Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 150. Semi Mudik


__ADS_3

Setelah perayaan ulang tahun tersebut acar masih terus berlanjut mereka makan bersama dengan makanan yang dipesan dari catering ternama, terkenal dengan rasa masakannya yabg lezat.


Satya dan Belva berbaur bergabung dengan para pengurus panti mereka mengobrol beberapa hal yang mengenai kondisi panti dan anak-anak panti. Rasa penasaran Belva pun muncul mengenai keberadaan Yossy yang berada di panti tersebut.


"Bunda, ada yang mau Belva tanyakan mengenai anak panti ini."


"Iya, ada apa Nak?" Tanya ibu pengurus panti.


Brak!!!


Baru saja Belva hendak membuka suaranya untuk bertanya pada ibu pengurus panti, terdengar suara benda jatuh dari arah belakang. Salah satu anak panti terjatuh bersamaan dengan kursi yang jatuh. Para pengurus panti yabg sedang berkumpul pun merasa terkejut. Semua berdiri dan beberapa menghampiri anak tersebut.


"Astaga kenapa bisa begini?" Tanya salah satu pengurus panti.


Belva dan Satya pun turut berdiri menghampiri tempat kejadian. Darah mengalir dari dalam mulutnya membuat pengurus panti menjadi panik.


"Hwaaa!!! Huuuhuuu..." Tangis anak itupun pecah akibat rasa sakit dibagian bibirnya.


"Mulutnya berdarah." Ucap salah satu pengurus panti.


"Bawa ke sofa kita obati sekarang. Amel ambilkan kotak obat." Ucap ibu panti menyuruh anak panti yang tergolong sudah cukup besar mungkin seusia duabelas tahun.


"Iya bunda." Jawab Amel.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja, biar saya antar." Ucap Satya menawarkan diri.


"Iya bawa saja ke rumah sakit takut terjadi apa-apa dengannya, Bun." Belva menyetujui saran dari suaminya.


Mereka semua pun mengangguk setuju, anak yang masih usia tiga tahun itupun langsung digendong oleh ibu panti mereka semua keluar mengiringi bocah cilik yang tengah menangis itu.


"Loh Tuan mau ke mana?" Tanya Jordi yang baru sampai.


"Kak, Om Satya mau ke mana? Itu kenapa adik kecil nya?" Tanya Bella.


Rupanya Jordi dan Bella datang secara bersamaan bersama Budhe Rohimah.


"Jatuh dan mulutnya berdarah, kita hatus segera bawa ke rumah sakit." Ucap Belva.


"Tuan, biar saya saja yang antar. Anda tetap di sini saja menemani Nyonya dan anak-anak." Ujar Jordi.


Satya menoleh pada Belva, anggukan setuju diberikan oleh sang istri membuat Satya pun mengurungkan niatnya mengantar bocah cilik itu.


"Baiklah, bawa mobil hati-hati. Kabari jika ada apa-apa." Ucap Satya.


"Baik, Tuan. Saya permisi." Pamit Jordi pada Satya. Sebelum benar-benar pergi pria itu menatap sekilas pada Bella. Senyum tipis didapatkan Jordi dari Bella.


Mendengar rintihan bocah keci itu Jordi langsung bergegas tanpa menunda keberangkatan mereka ke rumah sakit bersama ibu panti.


"Nak Belva... Nak Satya... Bunda pergi dulu." Pamit ibu panti.


"Iya bunda hati-hati." Jawab Belva. Satya hanya mengangguk.


Satu pengurus panti yang masih berada di dalam menanyakan kronologi kejadian kecelakaan kecil tersebut. Ternyata sebuah kecelakaan yang tidak disengaja saat dua orang anak panti sedang berebut mainan hingga salah satunya berhasil menarik mainan tersebut tapi tanpa diketahuinya tepat dibelakangnya bocah kecil berusia tiga tahun itu berdiri menghadap kursi. Anak yang memenangkan mainan itu terlepas mundur saat berhasil mendapatkan mainan hingga menabrak bocah tiga tahun itu dan membentur kursi hingga jatuh.


Nasihat pun diberikan pada salah satu pengurus panti agar lain kali tidak lagi berebut dan harus bergantian dalam hal apapun. Tanpa ada kemarahan dalam teguran tersebut, sikap dan tutur kata lembut selalu pengurus panti berikan pada anak-anak yang mereka asuh. Ada rasa takut dari bocah yang tak senagaja menabrak mundur bocah tiga tahun itu tapi dengan kelembutan pengurus panti membuat anak itu sedikit lebih tenang dan mengerti akan nasihat yang diberikan padanya.


Rasa penasaran yang muncul mengenai keberadaan teman anak-anaknya itu kini sudah menghilang teralihkan dengan kecelakaan kecil yang baru saja terjadi. Belva kembali fokus pada acara ulang tahun yang masih berjalan dengan acara makan-makan. Kaila meminta untuk diusapi oleh Maminya, tidak ada penolakan yang Belva lakukan, ia menuruti permintaan putrinya.


Satya pun memilih untuk mengambil makanan kali ini. Satu piring penuh dengan nasi dan lauk pauk.


"Om, yakin makan sebanyak itu?" Tanya Bella melihat tumpukan makanan yang cukup menggunakan di piring Satya.


"Kenapa?" Tanya Satya.


"Om kelaparan?"


"Iya." Jawab Satya singkat lalu pergi meninggalkan Bella yang menggelengkan kepala.


Belva sudah duduk bersama putrinya, menyuapi kalia dengan makanan yang dipilih oleh Kaila. Lagap sekali gadis kecil itu memakan makanannya.


"Pelan-pelan sayang tidak ada yang kejar kamu." Ucap Belva.


"Iya Mami, aku nanti mau main lagi tapi lapar."


"Iya tapi pelan-pelan, teman-teman di sini tidak akan pergi meninggalkan mu."


"Iya kan mereka tinggalnya di sini." Ujar Kaila.


"Itu kamu tahu, pelan-pelan nanti tersedam."


Satya sampai di kursi yang dia duduki tepat di samping istrinya.


"Daddy, makan banyak, Daddy lapar?" Tanya Kaila.


Belva menoleh ke arah suaminya, matanya sedikit membulat. "Mas, kamu lapar?"


"Kita makan berdua." Ucap Satya.


"Heh? Maksudnya bagaimana?" Pikiran Belva sudah tahu maksud Satya tapi dirinya memastikan, posisi mereka kini di tengah-tengah banyak orang bukan di rumah mereka sendiri.


"Mami belum makan, kita makan sepiring berdua. Daddy suapin Mami."


"Dad, banyak orang malu. Banyak anak-anak juga." Ucap Belva sedikit lirih.


"Tidak apa-apa, mereka tidak akan mengurusi kita."


"Aaa buka mulutnya." Ucap Satya.


"Mami mau disuap juga seperti Kaila?" Tanya putri cantik Belva.


"Emm tidak sayang, Daddy mu saja yang aneh-aneh."


"Aneh-aneh bagaimana? Ini namanya hemat waktu, Mam. Ayo buka mulutnya gantian Daddy juga mau makan."

__ADS_1


Tak ingin berdebat meski malu Belva menerima suapan dari Satya. Dari oengurus panti tidak masalah justru mereka merasa sedikit lucu dan senang melihat sikap pasangan suami istri itu yang terlihat saling menyayangi satu sama lain.


Kaili bocah itu pergi berbaur dengan anak-anak panti. Belva dan Satya tak mengkhawatirkan itu karena mereka tahu Kaili pasti aman dan hanya berada di sekitar lingkungan panti.


Ternyata Kaili sedang bermain ayunan bersama dengan temannya yang dikenal sebagai Yossy. Dua bocah itu tampak senang brain bersama.


"Kamu masih simpan gelang dari aku?" Tanya gadis kecil itu.


"Iya di rumah tidak aku pakai." Jawab Kaili.


"Kenapa tidak mau pakai?"


"Nanti rusak, aku simpan di kotak lalu aku letakkan di atas meja belajar ku."


"Oh. Kalau rusak nanti aku buatkan lagi saja." Ucap gadis kecil itu.


"Kamu buat? Memang kamu bisa buat gelang?"


"Bisa. Gelang yang aku kasih ke kamu itu aku buat sendiri tapi di bantu sama bunda."


"Wah kamu hebat, Sisy." Puji Kaili mengacungkan jari jempolnya.


Usia Kaili kini sudah lima tahun hampir sama dengan gadis kecil yang menjadi temannya itu. Gadis kecil itu berulang tahun bulan depan.


"Ulang tahun kamu bagus." Puji Sisy.


"Iya itu Mami sama Daddy yang siapkan. Mereka hebat." Kaili tak kalah memuji kedua orang tuanya yang telah mempersiapkan acara ulang tahun untuknya dan Kaila.


"Aku juga pingin nanti ulang tahunnya sebagus itu." Ucap Sisy mengungkapkan keinginannya sebagai seorang anak kecil.


"Kamu boleh kok bilang sama Mami aku. Nanti aku bilang Mami aku juga biar mereka buatkan ulang tahun bagus seperti punyaku dan Kaila."


"Memang boleh? Kata bunda kita tidak boleh merepotkan orang lain harus mandiri."


Sisy merasa jika Mami Kaili akan merasa repot jika dirinya meminta untuk dibuatkan ulang tahun sebagus Kaili. Nasihat-nasihat dari para pengurus panti selalu diingat oleh gadis cilik itu.


"Tidak apa-apa, buktinya Mami tidak bilang repot saat membuat ualng tahunku." Ucap Kaili.


"Besok aku bilang saja sama bunda nanti kamu datang ya ke acara ulang tahun ku."


"Kapan?"


"Kata bunda bulan Febuari."


"Oh oke." Jawab Kaili.


Kedua bocah itu asik berbincang berdua, sudah seperti orang dewasa yang memanfaatkan waktu untuk berbincang berdua saja. Kaili maupun gadis kecil itu merasa nyaman dalam bermain bersama. Selama berada di panti itu Kaili lebih memilih bermain bersama temannya itu, bahkan disekolah pun dirinya juga selalu mengajak Yossy bermain saat istirahat sekolah. Meski Farel yang sedikit anti dengan perempuan karena cengeng pun tak dihiraukan oleh Kaili. Beruntung kembarannya juga selalu bermain bersama Yossy jadi Kaili tidak merasa kesulitan saat bermain dengan gadis kecil itu.


***


Satu minggu lagi pernikahan Nona Azura dan Marko pun akan dilaksanakan. Belva secara khusus mendapatkan undangan dari calon pengantin itu. Selain sebagai perancang gaun pernikahan sang calon pengantin, Belva juga merupakan salah satu orang terdekat bagi pasangan calon pengantin tersebut.


Sebelum keberangkatan Nona Azura dan Marko kembali ke Paris, mereka melakukan pertemuan dengan Belva dan juga Satya serta Duo Kay. Pertemuan mereka itu dilakukan atas dasar ucapan terimakasih dari pasangan calon pengantin Nona Azura dan Marko karena Belva sudah berusaha mewujudkan gaun pernikahan impian dari Nona Azura.


"Jangan lupa datang di acara kami." Ucap Marko.


"Aku terganggu pada Daddy nya anak-anak karena aku pasti tidak akan bisa berangkat sendiri ke sana." Ucap Belva.


"Kak, apa kamu tidak ingin datang nanti?" Tanya Marko pada Satya.


"Saya akan kosongkan waktu besok." Ucap Satya.


"Berarti kita akan berangkat ke pernikahan Marko dan Azura?" Tanya Belva.


Satya mengangguk seraya mengusap kepala Belva dengan sayang. "Iya, nanti kita akan berangkat ke sana bersama-sama. Sekalian kita menengok Mama dan Papa."


Belva tersenyum senang bisa menghadiri pesta pernikahan Marko dan Nona Azura. Pertemuan dengan acara makan siang itu dilakukan sebelum dua jam lagi calon pengantin akan melakukan penerbangan kembali ke Paris.


Tiga hari sebelum acara pernikahan Marko dan Nona Azura digelar, kini keluarga kecil Satya tengah bersiap untuk melakukan penerbangan ke Paris. Bella dan Budhe Rohimah telah ditawarkan untuk mengikuti mereka ke Paris tapi Bella menolak dengan alasan dirinya lah yang harus menjaga butik selama Belva pergi sedangkan Budhe Rohimah pasti akan memilih menemani Bella di rumah. Wanita paruh baya itu tak tega bila harus meninggalkan Bella sendirian. Jika Belva sudah ada yang menjaga yaitu sang suami lantas siapa yang akan menjaga dan menemani gadis cantik yang juga sudah dianggap anak oleh Budhe Rohimah. Maka dari itu Budhe Rohimah tetap stay di Indonesia saja.


"Semua sudah siap?" Tanya Satya.


"Sudah, tinggal bawa koper-koper nya ke mobil." Jawab Belva.


"Kalian masuk saja dulu ke mobil. Biar Daddy yang angkat kopernya."


"Aku panggilkan Pak Jajak ya buat bantu angkat koper." Ucap Belva yang diangguki oleh Satya.


Belva memanggil Pak Jajak yang berada di dapur, pria paruh baya itu tak tahu jika majikan mereka sudah benar-benar siap jadi dihabiskannya waktu untuk mengopi sejenak.


"Pak Jajak, bisa minta tolong bantu angkat koper kami?" Tanya Belva dengan sopan.


Pak Jajak celingak-celinguk ke arah belakang Belva. "Neng, sudah siap?"


"Sudah Pak, kita harus segera berangkat."


"Oh ayo, Neng. Pak Jajak bantu."


Pak Jajak dan Belva berjalan menuju ruang tamu yang di mana sudah ada beberapa koper yang berdiri menunggu di angkat.


"Tuan maaf saya tidak tahu jika sudah siap."


"Tidak apa-apa, Pak."


"Saya bantu angkat yang ini, Tuan." Ucap pak Jajak yang menunjukkan koper paling besar. Tapi ditolak oleh Satya.


"Yang ini biar saya saja, Pak Jajak bawa koper yang abu saja." Ucap Satya. Koper berwarna abu itu berisi oleh-oleh dari Indonesia yang di bawa Belva untuk kedua orang tuanya dan juga beberapa orang terdekatnya di sana.


Koper berisi oleh-oleh itu lebih ringan dibandingkan koper besar yang telah dipegang oleh Satya. Koper itu berisi pakaiannya dan sang istri.


Belva benar-benar menyiapkan kepulangannya ke Paris meski hanya untuk menghadiri pesta pernikahan teman yang sudah seperti keluarga untuknya.


Tak hanya melenggang pergi begitu saja tapi Belva juga membawa koper salah satu milik anaknya yang tergolong ringan. Duo Kay yang mengerti mereka juga langsung berjalan di depan Belva hingga sampai di mobil Belva membukakan pintu untuk kedua anaknya.

__ADS_1


"Kalian tunggu di dalam. Mami masukkan koper dulu."


Duo Kay mengangguk. Belva tak menutup pintu mobil, dibiarkan pintu itu terbuka agar tak perlu buka tutup pintu mobil. Koper pink milik Kaila dimasukkan oleh Belva ke bagasi mobil disusul oleh Satya yang datang dengan koper besar miliknya dan sang suami.


"Masih kurang satu ya?" Tanya Belva.


"Iya, koper milik Ken masih di dalam." Jawba Satya.


"Oh. Sebentar."


"Mau ke mana, Mam?"


"Ya ambil koper Kaili lah."


"Mami masuk mobil saja, biar Daddy yang ambil. Duduknya di belakang saja kita." Pinta Satya.


"Ya sudah Mami tinggu di dalam mobil."


Satya mengangguk, Pak jajak pun sudah selesai memasukkan koper yang dibawanya tadi.


"Tuan, biar saya yang ambil kopernya Den Kaili."


"Oh baiklah, terima kasih Pak."


"Sama-sama, Tuan."


Pak Jajak kembali ke dalam mengambil koper milik Kaili. Satya sudah masuk ke dalam mobil. "Loh katanya ambil koper Kaili."


"Sudah di ambil Pak Jajak. Sini Ken pangku Daddy."


Kaili pun tanpa menolak duduk di pangkuan Daddy nya. Kaili duduk di tengah-tengah antara dirinya dan juga Belva.


Pak jajal keluar membawa koper dan tak hanya sendiri melainkan keluar bersama Mbok Yati juga. Pak Jajak sibuk menata koper agar bisa menutup pintu bagasi mobil. Belva membuka kaca jendela mobil dan Mbok Yati mendekat.


"Nyonya hati-hati ya bersama Tuan dan si kembar. Semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi ke sini dengan selamat."


"Iya Mbok, terima kasih ya. Maaf selama beberapa hari ke depan tidak bisa bantu di dapur." Belva tersenyum lebar.


"Ah Nyonya bisa saja. Tugas dapur sudah kami yang mengatasi."


"Mbok, titip rumah dan yang lain. " Ujar Satya.


"Siap Tuan. Beres."


"Sayang, pamit dulu sama Uti Yati dan kung Jajak." Pinta Belva pada Duo Kay.


"Kung... Uti kita pamit ya." Ucap Kaili.


"Iya jaga rumah ya Kung, Uti." Ucap Kaili dengan polosnya membuat Mbok Yati dan Pak Jajak tertawaan.


"Beres Nyonya kecil." Ucap Pak Jajak.


"Nyonya sama Tuan hati-hati dalam perjalanan." Ucap Pak Jajak.


"Iya, Pak. Ya sudah kami jalan dulu." Ucap Satya. Belva mengangguk.


"Pak, jalan sekarang." Ucap Belva pada sopir pribadinya yang selama ini mengantar jemput dirinya.


"Baik Nyonya."


Mobil mulai bergerak, keluarga kecil Satya melambaikan tangan tapi minus Satya. Pria tampan itu tak melambaikan tangan hanya menganggukkan kepala saja.


Mobil yang ditumpangi keluarga kecil yang bahagia dan harmonis itu kini telah ikut berpartisipasi membelah jalanan ibukota. Dalam perjalanan terlibat lah perbincangan oleh keluarga harmonis itu.


"Mam, sepertinya senang sekali mau berangkat ke Paris."


"Haha iya bisa kembali lagi ke sana rasanya cukup menyenangkan."


Satya terkekeh kecil, "Mudik dong ceritanya kalau seperti ini."


"Bukan mudik tapi semi mudik." Jawab Belva.


"Semi mudik?"


"Iya karena kota kelahiranku bukan di sana. Mudik bagi Kaili dan Kaila tapi semi mudik bagiku."


Kembali Satya terkekeh mendengar penjelasan sang istri.


"Oke, besok kita akan mudik ke kota kelahiranmu. Daddy juga ingin melihat dimana kampung halaman istri Daddy."


"Iya besok ke Surabaya ya saat anak-anak libur saja sekalian liburan untuk mereka." Ujar Belva.


"Surabaya kan tempat Uti Janti. Iya kan Mami?" Sahut Kaila yang mendengar sekilas obrolan kedua orang tuanya.


"Iya sayang nanti kita ke tempat Uti Janti juga saat kalian liburan."


"Memang benar, Mami? Bisa jalan-jalan ke warung uncle Virgo juga dong?" Tanya Kaili.


Pria kecil itu membayangkan bisa bermain bersama anak-anak kecil yang ada di sekitar warung Virgo yang dulu pernah bermain dengan dirinya dan Kaila.


"Iyaa nanti kita ke sana juga." Ucap Belva tersenyum.


"Tunggu, uncle Virgo siapa? Kok anak-anak tahu Surabaya juga?" Tanya Satya menyelidik. Hatinya mulai tak nyaman dan tak tenang mendengar nama pria yang disebutkan oleh putranya.


Belva tersenyum melihat wajah suaminya yang sedikit kecut.


"Virgo itu anak bulek Janti. Bulek Janti itu kelurga dari mantan suami Budhe Rohimah. Dulu kami pernah berkunjung ke sana untuk refreshing." Jelas Belva tanpa menceritakan tujuan sebenarnya dirinya dan Duo Kay datang ke sana.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang

__ADS_1


Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini. Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. 🙏🙏


Kalian semangatnya author. Semoga menghibur, bahagia selalu dan sehat selalu. 🤗🙏


__ADS_2