Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 186. Welcome Home Baby As


__ADS_3

Di bumi ini banyak sekali manusia yang berjibaku melakukan aktivasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Bekerja, bersenang-senang dan masih banyak lagi. Setiap orang memiliki kepentingan sendiri-sendiri.


Seorang pria yang masih misterius belum menampakkan diri karena merasa belum tepat waktunya kini menggunakan kesempatan dari jabatannya untuk kepentingannya sendiri. Memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal-hal yang dibisa dikatakan masuk dalam tindakan kriminal.


"Cepat lakukan perintahku dengan benar atau anak dan istrimu akan menanggung ketidak-becusanmu ini."


"Bos, jangan libatkan istri dan anak saya. Saya mohon, saya akan melakukan perintah anda maaf kemarin ada suster yang memergoki saya. Rumah sakit itu sangat ketat penjagaannya."


"Bo*doh, gunakan identitas mu untuk masuk ke dalam rumah sakit itu dan carilah alasan yang masuk akal. Kenapa begitu saja kamu tidak becus."


'Sama saja bunuh diri namanya, dia tidak memikirkan bagaimana nasibku. Siyalan.' Gumam anak buah pria itu dalam hati.


Meski jengkel dan kesal tapi dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Kalah jabatan membuatnya tak bisa menolak ataupun lari begitu saja terpaksa mau tak mau harus mengikuti perintah bos-nya itu. Mulai dari ancaman akan keselamatan keluarga hingga turun jabatan membuat pria itu merasa lebih baik menurut saja.


"Besok saya akan kembali ke rumah sakit itu dan membawanya kepada anda, bos."


"Saya tidak mau tahu secepat kamu bawa bayi itu kepadaku. Anak Alya harus bisa kudapatkan, bukan wanita dan pria siyalan itu yang harus mengurusnya, meski dia adalah ayah dari bayi Alya."


Hanya anggukan kepala saja yang bisa anak buah itu lakukan. Dia mulai berpikir keras bagaimana caranya menembus rumah sakit yang memiliki penjagaan cukup ketat itu.


"Malam, ini kamu kembali ke sana dan dapatkan bayi itu. Saya tidak mau tahu kamu kembali harus membawa hasil."


"Baik, bos."


"Pergilah." Perintah seorang pria yang masih memiliki hubungan darah dengan Alya yang tak lain adalah ayah kandung Alya.


Sore sudah mulai beranjak, matahari perlahan tenggelam menyembunyikan eksistensinya. Cahaya yang menghangatkan itu perlahan akan berganti dengan terang yang bersinar di tengah kegelapan.


Keluarga kecil Satya sudah sampai di rumah besar dan mewah mereka. Satya keluar lebih dulu untuk membukakan pintu bagi istrinya yang saat ini menggendong baby As, bayi mungil yang kini sudah menjadi anak mereka secara sah dihadapan hukum.


"Pelan-pelan, sayang."


"Iya, mas terima kasih."


Satya beralih membantu membukakan pintu untuk Duo Kay yang sudah tidak sabar keluar. Keduanya sangat antusias dengan kedatangan baby As di rumah mereka. Bahkan dalam perjalanan tadi mereka sering mengabaikan nasehat kedua orang tuanya untuk duduk dengan tenang. Di dalam perjalanan pun mereka sibuk membahas jika mereka akan menjaga baby As dan tidur di kamar baby As untuk menemani bayi mungil itu.


"Mami, mau lihat." Ujar Kaila mendongak pada Mami nya dan mengulurkan tangan untuk meraih baby As.


"Iya kita lihatnya di dalam saja ya ini sudah sore, kasihan baby As."


"Mamiiii..." Rengek Kaila.


"Kita masuk dulu, sayang." Ajak Satya.


"Aku mau lihat baby As, Daddy gendong."


Daripada ribut terus menerus Satya mau tak mau harus mengangkat Kaila dan menggendongnya agar bisa melihat baby As.


"Kok Kaila digendong, aku juga mau lihat." Protes Kaili.


"Ya sudah sini, kakak Ken di belakang ya."


Satya menurunkan Kaili sejenak lalu duduk membungkuk agar Kaili bisa menaiki punggungnya. Setelah itu dirinya berdiri dengan tangan kanan menggendong Kaila.


"Aduh, putri Daddy ini semakin lama semakin berat saja." Keluh Satya sedikit menggoda Kaila.


"Iya Kaila kan banyak makan." Ujar Kaili.


Kaila tak menggubris kedua pria berbeda generasi itu, fokusnya kini tertuju pada baby As yang masih terpejam di dalam dekapan hangat Belva.


Pak Jajak yang melihat Belva menggendong bayi kecil pun seidkit bertanya-tanya karena para pekerja yang ada di rumah Satya belum mengetahui jika bayi Alya kini sudha sah menjadi anak Satya dan Belva.


"Itu neng Belva gendong bayi siapa?" Gumam Pak Jajak.


"Kenapa Pak?" Tanya Amir satpam rumah Satya yang berusia lebih muda. Mungkin usianya tak jauh berbeda dari Belva hanya lebih tua beberapa tahun saja.


"Itu si neng Belva gendong bayi siapa ya?"


Amir ikut memperhatikan keluarga majikannya, Nyonya mudanya memang benar tengah menggendong bayi dirinya pun tak tahu dan ikut merasa penasaran.


"Tanya saja langsung daripada penasaran." Ujar Amir.


"Ah nanti saja, masa saya datang ke sana langsung tanya-tanya bisa dipecat nanti karena tidak sopan."


"Haha ya sudah nanti tanya saja pada wanita-wanita yang ada di dalam sana pasti mereka nanti tahu."


"Nah itu baru benar kamu, Mir."


Belva dan Satya berjalan beriringan karena kedua anak kembar mereka ingin terus melihat baby As. Janis yang mengetahui kedatangan majikannya karena suara klakson mobil yang selalu berbunyi saat memasuki gerbang rumah pun langsung berjalan cepat untuk membukakan pintu.


"Selamat sore, Tuan... Nyonya..." Sapa Janis.


"Sore, Mbak Janis." Jawab Belva yang selalu ramah pada semua asisten rumah tangganya.


Janis menatap bayi yang ada digendong Belva, sama seperti Pak Jajak dan Amir penasaran bayi siapa itu. Kemarin memang ada beberapa barang-barang keperluan bayi yang turun di rumah Satya dan ada renovasi untuk kamar bayi, tapi mereka mengira itu adalah kamar untuk persiapan bayi yang ada di kandungan Belva.


"Mbak, ikut kami ke atas ya." Pinta Belva karena ia tahu akan tatapan penasaran dari Janis.


"Oh iya, Nyonya."


Satya dan Belva kembali melangkah memasuki lift dengan diikuti oleh Janis berada di belakang mereka. Janis hanya mendengar Duo Kay yang terus memanggil nama baby As saja.


Sampai di lantai dua, Belva dan Satya serta Duo Kay yang diikuti oleh Janis mereka masuk ke dalam kamar bayi yang sudah direnovasi dan di susun rapi.


Box bayi berbahan dasar kayu bercat putih itu pun menghiasi kamar baby As. Tembok dengan aneka ornamen bergambar astronot dengan latar warna biru tua dan kuning juga mempercantik sebagian tembok kamar.


Belva meletakkan baby As di atas ranjang. Duo Kay langsung berebut untuk turun dari gendongan Satya lalu naik ke atas ranjang.


"Sayang, hati-hati nanti adiknya bangun." Ucap Satya mengingatkan Duo Kay.


Kedua anak kembar itu duduk membungkuk di samping kanan dan kiri baby As. Mereka memandangi baby As dan tersenyum gemas melihat bayi mungil itu.


"Haha lucu Kaili lihat hidungnya kecil sekali." Ucap Kaila.


"Iya hidungku juga kecil tapi dia lebih kecil lagi." Ujar Kaili dengan menyentuh hidungnya.


Kaili pun beralih menyentuh hidung Kaila, "Hidung kamu juga kecil sama seperti hidungku."


Kedua bocah itu sibuk dan asik sendiri mengomentari bagian tubuh baby As yang serba kecil di mata dua bocah kembar itu.


"Nyonya, ada apa ya menyuruh saya ke sini, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Janis. Tatapan matanya masih melirik ke arah baby As.


"Duduk dulu, Mbak. Ada yang ingin kami sampaikan." Pinta Belva.


Janis pun duduk di sofa yang tak jaub dari ranjang baby As karena memang sengaja letak sofa di letakkan dekat dengan ranjang. Belva ikut duduk di sofa panjang tersebut bersama Janis. Satya duduk di pinggir ranjang baby As.


"Mbak Janis pasti bertanya-tanya siapa bayi itu, benar kan?" Tanya Belva


Janis mengangguk membenarkan pertanyaan Belva.


"Bayi itu namanya Ajisaka Alexi." Ucap Belva pada Janis.


"Ajisaka Alexi Balakosa, Mam." Satya mengkoreksi nama baby As yang tidak disebutkan dengan lengkap oleh Belva.


Belva tersenyum dan mengangguk saat menatap Satya lalu beralih menatap Janis.


"Dia anggota keluarga baru di keluarga Balakosa. Dia menjadi anak ke tiga kami, Mbak." Ucap Belva menjelaskan.


"Anak ketiga? Maaf Nyonya kenapa mengadopsi bayi itu bukankah Nyonya sedang hamil saat ini dan sudah ada Tuan kecil dan Nona kecil. Maaf jika pertanyaan saya terlalu lancang, Tuan... Nyonya..."


"Janis, kamu sudah cukup lama bekerja di sini dan telah mengenal Alya, bukan?" Ucap Satya.


"Benar, Tuan." Jawab Janis.


"Kamu juga pasti sudah tahu jika Alya telah meninggal karena pendarahan. Ini anak Alya, saya dan istri saya lah yang menjadi wali atas anak Alya. Jadi, lebih baik kami mengadopsinya agar sah di mata hukum."

__ADS_1


Janis baru mengerti mengenai siapa bayi itu dan kenapa bayi itu berada di rumah besar Satya. Ia mengangguk paham atas penjelasan Satya.


"Iya, mbak maka dari itu aku meminta tolong pada Mbak Janis untuk membantuku merawat baby As, nama panggilan nya adalah baby As." Belva ikut mengungkapkan maksudnya mengajak Janis ikut ke dalam kamar baby As.


"Selama baby sitter belum datang kamu harus membantu istri saya. Kamu tahu sendiri jika saya ini istri saya sedang hamil, saya tidak ingin dia terlalu lelah untuk mengurus baby As." Ujar Satya.


"Baik, Tuan dan Nyonya saya bersedia membantu Nyonya merawat baby As." Janis menerima permintaan Satya dan Belva.


"Bagus, saya juga berharap kamu sebagai orang pertama yang mengetahui hal ini maka jangan ceritakan ini pada siapapun tanpa seijin kami. Tugasmu hanya membantu istri saya mengurus bayi kami."


"Baik, Tuan." Jawab Janis.


Para asisten rumah tangga memang tidak ada yang berani dengan Satya. Jika majukan itu sudah memberikan perintah dan peringatan maka mereka harus mematuhinya agar tetap langgeng dan awet bekerja di rumah besar itu.


"Terima kasih, mbak Janis. Tolong jaga rahasia ini karena demi kebaikan pertumbuhan baby As. Jangan ada di rumah ini yang mengatakan dia hanyalah anak angkat, anak adopsi atau apapun itu. Aku tidak akan menerima siapapun melukai hatinya."


"Baik, Nyonya saya akan menjaga rahasia ini."


"Sekali lagi terima kasih, Mbak. Mulai hari ini tugas Mbak Janis khusus membantu saya merawat baby As untuk pekerjaan lain biar mbak-mbak lain yang mengurusnya."


Janis mengangguk setuju, ia tak menolak sama sekali. Apapun pekerjaan yang harus dia kerjakan di rumah besar Satya akan ia lakukan dengan senang hati. Beruntung dirinya mendapatkan majikan yang baik dan mengerti keadaannya seperti Satya dan Belva. Berbeda dengan yang dulu saat Satya masih dengan Sonia. Para asisten rumah tangga tidak akan sedekat ini dengan majikan mereka.


"Baik, Nyonya kalau begitu apakah malam ini saya harus tidur di kamar ini untuk menemani baby As atau Nyonya akan membawanya ke kamar anda?"


"Tidak, aku akan tidur di sini nanti menemani baby As."


"Mam, tidakkah nanti biar Janis saja yang menjaganya?" Tanya Satya seakan kurang setuju.


"Tidak, mas. Baby As batu pertama kali berada di sini jadi aku harus menjaganya. Membiasakan diri agar dia merasa nyaman dan terbiasa bersamaku."


"Aku nanti juga mau tidur di sini menemani baby As." Ujar Kaila.


"Aku juga iya tidur di sini." Kaili tak mau kalah.


Belva berjalan mendekati baby As dan mengangkatnya. Ia sudah piawai dalam menggendong bayi karena pengalaman saat Duo Kay masih bayi. Dikecupnya pipi mungil baby As dengan rasa sayang dan kelembutan yang ia miliki.


Satya pun mendekat ke arah istrinya yang kini menggendong baby As hal yang sama juga Duo Kay lakukan, mereka sangat menempel pada bayi itu.


"Welcome Home baby As, anak gantengnya Mami Belva dan Daddy Satya." Ucap Belva lirih mendekat pada telinga baby As.


Satya tersenyum melihat kehangat dan kedekatan yang coba Belva lakukan pada baby As. Tak salah mengambil keputusan saat dirinya akan menikahi Belva dulu, berkali-kali Satya merasa sangat beruntung sekali memiliki istri seperti Belva. Di tengah rasa syukurnya itu rasa bersalah tiba-tiba saja menyelinap masuk ke dalam hatinya atas apa yang dia lakukan di belakang sang istri.


'Aku beruntung memilikimu, sayang. Tapi maaf mas pasti mengecewakanmu.' Ucap Satya dalam hatinya.


Satya berusaha mengendalikan diri agar tak hanyut dalam rasa bersalahnya. Senyum tipis tapi manis itu tersungging pada bibir Satya melihat anak-anak dan istrinya.


"Welcome Home jagoan Daddy." Satya mengecup pipi baby As.


"Sekarang jagoan Daddy ada dua dong, aku dan baby As." Ujar Kaili.


Satya dan Belva tersenyum, "Wah iya tentu saja, kakak Ken dan baby As akan menjadi jagoan Daddy, kalian harus menjadi anak lelaki yang kuat, pemberani dan hebat. Oke." Ujar Satya.


"Oke siap Daddy, nanti kalau sudah besar aku dan baby As yang akan jaga Mami dan Kaila."


"Wah benarkah?" Tanya Belva tersenyum lebar pada putranya.


"Benar, Mami. Mami tenang saja nanti tidak akan ada yang berani jahat sama Mami dan Kaila. Nanti aku hajar orang-orang jahat yang ganggu Mami dan Kaila." Kaili berucap dengan sangat percaya diri.


"Terima kasih, sayang. Sini cium Mami dulu."


Kaili langsung mencium pipi Belva sesuai perintah sang Mami. Kaili sibuk menoel-noel pipi baby As yang lembut dan halus. Bayi itu menggeliat sedikit terganggu oleh aksi jahit Kaila yang gemas dengan baby As.


"Nak, jangan diganggu adiknya biarkan dia tidur." Belva mengingatkan Kaila kembali.


"Hihihi habisnya dia lucu sekali seperti boneka." Ujar Kaila.


Janis melihat kehangat keluarga majikannya itu pun ikut tersenyum. Suasananya rumah besar Satya sangat berubah drastis, dulu sepi dan cukup mencekam menyesuaikan sifat para majikannya yang dingin dan tak berasa. Kini terasa lebih hangat, lebih hidup dan berwarna.


'Neng Belva memang wanita yang berhati malaikat. Baik dan lembut pantas saja Tuan bisa berubah seperti sekarang. Beda dengan yang dulu, Nyonya Sonia terlihat seperti nenek sihir yang menyeramkan. Semoga keluarga ini tetap terus bahagia seperti ini. Jauhkan mereka dari permasalahan yang rumit.' Batin Janis dalam hati. Meski bukan saudara tapi Janis berharap keluarga majikannya tetap terus bahagia dan harmonis jauh dari segala permasalahan rumah tangga yang rumit hingga berujung pada kehancuran rumah tangga.


Sejak kehadiran baby As di rumah, Satya meminta Belva untuk tetap tinggal di rumah menjaga bayi mereka. Belva pun tak keberatan, ia mengikuti perintah suaminya. Pekerjaan yang ada di butik di serahkan pada Bella. Belva pun menceritakan jika saat ini dirinya dan Satya resmi mengangkat bayi Alya menjadi anak mereka. Itulah yang menjadi alasan Belva harus berhenti sementara waktu sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Bella dengan senang hati mengambil alih dan menghandle oekejy yang ada di butik. Meski Belva tak lagi masuk ke butik tapi ia juga masih ikut bekerja dari rumah sembari mengurus baby As.


Satya memilih pulang lebih awal akhir-akhir ini hanya untuk memiliki waktu lebih lama menggendong baby As dan bermain bersama kedua anaknya.


"Hai jagoan, Daddy pulang." Satya masih mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan menenteng jas hitamnya mendekati baby As yang tengah digendong oleh Belva setelah bayi itu di mandikan.


"Mas, bersih-bersih dulu. Baru nanti kami bisa dekati baby As."


"Tapi Daddy mau cium baby As dulu baru mandi deh."


"No, Daddy harus mandi dulu. Bau asem ya dek." Ucap Belva seakan mengajak baby As berbicara untuk menyuruh Satya mandi lebih dulu.


"Iya... Iya... Daddy mandi dulu. Tapi cium Maminya boleh ya dek." Satya langsung mengecup pipi Belva dengan cepat.


"Ih mas mandi dulu deh. Badan kamu itu masih ada kumannya, nanti kalau menempel ke baby As bagaimana?" Ucap Belva setengah protes pada suaminya.


"Iya... Ini mau mandi juga kok. Kay di mana, Mam?"


"Mereka di dalam kamar. Biasa sama hobby mereka, Dad."


"Tidak bosan apa mereka menggambar terus. Katanya mereka mau menemani baby As, kenapa sibuk sendiri."


"Sudah sejak siang tadi pulang sekolah mereka berada di sini menemani baby As setelah mandi baru mereka masuk ke kamar."


"Ya sudah mas mandi dulu, sayang."


"Iya, mas baju gantinya juga sudah aku siapkan di atas ranjang."


"Oke, terima kasih sayang."


Satya keluar kamar baby As menuju kamarnya dan sang istri di lantai tiga. Bergegas Satya membersihkan diri agar lebih cepat kembali ke kamar baby As. Selesai dengan aktivitas memberitahu diri Satya kembali ke kamar baby As dan mengambil alih gendongan bayi itu dari sang Mami.


"Mas, sudah selesai. Cepat sekali."


"Mau gendong baby As, mas kangen sama bocah bayi ini."


Belva menggelengkan kepalanya, Satya tampak berbeda sekali. Terlihat elbih bersemangat dan lebih hangat ketika ada seorang bayi di dalam rumah mereka.


"Gendong Daddy ya, Nak. Mami sudah mandi?" Tanya Satya saat mengambil alih gendongan baby As.


"Belum, mbak Janis sedang keluar jadi aku tidak bisa meninggalkan baby As."


"Ke mana dia?" Tanya Satya.


"Beli susu untuk baby As, kemarin kan lupa belum beli lagi. Persediaan awal kan cuma sedikit untuk mencoba susu mana yang disukai baby As."


"Oh ya sudah Mami mandi dulu biar baby As Daddy yang jaga."


"Oke. Sebentar ya Nak Mami mandi dulu. Sama Daddy baik-baik sayang jangan mengompol."


"Loh tidak pakai pampers ini, yank?"


"Tidak, kasihan kalau pakai pampers terus. Biar bebas dia tanpa pampers."


"Nanti kalau ngompol bagaimana?" Tanya Satya sedikit panik.


"Kalau ngompol ya basahlah, mas. Tinggal ganti popoknya. Tidak usah panik begitu mukanya, mas katanya mau jadi Daddy yang baik. Kalau kena ompol ya tidak masalah kan."


"Tapi kan mas sudah mandi, sayang."


"Tinggal mandi lagi ganti baju lagi. Ini bagaimana Mami boleh mandi atau tidak? Kalau Daddy nya panik begini mana bisa ditinggal mandi." Ucap Belva.


Satya menghela napas, "Iya baiklah... Mandi saja. Daddy bisa menjaganya."


"Oke, terima kasih Daddy." Ucap Belva mengecup pipi Satya.

__ADS_1


Belva pergi ke kamarnya di lantai tiga untuk membersihkan diri. Beruntung bagi Satya selama Belva mandi baby As tidak mengompol karena Belva membersihkan diri lebih cepat. Sejak kehadiran baby As Belva tak bisa berlama-lama dengan dirinya sendiri.


Meski istrinya sudha kembali Satya masih saja bermain dengan bati mungil itu. Mengecup dan memainkan apa saja ang ada pada bayi mungil itu. Dia merasa senang dan merasa seperti seorang pria yang masih muda karena memiliki bayi mungil.


Tiba-tiba waktu berkumpul bersama keluarga itu teejeda oleh sebuah panggilan. Nama Jordi terpampang di layar ponselnya.


"Mas, ini ponselmu berbunyi. Om Jordi menghubungimu."


"Jordi? Kenapa? Coba sini, sayang ponselnya."


Belva memberikan ponsel suaminya agar dapat segera mengangkat panggilan dari Jordi.


"Hallo, Jordi."


"Hallo, Tuan. Maaf mengganggu waktu anda, Siwi terus menghubungi saya, dia mencari anda."


"Ekhem... Oke saya ke ruang kerja dulu. Nanti saya hubungi lagi." Satya langsung memutus panggilan tersebut.


Dirinya tidak ingi pembicaraannya mengenai Siwi terdengar oelh sang istri. Dia tak siap melihat istrinya terluka dan kecewa saat ini terlebih bva saat ini sedang mengandung dan mengurus baby As.


"Ada apa, mas?" Tanya Belva.


"Sayang, maaf kamu gendong dulu baby As. Mas ada urusan pekerjaan sebentar jadi mas harus ke ruang kerja dulu."


"Oh ya sudah mas urus saja dulu pekerjaannya. Sini sayang gendong Mami lagi ya Daddy harus menyelesaikan pekerjaan dulu."


Satya memberikan baby As pada Belva, dia sedikit memaksakan senyumnya untuk sang istri. Lalu bergegas menuju ruang kerja yang masih satu lantai dengan kamar anak-anaknya. Satya masuk dan mengunci pintu dengan rapat agar tidak ada yang menguping pembicaraannya. Kembali Satya menghubungi Jordi, sudah beberapa kali dirinya mengukur waktu untuk menemui Siwi karena saat ini kelurga nya lebih penting.


"Hallo, Jordi. Bagaimana?"


"Siwi sejak tadi terus menghubungi saya mencari Anda. Siwi bilang anda sudah berjanji untuk bertemu dengannya."


"Iya, atur pertemuan kami di hotel Grand Lux sekarang."


"Baiklah, saya akan mengabari Siwi untuk pertemuan kalian, Tuan. Apa perlu saya menjemputnya juga?"


"Iya kamu jemput dia setelah selesai mengurus semuanya, booking president suite room selesaikan semuanya agar pertemuan kami sama-sama nyaman untuk dan untuk Siwi."


"Siap, Tuan akan segera saya urus nanti saya kabari anda."


"Hem, saya akan menuju ke hotel sekarang."


Satya memutus panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Jordi kembali. Dirinya keluar dari ruang kerja dan menuju kamar untuk bersiap pergi. Penampilan Satya cukup santai hanya menggunakan polo shirt hitam dan jeans biru serta dilapisi jaket denim. Menggunakan pakaian apapun Satya tetap terlihat tampan. Sebelum pergi dirinya harus berpamitan pada sang istri.


Langkahnya sedikit ragu karena rasa bersalah tapi dirinya tidak bisa mengabaikan Siwi lagi. Dia tidak ingin Siwi nekat mencari dirinya hingga mendatangi rumahnya bisa lebih gawat nanti.


"Sayang, mas harus pergi dulu ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan mas bertemu dengan klien."


"Loh tapi mas belum makan malam, apa tidak makan malam dulu?"


"Nanti mas bisa makan malam bersama klien. Maaf tidak bisa menemanimu dan anak-anak makan malam."


"Tidak apa-apa, mas aku mengerti pekerjaan mu pasti klien itu sangat penting karena kamu harus mendadak bertemu seperti ini."


"Iya sayang, maaf ya nanti jangan menunggu ku pulang. Kemungkinan mas tidak pulang dan menginap di apartemen Jordi untuk membahas pekerjaan ini."


"Apakah harus menginap? Kenapa tidak menyuruh Jordi ke rumah saja seperti biasanya?"


Satya sedikit kebingungan dalam mencari alasan tapi dirinya sebisa mungkin tidak ingin terlihat gugup.


"Emm... Mas belum tahu nanti apakah di apartemen Jordi atau di rumah Jordi karena ibu Jordi saat ini kesehatannya juga sedang tidak baik."


Satya terpaksa menggunakan alasan ibu Jordi tapi dirinya tidak berbohong jika kesehatan ibu Jordi memang sedang tidak baik saat ini.


"Oh ya sudah." Ucap Belva dengan nada seperti tidak rela tapi dirinya harus mengerti dengan pekerjaan suaminya.


Satya melihat wajah sang istri yang terlihat kurang bersemangat karena ditinggal pergi oleh dirinya pun semakin merasa bersalah. Perasaan yang sangat menjelekkan bagi Satya saat ini.


"Ya sudah mas pergi dulu ya, mas buru-buru sudah ditunggu klien dan Jordi."


Satya memeluk istrinya sekilas yang tengah menggendong baby As. Tak lupa dirinya mencium kening Belva dan juga pipi baby As. Satya tak berpamitan pada Duo Kay karena akan memakan waktu lebih lama lagi. Dirinya tidak ingin Siwi datang lebih dulu di hotel karena dirinya sudah berniat datang lebih dulu untuk menyambut kedatangan Siwi agar wanita itu tidak semakin mengomel karena harus menunggu kedatangan Satya.


'Maaf, sayang. Tapi mas tidak bisa mengabaikan Siwi saat ini. Dia begitu penting bagi, mas.' Gumam Satya dalam hati.


Pria itu masuk ke dalam mobil dengan langkah buru-buru. Mobil dikendarai dengan sedikit cepat agar cepat sampai di hotel di mana dirinya akan bertemu dengan Siwi malam ini.


Bener menit Satya sampai di hotel Grand Lux, selama di dalam perjalan Satya juga bertukar kabar dengan Jordi sehingga dirinya bisa langsung masuk ke dalam hotel yang sudah di booking oleh Jordi. Seorang pria pelayan hotel sudah menunggu di nomor kamar tersebut menunggu kedatangan Satya.


"Selamat malam, anda bernama Tuan Satya Balakosa?"


"Hem iya, bukankah pintunya."


Pelayan hotel membuka pintu tersebut dan menyerahkan kunci kepada Satya. Dia melirik sekeliling pada setiap sudut kamar hotel. Cukup bagus dan aman, Satya cukup puas dengan hasil kerja Jordi. Dirinya duduk di sofa menunggu kedatangan Siwi malam ini. Satya pun telah bersiap karena sudah dipastikan malam ini pertemuannya akan berakhir di atas ranjang. Rasa rindu yang sudah Siwi tahan Satya sudah menebaknya nanti akan seperti apa malam ini.


Tak lama ketukan pintu terdengar, Satya berdiri membukakan pintu. Siwi datang bersama Jordi yang menjemput wanita itu. Senyum gembira dan sumringah langsung dapat Satya lihat dari wajah Siwi. Satya pun membalas senyum Siwi dengan senyum tipisnya.


"Masuklah, Siwi." Ujar Satya.


Siwi pun masuk, wanita itu langsung bergelayut manja pada lengan Satya. Jordi menatap tingkah laku itu dengan tatapan tak suka, Satya melihat tatapan tak suka dari Jordi tapi Satya tak perduli.


"Pergilah, Jordi selesaikan tugas mu yang lain."


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Satya langsung menutup pintu dan menguncinya agar tidak.ada orang lain yang tiba-tiba masuk dan melihat dirinya bersama Siwi di dalam kamar hotel.


"Tuan, kenapa harus di hotel kan bisa di apartemenku."


"Di sini lebih aman untuk kita, saya rasa di sini juga lebih nyaman dan lebih bebas."


Mendengar ucapan Satya, Siwi tersenyum senang. Harapannya berduaan dengan Satya dan mendapatkan pria itu semakin tergambar jelas.


"Benar juga sih. Di sini kita hanya berdua saja, apakah aku masih harus memanggil mu dengan sebutan, Tuan?"


"Memang kamu mau memanggil saya dengan sebutan apa? Duduklah."


Penampilan Siwi saya ini terlihat memukau dan sangat seksi dengan pakaian mini dan ketat memperlihatkan beberapa lekukan tubuhnya.


"Daddy... Dan kamu harus memanggil ku baby."


"Tapi kamu bukan istri saya, hanya istri dan anak-anak saya yang memanggil saya dengan sebutan itu."


Siwi langsung cemberut, "Apakah harus menjadi istrimu agar aku dapat memanggil mu Daddy?"


"Iya seperti itulah." Ujar Satya.


Mata Siwi langsung berbinar secara tidak langsung Satya menginginkannya menjadi istrinya mungkin istri kedua.


"Itu berarti kamu mau menjadikan aku istri kedua? Aku tidak mau."


"Terserah padamu." Ujar Satya santai duduk di sofa.


Siwi bergelayut manja pada dada bidang Satya. Satya selalu saja menempatkan dirinya pada sebuah pilihan dan itu menyebalkan.


"Baiklah, aku mau meski hanya menjadi istri keduamu saja."


Satya tersenyum tipis mendengar jawaban Siwi. Wanita itu tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Satya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terima kasih yang masih setia support author sampai saat ini 🙏🙏🙏

__ADS_1


Ikuti terus episode selanjutnya yaa 🤭🤭🙏


Btw yang kemarin menang kejutan kecil kak @affida Rosita bisa chat author yaa di tunggu sampai besok Sabtu 🙏


__ADS_2