkon kamarnya pun bisa.


"Mas, dari balkon kamar kan bisa tidak harus ke sini."


"Mas, maunya tadi lihatnya dari menara Eiffel tapi karena ini sudah malam jadi kita lihat dari taman belakay saja."


Belva menghela napasnya mendengar ucapan sang suami.


"Yank, mas pingin nanti anak kita sebanyak bintang di langit."


"Hah? Mas jangan gila deh, bintang itu ribuan jumlahnya. Ya masa aku harus melahirkan ribuan kali."


Satya tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban istrinya. "Ya tidak dalam jumlah ribuan, sayang. Tapi banyak pokoknya biar mas punya keluarga besar nanti."


"Mas, benar-benar ingin memiliki banyak anak?" Tanya Belva kembali.


Satya mengangguk, "Sangat-sangat ingin sekali. Kami siap kan?"


"Bukan masalah siap atau tidak tapi aku hanya tidak ingin membuat mas kecewa. Selama aku menikah dengan mas, mas sayang menyayangi kami jadi apapun keinginan mas tentu aku sebagai istri hanya mengikuti saja selama itu masih dalam batas wajar."


"Terima kasih, sayang. Mas sangat-sangat mencintai mu dan anak-anak. Kalian segalanya bagi mas."


Satya semakin memeluk erat istrinya, tak hanya memeluk tapi juga mulai mema*gut bibir bak madu milik istrinya. Tak menolak Belva pun membalasnya.


"Sayang, bisa kita lanjutkan di dalam? Benar katamu di sini dingin, mas butuh yang hangat di dalam." Bisik Satya pada telinga istrinya.


Belva hanya mengangguk dan tersenyum, sebagai seorang istri Belva tak mau menolak keinginan suami. Banyak dari mereka di luar sana yang justru mencari kehangatan lain, Belva sangat-sangat mencegah hal itu terjadi.


Keduanya masuk ke dalam kamar mereka demi menghangatkan diri setelah hawa dingin di taman belakang menembus hingga tulang-tulang mereka. Malam ini ucapan Belva semua nya benar jika hawa di taman memang dingin dan Satya pun merasa tidak mengantuk sama sekali.


Aktivis yang halal bagi mereka pun terjadi, mulai dari pemanasan hingga akhirnya terjadi gencatan senjata yang penuh dengan kekuatan. Bom nuklir yang diledakkan Satya selalu tepat sasaran.


"Mas, tadi sempat berpikir jika kita akan menghangatkan diri di taman belakang pasti sensasi nya berbeda, yank."


"Ahh... Pelan-pelan Daddhh..." Des*ah Belva.


"Tanggung kalau pelan, Mam. Daddy suka, milik Daddy jadi hangat."


Satya kembali merasai bib*ir manis Belva dengan rakus dan liar. Tangannya tak tinggal diam memanjat dan bermain di bukit berkerikil itu. Satya merasa dirinya begitu puas dan lega, kegiatan itu terpantau hingga hampir subuh.


Lelah selalu Belva rasakan saat keinginan suaminya selalu ia kabulkan. Satya tak pernah mau melakukan hanya sekali saja, jika pria itu masih mampu maka akan terus dilakukannya hingga lelah. Selimut tebal menutupi mereka saat mereka tertidur pulas.


Pagi hari, saat Belva masih tertidur pulas tiba-tiba dirinya terganggu dengan suara aneh yang tertangkap oleh telinganya.


***


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Simak terus yess kelanjutan ceritanya.


Thank buat support kalian sampai saat ini, buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya terimakasih banyak 🙏🙏


Masih author ingatkan nanti bakal ada kejutan kecil buat kalian *jika novel ini tembus 1jt view dalam bulan in*i. *Kejutan akan diberikan kepada kalian yang setia support dan masuk ke tiga besar rangking harian yang terpantau di akhir bulan nanti tanggal 31 Januari* 🤗🙏.

__ADS_1


Semangat, bahagia selalu, sehat selalu dan semoga terhibur 🙏🙏


__ADS_2