Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 156. Jangan-jangan


__ADS_3

Diluar kebiasaan Satya, pria itu memiliki daya tahan tubuh yang cukup kuat karena beberapa vitamin yang dikonsumsi olehnya dan kegiatan olahraga yang rutin dilakukan nya paling tidak satu mingu minimal dua kali. Pria itu hampir bisa dikatakan tidak pernah sakit parah. Demam, pusing serta flu batuk pilek hanyalah sakit ringan yang dideritanya. Dan biasanya pria itu tak pernah mau berobat ke rumah sakit.


Kali ini Satya benar-benar merasa tidak kuat, setelah diperiksa oleh dokter yang mendiagnosa Satya keracunan makanan maka keluarga memutuskan untuk membawa Satya ke rumah sakit. Pria itu tak menolak sedikitpun karena dia mendengar jika dirinya keracunan makanan maka itu artinya sakit yang dideritanya adalah hal yang serius.


Sebagai bagian dari keluarga Hector tentu saja Satya mendapatkan fasilitas yang nyaman di kelas satu rumah sakit. Walaupun tanpa dirinya menjadi bagian dari keluarga Hector pun Satya memang mampu mendapatkan fasilitas yang nyaman. Saat dibawa ke rumah sakit, tim medis langsung menangani Satya dengan mengecek kondisi pria beranak dua itu.


Berbagai pertanyaan diberikan kepada Belva oleh dokter mengenai kondisi Satya sebelum mengalami gejala-gejala keracunan. Semua dijawab oleh Belva sesuai dengan apa yang diketahuinya. Begitu pula dengan Satya, dokter memberikan pertanyaan pada pasiennya itu. Meski dengan lemas menjawab Satya tetap memberikan keterangan.


"Apakah semua baik-baik saja sebelum menyantap makanan di pesta pernikahan?" Tanya dokter.


"Maksud saya apakah anda tidak merasa mual atau pusing sebelumnya?" Imbuh dokter.


"Sebelumnya saya merasa sedikit mual, dok." Jawab Satya.


Belva langsung menatap suaminya, ia tak pernah tahu jika suaminya sudah merasakan hal itu karena Satya tak bercerita padanya.


"Baiklah. Jadi begini Tuan dan Nyonya, sebaiknya Tuan beristirahat sejenak sampai kondisinya sedikit lebih baik. Sesuai dengan hasil pemeriksaan kami tidak ada data-data yang menunjukkan pasien keracunan makanan."


Belva, Tuan dan Nyonya Hector mengerutkan kening. Mereka merasa selama ini hasil pemeriksaan dokter Richard hampir seluruhnya sesuai.


"Lalu putraku sakit apa dokter?" Tanya Nyonya Hector.


Nyonya Hector sudah menganggap Satya seperti anaknya sendiri sama seperti Belva, Roichi dan juga Bella.


"Kami juga sedikit merasa bingung, tapi sebaiknya memang pasien harus banyak istirahat dan kita tunggu tiga hari kedepan kami akan memantau keadaan pasien jika dalam tiga hari ini masih terus saja mual maka saya akan periksa ulang keadaan pasien."


"Baik, dokter. Terima kasih atas bantuannya." Ucap Belva.


"Sama-sama, untuk sementara ini kami hanya bisa memberikan infus agar cairan tetap terjaga dan vitamin serta obat pereda mual dan pusing saja jika mual dan pusing kembali terasa."


Belva dan kedua orang tuanya mengangguk saja. Satya masih bisa mendengar ucapan dokter meski matanya terpejam. Pria itu merasa sangat lemas karena saat berada di rumah sakit pun dia merasa mual dan pusing.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter.


"Baik dokter sekali lagi terima kasih." Ucao Belva.


Tuan Hector mengantar sang dokter hingga menuju pintu. Nyonya Hector duduk di sofa sedangkan Belva duduk di kursi dekat ranjang Satya.


"Sakit apa kamu, mas. Keracunan makanan pun tidak, aneh sekali." Gumam Belva sembari memegang lengan Satya.


Kelopak mata Satya terbuka setelah mendengar ucapan istrinya.


"Yank, mas haus."


"Mas, kamu haus sebentar aku ambilkan."


Belva mengambilkan gelas yang ada di atas nakas sampin ranjang dan diberikan pada Satya. Dengan menggunakan pipet, ia membantu Satya untuk meminum air putih yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Sudah?" Tanya Belva dan Satya mengangguk.


"Yank, lemas sekali rasanya." Ucap Satya mengeluh pada istrinya.


Satya tipe pria yang tidak pernah mengeluh selama ini tapi hari ini dia mengeluh dengan apa yang dirasakan oleh tubuhnya.


"Iya, sabar ya. Lemas karena dari tadi mas muntah. Mas, mau makan?" Tawar Belva.


Satya menggelengkan kepalanya, tidak ada nap*su makan saat ini yang lebih dominan adalah rasa lemas dan kepala yang pusing.


"Aku pijat lagi ya kepalanya. Mas tidur lagi saja."


Satya mengangguk, saat tangan Belva dengan lembut memijat kepalanya, ditutupnya kelopak matanya menikmati pijatan sang istri. Perlahan pijatan Belva mampu meredakan rasa sakit kepalanya. Satya perlahan bisa tertidur selama Belva masih memijatnya.


Melihat suaminya sudah tidur dengan tenang, perlahan tangan Belva menjauh dari kepala Satya. Belva membenahi selimut suaminya setelah yakin Satya benar-benar tidur.


"Suamimu tidak keracunan, apa dia terbiasa jika kelelahan seperti itu?" Tanya Nyonya Hector yang melihat Belva hendak duduk di sofa yang sama dengannya.


"Setahuku tidak seperti itu, Ma. Mas Satya orang yang kuat dan tahan terhadap sakit. Jarang mengeluh sakit juga."


"Ooohh... Kita tunggu sampai tiga hari saja, bagaimana kata dokter nanti."


"Iya, Ma. Semoga mas Satya baik-baik saja. Mungkin dia memang kelelahan, karena waktu kami datang juga sudah mepet dengan acara pernikahan Marko dan Azura."


"Berapa hari kalian akan di sini, Nak?" Tanya Tuan Hector.


"Entahlah, Pa. Aku mengikuti mas Satya saja. Tapi yang jelas setelah dia sembuh nanti baru kami akan memikirkannya. Sepertinya kami pun tidak bisa berlama-lama anak-anak harus sekolah."


"Baiklah, Papa sebenarnya senang jika kalian berlama-lama di sini. Tapi Papa juga menghargai semua keputusanmu."

__ADS_1


"Maaf, Pa. Van janji begitu anak-anak libur sekolah pasti akan kami gunakan untuk mengunjungi kalian nanti."


"Tidak apa, sayang. Mama dan Papa mengerti jika kehidupanmu sekarang memang sudah berada di sana. Bagaimana kabar Budhe mu?" Tanya Nyonya Hector.


"Budhe baik-baik saja bersama Bella. Bahkan sejak Van menikah, Budhe sangat menjaga Bella begitu pula sebaliknya."


"Baguslah, Bella beruntung mengikutimu ke Indonesia. Dia memang lebih baik tinggal bersama kalian." Ucap Nyonya Hector.


Sejujurnya Belva pun tak tahu bagaimana kehidupan Bella yang sebenarnya. Dirinya tak ingin bertanya hal pribadi jika Bella tak menceritakannya sendiri.


"Bella sangat baik di Indonesia, dia sudah memahami keadaan di sana. Bahasanya sudah lancar, dia gadis yang cerdas."


Tuan dan Nyonya Hector mengangguk, mereka merasa senang mendengar keadaan Bella yang baik-baik saja di Indonesia.


"Oh iya, Om Roi apa masih di Jerman?" Tanya Belva.


Selama kepergian Roichi mereka jarang sekali bertukar kabar, terlebih saat Belva sudah menikah dengan Satya. Wanita itu seakan lebih sibuk dari mulai mengurus butik,. mengurus anak-anaknya dan suami.


"Roi masih berada di Jerman. Perusahaan di sana membutuhkan penanganan secara langsung dari Roichi." Ucap Tuan Hector.


"Tapi dalam waktu dekat mungkin dia akan kembali untuk urusan keluarganya." Imbuh Tuan Hector.


Belva mengangguk, ia tak lagi bertanya lebih mengenai Roichi. Sekarang fokusnya justru mengarah pada kedua anaknya yang ia titipkan pada Jasmine. Dua bocah itu bahkan belum mengetahui jika Daddy mereka dibawa ke rumah sakit.


Dua hari di rumah sakit ada saja tingkah Satya yang menurut Belva sangat aneh dan jauh dari kata sikap dingin dan datar. Satya beberapa kali merengek meminta hal yang menurut Belva sangat bukan tipe Satya.


"Yank, jalan-jalan ke mall yuk." Ajak Satya.


"Mas, kamu masih sakit mana bisa jalan-jalan ke luar apalagi ke mall segala."


"Mas itu tidak sakit, yank. Kita pulang saja."


"Tapi dokter belum mengijinkan mereka masih mengobservasi keadaan mu selama tiga hari nanti."


"Ck... Sebentar saja kita jalan ke mall nanti selesai kita kembali lagi ke rumah sakit." Ucap Satya.


"Mana bisa seperti itu, mas pikir rumah sakit ini hotel bisa keluar masuk seenaknya untuk sekedar jalan-jalan." Ucap Belva mulai sedikit kesal karena Satya sejak tadi terus memaksa dan merengek.


"Ayolah yank sebentar saja, hanya mau beli bakso mercon saja."


"Lah kan biasanya kalau kita jalan sama Kay ada kok bakso mercon di mall, mas lihat."


Belva menepuk jidatnya, tingkah suaminya itu sangat aneh sekali.


"Mengapa dia tiba-tiba jadi agak lemot begini ya otaknya." Gumam Belva lirih tapi masih di dengar oleh Satya.


"Yank, kamu mengatai mas berotak lemot? Kamu mau bilang mas bo*doh?" Ucap Satya dengan nada kesal.


"Loh bu-bukan mas, siapa yang bilang kamu seperti itu." Belva mencoba berkilah.


"Hah sudahlah kalau tidak mau setidaknya jangan mengatai suami bo*dog seperti itu." Satya merajuk, dia langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Tak lama Nyonya Hector datang, tapi dari arah luar ia bisa mendengar secara sama yang membuatnya penasaran saat masuk ke dalam ruangan.


"Sayang." Panggil Nyonya Hector.


"Mama... Mama tidak ke butik?" Tanya Belva.


Keduanya saling berpelukan dan bercipika cipiki ria khas ala perempuan.


"Mama mau temani kamu di sini dulu baru nanti ke butik. Mama malas bertemu dengan teman arisan Mama."


"Loh kenapa?" Tanya Belva.


"Setiap datang ke butik minta dibuatkan baju terus."


"Ya bagus dong, Ma. Itu berarti butik Mama lariskan."


"Laris sih laris, sayang. Tapi kalau setiap membuat baju dia minta diskon terus ya lama-lama tekor dong, Nak. Masih untuk diskon sudah tiga kali tidak bayar pesan gaun." Gerutu Nyonya Hector.


Baginya bisnis adalah bisnis memang ada kalanya Nyonya Hector memberikan keringanan dengan harga teman. Tapi jika melihat sikap dan karakter temannya yang seperti itu membuat Nyonya Hector merasa geram dan kesal.


"Wah kalau seperti itu tidak bisa dibiarkan sih. Kita harus tegas, Ma." Ucap Belva.


"Iya maka dari itu Mama lebih baik ke sini dulu saja. Nanti jika dia sudah pergi dari butik baru Mama ke butik."


Satya yang merasa kesal dengan istrinya kini semakin bertambah kesal karena sang istri justru sibuk mengobrol dengan mertuanya. Belva mengabaikan permintaan Satya yang ingin jalan-jalan ke mall. Merasa Belva tak lagi menggubris dirinya, Satya bangun dari ranjang.

__ADS_1


"Mas, mau ke mana?"


Pertanyaan Belva tak mendapatkan jawaban dari Satya. Pria itu justru melenggang pergi dan masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit membanting pintu.


Brak!


Belva dan Nyonya Hector saling tatap dengan tingkah Satya.


"Ada apa dengan suamimu?"


"Entah, Ma. Mas Satya akhir-akhir ini aneh sekali. Masa di rumah sakit dia minta jalan-jalan ke mall lalu nanti kembali lagi ke sini."


Mata Nyonya Hector menatap dalam pada Belva setelah mendengar penuturan putrinya. Nyonya Hector berpikir keras ada apa dengan menantunya.


Di dalam kamar mandi Satya memuntahkan isi perutnya. Rupanya sejak menutup diri menggunakan selimut perlahan perutnya bergejolak tak nyaman.


Hoek!!! Huek!!!


Kembali Nyonya Hector menatap putrinya sedangkan yang ditatap tak mengerti maksud tatapan Mamanya.


"Mas Satya muntah lagi, Ma. Tunggu sebentar."


Belva langsung berlari ke arah kamar mandi untuk membantu sang suami. Biasanya setelah muntah seperti itu Satya akan merasa lemas dan pusing.


"Sikapnya aneh lalu mual-mual terus. Jangan-jangan." Gumam Nyonya Hector.


Setelah tiga hari lamanya di rawat di rumah sakit dengan dibawah pengawasan sang istri yang setia merawat dan pantauan dokter yang memantau keadaannya kini waktunya Satya kembali menjalani menjalani serangkaian pemeriksaan dari dokter.


"Bagaimana dokter keadaan suami saya?" Tanya Belva.


"Seperti diawal pemeriksaan, tidak ada penyakit serius. Saya sarankan untuk ke dokter kandungan." Ucap dokter sedikit tersenyum.


"Hah? Ke dokter kandungan? Untuk pemeriksaan perut suami saya, dok? Apa perutnya memang ada masalah tapi dokter bilang tidak ada penyakit serius." Ucap Belva.


"Memang tidak ada penyakit serius pada suami anda, Nyonya. Tapi saya rasa yang harus diperiksa bukan hanya suami anda saja tapi anda juga harus diperiksa."


"Apa hubungannya, dok?" Tanya Satya yang juga bingung dengan penjelasan dokter.


"Jika dari gejala yang terus muncul dan hasil pemeriksaan yang tidak menunjukkan adanya penyakit serius maka saya rasa istri anda sedang hamil, Tuan."


Satya dan Belva semakin tak mengerti lagi, apa hubungannya Satya sakit dengan Belva hamil.


"Tunggu? Saya hamil? Tidak saya tidak hamil, dok. Saya tidak merasakan tanda-tanda kehamilan." Ujar Belva.


Satya menatp sang istri, jik abenar Belva hamil maka dirinya akan sangat bahagia tapi mendengar penjelasan sang istri Satya hanya bisa diam untuk sementara waktu.


"Ini bukan ranah saya, Nyonya. Tapi anda bisa memastikan nya ke dokter kandungan. Maaf apa anda susah datang bulan untuk bulan ini?" Tanya dokter pria yang usianya sama dengan Satya.


Mendengar dokter tersebut bertanya mengenai hal pribadi seperti itu membuat Satya sedikit emosi dan kesal. Dirinya akhir-akhir ini juga merasa sensitif untuk beberapa hal.


"Dok, maksud dokter apa? Apakah pertanyaan seperti itu pantas untuk ditanyakan seorang dokter pria pada istri pasien?" Ucap Satya menahan emosinya.


Dokter tersebut menggelengkan kepala, dia tak heran dengan respon pasiennya karena dokter itupun merasa Satya sedang dalam keadaan sensitif akibat istri yang tengah hamil.


"Maaf, kalau begitu saya sarankan kalian segera ke dokter kandungan saja untuk memastikan dan mendapatkan penjelasan dari dokter kandungan. Yang jelas anda tidak dalam keadaan sakit yang serius. Anda bisa pulang hari ini, Tuan. Tapi jika saya boleh saran sebelum pulang berkunjunglah ke dokter kandungan." Ucap dokter tersebut dengan tersenyum.


"Apakah ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" Tanya dokter.


"Tidak ada dokter. Terima kasih banyak dan saya minta maaf jika suami saya tadi menyinggung perasaan anda." Ucap Belva.


Ia merasa pertanyaan dokter tersebut bukan sesuatu yang kurang ajar. Setelah mendengar pertanyaan seperti itu dirinya baru berpikir ulang dan merasa tidak enak hati dengan dokter yang telah membantu dirinya dan Satya selama tiga hari ini.


"Tidak apa-apa saya mengerti, baik kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa berkunjung ke dokter kandungan dan mengambil resep vitamin di bagian farmasi."


"Baik dokter." Ucap Belva.


Dokter tersebut pergi dari ruangan Satya. Belva langsung menatap suaminya dengan cukup serius. Ia menghubungkan keadaan dirinya dengan keadaan sang suami.


"Kenapa? Kenapa melihat mas seperti itu?" Tanya Satya penasaran bercampur sedikit kesal.


"Kita sudah bisa pulang, aku berkemas dulu." Ucap Belva.


Belva mengemasi barang-barang yang tidak seberapa banyaknya. Dalam kegiatan berkemas pikirannya terus bekerja memikirkan apa yang dokter katakan tadi.


***


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2