Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 125. Satu Saja Tidak Habis


__ADS_3

Pagi yang cerah mereka hadapi dengan wajah penuh kebahagiaan. Belva menyambut paginya dengan sedikit lebih segar. Suaminya benar-benar menepati janji membiarkannya beristirahat semalaman penuh. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya serta berdandan tipis karena pagi ini ia mulai bekerja kembali di butiknya dan juga menjemput kedua anaknya. Belva membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas. Mungkin pria itu lelah atau terlalu nyenyak tidur karena rasa bahagia yang dirasakannya.


"Mas, bangun sudah pagi."


"Hemm..." Hanya deheman yang Satya berikan. Matanya masih terasa berat untuk sekedar membuka sedikit saja.


"Mas, bangun dong. Bukan kah hari ini mas harus kerja? Kita juga harus menjemput Kay."


"Hemm... Jam berapa ini?"


"Jam enam. Ayo bangun." Belva terus menepuk bahu suaminya.


"Lima menit, sayang. Mas masih mengantuk."


"Oke... Aku bangunin lima menit lagi."


Belva meninggalkan Satya, ia memilih mengisi waktu selama lima menit itu untuk menyiapkan air mandi bagi suaminya. Selesai dengan air mandi, ia terlupa jika keperluan untuk bekerja nya masih belum beres. Masuk ke dalam walk in closed Belva memilih deretan tas mahal yang telah disediakan Satya untuk nya. Pilihannya jatuh pada tas berwarna putih senada dengan dress nya. Ia kembali menuju ranjang, membangunkan suaminya yang masih tertidur.


"Mas, bangun ini sudah lima menit lebih Ucap Belva menepuk pipi Satya dengan lembut.


"Hemm..." Kembali hanya sebuah gumaman yang terdengar dari suara.


"Mas bangun dong, ini semakin siang loh." Ucap Belva.


Satya rupanya masih malas untuk bangun pada pagi hari ini. Terlalu nyaman untuk beberapa hari bersantai dengan ditemani sang istri.


"Mas, kalau mas tidak mau bangun ya sudah aku berangkat sendiri saja jemput anak-anak." Ucap Belva dengan nada yang sedikit keras agar Satya mendengar.


Mendengar kata Belva akan berangkat sendirian menjemput anaknya kontan Satya langsung membuka matanya dengan cepat.


"Sayang, jangan... Iya mas bangun." Ucap Satya langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar pada sandaran sofa.


"Cepat mandi, sudah semakin siang nanti terlambat mas berangkat ke kantor."


"Mas bos-nya tidak masalah terlambat juga." Ucap Satya dengan santai.


"Mas lupa? Kita harus jemput anak-anak lalu mengantarnya ke sekolah, aku juga harus ke butik menyelesaikan pekerjaan ku yang tertunda kemarin." Belva menjelaskan dengan sabar pada pria yang kini menjadi suaminya.


"Iya tunggu sebentar mas mandi dulu."


"Ya sudah tidak usah lama-lama mandinya. Aku sudah siapkan air untuk mas mandi."


"Lama kalau mandinya sama kamu, sayang." Ucap Satya mengerlingkan mata pada istrinya.


"His..." Belva memukul lengan suaminya.


"Mandi mas, aku siapkan bajumu. Oh iya mas sudah menghubungi anak-anak jika kita akan menjemput mereka?" Tanya Belva.


"Sudah sayang, kemarin sore mas sudah menghubungi mereka. Mas, mandi dulu habis menyiapkan bajunya mas jangan keluar dulu tunggu mas disini."


"Iya mas." Jawab Belva yang masih duduk di pinggir ranjang.


Satya turun dari ranjang, sebelum melaju ke kamar mandi disempatkan nya mengecup kening sang istri. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan Belva masuk ke dalam walk in closed menyiapkan pakaian Kanti untuk suaminya. Pilihan baju kanto milih suaminya begitu banyak, Belva sedikit merasa bingung harus memberikan Satya baju yang mana tapi karena dirinya bekerja dalam dunia fashion tentu saja kebingungan itu dapat teratasi dengan mudah.


Tak lama Satya mandi, dengan handuk melingkar di pinggang nya pria itu keluar mandi. Tidak ada Belva di sana, Satya berjalan menuju walk in closed benar saja istri berada di dalam sana.


"Sayang?"


"Mas, sudah selesai? Ini bajunya mas."


Satya berjalan mendekati sang istri yang memegang setelah baju kantornya. Wanita itu memberikan pakaian itu pada suaminya tapi bukannya menerima pakaian dari sang istri Satya justru memeluk istrinya.


"Mas, kok malah peluk aku sih. Ini pakaian mas dipakai dong."


"Mas kangen sama kamu."


Belva mengerutkan keningnya, bagaimana bisa suaminya mengatakan hal seperti itu sedangkan mereka tidak dalam kondisi saling berjauhan.


"Kaya yang habis dari pergi jauh saja kamu mas."


"Tidak tahu ini mas selalu ingin bersama dengan istri mas terus. Mas senang dan bahagia bisa bersama mu, mendapatkan perhatian dari istri, pagi-pagi sudah ada yang mengurus segala keperluan mas."


Belva mengusap lembut punggung polos suaminya. Berusaha memaklumi perasaan sang suami. Bahkan Belva merasa bersyukur bisa berguna bagi orang lain terutama untuk keluarganya sendiri. Ia merasa suaminya begitu membutuhkan dirinya.


"Sudah tugas dan tanggung jawab Belva memperhatikan dan mengurus segala kebutuhan mas. Sudah ayo pakai bajunya. Rambut mas basah, baju ku ikut basah ini."


Yaa... Rambut Satya masih basah hingga tetesan air itu mengalir dari wajah Satya turun ke bawah hingga mengenai baju Belva. Satya mengurai pelukannya, dan melihat baju Belva yang sedikit basah di beberapa titik.


"Maaf sayang mas tidak sengaja. Mas mau keringkan rambut dulu."


"Sini aku bantu, mas. Duduklah di kursi rias."


Satya merasa senang, dengan patuh dirinya duduk di kursi rias milik Belva yang disediakan oleh dirinya sendiri.


Belva meraih handuk kecil yang ada di dalam lemari. Handuk itu dipergunakannya untuk mengeringkan rambut suaminya. Dari cermin meja rias Satya memperhatikan sang istri yang telaten mengusap lembut rambutnya.


"Sayang, kamu cantik sekali pagi ini." Ucap Satya tersenyum.


"Setiap hari aku cantik mas, bukan cuma pagi ini saja. Sejak kemarin mas mengatakan itu terus." Belva terkekeh dan wajah yang terlihat bahagia itu menyalur pada Satya yang juga ikut terkekeh.


"Istri mas memang cantik dan selalu cantik setiap saat." Ucap Satya.


Belva tersenyum. "Kita pakai hairdryer saja ya biar lebih cepat dan irit waktu. Kasihan anak-anak pasti sudah menunggu."


Satya mengangguk, hanya lima menit proses pengeringan rambut Satya selesai. Demi kesehatan rambut sang suami Belva memberikan vitamin rambut milik nya untu Satya.


"Stop! Apa itu?" Tanya Satya mengerutkan keningnya.


"Vitami rambut, sini aku pakaikan."


"Itu vitamin untuk rambut perempuan kan? Tidak tidak mas tidak mau apa kata karyawan mas nanti kalau mereka mengetahui nya."


"Mana bisa mereka tahu mas kalau mas tidak cerita. Mereka tidak akan tahu, sudah sini."


"Mereka tahu dari aroma nya, pasti aromanya tercium nanti saat mas berjalan atau saat nanti mas bertemu klien."


Kini bergantian kening Belva yang mengerut.


"Memang kenapa kalau mereka mencium aroma perempuan dari mas?" Tanya bva dengan pandangan menyelidik.


"Yaa... Tidak apa-apa sayang hanya saja mas tidak terbiasa menggunakan barang-barang milik perempuan."


"Tidak terbiasa karena selama ini mas mengurus sendiri keperluan mas kan? Sekarang beda semua yang mas perlukan aku yang mengurusnya."


"Sini, ini vitamin rambut agar rambut mas tetap sehat. Tadi baru saja aku menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambut mu. Istilah nya setelah seharian kita berada di bawah terik matahari setelah nya kita harus minum kan? Rambut pun seperti itu. Menurut saja tidak usah protes biar rambutnya sehat."


Setelah mendengar penjelasan singkat dari istrinya Satya pun menurut saja. Sudah beruntung dirinya diperhatikan oleh Belva padahal itu adalah hal yang kecil dan sepele. Tanpa sadar pria itu membandingkan istrinya yang sekarang dengan Sonia. Mantan istrinya itu boro-boro mengurus Satya seperti itu, mendekati bahkan menyentuh Satya saja itu karena ada maksud dan tujuan tertentu.


Saat memakaikan baju pada suaminya, Belva mengernyitkan keningnya. Beberapa luka terdapat pada bahu dan punggung suaminya.


"Mas, ini punggung sama bahu kamu luka kok tidak bilang?"


"Tidak apa-apa nanti juga sembuh. Habis istri mas galak juga kalau sedang berperang." Sindir Satya pada Belva.


"Mas, apaan sih." Wajah Belva memerah menahan malu atas godaan suaminya.


Satya terkekeh melihat Belva malu-malu seperti itu. Satya senang sekali menggoda Belva dengan menyinggung kegiatan peperangan mereka.


"Tunggu dulu aku ambilkan obat."

__ADS_1


"Tidak usah sayang, kalau di kasih obat merah nanti baju mas kotor."


"Tidak akan kotor, percaya deh Belva tahu kok caranya, tunggu ya."


Belva keluar dari walk in closed, mengambil kotak obat di dalam kamarnya. Di buka setiap laci yang ada di sana dan akhirnya menemukannya.


"Kok lama?" Tanya Satya.


"Aku tidak tahu letak kotak obatnya. Meski pernah tingg disini tapi itu sudah lama sekali aku sudah tak mengingat letak barang-barang di tempat ini dengan begitu jelas."


Satya tersenyum. "Kamu tidak salah, semua barang-barang di rumah ini memang sengaja mas menyuruh mereka untuk menata ulang. Mengganti beberapa bagian menjadi lebih baru."


"Ya sudah sini aku obati."


Belva mengobati beberapa luka kecil yang ada di bahu dan punggung Satya. Tak lupa ia menutup nya dengan plaster agar obat merah tak mengenai baju yang akan dikenakan oleh suaminya.


"Tidak sakit kan?" Tanya Belva.


"Tidak hanya luka kecil saja sebenarnya tidak masalah, sayang."


"Maaf ya mas." Ucap Belva dengan raut wajah sesal dan tak enak hati pada suaminya.


"Kamu tidak salah sayang. Jangan merasa bersalah. Sudah mas mau pakai bajunya dulu."


"Biar aku bantu mas."


Satya mengangguk, istrinya begitu baik memperhatikan dirinya. Hampir sama seperti mengurus Duo Kay, Belva membantu semua nya dari memakai kan baju, menyisir rambut serta memasangkan dasi.


"Loh sayang mau apa?" Tanya Satya sedikit terkejut saat Belva berjongkok di hadapannya.


"Mau pasangkan kaos kaki dan sepatu buat mas."


"No, tidak perlu sayang. Mas bisa pakai sendiri. Sini duduk dekat mas."


Satya tak ingin istrinya memakai kan sepatu untuk dirinya. Bantuan Belva sudah lebih dari cukup. Belva duduk menunggu sang suami memakai sepatunya sendiri.


"Sudah ayo kita keluar, sayang."


"Ayo mas kita sarapan dulu." Ajak Belva.


"Sudah jam setengah tujuh lebih sayang, kita sarapan di mobil saja."


"Mau bawa bekal?"


"Boleh... Buat makan di mobil saja. Nanti siang kita makan siang bersama."


"Oke, kita ke ruang makan dulu. Biar aku siapkan bekal sarapan nya."


Belva menjinjing tas mahalnya yang disediakan oleh sang suami. Sampai di lantai dua mereka berpisah Belva langsung menuju lantai satu sedangkan Satya masih singgal di ruang kerjanya untuk mengambil tas kerjanya.


Dengan gerakan lincah Belva menyiapkan bekal sarapan untuk mereka berdua di mobil nanti. Mereka tak ingin terlambat untuk menjemput kedua anaknya.


"Loh Nyonya tidak sarapan?" Tanya Mbok Yati.


"Mbok, disini tidak ada Tuan, aku tidak enak dipanggil seperti itu." Protes Belva lembut dan sopan.


Mbok Yati tersenyum, ia merasa kagum dengan Belva. Meski sudah menjadi istri seorang yang besar tapi masih memiliki sifat rendah hati.


"Neng tidak sarapan di rumah?" Tanya Mbok Yati.


"Tidak Mbok, kami buru-buru harus menjemput anak-anak." Jawab Belva.


"Biar Mbok saja yang siapakan, neng."


"Tidak usah Mbok biar Belva saja tidak apa-apa ini mudah. Mbok tahu sendiri kan Belva bisa mengerjakan pekerjaan seperti ini."


Mbok Yati mengangguk, tahu jika Belva sudah cakap dan terampil dalam hal pekerjaan rumah seperti ini. Nasi goreng dan beberapa lauk sudah Belva siapkan di dalam kotak bekal. Beberapa potong roti juga disiapkan nya di dalam kotak bekal. Satu botol air mineral dan juga satu kotak susu Belva ambil dari kulkas sebagai bekal.


"Selamat pagi Tuan." Sapa Mbok Yati.


"Selamat pagi Mbok." Jawab Satya dengan wajah tersenyum.


Hal yang jarang dan langka Satya lakukan saat membalas sapaan para asisten rumah tangganya. Mbok Yati sampai terbengong heran melihat reaksi majikannya saat dirinya menyapa.


"Benarkah itu Tuan Satya?" Gumam Mbok Yati dalam hatinya.


Janis dan juga beberapa asisten rumah tangga yang lain pun menyaksikan respon Satya yang sangat berbeda dari biasanya.


"Sudah sayang?" Tanya Satya pada Belva.


"Sudah mas." Jawba Belva.


"Oke kita berangkat sekarang nanti terlambat jemput anak-anak." Ajak Satya.


Belva mengangguk dan tersenyum pada suaminya.


"Mbok, kami berangkat dulu ya." Pamit Belva pada Mbok Yati.


"Ah iya nnn... Nyonya. Hati-hati di jalan Tuan dan Nyonya." Ucap Mbok Yati.


Wanita paruh baya itu hampir saja memanggil Belva dengan sebutan Neng. Nyatanya memang wanita itu lebih nyaman memanggil Belva dengan sebutan itu. Tapi karena ada Satya maka dirinya tak memiliki nyali untuk melanggar peraturan.


"Iya Mbok terima kasih." Ucap Belva.


"Mbok, kami berangkat awasi anak buah mu dengan baik." Ucap Satya sebelum pergi.


Lagi-lagi Satya menunjukkan kebiasaan yang berbeda dari biasanya. Selama ini pria itu tak pernah berpamitan jika pergi.


Satya pergi bersama sang istri meninggalkan ruang kerja. Memang Satya tak pernah mau jauh dari istrinya dengan erat Satya merangkul pinggang Belva. Sangat terlihat sekali pasangan itu begitu harmonis dan menikmati pernikahan mereka yang baru saja terjadi.


Dari kejauhan tampak Inah dan Tuti memperhatikan majikan mereka. Kembali dengan sikap buruk mereka, tatapan tak suka selalu dilayangkan pada Belva saat melihat wanita itu begitu terlihat di sayang oleh sang suami.


Entahlah otak mereka seperti orang bodoh yang berpegang teguh pada pendirian yang salah. Sah-sah saja jika memang Belva di sayang bahkan dicintai oleh Satya. Mereka adalah pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


"Kenapa pagi-pagi sudah memuaskan seperti ini." Ucap Tuti memandang sinis pada majikannya dari kejauhan.


"Tuan terlihat sangat menyayangi nya. Apa mungkin Tuan bisa berpaling dari wanita itu." Ucap Inah.


"Kita harus segera menjalankan rencana kita, Nah."


"Bagaimana caranya, kita bahkan tak tahu dimana rumah wanita yang menjadi tamu Tuan Satya."


"Iya juga ya... Tapi aku yakin wanita seperti itu pasti tidak akan diam dan pasrah begitu saja. Kita lihat saja suatu hari nanti pasti dia akan kembali lagi ke rumah ini. Kita tunggu saja." Ucap Tuti yang masih dengan senyum sinis nya.


Dua pembantu muda Satya sibuk membicarakan rencana mereka sedangkan pembantu yang lain sibuk membicarakan perihal perubahan sikap Satya.


"Baru kali ini aku lihat Tuan Satya tersenyum seperti itu." Ucap pembantu A.


"Iya bahkan Tuan tadi juga berpamitan dengan Mbok Yati. Biasanya beliau selalu tak perduli." Respon pembantu B.


"Terlihat sekali Tuan Satya benar-benar bahagia dengan pernikahannya kali ini. Berbeda dengan Tuan Satya saat bersama Nyonya Sonia." Ucap Janis yang ikut menimbrung perbincangan teman-teman nya.


"Heh!! Kalian tidak ada kerjaan apa? Gosip terus!!" Bentak Tuti yang merasa kesal dan panas saat mendengar kan asisten rumah tangga yang lain membicarakan perbedaan kebahagiaan Satya bersama Belva.


Dua asisten rumah tangga Satya terkejut tapi berbeda dengan Janis yang merasa kesal dengan sikap Tuti.


"Berkaca kalau bicara, bagaimana dengan pekerjaan mu. Mulut mu saja sibuk bergosip dan berbicara sampah." Ucap Janis dengan berani.


"Apa kamu bilang?!!" Bentak Tuti tak terima.

__ADS_1


"Kamu tidak tuli kan? Jika sedang menegur orang lain itu harus berkaca lebih dulu jangan sembarang menegur. Perbaikan sikap dan mulut mu itu." Ucal Janis kembali.


Merasa Janis berani menantang dirinya maka Tuti bersikap frontal dengan mendorong Janis hingga menabrak beberapa perabotan yang ada di dapur.


Suara bising terjadi pada pagi itu di ruang dapur. Beberapa asisten rumah tangga langsung berkumpul mengerubungi apa yang sedang terjadi.


Janis membalas sikap urakan Tuti, terjadilah keributan di dapur antara Tuti dan juga Janis. Inah melihat teman akrab nya sedang kesulitan maka ia pun mebantu Tuti hingga Janis kalah telak karena di keroyok oleh dua orang.


Asisten rumah tangga yang lain mencoba untuk melerai tapi Inah menahan agar mereka bisa membalas sikap sok baik Janis. Mbok Yati yang sempat mengantar majikannya ke depan rumah mendengar suara berisik di dapur. Wanita paruh baya itu berjalan dengan langkah cepat untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Stop!!! Stop!!! Berhentiii!!!." Teriak Mbok Yati.


Ia menghentikan pertengkaran antar Janis dan Tuti.


"Apa-apaan ini? Kenapa ribut seperti ini?" Ucap Mbok Yati dengan suara sedikit meninggi.


"Dia yang mulai." Ucap Janis menunjuk pada Tuti.


"Kamu itu yang mulai, dasar perempuan sok cari perhatian." Ucap Tuti tak terima.


"Iya ini semua gara-gara Janis yang membuat keributan. Tuti hanya memberi tahu untuk tidak bergosip tapi dia tidak terima." Bela Inah yang ikut menyudutkan Janis.


"Kamu...!!!" Ucap Janis.


"Stop!!! Cukup Janis." Ucap Mbok Yati.


Tuti dan Inah merasa menang karena jika dalam pandangan mereka Mbok Yati merasa mendukung pembelaan mereka.


"Janis? Sudah Mbok katakan jangan bergosip saat bekerja. Dan itu berlaku untuk kalian semua. Disini kita semua dibayar untuk bekerja. Jika Tuan Satya tahu pekerjaan kalian tidak beres maka bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini." Ucap Mbok Yati memberikan peringatan pada Janis dan juga para asisten rumah tangga yang lain.


Bila di rumah besar Satya sedang terjadi ketegangan antar asisten rumah tangga maka berbeda di dalam mobil Satya suasana begitu romantis dan hangat.


Dalam perjalanan menuju rumah Tuan Hector, pasangan suami istri itu sednag menikmati sarapan bersama mereka. Bekal yang tadi dipersiapkan oleh Belva kini mereka santap di dalam mobil. Belva menyuapi suaminya yang tengah berkendara.


"Emm..." Satya memalingkan wajahnya ke samping menghindari suapan Belva. Pria itu masih sibuk mengunyah dan menelannya susah payah.


"Pelan-pelan yank, kamu tidak lihat mulut mas masih banyak makanan." Protes Satya.


Belva terkekeh, dirinya sengaja mengerjai sang suami. "Hahaha kamu lucu sekali mas."


"Apanya yang lucu? Jika mas tersedak saat berkendaraan bagaimana nanti masih kita sayang."


Belva menghentikan tawanya dan hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Hihi... Maaf mas, aku bercanda. Ini minum dulu pasti seret kan makan banyak."


Belva membuka botol air mineral dan menyuapkan nya pada mulut Satya.


"Mas saja, tangan mu menutupi pandangan mas dari jalan."


"Em oke. Minumlah." Belva memberikan botol air mineral itu.


"Sayang tidak makan? Dari tadi menyuapi mas terus."


"Makan kok mas, ini mau makan gantian sama kamu."


Belva memakan nasi yang tersisa dari suaminya. Tidak ada rasa jijik sama sekali dari Belva.


"Sayang, tidak jijik makan bekas sisa dari mas?" Tanya Satya memancing jawaban dari istrinya. Dalam hati pria itu tersenyum melihat Belva mau makan bersama dirinya dalam satu wadah.


"Tidak, ini sama saja rasanya tidak berubah. Jijik kenapa? Mas suami aku, mas tidak memiliki penyakit menular kan?"


"Sembarangan. Tentu saja tidak, mas ini sehat luar dalam. Jika mas sakit tidak mungki mas sekuat itu pada mu." Ucap Satya asal.


"Ish... Apa itu maksudnya? Ngomongnya jangan ngelantur kemana-mana ya mas. Aku lagi makan ini."


"Hahaha... Siapa yang ngelantur sayang. Itu kenyataan, kalau mas sakit pasti mas jadi lemah dan tidak akan sekuat itu menggempur dirimu. Itu fakta bukan ngelantur."


Belva memutar bola matanya malas, suaminya itu selalu saja menyambung pembicaraan mereka dengan hal-hal yang berbau panas.


Wanita itu tak lagi mendengarkan suaminya berbicara ngalor ngidul, ia menyibukkan diri untuk makan hanya sesekali saja menimpali ucapan suaminya.


"Kamu kelaparan, sayang?" Tanya Satya sesekali memperhatikan Belva.


"Tidak juga hanya sayang saja jika tidak habis. Banyak orang di luar sana yang kelaparan karena tidak memiliki rejeki yang baik seperti kita. Jadi, kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan."


Satya tersenyum, dia mengusap lembut kepala Belva. Bangga memiliki istri yang berpikiran positif seperti itu, tahu bagaimana caranya bersyukur dalam menyikapi makanan yang mereka miliki.


"Istriku memang baik dan cantik. Mas beruntung dapat kamu, sayang."


Belva tersenyum. "Belva juga beruntung dapat suami yang tampan dan perhatian dengan ku dan anak-anak."


"Itu sudah tugas dan kewajiban mas buat memperhatikan istri dan anak-anak mas. Kalian itu harta berharga yang mas miliki yamg Tuhan berikan pada mas. Jadi, mas juga tidak akan pernah menyia-nyiakan kalian."


Satya menggenggam erat tangan istrinya yang sudah selesai memakan bekal sarapan nasi goreng mereka.


"Sebentar mas aku mau minum dulu." Ucap Belva meminta ijin agar suaminya mau melepaskan genggaman tangannya.


Botol air mineral yang tadi Satya minum pun kini di minum oleh Belva. Satya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa senang dan bahagia.


Perjalanan menuju rumah Tuan Hector memang membutuhkan waktu yang cukup lama lebih dari tiga puluh menit. Baru saja lima belas menit Belva berhenti menyantap nasi gorengnya kini satu kota susu yang tadi dibawanya juga tak luput dari minatnya.


"Mas mau?" Tawar Belva sebelum menyedot susu kotak itu.


"Nanti mas masih kenyang." Tolak Satya. Perutnya masih terasa kenyang tapi Belva masih saja menawarkan minuman penambah energi dan lemak itu.


"Oke... Mas, bukan kah itu Alya?" Ucap Belva tiba-tiba saat melihat Alya berada di pinggir jalan dengan memegang perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.


"Mana?" Tanya Satya yang tak menyadari keberadaan Alya.


Kini mereka sedang berhenti di lampu merah. Belva terus menatap ke arah dimana Alya berada sedangkan Satya sibuk mencari orang yang dimaksud oleh istrinya.


"Itu loh mas, sebelah kanan mu dekat dengan pohon." Ucap Belva dengan menunjuk ke arah Alya.


Kening Satya mengerut, benar saja yang dilihatnya kini adalah Alya mantan putrinya dulu yang pernah disayanginya yang pernah dirawat oleh nya dulu.


"Benarkan itu Alya? Wajah nya mirip tapi kok perutnya besar begitu seperti orang hamil." Belva merasa heran dirinya mulai ragu jika itu adalah Alya.


"Atau aku salah orang kali ya mas, setahuku Alya belum menikah jadi tidak mungkin kan dia hamil." Kembali Belva bersuara.


"Kamu belum menikah tapi juga sudah bisa hamil dan punya anak dua, sayang. Menikah atau belum itu tidak menjamin seseorang tidak mungkin hamil." Respon Satya.


"Eh iya juga sih. Tapi kan beda mas, kejadian yang menimpa ku itu tidak sengaja itu musibah." Ucap Belva sedikit pilu mengingat hal itu.


"Iya dulu memang musibah untuk mu tapi sekarang menjadi sumber kebahagiaan mu kan sayang? Apalagi sekarang kamu sudah punya keluarga kecil yang lengkap, punya dua anak dan satu suami. Ingat suaminya satu saja yaitu mas seorang."


Mendengar kalimat terakhir Satya Belva menjadi tergelak. Bisa-bisa nya Satya mengatakan hal itu, berpikir jika Belva berniat untuk menikah dengan pria lain lagi.


"Kamu ada-ada saja mas, siapa yang mau nikah lagi. Baru saja punya satu tidak bakalan habis mas." Ucap Belva.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terimakasih banyak atas support kalian yang masih setia sampai detik ini. Terimakasih banyak untuk Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian.


Perjalanan Pernikahan Satya masih panjang guys... Author harap kalian masih setia hihihi 😁🤭🙏🙏🙏

__ADS_1


Sehat selalu buat kalian, sekarang musim hujan jaga kesehatan jangan sampai flu batuk pilek. 🤗🤗


__ADS_2