Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 190. Malam Terakhir Di Bali


__ADS_3

Mobil sampai di apartemen Siwi, pria itu tak turun dari mobil melainkan hanya menunggu di dalam mobil saja. Jordi diperintahkan untuk menghubungi Siwi agar wanita itu segera turun.


"Tuan, Siwi mengatakan jika anda harus masuk ke apartemen Siwi."


"Untuk apa?" Tanya Satya mengerutkan keningnya.


"Siwi keberatan membawa kopernya."


"Lalu kamu menyuruh saya untuk mengangkat koper?"


"Bu-bukan begitu, Tuan tapi Siwi yang meminta anda membawakan kopernya."


"Masuklah bawakan koper Siwi." Ucap Satya yang justru menyuruh Jordi.


Jordi terdiam sejenak dan menghela napas.


'Haahh aku lagi yang jadi kuli angkut barang.' Gerutu Jordi dalam hati.


"Baiklah, Tuan."


Jordi turun dari mobil dan masuk ke unit apartemen Siwi. Apapun yang Satya perintahkan selagi dirinya bisa akan dilakukannya. Meski tidak bisa sekalipun Jordi harus tetap mencobanya sebelum mengetahui dirinya gagal.


Selama berkomunikasi dengan Siwi, Satya selalu menggunakan jasa Jordi untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan pada Siwi ataupun sebaliknya.


Sampai di depan pintu apartemen Siwi, Jordi memencet bel. Tak lama pintu terbuka dengan wajah sumringah tapi saat melihat wajah Jordi, wajah sumringah wanita itu langsung surut.


"Kenapa kamu yang ke sini?"


"Tuan Satya menyuruh saya untuk mengambil koper anda, Nona."


"Ck aku kira bos-mu sendiri yang akan membantuku." Gumam Siwi.


Jordi melirik sinis pada Siwi, 'Bos-mu?? Hah?! Apa-apaan dia, apa dia tidak sadar jika dirinya hanya karyawan di perusahaan bahkan jabatan lebih tinggi diriku.' Batin Jordi menggerutu kesal pada Siwi.


Wanita itu merasa sudah menjadi istri bos saja menurut Jordi. Padahal secara teknis wanita itu masihlah menjadi karyawan di Bala Corp sama seperti Jordi.


"Mana calon suamiku?" Tanya Siwi dengan percaya diri.


Asisten Satya itu semakin muak dengan tingkah Siwi yang semakin lama semakin berani menunjukkan dirinya sebagai seorang wanita yang dekat dekat Satya.


"Tuan Satya menunggu anda di dalam mobil, sebaiknya segeralah untuk turun ke bawah karena kita harus segera menuju bandara."


"Oke bawa itu koperku." Titah Siwi sudah sama seperti bos.


Wanita itu meninggalkan Jordi setelah mengunci pintu apartemennya sedangkan Jordi diam tak merespon tapi tetap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Siwi.


Siwi sampai di mobil lebih cepat karena dirinya meninggalkan Jordi tanpa beban. Wajahnya tersenyum sumringah menunjukkan bahwa dirinya sangat bahagia sekali saat ini. Ia mengetuk kaca jendela mobil Satya dan Satya membukanya langsung bisa menatap wajah cantik Siwi.


"Hai, sayang sudah lama menunggu ku?"


"Hem lumayan, masuklah." Ucap Satya.


Pria itu menggeser posisinya saat duduk untuk memberikan tempat duduk pada Siwi. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil saat Satya menyuruhnya.


Satya tak membukakan pintu untuk Siwi, berbeda saat bersama istrinya Satya akan berperilaku seakan Belva adalah seseorang yang harus di junjung tinggi dan spesial. Bagi pria itu Belva tetaplah yang paling utama dalam kehidupannya meski saat ini dirinya berdosa terhadap sang istri.


Jordi sibuk memasukkan koper lalu setelah selesai dirinya membuka pintu mobil, belum sempat dirinya masuk Siwi sudah kembali memerintah dirinya.


"Jordi, belikan aku minum di minimarket depan itu." Titah Siwi.


Pria yang setiap hari hanya menerima perintah dari Satya itu sesaat menatap Satya tapi bosnya itu hanya mengangkat kedua alisnya dan bahunya saja pertanda tak tahu apa-apa dan tak perduli.


"Cepatlah Jordi kita harus segera berangkat." Ujar Satya.


Mau tak mau Jordi mengikuti apa yang diinginkan oleh Siwi. Langkah kaki Jordi sangat lebar agar cepat sampai di minimarket yang tak jauh dari mobilnya. Jordi menggerutu setengah mati sejak Siwi berada di dekat Satya dirinya sangat merasakan bagaimana menjadi babu. Sangat menyebalkan dan sangat berbeda sekali bila dibandingkan dengan Belva. Istri sah bos-nya itu bahkan tidak pernah menyuruhnya seperti itu kalaupun menyuruh dirinya pasti ada kata tolong, terima kasih dan maaf. Jika dengan Siwi jangan harap bisa mendapatkan ketiga kata-kata itu.


Segelas kopi susu hangat diberikan oleh Jordi pada Siwi tapi nyatanya apa yang diberikan oleh Jordi tak sesuai dengan keinginan Siwi membuat wanita itu marah dan kesal.


"Jordi, kenapa kamu beli kopi ini? Bukannya belikan aku susu kotak malah beli minuman ini." Ucap Siwi sebal.


Jordi mengeraskan rahangnya menahan emosi. Ditariknya napas dalam-dalam saat duduk di depan kemudi menghadap ke depan.


"Nona, apakah anda tadi menyebutkan minuman apa yang harus saya beli untuk anda?"


"Tapi seharusnya kamu tahu pagi-pagi..."


"Sudah... Sudah... Kita bisa terlambat nanti, jadi liburan atau tidak jika tidak kita kembali ke kantor saja." Ucap satya memotong ucapan Siwi.


Satya tahu Jordi begitu sebal dengan sikap Siwi pada asistennya itu tapi lagi-lagi Satya tak bisa berbuat hal lebih yang bisa menyinggung hati Siwi.


"Siwi, minum saja dulu nanti di bandara kita beli lagi. Kita sudah terlambat." Imbuh Satya.


"Ck... Aku tidak mau minum ini. Kamu saja yang minum." Ucap Siwi merajuk.


Satya memalingkan wajahnya ke luar jendela sejenak dan menghela napas.


"Ya sudah biar aku saja yang minum kalau kamu tidak mau. Jangan marah nanti sampai Bali bersenang-senanglah sesuka hatimu." Satya mencoba membujuk Siwi.


Dibujuk oleh Satya dengan iming-iming seperti itu membuat wanita itu langsung merasa senang-senang saja. Bahkan kini Siwi sudah bergelayut manja pada lengan Satya dan bersandar pada bahu pria itu.


"Benar ya nanti kita jalan-jalan dan senang-senang di sana. Aku mau belanja lalu kita foto-foto di di beberapa tempat."


"Terserah padamu saja." Ujar Satya.

__ADS_1


"Jordi, kita jalan." Titah Satya.


Mobil berjalan dengan perasaan Jordi yang begitu kesal, Satya bersikap tenang dan santai sembari menyeduh kopi susu hangat yang tadi dibelikan oleh asistennya sedangkan Siwi sibuk bergelayut manja dan berbicara ngalor ngidul sesuka hatinya tapi Satya hanya mendengarkan saja.


Mereka bergerak menuju bandara masih dengan diikuti oleh seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka tanpa mereka sadari. Sejak ada yang tak beres dengan Satya, Belva malamnya langsung bergerak cepat menghubungi Maria putri Tuan Maxim, klien yang kini telah menjadi teman akrabnya.


Berbuat dan bersikap baik pada orang lain nyatanya memang mempermudah langkah kita dalam melakukan beberapa hal. Disaat kita membutuhkan bantuan akan ada orang baik yang akan membantu kita.


Kini Belva berusaha bersikap tenang setenang mungkin. Mengendalikan diri agar terlihat biasa saja dan tidak terlihat mengetahui sebuah rahasia besar yang tengah berusaha disembunyikan oleh sang suami. Ia tak perlu lelah-lelah mengeluarkan tenaga untuk menjadi penguntit sang suami yang sedang asik dengan aktivitasnya sendiri.


Ibu muda itu justru sibuk mengurus anak-anaknya dan sibuk mendatangkan jasa salon panggilan untuk merawat kecantikan dirinya. Mulai dari facial, spa hingga manicure dan pedicure semua Belva lakukan untuk merawat dirinya.


Baby As bagaimana? Tentu saja dengan adanya Janis yang membantu membuat Belva sedikit lebih bebas melakukan perawatan di rumah. Tak hanya dirinya sendiri melainkan para asisten rumah tangganya pun ikut diberikan perawatan oleh Belva. Mereka mendapatkan kesempatan menikmati waktu luang pada hari ini.


Janis bagaimana? Tentu saja Belva tidak melupakan Janis. Wanita itu akan mendapatkan giliran yang sama entah hari ini atau esok hari. Belva tak ingin terlalu memikirkan permasalahan yang hanya akan membuatnya stress dan berbeban pikiran.


"Wah hari ini kita bebas tugas, enak yaa bisa perawatan mahal seperti ini." Bisik Fitri pada Siti.


"Iya, enaknya punya Nyonya yang baik seperti ini. Gaji kita belum tentu bisa bayar perawatan mahal seperti ini." Balas Siti.


"Dulu waktu ada Nyonya Sonia boro-boro kita dapat jam khusus seperti ini yang ada kita disuruh ngepel cuci gosok terus." Ucap Fitri kembali.


Inah hanya diam tapi telinganya begitu awas mendengarkan Siti dan Fitri yang saling berbisik membicarakan kegiatan yang mereka dapatkan saat ini.


'Nyonya Belva memang sangat baik sekali. Coba saja waktu itu Tuti tidak macam-macam pasti bisa menikmati perawatan mahal seperti ini. Tapi biarkan saja dia orang jahat pantas saja kalau Tuan memecatnya.' Gumam Inah dalam hati.


Teringat dulu dirinya pernah bersekutu dengan Tuti untuk memusuhi Belva sebagai Nyonya baru di rumah ini. Ia masih bertahan bekerja di rumah besar ini meski perlakuan Belva tak sehangat dengan asisten rumah tangga yang lain, Inah cukup paham semua karena kesalahannya sendiri.


Hingga siang hari, perawatan para wanita itu selesai satu persatu. Pintu rumah berbunyi pertanda seseorang datang berkunjung. Siti yang sudah selesai lebih dulu langsung bergerak untuk membuka pintu. Sosok wanita cantik dan elegan datang ke rumah besar Satya.


"Hallo selamat siang, Belva ada ?" Tanya wanita yang tak lain adalah Maria.


"Selamat siang, Nona. Nyonya ada, silahkan masuk biar saya panggilkan."


"Terima kasih." Ucap Maria tersenyum.


Wanita itu masuk dan duduk di sofa, kedatangannya kali ini hanya untuk berkunjung saja karena sudah lama tidak bertemu dengan sang desainer gaun pengantinnya dulu.


Tak lama Belva turun dari lantai atas di mana dirinya sibuk melakukan perawatan tubuh tadi.


"Hai, tumben datang. Ada angin apa ini?" Sapa Belva yang berjalan mendekat ke arah sofa.


Maria langsung berdiri menyambut kedatangan Tuan rumah. Mereka lalu berpelukan ala wanita-wanita yang lama.tak bertemu.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Maria pada Belva.


"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan dirimu? Lama kita tidak bertemu." Jawab Belva.


"Aku juga baik, iya aku sibuk mengurus suami dan juga membantu bisnis Papa. Sepertinya kamu juga sibuk."


"Oh ya? Kenapa? Padahal butikmu cukup ramai loh."


"Ada baby yang harus aku urus, kasihan kalau ditinggal."


"Baby? Kamu punya baby lagi? Kok aku tidak tahu. Kapan kamu melahirkan?"


Belva hanya tersenyum mengangguk saja tanpa mau menjawab lebih lanjut. Baginya seperti apa asal usul kehadiran baby As itu hanya cukup dirinya dan kelurga saja yang tahu. Tidak perlu banyak orang mengetahui yang sebenarnya karena akan menjadi beban mental bagi baby As kelak.


"Oh iya kamu belum menjawabku tadi ada apa ke sini?" Ucap Belva.


"Hanya mampir saja, kebetulan lewat dekat sini karena lama kita tidak bertemu jadi tidak salah kan aku mampir."


"Haha baiklah, mau minum apa?" Tanya Belva.


"Apa saja, oh iya anak-anak mana?"


"Mereka di kamar menemani adik mereka. Biasa terlalu senang jadi seperti punya mainan baru. Sebentar aku buatkan minum dulu."


Maria mengangguk, Belva berlalu ke dapur untuk membuatkan minum. Ternyata di dapur ada Siti tapi Belva tetap melakukan apa yang akan dilakukannya dan tidak menguruh Siti. Hanya membuat minum saja dirinya masih mampu.


"Biar saya saja yang buat, Nyonya." Siti menawarkan diri.


"Tidak usah, Mbak hanya buat minum saja kok. Mbak Siti istirahat saja."


Tak butuh waktu lama Belva sudah selesai dan membawa keluar satu gelas jus jeruk untuk Maria.


"Minum dulu, Mar." Belva meletakkan minuman di atas meja.


"Bukannya ada asisten rumah tangga kok buat minum sendiri?"


"Mereka aku suruh istirahat. Kami baru saja melakukan perawatan tubuh bersama." Ucap Belva tersenyum.


Maria menggeleng kepalanya, terkadang masih heran dengan sosok Belva, seorang wanita yang sederhana dan mandiri.


"Sudah hampir siang, suami mu tidak pulang untuk sekedar makan siang? Biasanya suamiku seperti itu tapi kali ini suamiku sedang di luar kota bersama Papa."


"Sama, suamiku juga lagi ke luar kota."ujar Belva.


"Bersama Papamu? Tuan Hector ke Indonesia?" Tanya Maria.


Wanita itu tentu saja tahu, selain menjadi klien Belva kedua orang tua wanita itu berteman cukup dengan sebagai rekan bisnis.


"Bukan, Papa masih di Paris. Suamiku pergi bersama asistennya."

__ADS_1


"Kamu kenapa tidak ikut? Kan bisa jalan-jalan sekalian jaga suami."


"Dia tidak mengajakku." Jawab Belva dengan santai.


Kening Maria mengerut, "Emm begitu, beda ya suamiku sering menawarkan padaku untuk ikut atau tidak jika dirinya ke luar kota."


"Entahlah, lagipula ada baby jadi sekalipun dia mengajakku aku pun masih berfikir ulang. Kasihan jika diajak pergi terlalu jauh."


"Kalau masih sekitar sini masih aman, Bel buat baby."


"Di ke Bali untuk beberapa hari jadi ku rasa lebih baik kami di rumah jika dia mengajak kami." Ujar Belva.


"Bali banyak bule seksi-seksi loh, Bel. Kamu tidak takut kalau suamimu kecantol bule?" Goda Maria dengan bercanda.


Memang benar di Bali sangat banyak turis asing yang datang berkunjung terlebih mereka pasti menggunakan pakaian yang sangat minim akibat banyak pantai di pulau yang paling populer dari negara Indonesia.


Wajah tampan Satya pun tak bisa menutup kemungkinan untuk menarik perhatian dari kaum hawa buktinya banyak sekali wanita yang berusaha mengincar suaminya. Termasuk wanita yang kini tengah dekat bersama sang suami.


"Kalau takut memang tidak bisa dipungkiri, jika sebuah rumah tangga hancur karena salah satu pasangan tergoda dengan pihak luar. Tapi bukankah dalam berumah tangga harus ada kepercayaan? Jika sudah tidak ada kepercayaan maka kita perlu bertindak lebih untuk membuktikan kembali apakah kepercayaan yang kita berikan masih bisa dijaga oleh pasangan kita."


"Dan... Menurutku kalaupun mas Satya tergoda dengan wanita lain, maka aku harus memberikannya sebuah pilihan nantinya tentunya jika itu terbukti ya." Imbuh Belva.


Maria diam mendengarkan ucapan Belva, wanita dihadapannya itu cukup dewasa menurutnya untuk menghadapi permasalahan perihal godaan dalam hubungan rumah tangga.


"Tunggu, kok aku jadi penasaran jangan bilang kamu meminta seorang mata-mata dariku untuk menyelidiki suamimu yang saat ini berada di Bali?" Tanya Maria mengingat malam tadi Belva sempat meminta kontak seorang mata-mata yang bisa diandalkan dalam kinerjanya.


Belva terkekeh mendengar pertanyaan sekaligus tebakan dari Maria. Itu memang benar Belva tak menampiknya di hadapan Maria. Wanita itu mengangguk tersenyum membuat Maria semakin penasaran akan cerita selanjutnya mengapa Belva bisa sampai ingin menyelediki suaminya sendiri.


"Apa kalian sedang bermasalah? Maksud ku suamimu ada main?" Tanya Maria dengan menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahnya menyerupai tanda petik.


"Hanya sedikit penyelidikan kecil, aku hanya ingin tahu wanita mana yang sedang mendekati suamiku dengan tujuan apa dia mendekati suamiku."


"Maksud mu benar suamimu sedang selingkuh?" Tanya Maria tak percaya.


Sepengetahuan Maria, pria pemilik perusahaan besar Bala Corp itu sangat menyayangi Belva dan anak-anaknya. Maria ingat saat Belva bercerita mengenai betapa kerasnya Satya berjuang meluluhkan hati Belva agar mau menikah dengannya demi kebaikan anak-anak mereka.


"Entahlah yang jelas aku baru mengumpulkan bukti-bukti itu." Jawab Belva.


"Jika benar terbukti?" Tanya Maria kembali.


"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mengetahui seorang maling sedang mencoba atau sudah mencuri barang milikmu?" Belva justru memberikan pertanyaan pada Maria.


Bagi Belva seorang yang dengan tega dan berani merebut pria yang sudah berkeluarga itu sama saja dengan seorang maling. Belva tidak akan membiarkan apapun miliknya diambil oleh orang lain dengan mudah.


"Memakinya habis-habisan, memukulnya dan melaporkan ke polisi." Jawab Maria.


"Iya itu kalau maling ayam sih ya hahaha." Canda Belva yang membuat Maria ikut tertawa bersama.


Keduanya terus berbincang mengenai kehidupan rumah tangga, saling support dan memberikan nasihat serta beberapa trik dalam menjaga hubungan dengan pasangan.


Belva menerima dengan baik setiap saran dan nasihat dari Maria demikian sebaliknya. Semakin lama memang hubungan rumah tangga akan ada pasang surutnya. Belva selalu belajar dan terus belajar dari berbagai pengalaman kecil dan besar dari kehidupannya atau dari orang-orang sekitarnya.


Demi anak-anaknya Belva akan mempertahankan rumah tangga dan keluarganya. Berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada yang terluka akibat keegoisan masing-masing. Anak-anaknya masih membutuhkan sosok seorang Ayah jadi Belva masih memberikan kepercayaan pada Satya sebelum dirinya mendapatkan banyak bukti dari apa yang telah Satya lakukan.


Beberapa hari tanpa kabar, Satya benar-benar seolah menikmati waktunya berlibur bersama Siwi di pulau Bali. Banyak tempat-tempat yang dikunjungi sesuai dengan permintaan Siwi bahkan dalam liburan tersebut Siwi meminta agar dirinya dan Satya menyewa satu kamar saja untuk mereka. Satya tak menolak justru menyetujui permintaan Siwi.


Lagi-lagi liburan di pulau yang paling terkenal untuk kalangan warga asing itu tak luput dari kegiatan panas sepasang manusia yang tak halal di mata hukum dan agama. Siwi selalu menghabiskan malam dengan susah payah bersama pria pujaan hatinya.


"Ini hari terakhir kita di sini, berikan saya servis terbaik darimu baby."


"Kamu sepertinya sangat ketagihan dengan milikku, sayang." Ujar Siwi tersenyum bangga.


"Tentu saja, kamu bisa mengimbangiku dan saya menyukai itu."


"Baiklah, untuk malam terakhir kita aku akan menyenangkanmu tapi dengan syarat."


"Katakanlah, jangan berbelit-belit saya tidak suka." Ujar pria tampan itu yang sudah tidak tahan lagi untuk menik*mati tub*uh Siwi yang selalu menggoda.


"Jangan paksa aku meminum obat kontra*sepsi itu lagi dan segera nikahi aku." Pinta Siwi.


"Tak masalah, segeralah baby saya sudah tidak tahan lagi, lihatlah dia sudah berdiri menyambut mu." Suara bariton itu sudah mulai terdengar serak tak dapat menahan lagi.


Merasa Siwi terlalu lama dan pasti akan banyak permainan maka dengan cepat pria gagah dan tampan itu menyerang Siwi. Semua tak luput dari sentuhan tangan kekar yang selalu diidamkan oleh Siwi.


Peperangan panas terjadi malam ini, pintarnya Satya meminta Jordi untuk selalu memesankan kamar kedap suara agar apa yang dilakukan oleh sepasang manusia yang dilanda gair*ah itu tak terdengar dan diketahui oleh orang luar.


Pergerakan pria yang sering melakukan olahraga untuk menjaga tubuh dan staminanya meski sudah tak lagi muda itu mampu membuat Siwi tak bisa menahan suaranya untuk memekik akibat rasa nik*mat. Bukan lagi desa*Han tapi pekikan akibat pergerakan yang cukup ekstrem sang Daddy.


Di malam terakhir Satya berada di Bali itu pula Belva mendapatkan bukti-bukti yang lagi-lagi membuatnya terkejut. Rupanya mata-mata yang direkomendasikan oleh Maria cukup bagus kinerjanya bahkan pria itu bisa sampai menyelidiki ke dalam kamar yang dipesan oleh Satya dan Jordi yang kini sedang dipergunakan untuk berperang.


"Gi*la! Ini sangat gila bagaimana mereka bisa melakukan itu?" Gumam Belva dengan mata yang masih membulat sempurna. Tangannya bergetar menyaksikan video yang ada di dalam layar ponselnya.


Meski dirinya pun pernah melakukan hal serupa dengan Satya tapi wanita itu entah apa yang ada dipikirannya hingga tangannya bergetar. Rahang wanita itu mengeras saat menyaksikan secara samar wajah wanita yang sedang berperang di dalam layar ponselnya.


"Cih wanita mura*han. Kita lihat nasib siapa nanti yang akan berakhir buruk." Gumam Belva kembali.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terima kasih masih setia support author sampai saat ini. Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Simak terus kelanjutan ceritanya, kita lihat apa yang akan dilakukan Mami Belva ya?? ☺️


Besok hari terakhir author tunggu chat masuk yaa kalau gada bakal author alihkan ke yang lain. πŸ™


__ADS_2