
Entah bagaimana caranya Sonia bisa bebas dari sekapan Faris. Yang jelas wanita itu bisa sampai di kantor Satya dengan penampilan seperti biasanya hanya untuk pergi ke kantor Satya.
Harapannya untuk meminta kembali pada Satya ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Sonia tak memikirkan bagaimana kesalahan fatalnya pada Satya. Dirinya hanya berpikiran bagaimana caranya bisa kembali pada Satya.
Harapan untuk bersama Faris kandas dan hilang dari pikirannya saat mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari kekasihnya itu.
"Brengsek... Satya menolak ku secara mentah-mentah. Bahkan dia mempermalukan ku di hadapan karyawannya." Gumam Sonia kesal dalam hatinya.
Karma apa yang dilakukannya dulu pada Belva kini dapat dirasakannya. Dulu dirinya mempermalukan Belva seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan ibu dari Duo Kay itu.
Sonia kini berjalan menyusuri jalanan dekat dengan kantor Satya. Sedari tadi tak juga kunjung mendapatkan taksi. Angkutan umum yang lain memang masih ada tapi Sonia yang memiliki sikap sombong itu rasanya tak mungkin menaiki angkutan umum yang pasti akan berdesak-desakan dengan penumpang lain.
Satya dan Jordi kini telah berada di dalam mobil setelah mengurus Sonia si wanita gila yang memang sudah hilang syaraf kewarasannya itu.
"Kita akan kemana Tuan ?" Tanya Jordi.
"Butik." Jawab Satya singkat. Jordi sudah tahu butik mana yang akan dituju oleh Satya.
"Tapi kita ada pertemuan dengan Tuan Maxim nanti setelah makan siang."
"Atur ulang jadwal, kepala saya pusing. Atau kamu wakilkan saja."
Jordi menghela napasnya, dia tahu saat ini Satya sedang dalam suasana hati yang buruk. Daripada membuat pria itu naik darah lebih baik Jordi mengikuti saja perintah Tuannya itu.
Mobil mereka melintas di depan Sonia yang tengah mencari taksi. "Mobil Satya, mau kemana dia." Gumam Sonia.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, taksi dibelakang mobil Satya melintas. Buru-buru Sonia menyetop taksi tersebut dan segera menaikinya.
"Pak, ikuti mobil di depan cepat." Perintah Sonia.
"Baik Nyonya."
Namanya rejeki pasti tidak akan menolak. Supir taksi itu mengikuti perintah Sonia untuk membuntuti Satya.
Sonia seakan tahu kemana arah jalan yang dilalui oleh mobil Satya. "Ini kan arah jalan ke butik pembantu itu." Batin Sonia.
Benar saja mobil Satya berhenti di Evankay boutique. Tapi pria itu hanya turun sendiri, setelah menurunkan Satya mobil itu berlalu meninggalkan butik.
"Pasti dia mau bertemu dengan si pembantu sialan itu." Gumam Sonia yang taksinya berhenti tak jauh dari butik Belva.
"Nyonya, kita mau lanjut kemana ini ?" Tanya sopir taksi.
"Saya turun disini saja, ini uangnya." Sonia memberikan uang satu lembar berwarna biru.
"Ini masih kurang Nyonya. Argonya Delapan puluh lima ribu."
"Saya cuma punya uang segini, kalau tidak mau kembalikan saja." Ucap Sonia dengan berani. Memang wanita itu tak pernah takut dengan siapapun terlebih dengan orang-orang yang dirasa rakyat biasa.
"Enak saja. Uang yang Nyonya beri saja masih kurang mau diambil lagi. Kalau tidak punya uang tidak usah naik taksi. Pakai saja angkutan umum yang lain paling juga cuma bayar dua puluh ribu."
Jelas saja supir taksi itu mengomel karena merasa dirugikan oleh Sonia. Sedangkan mantan istri Satya itu justru merasa kesal dengan ucapan supir taksi tersebut.
"Heh, saya bukannya tak punya uang karena dompet saya tertinggal saja. Kalau saya mau mobil kamu ini bisa saya beli sekalin itu sama mulut kamu." Ujar Sonia dengan sombongnya.
"Halah orang kere saja sombong. Sudah lebih baik kamu keluar dari mobil ini. Hangan dibiasakan bergaya melebihi kantong." Ujar sopir yang mendelik pada Sonia. Yang awal mulanya ramah kini berubah menampakkan raut wajah masam dan garang.
Sonia segera turun dari taksi dengan perasaan kesal. Susah dipermalukan di kantor Satya kini ditambah supir taksi itu juga turut mempermalukan dirinya. Belum lagi melihat Satya yang sekarang ini mengunjungi Belva.
Kedatangan Satya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Duo Kay. Belva terlihat cuek dengan kedatangan ayah dari anak-anaknya itu. Ia lebih mementingkan pekerjaannya dariapda meyambut kedatangan Satya.
"Daddyyy... !!!" Teriak Duo Kay dengan girang.
Satya langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan kedua anak-anaknya. Tak merasa berat langsung saja dua bocah itu masuk ke dalam gendongan Satya.
"Kalian sudah malam siang sayang ?" Tanya Satya pada Duo Kay.
"No... Belum Daddy. Mami masih bekerja nanti tunggu Mami dulu." Ujar Kaili.
"Mam, susah waktunya makan siang. Apa Mami tidak kasihan dengan Kay ?"
__ADS_1
Tanpa berbicara Belva meletakkan pensil nya di atas kertas sketsa miliknya. "Bukan tidak kasihan, aku hanya menyelesaikan sedikit pekerjaan ku yang tidak sampai limat menit."
"Sekarang sudah selesai ?" Tanya Satya.
"Sudah." Jawab Belva singkat.
"Kita makan siang di luar bagaimana ?" Tanya Satya pada Duo Kay dan Belva.
"Ayo Daddy... Yeeaayy... Kita makan... Makaaann.. Nanti beli es krim ya ?" Tanya Kaila.
"Boleh, tapi ijin sama Mami dulu. Daddy takut nanti Mami marah sama Daddy karena memberikan kalian es krim." Ucap Satya melirik ke arah Belva.
"Kenapa harus melirik ku seperti itu." Ucap Belva dengan datar.
"Makan nasi baru boleh makan es krim sayang." Ucap Belva dengan lembut pada Duo Kay.
Duo Kay mengangguk paham, keempat orang itu hendak pergi bahkan bekva sudah siap dengan tas nya. Belva membukakan pintu untuk Satya dan Duo Kay.
Bugh... !!! Brak... !!!
Belva terpental pada tembol dan pintu terbuka membentur tembok hingga menimbulkan bunyi.
"Mami..." Teriak Duo Kay dan Satya bersamaan.
"Auuww..." Rintih Belva bahunya membentur tembok.
"Heh... Dasar perempuan kampung !! Benar-benar perempuan penggoda. Hebat kamu ya... Jadi ini maksud mu menampakkan diri untuk menggoda Satya agar bisa kamu miliki huh ?!!"
Sonia tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam butik Belva dan berjalan ke lantai dua yang Sonia pikir pasti di lantai dua adalah ruangan milik Belva. Benar saja sebelum mengetuk pintu Belva sudah membuka pintu terlebih dahulu.
Wanita itu mendorong dan memaki Belva tanpa rasa bersalah. Membuat ibu muda itu mengalami sedikit cidera pada bahunya akibat dorongan Sonia.
Plak...!!
Satu tamparan keras dari Sonia mengenai pipi putih mulus Belva. Terkejut Belva saat mendapatkan perilaku kasar itu lagi dari Sonia.
Duo Kay jelas merasa ketakutan saat Mami nya diperlakukan secara kasar oleh orang yang tak mereka kenal. Dua bocah itu menangis kencang memanggil Maminya.
Belva memegang pipinya yang terasa panas dan perih itu. Tatapan matanya tajam pada Sonia. Ingin rasanya membalas apa yang Sonia lakukan padanya. Tapi melihat kedua anaknya masih berada bersamanya, mereka melihat dirinya diperlakukan secara kasar dan menangis ketakutan membuat Belva lebih mementingkan perasaan dan keadaan Duo Kay.
Bahkan bentakan Satya membuat Duo Kay semakin terkejut dan menangis ketakutan lebih lagi. Kehadiran Sonia adalah bahaya bagi Duo Kay. Belva segera meriah Kaila ke dalam gendongannya dan Kaila digandengnya dengan erat menjauh dari Sonia.
Satya tahu saat ini kedua anaknya sedang ketakutan dan juga Belva pasti tak baik-baik saja.
"Apa yang kamu lakukan Sonia !!" Ujar Satya dengan wajah penuh amarah.
"Kenapa ? Kamu membela wanita murahan ini huh ?!!"
"Tutup mulut mu Sonia !! Kamu tak berkaca ? Dirimu lah sesungguhnya wanita murahan yang dengan sadar memberikan tubuhmu pada pria-y di luar sana." Ucap Satya dengan menekan nada suaranya agar tak terdengar oelh Duo Kay.
Dengan cepat Satya menyeret Sonia keluar ruangan Belva serta menutup pintu itu dan menguncinya dari luar agar Sonia tak bisa masuk ke dalam dan berbuat macam-macam pada Belva dan juga kedua anaknya.
Plak... !!!
Satya tak segan menampar Sonia saat pintu sudah tertutup. Sonia terkejut dengan tamparan yang terasa panas di pipinya itu.
Tak hanya menampar Satya juga mencengkram kedua pipi Sonia. Di dorongnya tubuh Sonia hingga membentur dinding.
"Dengar Sonia... Saya peringatkan untuk kedua kalinya. Jangan pernah mendekati ku dan begitu juga orang-orang ku. Atau saya akan menjamin nyawamu akan melayang di tanganku sendiri."
Kalimat Satya terdengar begitu menyeramkan bagi Sonia saat ini. Terlalu serius dengan tatapan mata yang menusuk.
"Jangan pernah sembarangan berbicara di depan anak saya. Dan jangan merendahkan Belva. Bukankah ini mau putri mu agar saya bisa tidur bersama Belva, hemm..."
"Apa kamu tak tahu malu ? Mengatakan orang lain murahan tapi diri mu sendiri lah yang lebih murahan. Belva tidur dengan saya dan kami memiliki anak bersama sedangkan kamu ? Tidur bersama ku tapi memiliki anak dari pria lain. Gunakan otak bodoh mu itu Sonia."
Sonia tak bisa berbicara karena mulutnya dibungkam oleh cengkraman tangan Satya. Lagi-lagi Satya tanpa filter berucap pada Sonia. Tidak ada kelembutan atauengalah lagi untuk Sonia saat ini. Bagi Satya wanita itu sudah menjadi musuhnya yang tak perlu menunjukkan kebaikan lagi. Satya tahu Sonia wanita yang seperti apa.
Cengkraman itu dilepaskan secara kasar oleh Sonia. Pekikan kesakitan terdengar saat wajah Sonia berpaling dari cengkraman yang dilepas secara kasar.
__ADS_1
"Pergi dari sini." Ucap Satya dingin.
Lagi-lagi Sonia lebih memilih mengamankan diri untuk saat ini dari hadapan Satya. Jika dirinya keras kepala bisa dipastikan bahwa nyawanya akan melayang sekarang juga sebelum apa yang diinginkannya bisa ia dapatkan.
Satya masuk ke membuka pintu ruangan Belva. Dia melihat anaknya masih menangis dengan di tenangkan oleh Belva. Dia juga bisa melihat bahwa pipi mulus Belva memerah akibat tamparan Sonia.
"Sayang, kalian tidak apa-apa ?" Satya mendekati ketiga orang yang disayanginya itu. Dia duduk berjongkok di depan Duo Kay dan Belva.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Mami tidak apa-apa. Kalian jangan takut." Ucap Belva menenangkan dengan kalimat itu berkali-kali agar Duo Kay tak lagi ketakutan dan menangis.
Satya merasa kasihan dan bersalah pada Belva karena tak bisa melindungi wanitanya itu dari Sonia si wanita gila. Satya meraih ketiga orang tercintanya itu untuk di dekap dalam pelukannya.
"Jangan menangis sayang, tidak apa-apa. Ada Daddy yang akan menjaga kalian. Dari sudah usir orang jahat itu." Ucap Satya.
Belva terdiam, tangannya masih sibuk mengusap lembut punggung kedua anaknya. Sebenarnya dalam hati ia merasa khawatir akan kedatangan Sonia kembali. Anak-anak nya adalah yang utama saat ini. Tak masalah jika dirinya yang terluka asal Sonia tak melukai Duo Kay.
"Jangan menangis." Ucap Satya kembali dengan mengecup Duo Kay bergantian dan mengurai pelukannya. Dia beralih duduk di sofa bersama Belva dan mengambil alih Kaili agar duduk di pangkuannya.
"Mami, tidak apa-apa ?" Tanya Satya menarik kepala Belva dengan lembut di dadanya.
Belva menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
Dikecup kepala Belva oleh Satya, menyalurkan rasa sayang dan mencoba menenangkan Belva. Dia mengerti bagaimana perasaan Belva saat ini.
"Kita pulang saja ?" Tawar Satya pada Belva.
"Pekerjaan ku ? Masih banyak pekerjaan ku." Ujar Belva yang merasa masih memiliki tanggung jawab.
"Kerjakan saja di rumah. Kita bawa dulu anak-anak ke rumah agar mereka lebih tenang."
Benar apa yang Satya katakan, Duo Kay lebih penting saat ini. Melindungi mental mereka jauh lebih penting. Belva setuju dan mengangguk. Akhirnya mereka pulang setelah menunggu tiga puluh menit Satya menghubungi Pak Jajak untuk menjemput mereka.
Satya membawa Belva dan Duo Kay tidak pulang ke rumah minimalis Belva. Pria itu membawa ketiga orang tercintanya pulang kembali ke apartemen.
"Kita pulang kesini saja. Di rumahmu akan berbahaya untuk kalian dan juga ibu dan Bella." Ucap Satya.
Belva pikir memang benar, ia juga tak ingin Budhe Rohimah dan Bella juga turut menjadi korban kejahatan Sonia. Belva paham orang seperti Sonia memiliki karakter yang tak mudah menyerah. Buktinya sudah bertahun-tahun wanita itu tak juga melepaskan Belva.
Pak Jajak kembali saat sudah sampai mengantar majikannya. Keempat orang itu sudah masuk ke dalam apartemen. Duo Kay dibawa masuk ke dalam kamar mereka. Anak-anak itu sudah tertidur karena lelah menangis dan takut. Ibu dan ayah itu membaringkan anak-anak mereka di ranjang besar itu.
"Kamu benar tidak apa-apa ?" Tanya Satya menghadap Belva.
"Aku tidak apa-apa, tidak usah khawatir." Jawab Belva.
Satya menyentuh pipi mulus Belva. "Apa masih sakit ?"
"Sedikit."
Satya merasa sedih, dipeluknya Belva dengan erat dan beberapa kali mencium puncak kepala Belva.
"Maafkan saya, kamu jadi seperti ini."
"Om... Bukan salahmu. Kenapa harus minta maaf. Aku tidak apa-apa, asalkan Nyonya Sonia tidak melukai Kaili dan Kaila itu sudah sangat bagus."
"Bilang apa kamu, saya tidak akan membiarkan Sonia melukai kalian." Ucap Satya dengan lembut. Janjinya dalam hati adalah berusaha keras melindungi Belva dan Duo Kay.
"Kita kompres dulu pipi mu ya."
"Iya nanti aku kompres sendiri. Sekarang lepaskan pelukanmu. Aku merasa kesulitan bernapas." Ucap Belva.
"Maaf..." Satya masih mengusap lembut pipi Belva.
"Ayo kita keluar, biarkan anak-anak istirahat." Ajak Satya menggenggam telapak tangan Belva dan mengajak wanita itu keluar.
Satya benar-benar tak menyangka Sonia akan senekat itu. Pantas saja Belva merasa ketakutan dan khawatir saat Duo Kay berada di dekatnya. Perilaku Sonia memang sangat kasar dan sudah pasti tidak memiliki pikiran jernih lagi. Urat kewarasan wanita itu sudah putus rupanya.
****
To Be Continue...
__ADS_1
Hallo my dear para readers ku, memang alurnya agak lambat ya harap bersabar. 🙏🙏
Part ini sebagai ganti karena kemarin tidak sempat update buat kalian. Terima kasih buat kalian masih setia support. Terima kasih buat doa kalian untuk ku. Love you my readers. Doa baik kembali pada kalian. Amiinn 😇