Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 36. Perintah Yang Memalukan Diri Sendiri


__ADS_3

Beberapa gaun yang terpajang di butik Evankay itu kini sudah berpindah kepemilikan. Tentu saja, teman-teman Nyonya Dimitri tertarik dengan model gaun tersebut. Tidak semua teman-teman Nyonya Dimitri yang mengikuti liburan di Indonesia itu berusia paruh baya karena ada beberapa dari mereka yang membawa putri kesayangan mereka. Tidak heran jika diawal Belva mengira mereka adalah teman-teman Maria teman dekatnya yang juga berawal dari langganan butik.


Hanya tersisa beberapa gaun saja yang ada di pajangan mereka. Setelah cukup lama mereka berbincang perihal busana ataupun beberapa hal yang ada di Indonesia. Akhirnya mereka melanjutkan kembali liburan mereka ke beberapa tempat.


"Gaun ini sangat cantik." Ucap seorang wanita muda yang tengah mencoba gaun pilihannya.


"Benar, kamu terlihat semakin cantik dengan gaun itu." Ibu dari wanita itu menanggapi.


"Dimitri, tidak salah membawa kita ke tempat ini." Ibu paruh baya yang lain turut menanggapi.


"Nona, aku mau gaun yang ini." Ucap wanita itu.


"Baik Nona, apa ada lagi ?" Tanya Bella.


"Yang warna soft pink, iya aku mau itu juga. Tolong dibungkus Nona."


"Baik Nona." Bella dengan ramah melayani mereka.


Satu persatu dari mereka yang memiliki ketertarikan pada gaun di butik itu menyampaikan keinginan mereka. Dibantu oleh salah satu karyawan butik Bella membungkus gaun-gaun tersebut.


"Seperti itu dulu saja, tolong bantu desainkan gaun pengantin putriku. Setelah itu kirimkan saja ke emailku. Mungkin nanti aku dan putriku akan datang berkunjung lagi untuk membahas gaun ini." Ucap Nyonya Dimitri.


"Baik Nyonya, akan saya usahakan memberikan yang terbaik untuk Anda." Ucap Belva.


"Aku selalu percaya padamu Nona Vanthe. Kalau begitu aku harus pergi dulu tidak enak jika mereka menunggu urusan pribadiku." Nyonya Dimitri tertawa lirih.


Pikirannya sudah seperti ratu di kerjakan besar yang harus dikawal banyak orang hanya untuk membuat gaun saja.


"Baiklah berhati-hatilah nyonayo. Jika ada waktu lagi mampirlah ke mari." Belva mengantar Nyonya Dimitri hingga ke luar ruangan. Sekaligus menemui tamu-tamu butik yang lain.


Setelah semua dari mereka benar-benar selesai. Satu persatu pamit, Nyonya Dimitri mengawali untuk memeluk Belva dan juga Bella. Sehingga teman-temannya yang lain ada pula yang berjabat tangan ada pula yang cipika-cipiki dengan Belva maupun dengan Bella.


Kedatangan Nyonya Dimitri, membuat banyak waktunya tersita cukup banyak tapi itu sangat membuat Belva senang bisa bertemu dengan customer nya yang sangat baik terhadap dirinya.


Kaila yang bosan, bocah itu memilih untuk turun dari ruangan Maminya. Ia turun bersama Budhe Rohimah dan juga Kaili. Saat masih berada di tangga Kaila melihat sosok yang tak asing baginya.


"Oma Dimitri." Panggil Kaila dengan suara cempreng khas anak kecil.


Orang yang dipanggil langsung saja menoleh padahal wanita itu sudah hampir keluar butik. Begitu dilihatnya seorang bocah kecil yang beberapa kali pernah ditemuinya bahkan pernah membantunya membuatkan gaun untuk putri bungsunya, wanita itu tersenyum. Gadis kecil itu tergesa-gesa untuk turun.


"Ayo Uti cepat." Ajaknya pada Budhe Rohimah. Ia tak sabar berhadap dengan klien Maminya yang pernah memberikannya satu set pewarna.


Berpijak pada tangga terkahir paling bawah Kaila berlari menghampiri Maminya.


"Oma." Panggil Kaila kembali.


"Kaila... Aduuhh anak cantik." Sapa Nyonya Dimitri.


Teman-teman Nyonya Dimitri sebagai ada yang sudah memasuki mobil mereka sebagai ada yang ikut berhenti menyaksikan pertemuan Nyonya Dimitri dan juga Kaila.


"Bagaimana kabarmu cantik ?" Tanya Nyonya Dimitri.


"Baik Oma."


"Oma main ke sini ?" Tanya Kaila.


"Iya sayang, tapi Oma sudah selesai. Sayang sekali, kalau tahu ada Kaila di sini Oma pasti akan lebih lama bertemu Kaila." Wajah Nyonya Dimitri terlihat sedikit menyayangkan hanya bisa bertemu sebentar dengan gadis kecil itu.


"Oma mau pulang ?" Tanya Kaila kembali.


"Iya sayang. Ini teman-teman Oma sudah menunggu. Oma harus pulang. Kapan-kapan Oma datang lagi ya." Jawab Nyonya Dimitri.


Kaila mengangguk. "Hati-hati Oma." Ujar Kaila dengan mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya itu sudah tahu maksud Kaila. Bocah itu menyalami dan mencium punggung tangan Nyonya Dimitri.


"Terima kasih sayang. Oma pergi ya." Lambaian tangan Kaila sudah sebagai jawaban terhadap kalimat pamit yang Nyonya Dimitri ucapkan.


Belva dengan yang lain turut melambaikan tangan. Sampai mobil sudah sedikit menjauh mereka kembali masuk ke dalam.


"Mami aku bosan. Boleh kami main di sekitar sini bersama Uti ?" Tanya Kaila.


"Boleh sayang. Tapi hati-hati, jangan jauh-jauh dan jangan nakal. Kasihan Uti nanti bingung jaga kalian nya." Ucap Belva yang mengijinkan permintaan putrinya.


Budhe Rohimah bersama Duo Kay pergi keluar butik. Kebetulan tak jauh ada taman sehingga mereka bisa bermain di tempat itu.


Bella dan Belva duduk bersama di ruangan Bella. Mereka membicarakan kedatangan Nyonya Dimitri yang baru saja terjadi. Bahkan gaun yang mereka jual juga ada beberapa yang sudah laku dibeli oleh teman-teman Nyonya Dimitri pun diberitahukan oleh Bella pada Belva.


Otomatis Belva membuka media sosial Instagramnya untuk mengubah caption nya pada beberapa gambar gaun yang ia posting. Dalam postingan tersebut, Belva menandai bahwa gaun tersebut sudah sold out.


****


Brak... !!!


"Sialan...!!!"


Seorang wanita melemparkan ponselnya di atas sofa dan terpental ke lantai. Bibirnya pun mengumpat melupakan kekesalannya.


Setelah melihat layar ponselnya, justru kekesalan yang diperolehnya. Hati yang sudah dipenuhi dengan rasa benci dan amarah memang akan sangat sulit jika melihat orang lain bisa menikmati kehidupan lebih enak.


"Bagaimana bisa seperti ini. Kenapa aku tidak memikirkannya sampai ke situ ?" Gumamnya.


Ternyata kebahagiaannya tak bisa bertahan lebih lama. Ya kebahagiaan yang didapatkan dari menyakiti orang lain memang tidak akan bertahan lama. Justru mungkin akan ada buah yang akan dipetiknya dari hasil menyakiti orang lain.


Alya... Wanita itu adalah Alya yang baru saja melihat Instagram butik Evankay. Sejak ia mengetahui Belva memiliki butik, ia tak terima karena dimatanya Belva kini sudah bisa hidup lebih enak dan nyaman. Padahal tujuannya selama ini adalah membuat Belva merasakan ketidaknyamanan.


Sudah cukup bagi Alya melihat Belva selalu dipuji karena kelebihan yang dimiliki oleh mantan pembantu dan juga temannya itu. Rasa iri yang menimbulkan rasa benci dan amarah. Semua rasa itu mampu mengubah seseorang menjadi jahat dan kejam.


Baru saja Alya melihat jika beberapa gaun dibutik Belva sudah laku terjual. Padahal gaun itu adalah gaun yang sengaja dipesan olehnya dan dibatalkan secara sepihak.


Kerugian yang diperoleh Belva memang semua berasal dari Alya. Gadis itu sengaja untuk menjatuhkan usaha yang baru saja Belva dirikan. Ia menyuruh salah satu teman yang berada dalam satu lingkaran pertemanannya untuk memesan gaun dan menghilang setelah gaun itu jadi.


Tapi ia tak menyangka jika, gaun-gaun itu akan dijual kembali oleh Belva. Setahunya jika desain yang sudah dipesannya itu tak akan bisa dijual kembali karena desain itu sudah dibeli oleh temannya. Tapi kenapa Belva masih bisa menjual gaun itu, pikir Alya.


"Tidak... Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menyuruh Gwen mengacaukan nya kembali." Alya tersenyum sinis saat mendapatkan ide kembali.


Gadis itu menghubungi Gwen temannya yang kemarin ia suruh untuk memesan gaun itu. Semua rencana liciknya kembali diutarakan dan diperintahkan pada temannya itu. Kini ia tinggal menunggu informasi selanjutnya, kali ini seorang Alya tak ingin menerima kegagalan.


"Lihat saja nanti Belva. Tunggu kejutan dariku."

__ADS_1


Kini tawa bahagia yang berbalut dengan kebencian itu menggema di dalam kamar gadis itu. Alya langsung merubah ekspresi wajahnya saat ketukan pintu kamarnya terdengar. Kesal ada seseorang yang menggangu waktu yang dipergunakannya untuk bersantai.


"Ck... Apa kamu ket..." Mulut itu tak mampu melanjutkan kalimatnya sebab kini mulut itu telah terbuka lebar dengan mata membulat lebar.


Dengan begitu bodohnya bersikap seenaknya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang mengetuk pintu.


"Da-Daddy ? Aamm ada apa Dad ?" Tanya Alya tergagap.


"Di mana jam tangan itu Alya ?"


Pertanyaan yang Satya berikan sungguh membuat Alya bingung. Sama sekali ia tak mengerti maksud Satya kenapa bisa mempertanyakan hal itu padanya.


"Jam tangan ? Jam tangan siapa ?"


"Jam tangan Daddy."


"Aku tak mengerti, kenapa Daddy malah bertanya padaku ?"


Alya masih merasa bingung, setahunya mereka tak pernah saling mengurusi barang masing-masing.


"Alya, cepat katakan." Desak Satya.


Tapi putrinya itulah masih tetap sama menampilkan wajah kebingungan.


"Daddy... Alya..." Panggil Sonia.


"Kalian kenapa masih di situ ? Kita sudah hampir terlambat." Imbuh Sonia.


Tatapan mata Satya masih menunggu jawaban Alya.


"Alya, kamu kenapa tidak segera bersiap. Omamu mengharapkan kehadiran mu dalam acara ini. Kamu seringkali sibuk sendiri sayang. Ayolah segera bersiap." Ucap Sonia.


"Dad... Ada apa ?" Tanya Sonia.


"Ck..." Satya hanya berdecak lalu berlalu dari hadapan Alya dan juga Sonia.


Sonia mengerutkan keningnya saat melihat tingkah suaminya. Sedangkan Alya hanya terdiam, ia masih belum mengerti ada apa dengan Daddy nya.


Mengabaikan tingkah Satya, Sonia segera menyuruh Alya bersiap. Karena mereka akan menghadiri acara keluarga besar Sonia. Pernikahan keponakan Sonia yang kali ini Alya pun harus ikut menghadiri karena paksaan dari Oma nya, ibu dari Sonia.


Satya mau tak mau harus ikut menghadiri acara tersebut. Ia hany tak ingin berdebat dan memperpanjang masalah. Sonia meski tipe orang yang cuek tapi wanita itu akan menjadi cerewet jika apa yang diinginkannya tidak terpenuhi sesuai maunya.


Meski malas, Satya tetap saja berpenampilan dengan sangat baik. Demi citra dirinya sebagai seorang pemimpin perusahaan ternama.


Mereka semua sudah bersiap, dengan menggunakan sopir mereka berangkat. Satya lebih memilih duduk di depan bersama sang sopir. Rasanya malas jikanharus duduk berdampingan dengan Sonia. Meski pernikahan mereka sudah memasuki angka dua puluh tahun tapi tak ada kemesraan dalam perjalanan pernikahan mereka.


Mereka semua sampai di sebuah gedung besar dan megah. Pernikahan orang kaya dan terpandang pasti akan dirayakan di tempat yang besar. Mengingat banyaknya undangan yang akan hadir.


Sonia menggandeng lengan suaminya, Satya tak menolak sekali lagi pria itu hanya malas jika harus adu mulut dengan Sonia yang akan membuat suasana hatinya semakin berantakan.


Mereka terlihat seperti pasangan romantis dan juga keluarga yang harmonis. Itu hanya tampak dari luar saja karena jika dilihat dari dalam semua berbanding terbalik.


****


Sekolah dengan taraf internasional membuat kegiatan yang ada disana jauh lebih padat. Hari ini kegiatan mereka adalah mengikuti kelas modeling. Belva memang pernah menawarkan pada Duo Kay apakah mereka mau mengikuti kelas tersebut dan keduanya memang mau mengikutinya.


Setelah mengantar Duo Kay, Belva seperti biasa kembali ke butiknya. Duo Kay sudah siap dengan kegiatan mereka. Hari ini mereka menggunakan pakaian bebas dan rapi karena kelas modeling jadi diperbolehkan menggunakan berbagai model pakaian. Sekolah membebaskan mereka untuk berekspresi dengan model pakaian mereka.


Bocah itu juga mengikuti kelas modeling sama seperti Duo Kay. Itu karena arahan dari Mamanya jadi bocah itu hanya manut-manut saja.


"Farel... Kamu sudah datang." Ucapan Kaili hanya diangguki oleh Farel.


"Bajumu bagus sekali Kaili." Ucap Farel yang melihat kaos milik Kaili. Kaos warna putih sama seperti Kaila hanya saja dengan gambar yang berbeda. Kaos milik Kaili bergambar tokoh Batman dengan sedikit dimodifikasi latar gambarnya. Gambar itu Kaili sendiri yang menggambarnya.


Kaili hanya tersenyum menanggapi ucapan Farel.


"Bajumu juga bagus Farel." Ucapan itu keluar dari mulut Kaila.


"Terima kasih Kaila, ini Papa ku yang beli dari luar negeri." Jawab Farel.


Duo Kay hanya mengangguk saja. Kegiatan belum dimulai. Mereka bertiga duduk santai di depan kelas bersama dengan anak-anak yang lain. Untuk kali ini mereka bertiga memilih untuk duduk diam karena sesuai pesan orang tua mereka jika hari ini kelas modeling jadi harus anteng sebelum kelas dimulai agar mereka tak kelelahan.


Krek... Satu wadah terpisah dari tutupnya. Tangan mungil mengambil isi dari dalam wadah itu.


"Kamu mau Farel ?" Tawar Kaila.


"Kamu bawa apa ?" Tanya Farel.


"Sandwich. Ini Mami ku loh yang buat."


Sandwich itu dipotong dengan ukuran kecil hingga menjadi empat potong yang di letakkan di dalam wadah.


"Mau." Farel menjawab dan mengangguk. Tangan mungilnya juga mengambil salah satu sandwich milik Kaila.


"Kaili kamu tidak mau ?" Tanya Farel. Kailj hanya menggeleng.


"Kaila... Kenapa kamu makan lagi ?" Tanya Kaili.


"Aku lapar. Punyamu di dalam tas." Jawab Kaila.


"Awas bajumu kotor. Ingat pesan Mami." Kaili mengingatkan kembarannya. Sedangkan yang diingatkan sudah sibuk dengan sandwichnya.


Kaili, dia mendengus kesal karena tak mendapatkan jawaban dari kembarannya. Kaila dan Farel mereka berdua sibuk makan. Sesekali Farel mengajak Kaili mengobrol. Obrolan anak kecil seputar apa saja yang pernah mereka lihat. Terkadang tertawa ketika melihat teman mereka yang lain terjatuh saat kejar-kejaran.


Hingga waktunya kelas dimulai. Mereka semua masuk ke dalam kelas. Miss yang mendampingi mereka mengarahkan mereka untuk duduk di kursi yang telah di susun membentuk huruf U. Bentuk seperti itu memang dibuat agar mereka bisa sekalian mempraktikkan apa yang telah diajarkan dan nantinya tidak akan grogi jika dilihat oleh banyak orang yang ada di sekelilingnya.


Ruangan kelas modeling terletak didekat taman sekolah yang terkadang digunakan oleh beberapa orang tua murid untuk menunggu anak-anak mereka.


Mereka yang menunggui anak-anak mereka, kegiatan kelas modeling ini selalu menjadi daya tarik untuk mereka hingga mereka mengintip dari balik jendela untuk menyaksikan kelas tersebut.


Giliran Duo Kay mempraktekkan ajaran Miss mereka. Kaila dan Kaili berjalan di lantai yang sedikit lebih tinggi kurang lebih tiga puluh sentimeter dari kursi-kursi yang mereka duduki.


"Astaga anak itu cantik dan tampan. Cocok sekali orang tuanya mengikutkan mereka dalam kelas seperti ini." Komentar salah satu ibu-ibu yang ada di luar kelas.


"Iya. Mereka itu kembar, beberapa kali aku melihat mereka selalu bersama."


"Ooohh iya. Wajah mereka terlihat mirip. Sungguh pasti kedua orang tuanya juga tampan dan cantik seperti mereka."

__ADS_1


"Duh... Biasa saja sih menurutku banyak juga itu anak-anak yang lain yang tampan dan cantik."


Setiap segala sesuatu memang akan ada pro dan kontra. Ada yang memuji ada juga yang biasa saja ada pula yang menghina. Itu sudah hal lumrah dalam kehidupan. Setiap orang mamg berhak berkomentar dan juga berpendapat sesuai pandangan mereka masing-masing. Tapi sudah seharusnya dengan bijak mengungkapkan.


Duo Kay sibuk dengan kegiatan sekolah mereka. Belva juga sibuk dengan pekerjaannya di butik. Saat ini memang pesanan lebih banyak di dominasi oleh de'La Hector. Di saat tidak ada desain di butiknya maka akan diisi oleh Belva mendesain gaun untuk butik de'La Hector.


Tapi kini, ia memiliki tanggung jawab yang harus benar-benar diperhatikan. Desain gaun pernikahan untuk putri Nyonya Dimitri. Kini ia tengah fokus menggarap desain tersebut. Sudah pasti jika tidak ada customer Belva lebih memilih bekerja di ruangannya sendiri.


Bunyi telepon yang ada di atas mejanya berdering. Bella menghubunginya, jika seperti ini pasti ada sesuatu yang sangat penting hingga Bella tak bisa meninggalkan ruangannya sendiri.


Benar saja ada sedikit masalah yang disampaikan oleh Bella serta meminta Belva untuk datang ke ruangannya. Tidak biasanya seperti ini, jika ada masalah biasanya Bella selalu bisa mengatasinya.


Begitu sambungan telepon itu tertutup, Belva langsung turun ke lantai bawah menuju ruangan Bella. Ia menghembuskan nafasnya sedikit pelan. Menghadapi masalah yang belum diketahuinya dengan jelas masalah apa lagi yang datang kali ini.


Pinru ruangan Bella dibuka oleh Belva. Dua pasang mata menatap Belva yang memasuki ruangan.


"Ada apa Bella ?" Tanya Belva.


"Ini Nona..."


"Kamu pemilik butik ini ?" Tanya orang itu dengan gaya angkuhnya. Memotong pembicaraan Bella dengan seenaknya.


Bella hanya menatap datar ke arah orang itu.


"Iya saya pemilik butik ini. Apa ada sesuatu hal Nona ?" Tanya Belva dengan ramah dan lembut.


"Saya, Winda yang memesan gaun di butik ini. Tapi saya sungguh kecewa dengan butik ini. Desain yang telah saya beli justru dijual tanpa konfirmasi dari saya." Ucap Winda dengan penuh kalimat penuh tekanan dan juga ketegasan.


Belva sedikit membulatkan matanya. Mendengar nama yang disebutkan serat kalimat yang terlontar itu berarti permasalahan ini mengenai beberapa gaun yang waktu lalu pemesanannya menghilang dengan dugaan penipuan.


"Oh maaf. Jadi anda Nona Winda Hara ?"


"Ya itu saya. Saya rasa butik ini masih baru dan mungkin saja pemilik butik juga masih baru dalam dunia bisnis seperti ini. Bisa-bisanya kamu menjual desain gaun yang telah saya beli. Saya bisa menuntut mu Nona." Gertak Winda.


"Maaf Nona Winda Hara. Saya rasa ini bisa dibicarakan dengan baik-baik. Jangan menggunakan emosi yang akan membuat kita salah dalam mengambil keputusan." Ucap Belva dengan masih bertutur kata ramah dan menahan gejolak emosinya.


"Baik-baik kamu bilang ? Tapi kamu sudah membuat kesalahan Nona." Winda masih saja berusaha menjatuhkan Belva.


"Oke, asalkan kamu ganti rugi atas desain yang sudah saya beli karena kamu telaj menjual gaun itu pada orang lain." Imbuh Winda.


"Bella, keluarkan rinciannya." Ucap Belva dengan berusaha untuk tetap tenang.


Bella memberiku lembaran kertas dengan rincian yang dimaksud. Hal itu sudah Bella siapkan saat mereka menghitung seberapa besar DP yang masuk atas pesanan mereka.


"Nona, bisa lihat dan pahami. Anda memesan dengan jumlah berapa dan anda membayar DP kepada kami dengan jumlah berapa." Belva memberikan selembar kertas itu pada Winda. Ia tak ingin lagi berbasa-basi pada orang yang ada dihadapannya.


Datang dan berbicara tanpa ada kesopanan dengan nada yang cukup tinggi seolah-olah Belva lah yang salah. Jika mengingat orang di depannya itu, justru Belva lah yang seharusnya marah karena telah mempermainkan nya dengan pesanan yang tak bertanggungjawab, memberikan alamat palsu.


"Jika anda ingin meminta ganti rugi, maaf anda tidak bisa. Bisa saya jelaskan jika DP yang anda berikan bisa dihitung hanya cukup untuk tiga desain gaun saja. Saya awalnya percaya jika anda orang yang bertanggung jawab dalam pesanan ini maka kami memberikan keringanan untuk pemesanan hingga semua bisa dibayar diakhir."


"Anda tentu masih ingat jika anda memesan sebanyak sepuluh gaun. Jadi, sudah jelas jika DP anda tidak bisa mencakup sepuluh gaun. Sisanya tujuh gaun itu berarti masih sah desain milik saya. Dan anda sudah kami hubungi berkali tetapi tidak ada jawaban dan tidak ada konfirmasi apapun bahkan anda memberikan alamat palsu pada kami saat kami akan mengantarkan pesanan gaun anda."


"Kami sudah menunggu hingga sudah hampir satu bulan lebih, dan anda benar butik ini masih baru maka dari itu kami juga butuh modal untuk terus berjalan. Kami tidak bisa menahan gaun yang tidak ada kejelasannya sama sekali. Gaun-gaun yang saya jual itu adalah ketujuh gaun yang desainnya masih sah milik saya. Jika anda ingin menuntut, tiga gaun yang sudah terbayarkan oleh DP itu masih saya simpan dan tidak saya publikasikan. Jadi, jika anda ingin mengambilnya silahkan anda bisa bereskan terlebih dahulu segala hal yang menyangkut keuangan atas gaun tersebut dengan Nona Bella."


Belva menjelaskan dengan panjang lebar, ada emosi yang terselip dalam beberapa kalimat yang dilontarkannya. Bagaimana tidak, ia sudah bersabar tapi orang dihadapannya tidak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Belva sudah bermurah hati untuk meringankan pemesanan, menunggu konfirmasi hingga satu bulan lebih lamanya tanpa kejelasan. Salahkah jika ia menjual gaun tersebut untuk memutar biaya operasional ? Bahkan gaun tersebut diproses masih menggunakan uangnya sendiri dengan desain yang tidak dibayarkan sepenuhnya dari customernya.


"Tapi tidak bisa seperti itu. Itu namanya kamu tidak bisa dipercaya dalam pemesanan ini. Seharusnya kamu menunggu konfirmasi dari saya. Tidak bisa seenaknya." Winda masih saja kekeuh menyudutkan Belva.


"Sampai kapan kami menunggu konfirmasi dari anda Nona. Saya memiliki karyawan yang harus saya bayar, saya memiliki orderan yang tidak hanya dari Nona saja. Menurut anda apakah membuka butik itu hal yang sangat mudah ? Bagi saya ini adalah hal yang butuh perjuangan. Jika memang segalanya mudah bagi anda, selesaikan saja perihal pembayaran gaun-gaun itu. Untuk sisanya akan saya ganti untuk buatkan gaun yang baru tapi dengan syarat anda harus membayarnya dimuka agar tidak terjadi permasalahan yang serupa."


Winda cukup terkejut dengan penuturan Belva di akhir. Ia sedikit menelan saliva nya bahkan matanya sedikit membulat.


"Aduh bagaimana ini ?" Batin Winda.


"Percuma desain yang saya mau sudah menjadi milik orang lain jadi saya tidak ingin model yang sama dengan orang lain." Ucap Winda.


"Mohon maaf. Itu juga bukan kesalahan kami jika kami menjualnya. Toh itu masih sah desain milik saya. Jika saja anda tidak menghilang bahkan tidak memberikan alamat palsu pada kami, tentu saja hal ini tidak akan terjadi Nona. Ini bisnis, saya tidak bisa tinggal diam ketika ada klien saya menyimpang." Ucap Belva yang kembali mengingatkan kesalahan yang Winda lakukan.


"Saya kecewa dengan butik ini. Saya bisa saja menuntut butik ini." Winda masih tetap mempertahankan diri.


"Silahkan saja Nona itu hak anda. Tapi sebaiknya pikirkan baik-baik atas segala tindakan anda. Bisa saja kami menuntut anda kembali atas tindakan yang anda lakukan terhadap kami." Ucap Belva dengan penuh keyakinan dan ketegasan.


Ibu muda itu tak gentar sedikitpun dengan ancaman yang Winda berikan. Ia merasa tidak bersalah dalam hal ini justru ia memegang bukti kesalahan atas tindakan customer nya itu.


Winda, perempuan itu merasa kalah, pertahanannya yang sedari tadi dipegangnya seketika mulai goyah saat Belva juga mengatakan akan melaporkan kembali dirinya. Ia tahu dan sadar atas kesalahan yang diperbuatnya. Bagaimana tidak sadar, jika tujuannya memang untuk menipu dan membuat butik itu ambruk. Tapi sebisa mungkin ia tutupi dihadapan kedua perempuan yang menjadi lawannya.


"Nona, sebaiknya diselesaikan saja secara baik-baik. Pesanan anda sesuai DP yang anda berikan masih kami simpan, apakah akan anda ambil atau tidak ? Jika tidak untuk DP seharusnya tidak bisa dikembalikan karena barang sudah jadi. Tapi untuk Nona Winda kami memberikan kebijakan DP akan kami kembalikan dan gaun tersebut akan kami jual." Kali ini ucapan itu keluar dari Bella dengan senyumannya.


Belva tak menggugat ucapan Bella, ia setuju dengan pemikiran Bella saat ini. Karena ia tak ingin berurusan dengan customer yang hanya membuang waktu dan tenaga seperti orang dihadapannya itu.


Tentu saja Winda merasa geram, secara tak langsung gadis itu meremehkannya ditambah senyum Bella yang Winda rasa seperti mengejek dirinya. Kata-kata itu seakan secara tak langsung mengatakan jika ia orang yang tidak mampu.


"Brengsek." Umpat Winda dalam hati. Ia menahan kesal. Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini oleh orang lain.


"Berapa total biayanya." Ucap Winda ketus.


"Tiga gaun kekurangannya dua puluh lima juta. Karena waktu pemesanan anda kami masih dalam rangka pemberian diskon." Ucap Bella.


Winda membuka dompetnya, saat melihat isi dompetnya uangnya tak cukup untuk membayar gaun tersebut. Berdecak kesal, ia ingat kartu dua kreditnya sudah diambil oleh kedua orang tuanya karena terlalu boros. Terpaksa diberikannya kartu kredit yang masih tersisa satu dalam dompetnya. Kartu itu berisi uang jajan yang harus digunakannya dengan seiirit mungkin dalam satu bulan ini.


"Sialan kenapa jadi aku yang butung begini." Winda menggerutu dalam hati.


"Maaf Nona, ini sisa saldo dalam kartu anda tidak cukup." Ucap Bella.


Belva hanya menatap dengan pandangan yang tak bisa ditebak. Bella menahan senyumnya mati-matian. Winda, wanita itu malu setengah mati mengetahui uangnya tak cukup. Sudah marah-marah dengan begitu semangat tapi saat mengurus masalah pembayaran uangnya justru mempermalukannya.


"Ya sudah, sisa nya pakai uang cash saja." Ucap Winda ketus.


Akhirnya pembayaran sebagian menggunakan uang cashnya. Setelah itu ia pergi dengan perasaan kesal dan juga malu. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak memiliki persiapan apapun. Bahkan ia mengumpat sejadi-jadinya pada temannya Alya yang menyuruh dirinya untuk melakukan semua ini. Perintah Alya adalah mempermalukan diri sendiri. Sungguh Winda yang tak lain adalah Gwen ingin menampar wajah Alya saat itu juga.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.

__ADS_1


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2