Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 136. Kejadian Sebenarnya


__ADS_3

Menunggu beberapa detik hingga menit tidak ada yang menjawab pertanyaan Satya tidak ada yang mengaku dihadapan Satya. Membuat pria beranak dua itu menjadi semakin geram.


"Tidak ada yang mau mengaku, baiklah. Sayang?"


Baru saja Belva hendak membuka mulut untuk bersuara, Tuti sudah bersuara bterlebih dahulu.


"Inah, Tuan. Inah yang membuat lantai itu becek dan licin ember yang berisi air bekas mengepel lantai tumpah."


Pengakuan yang sungguh mengejutkan bagi semua orang yang ada di ruangan tersebut. Semua menoleh menatap ke arah Tuti. Inah sangat terkejut hingga membulatkan matanya. Tuti menyalahkan dirinya sedangkan dirinya tidak melakukan hal itu sama sekali. Inah sontak saja langsung menoleh ke arah Tuti. Bva juga tak kalah terkejut saat Tuti mengkambing hitamkan temannya sendiri untuk menutupi kesalahannya.


"Tuti, kenapa kamu menyebutku seakan ini adalah salahku? Aku tidak melakukannya." Inah tidak terima atas tuduhan dari Tuti.


"Memang tugas mu yang mengepel lantai kan? Jadi lantai itu becek karena air yang ada di dalam ember yang kamu bawa."


Tuti seakan yakin dengang kalimatnya, gadis itu begitu berani meski ia tahu banyak pasang mata yang mengetahui fakta sebenarnya.


"Tapi..."


"Sudah diam!! Bentak Satya.


"Inah. Saya tidak pernah suka dengan kinerja dari pekerja saya yang tidak becus. Ini peringatan yang pertama dan terakhir bagimu. Jika saya melihat sekali lagi kamu membuat ulah di rumah ini kamu tahu resikonya sendiri." Ujar Satya.


Belva melirik ke arah Tuti, ada tatapan yabg tak bisa diartikan dari ibu dua anak itu. Waktu semakin berjalan, hari semakin siang, anak-anak nya pasti akan terlambat hanya karena permasalahan yang ada di dalam rumah.


"Mas, sudah siang kita harus antar anak-anak." Belva mengingatkan suaminya.


Satya menghela napas, sadar jika mereka pun harus kembali beraktivitas.


"Baiklah. Saya harap tidak ada lagi masalah yang terdengar di telinga saya karena ulah pekerja yang tidak becus." Ujar Satya.


"Sayang, mas tunggu di mobil." Ucap Satya kembali.


Belva mengangguk, Satya yang sudah merasa geram dan emosi di pagi hari lebih memilih pergi terlebih dahulu dari ruang makan. Belva masih berdiam diri di tempatnya.


"Saya kecewa ada yang tidak jujur disini bahkan menyalahkan orang yang otomatis merugikan orang lain tersebut. Mengkambing hitamkan orang lain bukanlah hal yang terpuji. Kalian bisa kembali bekerja." Ucap Belva.


Para asisten rumah tangga mengangguk mereka berpamitan meninggalkan tempat untuk kembali pada pekerja mereka masing-masing. Inah yang merasa kecewa pada Tuti langsung pergi tanpa mau bertegur sapa dengan teman seperjuangan nya.


Belva langsung mendekati Tuti dan membisikkan kalimat yang tertahan sejak tadi. Belva tersenyum sinis pada Tuti.


"Lolos sekali tidak masalah. Kamu yang mengumpan saya pastikan kamu yang tertangkap." Ucap Belva lirih pada Tuti.


Tuti melirik Belva dengan tatapan kesal tapi Belva membalas tatapan Tuti dengan tatapan tajam. Mata Tuti sedikit membulat dan bergetar kala melihat Belva terlihat menunjukkan sikap beraninya.


Belva meninggalkan Tuti di ruang makan, ia hendak menghampiri kedua anaknya yang masih berada di kamar mereka bersama Janis. Belva juga berpapasan pada Inah yang terlihat mengusap air matanya. Inah menatap Belva dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bagaimana rasanya? Disalahkan tanpa punya salah? Seperti itulah rasanya dibenci tanpa memiliki kesalahan pada si pembenci. Berhati-hatilah mencari teman." Ujar Belva yang langsung meninggalkan Inah.


Inah terdiam saat Belva berkata demikian, otaknya berpikir keras apa maksud dari ucapan istri majikannya.


Belva menghampiri kedua anaknya dan menggandeng kedua bocah itu untuk turun dari kamar dan menuju mobil karena Satya sudah menunggu di dalam mobil. Duo Kay dibantu Belva masuk ke dalam jok belakang sedangkan dirinya duduk di samping sang suami.


"Sudah?" Tanya Satya.


"Sudah, ayo berangkat." Jawab Belva.


"Mas, pasti hari ini suasana hatimu sedang tidak baik, maafkan aku. Aku tidak bermaksud merusak suasana hatimu."


"Sayang, mas tidak marah padamu. Mas hanya kesal saja mereka bekerja tidak becus. Kamu bisa menegur mereka jika cara kerja mereka tidak benar, kamu berhak karena kamu Nyonya di rumah kita. Jika memang benar-benar kamu tidak bisa mengatasinya baru kamu bilang pada mas."


Belva mengangguk, Satya mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang karena membawa anak dan istrinya.


"Mami... Daddy nanti kita jadi jalan-jalan kan?" Tanya Kaila memastikan kembali. Gadis kecil itu sangat ingin sekali berjalan-jalan bersama keluarga. Takut jika acara mereka gagal lagi.


"Jadi sayang, tenang saja nanti Daddy dan Mami jemput kalian." Jawab Satya.


"Horee... Asiiikk... Jadi jalan-jalan." Kaila tersenyum senang. Wajah gadis kecil itu begitu terlihat bahagia. Kaili pun sama tapi pria kecil itu tak terlalu berlebihan seperti Kaila hanya tersenyum saja.


Setelah sampai di sekolah Duo Kay, Belva turun dari mobil mengantar kedua anaknya sampai di depan kelas. Ia juga bertemu dengan Okta dan Farah mereka saling bertegur sapa seperti biasanya. Tapi karena terburu-buru jadi Belva langsung berpamitan pada kedua temannya itu.


"Aku duluan ya, buru-buru soalnya." Pamit Belva.


"Oke, besok ada waktu kita jalan bareng ya?" Ucap Okta.


"Oke, kak Okta, kak Farah sampai bertemu lagi nanti kabar-kabar saja."


"Oke, Bel. Hati-hati ya." Ujar Farah.


Belva berpisah dengan Okta dan Farah, ia berjalan menuju mobil suaminya kembali.


"Mereka teman-teman mu, sayang?" Tanya Satya yang melihat dari dalam mobil.


"Iya, kan mas juga sudah sering lihat."


"Iya tapi mas kira hanya sesama ibu-ibu yang mengantar sekolah dan kalian sekedar saling sapa saja."


"Mereka teman-temanku diantara orang tua siswa disini hanya mereka yang baik padaku. Aku sudah menganggap mereka seperti kakakku karena usia mereka yang lebih tua dari ku."


"Oh, kita langsung ke kantor ya." Ujar Satya.


"Iya tapi mampir ke toko kue dulu ya."


"Mau beli kue? Masih lapar?" Tanya Satya.


"Ya iyalah beli kue masa beli sepatu, mas. Tadi tidak cuma makan sedikit, tidak enak lihat wajah kamu kesal begitu saat sarapan."


"Maaf sayang, nanti kita mampir ke toko kue."


Satya kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka mampir ke toko kue sebentar sesuai keinginan Belva lalu kembalj melanjutkan perjalanan menuju kantor Satya. Sebenarnya Belva tidak ingin ikut ke kantor suaminya, ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi mengingat dirinya juga harus membawa Satya untuk bertemu dengan Azura dan Marko maka Belva menurut saja saat Satya mengajaknya ke kantor.


Sampai di kantor, Satya memarkirkan mobilnya dan turun terlebih dahulu membukakan pintu untuk istrinya. Belva keluar dari mobil dengan di gandeng oleh Satya memasuki kantor. Beberapa pasang mata menatap heran pada bos mereka, siapakah wanita yang digandeng oleh bos mereka. Wanita yang sama saat beberapa waktu lalu datang ke kantor.


Para karyawan kantor menyapa Satya tapi tidak dihiraukan boleh pria itu. Belva melihat dengan jelas jika Satya bersikap cuek pada karyawan nya. Belva lah yang membalas sapaan mereka semua dengan senyuman ramahnya.


Di dalam lift Satya masih menggandeng istrinya dan sibuk dengan ponselnya untuk mengecek beberapa pesan dari para klien.


"Mas."


"Hemm." Satya masih fokus pada ponselnya.


"Mas."


"Iya." Tapi Satya tetap saja pada aktivitas nya.


Belva melepaskan genggaman Satya hingga membuat pria itu menoleh pada istrinya.


"Kenapa?" Tanya Satya.


"Di panggil dari tadi malah sibuk sendiri, seharusnya kalau tahu sedang sibuk jangan bawa aku ke kantor."


Satya memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dia tersenyum tipis melihat istrinya sedikit kesal. Digenggamnya kembali tangan sang istri.

__ADS_1


"Iya, ada apa hemm?" Tanya Satya lembut.


"Mas tidak lihat tadi kalau karyawan mas semua menyapa mas?"


"Lihat, kenapa?"


"Kenapa mereka menyapa tapi mas tidak balas?"


"Memangnya harus?" Tanya Satya.


"Menghargai mas, coba kalau mas menyapa seseorang terus di cuekin memangnya mas mau diperlakukan seperti itu?"


Satya berpikir sejenak atas ucapan istrinya, memang benar jika dirinya tak pernah membalas sapaan para karyawannya selama ini.


"Kasihan tahu mas, mereka sudah menyapa mas tapi mas tidak menghargai sapaan mereka. Meskipun mereka itu bahwan kamu tapi sebagai bos harusnya bisa memberikan contoh yang baik buat para bawahannya bukan malah bersikap hmmpp..."


Satya sedari tadi mendengar dan memperhatikan istrinya berbicara seperti rentetan petasan membuat Satya pusing dan gemas secara bersamaan. Hingga Satya harus membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Lu*matan kecil Satya berikan saat mendapati bibir manis bak madu itu.


"Besok mas akan balas sapaan mereka, sekarang kamu cerewet sekali, sayang." Ucap Satya melepaskan luma*tannya. Ibu jarinya menyeka bibir sang istri yang basah.


"Mas kamu ih tidak tahu tempat." Belva kesal memukul dada suaminya tapi dirinya juga tersipu saat mendapatkan serangan dadakan seperti itu di dalam lift.


"Tempat sepi juga jadi tidak masalah, yank." Ucap Satya santai.


Belva berdecak mendengar jawaban suaminya. Lift terbuka saat mereka sampai di lantai khusus ruangan Satya. Grace yang melihat kedatangan bos-nya langsung berdiri dan menyapa bos-nya.


"Selamat pagi Tuan, Nona..."


"Pagi Grace."


Meski menyapa keduanya tapi dalam hati Grace bertanya-tanya akan kehadiran perempuan cantik yang kini digandeng oleh bos-nya. Perempuan beberapa hari yang lalu datang ke kantor hanya sebentar saja.


"Pagi Nona." Sapa Belva dengan senyum ramah.


"Jordi sudah datang?" Tanya Satya pada Grace.


"Sudah Tuan."


"Suruh dia ke ruangan saya." Titah Satya.


"Baik Tuan."


"Sayang, ayo masuk." Ucap Satya pada Belva.


Grace tampak terkejut saat bos-nya memanggil perempuan itu dengan sebutan sayang. Tapi melihat Belva, Grace merasa tidak mungkin jika Satya memiliki hubungan yang lebih. Grace pikir jika perempuan cantik itu adalah putri Satya dari pernikahan nya dengan Sonia. Karena banyak yang mengetahui jika Satya memiliki putri yang sudah besar. Tapi Satya sangat jarang membawa Sonia dan Alya dalam acara perusahaan. Untuk Alya bukan saja jarang tapi tidak pernah.


"Sebentar." Ujar Belva.


Belva lalu menyerahkan salah satu paper bag berisi kue yang dibelinya tadi saya menuju ke kantor pada Grace.


"Ini untuk mu, Nona." Ujar Belva.


Grace menatap paper bag itu dan menerimanya dengan senyum ramah.


"Terimakasih, Nona. Seharusnya tidak perlu." Ucap Grace.


"Tidak apa-apa, untuk sarapan atau untuk makan siang nanti."


"Baik Nona terimakasih."


"Oke saya masuk dulu." Pamit Belva.


Satya dan Belva masuk ke dalam ruangan kerja Satya. Sampai di dalam jas yang tadi Satya gunakan di lepasnya dan di sampirkan di belakang sandaran kursi kerjanya lalu duduk di sofa bersama sang istri. Tak hanya duduk saja tapi Satya meraih pinggang istrinya hingga mereka duduk saling menempel.


"Mas, apa-apaan kamu. Ini kantor ruang kerja bukan buat mesra-mesraan kaya kamu sama wanita itu." Ucap Belva menyindir Satya.


"Astaga yank, kan mas sudah bilang itu bukan kemauan mas. Ck... Kamu kok tidak juga mengerti sih yank."


"Fakta nya begitu mau bagaimana lagi." Ucap Belva cuek.


Satya kesal istrinya masih saja membahas hal itu seakan-akan dirinya yang dengan niat bercumbu dengan Sarita. Satya berdiri dari duduknya dan menelepon Jordi agar segera masuk ke dalam ruangannya. Tak butuh waktu lama Jordi langsung datang ke ruangan Satya karena mendengar suara Satya yang sedang tak baik-baik saja.


"Selamat pagi Tuan, ada apa Tuan memanggil saya?"


"Selamat pagi Nona, anda disini?" Ujar Jordi.


"Pagi Tuan Jordi, iya Tuan Satya mengajak ku kemari." Jawab Belva.


"Jordi, urus ruangan IT dan cari rekaman video yang kamu salin kemarin untukku. Secepatnya saya kasih waktu sepuluh menit mulai dari sekarang." Titah Satya.


"Baik Tuan. Saya permisi."


"Nona saya permisi."


Pamit Jordi pada Satya dan Belva.


Belva menatap suaminya yang terlihat datar meski ia tahu jika suaminya saat ini sedang kesal karena terdengar dari cara berbicaranya.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Belva dengan santainya.


"Tidak, tunggu sebentar nanti kamu ikut mas."


"Sini makan kue dulu." Ajak Belva.


Satya masih diam duduk di kursi kebanggaan nya setelah menghubungi Jordi. Belva tahu Satya sedang tak baik-baik saja sejak tadi pagi dengan suasana hati yang memburuk.


Wanita itu membuka paper bag berisi kue basah yang manis karena berasa coklat. Ia mendekati suaminya yang tengah duduk.


"Aak..." Belva berupaya menyuapi suaminya tapi Satya tetap diam.


"Mas, ini kue enak loh, makan dulu aku suapin."


Tetap Satya tak bergeming sedikitpun, pria itu mulai membuka berkasnya.


"Ish... Harusnya aku yang masih kesal ya gara-gara kelakuan kamu di kantor ini, apalagi di kuris ini." Ucap Belva.


"Aak... Buka mulut nya dong sayang. Tangan ku pegel bawa kue, kaki ku juga pegel berdiri tunggu kamu buka mulut." Ujar Belva kembali.


Satya ingin tertawaan mendengar ucapan istrinya yang terdengar konyol, hanya memegang kue yang tak seberapa saja mengeluh seperti membawa beban berat.


Satya langsung menarik tangan Belva hingga istrinya duduk di pangkuan Satya lalu mengambil kue yang di pegang oleh istrinya.


"Hanya membawa kue sekecil ini kamu mengeluh hemm."


"Sini biar mas yang pegang kue nya, kamu duduk di sini kalau kaki mu pegal." Ujar Satya.


"Aak..." Satya justru menyuapi Belva dengan kue yang seharusnya untuk dirinya.


"Lah kan kue nya buat mas kenapa jadi aku yang harus makan." Protes Belva.


"Sudah buka saja mulutnya, kamu juga susah banget suruh buka mulut saja. Tanga mas juga pegal bawa kue nya tunggu kamu buka mulut."

__ADS_1


Satya membalikan kata-kata Belva tadi membuat wanita itu tertawaan.


"Mas, kamu tidak kreatif. Ikut-ikutan omongan aku."


"Biar saja, ayo aakk..."


Belva langsung membuka mulutnya, Satya menyuapi kue itu masuk ke dalam mulut Belva tapi belum semua masuk Satya langsung mengambil kembali kue yang ada di mulut Belva menggunakan bibirnya, pria itu sengaja menyentuhkan bibir nya pada bibir Belva.


"Kalau mau suapin mas yang bener itu seperti ini."


"Mas, kamu ya..." Belva memukul dada bidang suaminya.


"Itu sih mau kamu." Ujar Belva.


Satya terkekeh, "Ya iyalah yank maunya mas memang seperti itu maka nya mas bilang sama kamu."


Belva tersipu saat suaminya terus menggoda dirinya. Satya selalu punya cara membuat dirinya tersipu malu.


Saat mereka sedang asik bercanda, Jordi masuk ke dalam ruangan Satya membuat pasangan suami-istri itu langsu berhenti seketika dan Belva langsung berdiri dari pangkuan suaminya. Wanita itu merasa malu saat Jordi yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Satya.


"Jordi, kamu tidak bisa ketuk pintu dulu?" Ujar Satya dingin.


"Maaf Tuan, saya terburu-buru. Semua sudah siap Tuan anda bisa ke sana sekarang." Ujar Jordi sedikit menunduk.


"Oke, kita ke sana."


"Sayang, ayo ikut mas."


"Kemana?" Tanya Belva.


"Sudah ayo ikut saja." Ucap Satya.


Jordi keluar lebih dulu diikuti oleh Satya dan Belva yang masih saja bergandengan tangan. Grace selalu memperhatikan kedua pasangan itu drhay hati yang terus bertanya-tanya.


Masuk di ruangan IT, semua yang di inginkan Satya sudah siap. Satya menyuruh Belva duduk di kuris menghadap komputer. Disana tertera sebuah video yang sama yang sempat Belva lihat dari ponsel Satya. Tapi bedanya video itu lebih panjang dan lebih lengkap.


Pada putaran video tersebut terlihat...


Flashback On


Grace sedang duduk di meja nya mengerjakan pekerjaan yang menumpuk, tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan mengenakan pakaian yang sangat seksi hingga memperlihatkan lekuk tubuh yang menurut banyak pria itu itu adalah lekuk tubuh yang menggoda.


"Ekhem, dimana Satya?" Tanya wanita itu.


Garce mendongak, seketika wajah nya berubah menjadi masam. Ia tak suka kehadiran wanita yang ada dihadapannya karena selalu menyulut emosi nya.


"Tuan Satya tidak ada." Jawab Grace.


"Saya tidak percaya, pasti ada di dalam kan?" Ucap wanita itu.


"Anda bertanya kan? Saya jawab Tuan Satya tidak ada. Saya rasa anda mendengarnya tentu pendengaran Anda tidam terganggu kan." Ucap Grace dengan berani karena ia memang sudah merasa tidak suka dengan sikap wanita yang ada dihadapannya.


"Kamu!!! Hanya pegawai saja mulutmu berani sekali berbicara kurang ajar padaku. Lihat saja tidak lama lagi kamu akan saya pecat."


"Cih memang anda siapa mau memecat saya, anda bukan dari bagian perusahaan ini jadi jangan mengarang cerita dengan bebas ini bukan pelajaran bahasa Indonesia."


Tentu wanita cantik dan seksi itu senkain merasa geram pada Grace yang berani pada dirinya. Tak mau membuang waktu dengan berdebat pada sekertaris Satya yang menurut nya tidak penting maka wanita itu langsung berjalan hendak masuk ke dalam ruangan Satya. Tapi garce segera berdiri dan berjalan cepat mencegah wanita itu.


"Hei anda tidak dengar saya bilang tuan Satya tidak ada di dalam."


"Saya tidak percaya padamu, Satya pasti ada di dalam, awas kamu minggir."


Wanita itu mendorong garce hingga sekertaris Satya itu hampir saja jatuh. Wanita itu berhasil masuk ke dalam ruangan Satya. Grace mengikuti hingga masuk ke dalam ruangan Satya.


"Satya..." Panggil wanita itu.


"Tuan, maaf wanita ini memaksa." Ucap Grace dengan rasa bersalah karena menggangu waktu kerja bosnya.


Satya yang terkejut dengan dua wanita masuk ke dalam ruangannya pun langsung mendongak. Dia menghela napas, wanita yang ia kenal itu selalu membuat masalah.


"Tidak apa, kamu sudah bekerja dengan baik. Lanjutkan pekerjaan mu. Kamu boleh keluar." Ujar Satya pada Grace.


"Baik Tuan saya permisi." Grace pamit undur diri.


Satya menatap wanita itu dengan pandangan tidak suka. Wanita itu hendak berjalan tapi Satya dengan cepat membuka suara.


"Stop! Berdiri di tempat mu. Katakan ada keperluan apa kamu datang kemari." Tanya Satya dingin tanpa basa-basi.


"Satya, kenapa sikapmu seperti itu padaku." Wanita itu rupanya tak mendengarkan perintah Satya, ia justru berjalan meletakkan tas mewah nya di atas meja dekat sofa dan mendekati Satya.


"Kamu tuli? Sudah saya katakan berdiri di tempatmu." Bentak Satya.


Sedangkan di luar ruangan Belva datang dengan membawa paper bag berisi makan siang untuk Satya. Ia berhenti di depan meja Grace dan bertanya akan keberadaan Satya.


"Permisi, Nona. Apa Tuan Satya ada? Saya datang untuk mengantar kan makan siang untuknya karena Tuan Satya sendiri yang memintanya padaku untuk mengantarkan ke ruangannya."


"Oh iya Nona Tuan Satya ada di dalam anda bisa masuk saja. Tadi Tuan Satya juga sudah berpesan jika nanti akan ada yang datang mengantarkan makan siang maka langsung masuk saja." Ucap Grace.


"Baik Nona, saya permisi. Terimakasih." Ucap Belva dengan ramah hingga membuat kekesalan Grace yang tadi sempat mendominasi kini mulai luntur.


Di dalam ruangan Satya, wanita cantik dan seksi itu benar-benar bebal. Tak menghiraukan apapun yang Satya ucapkan bahkan bentakan Satya pun tak di dengarkannya. Entah setan apa yang menguasai perempuan itu hingga berkelakuan nekat.


Wanita itu duduk menga*ngkang di pangkuan Satya, tangannya melingkar pada leher Satya dengan erat hingga dada besarnya menepel pada tubuh Satya tanpa aba-aba apapun wanita itu langsung mencium bibir Satya dengan rakus. Satya terbelalak lalu memejamkan mata sekilas karena jijik melihat wajah perempuan itu yang begitu dekat dengannya. Satya berusaha mendorong wanita itu, mendorong bahu dan juga paha wanita itu agar turun dari pangkuannya, wanita itu sangat erat memeluk Satya hingga ketika Satya mencoba mendorong pun maka wajah dan tubuh Satya akan ikut tertarik. Saat sedang berusaha menyingkirkan wanita itu Belva membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Satya. Wanita itu tak lama mencium Satya tiga menit pun tak sampai karena Belva yang sudah masuk ke dalam ruangan.


Paper bag yang dibawa Belva jatuh tak lama seorang pria juga masuk ke dalam ruangan Satya tepat nya di belakang Belva. Pria yang tak lain adalah Jordi itu memanggil Tuannya dengan suara bass nya.


"Tuan Sat...ya..." Panggil yang berawal mantap namun berakhir lirih karena terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.


Suara Jordi mengejutkan mereka semua terutama Satya yang melihat istrinya berada di dalam ruangannya dengan keadaan yang sangat merugikan dirinya akibat perbuatan seorang wanita gila yang tak lain adalah Sarita. Satya langsung mendorong tubuh Sarita saat tangan yang tadinya melingkar erat itu sudah mengendur.


Terjadilah ketegangan di dalam ruangan itu, yang sejatinya kondisi yang tak pernah Satya inginkan dan tak pernah Satya duga. Dan akibat perbuatan Sarita itu membuat hubungan pasangan suami istri yang baru saja menikah beberapa minggu itu merenggang karena salah paham.


Flashback Off


Belva melihat rekaman itu dengan menggunakan headphone yang tersambung pada perangkat komputer yang menayangkan rekaman video cctv di depan ruangan Satya dan di dalam ruangan Satya. Cctv yang Satya pasang juga terpasang penyadap suara sehingga rekaman video itu juga sinkron dengan suara yang terekam.


Selesai melihat rekaman itu Belva langsung mendongak menatap suaminya yang juga ikut memperhatikan rekaman video tersebut sembari berdiri di samping Belva. Dari rekaman yang ia lihat dan dengar dengan jelas bahwa suaminya memang tidak berselingkuh dan tidak mengkhianati dirinya melainkan karena wanita itu saja yang jelas-jelas memaksa suaminya.


Satya tersenyum menatap istrinya. "Sudah mengerti sekarang? Atau mau memutar ulang rekaman video itu?"


Belva menggeleng, ia melepaskan headphone yang terpasang di kepalanya. Ia berdiri dan memeluk suaminya kali ini ia merasa benar-benar bersalah karena masih terkadang masih saja berpikiran buruk pada suaminya mengingat apa yang telah terjadi. Satya membalas pelukan sang istri, pria itu benar-benar lega etika istrinya mengetahui dengan jelas kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu. Satya benar-benar mengutuk perbuatan Sarita yang sangat nekat berpotensi menghancurkan hubungan rumah tangganya bersama sang istri.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Nah Lunas juga ya kejadian yang sebenarnya terjadi di ruangan Satya. Untuk 2 pembantu yang ngeselin itu kita lihat nanti. Nikmati alurnya saja ya, pelan pelan tapi pasti.


Terimakasih banyak buat kalian semua yang masih setia support author ❤️🙏

__ADS_1


Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa 🙏🙏🙏


Semangat baru di tahun baru ya gaes 🤗🤗


__ADS_2