
"Bagaimana jika benar bayi itu anak Satya?" Tanya Roichi pada Belva.
Belva menatap Roichi saat mendengar pertanyaan itu.
"Aku tidak tahu." Jawab Belva. Harapannya sangat besar bayi itu bukan anak dari suaminya, ia yakin jika itu bukan anak Satya.
"Jika terbukti benar, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Roichi kembali.
"Kenapa Om bertanya seperti itu?" Tanya Belva.
"Kamu akan tetap bertahan dengannya?" Bukan menjawab tapi masih terus bertanya pada Belva.
"Janjiku jika itu adalah anak mas Satya, aku akan bercerai dengannya. Biarkan wanita itu yang bersama dengan mas Satya." Ujar Belva.
Sejujurnya dalam hatinya ia merasa sakit saat mengatakan hal itu. Keyakinannya begitu besar bahwa wanita itu tidak mengandung anak dari suaminya.
"Kembalilah ke sini jika kamu harus menjadi single mom, kami selalu terbuka menerimamu kembali." Ujar Roichi.
Sesungguhnya pria seusia suaminya itu masih memiliki rasa untuk wanita muda seusia putrinya itu. Roichi sendiri tak menyangka diusia Belva yang masih muda sudah berperan sebagai ibu dengan masalah rumah tangga yang rumit. Dia paham siapapun yang menjadi pendamping hidup Satya pasti dan jelas akan menghadapi masalah yang namanya orang ketiga. Hidup mapan dengan kekayaan berlimpah dan juga wajah tampan pasti banyak wanita yang mengincar dan menggoda.
"Terima kasih Om tapi aku yakin rumah tanggaku akan baik-baik saja. Seharusnya aku berada di sana untuk menyelesaikan semuanya."
"Tapi kamu tidak bisa memaksakan diri, kamu dan anak-anak butuh menjauhinya demi kebaikan kalian."
"Sudah lah Om aku lelah, aku mau istirahat." Ujar Belva tak ingin membahas terlalu jauh mengenai masalah rumah tangganya.
**
Di ibu kota Jakarta, kesibukan selalu terjadi. Begitulah kota-kota besar yang penuh dengan bangunan tinggi menjulang yang sering digunakan sebagai tempat pencari uang.
Jordi sibuk dengan urusan pekerjaan dan juga mengurus para tikus-tikus pengganggu kehidupan keluarga Satya. Hari ini Jordi bertemu dengan Andrew, sahabatnya itulah yang mengurus Fahmi saat terluka dalam melakukan kejahatannya terhadap keluarga Satya.
Di sebuah rumah singgah yang jarang sekali dikunjungi Jordi maupun Satya kecuali memang mereka sedang memiliki tawanan atau rahasia penting yang tak boleh orang lain ketahui maka mereka akan lebih sering berada di rumah tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jordi.
"Sudah membaik lukanya sudah mulai mengering." Jawab Andrew.
"Mau kalian apakan apakan orang itu?" Tanya Andrew.
"Menghancurkannya sehancur-hancurnya. Dia sudah berani mengusik Tuan Satya yang selama ini sudah bersikap diam tak mengganggu siapa pun."
"Apa kalian tak takut terkena pasal penculikan dan penyekapan?" Tanya Andrew.
"Satu di dunia ini yang ditakutkan oleh Tuan Satya adalah kehilangan keluarganya. Pria itu sudah hampir mencelakai putrinya Tuan Satya tidak akan pernah mengampuni siapapun itu meski dia adalah orang terdekat sekalipun."
Perbincangan di dalam mobil akhirnya harus terhenti ketika mereka sampai di rumah yang mereka tuju. Beberapa anak buah Jordi sudah berjaga-jaga di sekitar rumah itu. Mereka menunduk hormat akan kedatangan Jordi dan juga Andrew.
"Tuan..." Sapa salah satu anak buah Jordi.
"Aman kan?" Tanya Jordi.
"Aman Tuan. Silahkan jika anda mau masuk mari saya temani."
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah tepatnya di salah satu ruangan tertutup yang hanya dengan penerangan lampu kecil. Terasa pengap karena memang ruangan itu tak pernah digunakan dan tak pernah dibuka pintu jendelanya.
Seorang pria yang tak lain adalah Fahmi terduduk tak berdaya bersandar pada kursi. Pria itu diikat tangan dan kakinya meski kaki pria itu dalam keadaan sakit.
Saat pintu terbuka, Fahmi membuka matanya mengarah pada siapa yang datang membuka pintu ruangan tersebut. Matanya menatap tajam pada Jordi, Andrew dan satu anak buah Jordi. Jordi tersenyum sinis saat mendapati tatapan tajam itu.
"Untuk apa kamu datang brengsyek!" Ucap Fahmi dengan nada bencinya yang sangat dalam.
"Cih... Aku bahkan berbaik hati menjengukmu pria bod*oh." Ucap Jordi dengan nada sinis.
__ADS_1
"Lepaskan aku manusia-manusia tak berguna!." Teriak Fahmi.
"Berteriaklah sampai urat lehermu putus, bersyukurlah dirimu masih hidup sampai detik ini. Kami tidak akan melepaskanmu sampai semuanya selesai." Ujar Jordi.
"Brengsyek!!! Kevarat kamu!!!" Umpat Fahmi dengan nada suara berteriak matanya melotot pada Jordi.
Bugh!!
"Jaga mulutmu!!" Anak buah Jordi langsung memberikan bogem mentah ke wajah Fahmi tepat di tulang pipi pria itu. Dia tak terima Jordi diumpat seperti itu.
Perilaku Jordi terhadap anak buahnya cukup baik hingga mereka pun memberikan timbal balik yang cukup baik pula untuk Jordi terlebih Satya sangat memperhatikan anak buah Jordi yang otomatis juga anak buahnya karena mereka semua sebagian besar digaji oleh Satya.
Fahmi meringis merasakan pipinya yang berdenyut nyeri setelah mendapat bogem mentah dari anak buah Jordi.
"Siyalan!! Dasar pecundang kalian hanya berani berkeroyok. Lepaskan aku akan aku habisi kalian!!"
Fahmi masih saja memiliki nyali untuk mencaci dan memaki mereka yang ada dihadapannya. Selama penyekapan Jordi tak sekalipun menyentuh pria itu untuk memberikan sentuhan kasar padanya.
"Tunggu waktunya nanti, kita buktikan siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Beruntung sekali kamu mendapatkan salam dari Tuan Satya yang harus kusampaikan padamu. Dengarkan baik-baik Tuan Fahmi yang terhormat, jabatanmu dan keluargamu lah taruhannya kali ini, jadi nikmati hari-hari mu dengan tenang di tempat ini." Ujar Jordi.
"Kita keluar." Titah Jordi. Dia melihat jam dipergelangan tangannya.
"Bukankah kamu ada praktek di rumah sakit? Sebaiknya kita kembali saja sekarang." Imbuh Jordi menatap Andrew.
"Tapi ini jadwal untuk mengontrol lukanya." Ujar Andrew melirik Fahmi.
"Aku rasa tidak perlu masih untung kamu mengeluarkan peluru itu. Sudah biarkan saja membusuk pun tak ada yang perduli." Ujar Jordi.
Andrew terdiam, sebagai seorang dokter mana bisa dirinya mengabaikan seseorang yang membutuhkan pertolongan secara medis. Jordi sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Andrew.
"Tuan mari keluar atau anda ingin tetap tinggal di sini?" Tanya anak buah Jordi dengan tatapan tajam.
Mau tak mau Andrew langsung menurut saja, dia tak ingin membuat masalah terlebih dengan sahabatnya sendiri. Mereka semua keluar, sebelum itu dimatikan lampu utama di dalam kamar hingga menyisakan lampu kecil lalu mengunci pintu ruangan tersebut.
Pria itu berjalan memasuki butik, Anggi menyapa Jordi. Tatapan kagum selalu Anggi berikan pada asisten Satya itu tapi Jordi tak mengambil pusing akan hal itu.
"Selamat siang, Tuan."
"Siang, Bella ada?" Tanya Jordi.
"Ada, Nona Bella ada di ruangannya tapi masih ada tamu."
"Oh oke, terima kasih."
Jordi berjalan menuju ruang kerja Bella, selama Belva tak lagi aktif di butik semua dikendalikan secara langsung oleh Bella. Belva hanya sesekali saja datang serta memantau dari rumah saja.
Begitu langkah kaki Jordi mendekati ruangan Bella pintu terbuka, tamu yang dipastikan customer butik itu keluar dengan diantar oleh Bella. Bella sempat menatap Jordi sekilas lalu mengabaikannya dan melanjutkan mengantar customernya hingga pintu keluar butik lalu kembali ke ruangannya tapi pria yang dilihatnya sudah tidak ada.
"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Bella.
Sejak kejadian menyebalkan waktu lalu yang Jordi seenaknya menyuruh dirinya memasak hingga harus menunggu pria itu terbangun sampai sore hari, ia tak pernah lagi bersikap formal untuk menghormati asisten Satya.
"Aku lapar." Ujar Jordi.
"Apa hubungannya denganku." Respon Bella sebal.
"Sudah selesai kan pekerjaanmu, sebentar lagi makan siang jadi kita pulang."
"Pulang? Aku tidak ada rencana pulang siang ini. Pekerjaanku masih banyak."
"Ya sudah, aku pulang saja mau makan siang bersama Bono. Lumayan sepertinya Mamanya selalu mengirimkan makanan untuknya."
Bella langsung menatap Jordi dengan tajam tapi pria itu tak merasa takut atau tak merasa terintimidasi sama sekali. Justru dalam hati Jordi tertawa melihat reaksi Bella. Pria itu berjalan keluar dari ruangan Bella dengan santai.
__ADS_1
"Awas kamu jangan mengatakan macam-macam padanya." Ucap Bella dengan nada mengancam.
"Terserah, ini mulut miliki sendiri kenapa kamu mengaturku."
Jordi benar-benar keluar dari ruangan Bella, secepat kilat Bella langsung menyambar tas dan ponselnya lalu menyusul Jordi keluar. Gadis itu bahkan mendahului Jordi mau tak mau ia harus mengalah demi keamanan dan kenyamanan dirinya sendiri.
"Mau ke mana kamu?" Tanya Jordi.
"Pulang, kamu bilang kita pulang sekarang kan?" Ujar Bella dengan wajah tertekuk.
"Tidak jadi, pekerjaanmu masih banyak bukan?"
"Ck berisik, ayo pulang." Ujar Bella.
Jordi tersenyum rupanya sangat menguntungkan bagi dirinya. Kapan lagi dirinya berasa jadi bos yang bisa menyuruh sana sini seperti Satya memerintah dirinya. Kesempatan yang sebelumnya tak penting baginya, nyatanya pria itu memiliki keisengan untuk menjadikan Bella sebagai asisten pribadi secara sepihak.
**
Berminggu-minggu bahkan sudah satu bulan Satya tak mendapatkan hasil apapun dalam pemantauannya selama ini. Istri dan anak-anaknya tak kunjung ditentukan. Pria itu benar-benar stress memikirkan Belva dan Duo Kay serta baby As. Rasa rindunya pada keluarga kecilnya begitu besar dan dalam.
Penampilan Satya sudah mulai tak terurus lagi, wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus pun tak ada niatan baginya untuk membersihkan. Rambutnya yang semula selalu klimis dan rapi kini mulai memanjang tak teratur. Ketampanannya sedikit tertutup akibat penampilan yang tak seperti biasanya.
Satya bahkan tak lagi menjaga pola makannya, dia hanya makan ketika lapar saja selebihnya pria itu berkeliling kota itu demi mencari istri dan anaknya. Berbekal foto yang tersimpan di galeri ponselnya Satya bertanya pada beberapa orang yang ditemuinya.
"Permisi, anda melihat wanita dan anak-anak ini?" Tanya Satya pada beberapa orang yang dipilihnya secara random.
"Maaf, Tuan saya tidak melihat."
Satya berpindah dari satu orang ke orang yang lainnya. Berharap salah satu dari mereka mengetahui keberadaan anak-anak dan istrinya.
"Permisi anda melihat wanita ini?" Tanya Satya lagi.
"Bukankah ini desainer yang ada di de' La Hector?" Ucap orang tersebut.
"Anda melihatnya?" Tanya Satya dengan antusias.
"Iya saya pernah melihat wanita ini."
"Benarkah? Kapan?" Tanya Satya.
"Sudah lama sekali tapi coba saja anda ke butik itu mungkin dia ada di sana." Jawab wanita bule berambut pendek sebahu.
"Aku juga melihatnya belum lama ini." Ujar wanita berambut panjang.
"Terima kasih... Terima kasih." Ujar Satya dengan penuh semangat.
Berharap sekali untuk kali ini dia bisa bertemu Belva di butik Mama mertuanya. Rindunya sudah begitu besar, di berjanji akan menyelesaikan semuanya dan tak akan pernah mengulangi hal konyol itu lagi.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Mohon maaf sekali karena terlalu sibuk bekerja jadi jarang up 🙏🙏🙏
Apakah kali ini Om Satya bertemu dengan Mami Belva ??
Jordi sama Bella ada apa tuh???
Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia meski lama author egk update karena kesibukan. Terima kasih banyak support kalian, Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian terim kasih banyaaaakkk 🙏🙏🙏🙏
Ditunggu kelanjutan ceritanya terus yaa semoga masih tetap bisa menghibur kalian semua. Sehat selalu dan lancar rejeki buat kalian guys 🤗🙏🙏🙏
__ADS_1