
Ditinggal oleh bos mereka masing-masing membuat Jordi dan Bella sedikit kewalahan. Yang lebih kewalahan saat ini adalah Bella. Disaat Belva pergi butik justru sangat ramai sekali. Pasalnya sebelum Belva berencana untuk menghadiri pernikahan Marko dan Azura, Evankay boutique meluncurkan beberapa produk mereka dengan model dan bahan kualitas premium.
"Nona, di depan ada customer yang ingin bertemu dengan Nona Belva." Ucap Anggi, si pegawai butik Evankay yang dipercaya untuk menghandle bagian depan.
"Sudah kamu katakan jika Nona Belva sedang tidak ada di tempat?" Ucap Bella.
"Sudah Nona tapi orang itu tetap memaksa untuk bertemu."
"Suruh ke ruanganku saja." Putus Bella.
"Baik, Nona."
Seseorang masuk ke dalam ruangan Bella dengan diantar oleh Anggi. Wanita tersebut adalah seorang customer Evankay boutique.
"Selamat siang Nona." Ucap wanita tersebut.
"Selamat siang, silahkan duduk Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bella.
"Anda Nona Belva? Saya ingin bertemu dengan anda Nona."
"Maaf, saya Bella bukan Nona Belva. Apakah karyawan kami tidak memberitahukan kepada anda tadi?" Tanya Bella yang sudah tahu sebenarnya dari Anggi.
"Karyawan anda memang sudah menyampaikan kepada saya tapi saya tidak percaya jika Nona Belva tidak ada di tempat."
"Maaf, Nona. Nona Belva memang saat ini sedang tidak ada di tempat. Ada acara yang penting sehingga beliau tidak ada di tempat. Untuk sementara saya yang mengambil alih semuanya. Apa ada sesuatu yang harus disampaikan?"
"Saya ingin membuat gaun untuk acara reuni satu minggu lagi. Jadi, saya ingin bertemu secara langsung."
"Ini terasa mendadak, Nona. Kar..."
Mendadak apanya? Waktunya masih satu minggu apa butik ini tidak mampu menyelesaikan satu gaun saja?" Ucap wanita tersebut dengan sengaja memotong pembicaraan Bella.
"Bukan seperti itu, Nona. Masalahnya Nona Belva sedang tidak ada di tempat." Ucap Bella.
"Saya tidak mau tahu, saya ingin gaun saya di desain oleh Nona Belva. Jika tidak kalian akan tahu akibatnya nanti, kamu tidak tahu siapa saya huh?!"
Wanita itu sudah mulai memaksa dan berbicara dengan nada sedikit meninggi. Bella harus menghadapi setiap customer nya dengan sabar selama masih berada di batas wajar.
"Baiklah, tinggalkan saja nomor ponsel anda. Nanti kami akan menghubungi anda kembali." Ucap Belva memilih jalan tengah yang aman.
"Lalu bagaimana ini? Sanggup atau tidak saya butuh kepastian sekarang." Ucap wanita tersebut.
"Saya tidak bisa memutuskan untuk saat ini, Nona. Semua akan kami koordinasikan bersama Nona Belva. Secepatnya akan kami beri kabar." Ucao Bella dengan tenang dan ramah sebisa mungkin dirinya meyakinkan customer agar memahami keadaan.
"Oke, saya tunggu kabarnya segera, saya permisi."
"Baik, Nona. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke butik kami." Ucap Bella dengan tersenyum ramah.
Wanita yang menjadi customer Evankay boutique itu telah keluar. Bella terpaksa tak bisa mengantar sampai ke depan karena pekerjaannya yang masih banyak.
Baru beberapa menit Bella kembali melanjutkan pekerjaannya. Anggi sudah masuk kembali ke dalam ruangan Bella.
"Ada apa Mbak Anggi?"
"Nona, ada yang ingin bertemu ada lagi."
"Apa dia juga tidak percaya jika Nona Belva tidak ada di sini?" Tanya Bella.
"Saya sudah mengatakannya tapi dia tetap ingin bertemu dengan anda."
Kening Bella mengerut dan tanpa pikir panjang lebih baik dirinya bertemu langsung saja dengan orang tersebut.
"Suruh masuk saja." Ucap Bella. Anggi mengangguk, ia keluar untuk memanggil orang tersebut.
Kembali seorang wanita masuk ke dalam ruangan Bella.
"Nona, bukan kah anda?" Tanya Bella sembari mengingat nama wanita yang ada dihadapannya.
"Ya saya Noella."
Wanita tersebut memang Noella yang dengan tujuan utama ingin bertemu dengan Belva.
"Ah iya, Nona Noella. Anda yang waktu itu hadir di pemakaman Alya itu kan?"
Noella mengangguk membenarkan ucapan Bella.
"Bolehkah saya duduk, Nona?" Tanya Noella.
"Ah silahkan... Silahkan. Maaf saya sampai lupa. Apakah Nona mencari Nona Belva?"
"Iya tapi karyawan di depan mengatakan jika Nona Belva tidak ada di tempat. Apakah itu benar?" Tanya Noella.
"Iya benar, Nona Belva sedang ada acara penting bersama keluarga."
"Kapan Nona Belva bisa saya temui? Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengannya."
"Saya kurang tahu, Nona. Mereka sedang tidak berada di Indonesia saat ini. Ucap Bella.
"Apa saya bisa meminta nomor ponselnya? Saya ingin membicarakan hal ini secara langsung."
"Ah iya tunggu sebentar, saya ambil ponsel saya dulu."
Bella mengambil ponselnya yang terletak di dalam tas nya yang tergeletak di atas meja. Ia berikan nomor ponsel Belva pada Noella. Bella memang tidak tahu bagaimana hubungan Noella dengan Belva tapi ia cukup paham jika keduanya memiliki hubungan yang cukup dekat.
"Terima kasih, Nona. Maaf sudah mengganggu kesibukanmu, Nona." Ucao Noella.
"Tidak masalah. Jika mengenai Nona Belva, saya akan berusaha membantu." Ucap Bella.
Noella tersenyum. "Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Baik, berhati-hatilah di jalan." Ucap Bella terkahir kali sebelum Noella benar-benar pergi.
***
Rasa lelah yang mendera membuat seseorang mampu tertidur secara pulas. Subuh biasanya sebagian orang akan terbangun untuk memulai aktivitas mereka tapi berbeda dengan Satya yabg terbangun karena panggilan alam. Pria itu berjalan menggunakan boxer miliknya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Hidungnya mengerut saat tiba-tiba, aroma shampoo miliknya tercium dengan sangat jelas oleh indera penciuman nya. Dituntaskannya panggilan alam yang sedari tadi mendesak dirinya hingga mengganggu kenyamanan tidurnya.
"Ini shampoo nya tumpah atau bagaimana? Menyengat sekali baunya." Gumam Satya mendekati letak shampoo.
Botol shampoo itu masih utuh di tempatnya hanya saja tutup nya yang terbuka. Satya mengerutkan kembali hidungnya akibat aroma shampoo yang sangat menyengat menurutnya.
"Astaga kenapa aroma shampoo ini wanginya terlalu menyengat seperti ini." Gumam Satya lirih.
Ditutupnya tutup botol shampoo lalu dirinya kembali keluar dari kamar mandi. Satya merasa sangat gerah hingga dirinya memutuskan untuk mandi di waktu subuh.
"Siyalan. Dingin sekali." Gumam Satya saat tubuhnya terguyur air dingin dari shower.
Sampai di dalam kamarnya, Satya bergegas mengambil pakaiannya secara lengkap. Tubuhnya merasa kedinginan, jaketnya yang tebal kini sudah menempel di tubuh atletis pria itu.
Tirai jendela yang menutupi kaca kamar Belva disibakkan sedikit demi mengintip kondisi yang ada diluar. Masih gelap, ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya kini harus segera di realisasikan oleh pria tampan itu.
Baru beberapa jam Belva tertidur dirinya sudah terganggu dengan suara aneh yang tertangkap oleh pendengaran nya hingga mau tak mau Belva terpaksa membuka mata.
Sreeekkk... Greeekk... Greeekk...
"Suara apa itu?" Batin Belva.
Bulu kuduknya merinding mendengar suara tersebut. Tak berselang lama, ponselnya yang ada di atas nakas samping. Dengan perasaan yang sedikit deg-degan karena bercampur rasa takut Akib suara aneh yang sempat di dengarnya tadi.
"Noella?" Gumam Belva menatap layar ponselnya.
Penasaran Belva mengangkat panggilan itu, ekspresi Belva terkadang sedikit berubah-ubah saat mendengarkan suara yang ada di seberang sana. Perbincangan itu cukup lama terjadi, terlihat sangat serius. Selesai dengan panggilan itu Belva tampak berpikir, memikirkan apa yang baru saja diperbincangkan dengan Noella tadi.
Panggilan alam pun juga mendesak Belva untuk pergi ke kamar mandi. Seluruh pakaiannya entah pergi ke mana. Dilihatnya sisi samping ranjang baru Belva menyadari jika suaminya sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Mas Satya ke mana?" Mata Belva memindai setiap sudut kamarnya.
Diliriknya jam di dinding, sudah jam lima pagi. Dirinya akan mencari suaminya setelah menuntaskan panggilan alam. Ia sedikit berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa selimut.
"Loh kok basah? Mas Satya habis mandi?" Gumam Belva.
Diabaikan sejenak lantai kamar mandi yang telah basah tersebut. Ia melakukan tujuan awalnya, melihat lantai sudah basah tentu saja dirinya sudah jelas mengira bahwa suaminya telah mandi. Belva pun memutuskan untuk mandi, ia tak mungkin bisa tidur kembali. Pembicaraannya dengan Noella tadi menambah daftar sebagai salah satu masalah penting dalam pikirannya.
Selesai dengan kegiatannya membersihkan diri, Belva keluar dari kamar mandi. Saat keluar kembali dirinya baru menyadari sofa yang ada di ruangannya telah tiada.
"Loh, ini Sofanya juga ke mana?" Gumam Belva.
Dengan bathrobe yang dikenakannya Belva berjalan mendekati pintu yang terletak ke arah balkon. Pintu itu terbuka langit terlihat sedikit terang saat ini.
"Hah? Astaga... Kenapa Sofanya bisa sampai di sini?" Lirih Belva.
"Sayang." Panggil Satya. Belva sedikit terkejut.
"Hah! Mas, kamu membuatku terkejut." Ucap Belva sedikit kesal akibat rasa terkejutnya.
"Mas, apa yang sedang kamu lakukan di sini."
"Push up." Jawab Satya dengan santai.
Rupanya Satya sedang melakukan push up olahraga yang sudah biasa bagi pria tampan itu untuk membentuk otot-otot tubuhnya.
"Kamu sudah mandi, sayang?"
Pembicaraan yang tidak nyambung sama sekali. Satya justru melontarkan pertanyaan untuk istrinya sedangkan pertanyaan sang istri belum dijawabnya.
"Sudah. Mas jawab pertanyaanku."
"Pertama, mas pingin saja push up di belakang sofa. Kedua, mas butuh sofa ini untuk melihat matahari terbit dari balkon ini sayang."
Satya langsung menarik tangan istrinya dan mereka duduk di sofa.
"Mas, aku harus ganti baju dulu."
"Sudah pakai ini saja, kita lihat matahari terbit dari sini."
Satya tak membiarkan istrinya pergi, di peluk erat pinggang istrinya. Beberapa kali Satya pun mengecup pipi Belva dengan sayang dan gemas.
"Ck... Mas, kamu kira-kira dong kalau cium pipi aku, sakit loh mas." Gerutu Belva, ia memprotes apa yang suaminya lakukan.
"Mas, gemas sama kamu yank. Tidak usah berlebihan sakit mana mas cium sama mas gempuran dari mas?"
"Ish... Mesum banget sih." Gerutu Belva.
"Biar, sama istri sendiri tidak apa-apa asal jangan sama istri orang."
"Awas saja berani macam-macam, aku awetkan itu barang langka kamu, biar bisa di pajang di museum barang antik."
"Kamu kejam sekali, sayang. Mas juga tidak akan berani melakukan hal itu. Kamu itu sudah paket komplit plus plus untuk mas."
Sembari mengatakan itu tangan Satya ternyata tidak diam begitu saja. Tangan kekar itu menyusup masuk ke dalam bathrobe yang Belva kenakan.
"Plus plus kaya ukuran kamu sekarang, sayang."
"Ahh... Mas!! Kamu ya... Tangannya dikondisikan dong." Ucap Belva geregetan.
"Mana bisa dikondisikan kalau sudah begini." Ucap Satya yang terus bermain di perbukitan berkerikil itu.
Ada rasa hangat yang Belva rasakan pada bagian itu, kepiawaian tangan suaminya tak bisa diragukan lagi. Beberapa kali dirinya harus menahan agar tidak melepaskan suara sakral.
"Ekhem... Mas ada yang ingin aku bicarakan, ini serius."
"Apa?" Tanya Satya cuek karena masih sibuk sendiri.
"Tadi Noella menghubungi ku, ini mengenai bayi Alya."
Seeett... Langsung pergerakan Satya terhenti seketika. Jika berkaitan dengan bayi Alya itu tandanya pembicaraan itu serius.
"Sayang, bisakah kita bicarakan nanti saat setelah acara pernikahan Marko?" Ucap Satya.
"Hemm, iya ada baiknya seperti itu. Akan terasa tidak nyaman jika kita berada di acara pernikahan Marko tapi pikiran kita jauh dari acara tersebut." Ucap Belva.
__ADS_1
Satya mengecup kepala istrinya. "Kita sekarang lihat matahari saja. Itu sudah mulai terbit."
Keduanya duduk di sofa dengan saling berpelukan. Manik mata mereka menatap lurus ke arah langit di mana matahari itu terbit.
"Bagus ya mas?"
"Iya, makanya mas pingin lihat. Di Jakarta kita jarang bisa melihat matahari terbit. Kita terlalu sibuk, yank."
"Iya mas benar." Ucap Belva sembari menatap suaminya.
"Eh mas, kok wajah kamu pucat?" Tanya Belva.
"Masa, yank? Mas hanya kelelahan saja kan kemarin kita baru sampai. Istirahat belum cukup juga." Ucap Satya.
"Iya lah belum cukup, orang malam itu harusnya tidur tapi mas justru tidak tidur." Cibir Belva.
Satya terkekeh, dia tahu ke mana arah pembicaraan istrinya. Belva pikir memang benar mereka kurang istirahat.
"Acara jam berapa, yank?"
"Jam 9 tapi sepertinya aku harus berangkat lebih awal untuk membantu Azura memakai gaunnya."
"Kan sudah ada pihak penata rias pengantin nya, sayang."
"Azura yang memintaku, mas. Jadi aku tidak bisa menolak."
"Baiklah, kita pergi sama-sama saja nanti." Ucap Satya.
Pria itu mencoba memahami dan mengikuti saja kemauan dan apapun yang istrinya lakukan selama masih wajar dan masih bisa diterima olehnya. Satya akan selalu berusaha membahagiakan istri tercintanya sekecil hingga sebesar apapun itu yang Belva mau.
Pagi hari ini terlihat rumah Tuan Hector sedikit sibuk karena mereka mempersiapkan diri untuk menghadiri pernikahan Marko dan Azura. Satya dan Belva berangkat lebih awal yakni pukul tujuh. Satya tak membiarkan istrinya pergi sendiri, wajah Belva semakin hari semakin cantik hingga membuatnya semakin jatuh cinta dan itu membuat Satya takut jika ada pria yang lebih muda darinya mampu meluluhkan hati istrinya.
Duo Kay tak ikut berangkat lebih awal karena Oma mereka yang menahan mereka dengan cara-cara cerdik yang Nyonya Hector lakukan.
"Sayang, ayo cucu-cucu Oma makan dulu." Ajak Nyonya Hector.
"Oma, kenapa harus makan? Di sana kan nanti banyak makanan." Ucap Kaila dengan polosnya sesuai bayangan yang ada di otaknya.
Pernyataan Kaila mampu membuat Tuan dan Nyonya Hector terkekeh.
"Kaila sayang, kita harus makan karena acara pemberkatan pernikahan akan sedikit lebih lama. Nanti kamu sakit perut, jika kamu makan lebih dulu di gedung nanti takut jika gaun cantik mu akan kotor. Jadi, sekarang kita sarapan dulu biar Oma yang suap, biar tidak berantakan dan mengotori gaunmu."
"Oh, oke Oma." Jawab Kaila singkat setelah mendengarkan penjelasan cukup panjang dari Omanya.
"Pasti nanti Kaila makan banyak lagi di sana " celetuk Kaili yang sudah tahu akan sifat kembarannya yang doyan makan.
"Biar saja, makanan di gedung aunty Azura nanti pasti banyak makanan enak." Ucap Kaila.
"Sudah. Ayo boy kita sarapan." Ucap Tuan Hector.
"Oke Opa." Jawab Kaili.
Kaila disuapi oleh Nyonya Hector dengan telaten, Kaili makan sendiri karena memang memilih untuk makan sendiri.
Satya dan Belva yang sudah sampai gedung hotel di mana acar pernikahan akan dilaksanakan. Satya kini berada di kamar hotel khusus untuk mempelai pria.
"Ekhem." Deheman Satya mengalihkan pandangan Marko yang tengah menatap keluar kaca jendela.
"Kak? Kamu datang juga, ku kira kalian tidak akan datang di acara pernikahan ku."
"Sudah saya katakan bukan saat kita berada di restoran waktu lalu jika saya akan meluangkan waktu untuk datang ke acara pernikahan mu."
Marko tersenyum, "Terimakasih kak"
Marko memeluk Satya, pria calon pengantin itu merasa senang akan kehadiran Satya yang pernah memberikan bogem mentah untuknya. Satya sudah dianggapnya seperti saudara laki-lakinya. Marko anak tunggal jadi dirinya merasa memiliki seorang kakak.
Tepukan ala laki-laki Satya berikan saat Marko memeluknya. Kehidupannya berubah drastis setelah menikah dengan Belva. Tak se-kaku dan sedingin dulu.
"Bagaimana perasaanmu, hari ini kamu akan sah menjadi seorang suami." Ujar Satya dengan senyum tipisnya.
"Aku merasa deg-degan. Aku gugup kak." Jawab Marko.
Kembali tepukan Satya berikan di bahu Marko.
"Berusahalah tenang, semua akan berjalan dengan lancar. Ganti perasaan gugup mu dengan perasaan berani, bayangkan jika Azura pada hari ini akan diambil oleh orang lain, maka kamu harus segera mengambil tindakan untuk menikahi nya." Pesan Satya pada Marko agar pria itu tak larut dengan perasaan gugup tapi justru semakin yakin dan berani saat acara berlangsung nanti.
"Tidak, jangan sampai Azura dibawa oleh orang lain. Di hanya milikku." Ucap Marko.
"Tenanglah dan tunjukkan keberanian mu." Ucap Satya. Marko mengangguk.
Di sisi lain, kamar khusus pengantin wanita pun sama. Terlihat wajah cantik yang sudah dirias oleh MUA profesional itu sedikit tegang.
"Apa kamu tegang, Zura?" Tanya Belva.
"Iya, aku tegang. Ini acara sekali seumur hidupku."
"Aku tahu bagaimana perasaan mu karena aku juga pernah mengalaminya. Ayo aku bantu pakaikan gaunmu."
"Baiklah, ayo."
Belva dibantu pegawai MUA memakaikan gaun pengantin yang sangat elegan dan mewah itu untuk Azura. Sedikit sulit memang karena gaun yang besar khas untuk acara-acara yang glamor dan mewah. Meski mereka.menyebutnya sederhana tapi bagi orang lain terlihat mewah.
"Kamu cantik sekali, Zura." Puji Belva.
"Terima kasih, Van. Ini berkat bantuan mu dan Kaila. Aku sangat bangga bisa memakai Guan rancangan gadis kecilmu itu."
Azura tersenyum bahagia menatap cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya dari bawah sampai atas.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Simak terus ya guys kelanjutan ceritanya, muterΒ² dulu gpp ya hahaha buat menguji kesetiaan kalian wkwkwk.
__ADS_1
Thanks banget buat kalian yang masih setia support author, buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian terimakasih banyak. πππ
Masih author pantau yess setiap hari yang masuk ke rangking 3 besar. Nantikan kejutan kecil dari author di akhir bulan jika dalam waktu 1 bulan ini view novel author tembus 1jt. π€ππ