Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 75. Kepulangan Kaila


__ADS_3

Belva masih menimbang keputusannya untuk memberikan ijin bagi Kaili menginap di rumah Satya. Ayah kandung si kabar itu pun menatap Belva karena tak kunjung membuka suara.


"Belva..." Panggil Satya.


"Apa Kaili akan aman ? Saya masih tetap mengkhawatirkannya." Ujar Belva.


Tetap saja kekhawatiran seorang ibu jika sudah takut anaknya berada dalam bahaya pasti tidak bisa dengan mudah hilang begitu saja. Terlebih beberapa kali kejadian yang tak mampu dihilangkan dari dalam cerita hidupnya.


Satya meraih lengah Belva, menggenggam tangan kiri Belva. Wanita itu terkejut dengan apa yang Satya lakukan. Seketika canggung dan grogi Belva rasakan. Beda dengan Satya yang melakukan hal itu atas dorongan dari hatinya bahkan akal pikirannya mungkin saat ini tengah kalah oleh harinya. Jika dia sadar pasti akan langsung melepaskan genggaman itu karena masih memikirkan Belva istri dari Roichi.


"Semua akan baik-baik saja. Kaili aman bersama saya. Rumah saya juga rumah bagi anak-anak sekalipun kamu juga memiliki keinginan untuk tinggal di rumah itu saya tak pernah keberatan sama sekali. Kamu Maminya anak-anak tidak masalah."


Belva sebenarnya bingung dengan sikap Satya yang terkadang berubah dingin dan terkadang berubah lembut. Dan kali ini Satya berubah menjadi lembut dihadapan Belva.


"Belva, terima kasih kamu sudah mengijinkan saya untuk menemui anak-anak tapi maaf jika saya masih terus meminta lebih padamu. Mengertilah posisi saya, yang juga ingin seperti mu dekat dengan anak-anak."


Hati Belva seakan disentuh oleh perkataan Satya. Jika dirinya berada di posisi Satya mungkin dirinya juga akan memohon seperti pria itu. Akhirnya Belva mengangguk, wanita itu mengijinkan Satya membawa Kaili menginap di rumah mantan majikannya.


"Bagaimana ?" Tanya Satya memastikan.


"Iya. Asalkan Kaili tetap aman tanpa kekurangan suatu apapun. Saya mengijinkannya." Ucap Belva mengangguk pelan.


Pria itu tersenyum, perlahan rencananya untuk mendekati Duo Kay berjalan lancar. Hatinya merasa lega sekali, mulai malam ini dirinya akan membuat Kaili tinggal dengan sangat betah di rumahnya. Hingga waktu yang dihabiskan bocah itu akan lebih banyak di rumahnya ketimbang di rumah minimalis Belva.


"Terima kasih. Kamu tak usah khawatir saya pastikan Kaili aman dan nyaman di rumah saya." Ucap Satya.


Belva hanya kembali mengangguk. Dirasa pembicaraan sudah selesai. Wanita itu langsung melanjutkan kembaki pekerjaannya. Meski tak bisa ke butik tapi Belva tetap terus bekerja jarak jauh.


"Makan lah terlebih dahulu. Kaili tadi meminta ayam tepung, ada dua box untuk mu dan Kaila." Ucap Satya.


"Seharusnya tak perlu repot-repot Tuan."


"Kamu Maminya si kembar, saya sudah mulai terbiasa. Makanlah dulu baru lanjutkan pekerjaan mu."


Satya mengambil plastik yang diletakkannya tadi di atas nakas dekat ranjang Kaila. Tak ingin melihat lagi pria itu repot-repot untuknya, Belva langsung mengambil satu box yang ada di dalam plastik tersebut.


"Terima kasih Tuan. Anda tak makan ?" Tanya Belva.


"Sudah bersama Kaili tadi."


Pria itu lalu sibuk sendiri dengan ponselnya saat melihat Belva sudab bersiap untuk makan. Tapi sesekali Satya melirik Belva, wanita yang sampai detik ini semakin hari semakin bersemayam di hati Satya.


Tak bisa dipungkiri jika beberapa hari terakhir bisa lebih dekat dengan si kembar otomatis membuatnya juga lebih dekat dan intensitas pertemuan dengan Belva juga semakin sering terjadi. Hatinya semakin mendamba dan memuja wanita yang telah menjadi milik pria lain itu.


Demi menjaga wibawa dan martabatnya sebagai pria terhormat. Satya berusaha keras menutupi perasaannya dengan sikap-sikap dinginnya terhadap Belva. Meski terkadang dirinya tak bisa menahan untuk bersikap lembut dan hangat pada Belva.


Selesai makan Belva kembali membereskan sisa makanannya. Diliriknya Satya ang terlihat sibuk dengan ponselnya sendiri. Ia tak tahu jika Satya tak benar-benar sibuk, lirikan pria itu tak terlihat oleh Belva.


Keadaan dalam ruangan itu terasa sangat hening sekali. Tak ada pembicaraan apapun diantara kedua orang berbeda jenis kelamin itu. Belva sibuk dengan pekerjaannya dan Satya sibuk dengan ponselnya. Catat Satya tak benar-benar sibuk. Hanya saja untuk memulai percakapan kembali Satya merasa canggung karena dia harus berusaha keras menahan diri dihadapan Belva. Bisa gawat jika dirinya sampai lepas kendali seperti saat itu yang tiba-tiba mencium bibir Belva.


Bahkan seringkali Satya tak sadar tangannya kelepasan mengusap lembut kepala Belva. Menyalurkan apa yang sedang pria itu rasakan. Meski tak ada penolakan dari Belva hanya saja terkadang Satya merasa bodoh tak bisa mengendalikan diri tapi sejujurnya dia juga senang melakukan hal itu tanpa adanya penolakan.


Hingga beberapa jam, ponsel Belva berbunyi memecah keheningan di dalam ruang rawat Kaila. Budhe Rohimah menghubungi Belva karena merasa khawatir pada Kaili yang tak kunjung pulang. Meski wanita paruh baya itu tahu Kaili sekolah di jemput oleh Satya.


"Budhe tidak usah khawatir. Kaili saat ini sedang tidur di rumah sakit."


"Syukurlah. Budhe khawatir Nduk sejak tadi tak pulang. Budhe takut jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak."


"Iya Budhe, maaf lupa mengabarimu. Kaili baik-baik saja." Ucap Belva.


"Iya Nduk. Ya sudah Budhe matikan teleponnya. Budhe sudah lega tahu kabar dari Kaili."


"Iya Budhe."


Panggilan pun sudah ditutup. Belva kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Bibi Imah menanyakan Kaili ?" Tanya Satya.


"Iya." Jawab singkat Belva dengan anggukan.


Kembali tak ada pembicaraan dari mereka. Seakan memang tak ada topik yang harus mereka bahas lagi. Belva sejujurnya masih merasa canggung berada di dekat Satya. Merasa bahwa sampai saat ini Belva dan Satya masih seperti majikan dan pembantu.


Tak lama Kaila terbangun dari tidurnya, memanggil sang Mami yang duduk di sofa. "Mamiiii..." Dengan suara serak khas bangun tidur.


Suara khas anak kecil yang menggemaskan di telinga Satya maupun Belva. Kedua orang tua itu menoleh ke arah Kaila. Belva yang dipanggil, ia langsung berdiri meninggalkan pekerjaannya untuk mendekati putrinya.


"Sudah bangun sayang. Mau minum ? Mami ambilkan." Kaila mengangguk. Gelas berisi air putih yang sudah tinggal setengah itu diambil oleh Belva dan diberikan pada putrinya. Tentu saja dengan membantu meminumkan pada bocah kesayangannya.

__ADS_1


"Daddy, kapan Kaila boleh pulang." Tanya Kaila yang masih setengah berbaring. Belva membantu Kaila bersandar pada tumpuan tumpukan bantal.


Satya mendekat ke ranjang Kaila. Pria itu sudah berjanji akan mengusahakan Kaila untuk segera pulang. Tapi dirinya belum sempat menemui dokter Andrew. Hari ini sesuai jadwal dokter itu akan datang mengontrol keadaan Kaila.


"Nanti ya sayang. Saat dokter kesini Daddy akan menanyakan nya." Ucap Satya dengan nada lembut.


"Tapi bilang ya sama dokter kalau Kaila mau pulang. Kaila mau sekolah."


"Iya Tuan putri. Sabar dulu ya." Ujar Satya.


Disaat mereka sedang mendengarkan keinginan Kaila, kembaran gadis kecil itu terbangun. Sama seperti Kaila pasti setiap bangun selalu memanggil dan mencari Belva.


"Mamiii..." Panggil Kaili.


"Biar saya saja." Ucap Satya. Priabitu langsung berjalan ke arah ranjang Kaili.


"Jagoan Daddy sudah bangun. Ayo gedong Daddy."


Terulur lah lengan Kaili pada Satya, sigap Satya menggendong putranya. Lalu mereka melangkah menghampiri ranjang Kaila. Didudukkan Kaili pada ranjang Kaila.


Kaili masih terdiam karena baru saja terbangun. Kaila masih mengutarakan keinginannya untuk segera pulang dari rumah sakit.


"Sabar sayang, nanti kita tanyakan dengan dokter dulu ya." Ucap Belva.


"Nanti pas Kaila pulang, boleh mampir ke rumah Daddy, Mi ?" Tanya Kaila.


Belva melirik Satya sekilas, lalu menghela napas. Masih terasa berat dan tak nyaman tapi Belva mencoba ikhlas dan mengangguk pelan.


"Boleh." Jawab Belva.


"Tidur di rumah Daddy boleh ?" Tanya Kaila kembali. Rupanya mendapatkan ijin mampir membuat Kaila ingin mendapatkan ijin lebih dari sekedar mampir saja.


"Iya boleh." Jawab Belva.


Jawaban sang Mami langsung mampi menerbitkan senyum cerah dari bibir mungil Kaila.


"Benaran boleh Mi ?" Tanya Kaili yang langsung menyambung saat mendengar adik dan Maminya berbincang.


Belva lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada kedua anaknya. Tangannya mengusap lembut kepala Kaila dan Kaili.


"Yeaaayy... !!! Oke Mami. Kaili tidak akan nakal." Tangan pria kecil itu keduanya terangkat ke atas. Mengekspresikan kebahagiaan seakan berhasil mencetak gol saat bermain sepak bola.


Benar saja jadwal pemeriksaan dilakukan oleh dokter Andrew. Pria itu datang bersama suster asistennya.


"Permisi Tuan... Nona..." Sapa dokter Andrew.


"Silahkan masuk dokter." Ucap Belva dengan ramah.


Dokter Andrew dan suster tersenyum mendapatkan sambutan yang ramah dari seorang wanita muda beranak dua itu.


"Hallo cantik... Bagaimana keadaan mu ? Apa masih terasa sakit ?" Sapa dokter Andrew diakhiri dengan pertanyaan.


"Sedikit." Jawab Kaila.


"Dokter, Kaila sudah menginginkan untuk bisa segera pulang ke rumah. Apakah sudah diperbolehkan ?" Tanya Satya pada dokter Andrew.


"Apa sudah tidak ada keluhan lagi ?" Tanya dokter Andrew.


"Sayang, bagian mana saja yang masih sakit ?" Tanya Satya.


"Kepala Kaila, Daddy. Tapi tidak sakit sekali." Jawab Kaila.


"Baiklah. Boleh dokter periksa dulu anak cantik ?" Tanya dokter Andrew. Kaila mengangguk.


Kaila sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Hasil akhir pemeriksaan dokter keadaan Kaila semakin membaik. Beberapa luka di tubuhnya sudah mulai mengering hanya bagian kepalanya saja yang masih butuh perawatan lebih.


"Hari ini Kaila sudah boleh pulang." Ucap dokter Andrew.


"Maksud dokter saat ini juga atau bagaimana ?" Tanya Belva.


"Boleh bila semua administrasi sudah diselesaikan semua, Nona." Jawab dokter Andrew.


"Tapi jangan lupa setiap satu minggu sekali, Kaila harus kontrol untuk luka yang ada di kepalanya." Imbuh dokter Andrew.


"Baik dokter, saya mengerti." Ucap Belva.


"Baiklah, biar saya urus administrator sekarang, dokter." Ucap Satya.

__ADS_1


"Silahkan Tuan. Kalau begitu saya juga permisi dulu. Untuk obatnya bisa dibil dibagian farmasi."


"Baik. Terima kasih dokter." Ucap Satya.


"Terima kasih dokter." Kembali Belva mengucapkan pada dokter Andrew yang telah menangani Kaila.


"Saya permisi dulu Tuan... Nona..." Pamit dokter Andrew. Belva dan Satya hanya mengangguk untuk menjawab pamitan tersebut.


Dokter Andrew dan suster asistennya keluar dari kamar rawat Kaila. Mendengar jika dirinya sudah boleh pulang Kaila tersenyum ceria. Sama seperti matahari yang bersinar sangat terang sekali.


"Saya urus administrasi dulu." Ucap Satya. Belva mengangguk.


Satya keluar tak lama setelah dokter Andrew dan suster asisten keluar kamar rawat Kaila. Ternyata dokter Andrew masih berada di depan ruangan rawat Kaila seorang diri.


"Tuan Satya." Panggil dokter Andrew.


"Dokter. Kenapa anda masih disini ?" Tanya Satya.


"Saya boleh bicara sebentar ?" Tanya dokter Andrew hati-hati.


"Masalah Kaila ? Atau Alya ?" Tembak Satya langsung pada dokter Andrew.


Tidak ada hal penting yang akan dibicarakan pria itu kecuali urusan Kaila ataupun Alya sesuai tebakan Satya.


"Alya... Apa anda benar tak ingin membantunya sedikit saja Tuan ? Gadis itu kini berada di apartemen saya untuk masa pemulihan sebelum pihak kepolisian membawanya."


"Memang saya harus membantu apa ?" Tanya Satya. Pria itu memang sudah tak perduli dengan Alya.


"Paling tidak, berikan keringanan pada nya dalam hal tuntutan yang anda berikan. Gadis itu sedang hamil Tuan anda tahu sendiri jika kandungannya bermasalah."


"Ringan atau berat tuntutan itu hanya pihak pengadilan nanti yang memutuskannya." Ucap Satya santai.


"Saya tidak akan mencabut tuntutan itu. Ini semua sudah sesuai dengan perbuatannya sendiri. Jika anda ingin bersusah payah untuk membantunya, maka silahkan saja lakukan. Tapi saya akan tetap memperjuangkan hak dan keadilan bagi putri kandung saya." Imbuh Satya.


Pria itu melangkah lebih cepat untuk meninggalkan dokter Andrew. Malas membahas semua yang mengenai Alya maupun Sonia.


Dokter Andrew hanya bisa menghela napas. Dia merasa kasihan dengan Alya yang menghadapi banyak masalah sekaligus dalam satu waktu. Memang pria itu sadar jika apa yang Alya lakukan salah tapi melihat kondisi Alya saat ini dokter Andrew tak tega.


Semua administrasi sudah Satya selesaikan termasuk obat yang harus dikonsumsi oleh Kaila. Segera Satya kembali lagi ke kamar rawat Kaila. Ternyata Belva sudah membereskan semua barang-barang mereka yang dibawa ke rumah sakit. Cukup banyak karena beberapa keperluan Kaila dan juga barang-barang milik Belva.


"Sudah selesai ?" Tanya Satya.


Belva mengangguk. "Berapa biaya tagihan Kaila, Tuan ?" Tanya Belva.


"Kenapa ?" Tanya Satya.


"Saya akan melunasinya, agar Kaila bisa pulang." Ucap Belva.


"Sudah saya urus. Sekarang saatnya Kaila pulang."


"Tapi Tuan..."


"Tidak lupa kan kalau Kaila putri saya." Ucap Satya telak menyadarkan Belva.


"Terima kasih sudah membantu kami." Ucap Belva yang masih merasa tak enak pada Satya.


"Sudahlah. Kamu tunggu di sini dengan anak-anak. Barang-barang saya bawa ke depan dulu." Titah Satya.


"Jangan Tuan, saya belum pesan taksi nanti saja jika taksi sudah datang."


"Kalian pulang dengan saya." Satya langsung berlalu begitu saja.


Barang-barang yang dikemas menjadi dua tas itu dibawa oleh Satya keluar ruangan. Pria itu berjalan menuju dimana mobilnya di parkirkan.


Belva hanya menatap punggung Satya. Jujur dirinya masih belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran Satya. Canggung, sungkan dan sedikit tak nyaman untuknya bersama dengan Satya. Beberapa kali dirinya melakukan penolakan di beberapa kesempatan semata untuk menghindari rasa canggung dan sungkan itu.


Satya, pria itu seperti tak merasa jika Belva merasa sungkan pada dirinya yang notabene mantan majikan Belva. Yang ada dipikiran Satya saat ini adalah bagaimana caranya bisa terus dekat dengan orang-orang tersayangnya yang diharapkan suatu saat nanti bisa menjadi keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.


****


To Be Continue...


Selamat malam my dear para readers ku.


Maafkan author yang hanya menulis part kali ini sangat sedikit disisa tenaga author yang tinggal beberapa persen hari ini.


Part ini buat kalian yang masih setia sama author 🙏🙏🙏. Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2