
Sepasang kekasih yang sudah mirip dengan sepasang suami-istri itu kini sudah duduk di kursi mereka masing-masing di dalam mobil. Hati Belva sangat bahagia saat ini, sedangkan Satya masih tampak gugup dan tegang.
Beberapa kali Satya mengatur napas nya. Mencoba menenangkan diri agar tak terasa gugup tapi tetap saja rasa gugup menyerang seorang Satya.
Pikiran pria itu melayang kemana-mana, memikirkan apakah kedua orang tua Belva mau menerima dirinya yang usianya terpaut jauh dengan Belva. Apakah orang tua Belva akan marah pada dirinya karena pernah membuat Belva dan Duo Kay merasa kesulitan dan sengsara.
"Mas, kamu terlihat tegang sekali."
Satya menoleh ke arah Belva yang ada disampingnya. "Tidak tahu ini sayang, mas kok rasanya deg-degan sekalinya mau bertemu dengan orang tua kamu."
Belva tersenyum lembut pada Satya, tangannya meraih tangan Satya yang terletak di perseneling mobilnya.
"Mas, tangan kamu dingin begini." Ucap Belva sembari tersenyum.
"Grogi yank." Satya berbalik menggenggam tangan Belva.
Kedua tangan itu saling bertautan, tak lama Satya memperlambat laju mobilnya sampai di tempat yang agak sepi mobil itu berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti ?" Tanya Belva penasaran.
"Yank, kasih semangat dong. Grogi nih." Ucap Satya.
Belva malah semakin bingung, ia tak tahu apa maksud dari Satya.
"Kamu mau minum ? aduh tadi tidak sempat bawa minum lagi. Kita mampir saja ke cari mini market saja mas."
"Peluk yank." Ucap Satya.
Belva mengerutkan keningnya, wanita itu belum konek dengan permintaan Satya. Tapi pria itu langsung menarik Belva untuk dipeluknya.
"Mas, butuh ini sekarang yank. Biar tidak terlalu gugup."
"Mas, tenang. Kita hanya makan malam biasa. Mama dan Papa tidak akan macam-macam, mas."
"Iya mas tahu, tapi nanti Mama dan Papa mu, mas takut mereka menolak mas, sayang. Mas pernah membuatmu dalam kesulitan."
"Mas, mereka tahu bagaimana masa lalu aku. Hanya saja mereka tidak tahu siapa ayah Kaili dan Kaila. Aku yakin mereka tidak akan marah atau mengusir mu. Mas tenang yaa." Belva berusaha mencoba menenangkan prianya yang kini tengah dilanda kegugupan luar biasa.
Satya mengurai pelukan mereka. Dia menatap Belva. "Kamu sudah bercerita pada mereka bagaimana masalahmu dulu ?" Satya memastikannya.
Belva mengangguk. "Mas tenang saja. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kasihan mereka sudah menunggu kita mas." Belva berbicara sembari menatap mata Satya dan wajah Satya yang selalu tampan.
Sedikit kelegaan bagi Satya, setidaknya tidak akan ada adegan pengusiran ataupun bersitegang akibat Belva yang hamil tanpa adanya keberadaan dirinya disisi Belva.
Cup...
Kecupan singkat yang selalu Satya sempatkan dengan ******* kecil kala mencuri ciuman Belva.
"Mas..." Pekik Belva menepuk dada Satya.
"Maaf sayang, itu termasuk suntikan semangat buat mas."
Satya tersenyum jahil pada Belva, wanita itu sedikit cemberut karena takut lipstick nya luntur atau belepotan. Pria itu melanjutkan mengemudikan mobilnya. Meski masih ada rasa gugup dalam dirinya tapi tidak sebesar sebelumnya.
"Istri mas masih cantik tidak usah sering-sering berkaca sayang."
"Siapa ? Aku ? Aku memang selalu cantik."
"Ya iyalah kamu siapa lagi memang ? Istriku cuma kamu sayang. Nyonya Belva Balakosa."
Belva sedikit menahan senyumnya, dirinya disebut Satya sebagai Nyonya Belva Balakosa. "Gara-gara kamu lipstick aku luntur."
"Makanya beli lipstick itu yang mahal sekalian yank jadi kalau mas cium tidak luntur kemana-mana." Ucap Satya dengan enteng dan santai.
Belva semakin kesal dengan ucapan Satya yang enteng sekali tidak ada rasa bersalah sama sekali.
"Pelan-pelan bawa mobilnya."
"Kenapa ? Kita kan buru-buru yank."
"Benerin lipstick lah, gara-gara ulah kamu berantakan."
"Maaf yank, jangan marah-marah, ini gugupnya mas belum hilang loh jangan ditambah kamu marah sama mas. Maaf, besok mas belikan lipstick anti luntur, ada kan ?"
Belva tak menjawab, ia mengabaikan ucapan Satya dan lebih sibuk mengurus bibirnya dengan lisptick miliknya. Warna yang tidak terlalu terang, nude warna pilihan Belva agar tidak terlihat berlebihan justru terlihat kalem dan anggun.
Beberapa menit perjalanan, mobil sudah melaju sangat jauh dari tempat mereka parkir di pinggir jalan.
"Yank, jangan marah dong." Ucap Satya yang sedari tadi Belva hanya diam saja.
"Siapa yang marah. Aku tidak marah mas."
"Tapi kamu diam saja dari tadi."
"Capek bicara terus mas. Kamu sudah tidak gugup lagi kan ?"
"Masih sedikit yank. Ini masih jauh jalan nya ?" Tanya Satya.
Pria itu memang tidak tahu alamat rumah Tuan Hector. Selama ini meski bekerjasama dengan perusahaan Hector Group. Satya tak mengulik kehidupan pribadi pria tua itu. Dia hanya memilih mengulik perihal perusahaan Hector Group saja.
"Tidak, belok kanan nanti ada tulisan Goldland Residence masuk saja."
Satya langsung menatap wanitanya sekilas lalu kembali menatap jalanan. Dia cukup terkejut saat Belva mengatakan nama sebuah perumahan elit itu. Dia memang paham jika arah jalam yang dilaluinya ini memang jalan kawasan perumahan elit. Tapi tak menyangka jika orang tua angkat Belva berada di perumahan elit sekelas Goldland Residence.
Mobil mulai memasuki area perumahan elit yang setiap rumahnya memiliki halaman yang cukup luas-luas sehingga tidak berdempetan seperti perumahan pada umumnya.
"Rumah cat putih sebelah kanan mas, yang itu." Tunjuk Belva pada Satya dan pria itu mengangguk.
Mereka sampai di depan rumah Tuan Hector. Satpam rumah berdiri mendekati gerbang. Merasa asing dengan mobil itu maka pria berseragam hitam itu tak langsung membukakan gerbang.
Kaca mobil Satya terbuka, pria berseragam itu memperhatikan Satya. Serasa tidak asing dengan pria itu tapi tetap sesuai prosedur pekerjaannya pria itu tetap bertanya kepentingan Satya datang ke rumah Tuannya.
"Selamat malam permisi Tuan, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya satpam.
Belva langsung memperlihatkan wajahnya di samping Satya.
"Pak, minta tolong buka gerbangnya ya." Ucap Belva.
"Nona, ternyata anda. Maaf Nona saya tidak tahu. Baik tunggu sebentar." Ucap Satpam tersebut dengan nada sedikit tidak enak.
Belva hanya tersenyum saja menanggapi ucapan satpamnya. Mobil Satya memasuki pintu gerbang yang tinggi dan besar itu. Satya paham jika memang seperti itulah bertamu di rumah orang yang bukan orang sembarangan.
__ADS_1
"Maaf ya mas pak satpam nya tidak langsung membukakan pintu gerbang tadi."
"Tidak masalah, mas mengerti. Tapi jujur mas tidak menyangka jika rumah orang tua mu di daerah sini."
"Memangnya kenapa ?" Tanya Belva.
"Tidak apa-apa, hanya tidak menyangka saja yank."
"Tidak menyangka jika orang tua angkat ku sangat berbeda jauh dari diriku yang hanya pembantu begitu ?" Belva memastikan.
"Sayang, bukan seperti itu maksud mas. Hanya saja mas tak pernah terpikirkan jika rumah orang tua mu berada di satu area dengan rekan-rekan kerja mas di kantor sayang."
"Benarkah ?" Selidik Belva.
"Iya... Kamu ingat teman mu yang pernikahan nya kamu hadiri itu ? Rumah orang tuanya berada di kawasan perumahan ini sayang. Tuan Maxim rekan kerja mas juga."
"Tuan Maxim ?" Gumam Belva dan Satya mengangguk.
"Tuan Maxim kalau tidak salah juga rekan kerjanya Papa kan ?" Batin Belva.
"Sudah yuk kita masuk, pasti mereka sudah menunggu." Ajak Belva. Ia turun dari mobil dan di susul oleh Satya.
"Sebentar sayang, penampilan mas sudah rapi kan ?" Tanya Satya mendadak rasa percaya dirinya berkurang.
"Astaga, kamu sudah kaya anak gadis saja mas. Kamu sudah ganteng. Sudah ah ayo masuk." Belva menarik lengan Satya agar pria itu cepat masuk ke dalam rumah.
Beberapa pelayan sudah menyambut kedatangan Belva dan Satya di depan pintu rumah. Hal tersebut selalu dilakukan saat Tuan Hector berada di rumah dan sedang mengadakan pertemuan makan malam dengan rekan bisnis atau keluarga nya.
"Selamat datang Nona, mari silahkan masuk. Tuan dan Nyonya serta tuan dan nona kecil sudah menunggu."
"Terimakasih mbak." Ucap Belva tersenyum ramah pada pelayan yang ada di rumah Tuan Hector.
Pelayan tersebut juga membalas senyuman Belva. Mereka memang merasa senang dengan Belva yang selalu menghargai keberadaan mereka tanpa memandang rendah mereka.
Belva mengajak Satya berjalan menuju ruang keluarga. Dalam langkah kakinya Satya memperhatikan rumah keluarga Belva. Selama dari depan tadi tidak tampak foto yang tergantung di dinding. Satya penasaran dengan siapa pemilik rumah ini.
"Mamiii... Daddy..." Panggil Kaila dengan suara yang keras dan riang.
Gadis kecil itu lebih dulu melihat kedatangan orang tuanya. Ia berlari menuju Belva dan Satya. Kedua orang dewasa itu berhenti menunggu gadis kecil itu sampai pada mereka.
"Sayang, ila nya Daddy. Mana kakak mu sayang ?" Tanya Satya yang langsung menggendong Kaila.
Gadis kecil itu selalu merasa senang dan nyaman dalam gendongan Satya. Tangan kecilnya melingkar pada leher Satya.
Seorang wanita paruh baya datang dari belakang Kaila tadi. Ia menatap penasaran pada pria yang saat ini menggendong Kaila.
"Apakah itu Daddy nya cucu-cucu ku ?" Batin Nyonya Hector dalam hati.
"Kaili sedang di ruang kerja Opa bersama Opa." Jawab Kaila.
"Sayang, kamu sudah datang ?" Sapa Nyonya Hector.
Belva dan Satya menoleh ke arah sumber suara.
"Mama..." Belva berjalan mendekati Nyonya Hector. Memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Mamanya.
Satya memperhatikan Belva dan wanita paruh baya yang dipanggil Mama oleh wanitanya itu.
"Sayang ?" Tanya Nyonya Hector pada Belva dengan arah pandang kepada Satya.
Belva tersenyum. "Ma, perkenalkan ini Daddy nya anak-anak. Mas Satya."
"Mas, perkenalkan ini Mama ku, Oma nya anak-anak."
Belva memperkenalkan keduanya. Satya kembali menganggukkan kepalanya. Tangannya terulur untuk bersalaman dengan Nyonya Hector. Tapi uluran tangan itu tak segera disambut oleh Nyonya Hector, wanita itu masih terus memperhatikan Satya secara cermat.
Satya merasa canggung dan gugup kembali menyerang. Belva pun sama ia merasa sedikit cemas saat Mamanya tak menyambut uluran tangan calon suaminya.
"Ma, Mama baik-baik saja ?" Tanya Belva.
"Ah iya sayang Mama baik-baik saja." Jawab Nyonya Hector yang baru sadar dari tatapan penuh perhatian pada Daddy dari cucu-cucunya.
"Ma, itu mas Satya." Ucap Belva yang melihat tangan Satya masih setia terulur pada Mamanya.
"Ah... Maaf. Saya Zeta, Mamanya Vanthe."
"Saya Satya, Nyonya."
Suara yang terbiasa terdengar dingin dan datar itu kini tak terdengar seperti itu lagi. Gugup menyerang, takut dan cemas dirinya tak diterima oleh keluarga Belva.
Permasalahan ini berbeda dengan dirinya yang berjuang memperebutkan tender besar. Satya terlalu takut jika gagal mendapatkan pujaan hatinya.
"Ayo sayang, Papa mu sudah menunggu sedari tadi. Kenapa lama sekali sampai disini ?" Tanya Nyonya Hector yang sudah berjalan di depan Belva dan Satya.
"Emm... Tadi macet Ma." Jawab Belva.
Nyatanya sedikit keterlambatan mereka diakibatkan Satya yang terlalu ribet dengan persiapannya yang tak seberapa dan perasaan nya yang tiba-tiba serumit itu hanya untuk bertemu orang tua Belva.
Satya menggenggam tangan Belva dengan erat. Biasanya jika seorang lelaki yang akan menenangkan wanitanya saat bertemu calon mertua. Tapi kini berbalik Belva yang harus menenangkan Satya. Ia paham bagaimana perasaan Satya saat ini. Sikap Mama nya yang tak seramah biasanya pada orang lain sejujurnya juga turut membuatnya cemas.
Belva berbalik menggenggam tangan Satya dengan erat dan menatap pria nya dengan lembut. Memberikan senyuman lembut pada Satya. Setidaknya Satya merasa lebih tenang kala melihat wajah Belva yang teduh.
"Kalian tunggu disini dulu. Mama panggil Papa mu sama anakmu dulu. Cucu lelaki ku itu jika sudah bersama Papa mu mana mau sama Mama."
"Dia terlalu merindukan Opa nya itu Ma."
"Itu karena kamu tidak mau mengunjungi kami selama memutuskan menetap disini." Ujar Nyonya Hector.
Wanita paruh baya itu meninggal Belva dan Satya di ruang keluarga. Belva mengajak Satya duduk di sofa. Kaila turun dari gendongan Daddy nya dan memilih berlari entah kemana.
"Sayang ila mau kemana nak ?" Tanya Satya tapi tak dijawab oleh Kaila.
"Biarkan saja mas, mereka sudah terbiasa dengan rumah ini."
"Yank, mas jadi semakin gugup. Belum juga bertemu Papa kamu. Mama kamu seperti kurang menyukaiku."
Belva menghembuskan napas dengan tipis. Ia menggenggam tangan Satya yang kembali terasa dingin. Ia merasakan hal yang sama.
"Papa dan Mama sebenarnya orang yang baik. Mungkin karena kalian belum saling mengenal saja. Jangan menyerah sayang."
"Yank...?" Satya merasa sedikit terkejut dan bahagia secara mendadak. Dia mendengar Belva memanggil nya dengan sebutan sayang. Seolah menjadi tambahan suntikan semangat untuk nya.
__ADS_1
Belva tersenyum melihat ekspresi Satya yang sedikit berubah menjadi lebih cerah dari wajah yang sedikit meredup akibat kegugupan dan kecemasan seorang Satya.
Menunggu sedikit lama, akhirnya pasangan paruh baya dan seorang bocah kecil berjalan menghampiri dua orang yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Pa, pria itu Daddy nya Kaili dan Kaila. Mama tidak asing dengan wajah pria itu." Ujar Nyonya Hector sedikit berbisik pada suaminya.
"Benarkah ? Pantas saja tadi cucuku bercerita mengenai Daddy mereka. Kenapa tiba-tiba Vanthe membawanya kemari."
"Mama juga tidak tahu Pa. Coba kita temui saja dulu. Nanti kita bicarakan bersama saja."
Berjalan dari arah belakang, hingga jarak yang sudah dekat Kaili yang tengah di gandeng oleh Tuan Hector memanggil kedua orang tuanya.
"Mamii... Daddy..."
Satya dan Belva menolah ke belakang.
"Sayang." Panggil Belva dengan wajah tersenyum.
Berbeda dengan Satya yang sedikit membulatkan matanya. Reflek Satya langsung berdiri dari duduknya.
"Tuan... Anda disini ?" Ucap Satya mengangguk memberikan salam hormat pada Tuan Hector.
"Tuan Satya, anda ?" Tuan Hector tampak sedikit bingung.
Bukankah pria yang ditunjukkan istrinya itu adalah Daddy dari cucu-cucunya. Tapi kenapa pria itu adalah Satya rekan kerjanya.
Terjadi, kebingungan di ruangan tersebut. Belva dan Nyonya Hector yang bingung ternyata mereka saling mengenal. Satya yang bingung kenapa rekan kerjanya ada disini dengan menggandeng putranya. Tuan Hector yang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Papa..." Belva memecah keheningan yang sejenak terjadi.
"Sayang, kamu datang bersama siapa ?" Tanya Tuan Hector yang ingin memastikan.
Satya langsung menoleh pada Belva yang memanggil rekan kerjanya dengan sebutan Papa.
"Papa ? Apa jangan-jangan Tuan Hector Papa dari calon istri ku ?" Batin Satya.
Belva mendekat ke arah Tuan Hector menyalami pria paruh baya itu dengan mencium punggung tangan Papanya.
"Pa, Papa sudah mengenal mas Satya ?" Tanya Belva.
"Kita duduk dulu." Ucap Tuan Hector.
"Silahkan duduk Tuan Satya." Imbuh Tuan Hector.
"Ah... Terima kasih Tuan." Jawab Satya.
Mereka semua duduk di sofa ruang keluarga. Diam sejenak menata pikiran mereka masing-masing.
"Sayang, boleh Oma, Opa dan Mama berbicara sebentar ? Ini pembicaraan orang dewasa sayang." Ujar Nyonya Hector.
"Boleh Oma, Kaili tidak boleh dengar kan ? Kaili mau cari Kaila dulu kalau begitu." Ucap Kaili.
Pria kecil itu adalah cucu Tuan Hector yang pintar. Tuan Hector mengacungkan jempolnya ke arah Kaili. Satya memperhatikan sepasang paruh baya yang berinteraksi dengan putranya. Terlihat sebuah interaksi yang memang sangat dekat, tak perlu adanya pemaksaan dalam kalimat yang mengisyaratkan sebuah permintaan.
Kaili pergi dari ruang keluarga tersebut, kini hanya ada empat orang dewasa yang duduk disana. Sepertinya pembicaraan serius akan segera dimulai dan makan malam akan kembali diundur jam nya.
"Sayang, boleh jelaskan kepada kami yang sebenarnya terjadi ?" Tuan Hector mulai pembicaraan serius mereka. Menatap Belva dengan wajah dan tatapan serius.
"Pa, maaf. Papa sudah mengenal mas Satya ?" Tanya Belva kembali.
Tuan Hector mengangguk. "Ya... Tuan Satya adalah rekan kerja Papa. Jelaskan pada Papa dan Mama, Vanthe."
"Vanthe, akan jelaskan pada kalian Pa, Ma..."
Satya dan Nyonya Hector masih diam mendengarkan. Mereka akan bersuara ketika nanti waktunya mereka berbicara.
"Mas Satya adalah Daddy dari anak-anak Vanthe Pa, Ma. Jika kalian masih ingat saat aku bercerita dulu apa yang sebenarnya terjadi padaku beberapa tahun yang lalu."
"Jadi, pria yang kamu maksud waktu itu adalah Tuan Satya. Dia majikan mu dulu sayang ?" Tanya Nyonya Hector.
"Iya Ma..." Belva tertunduk. Tiba-tiba teringat kembali masa-masa dimana dirinya di temukan oleh Tuan Hector dalam keadaan yang mengenaskan dan miris.
Nyonya Hector memperhatikan Satya. Tuan Hector menghela napas, dia masih belum percaya jika Satya lah pria yang dimaksud Belva saat itu.
Melihat Belva yang tertunduk, Satya tahu pasti wanitanya sedih kembali mengenang masa lalu yang pahit itu. Meski ketika membicarakan masa lalu itu wanitanya selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja tapi Satya paham akan perasaan Belva.
Diusapnya punggung Belva dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Jangan sedih sayang." Bisik Satya pada Belva.
Belva mengangguk menatap Satya. Interaksi keduanya diperhatikan oleh Tuan dan Nyonya Hector. Terlihat keduanya saling mengasihi, terlebih perlakuan Satya yang lembut pada Belva.
"Tuan... Nyonya... Saya meminta maaf sebelumnya. Bukan maksud saya ingin membela diri dan lari dari tanggung jawab. Saya tidak bermaksud membiarkan Belva dalam keadaan yang sulit seperti itu. Jujur saya tidak tahu jika Belva telah mengandung anak saya saat itu bahkan saya tidak menyadari jika hal itu terjadi pada kami. Saya mohon maaf dan saya siap mempertanggung jawabkan apa yang telah terjadi, Tuan." Ucap Satya panjang dengan sedikit menjelaskan. Dari setiap kalimat yang dilontarkan selalu dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
Tuan Hector masih terus memperhatikan Satya sejak awal. Dia paham karakter seorang Satya. Pria yang terkenal tegas dan dingin, banyak beredar kabar jika Satya tipe orang yang tak pernah main-main dalam segala hal. Terbukti jika pria itu selalu serius dalam bekerja dan mengejar targetnya.
"Jujur saja... Saya memang sedikit terkejut dengan semua ini. Tapi putri ku sudah bercerita lebih dulu apa yang telah dialaminya saat itu. Tapi, satu yang ingin saya tanyakan pada mu, Tuan Satya."
"Putri ku menderita karena ulah istri dan putri mu. Dengan cara apa anda bertanggung jawab pada putri ku." Ucap Tuan Hector.
"Saya akan menikah putri anda Tuan." Jawab Satya dengan tegas, berani dan yakin.
"Menikahi putri ku dan menjadikannya yang kedua ? Apa anda pikir saya akan mengijinkannya ?"
Belva hendak membuka suaranya tapi Satya menahannya dengan menggenggam erat tangan Belva dan menggeleng lirih pada wanita itu.
"Tentu saya tidak akan menjadikannya yang kedua Tuan. Belva akan menjadi istri saya satu-satunya. Saya sudah bercerai dengan mantan istri saya dan itu bukan karena masalah saya dengan Belva melainkan ada permasalahan lain yang terjadi diantara saya dengan mantan istri saya."
Sejak Belva menjelaskan pada Tuan Hector, melihat wajah sedih Belva semakin meyakinkan Satya untuk terus melangkah. Keberaniannya yang selalu ada ketika menghadap segala situasi kembali bangkit. Rasa gugup, grogi dan cemas yang sempat menyerangnya sudah lenyap dan menguap entah kemana.
"Kamu yakin tidak akan menjadikan putri ku yang kedua ? Saya tidak pernah mengijinkan siapapun untuk menyakiti putri ku." Ucap Tuan Hector dengan nada tegas. Meski pria itu telah berusia lanjut tapi nada ketegasan dan wibawanya masih sangat jelas.
Tuan Hector tentu saja tahu jika selama ini Belva dekat dengan Satya karena sejak Roichi tak menetap di Indonesia, pria paruh baya itu terus memantau keadaan putrinya. Tanpa sepengetahuan Belva dan tak terlalu mencolok. Sangat paham bagaimana sikap dan sifat putri angkatnya yang tidak ingin ribet.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih selalu setiap hari gak pernah author lupa buat ngucapin terima kasih karena kalian sudah setia buat support author ❤️❤️
Like nya kalian, komen nya kalian yang selalu bilang semangat Thor, up lagi Thor. Kembang setaman yang kalian kasih bahkan yang paling wow adalah Vote dari kalian benar-benar buat author SEMANGAT 💪💪. Terimakasih banyak semoga kalian sehat selalu ☺️🙏
__ADS_1