Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 66. Memulai Karmanya


__ADS_3

Setelah dirasa cukup Roichi menjemur handuk Belva pada jemuran kecil yang tersedia. Lalu pria itu duduk di samping Belva. Dia melihat Belva yang sibuk dengan melihat-lihat model baju di tablet PC milik wanita itu.


"Siang ini apa Kaila rewel ?" Tanya Roichi.


"Tidak. Dia anak yang pintar."


"Baguslah jadi saya tidak khawatir meninggalkan kalian."


"Maksud Om ?" Tanya Belva.


"Besok saya harus kembali lagi ke Jerman. Tuan Hector sudah menghubungi saya tadi."


"Sudah kubilang kemarin tidak perlu meninggalkan pekerjaan disana." Ujar Belva.


"Tidak bisa. Saya khawatir dengan kalian, percuma jika saya berada disana pasti tidak fokus."


"Terima kasih Om begitu mengkhawatirkan kami. Tapi kami pasti baik-baik saja Om."


"Iya saya tahu. Tapi nyatanya kamu terus menangis kemarin." Ucap Roichi dengan sedikit mengejek.


Membuat Belva kesal dan hal itu justru membuat Roichi tertawa. "Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang." Ucap Roichi.


"Apa sih Om. Aku memang cantik sedari dulu dan tak akan pernah hilang kecantikan ku." Ucap Belva dengan percaya diri. Gadis yang dulu polos dan pemalu itu kini sudah mulai menunjukkan rasa percaya dirinya semenjak menjadi bagian dari keluarga Hector.


"Hahaha iya... Iya... Kamu memang cantik dari dulu. Makanya Kaila juga cantik seperti mu." Ucap Roichi.


"Sejak kapan Om suka menggombal seperti ini ?" Satu alis Belva diangkat nya ke atas. Roichi semakin lama dilihatnya semakin terlihat berbeda dari awal-awal mereka bertemu. Dulu pria itu terkesan kaku dan dingin kini bisa menunjukkan kepercayaan diri nya dan terasa lebih hangat.


"Entahlah haha saya merasa seperti anak muda jika berhadapan dengan mu." Roichi mengacak rambut Belva dan beranjak berdiri menuju ranjang Kaila.


Belva menggelengkan kepalanya tak percaya atas apa yang diucapkan Roichi. Memang sangat terlihat sekali perbedaannya. Roichi sangat baik padanya bahkan perilaku pria itu terlampau lembut padanya. Berbeda dengan perlakuannya pada Bella putrinya sendiri.


Roichi merasa dirinya sudah lebih bersih saat ini jadi dia bisa mencium Kaila sepuasnya. Gadis kecil itu sangat menggemaskan dengan pipi chubby nya. Pipi itu akan menjadi sedikit kemerahan saat Roichi terus saja mencium dan menekan pipi Kaila.


"Papiii... Sakiit." Rengek Kaila.


"Hahaha maaf sayang. Papi gemas dengan pipi mu yang seperti bakpao ini."


"Papi jangan keras-keras, pipi Kaila sakit."


"Iya sayang... Maaf. Apa kepala Kaila masih sakit ?" Tanya Roichi.


"Tidak terlalu Papi."


"Bagus... Menurut lah pada Mami dan jangan lupa minum obatnya terus. Oke ?"


"Oke Papi..."


Percakapan antara Kaila dan Roichi itu menjadi perhatian Belva saat ini. Mereka terlalu dekat selayaknya ayah dan anak. Yang seharusnya itu dilakukan oleh Satya selaku ayah kandung Kaila.


"Mungkin hal seperti itu yang diinginkan oleh Tuan Satya. Tapi aku belum bisa menerima dia berada di sekitar kami. Aku belum siap." Batin Belva.


Belva tak mengerti jika saja Satya berada di tempat itu dan menyaksikan kedekatan Roichi dan Kaila tentu akan membuat perasaan Satya sakit. Tapi untung saja disana tidak ada Satya yang menyaksikan interaksi tersebut.


"Kaila, ini boneka dari siapa sayang ?" Tanya Roichi. Manik matanya melihat boneka beruang kecil berwarna pink di samping kepala Kaila.


"Oh itu dari Opmud." Jawab Kaila.


"Opmud ? Siapa ?" Tanya Roichi kembali.


"Apa Tuan Satya yang memberikan itu pada Kaila ?" Batin Roichi.


"Itu Opmud yang waktu itu kasih Kaila sepatu bagus itu Papi." Ujar Kaila menjelaskan.


Jelas... Sudah jelas jika itu Satya. Roichi entah mengapa hatinya sedikit terasa kurang nyaman saat mengetahui Satya seakan menunjukkan sedikit demi sedikit kedekatannya pada Kaila.


"Oh... Tadi Opmud itu kesini ?" Tanya Roichi.


"Iya Papi." Jawab Kaila singkat.


Sebelumnya Belva sudah memberitahu Kaila jika tak boleh menceritakan banyak hal mengenai Satya yang datang berkunjung di rumah sakit tadi siang. Dengan alasan itu adalah pertemuan rahasia sama seperti cerita-cerita yang ada di kerajaan. Entah kerajaan mana yang Belva maksud yang jelas itu hanya akal-akalan Belva agar Kaila mau menurut padanya.


"Oh iya Kaila... Besok Papi harus pergi bekerja kembali ke Jerman. Kaila tidak apa-apa kan Papi tinggal ?"


"Kenapa cepat sekali kan belum jalan-jalan." Ucap Kaila.


"Kaila kan sedang sakit. Jadi kita tidak bisa jalan-jalan. Papi harus kerja nanti kalau Kaila sudah sembuh kita jalan-jalan lagi. Oke ?"


Kaila mengangguk, sesuai pesan Maminya jika orang dewasa bekerja itu adalah untuk mencari nafkah, mencari uang agar kita bisa makan, bisa bayar sekolah dan bisa beli apa saja yang kita inginkan.


"Oke, tapi tidak lama kan ?" Tanya Kaila pada Roichi.


"Tidak sayang. Nanti Kaila sembuh Papi sudah pulang." Kembali Kaila mengangguk.


Roichi dan Kaila saat ini sedang asik bercanda bersama sebelum pria itu kembali ke rumah untuk mempersiapkan segala keperluannya sendiri yang akan dibawa ke Jerman nanti.


****


Di rumah besar keluarga Balakosa saat ini terasa sangat sunyi. Bukan hanya saat ini saja melainkan seperti hari-hari biasanya pun seperti itu akan terasa sunyi. Mungkin hanya suara kecil akibat pergerakan dan aktivitas para asisten rumah tangga Satya.


Di dalam kamarnya Satya masih tertidur, rasa pusing yang sempat menyerangnya tadi siang membuatnya harus beristirahat sejenak. Pria itu menyuruh Jordi untuk kembali ke kantor saja karena dirinya ingin beristirahat.


Kepalanya berdenyut dan perutnya terasa sedikit perih. Mungkin karena lambungnya yang belum terisi makanan sejak kemarin malam. Sibuk menjaga Kaila hingga dirinya tak merasa lapar. Pikirannya pun sibuk memikirkan keadaan Kaila dan kehidupannya yang terasa sepi. Ingin sekali dirinya saat mengetahui fakta bahwa Duo Kay adalah anak-anak nya, Satya ingin membawa mereka untuk tinggal di rumah besarnya.

__ADS_1


Apalah daya, Belva pasti tidak akan mengijinkan itu terjadi. Lagi-lagi adanya Roichi membuatnya harus sadar diri jika dia tak bisa berharap lebih. Tapi Satya juga sudah dengan matang merencanakan membuat kamar untuk Kaila dan Kaili. Berharap jika suatu saat nanti anak-anaknya diperbolehkan untuk menginap di rumahnya maka dia sudah mempersiapkan semuanya.


Mata Satya mengerjap, pria itu bangun dari tidurnya sedari siang. Kamarnya terlihat gelap karena tak ada yang berani masuk jika Satya berada dalam kamarnya untuk beristirahat.


Satya duduk bersandar pada kepala ranjang. Diurutnya kening dan pangkal hidungnya. Kepalanya masih terasa berdenyut saat ini. Tapi dipaksakan nya untuk berdiri dan menghidupkan lampu. Cahaya lampu yang tiba-tiba terang dalam penglihatan matanya itu semakin membuat kepalanya berdenyut.


Sudah biasa bagi Satya saat merasa kurang enak badan seperti itu hanya bisa dirasakannya sendiri. Dia tak pernah mengeluh pada siapapun saat sakit kecuali ada seseorang yang tengah memperhatikan nya dan bertanya padanya maka Satya akan menjawab apa yang tengah dirasakannya bila sedang sakit.


Tok... Tok... Tok... !!!


Suara ketukan pintu terdengar oleh Satya, dengan kepala masih berdenyut dia membuka pintu.


"Ada apa Mbok ?"


Mbok Yati menatap Satya terlihat wajah Tuannya pucat.


"Tuan anda baik-baik saja ? Wajah anda pucat."


"Hanya sedikit pusing. Ada apa Mbok ?"


"Di bawah ada Tuan Jordi."


"Suruh ke ruang kerja ku." Ujar Satya.


"Baik Tuan."


Mbok Yati mengerjakan sesuai perintah Satya. Turun ke bawah untuk menemui Jordi kembali yang duduk di ruang tamu. Meski sudah lama bekerja bersama Satya, Jordi masih merasa sungkan bila harus keluar masuk sesuka hati di kediaman Satya.


"Tuan, anda disuruh untuk menunggu di ruang kerja Tuan Satya. Tapi Tuan, wajah Tuan Satya terlihat pucat. Beliau sedang sakit."


Jordi menghela napas. "Apa Tuan sudah makan tadi ?" Tanya Jordi.


"Belum. Tuan Satya sejak pulang tadi siang langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar-keluar lagi sampai Tuan Jordi datang saat ini." Ucap Mbok Yati.


"Siapkan saja makan untuk Tuan Satya biar saya yang bawa ke ruang kerja Tuan Satya." Titah Jordi pada Mbok Yati.


"Baik Tuan."


Jordi merasa khawatir dengan kondisi Satya. Pria itu memang jarang sakit, tapi saat sakit Satya tak pernah mengeluh bahkan dia masih tetap berangkat bekerja dan melakukan semua aktivitasnya selama sakitnya tidak terlalu parah.


Dengan cepat Mbok Yati menyiapkan makanan untuk Satya. Satu nampan itu sudah terisi oleh sepiring nasi dan segala lauk pauk nya serta segelas air putih. Nampan itu dibawa oleh Mbok Yati ke ruang tamu.


"Tuan ini makanannya."


"Ayo Mbok kita ke atas." Ajak Jordi pada Mbok Yati.


"Loh katanya mau dibawa sendiri ke ruangan Tuan Satya. Ini kok malah saya yang bawa." Batin Mbok Yati sembari menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua berjalan menuju lantai dua tepatnya di ruang kerja Satya. Mbok Yati meletakkan nampan itu di atas meja depan sofa ruangan Satya. Lalu wanita paruh baya itu pergi kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Jordi masih menunggu di ruang kerja Satya.


Sedikit lebih segar bagi tubuh Satya, meski tak dapat menghilangkan sakit di kepalanya. Satya seorang lelaki bertubuh kekar sakit ringan seperti itu selalu berusaha ditahannya. Mengingat Jordi sudah menunggu di ruang kerjanya, maka Satya menemui Jordi.


Satya duduk di sofa single seperti biasa saat bertemu dengan Jordi. "Ada apa Jordi ?"


"Tuan, makanlah terlebih dahulu."


"Kamu datang hanya untuk menyuruh ku makan ?"


"Saya mengkhawatirkan kondisi anda Tuan. Anda sedang tak baik-baik saja."


"Ya saya akan makan. Apa ada informasi penting dari kantor ?" Tanya Satya sebelum makan.


"Mengenai Hector Group saya berhasil mendapatkan data arsitek andalan mereka."


Perhatian Satya mengarah penuh pada Jordi. Satu topik yang sangat menarik untuknya. Penyelidikan yang sudah lama berjalan pada akhirnya membuahkan hasil.


"Katakan siapa yang menjadi arsitek andalan Hector Group." Ucap Satya.


"Wajah anda tampak pucat. Makanlah terlebih dahulu Tuan nanti saya akan menghubungi Andrew untuk datang ke sini memeriksa anda."


"Tidak perlu Jordi. Nanti saya akan ke rumah sakit."


"Memeriksakan diri atau menjenguk Kaila Tuan ?"


"Keduanya." Satya memulai untuk makan malamnya saat ini.


Jordi tak lagi melanjutkan pembicaraan karena tahu jika Satya sedang makan maka tidak ada pembicaraan disela-sela aktivitas makannya.


Tak butuh waktu lama Satya sudah menghabiskan makan malamnya. "Apa.kamu sudah makan Jordi. Turunlah ke bawah dan mintalah pada Mbok Yati."


"Saya sudah makan Tuan. Terima kasih."


"Katakan siapa arsitek andalan Hector Group." Titah yang sama untuk kedua kalinya agar Jordi mengatakan siapa sebenarnya seseorang yang sedang mereka cari selama ini.


"Pasti anda akan terkejut dengan apa yang saya katakan ini Tuan." Ucap Jordi. Satu alis Satya terangkat ke atas menanti siapa yang akan diucapkan oleh asistennya.


"Arsitek andalan Hector Group adalah putra anda sendiri."


Mata Satya melebar. "Maksud mu ? Kaili ?" Tanya Satya tak percaya. Fakta apa lagi ini ? Mengapa semua serba mengejutkan dan tak masuk akal bagi Satya.


Pertama, dirinya yang mengetahui Belva mengandung anaknya tapi Satya tak pernah merasa tidur bersama wanita itu tapi faktanya tes DNA dan segala cerita yang ada menunjukkan bahwa itu memang benar adanya.


Kini, Jordi mengatakan jika Kaili putranya yang masih kecil adalah seorang arsitek andalan Hector Group. Ini benar-benar tak masuk akal, Kaili masih seorang bocah kecil yang hanya bisa main-main bersama anak sebayanya.

__ADS_1


"Kamu jangan sembarangan Jordi. Selidiki lagi informasi yang kami dapatkan. Ini tak masuk akal."


"Tapi memang itu lah kenyataannya Tuan. Saya pun tak menyangka, kita bisa membuktikan sendiri nanti jika anda tak percaya." Ucap Jordi.


Satya menggelengkan kepalanya tak percaya, heran bagaimana bisa Jordi memberikannya informasi seperti itu.


"Dari mana kamu mendapatkan informasi ini ?" Tanya Satya.


"Anak buah saya yang masuk ke dalam perusahaan Hector Group mampu menjalankan misinya dengan mendekati bagian HRD yang mengurus bagian administrasi karyawan. Dari dia lah kita bisa mendapatkan data karyawan dan menurut informasi salah satu karyawan yang terpercaya ada satu nama yang tak terdaftar sebagai karyawan Hector Group tapi selalu mendapatkan gaji dalam setiap proyek yang dimenangkan oleh Hector Group."


"Sedikit tak masuk akal tapi jika dihubungkan mungkin bisa saja jika putra anda lah yang menjadi salah satu karyawan yang tak terdaftar tersebut." Imbuh Jordi.


Satya masih tak bisa percaya, Kaili masih sangat kecil untuk melakukan sesuatu yang besar seperti itu. Masih ingat dengan jelas perebutan tender Mega proyek itu bisa dimenangkan oleh Hector Group, proyek sebesar itu. Mana mungkin jika itu adalah hasil dari rancangan Kaili.


"Ya sudah, saya mau ke rumah sakit." Ucap Satya.


"Anda serius akan menjaga Kaila ? Anda sedang tak enak badan Tuan."


"Saya masih kuat. Kamu pulang saja."


"Tapi Tuan seharusnya anda istirahat." Ujar Jordi.


"Saya sudah istirahat tadi. Sudahlah Jordi kamu saja yang istirahat. Tubuhmu pasti lelah seharian bekerja."


Satya beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang kerjanya. Jordi hanya bisa menatap kepergian Satya. Atasannya itu sungguh keras kepala, selalu saja seperti itu jika rasa sakitnya dirasa tidak parah. Tapi Jordi tak bisa mencegah jika Satya sudah berkehendak. Satya masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket, dompet, ponsel dan juga kunci mobilnya.


Jordi pun pulang karena Satya tak ingin ditemani oleh dirinya. Sebelum pulang dia mencari keberadaan Mbok Yati untuk membereskan piring kotor yang ada di ruang kerja Satya.


Mobil Satya dan Jordi beriringan keluar dari area rumah besar Satya. Sampai perempuan hanya suara klakson mobil yang menandakan perpisahan arah mobil mereka. Satya tanpa memikirkan keadaan dirinya, dia tetap ingin menjaga Kaila. Meski kembali dirinya harus menjaga di luar ruangan tak masalah baginya.


Perasaan yang ingin selalu dekat dengan putra-putrinya serta menjaga dan melindungi mereka hingga tak memikirkan bagaimana kesehatannya nanti. Demi anak-anaknya Satya akan melakukan apapun, meski dirinya harus terluka sekalipun bahkan nyawanya akan diberikan sebagai ganti untuk kebahagiaan Duo Kay.


Kepalanya masih terasa berdenyut tapi Satya tak menggubris apa yang dirasakannya itu. Sampai di rumah sakit dia menuju ruangan Kaila. Sama seperti sebelumnya melalui kaca pintu Satya mengintip Kaila. Roichi berada di dalam bersama Belva. Dia dapat melihat bagaimana interaksi antara Roichi, Belva dan juga Kaila. Hatinya terasa perih saat melihat hal itu, tapi bisa apa dia. Bukankah apa yang dilihatnya itu sangat wajar. Sebuah keluarga kecil yang tengah merasa bahagia saat berkumpul bersama.


Satya tak ingin terus merasakan perih saat melihat orang-orang yang berada di dalam kamar Kaila. Dia lebih memilih duduk di kursi tunggu yang kemarin digunakannya. Bukan kursi tunggu yang berada tepat di depan kamar Kaila. Melainkan sedikit lebih jauh tapi tetap bisa menjangkau ruangan Kaila.


Duduk dengan menatap miris pintu ruangan Kaila. Satya kembali teringat akan apa yang dilihatnya tadi. Hembusan napasnya terdengar sedikit kasar berhembus keluar.


"Apakah se-menyenangkan itu memiliki keluarga yang bahagia." Gumam Satya lirih dengan mata masih menatap pintu kamar Kaila. Dirinya merasa iri melihat Belva, Roichi dan juga Kaila.


"Kaila Kaili... Daddy harap akan ada waktunya nanti untuk Daddy bisa bersamamu Nak. Tak apa jika tanpa Mami kalian. Daddy tak bisa berharap lebih untuk berkumpul bersama kalian." Kembali Satya bergumam lirih. Mengungkap apa yang ada di dalam pikirannya.


Mengalihkan perhatiannya pada apa yang baru saja dilihatnya, Satya beranjak sejenak untuk pergi ke kantin. Mencari kopi untuk menemaninya saat menjaga Kaila nanti.


****


Sejak mendengar informasi dari sekertarisnya yang mengatakan bahwa kantornya telah di akuisisi oleh perusahaan lain. Faris menjadi frustasi dan uring-uringan, apa saja yang menyinggung dan tak sesuai dengan hatinya maka dengan cepat emosinya akan naik.


Faris kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melampiaskan frustasinya dengan mengurung Sonia di kamar apartemennya. Mabuk, merokok dan melakukan apa saja yang diinginkannya untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Brak !!! Brak !!! Brak !!!


"Faris !!! Buka pintunya !!" Teriak Sonia dari dalam kamar.


Sejak kemarin dirinya dikurung di dalam kamar itu. Tak hanya dikurung Faris juga memaksanya melakukan hubungan intim tanpa mengerti waktu. Hingga membuat Sonia kelelahan bahkan makan pun dirinya hanya diberikan satu kali sehari oleh Faris.


Memang karma selalu ada untuk mereka yang selalu berlaku jahat pada orang lain. Kini Sonia mampu merasakan bagaimana rasanya diperlakukan tak baik oleh orang lain. Terlebih oleh Faris kekasihnya sendiri, pria yang selama ini dicintainya.


"Faris !!! Buka !!! Kamu tidak bisa mengurungku seperti ini hanya karena masalah perusahaan mu. Faris !!! Buka pintunya !!!"


Sonia terus berteriak agar Faris mau membukakan pintu kamar itu. Ia harus keluar agar terbebas dari Faris yang sepertinya sudah mulai gila saat ini.


"Wanita sialan !!! Berteriak lah sesuka hatimu. Aku tidak akan membiarkan mu bebas. Gara-gara wanita sialan itu aku kehilangan perusahaan."


"Aarrgghh !!!"


Prang !!!


Teriakan frustasi dari Faris hingga bantingan sebuah botol minuman keras terjadi di ruang tamu. Entah salah siapa hingga semua ini terjadi. Yang jelas masing-masing dari dua manusia itu tak ingin merasa salah dalam kehancuran mereka.


Faris merasa karena kecerobohan Sonia memberikan imbas pada dirinya hingga kehilangan perusahaan. Tetapi bagi Sonia itu bukanlah kesalahannya jika sampai Satya tahu perilaku nya yang berkhianat pada Satya. Toh semua itu Sonia lakukan demi Faris juga.


Kisah masa lalu yang membuat Faris merasa sakit hati pun kini berputar kembali di kepalanya. Saat dimana kedua orang tua Sonia tak memberikan restu pada hubungan mereka hingga kedua orang tua Sonia menikahkan Sonia dengan Satya. Pria yang lebih mapan dibandingkan dirinya. Tekad Faris adalah membangun perusahaannya dengan modal menjual semua aset peninggalan almarhum kedua orang tuanya untuk membuktikan jika dirinya mampu menjadi pria mapan saat Sonia memilih pria lain.


Faris ingin merebut kembali Sonia dari genggaman Satya. Maka dari itu hubungan mereka tak pernah diakhiri sampai saat ini. Tapi memang yang namanya dendam itu tak semuanya bisa berakhir dengan mulus terlebih cara yang digunakan selalu membuat orang lain merugi.


Dalam keadaan setengah sadar, Faris masuk ke dalam kamarnya. Sonia masih berteriak-teriak untuk dibukakan pintu. Faris tak perduli akan teriakan Sonia. Justru dirinya menarik dan melempar Sonia ke atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan Faris !! Hentikan semua ini !!" Bentak Sonia.


Faris tersenyum sinis. "Apa ? Tentu saja kita akan bersenang-senang sayang. Kamu tahu aku sangat frustasi akan semua ini. Dan tubuhmu bisa sedikit mengobati rasa frustasiku."


"Faris aku tidak mau !!! Kamu pikir aku wanita ****** yang harus melayani mu setiap waktu huh !!"


"Bukankah memang seperti itu ? Sonia... Kamu tak ada bedanya dengan wanita ******, bahkan kamu memberikan tubuhmu tak hanya pada satu pria saja. Tubuhmu kamu berikan pada Satya dan padaku itu sama saja bukan." Faris tertawa mengejek Sonia.


Sakit ? Ya tentu saja Sonia merasa sakit hatinya. Faris pria yang dicintainya berubah menjadi pria yang tak berperasaan. Jika Sonia sadar seperti itu lah yang Belva rasakan saat dirinya mengatakan Belva sebagai wanita murahan. Sedangkan Belva tak merasa melakukan hal yang sepantasnya wanita murahan lakukan.


Dengan percaya diri dan kekuasaan yang dirasa dimilikinya saat itu Sonia mampu berlaku semenay pada Belva. Bahkan mempermalukan wanita malang itu dihadapan banyak orang. Sonia tak tahu jika dampak nya sangat besar untuk Belva dan juga kedua anak Belva yang masih kecil. Ia tak memiliki perasaan kasihan setidaknya pada anak-anak Belva. Sekarang mungkin sudah saatnya Sonia maupun Alya merasakan kesakitan dan kesedihan yang pernah Belva rasakan sejak dulu atas ulah mereka. Karma itu akan selalu ada cepat atau lambat datangnya.


****


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Terima kasih banyak my dear sudah selalu support sampai detik ini. Saat ini author hanya bisa membalas dengan doa-doa terbaik buat kalian readers ku tersayang. Sehat selalu dan lancar rejeki πŸ€—πŸ™.


__ADS_2