
Ranjang berukuran sedang itu memang muat untuk dua orang. Meski harus sedikit berdesakan, tapi Satya sangat menikmatinya. Mereka tidur dengan begitu pulas, pria duda itu bahkan untuk malam ini bisa tidur dengan nyenyak. Mimpi indah pun menghampiri tidur Satya malam ini.
Ketika pagi hari tiba, Belva yang terbiasa bangun pagi buta. Kelopak matanya mulai terbuka, ia mengernyitkan kedua alisnya hingga hampir menyatu. Tempat yang asing baginya saat membuka mata di pagi hari.
Tubuhnya yang lebih tepat pada bagian pinggang ke arah perut terasa berat. Tanpa sadar tangan Belva berusaha menyentuh apa yang membuatnya terasa berat. Diikuti oleh pandangan matanya yang mengarah pada bagian perutnya. Terbelalak mata Belva, melihat ada tangan kekar yang melingkari perutnya.
Sontak Belva menoleh ke arah belakang hingga hidungnya mancung miliknya bertubrukan dengan hidung mancung milik Satya. Mata Belva membulat saat melihat wajah tampan Satya. Pria itu membuka mata kala hidungnya terbentur oleh sesuatu.
Diam tak bersuara hanya saja warna bermata hazel itu bergerak mengedip dan membuka sembari menatap wanita cantik dihadapannya. Belva terdiam sesaat menatap mata hazel itu.
"Tu-tuan..." Belva memalingkan wajahnya karena terlalu dekat dengan Satya.
Degup jantung Belva berdetak lebih kencang pagi ini. Grogi dan canggung menyerang dirinya. Dengan cepat Belva hendak bangun dan mencoba menyingkirkan tangan kekar Satya.
"Mau kemana ?" Tanya Satya.
"Tu-tuan... Saya... Saya tolong lepaskan. Saya ha-harus keluar."
Bukan melepaskan tapi Satya justru semakin mempererat lilitan tangannya pada perut Belva. Masih tak rela jika harus merelakan momen langka seperti ini.
Belva kembali menghadap Satya. "Tuan..."
"Sebentar saja." Satya kembali mempererat dekapannya dan menutup matanya kembali.
Pria itu benar-benar menikmati momennya pagi ini dengan sangat baik. Mendekap erat wanita yang mampu memberikan rasa yang berbeda pada hatinya. Bahkan tubuh Belva semakin ditarik olehnya agar semakin dekat padanya. Dihirup dalam-dalam wangi rambut Belva.
Belva merasa semakin bergidik geli dan ngeri. Pria duda itu mendekapnya sangat erat. Apakah ini sudah termasuk dalam aksi pelecehan ? Begitulah pikir Belva saat ini.
"Tuan lepaskan saya." Ucap Belva.
Satya kembali membuka matanya, terdengar di telinganya suara Belva yang sedikit ketakutan. Satya tersadar, dekapannya dikendurkan. Lalu pria itu bangun dari tidurnya bersandar pada kepala ranjang.
"Maaf..." Ucap Satya mengusap kening dan rambut Belva yang masih berbaring.
Kembali terasa sikap dan suara Satya yang lembut oleh Belva. Wanita itu lalu bangun dari tidurnya.
"Kenapa saya bisa tidur disini bersama anda Tuan ?" Tanya Belva.
"Saya membawamu ke sini. Saya tak tega mengganggu tidur anak-anak dengan membawamu ke kamar mereka."
"Kenapa anda justru ikut tidur disini, seharusnya anda tidur di kamar anda sendiri."
"Saya sudah sangat mengantuk jadi malas berjalan ke kamar." Ucap Satya dengan santai.
Yang sesungguhnya tak seperti itu adanya. Tak mungkin dia berterus terang pada Belva saat ini. Pria itu akan menikmati setiap momen-momen langka itulah tanpa harus terburu-buru yang nantinya akan membuat Belva semakin menjauh darinya.
"Tapi tak perlu peluk-peluk saya." Ucap Belva sedikit ketus.
"Saya tahu pasti kamu kesal karena kelancangan saya. Pasti kamu merasa bersalah pada suami mu. Maafkan saya, saya tak bermaksud untuk merusak kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga kalian." Ucap Satya dengan tenang tapi di dalam hatinya terasa sakit.
Wanita saat ini menjadi dambaan hatinya sudah bersuamikan seorang yang menjadi rekan kerjanya. Satya sendiri tak bisa membayangkan jika hal ini diketahui oleh Roichi akan seperti apa jadinya nanti.
Belva mematung mendengar apa yang dikatakan oleh Satya. Ternyata sandiwaranya mampu membuat Satya begitu percaya jika Roichi adalah suaminya. Untuk menjelaskan pada Satya rasanya Belva masih ragu. Untuk apa dirinya memberikan penjelasan pada Satya akan hal itu biarkan semuanya berjalan begitu saja. Sampai pria itu tahu dengan sendirinya saja karena tak ada kewajibannya untuk memberikan penjelasan pada Satya.
"Saya harus keluar." Ucap Belva berjalan meninggalkan ranjang Satya.
Pria itu hanya menatap Belva yang terus melangkah meninggalkannya. Bibirnya menghela napas cukup dalam serta sedikit mendesah frustasi. Bagaimana bisa dirinya menyukai istri orang.
Satya beranjak dari ranjangnya, dia keluar dari ruang kerja menyusul di belakang Belva. Pintu ruang kerja itu dibuka oleh Belva dengan Satya yang ada di belakangnya. Saat pintu itu terbuka di depan sana tak jauh dari ruang kerja Satya, dua pembantu Satya sedang membersihkan lantai dua.
Tatapan mereka teralihkan dari alat pel terhadap pintu kerja Satya. Mata mereka sedikit membelalak, majikannya keluar dari tempat itu dengan wajah yang masih terlihat seperti orang yang sedang bangun tidur sama seperti wanita yang sedang mereka tatap.
Kedua pembantu yang tak lain Tuti dan Inah itu saling melirik satu sama lain. Tapi mereka tak berani bersuara karena ada Satya di sana. Belva sedikit terkejut dengan dua pembantu Satya itu tapi sebisa mungkin Belva bersikap tenang. Ia berjalan melewati Tuti dan Inah.
"Maaf ya Mbak saya numpang lewat." Ucap Belva yang merasa tidak enak hati karena lantai tersebut sedang dalam keadaan di pel oleh Tuti dan Inah.
Ia tak mungkin jika kembali masuk ke dalam ruang kerja Satya hanya berdua saja dengan pria itu terlebih adanya dua pembantu yang sudah melihatnya itu pasti nanti akan berpikiran yang tidak-tidak padanya.
Satya mengikuti Belva dari belakang tapi diam tanpa kata. Tanpa ada kata permisi atau permintaan maaf karena melewati lantai yang dalam keadaan masih basah itu.
Belva masuk ke dalam kamar Duo Kay dan Satya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Hari masih petang karena masih terlalu pagi untuk bangun. Maka dari itu tidak heran jika Tuti dan Inah bisa melihat majikannya dan Belva keluar dari ruang kerja Satya.
"Tut, mereka seperti bangun tidur. Aku tak salah lihat kan ?" Ucap Inah.
"Iya nah... Bukankah kata Mbok Yati ruang kerja Tuan ada kamar tidurnya kan ? Pasti mereka tidur di dalam ruangan itu."
"Tidak salah lagi, pasti wanita itu yang menggoda Tuan sampai bisa bercerai dengan Nyonya Sonia." Ucap Inah.
"Iya betul... Sekarang kita pikir saja. Dia masih muda bahkan usianya hampir sama dengan Non Alya tapi kenapa mau sama pria yang sudah dewasa yang bahkan pantas menjadi Ayah nya. Memang sih Tuan itu terlihat sangat tampan tapi seharusnya tidak merusak rumah tangga orang lain."
"Wanita seperti itu sih tidak pantas dihormati." Imbuh Tuti kembali.
Inah mengangguk setujui dengan apanyang Tuti katakan. Usia Belva dan Satya sangat jauh sekali dan memang lebih cocok menjadi ayah dan anak. Inah masih tak menyangka ada wanita seburuk Belva.
"Memang sih ya jaman sekarang pelakor itu semakin menjamur bahkan ada yang terang-terangan di depan istri sah." Ucap Inah.
Mereka berdua terus saja menggosip dan mengerumpi dengan topik Satya dan Belva. Hingga lupa dengan pekerjaan yang seharusnya mereka selesaikan.
Membuat Mbok Yati yang tanpa mereka sadari sudah berada di lantai dua dan hendak ke lantai tiga membersihkan ruangan di atas sana berhenti.
Dengan sangat jelas dua pembantu muda itu membicarakan Satya dan juga belva. Mbok Yati geram dan kesal mereka menjelekan Belva seakan mereka tahu segalanya mengenai kehidupan Belva.
"Tuti... !! Inah... !!" Panggil Mbok Yati sedikit keras hingga mereka berdua terkejut.
Dua wanita itu sontak saja menoleh ke arah belakang. Sumber suara yang mengejutkan mereka.
"Sudah beres pekerjaan kalian sehingga kalian sibuk menggosip tak jelas huh ?!"
"Eh... Mbok, siapa yang bergosip kita gidak bergosip tapi membicarakan fakta." Ucap Tuti.
"Fakta apa yang kalian ketahui sampai mengepel lantai pun tak selesai." Ucap Mbok Yati.
__ADS_1
"Fakta wanita penggoda yang kemarin sibuk memasak dengan Mbok Yati yang mantan pembantu rumah ini baru saja tidur bersama Tuan." Ucap Inah dengan percaya diri karena sesuai fakta menurutnya.
Mbok Yati sedikit membulatkan matanya, ucapan Inah membuatnya terkejut. Apakah benar Belva tidur dengan Satya lagi malam tadi. Tapi sebenarnya Mbok Yati merasa tak masalah jika itu terjadi, itu adalah urusan Tuannya.
Lagipula jika memang Satya pada akhirnya memilih Belva sebagai pendamping hidup pria itu. Mbok Yati akan dengan senang hati seratus persen mendukung Satya dan Belva. Wanita paruh baya itu tahu mereka pun sudah memiliki sepasang anak kembar. Pasti kedua anak itu juga membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua yang lengkap.
"Sudah... Sudah... Lagipula itu juga bukan urusan kalian. Urusan kalian itu bekerja dengan benar disini kalau tidak ingin dipecat dari rumah ini. Cepat lanjutkan pekerjaan kalian." Ucap Mbok Yati.
Wanita tua itu tak mau jika kedua pembantu muda itu terus-menerus menjelekkan Belva tanpa tahu faktanya seperti apa. Tak mau dipecat karena Mbok Yati adalah kepala asisten rumah tangga di rumah besar Satya yang bisa saja mengadu pada majikan mereka.
Kedua pembantu muda itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Mbok Yati kembali melanjutkan perjalanannya menuju lantai tiga. Di lantai tiga terdapat kolam renang dan juga ruangan olah raga Satya.
Di dalam kamar Duo Kay, Belva duduk di sofa panjang. Ia memperhatikan sekeliling kamar itu, terlihat sangat mewah untuk ukuran kamar anak-anak. Segala fasilitas ada di dalam kamar itu, banyak sekali mainan di sudut ruangan.
"Ruangan ini sangat nyaman untuk ukuran anak-anak. Tuan Satya terlihat bersungguh-sungguh dalam membuat kamar ini." Gumam Belva lirih.
Ruangan ini Belva tahu dulunya adalah kamar tamu selain dari beberapa kamar yang ada di lantai satu. Tapi terlihat lebih besar dibandingkan dulu karena Satya menjadikan dua kamar menjadi satu.
Terbiasa bangun pagi untuk mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan rumah dan anggota keluarganya. Tapi saat ini Belva menjadi bingung harus melakukan apa. Ia merasa sungkan jika harus keluar kamar, masih kurang nyaman berada di rumah Satya.
Sedangkan Satya, pria itu kembali melanjutkan tidurnya. Masih merasa mengantuk karena beberapa hari ini pria itu memang kurang istirahat.
Waktu semakin berjalan cepat, hingga cahaya sinar matahari menyorot menyusup dibalik celah-celah yang ada. Duo Kay terbangun dengan waktu yang hanya berbeda sepuluh menit saja.
Tampak sedikit bingung saat bangun dari tidur mereka. Ruangan yang belum benar-benar terpatri di dalam pikiran mereka. Manik mata mereka memindai seluruh ruangan itu. Mereka baru sadar jika mereka saat ini berada di kamar baru mereka.
"Mamiii..." Panggil Kaila yang melihat keberadaan Maminya di sofa.
Belva menoleh ke sumber suara. "Sayang, sudah bangun Nak ?"
Kaila mengangguk. Kaili hanya diam pria kecil itu mengumpulkan kesadarannya.
"Mami dimana Daddy ?" Tanya Kaili.
"Daddy ? Emm... Mungkin masih tidur." Ucap Belva.
Dia tak tahu Satya dimana dan sedang apa. Keluar dari ruang kerja Satya, wanita itu langsung masuk ke dalam kamar Duo Kay.
"Tidur di kamar Daddy ?" Tanya Kaila.
Belva hanya mengangguk ragu.
"Mau ke kamar Daddy." Ucap Kaila.
"Iya... Ayo Mami ke.lamar Daddy." Ucap Kaili yang mendukung keinginan kembarannya.
"Tapi sayang sebaiknya jangan. Daddy kalian sedang tidur jadi jangan diganggu ya." Ucap Belva dengan lembut.
Ia tak mungkin bersama Duo Kay masuk ke dalam kamar Satya. Masih dengan perasaannya yang tak nyaman saat berada di rumah ini.
Tak lama pintu kamar Duo Kay diketuk dari arah luar. Ketiga pasang mata yang berada di dalam kamar itu menatap pintu.
"Siapa itu Mami ?" Tanya Kaila dan Kaili.
Duo Kay mengangguk. Belva mendekati pintu kamar Duo Kay. Dibuka pintu itu ternyata Mbok Yati.
"Mbok..."
"Neng... Pagi Neng, maaf Mbok boleh masuk ?"
"Oh boleh Mbok masuk saja, ayo mbok." Dengan senang hati Belva mempersilahkan Mbok Yati masuk ke dalam kamar Duo Kay.
"Kita duduk di sofa saja ya Mbok." Ajak Belva dan Mbok Yati menyetujuinya.
"Neng... Mbok akhirnya bertemu dengan mu kembali. Mbok rindu sama kamu neng. Bagaimana kabar Imah ?" Tanya Mbok Yati.
"Belva juga rindu sama Mbok Yati. Budhe kabarnya baik kok Mbok. Main-main lah ke rumah kami Mbok pasti Budhe juga senang dengan kedatangan Mbok Yati."
"Iya nanti kapan-kapan Mbok main ke rumah kalian. Neng..." Mbok Yati melirik dua bocah yang ada di ranjang.
"Iya Mbok ?" Belva mengikuti arah pandang Mbok Yati.
"Itu... Mereka anak neng Belva ?" Tanya Mbok Yati sedikit ragu.
"Iya Mbok itu anak-anak Belva."
"Dengan... Tuan Satya ?"
Belva tersenyum masam sembari mengangguk. Melihat senyum Belva, Mbok Yati merasa tidak enak hati. Duo Kay turun dari ranjang dan menghampiri Belva.
"Mami..." Panggil Kaila.
"Mami, ayo ke kamar Daddy." Ajak Kaili.
"Sayang, kita mandi dulu saja ya." Ucap Belva mengalihkan pembicaraan Duo Kay.
"Oh iya kenalan dulu sayang, ini Uti Yati. Ayo salam sama Uti." Ucap Belva.
"Hallo Uti Yati." Ucap Kaila melambaikan tangan pada Mbok Yati. Demikian Kaili pria kecil itu hanya tersenyum singkat pada Mbok Yati.
"Hallo anak-anak cantik dan ganteng. Siapa nama kalian sayang ?" Ucap Mbok Yati.
"Aku Kaila... Ini Kaili." Ucap Kaila.
Seperti biasa Kaili tak banyak bicara jika dihadapkan orang baru. Kaila lah yang lebih banyak berbicara karena memang sifat bocah itu yang ceriwis.
"Ya sudah kalian mandi saja dulu neng, nanti turunlah ke bawah karena Mbok sudah masak buat kalian dan Tuan Satya."
"Terima kasih Mbok tapi seharusnya tak perlu repot-repot. Kami sepertinya harus segera pulang." Ucap Belva.
"Tidak apa-apa neng... Ya sudah mbok keluar dulu ya mau bangunkan Tuan."
__ADS_1
"Iya Mbok."
Mbok Yati keluar dari ruangan itu, Belva langsung mengarahkan Duo Kay untuk segera membersihkan diri di kamar mandi. Satu persatu Belva membantu mereka mandi. Handuk kimono kecil pun tersedia juga di kamar mandi itu, selesai mandi kedua bocah itu menggunakan handuk kimono mereka yang berukuran kecil dan berwarna putih.
Belva juga membuka lemari yang ada di kamar Duo Kay. Sudah terdapat beberapa pakaian untuk Duo Kay. Rupanya setelah kejadian Kaili yang kemarin tak bisa mengganti seragam sekolahnya itu dan menjadi sedikit perhatian Belva kemarin, membuat Satya bergerak cepat menyuruh Jordi untuk membelikan beberapa pakaian untuk Duo Kay.
Mereka sudah siap termasuk Belva yang juga sudah mandi tapi sayang tak bisa mengganti baju karena tak ada pakaian ganti lagi untuk wanita itu. Saat akan berjalan menuju tangga, Mbok Yati ternyata sedang berjalan naik tangga.
"Neng, sudah siap ?"
"Iya Mbok, mau kemana ?"
"Bangunkan Tuan, sejak tadi dibangunkan tidak bangun-bangun." Ucap Mbok Yati.
"Tuan siapa Uti ?" Tanya Kaila.
"Tuan Satya, anak cantik." Ucap Mbok Yati.
"Daddy Satya ? Dimana kamar Daddy, Kaila mau ke kamar Daddy."
"Ayo ikut Uti, kamarnya disana." Ucap Mbok Yati.
"Mbok, jangan..." Cegah Belva.
"Tidak apa neng, barangkali Tuan Satya mau bangun kalau anak-anaknya yang bangunkan. Ayo ikut neng atau neng mau turun lebih dulu ?"
Belva berpikir dirinya tidak akan turun tanpa anak-anaknya. Jadi, wanita itu mengikuti Mbok Yati dan Duo Kay. Wanita tua itu kembali mengetuk pintu tapi tak mendapatkan respon apapun. Hingga Kaila bertanya untuk meminta masuk ke kamar Daddy nya apalah boleh atau tidak.
Setelah berpikir Mbok Yati membiarkan dua bocah itu masuk ke kamar Tuannya. Tak mungkin jika pria itu akan marah jika kedua anaknya yang masuk kamarnya.
"Duh... Neng, Mbok kebelet pipis. Masuk saja neng temani anak-anak." Ucap Mbok Yati yang sudah tak tahan dengan panggilan alam itu.
Belva ragu dan mendesah bingung. Dirinya sudah benar-benar ingin menghindar dari kamar itu tapi justru malah harus memasuki kamar itu. Duo Kay sudah masuk kamar Satya, mau tak mau Belva ikut masuk. Niat hati dirinya ingin mencegah dan membawa Duo Kay kembali keluar. Tapi sayang, Belva terlambat. Duo Kay sudah naik ke atas ranjang Satya yang besar itu.
Kaila langsung saja meloncat-loncat di atas ranjang empuk itu. Merasa senang sekali bisa memasuki kamar Daddy nya yang juga tak kalah luas dari kamar mereka.
"Daddy !!! Ayo bangun !!" Teriak Kaila dan Kaili.
Belva menganga dan membulatkan matanya. Betapa terkejutnya Belva dengan kelakuan kedua anaknya. Reflek Belva menutup kamar Satya dan berlari ke arah ranjang Satya.
"Kaila !! Kaili !! Ayo turun." Belva bersuara dengan menekan volume suaranya. Tapi intonasi suara nya terdengar kesal dan gemas dengan kelakuan Duo Kay.
Satya merasa terganggu dengan ranjang yang bergerak-gerak seperti ada gempa. Ditambah teriakan cempreng milik Kaila. Kedua mata Satya langsung saja terbuka, sempat merasa kesal karena ada yang menggangu tidurnya. Tapi melihat ulah siapa yang menggangu tidurnya, rasa kesal Satya menghilang seketika. Tergantikan oleh senyum manis yang mengembang di bibirnya.
"Kaila... Kaili... Stop nak. Iyaaa... Daddy bangun. Sini." Satya merentangkan kedua tangannya.
Duo Kay berhamburan memeluk Daddy mereka. Belva langsung membulatkan matanya dan berbalik arah hendak keluar kamar Satya.
"Mau kemana ?" Tanya Satya dengan suara bariton nya.
"Mami, sini." Ucap Kaili.
"Iya, Mami mau kemana ? Sini... Ayoo..." Ucap Kaila.
Belva terpaku pada posisinya yang tengah berdiri menghadap pintu kamar Satya. Bagaimana bisa Belva harus mendekati anak-anaknya. Jika saja saat ini Satya sedang bertelanjang dada, pria itu tak sadar jika sedang tak mengenakan kaos nya. Subuh tadi saat memasuki kamarnya dan melanjutkan tidur, dia membuka kaosnya agar bisa tidur dengan nyaman.
"Kemarilah... Anak-anak memanggil mu." Ucap Satya. Tapi tak ada respon dari Belva.
Satya mengambil sebuah benda kecil di atas nakas dan menekan tombol yang bertuliskan Lock. Satya tahu jika Belva hendak keluar kamarnya maka dengan sigap Satya meraih remote kecil pengunci pintu otomatis yang ada di kamarnya.
Teknologi yang semakin canggih Satya terapan pada rumahnya setelah perceraian dengan Sonia. Semua hal sedikit berubah kala Alya dan Sonia tak lagi berada di rumah itu.
Belva tak menggubris, wanita itu terus berjalan ke arah pintu. Meraih handel pintu tapi sayang tak bisa dibuka. Belva sedikit berdecak kesal.
Satya tersenyum tipis dengan usaha Belva. Pria itu kini lebih sibuk dengan anak-anaknya. Beberapa ciuman di daratan Satya pada Kaili dan juga Kaila.
"Daddy, cepat mandi. Kata Uti Yati sudah memasak banyak untuk kita." Ucap Kaila.
"Uti Yati ?" Satya sedikit berpikir bagaimana anaknya bisa memanggil Mbok Yati dengan sebutan itu.
"Iya kata Mami, perempuan yang sudah tua sama seperti Uti Imah di rumah Daddy ini namanya Uti Yati. Tadi Uti Yati berkunjung di kamar kota loh." Cerita Kaila.
Satya melirik Belva, wanita itu benar-benar mengesankan. Tak pernah membedakan siapapun, bahkan pada kedua anaknya bisa memperkenalkan dengan baik dan sopan.
"Oke, Daddy mandi dulu. Nanti kita sarapan bersama."
Satya terus mendaratkan ciuman-ciuman kecil untuk Kaila dan Kaili. Hingga membuat Kaila merasa geli dan Kaili merasa kesal.
"Stop Daddy... Aku anak laki-laki tak boleh cium-cium terus." Ucap Kaili kesal.
Satya tertawa dengan sikap anak lelakinya itu. "Baiklah, Daddy tak mencium mu lagi. Sini sayang Daddy cium Kaila saja."
"No Dad... Kenapa cium-cium kita terus. Gantian Daddy cium Mami kan Daddy belum cium Mami." Ucap Kaila.
Ucapan Kaila serasa menjadi angin segar bagi Satya. Pria itu tersenyum pada Kaila.
"Daddy, mandi dulu ya."
Satya berjalan kamar mandi, tapi sebelum sampai di kamar mandi Satya berbelok arah menghampiri Belva yang masih mematung di dekat pintu kamar Satya.
Melihat Satya yang semakin dekat dengannya, Belva langsung panik. Pendengaran masih berfungsi dengan sangat baik. Mendengar ucapan Kaila tadi Belva tak ingin jika itu terjadi lagi padanya.
"Mau apa dia ? Mati aku." Gumam Belva dalam hati.
"Tu-tuan... Mau apa anda ?" Tanya Belva dengan gugup dan panik.
****
To Be Continue...
Hayoo Satya... mau ngapain itu si om-om duda bikin Belva panik aja 😂😂😂
__ADS_1
Selamat malam my dear para readers ku... Terima kasih buat kalian yang masih setia. Author masih semangat nulis buat kalian. 🙏🙏