Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 149. Ulang Tahun


__ADS_3

Sebagai istri dan seorang ibu serta wanita karir Belva selalu berusaha membagi waktunya dengan baik. Beruntungnya meski tanpa menggunakan jasa baby sister setelah keputusannya menjadikan Bella sebagai asistennya dalam mengurus butik, dirinya dibantu oleh orang-orang terdekatnya yaitu Budhe Rohimah dan juga Satya. Pria itu meski juga sibuk bekerja tapi dirinya masih mau menyempatkan untuk membantu Belva mengurus Duo Kay dibeberapa hal kecil.


Sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya yang begitu besar untuk Belva dan juga Duo Kay. Dulu saat Belva mengandung hingga melahirkan serta membesarkan kedua bocah itu dirinya tak ikut andil dalam mengurus Belva dan Duo Kay. Satya ingin menebus semua hal yang tak mampu dilakukannya dulu.


Beberapa hari terakhir ini Belva disibukkan dengan revisi gaun yang hampir jadi untuk Nona Azura. Duo Kay sesekali dijaga oleh Budhe Rohimah terkadang dua anak itu juga datang menghabiskan waktu di kantor Daddy mereka. Kaili dan Kaila sangat pengertian dan menurut pada kedua orang tuanya. Ketika berada di kantor maka mereka akan bersikap lebih sopan dan sibuk dengan aktivitas mereka sehari-hari yang tak lain adalah mendesain baju dan juga mendesain rumah.


"Permisi, Tuan." Ucap Jordi setelah mengetuk pintu dan masuk ke dalam.


"Ada apa Jordi?" Tanya Satya setelah sibuk menatap beberapa tumpuk dokumen serta laporan yang harus dicek olehnya.


"Uncle Jordi." Panggil Kaila.


"Hallo Tuan Puteri." Sapa Jordi tersenyum pada Kaila. Gadis kecil itu hanya tersenyum saat Jordi memanggilnya Tuan Puteri. Sudah hal biasa yang Kaila dengan dari Jordi.


"Ada hal penting yang ingin saya sampaikan, Tuan." Ucap Jordi yang kembali serius menatap bos-nya.


"Duduklah dulu."


Jordi mendekati meja Satya dan duduk dihadapan bos-nya.


"Hal penting apa yang akan kamu sampaikan?" Tanya Satya.


"Ini mengenai resort yang ada di Bali. Ada sedikit masalah dalam pembangunan itu. Pembangunan itu mangkrak karena ada dana yang diselewengkan oleh karyawan pengadaan bahan bangunan."


Raut wajah Satya berubah sangat serius dan ada aura kekecewaan yang lebih dominan adalah aura kemarahan. Tapi sebisa mungkin dirinya menahan emosi agar tak mengeluarkan suara tinggi saat melirik keberadaan kedua anaknya di dalam ruangannya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Satya dengan penuh kemarahan. Rahangnya mengeras menahan suaranya agar terdengar biasa saja meski memang pada kenyataannya terdengar penuh penekanan oleh telinga Jordi.


"Saya sedang berusaha menyelidiki hal ini. Beberapa bagian bangunan sudah jadi tapi tidak sesuai desain yang disepakati karena sepertinya mereka menekan biaya pembangunan agar tidak terlalu besar hingga sisanya bisa mereka kantongi secara pribadi."


"Keterlaluan. Pantas saja beberapa bulan terakhir belum ada laporan sama sekali dari proyek pembangunan itu."


"Segera cari tahu siapa orang itu. Bawa dia ke hadapan saya. Semua yang terlibat tanpa pengecualian."


"Baik Tuan. Menurut informasi yang saya dapatkan sesaat setelah mengetahui adanya permasalahan ini. Dana tersebut dikelola oleh salah satu karyawan kita tapi rupanya dia adalah karyawan baru, dia baru bekerja selama enam bulan sebagai pengganti staf lama yang sudah tak bekerja lagi."


"Karyawan baru? Tapi bagaimana bisa karyawan baru diberikan tanggung jawab sebesar itu untuk mengurus pengadaan barang."


"Kondisinya saat itu terdesak, anda tahu sendiri staf lama kita meninggal dunia saat melahirkan dan kebetulan karyawan baru itu adalah asisten dari staf lama tersebut sehingga beberapa hal penting diketahui oleh orang itu. Kinerjanya yang sangat bagus maka staf lama menjadikannya sebagai asisten."


"Kalau begitu panggil dia ke ruangan saya sekarang." Titah Satya.


"Maaf Tuan, sayangnya orang tersebut menghilang sejak tiga hari yang lalu. Mungkin dia kabur saat beberapa karyawan lain mulai memprotes ada keterlambatan barang."


Satya menghela napas dan mengurut keningnya saat mendengar pelaku penyelewengan dana pembangunan telah kabur dan menghilang.


"Cepat urus semuanya, cari orang itu sampai dapat. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kita sudah rugi banyak atas kelakuan tak bertanggung jawab itu."


"Tentu Tuan saya akan segera mengurusnya. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Ya." Jawab Satya singkat. Kepalanya terasa berdenyut pikirannya kacau.


Bagaimana tidak meski Satya merupakan orang yang memiliki kekayaan berlimpah tapi pembangunan resort itu juga dilakukan demi meraih keuntungan. Namun, kini sebelum resort itu beroperasi justru dalam tahap pembangunannya mereka mendapatkan kerugian.


Kaili yang tak sengaja melihat Daddy nya pun langsung menyapa sang Daddy dengan pikiran penuh rasa keingintahuannya.


"Daddy, Daddy kenapa?"


Seketika Satya langsung menoleh ke arah putranya. "Daddy tidak apa-apa, Nak."


Satya kemudian melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Ini sudah hampir sore, ayo kita jemput Mami."


"Ayo." Jawab Kaili.


"Kaila ayo kita jemput Mami." Ajak Kaili.


"Sebentar aku masukkan mainanku ke dalam tas dulu." Ujar Kaila.

__ADS_1


Kedua bocah itu yang terbiasa diberikan pengertian untuk membereskan mainan dan barang-barang mereka sendiri pun langsung dengan sigap tanpa diperintah membereskan barangu mereka sendiri.


"Sudah ayo Daddy." Ajak Kaila.


"Oke, kita berangkat sekarang." Ucap Satya.


Ketiga orang itu langsung keluar dari ruangan yang cukup nyaman. Satya berpamitan lebih dulu pada Grace untuk pulang lebih awal. Grace pun hanya mengangguk setuju, tak mungkin jika dirinya akan mencegah kepulangan bos-nya. Grace pun sudah tahu jika Belva dan kedua bocah itu adalah istri dan anak-anak Satya. Meski dalam pikirannya masih bertanya bagaimana itu bisa terjadi tapi dirinya tak pernah mau bertanya lebih dalam mengenai kehidupan pribadi bos-nya.


Selalu perhatikan menyorot ke arah Satya dan Duo Kay. Sebagai seorang yang hanya menjabat sebagai karyawan biasa mereka hanya bisa bertanya-tanya akan kebenaran siapakan dua bocah yang sering ikut Satya ke kantor tempat mereka bekerja.


***


Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu dan penuh kebahagiaan. Ditengah kesibukan Satya dan Belva, pasangan suami-istri itu tetap selalu menyempatkan waktu mereka untuk kedua anak mereka. Termasuk menyiapkan acara pesat ulang tahun Duo Kay yang diadakan di salah satu panti asuhan yang pernah dikunjungi oleh Belva saat acara pernikahannya dengan Satya. Panti asuhan itu rupanya menjadi panti yang diinginkan oleh Kaili untuk merayakan hari ulang tahunnya.


"Semua sudah siap?" Tanya Satya pada istri dan anaknya.


"Siap Daddy." Jawan Belva dan Duo Kay secara kompak hingga membuat Satya tersenyum dan menggelengkan kepala saja.


"Ayo kita berangkat, acaranya sudah mau mulai jangan sampai si pemilik acara terlambat dalam."


"Iya mas, sebentar aku ambil tas dulu. Anak-anak masuk ke mobil bersama Daddy dulu ya, Mami mau ambil tas Mami." Ujar Belva.


"Oke Mami." Ucap Kaili.


"Ayo anak-anak ganteng dan cantiknya Daddy kita ke mobil." Ajak Satya. Dia menggandeng tangan anak-anak nya di samping kanan dan kirinya.


"Daddy, gaun ulang tahunku bagus tidak?" Tanya Kaila saat sudah berada di dalam mobil.


"Bagus sayang, kamu terlihat sangat cantik seperti Mami." Puji Satya pada putrinya hingga membuat Kaila tersenyum senang. Satya merasa sangat gemas pada putrinya.


"Sini peluk Daddy." Satya menghadap ke belakang jok mobil dan merentangkan tangan untuk menyambut pelukan putrinya.


Hap...


Kaila memeluk Satya dengan suasana hati yang riang gembira. Hari ini adalah jafi ulang tahun bagi Duo Kay, hari yang sangat spesial bagi kedua bocah itu.


Belva datang saat Kaila tengah memeluk Daddy nya. Kali ini Satya tak membukakan pintu mobil untuk sang istri karena Kaila yang masih memeluk dirinya.


"Kaila sayang Daddy." Ujar Kaila.


"Daddy juga sayang ila. Putri Daddy satu-satunya saat ini."


Satya berharap nanti akan memiliki putri kembali selain Kaila. Cita-cita dan harapannya adalah memiliki banyak anak agar keluarganya menjadi keluarga besar. Tidak seperti dirinya yang hanya sendiri tak memiliki keluarga kandung lain selain kedua orang tuanya.


"Putri Daddy cantim sekali jadi Daddy mau peluk dan cium princess ila." Jawab Satya pada Belva.


Belva tersenyum, dalam hatinya merasakan kehangatan keluarga. Satya selalu menunjy betapa pria itu menyayangi dan selalu ingin melindunginya dan anak-anak mereka.


"Kaili tidak peluk Daddy juga?" Tanya Belva sedikit menggoda anak laki-lakinya.


"Tidak, nanti Daddy cium-cium Kaili terus.," Selalu itu alasan Kaili yang sedikit menjaga jarak ketika sudah melihat Daddy nya dan kembarannya yang saling berpelukan menunjukkan kasih sayang diantara ayah dan anak.


Satya dan Belva terkekeh mendengar jawaban dari Kaili. Ada-ada saja pikir mereka, memeluk dan mencium dua bocah itu merupakan sesuatu yang selalu Satya dan Belva inginkan. Bukti bahwa mereka tak membedakan dua anak kembar tersebut. Tapi sayang sekali Kaili selalu menolak akan uangkapan secara nyata kasih sayang kedua orang tuanya.


Mereka menikmati perjalanan menuju panti asuhan. Dalam perjalanan perbincangan hangat terjadi di dalam keluarga kecil Satya. Canda tawa terdengar serta godaan yang sengaja Satya luncurkan bagi kedua anaknya dan Belva tentunya yang tak pernah luput juga dari sasaro Satya.


"Yeaayy sudah sampai!!!" Sorak Kaila dengan gembira.


"Ayo kita turun cepat." Ujar Kaila yang sudah tidak sabar melihat tempat acara ulang tahun mereka.


"Sabar sayang, tunggu Daddy bukakan pintunya." Satya langsung keluar membukakan pintu untuk anak istrinya.


Sambutan dari ibu panti yang sudah terlihat dari jarak jauh sabar menunggu di depan pintu panti dengan wajah tersenyum.


"Selamat pagi Bunda." Sapa Belva pada ibu panti yang sering dipanggil bunda oleh anak-anak panti asuhan.


"Selamat pagi, Nak Belva... Nak Satya. Wah anak-anak bunda sudah cantik dan ganteng ini. Bahagia sekali kalian." Ucap ibu panti.

__ADS_1


Wanita yang sudah berusia paruh baya itu memang lebih suka dipanggil bunda karena sudah terbiasa. Maka dari itu Kaila dan Kaili pun memanggil dirinya dengan sebutan bunda.


"Mereka sangat bahagia karena bunda tahu sendiri ini hari spesial mereka." Ucap Belva terkekeh.


"Ya sudah ayo masuk. Anak-anak sudah menunggu di dalam." Ajak ibu panti.


"Mari Bu." Ucap Satya yang akhirnya mau membuka suara.


Begitu masuk ke dalam panti asuhan, acara ulangtahun Duo Kay diadakan di ruang keluarga panti asuhan. Dekorasi itu tampak sangat cantik dengan berbagai macam tokoh kartun, beberapa balon pun terpasang dengan warna biru muda bercampur pink.


Acara akhirnya dimulai dengan rangkaian acara yang sudah Satya dan Belva serahkan pada pihak EO yang membantu mereka dalam acara ulangtahun Duo Kay. Seorang pembawa acara yang sudah mahir dalam membawakan rangkaian acara itu mampu membuat suasana acara menjadi hangat dan meriah. Beberapa permainan kecil pun turut mendukung kemeriahan acara tersebut.


Saat pemotongan kue ulang tahun yang terdapat dua kue besar itu Satya dan Belva mendampingi kedua bocah itu.


"Oke sekarang, Putri Kaila dan Pangeran Kaili waktunya memotong kue." Ucap pembawa acara.


"Mami dan Daddy dampingi putra putrinya ya." Pinta pembawa acara.


Lagu sejuta umat dalam merayakan hari ulang tahun pun menggema beriringan dengan suara tepuk tangan. Duo Kay dituntun untuk memejamkan mata dan berdoa akan permintaannya di hari ulang tahunnya ini. Hingga kue telah berhasil dipotong keluarga kecil itu saling suap satu sama lain. Kecupan pun mendarat di pipi Duo Kay dari Satya dan Belva. Tak mau kalah Satya pun mencuri ciuman di pipi Belva.


Terlihat sekali mereka adalah keluarga idaman yang terlihat harmonis dan bahagia. Tanpa mereka sadari mungkin beberapa perasaan dari anak-anak panti sangat menginginkan sebuah keluarga yang dimiliki boleh Kaila dan Kaili.


Disudut yang tak terlihat oleh kelurga kecil Satya, seorang gadis kecil menatap kelurga kecil bahagia itu dengan tatapan sedih dan penuh harap. Senyumnya terlihat miris, menyimpan kesedihan yang tak pernah mau diungkapkannya.


Acar itu tak berhenti sampai disitu saja, yang lebih membuat meriah lagi adalah saat Duo Kay yang ditutup kedua matanya lalu mereka dipersilahkan untuk memukul pinata berbentuk hello Kitty dan McQueen. Permen dan beberapa Snack makanan ringan berhamburan keluar membuat anak-anak panti asuhan bersorak gembira. Riuh teriakan anak-anak dan juga tepuk tangan terdengar menggema di dalam panti asuhan.


Pilihan Belva sangat tepat sekali, Satya dan Belva dapat melihat kebahagiaan yang di wajah para anak-anak panti asuhan itu. Memang pada kenyataannya acara tersebut lebih banyak membawa kebahagiaan bagi mereka semua.


"Istriku memang pintar, melihat mereka bahagia membuatku ikut merasa bahagia dan puas." Batin Satya.


Satya pun merangkul pundak Belva sembari memandang anak-anak yang berebut mengambil permen dan snack yang berserakan di lantai setelah kedua pinata itu dipukul habis oleh Duo Kay.


Si pemilik acara yakni Duo Kay juga tak mau kalah, mereka ikut memungut makanan ringan itu dengan antusias.


"Ini untukmu." Ucap Kaili menyodorkan beberapa makanan ringan miliknya untum seorang gadis cilik.


"Ken... Terimakasih."


"Sama-sama Yossy." Ucap Kaili.


"Ck... Bukan Yossy tapi Yessy. Aku suka dengan nama itu."


"Ah pusing. Sisy saja ya."


"Emm ya sudahlah tidak apa-apa." Ucap gadis cilik yang selalu Kaili temui di sekolah.


Belva pun melihat, putranya berinteraksi dengan temannya. Lagi-lagi Belva merasa aneh mengapa Yossy berada di panti asuhan lagi.


"Yossy ada disini lagi? Apa anak itu dan dokter Dimas sering mengunjungi tempat ini. Tapi kok aku tidak melihat dokter dimas ya?" Batin Belva. Manik matanya melirik ke sana kemari mencari keberadaan dokter Dimas.


"Sayang, kamu mencari siapa?" Tanya Satya saat melihat istrinya seperti tengah mencari sesuatu.


"Hah? Ah tidak, bella dan Budhe belum datang ya?" Ucap Belva mengalihkan pembicaraan.


Belva takut jika Satya akan marah atau suasana hati suaminya akan terganggu jika dirinya ketahuan mencari keberadaan dokter Dimas. Untung saja Bella dan Budhe Rohimah memang benar adanya mereka belum datang hingga acara hampir selesai. Cukup bisa dijadikan alasan bagi Belva untuk menutup yang sebenarnya.


"Iya, ibu dan Bella belum datang. Apa mereka lupa jika hari ini acara ulangtahun anak-anak?"


"Harusnya sih tidak mas, karena saat acara mau dimulai tadi Bella sempat mengirim pesan jika mereka sudah on the way."


****


To Be Continue...


wah Bella kemana tuh kok belum sampai. Ditunggu cerita selanjutnya.


Hai my dear para readers ku tersayang

__ADS_1


Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini, terimakasih banyak atas Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian.


Semoga menghibur, bahagia selalu dan sehat selalu 🤗🙏🙏🙏


__ADS_2