Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 169. Detik-Detik Nasib Bayi Malang


__ADS_3

Setiap kehidupan pasti selalu berjalan beriringan antara ketenangan hidup dan juga permasalahan hidup. Akan menjadi masalah besar jika kita tak dapat menyikapi dengan baik, terlalu panik dan menggunakan emosi. Tapi akan menjadi masalah kecil jika kita menyikapi dengan tenang dan pikiran yang dingin.


Permasalahan di perusahaan Bala Corp sedikit menemukan jalan. Ide yang tak sengaja putranya ucapkan mampu membuka jalan pikiran Satya untuk menyelesaikan permasalahannya. Memang belum tahu bagaimana nanti hasilnya tapi setidaknya mereka akan mencoba terlebih dahulu.


Ide tersebut saat ini sedang didiskusikan oleh Satya dan Jordi di ruangan Satya. Mereka ingin merencanakan hal ini dengan matang untuk memancing siapa orang yang menjadi dalang dibalik penggelapan dana mereka.


"Ini bisa kita coba tidak ada ruginya menurut saya, Tuan."


"Iya, saya sengaja memikirkan hal ini setidaknya jika gagal kita tidak rugi dalam menyusun rencana ini." Ucap Satya.


"Kapan semua ini akan dimulai, Tuan?" Tanya Jordi.


"Oke, kita mulai dengan membuka lowongan untuk pengganti karyawan bagian pengadaan barang."


"Baik, Tuan saya akan segera berkoordinasi dengan bagian HRD untuk pembukaan lowongan."


"Bagus, nanti saat interview jangan menampakkan diri. Biarkan orang HRD yang mengurusnya kita hanya perlu memantau dibalik layar saja." Ucap Satya.


"Siap, Tuan. Lalu selanjutnya bagaimana lagi, Tuan?"


"Selanjutnya, kita tunggu putraku menyelesaikan pekerjaannya." Jawab Satya.


Jordi memperhatikan Satya dengan tatapan serius dan ingin tahu.


"Tuan kecil ikut dalam rencana ini?" Tanya Jordi.


"Ya... Secara tidak langsung putraku ikut terlibat. Ingat dengan desain resort yang ada di Bali itu? Itu adalah desain yang dirancang sendiri oleh putraku."


Jordi seketika menegangkan punggungnya saat mendengar penuturan bos-nya.


"Anda yakin? Ini tidak mungkin." Ucap Jordi.


"Awalnya saya tidak percaya dengan apa yang saya temukan tapi ini memang benar-benar terjadi. Saya melihatnya sendiri, putraku benar-benar berbakat dalam hal ini."


Satya mengetahui saat dirinya membuka tablet PC milik putranya tapi satu hal besar yg belum dirinya ketahui dengan pasti bahwa arsitektur andalah perusahaan Hector adalah memang benar-benar Kaili Kennard.


"Bagaimana anda bisa tahu, Tuan?"


"Saya tidak sengaja melihatnya secara langsung di tablet PC milik putraku."


"Bagaimana jika desain itu milik orang lain. Maksud saya milik orang-orang yang ada di sekitar Tuan kecil. Mengingat Tuan kecil tidak hanya hidup bersama Nyonya Belva saja tapi melainkan bersama Tuan Hector dan Tuan Roichi yang juga berkecimpung dalam dunia properti." Ujar Jordi.


Satya tampak berpikir atas apa yang diucapkan oleh asistennya. Apa yang diucapkan Jordi memang bisa saja terjadi tapi perkataan Jordi dapat dipatahkan oleh Satya dengan keyakinannya.


"Apa yang kamu katakan memang bisa saja terjadi. Tapi perlu kamu ketahui Jordi bahwa saya melihat secara langsung bagaimana putraku menggoreskan pensil nya dalam setiap garis demi garis di atas kertas."


"Jika kamu melihatnya secara langsung, Kaili dapat melakukan hal itu dengan baik sama seperti orang dewasa melakukan nya. Dia sangat tertarik dengan segala macam yang berhubungan dengan bangunan, rumah ataupun gedung-gedung." Imbuh Satya.


Kening Jordi sedikit mengerut, hampir saja kedua alisnya saling bertubrukan. Rasanya masih belum percaya jika anak sekecil Kaili mampu melakukan hal serumit itu terlebih untuk sebuah bangunan besar yang digarap oleh perusahaan besar seperti Bala Corp.


"Saya yakin kamu masih ragu sama seperti saya tapi kamu perlu melihatnya secara langsung. Istriku benar-benar luar biasa mendidik dan mengarahkan mereka menekuni bakat yang mereka miliki."


"Saya memang belum percaya seratus persen, Tuan. Tapi saya tetap akan melihat bagaimana hasilnya nanti. Anda tahu Tuan Kaili masih sangat kecil, tentu beberapa orang akan merasa ragu." Ucap Jordi.


"Ya saya tahu itu, tapi kita lihat saja nanti. Saya yakin kamu akan tercengang melihat hasil karya putraku." Ujar Satya.


Jika Satya sudah sibuk di kantor nya maka demikian juga dengan Belva yang masih berkeinginan untuk bekerja di butiknya. Satya sudah melarang istrinya itu tapi tetap saja Belva memaksa dengan berjanji bahwa semua akan baik-baik saja. Belva tahu bagaimana menjaga dirinya dan juga bayi dalam kandungannya.


"Nona, ini sudah hampir waktunya si kembar pulang. Saya ijin untuk menjemput mereka lebih dulu." Ucap Bella.


"Biar aku saja yang menjemputnya, Bella."


"Maaf Nona, Tuan Satya tidak mengijinkan. Tadi pagi beliau berpesan pada saya agar Anda tetap berada di sini dan menyerahkan penjemputan si kembar pada saya."

__ADS_1


"Ck... Baiklah. Pergilah jemput anak-anakku. Biar aku yang di sini." Ucap Belva pasrah.


Belva tahu jika dirinya mengabaikan perintah dan keinginan sang suami pasti nanti akan berujung perdebatan. Satya akan marah pada dirinya karena tidak mematuhi perkataan Satya sebagai suaminya.


Belva memang wanita yang tergolong mandiri dalam beberapa hal. Sudah terbiasa melakukan segala hal sendiri, berusaha tak merepotkan orang lain. Tapi saat ini berbeda kondisinya, dirinya tak lagi sendiri tapi sudah ada sang suami yang siap melindunginya dan bersedia melakukan apapun untuknya. Apa yang diperintahkan Satya, ia tahu jika semua itu adalah demi kebaikan dirinya dan juga anak-anaknya.


Sebagai seorang istri, Belva belajar dan berusaha mematuhi segala hal yang satya perintahkan. Ia tahu suaminya tidak akan mengatur dirinya secara berlebihan hingga mengabaikan hak dan keinginannya sendiri.


Bella telah pergi menjemput Duo Kay, saat ini Belva masih berada di dalam ruangannya. Saat dirinya merapikan beberapa lembar kertas desain miliknya, bunyi dering ponsel miliknya terdengar nyaring.


"Noella..." Gumam Belva


Noella kembali menghubungi Belva, sudah pasti semua ada hubungannya dengan bayi Alya yang saat ini masih diurus oleh Noella dan Jack. Belva mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Noella?"


"Hallo, Nona Belva. Maaf mengganggu waktu mu, apakah kita bisa bertemu?" Tanya Noella.


"Ada apa? Apa ini mengenai bayi Alya?" Tanya Belva.


"Anda benar, kita harus membicarakan ini.saya takut masalah ini akan menjadi lebih besar jika saya tak mendapatkan solusi."


"Baiklah, tapi jika mengenai bayi Alya. Saya tidak bisa bertemu denganmu sendiri, saya harus menunggu suami saya terlebih dahulu agar kita sama-sama mendapat solusi terbaik."


"Baiklah, kapan kita bisa bertemu, Nona?" Tanya Noella.


"Nanti saya akan mengajarimu kembali. Mungkin nanti agak sore setelah jam pulang kantor, apakah tidak masalah?" Tanya Belva.


"Baiklah tidak apa. Saya menunggu kabar dari anda, Nona."


"Iya, baiklah nanti saya akan segeranya mengabari mu."


"Terima kasih, Nona." Ujar Noella.


Panggilan terpusat dari Noella setelah percakapan mereka selesai. Belva kembali berpikir atas permasalahan bayi Alya. Sebenarnya tak masalah jika dirinya dan Satya yang merawat bayi itu tapi apakah Jack sebagai seorang Ayah tidak memiliki keinginan kuat untuk mempertahankan bayi itu.


Belva tersentak kaget saat satu suara tiba-tiba mengisi ruangannya yang cukup sunyi.


"Mas? Kok kamu ada di sini?" Tanya Belva.


Tanpa Belva duga, suaminya datang ke butiknya. Ia pikir Satya sangat sibuk setelah kembali dari Paris karena pekerjaan yang menumpuk.


"Kamu tak melihat sekarang jam berapa?" Ucap Satya.


Belva menatap pergelangan tangannya sesaat.


"Jam sebelas. Kenapa mas di sini?"


"Tentu saja untuk makan siang dengan sitri dan anak-anak, mas."


"Tapi ini belum jam makan siang, mas."


"Sudah mendekati, hanya kurang satu jam sama saja kan." Ucap Satya santai.


Belva menggelengkan kepalanya, heran tak heran melihat sikap suaminya yang terkadang serius dalam pekerjaan tapi juga terkadang terkesan begitu santai.


"Mau makan di mana?" Tanya Belva.


"Di rumah, boleh. Kay mana, sayang?"


"Masih di jemput Bella. Mungkin sebenar lagi sampai."


"Baiklah kita tunggu mereka baru kita pulang." Ujar Satya.

__ADS_1


"Ohh iya, kamu tadi kenapa melamun, sayang?" Tanya Satya.


"Noella baru saja menghubungi ku. Meminta untuk bertemu membahas bayi Alya."


"Kapan?" Tanya Satya.


"Aku katakan padanya nanti sore saat pulang kantor." Jawab Belva.


"Setelah kita makan siang, kita atur pertemuan dengannya." Ucap Satya memberikan keputusan.


"Mas tidak ke kantor lagi?"


"Urusan ini lebih penting, sayang. Kantor biar Jordi yang mengurusnya sementara waktu."


"Oke, nanti aku akan menghubungi noelly kembali."


Bella datang bersama Duo Kay, kedua bocah itu berjalan dengan menggendong tas punggung mereka. Seragam ala anak TK membuat mereka terlihat menggemaskan. Rambut panjang Kaila yang semula rapi saat berangkat ke sekolah kini sudah cukup berantakan. Mereka berjalan dengan digandeng oleh Bella.


"Mamii... Daddy..." Panggil Duo Kay saat memasuki ruangan Belva.


"Sayang, kalian sudah sampai?" Ucap Satya.


Duo Kay berlari menghampiri Daddy mereka. Satya menyambut dengan pelukan hangat untuk kedua anaknya.


"Bagaimana sekolah kalian hari ini hemm?" Tanya Satya.


"Baik-baik saja. Hari ini ada anak baru tapi berbeda kelas dengan kita. Iya kan Kaili." Ucap Kaila.


"Iya ada anak baru." Jawab Kaili.


"Sayang, kita pulang ya. Daddy mengajak kita untuk makan siang bersama." Ucap Belva.


"Oke Mami." Jawab Kaili.


"Yeeee... Makan di rumah bersama Daddy." Ujar Kaila girang.


"Bella, kamu mau ikut pulang?" Tanya Belva.


"Tidak, Nona. Saya istirahat di sini saja."


"Baiklah, ayo mas... Anak-anak ayo pulang." Ajak Belva.


Keluarga kecil itu bergerak untuk keluar dari ruangan Belva.


"Tidak usah keluar, nanti akan ada yang kirim makanan untukmu." Ujar Satya sebelum benar-benar keluar dari ruangan Belva.


Bella menatap penuh tanya tapi Satya tak menjawab tatapan penuh tanya tersebut. Satya bersama keluarga masuk ke dalam mobil bersiap untuk pulang ke rumah mereka.


Dalam perjalanan sebelum sampai di butik Belva Satya sudah menghubungi Mbok Yati bahwa mereka akan makan siang di rumah. Selama menjalankan perannya sebagai suami dan ayah bagi dua anak kembarnya Satya benar-benar menikmati kehidupannya saat ini.


Sampai di rumah ternyata semua makanan sudah terhidang di atas meja. Satya kembali membantu sang istri mengurus anak kembarnya mengganti pakaian lalu mereka makan siang bersama. Suasana terasa hangat dan harmoni saat mereka berkumpul bersama. Dulu Satya tak pernah mau berbicara di meja makan tapi semua berubah saat kehadiran Duo Kay.


Seperti rencana sebelumnya, setelah makan siang Satya dan Belva bertemu dengan Noella di sebuah cafe. Rupanya Noella sudah lebih dulu menunggu di salah satu meja yang bersifat private room. Mereka akan membicarakan mengenai nasib bayi malang Alya.


****


To Be Continue...


Bagaimana nih nasib bayi Alya?? Jadikah Satya dan Belva merawat bayi Alya? mengingat masih asa Jack loh...


Thanks buat support kalian sampai saat ini, thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏


__ADS_1


Sebenarnya author mau bagi² kejutan cuma di ranking ke 2 itu ada nama author jadi mohon maaf kita undur beberapa hari dulu yaa buat kalian biar bisa geser author maklum siapa lagi yg mau dukung novel receh ini klo bukan diri sendiri 😅😅🙏🙏


Semangat!!! sehat selalu dan bahagia selaluuu buat kalian eh kita semua Ding hihi


__ADS_2