Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 124. Si Japus


__ADS_3

Satya dan Belva kembali menikmati masa-masa bulan madu sederhana mereka. Hari ini adalah hari terakhir mereka berdua untuk menggunakan kesempatan berdua tanpa gangguan. Sudah tiga hari mereka meliburkan diri untuk berbulan madu ala mereka sendiri secara sederhana. Selain peperangan yang mereka lakukan mereka juga mengisi waktu mereka dengan bekerja bersama.


Seperti saat ini, karena saking tidak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat bagi mereka untuk mengusir kebosanan. Maka Belva mengusulkan untuk melakukan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


"Mas, dari pada kita tidak melakukan apapun, bagaimana kalau kita kerja saja. Maksud aku kita cek pekerjaan masing-masing. Aku tidak tega jika meninggalkan pekerjaan terlalu lama."


"Boleh juga, ayo ke ruang kerja mas saja."


"Tumben tidak di kamar ini?" Tanya Belva.


"Kamu mau bekerja di sini? Tidak masalah, kita bisa bekerja di sini tapi di ruang kerja mas lebih nyaman jika untuk melakukan pekerjaan kantor."


"Emm... Oke. Ya sudah kita ke sana." Putus Belva.


Sepasang suami istri itu keluar dari kamar mereka bersama-sama. Satya tak memberikan celah untuk berjauhan dengan istrinya. Tangannya meraih pinggang Belva di rangkulnya dengan cukup erat hingga tubuh wanita itu menempel pada Satya.


Ruang kerja Satya letak nya masih sama berada di lantai dua hanya saja fasilitas nya saja yang sedikit bertambah. Menambah rasa nyaman bagi sang pemilik ruangan.


"Em... Mas, bagaimana aku bisa kerja? Laptop ataupun tablet PC ku tidak ku bawa, masih berada di rumah Mama."


"Kamu itu sudah hidup enak bersama suamimu. Pakai punya mas saja dulu."


"Lalu mas bagaimana bekerja?" Tanya Belva.


"Apa kedua benda itu sama-sama akan kamu pergunakan dalam waktu yang sama?" Tanya Satya.


Belva menggeleng. "Tidak, aku hanya memakai salah satunya saja."


"Oke kalau begitu mas juga bisa menggunakan salah satu dari yang lain yang tidak kamu gunakan."


Mereka berdua berbagi gadget yang bisa mereka gunakan untuk bekerja. Mulai bekerja mengecek dan juga menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya mereka selesaikan sejak kemarin. Berhubung mereka meliburkan diri untuk menikmati waktu bersama setelah menikah menjadikan pekerjaan mereka tertunda.


Saat sudah bekerja seperti ini Belva akan lebih serius pada pekerjaan nya. Mereka diam tak banyak bicara berada di dalam ruang kerja itu. Satya pun dama memeriksa pekerjaannya yang ia terima melalui email yang dikirim oleh Jordi. Satya sesekali melirik istrinya yang terlihat sangat serius. Berkebalikan dengan Belva, pria itu justru tak bisa berkonsentrasi penuh untuk bekerja.


"Sayang." Panggil Satya.


"Ya? Ada apa mas?"


"Pekerjaan mu masih banyak?" Tanya Satya.


"Iya, aku harus memeriksa beberapa laporan dan juga menyelesaikan beberapa desain."


Satya tak lagi mengeluarkan suara, Belva tak begitu memperhatikan Satya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Hingga beberapa jam menjadi rekor bagi Satya, pria itu merasakan kebosanan saat bekerja. Hal yang tidak biasa Satya rasakan selama ini, bisa di bilang Satya pria yang gila kerja selama bersama dengan Sonia.


Pekerjaan yang harus dikerjakannya kini diabaikan. Beberapa berkas yang ada di hadapannya serta laptop yang digunakannya ditutup. Satya lebih tertarik memperhatikan wajah sang istri yang terlihat semakin cantik saja menurut dirinya. Meski sederhana tanpa make up seperti Sonia saat berada di rumah sekalipun. Belva sungguh berbeda dan tampak lebih natural dengan daster rumahan yang kini sedikit tersingkap lebih naik ke atas saat wanita itu duduk di sofa hingga batas paha menampilkan kulit mulus wanita itu.


Semua yang ada pada Belva diperhatikan oleh Satya dengan seksama. Leher jenjang putih itupun tak luput dari sorotan mata tajam Satya. Belva menggulung rambutnya secara asal menampilkan kesan seksi pada wanita itu. Hanya menatap seperti itu saja jarum pentul super nya sudah bereaksi.


"Si*al... Menatap saja bisa seperti ini. Kamu menyukainya japus?" Gumam Satya dalam hati dengan melirik ke bawah.


"Ya oke baiklah, kita dekati Mami tenang jangan memberontak, Nak." Gumam Satya lirih bahkan sangat lirih seperti orang gila berbicara sendiri.


Japus si barang langka kepunyaan Satya sudah memberontak. Hembusan napas sedikit terdengar saat pria itu menarik dan menghembuskan napasnya.


"Sayang, masih lama?"


"Hem? Sudah di kejar deadline mas."


Belva menjawab tanpa menatap wajah Satya sedikitpun, ia sibuk saat ini menggambar sketsa desain gaun beberapa kliennya. Sedikit kesal karena istrinya saat ini lebih memperhatikan pekerjaan nya dibandingkan dengan dirinya. Satya berjalan ke arah sofa, duduk di samping istrinya yang tengah bekerja.


"Mas, sudah selesai?" Tanya Belva menyadari keberadaan Satya.


"Sudah." Jawab singkat Satya. Belva hanya mengangguk dam kembali sibuk menggambar.


Satya memperhatikan pekerjaan sang istri, tangan lentik itu menggoreskan pena hitam di atas kertas putihnya. Pria itu cukup bangga dan kagum mengetahui kepiawaian istrinya dalam hal mendesain baju. Wanita sederhana yang tidak manja dan juga mau bekerja keras tidak hanya tahu berbelanja, berdandan dan juga nongkrong tidak jelas. Belva justru memilih menghasilkan uang daripada mengeluarkan uang meski sudah di angkat anak oleh orang kaya.


"Mahir sekali kamu menggambar, sayang."


"Tidak juga masih harus banyak belajar lagi, sejak Kaili dan Kaila berada dalam kandungan aku terus melakukan nya melatih tangan dan imajinasi ku."


Satya meletakkan tangannya di belakang sandaran sofa Belva. Tagmngan pria itu beralih mengusap punggung sang istri dengan lembut.


"Jika sejak kandungan kamu sering melakukan kebiasaan itu, biasanya kebiasaan itu bisa menurun pada anak-anak setelah lahir." Ucap Satya yang masih sibuk mengusap punggung Belva.


"Iya mereka berdua suka menggambar, bahkan Kaila yang lebih sering membantu ku mendesain."


"Benarkah? Apa putriku bisa menggambar seperti mu?"


"Tentu saja, di anak yang cerdas." Jawab Belva.


"Ya karena kamu Mami yang baik dan juga pandai mengurus dan mendidik anak-anakku."


Tak ada lagi jawaban dari bibir Belva, wanita itu masih saja sibuk dengan imajinasi dan juga goresan pena nya. Kini Satya tak lagi peduli akan pekerjaan sang istri, rasa kesal pun juga tak menjalar dalam hatinya. Justru tangannya yang mulai menjalar kemana-mana. Merayap menyusuri punggung dari atas hingga bawah. Beralih pada tempat lain yang terlihat sangat jelas penampakan kulit putih mulusnya.


Pa*ha Belva sudah di tempeli oleh tangan kekar Satya, mengelus lembut hingga masuk ke dalam.


"Mas, apa yang kamu lakukan. Aku masih bekerja." Protes Belva menyingkirkan tangan Satya.


"Bekerjalah, apa ini mengganggu? Jika mengganggu berhentilah bekerja sayang."


"Nanggung setengah jalan aku bekerja, mas."


"Mas juga sudah nanggung ini, yank. Sudah terlanjur jalan."


Pria itu tak mau kalah, keinginannya saat ini harus tetap terlaksana.


"Tapi jika begini tidak bisa mas, kamu mengganggu."


"Dicoba saja dulu, yank. Bekerjalah dengan sedikit berbeda. Bukan kah menaklukkan tantangan dalam bekerja itu merupakan hal yang menyenangkan jika kamu berhasil melewati nya?"


Satya masih sibuk melancarkan aksinya, tangannya melanjutkan aksinya. Ucapan Satya membuat dirinya juga penasaran apakah dirinya berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan tantangan tak biasa seperti ini. Akhirnya Belva tak lagi menggubris ucapan Satya, ia melanjutkan pekerjaan nya.


Belva yang tengah duduk dengan kaki rapat sejak sedari tadi merasakan pa*ha nya terus dirambati oleh tangan suaminya seperti ada hewan yang menjalar-jalar di atas kulit nya. Tangan itu berusaha menggapai pedalaman hutan hingga Belva sudah mulai merasa degub jantung nya berdetak tak normal.


"Lebarkan sedikit kaki mu, sayang." Bisik Satya pada telinga istrinya.


Belva menggi*git bibir bawahnya bagian dalam. Bisikan Satya yang membuat hembusan napas hangat itu menyentuh kulit telinganya, di tambah bagian lain yang terus di sapu oleh tangan kekar.


Dengan bantuan Satya, Belva sedikit melebarkan apa yang Satya bisikan. Tanpa sadar semua perintah suaminya itu selalu mampu Belva turuti seolah pria itu tengah menggunakan ilmu hipotis.


Hal yang tak pernah Belva lakukan dan ini pertama kalinya bekerja dengan tantangan seperti itu. Ada sensasi lain yang meningkatkan adrenalin nya. Hutan pedalaman itu sudah mulai di rambah oleh Satya meski masih terhalang dinding pemisah. Tak tebal justru dinding pemisah itu sangat tipis.


Rupanya Belva menjadi tersendat saat melakukan pekerjaan nya. Satya tersenyum puas dan licik saat mendapati sang istri tak bisa lagi fokus pada pekerjaannya. Tangan yang memegang erat pensil itu kini menggenggam semakin erat.

__ADS_1


"Mas..." Panggil Belva lirih.


"Ada apa, sayang?"


"Hentikan aku tidak bisa konsentrasi."


Satya tersenyum, dia sangat suka menggoda istrinya.


"Lanjutkan saja, gunakan sisa konsentrasi mu." Ucap Satya dengan santai.


Pena itu sudah diletakkan oleh wanita itu, matanya terpejam dengan mengigit bi*bir bawah nya. Satya tersenyum licik, dia tahu istrinya sudah terpengaruh dengan aksinya. Perlahan dan lembut Satya merasakan pedalaman hutan yang masih tersekat pembatas.


Agar merasa rileks Satya menuntun sang istri untuk menyadar pada sandaran sofa dan wanita itu hanya menurut saja. Satu tangan satya merangkul pundak sang istri dan satu tangan lain sibuk di pedalaman hutan.


Menu*suk tumpul pada pintu lorong pedalaman hutan yang masih tertutup itu. Sengaja menggoda dan mera**sang istrinya, permulaan yang cukup menyenangkan dan meningkatkan has*ratnya. Satya benar-benar memanfaatkan waktu saat bersama sang istri untuk beberapa hari ini. Membalaskan keinginannya yang telah lama terbendung dan tak terjamah sebagai seorang lelaki normal.


Tak hanya itu pria yang masih gagah di usianya yang tak lagi muda itu kini sudah melu*matt bib*ir manis bak madu milik Belva. Segala cara Satya lakukan pada istrinya sesuai dengan fantasi liarnya.


"Mas..." Panggil Belva dengan mengg*igit bi*bir bawahnya menahan segala sensasi yang tercipta setelah pag*utan mereka sudahi.


"Sudah basah, sayang. Mau langsung atau masih mau di elus-elus hemm?" Bisik Satya. Suara pria itu selalu terdengar menggoda dan seksi di saat-saat seperti ini.


Belva tak menjawab karena masih berusaha menahan diri. Dia takut jika ada yang mendengar suaranya di ruang kerja sang suami.


"Sini tangannya gantian elusin milik Daddy." Satya memimpin tangan istrinya.


Kalian bayangkan saja bagaimana mereka saling menye*ntuh demi kepentingan mereka saat ini.


"Mas, jangan disini nanti ada yang tahu." Belva sebisa mungkin menahan gejolaknya yang juga sudah mulai memuncak akibat permulaan yang Satya lakukan.


"Tidak ada yang tahu, pintu tadi sudah mas kunci."


Satya meraih sebuah remote control dan menekan sebuah tombol yang mengarah pada satu titik cahaya kecil yang menyala berwarna biru.


"Berteriak sekalipun mereka tidak akan tahu, sayang. Jangan kamu tahan, mas tahu kamu menahan nya sedari tadi."


Pipi wanita itu merah merona akibat malu, suaminya memahami dirinya. Berulangkali untuk hal seperti ini Satya selalu mengatakan pada dirinya agar tidak boleh malu dan menahan diri.


Sejak ruangan itu sudah Satya siapkan dan pastikan aman serta hanya mereka yang akan tahu kejadian apa saja ayang akan terjadi. Pintalan benang yang melekat perlahan sudah mulai terhempas satu persatu. Yang tersisa hanya penghalang kain berukuran kecil yang hanya menutup pada bagian penting saja.


Belva melihat barang langka yang selalu disebut oleh Satya itu kini sudah mengembang lebih besar dan tegas menantang di dalam persembunyian.


"Mami, suka? Japus sudah merindukan Mami dan lorong tersembunyi nya."


"Japus? Maksudnya apa?" Tanya Belva bingung.


Satya membimbing tangan Belva ke tempat yang seharusnya diinginkan nya.


"Ini japus alias jarum pentul super barang langka milik Daddy dan hanya akan Daddy berikan untuk Mami."


Wajah Belva kembali memerah mendengar suaminya berbicara seperti itu. Setengah mati ia menahan malu akibat ulah suami nya itu.


"Awas saja kalau berani dibagi-bagi." Ancam Belva sembari tersenyum sinis pada Satya.


Belva meski belum pernah berhubungan dengan pria manapun terlebih berhubungan lebih jauh tak membuatnya benar-benar polos hingga menjadi bodoh dalam hal seperti ini. Logikanya masih bisa berjalan jika Satya dan seluruh milik pria itu kini sudah menjadi miliknya. Tidak ada yang boleh menyentuh terlebih memiliki nya.


"Mami, tenang saja semua dijamin aman."


"Ini kenapa bisa lebih besar seperti ini, bukankah terakhir kali sebelum kita menikah tidak sebesar ini, Mam?" Ucap Satya yang kembali sibuk bermain di atas perbukitan berkerikil itu.


"Emmhh... Masshh..."


Bunyi suara peperangan rupanya sudah mulai terdengar saat tanga kekar itu sedikit lembut namun tegas dalam bermain-main di perbukitan itu.


"Call me Daddy, baby... Suara mu indah sekali, Daddy menyukainya teruslah bersuara."


Bentangan kain penutup bukit indah dan alami itu sudah terlepas entah kemana. Selesai bermain di perbukitan indah itu, dia beralih di pedalaman hutan. Membuka akses untuk dapat menyaksikan lebih lagi betapa luar biasanya hutan tersebut. Penjajakan di hutan tersebut membuat pemiliknya hilang kendali tak menyadari lagi bagaimana keadaan sekitarnya.


Satya duduk kembali di sofa, kabut gai*rah sudah terlihat jelas di mata keduanya. Pria itu dengan mudah mengangkat tubuh istrinya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Akhh..."


Suara peperangan itu terdengar lirih dari keduanya saat senjata nuklir itu mampu menembus lorong tersembunyi pedalaman hutan.


"Bergeraklah, Mam." Pinta Satya.


Perlahan wanita itu memulai pergerakan peperangan, mereka berdua saling pandang menatap dalam pada kedua manik mata masing-masing. Di dalam sana terdapat tatapan penuh gai*rah dan cinta.


"Kamu sangat cantik, baby." Ucap Satya memandang istrinya.


Belva tersenyum dan memeluk suaminya hingga pergerakan itu terhenti hingga Satya mengambil alih dalam peperangan.


"Aakhh... Pelan-pelan Daddyhhh..."


"Maaf baby... Apa ini sakit?"


"Sedikit... Tak masalah lanjutkan saja."


"Baiklah berteriaklah jika sakit. Daddy mungkin akan semakin mempercepatnya."


"Emm..." Belva mengangguk.


Benar saja pergerakan semakin lama semakin cepat. Suara ribut peperangan menggema di dalam ruangan. Beberapa jurus peperangan Satya lakukan untuk memenangkan peperangan.


"Daddyhh!!! Daddyhh!! Daddyhh!! Aakhh... Mami mau keluar." Pekik Belva dalam guncangan peperangan.


"Aahhh... Aahhh... Keluarkan saja, Mam."


Sesuai yang dirasakan akan keluar itu akhirnya mengalir dari lorong tersembunyi. Senjata nuklir itu teraliri oleh air banjir yang cukup kental.


Belva menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya. Tapi Satya masih saja bergerak meski ritme pergerakan sudah mulai normal.


"Sudah lega?" Tanya Satya lembut. Belva mengangguk.


"Mami curang mencuri start lebih dulu." Ucap Satya.


"Mencuri start bagaimana?" Tanya Belva dengan suara bergetar tak stabil akibat pergerakan.


"Bersiaplah untuk beberapa kali, Mam. Daddy belum lega seperti Mami."


Belva tahu maksud Satya, ia hanya menurut dan menurut saja agar suaminya merasa bahagia dan nyaman. Belva sempat memikirkan beberapa kali sebelum menikah jika Satya adalah lelaki tampan dan mapan dan sudah pasti banyak yang menginginkan suaminya.


"Menu*ngging lah, Mam."

__ADS_1


"Pelan-pelan Daddy."


"Iya... Mami lebih suka pergerakan yang pelan?"


"Tidak, maksud Mami berhati-hatilah saat memulai."


"Itu artinya tak masalah jika Daddy bergerak cepat bukan?"


"Tapi bukan berarti memulai dengan gerakan yang cepat itu mengejutkan Mami. Lihat barang langka mu Dad, size nya cukup besar."


Satya terkekeh, benar juga apa yang istrinya katakan. Untuk keturunan orang luar memang sedikit lebih berbeda dari orang lokal.


"Ini anugrah untuk Daddy dan juga keberuntungan untuk mu, Mam."


"Apa ini terasa penuh untuk Mami?" Tanya Satya yang perlahan memulai pergerakan. Bergerak hati-hati agar pas pada lorong tersembunyi favoritnya.


"Benarkah keberuntungan untuk ku? Ini sangat penuh dan terasa. Pantas saja dulu terasa sangat menyakitkan untuk ku." Ucap Belva mengingat pertama kali miliknya di terobos paksa oleh Satya hingga menimbulkan si kembar tampan dan cantik.


"Benarkah? Maafkan Daddy, Mam... Pasti itu menyiksa dirimu."


"Ya itu menyiksa sekali, badanku terasa aahhh... Remukhh..."


"Daddy yakin sekarang bukan lagi terasa menyiksa tapi terasa nikmat untuk Mami."


"Aakhh... Daddhhh..."


"Ssshhh... Ahhh... Haahhh..."


Duar!!!


Senjata nuklir itu meledak tepat sasaran. Terasa melegakan untuk pemilik senjata dan terasa hangat di dalam sana untuk si wanita cantik.


"Ini baru satu kali Mam. Daddy belum puas. Hari terakhir kita menikmati waktu bersama Daddy harus benar-benar menggunakan sebaik mungkin." Ucap Satya dengan napas tersengal seperti sehabis lari mengejar maling.


"Tapi Mami lelah, Dad." Ucap Belva yang ambruk tengkurap di sofa.


Satya masih berada di posisi memeluk sang istri dari belakang. Pertemuan skin to skin itu terasa sedikit licin akibat titik-titik keringat yang banjir keluar dari pori-pori kulit.


"Kita tuntaskan sekarang. Daddy janji nanti malam Mami boleh beristirahat."


"Tidak, pasti tidak ada kata istirahat saat Daddy tak bisa menahannya." Ucao Belva lirih.


"Daddy janji, suer..." Ucap Satya.


"Daddy tahu? Mami tidak tega saat melihat Daddy menahannya."


Satya memejamkan matanya, dia tersenyum saat Belva mengatakan demikian. Bersyukur dia memiliki istri yang sangat pengertian seperti Belva. Berbeda saat bersama Sonia yang tak perduli dengan kebutuhan batinnya. Satya seringkali menahan bahkan meredamnya dengan caranya sendiri atau dialihkannya pada menyibukkan diri dalam bekerja.


"Daddy akui dalam hal seperti ini memang Daddy hiper, sayang. Tapi Daddy masih memiliki logika untuk tidak menyiksa istriku sendiri demi memuaskanku."


Satya mencium punggung Belva, tangannya menyusup menyelinap untuk menyentuh perbukitan yang menempel pada sofa. Terasa wanita itu masih berusaha keras mendapatkan oksigen.


"Nanti malam kita istirahat, Mam. Besok Daddy sudah harus bekerja, Mami juga harus ke butik bukan? Kita juga akan menjemput anak-anak untuk mengantar mereka ke sekolah." Ucap Satya yang sudah memikirkan rencananya.


"Iya Mami sudah sangat merindukan mereka. Tiga hari rasanya sudah seperti tiga tahun."


"Bersabarlah... Masih lelah?"


"Iya..." Jawba Belva singkat.


"Kita istirahat sebentar."


Satya beranjak duduk di sofa, dia juga membantu Belva agar duduk dengan benar. Keduanya masih sama-sama terbebas dari pintalan kain. Jangan lupakan senjata nuklir itu masih belum melemah dan masih menantang lawannya.


"Mami lihat Japus tidak bisa bersantai saat bersama Mami."


Jelas sekali Belva melihatnya, entah rasa malu itu kini sirna menjadi biasa saja. Belva merasa dirinya dan Satya sudah menjadi satu kepemilikan atas anggota tubuh mereka.


"Sabar, istirahat dulu. Mami tahu dia tidak akan berhenti jika belum merasa kenyang."


"Ya dia selalu merasa lapar dan lapar." Satya terkekeh.


Dipeluknya dengan erat sang istri dari samping dan di balas oleh Belva dengan tak kalah erat. Keduanya merasa sangat beruntung dan bahagia. Mereka saling menyayangi satu sama lain.


Tak lama Satya beranjak dari sofa dan menghampiri meja kerjanya. Beberapa berkas itu disimpannya di dalam laci berserta dengan laptopnya lalu menguncinya. Sejak kejadian pencuri data yang dilakukan oleh Sonia, Satya selalu memilih jalan aman menyimpan hal-hal penting dan berharganya. Bukan tak percaya pada istrinya, Belva. Dia percaya Belva tak akan berbuat sejahat itu tapi di rumah ini bukan hanya dirinya dan Belva yang tinggal tapi ada beberapa pekerja rumah yang tak semuanya bisa Satya seratus persen dia percayai.


Satya menarik lembut lengan istrinya yang masih duduk di sofa. Lagi-lagi Belva hanya menurut. Satya kembali meraup bi*bir manis itu merasainya lagi-lagi dan sudah berkali-kali.


"Daddy sudah tidak tahan, bisa kita mulai lagi?" Bisik Satya.


"Apapun untuk mu, Dad." Jawab Belva membalas bisikan Satya.


Satya tersenyum puas, istrinya begitu penurut dan pengertian. Dia mengangkat tubuh istrinya menggendong nya ala koala.


"Mari kita melakukannya dengan hal yang berbeda setiap saat. Meja ini cukup kuat menopang mu, baby."


Satya meletakkan tubuh Belva di atas meja kerjanya. Membuka dengan lebar posisi kaki jenjang istrinya.


"Ini pasti akan sangat menyenangkan kan."


Nuklir bersiap masuk dan menancap sempurna.


"Akhh..." Belva kembali mengg*igit bib*Ir bawahnya. Hal itu terkesan sangat seksi menurut Satya.


Mereka saling pandang satu sama lain. "Kita mulai, baby."


"Yess Daddy..."


"Akh... Baby..."


"Yess Daddy..."


Hari terakhir itu sangat dimanfaatkan oleh Satya dan juga Belva. Sebelum semuanya kembali normal melakukan aktivasi seperti biasa. Jika itu sudah terjadi bisa dipastikan waktu mereka tidak akan sebebas dan sebanyak ini untuk menikmati waktu bersama.


Kalimat-kalimat mes*um kerap kali keluar dari perbincangan mereka menambah has*rat mereka menikmati masa-masa proses produksi produk baru yang Satya harap akan segera launching dalam waktu dekat.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Mon maap Satya lagi ajang mumpung ada kesempatan. Nanti gak lagi deh ✌️✌️

__ADS_1


Ngobrol-ngobrol terimakasih banyak atas segala supportnya dari kalian yang luar biasa setianya. Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Author sangat bersemangat karena kalian.


Semoga kalian selalu sehat, banyak rejeki dan dilancarkan segala sesuatunya. Amiinn 🙏🙏🙏


__ADS_2