Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 63. Sadar


__ADS_3

Budhe Rohimah bercerita banyak mengenai Belva dan Duo Kay pada Satya. Senang, sedih, kecewa, rasa bersalah kini berbagai macam perasaan dapat Satya rasakan secara bersamaan terkadang silih berganti. Terkuaknya fakta-fakta baru yang membuat dirinya terkejut itu mampu memberikan banyak rasa pada hatinya.


Hatinya yang sempat kosong itu kini mulai terisi oleh kehadiran Duo Kay yang menjadi anak-anaknya. Maka dirinya akan bertekad untuk melakukan apa saja untuk Kaila dan juga Kaili. Tidak mungkin keturunan Balakosa akan dibiarkan dalam keadaan susah. Kaili dan Kaila berhak mendapatkan apa yang seharusnya anak-anak itu dapatkan.


"Bi... Saya harus kembali ke kantor. Besok saya akan berkunjung lagi untuk anak-anakku."


"Baik Tuan."


"Saya boleh bertemu Belva sebentar sebelum saya pulang ?" Tanya Satya.


Budhe Rohimah tersenyum tipis. "Silahkan Tuan."


Tak bisa lagi Budhe Rohimah mencegah Satya untuk bertemu Belva maupun Duo Kay lagi. Keadaan telah berubah Satya sudah mengetahui semua fakta itu. Mau bersembunyi seperti apapun pasti pria itu tetap akan mengejar apa yang menjadi miliknya. Duo Kay adalah milik Satya meski diantara pria itu dan Belva tak memiliki ikatan apapun. Tapi ikatannya dengan Duo Kay sudah pasti ada dan kuat.


Satya memasuki kamar Belva, dilihatnya wanita itu sudah tertidur di atas ranjang. Mungkin wanita itu kelelahan, Satya pun mengerti sejak kemarin Belva setia menjaga Kaila di rumah sakit. Terlihat sekali jika Belva sangat menyayangi anak-anaknya.


"Kamu pasti lelah. Maaf membuatmu semakin kelelahan. Saya pulang, besok saya akan kembali. Saya tidak akan membawa anak-anak kita. Saya tahu kamu sangat menyayangi mereka."


Usapan lembut dari tangan kekar Satya bersarang pada kepala Belva. Perlakuan yang lembut dari seorang Satya yang sangat jarang muncul di permukaan. Sikap itu dulu sering muncul dan terlihat jelas saat dulu masih bersama cinta pertamanya. Tapi setelah semuanya kandas sikap itu menguap hanya sesekali kembali muncul saat Satya berharap rumah tangganya bisa seharmonis yang diinginkannya saat bersama Sonia. Tapi sayang sekali wanita itu hanya akan bersikap manja dan mau melayani Satya saat ia memiliki rencana liciknya.


Satya keluar dari kamar wanita itu, dia harus kembali lagi ke kantor. Tanpa mau memindai isi kamar Belva dirinya berlalu begitu saja. Belva tak merasakan jika kepalanya mendapatkan sentuhan lembut dari seorang Aryasatya Balakosa. Pria dingin, datar dan arogan yang pernah Belva temukan.


Urusan kantor memang tak pernah ada habisnya meski Satya sudah dibantu oleh ribuan karyawannya. Semua memiliki bagian dan pekerjaan masing-masing. Dengan sadar akan pekerjaan mereka, para karyawan Bala Corp itu selalu bekerja sesuai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Semua berjalan dengan baik meski ada beberapa hal yang harus dibenahi. Namun, tetap saja semua berjalan sesuai dengan kendali Satya. Perusahaan itu setiap harinya semakin berjalan dengan baik dan berkembang.


Jordi, pria itu sudah kembali ke kantor setelah mobil Satya untuk mengantar Belva menghilang dari pandangannya. Dia tahu jika Satya membutuhkan waktu untuk berbicara pada Belva mengenai Duo Kay.


Hingga Satya sampai di kantor dengan wajah yang terlihat sedikit lelah. Lelah memikirkan kenyataan hidupnya yang serba mengejutkan. Tapi dalam waktu yang hampir berdekatan ada penawar kekecewaan untuknya dengan hadirnya dua malaikat kecil dalam hidupnya.


"Sst... Mau kemana ?" Tanya Grace.


"Kantin." Jawab Jordi.


"Cih... Asisten pribadi bos tumben mainnya ke kantin." Sindir Grace. Selama ini jarang sekali Jordi menginjakkan kakinya di tempat itu karena lebih sering menemani Satya makan di luar kantor. Jika sedang sibuk maka dia akan lebih memilih memesan makanan untuk diantar di dalam ruangannya.


Jordi mengangkat satu alisnya. "Ada yang salah ?"


"Sedikit aneh." Ucap Grace.


"Si bos sudah masuk ruangan." Ucap Grace kembali.


"Benarkah ?" Tanya Jordi memastikan.


"Hmm. Sana ke kantin aku sudah selesai berbicara padamu." Usir Grace.


Bukan pergi ke kantin tapi Jordi lebih memilih untuk menghampiri bos-nya. Dia penasaran akan apa yang terjadi selama pertemuan Satya dengan Belva tanpa kehadiran dirinya.


Jordi masuk tanpa mengetuk pintu, dilihatnya Satya saat ini sedang menghadap layar laptopnya.


"Permisi Tuan..."


Satya mendongakkan kepalanya mengahadap Jordi. "Ada apa Jordi ?"


"Anda baik-baik saja ?"


"Sedikit." Jawab Satya.


"Anda sudah makan siang ?" Tanya Jordi.


"Belum."


Jordi langsung berjalan mendekati Satya. Sepertinya memang ada sedikit masalah yang terlihat dari wajah Satya saat ini dalam pandangan mata Jordi.


"Apa Tuan tak makan siang bersama mereka ?"


"Saya terlalu sibuk membantu Kaili makan."


"Apa terjadi sesuatu ?" Tanya Jordi.


"Memang tak bisa berjalan mulus, terlalu banyak luka yang dirasakannya. Tak mudah berbicara padanya." Ujar Satya.


"Bersabarlah Tuan. Pasti memang semuanya tak mudah, butuh waktu. Terlebih jika memang dengan adanya masa lalu yang menyakitkan tentu sulit untuk bersikap seakan semuanya baik-baik saja."


"Jangan menyerah Tuan. Saat ini ada Kaili dan Kaila yang harus Tuan perjuangkan dan lindungi." Imbuh Jordi.


"Iya kamu benar Jordi. Satu hal yang masih menjadi pertanyaanku. Bagaimana bisa kamu mendapatkan sample untuk tes DNA Kaila ?" Tanya Satya. Pria itu masih penasaran bagaimana bisa tiba-tiba Jordi memberitahu hasil dari tes DNA antara dirinya dan juga Kaila.


"Mengenai itu maaf jika saya lancang pada Tuan. Tuan ingat ? Saat menghadiri meeting di Jogja. Saat anda terlelap saya sedikit memotong rambut anda. Karena banyak sekali kemiripan yang terlihat pada anda dan anak-anak Belva. Ditambah beberapa kali saya juga mendengar orang-orang mengatakan jika kalian memang terlihat mirip. Rasa penasaran saya semakin besar dan terpikirkan untuk melakukan tes DNA pada tuan dan Kaila."


"Dan mengenai Kaila saat itu, saya memang sengaja mengikuti anak-anak itu bersama Bella asisten Belva sekaligus pengasuh Kaili dan Kaila ke sebuah taman dekat butik. Dan dalam kesempatan itu saya mengambil sehelai rambut Kaila yang terlihat lebih mudah diambil karena rambutnya yang panjang dibandingkan dengan rambut Kaili."


"Terima kasih Jordi, kamu memang bisa saya andalkan." Ucap Satya.


Beruntung memiliki asisten yang mampu bergerak dengan memberikan bukti-bukti kongkrit untuk meyakinkan dirinya dalam setiap permasalahan yang ada di sekitarnya. Sehingga Satya dapat mengambil keputusan yang tepat. Jordi sangat bisa dipercaya dan tak mungkin berbohong padanya. Mereka sudah bekerja bersama hingga belasan tahun.


****


Sudah hampir tiga jam Belva tertidur di dalam kamarnya akibat kelelahan. Fisik, hati dan pikirannya hari ini terasa sangat lelah sekali. Belum lagi masalah Kaila yang sakit dan belum sadar. Tiba-tiba dirinya harus dikejutkan dengan Satya yang mengetahui status Kaili dan Kaila sebagai anak kandungnya. Entah darimana Satya dapat mengetahui itu Belva tak tahu. Ia begitu syok saat Satya mengetahui hal itu. Keputusannya untuk berpura-pura tak mengenal Satya ternyata tak bisa semudah itu berjalan dengan lancar.


Satya, memang diam saat Belva berpura-pura memperkenalkan diri pada saat itu dia mengikuti apa yang Belva lakukan. Pertemuan yang seharusnya tak perlu bersikap seolah tak mengenal itu karena memang kenyataannya mereka sudah saling mengenal meski tak dekat. Sedari awal Satya sudah tahu jika Belva hanya berpura-pura saja.


Belva duduk di atas ranjang miliknya, mengingat kembali apa yang baru saja terjadi sebelum dirinya tertidur. Berharap itu semua adalah sebuah mimpi. Hingga pintu kamar nya dibuka.


"Budhe ?" Belva terkejut. Budhenya tiba-tiba sudah sampai di rumah minimalis nya. Tanpa kabar jika akan kembali ke rumahnya.


Budhe Rohimah tersenyum dengan sangat tulus dan lembut. "Sudah bangun Nduk ?"


"Bangun ? Budhe... Sudah dari tadi berada di sini ? Kapan pulang kenapa tidak mengabariku ?"


"Sejak Tuan Satya menenangkanmu."


"Hah ? Tuan Satya ? Jadi benar dia disini dan sudah tahu kebenarannya. Aku berharap ini hanya mimpi tapi ternyata ini benar." Belva bergumam yang masih bisa didengarkan oleh Budhe Rohimah.


"Kamu tidak mimpi Nduk. Tuan Satya sudah tahu semuanya. Maaf tadi budhe juga menceritakan semua masa lalu kamu Nduk. Maaf Budhe tak bisa menyimpan rahasia ini."


"Aku harus bagaimana Budhe ?" Tanya Belva lirih.


Sejujurnya ia tak ingin Satya mengetahui semuanya sekarang. Jika Satya tahu maka pasti Sonia pun akan tahu dan ia pasti harus bekerja lebih keras untuk melindungi anak-anaknya.


"Selama apapun kita menyembunyikannya pasti Tuan Satya akan tahu juga Nduk. Dia berhak tahu jika si kembar adalah anak-anaknya." Ucap Budhe Rohimah.


"Tapi bagaimana dengan Nyonya Sonia dan Alya ? Mereka pasti tidak akan tinggal diam. Keselamatan si kembar kini yang menjadi pertimbanganku Budhe."


"Kita akan pikirkan caranya nanti. Sekarang Tuan Satya sudah mengetahui semuanya. Dia juga pasti tidak akan tinggal diam jika si kembar dalam keadaan bahaya." Ucap Budhe Rohimah mencoba menenangkan Belva dari rasa khawatir wanita itu.


Tentu saja Satya tidak akan membiarkan kedua anaknya berada dalam bahaya. Penerus dari keluarga Balakosa harus dalam keadaan baik-baik saja.


"Budhe, tolong jangan beritahu tentang kejadian ini pada siapapun termasuk pada Om Roi maupun Bella. Biar nanti aku saja yang mengatakan pada mereka tapi tidak sekarang." Ucap Belva.


Budhe Rohimah mengangguk. Apapun yang menjadi keputusan Belva selama itu baik dan dapat membuat kehidupan keponakannya merasa nyaman akan selalu mendukungnya.


"Ya sudah sekarang kamu bersih-bersih dulu. Mata kamu sembab, jangan sampai Bella atau Roichi curiga padamu." Ucap Budhe Rohimah.


Setelah melihat jika Belva bisa lebih tenang meski Budhe Rohimah yakin dalam hati keponakannya itu masih tersimpan kekhawatiran. Tapi setidaknya Belva sudah bisa mengendalikan dirinya. Budhe Rohimah keluar dari kamar Belva dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Kamar itu sudah dibereskan oleh Budhe Rohimah sendiri setelah tahu saat Satya yang menceritakan apa yang terjadi sebelumnya.


Budhe Rohimah tak habis pikir bagaimana itu bisa terjadi antara keponakannya dan juga mantan majikannya. Dirinya pun tak pernah menyangka jauh dari bayangannya jika Belva akan selalu berhubungan dengan Satya. Ada Kaila dan Kaili yang menjadi penghubung diantara mereka. Itu tak akan bisa terhindarkan meski nanti Belva hidup bersama orang lain sekalipun. Satya akan tetap berada di sekitarnya.


Sore tiba, Bella pun sudah pulang ke rumah. Melihat ada Budhe Rohimah yang sudah kembali pulang Bella sangat senang. Gadis itu langsung memeluk Budhe Rohimah. Rindu karena wanita paruh baya itu pergi dalam waktu yang cukup lama. Bella sudah menganggap Budhe Rohimah sebagai ibu untuknya.


"Budhe kapan pulang ?" Tanya Bella.


"Tadi siang Nduk. Mandilah dulu kamu pasti lelah."


"Tapi Bella masih rindu pada Budhe." Gadis itu memeluk Budhe Rohimah.


Budhe Rohimah tersenyum dengan tingkah Bella yang masih memeluknya dari samping.


"Kamu bau asem. Sudah mandi dulu biar lebih segar." Ucap Budhe Rohimah berpura-pura mengibaskan tangannya seakan aroma tak sedap itu benar-benar tercium olehnya.


Bella cemberut, memonyongkan bibirnya. Budhe Rohimah tersenyum melihat wajah Bella yang seperti itu. Tapi gadis itu tak membantah dirinya melepaskan pelukannya lalu mengikuti saran Budhe Rohimah untuk segera mandi.


Makan malam kembali dapat mereka lakukan bersama tapi sayang dalam kegiatan makan malam mereka kurang tanpa kehadiran Kaila. Anak kecil itu masih belum sadar, Roichi yang menjaga Kaila belum memberikan kabar apapun mengenai perkembangan Kaila selama Belva tinggalkan setengah hari ini.


"Aku akan ke rumah sakit. Titip Kaili di rumah, Budhe." Ucap Belva.


"Kak, apa sebaiknya kak Vanthe di rumah saja menemani Kaili. Kasihan dia kak, biar aku dan Budhe yang menjaga Kaila malam ini. Nanti biar Ayah pulang saja ke sini menemani kalian." Ucap Bella.


Belva menolak, dirinya ingin sekali menemani buah hatinya yang masih terbaring lemah. Tapi Bella selalu memberikan pendapat agar Belva juga tak lupa memperhatikan Kaili. Jadi dengan terpaksa Belva menurut saja, ia tak mau Kaili juga merasa diabaikan nanti yang akan membuat anak itu juga bersedih.


"Baiklah. Tapi jika ada apa-apa tolong segera kabari aku." Ucap Belva.


"Iya kamu tenang saja Nduk. Nanti kami akan mengabarimu jika Kaila sudah ada perkembangan." Ucap Budhe Rohimah.


Selesai makan malam, Bella dan Budhe Rohimah bersiap untuk menuju rumah sakit. Meski baru sampai Budhe Rohimah tak merasa keberatan jika harus menjaga Kaila. Gadis kecil itu adalah cucunya meski bukan cucu kandung yang lahir dari anak kandungnya tapi tetap saja hanya anak itu peninggalan dari keluarga kandungnya.


Dengan menggunakan mobil Belva, Bella mengemudikan kendaraan itu dengan hati-hati bersama Budhe Rohimah hingga sampai ke rumah sakit.


Roichi tampak menunggu di depan ruangan. Berbeda dengan Alya gadis kecil itu masih di ruangan PICU. Roichi setiap menunggu bocah kecil yang sudah dianggap putrinya itu.


"Ayah." Panggil Bella.


Roichi mendongakkan kepalanya dari layar ponsel yang sedari tadi menemaninya.


"Bella... Ibu... Kenapa kalian disini malam-malam begini ?" Tanya Roichi.


"Ck... Ayah. Kenapa bertanya seperti itu. Tentu saja kami ingin menjaga gadis kecil kami." Ucap Bella.

__ADS_1


Kaila beruntung anak itu banyak sekali yang menyayanginya.


"Lalu Vanthe bagaimana kalian bisa meninggalkannya."


"Ayah pulanglah temani kak Vanthe dan Kaili. Biar aku dan Budhe yang menjaga Kaila malam ini. Ayah istirahat saja besok baru bergantian dengan kami." Ucap Bella.


"Benar Nak. Kamu pulang saja istirahat. Besok kita bergantian lagi untuk menjaga Kaila." Ucap Budhe Rohimah.


Mengetahui Belva dan Kaili hanya sendiri di rumah, maka pria itu mau tak mau mengikuti saran Bella dan juga Budhe Rohimah.


"Baiklah, jika terjadi sesuatu Bella segera kabar Ayah." Ucap Roichi.


"Iya Ayah. Sudah pulanglah kasihan mereka berada di rumah sendirian." Ucap Bella.


Roichi akhirnya kembali pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Hari ini dia tak kembali ke kantor demi menjaga Kaila. Sebenarnya Roichi juga memiliki beban pikiran yang cukup banyak. Tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepercayaan Tuan Hector sudah menguras banyak tenaga dan pikirannya. Tapi pria itu tetap bekerja dengan ketulusan hatinya. Belum lagi dirinya juga masih memikirkan bagaimana nasib keluarga yang jarang sekali ditemuinya. Waktunya lebih banyak dicurahkan untuk keluarga Tuan Hector. Sebenarnya itu semua dilakukannya juga untuk kesejahteraan keluarganya sendiri.


Sampai di rumah Belva Roichi mengetuk pintu rumah Belva. Masih belum terlalu larut jadi Belva pasti beli tidur. Benar saja setelah mengetuk untu ketiga kalinya Belva membukakan pintu.


"Om... Kenapa ke sini ?" Tanya Belva.


"Kalian sendiri di rumah. Jadi saya menemani kalian."


"Seharusnya tak perlu. Kami tak masalah dan pasti akan baik-baik saja." Ucap Belva sbari melangkah masuk menuju ruang keluarga.


Roichi menutup pintu dan mengikuti langkah Belva. "Baik-baik saja tapi kenapa matamu bengkak ? Kamu menangis lagi ?"


Roichi memang begitu teliti mengamati wajah Belva saat wanita itu membukakan pintu tadi.


"Hah tidak. Aku hanya sedih saja Kaila belum juga sadar." Ucap Belva berbohong.


Mereka kini sudah duduk di sofa ruang keluarga. Roichi duduk di samping Belva dan memperhatikan wanita itu saat bicara.


"Sudah saya katakan bukan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jangan terus menangis hemm..." Ucap Roichi dengan lembut, tangannya mengusap rambut Belva.


Belva menghela napas, memang Kaila selalu ada dalam pikirannya. Sedih sudah pasti melihat Kaila belum juga sadar. Tapi matanya bengkak akibat menangis histeris tadi siang saat bersama Satya. Tapi Belva sengaja menutupi hal itu dari Roichi. Memang tak terlalu bengkak hanya saja tetap masih bisa terlihat jika mata itu sehabis menangis.


"Om sudah makan ?" Tanya Belva.


"Belum sempat, saya tidak tega mau tinggalin Kaila."


"Ya sudah Om mau makan dulu apa bersih-bersih dulu ?"


"Saya mandi dulu nanti baru makan. Kaili sudah tidur ?" Tanya Roichi.


"Emm... Oke mandilah. Kaili sudah tidur." Ucap Belva.


Roichi membalas dengan senyuman manisnya dan usapan lembut di kepala Belva. Lantas pria itu pergi untuk membersihkan diri.


Belva pun langsung beranjak berdiri setelah melihat Roichi masuk ke dalam kamar Kaili. Pria itu memang selalu menggunakan kamar Kaili dan Bella jika berada di rumah minimalis Belva. Wanita itu menyiapkan makanan untuk Roichi.


Tak butuh waktu lama bagi Roichi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai dengan aktivitasnya, pria itu keluar dari kamar Kaili menuju meja makan yang terletak satu ruangan dengan dapur.


"Sudah selesai mandi ? Makanlah sudah kusiapkan makan malam untuk Om."


Roichi tersenyum. "Terimakasih saya jadi berasa disiapkan makanan sama istri." Ucap Roichi dengan nada bercanda.


Tawa lirih Belva terdengar di pendengaran Roichi. "Apa Om merindukan seorang istri ? Jika begitu pulanglah kunjungi keluarga Om."


Roichi tak mau menjawab ucapan Belva. Pria itu hanya membalas dengan sebuah senyuman tipis. Belva tak pernah tahu bagaimana kondisi keluarga Roichi. Pria yang ada dihadapannya itu sangat tertutup perihal bagaimana keluarganya begitu pula dengan Bella yang sangat jarang membicarakan mengenai keluarga mereka.


"Kamu sudah makan Van ?" Tanya Roichi dan Belva mengangguk.


"Temani saya makan disini." Pinta Roichi.


"Baiklah. Mau aku bantu ambilkan makannya ?" Tawar Belva.


"Jika tidak merepotkan, boleh." Jawab Roichi.


"Tidak. Om selama ini sudah begitu baik denganku dan juga anak-anak. Selalu membantu kami disaat kami butuh bantuan."


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Vanthe. Bukankah kita sudah menjadi sebuah keluarga ? Tuan Hector bahkan tak pernah memperlakukan saya seperti seorang pembantu di rumah nya. Beliau justru memperlakukan saya seperti anaknya sama sepertimu tapi bedanya kamu lebih dimanjakan dan disayang karena kamu seorang wanita." Ucap Roichi tersenyum.


"Selain kewajiban karena kita sudah seperti keluarga. Itu pun sudah tugas saya karena walau bagaimanapun Tuan Hector sudah menggaji saya dengan sangat mahal." Kini Roichi tertawa. Tawa Roichi juga mengundang tawa Belva. Wajah cantik Belva memang selalu mengundang perhatian bagi siapa saja yang melihatnya. Roichi menatap wajah cantik Belva yang sedang tertawa.


"Cantik." Batin Roichi.


Satu piring nasi diberikan Belva pada Roichi. Dia makan dengan lahap, masakan Belva memang lezat. Wanita itu sudah terbiasa berkenalan dengan dapur sejak usia belia tak heran jika dalam hal memasak rasanya cukup enak dilidah beberapa orang.


"Saya sudah selesai. Tidurlah." Ucap Roichi. Dia berdiri dari kursinya.


"Emm... Selamat malam Om." Ucap Belva yang juga sudah berdiri siap untuk melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Selamat malam. Terimakasih makan malamnya." Ucap Roichi dengan mengecup kepala Belva.


"Sama-sama. Om jangan tidur malam-malam." Ujar Belva tersenyum. Ia tahu jika Roichi selalu sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu hanya mengangguk dan memperhatikan Belva yang sudah berjalan memasuki kamarnya.


Entah rasa seperti apa yang kini Roichi rasakan terhadap Belva. Pria itu menyukai kepribadian Belva sejak pertama kali mengenal wanita itu. Lembut, mandiri dan baik hati. Semua yang dia lakukan untuk Belva dan juga Duo Kay itu adalah spontanitas dari dirinya.


Malam ini sebenarnya belum terlalu larut. Masih umum jika seseorang mengerjakan pekerjaan mereka di malam hari. Bahkan masih banyak yang berkeliaran di luaran sana untuk sekedar berkumpul bersama teman-teman, nongkrong dan jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Tapi Belva lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya.


Satya, sejak fakta itu terungkap. Dirinya lebih sering menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke rumah sakit. Tentu tujuannya adalah hanya untuk ikut menjaga Kaila putri kecilnya. Meski masih banyak yang belum tahu akan kebenaran fakta itu.


Tanpa Jordi, Satya sudah sampai di rumah sakit. Langkahnya berhenti di depan ruangan Kaila. Dilihatnya Bella dan juga Budhe Rohimah berada di depan ruangan tersebut.


Budhe Rohimah melihat kedatangan Satya, wanita paruh baya itu pikir Satya memang ada keperluan di rumah sakit ini karena saat Budhe Rohimah pergi ke toilet tadi ia melihat Sonia juga berada di rumah sakit ini.


"Tuan... Anda di rumah sakit ini juga ?" Tanya Budhe Rohimah.


Pertanyaan Bi Imah membuat Bella mengalihkan pandangannya ke samping. Satya sudah berhenti di dekat Budhe Rohimah.


"Iya Bi. Putri ku sakit."


"Putri Tuan ? Apa Non Alya sakit juga ? Tadi saya melihat Nyonya Sonia di rumah sakit ini."


"Sonia dia menjaga Alya."


Mendengar nama Sonia dan Alya, Bella tak suka dengan dua wanita itu. Wanita yang pernah menyudutkan Belva dan memperlakukan Belva secara kasar.


"Sonia ? Alya ? Apa mereka anak dan istri anda Tuan ?" Tanya Bella yang selama ini memang tak terlalu paham.


Satya diam tak menjawab, malas membahas dua wanita yang hidup penuh dengan kebohongan dan keburukan.


"Anda mengenal mereka Nona ?" Tanya Satya.


"Cih... Wanita urakan itu tentu saja saya mengetahui mereka. Pembuat onar di manapun kak Vanthe berada." Ucap Bella dengan nada tak suka. Satya paham akan ketidak-sukaan Bella atas sikap Sonia dan Alya.


"Ternyata mereka keluarga Anda. Sungguh memalukan memiliki keluarga seperti itu." Imbuh Bella.


Budhe Rohimah yang memang belum mengetahui perihal perpisahan Satya dengan Sonia. Wanita paruh baya itu merasa sungkan dan tak enak hati karena Bella berani berbicara seperti itu di hadapan Satya.


"Ekhm... Bella... Nduk, Budhe haus bisa minta tolong belikan air minum Nduk ?"


"Oh iya Budhe mau minum apa ? Sebentar Bella carikan ya." Ucap Bella.


"Apa saja Nduk yang penting bukan kopi ya."


"Oke tunggu ya Budhe." Bella beranjak meninggalkan budhe Rohimah dan Satya meski sebenarnya ia masih merasa kesal karena membahas Sonia dan Alya.


Satya menatap gadis cantik yang usianya bisa Satya perkiraan seusia dengan Belva itu pergi meninggalkan mereka.


"Tuan silahkan duduk. Maafkan ucapan Bella yang sudah menyinggung anda Tuan. Bella sudah menganggap Belva sebagai kakaknya tentu dia akan merasa tak suka dengan siapapun yang mengganggu Belva." Ucap Budhe Rohimah.


"Tidak masalah. Wajar jika dia tak menyukai Sonia dan Alya, mereka memang keterlaluan." Ucap Satya.


"Apa Tuan tahu kejadian antara Nyonya Sonia, Non Alya dan juga Belva ?" Tanya Budhe Rohimah.


Satya mengangguk. "Sikap mereka memang keterlaluan dalam memperlakukan Belva. Mungkin itu karena peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Bibi tahu sendiri dulu Sonia seperti apa pada Belva. Dan saya pun baru ingat dengan percakapan antara Sonia dan Alya. Dapat saya simpulkan jika Alya berniat buruk pada Belva itu karena dia merasa Sonia dan saya selalu membandingkan nya dengan Belva. Khususnya Sonia, dia selalu menyuruh Alya untuk bersikap seperti Belva yang rajin dan bisa diandalkan."


"Maksud Tuan motif dari penjebakan itu karena dendam ?" Tanya Budhe Rohimah.


"Iya bisa ditarik kesimpulan seperti itu. Perbincangan antara Sonia dan Alya waktu itu saya mendengarnya dengan jelas dan jika dihubungkan dengan cerita Pak Jajak dan Budhe Rohimah semua itu terlihat sangat berhubungan." Ucap Satya.


"Padahal Belva sudah menganggap Non Alya sebagai teman satu-satunya yang mau berteman dengannya secara tulus. Tapi saya tak menyangka jika Non Alya tega melakukan itu."


"Sudahlah tak usah membicarakan mereka. Bagaimana keadaan Kaila ?" Tanya Satya mengalihkan pembicaraan.


"Baru beberapa menit kami disini Tuan. Jadi belum ada kabar apapun mengenai Kaila." Ucap Budhe Rohimah.


"Dimana Belva ?" Tanya Satya.


"Di rumah bersama Kaili dan Nak Roichi."


Mendengar Belva bersama Roichi membuat Satya merasa tak nyaman. Setelah mengetahui Duo Kay adalah anak-anak biologis nya membuat Satya merasa ingin mendapatkan Belva tapi masih ada Roichi yang menjadi suami Belva. Satya bisa apa jika sudah seperti itu, hanya bisa menahan diri.


"Dimana ruangan Nona Alya tuan ?" Tanya Budhe Rohimah.


"ICU jika belum dipindahkan. Saya kesini untuk Kaila putri saya." Ucap Satya santai.


Budhe Rohimah mengernyitkan keningnya. Satya justru lebih memilih untuk menjaga Kaila daripada Alya. Apa karena fakta baru itu hingga membuat Satya lebih antusias dengan Kaila. Budhe Rohimah tak mau menanyakan lebih lagi karena merasa tidak enak.


Tapi sesungguhnya memang benar jika Satya lebih antusias karena kenyataan baru itu. Hingga Bella datang tak ada lagi perbincangan diantara Budhe Rohimah dan Satya.


Bella mengerutkan keningnya mengapa Satya masih berada di ruang tunggu depan ruangan Kaila. Satu cup teh hangat diberikan oleh Bella pada Budhe Rohimah.


"Ini teh hangat Budhe. Maaf lama antri soalnya."

__ADS_1


"Tidak apa Nduk. Terimakasih ya." Ucap Budhe Rohimah, Bella mengangguk.


"Tuan, kenapa anda masih disini ? Bukankah Anda seharusnya menemani putri anda yang sakit itu." Ucap Bella sedikit ketus.


"Perempuan ini kenapa sama ketusnya dengan Belva." Batin Satya.


"Memang ada aturan saya tak diperbolehkan duduk disini ?" Tanya Satya datar dan dingin.


"Tidak tapi ini bukan ruangan putri anda kenapa masih disini." Ucap Bella ketus.


"Saya rasa itu bukan urusan anda." Ucap Satya.


"Bella sudah duduklah dengan tenang Nduk." Ucap Budhe Rohimah menengahi Bella dan Satya.


Sebelum terjadi sesuatu yang akan membuat Satya murka hingga membuat kondisi menjadi tidak nyaman nantinya. Bella duduk menuruti saran Budhe Rohimah.


Tak lama dokter dan suster masuk ke dalam ruangan PICU. Mereka mengontrol keadaan Kaila. Setelah pemeriksaan ternyata perkembangan kesehatan Kaila semakin membaik. Bahkan saat berada di dalam ruangan tersebut Kaila mulai mengerjapkan matanya. Kaila sadar saat dokter dan suster sedang memeriksa kesehatan Kaila.


Gadis kecil itu terdiam saat membuka mata, ia masih merasa bingung dimana-mana dirinya kini berada. Sadar tempat itu asing baginya dan rasa sakit yang mulai terasa di beberapa bagian tubuhnya membuat gadis kecil itu menangis.


"Hiks... Hiiii... Mamiii..." Panggil Kaila pada Maminya.


"Suster, panggil orang tua nya." Ucap dokter yang tak lain adalah Andrew.


Suster keluar ruangan untuk memanggil orang tua Kaila. Sedangkan Andrew sibuk untuk menenangkan Kaila yang merasa kesakitan di beberapa bagian tubuhnya.


"Permisi, maaf orang tua pasien bisa masuk ikut saya." Ucap suster.


Tiga orang manusia yang berada di kursi tunggu langsung berdiri. Satya hendak melangkah maju, namun Bella lah yang lebih dulu maju menghadap suster.


"Maaf orang tua Kaila berada di rumah. Kami yang menjaganya malam ini. Ada apa suster ?" Tanya Bella.


"Pasien sudah sadar tapi saat ini sedang menangis memanggil Maminya."


"Sudah sadar dok ?" Tanya Budhe Rohimah memastikan pendengaran nya.


"Iya Nyonya. Dan kami butuh orang tuanya untuk menenangkan pasien."


"Biar saya saja suster." Ucap Satya.


Semua menatap Satya termasuk Bella. Saat gadis itu hendak protes tapi Budhe Rohimah menyentuh lengan Bella.


"Sebaiknya kamu hubungi Belva Nduk. Biar Budhe dan Tuan Satya yang masuk ke dalam."


"Suster apakah boleh dua orang yang masuk ke dalam ?" Tanya Budhe Rohimah.


"Baiklah tidak apa jika diantara kalian bisa menenangkan pasien." Ucap suster.


Mendapatkan jawaban dari suster, Budhe Rohimah menatap Bella. Mau tak mau Bella menurut, memang sesuai dengan pesan Roichi jika terjadi sesuatu atau kabar mengenai Kaila maka dirinya harus segera menghubungi Roichi. Meski dalam benak Bella bertanya-tanya mengapa Satya mengajukan diri.


Satya dan Budhe Rohimah masuk ke dalam ruangan tersebut dengan menggunakan pakaian medis khusus. Mereka berdua mendekati Kaila yang tengah menangis.


"Kaila..." Panggil Satya lembut.


"Kaila, hei... Kamu sudah bangun sayang. Jangan menangis, apa masih terasa sakit ?" Tanya Satya pada Kaila.


"Sakiitt hiks... Hiii... Mami..." Ucap Kaila yang masih menangis.


"Sstt... Jangan menangis Nak. Nanti Mami datang, Mami masih di toilet sebentar. Yang mana yang sakit ?" Tanya Satya masih dengan nada lembutnya. Dia sengaja membohongi Kaila agar anak itu tak semakin menangis karena ditinggal oleh Maminya.


Suster, dokter Andrew dan Budhe Rohimah memperhatikan interaksi Satya dengan Kaila.


"Kepalaku sakiitt..." Rengek Kaila.


Satya mengusap lembut kepala Kaila, mencoba menenangkan gadis kecil tersebut.


"Sstt... ila jangan menangis ini sudah diusap kepalanya."


Perlakuan lembut Satya bisa sedikit meredakan tangis Kaila. Meski gadis kecil itu tetap menangis karena rasa sakit yang dirasakannya tapi tak sekencang sebelumnya.


"Tuan, maaf sepertinya kita memang harus memberikan obat penenang untuk pasien. Agar tak terus menangis yang akan mengganggu kondisi kesehatannya karena kelelahan menangis nanti."


"Lakukan saja yang terbaik untuk putriku dokter." Ucap Satya tanpa sadar.


Tapi tak masalah karena di dalam ruangan tersebut hanya ada suster, dokter Andrew dan Budhe Rohimah dimana mereka memang mengerti jika Kaila memang putri dari Satya. Karena memang Andrew lah yang memeriksa tes DNA tersebut atas permintaan Jordi.


Flashback On


Bella membawa Duo Kay pergi keluar dari taman saat para ibu-ibu pengunjung memaksa untuk berfoto dengan Duo Kay tapi dua bocah itu sedang tak ingin diganggu hingga membuat Duo Kay merasa tak nyaman dan Kaila menangis karena mendapatkan cubitan gemas di pipinya dari ibu pengunjung taman. Bella semakin merasa risih dan kasihan pada Duo Kay. Bella hendak berjalan cepat tapi tak mungkin satu tangannya sudah menggendong Kaila dan satu tangannya sudah menggandeng Kaili.


"Ada apa Nona ?"


Bella menatap orang tersebut, tak asing baginya pria tersebut. Tapi, ia tak kenal dengan orang itu.


"Nona, saya Jordi asisten dari rekan kerja Tuan Roichi." Ucap Jordi.


Sejak tadi Jordi memang mengintai mereka. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi melihat wajah anak-anak itu yang jika diamati dengan lekat sangat mirip dengan Satya.


Kesempatan bagus untuk Jordi saat melihat Bella kerepotan membawa anak kembar itu.


"Ohh iya maaf saya baru ingat. Bukankah kita pernah bertemu saat acara lelang itu ?"


"Iya benar sekali Nona. Sepertinya anda kerepotan sekali. Bisa saya bantu Nona ?"


"Ah iya ini saya harus mengambil mobil di butik. Tapi cukup jauh jika berjalan kaki. Mereka tak nyaman berada di taman karena beberapa ibu-ibu memaksakan untuk meminta foto pada anak-anak."


"Mereka kembar bukan ? Wah kecil-kecil sudah jadi idola." Ucap Jordi.


"Iya mereka kembar Tuan. Lihat saja wajahnya mirip." Ucap Bella.


"Ya anda benar Nona. Kalau begitu biar saya bantu untuk menggendong mereka atau jika anda percaya saya akan menjaga mereka disini anda bisa mengambil mobil dulu." Tawar Jordi.


"Ah bantu saja untuk menggendong anak ini. Kasihan jika jalan pasti kelelahan karena tadi mereka sudah bermain-main di taman."


"Baiklah. Ayo jagoan gendong Om." Ucap Jordi yang akan menggendong Kaili.


Keduanya berjalan menuju butik dimana mobil Bella terparkir. Sebelum Jordi pergi pria itu sempat mengusap lembut kepala Kaila.


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Ah baiklah Tuan, terimakasih banyak atas bantuan anda."


"Tak masalah, mereka anak-anak Tuan Roichi jadi tidak ada salahnya saya membantu. Saya permisi Nona."


"Baik Tuan silahkan."


Jordi kembali ke dalam mobilnya. Dilajukannya mobil miliknya ke sebuah tempat dimana temannya berada. Sudah lama sekali mereka tak bertemu. Masing-masing dari mereka sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing."


"Hei bro... Tumben mau menemui ku ? Ada hal penting apa ini ?" Tanya teman Jordi.


"Andrew... Bagaimana kabar mu ?" Tanya Jordi.


"Baik seperti yang kamu lihat. Dirimu sendiri ?"


"Cukup melelahkan. Banyak sekali pekerjaan ku saat ini membuatku semakin pusing." Keluh Jordi.


Andrew adalah sahabat baik Jordi semasa SMP hingga bangku perkuliahan meski di bangku perkuliahan mereka berbeda jurusan. Pertemanan mereka tetap berlanjut sampai saat ini. Jarangnya pertemuan diantara mereka tak membuat persahabatan mereka kandas begitu saja.


"Apakah saat ini kamu sedang mengeluh perihal kesehatan mu ?" Tanya Andrew.


Jordi tak menjawab, tangannya menyodorkan sesuai di atas meja Andrew. Plastik transparan yang Jordi berikan.


"Di samping mu ada tong sampah kenapa memberikan nya padaku ?" Ucap Andrew kesal.


"Hei perhatikan dulu. Bagaimana bisa orang sepertimu memiliki profesi seperti ini ? Jangan bilang kamar mayat penuh karena ulahmu." Ucap Jordi yang juga kesal dengan sahabatnya itu.


Jengah Andrew mendengar ucapan Jordi. Diambilnya plastik itu dan diperhatikan dengan serius. Pria itu baru paham kenapa plastik bekas itu di berikan padanya.


"Berapa lama ?" Tanya jordi.


"Dua sampai empat minggu."


"Tidak bisa lebih cepat ?"


"Akan ku usahakan secepat mungkin." Ucap Andrew.


"Urusanmu belum selesai, harus ada barang lain sebagai pembanding nya."


"Ini... Kamu sudah bisa membedakannya bukan masing-masing ini milik siapa. Jika kurang jelas hubungi saja aku. Saat ini aku sedang buru-buru." Ucap Jordi."


"Cih... Sok sibuk." Cibir Andrew.


"Hei... Aku memang sibuk bahkan lebih sibuk dari mu. Sampai kepalaku mau pecah, tapi mereka masih saja ada meragukan kinerja ku. Menyebalkan sekali." Keluh Jordi dengan nada kesal dan memelas menjadi satu.


"Haishh... Sudahlah aku pergi dulu. Jangan lupa kerjakan bagian mu." Ucap Jordi berlalu begitu saja.


Pria itu memasuki mobilnya. Sampai di dalam mobil, dia menyempatkan diri untuk mengurut keningnya. Benar-benar pusing untuk hal yang satu ini.


"Huuftt... Tinggal satu urusan lagi yang belum beres."


"Menembus perusahaan Hector benar-benar tidak mudah. Bagaimana bisa aku mendapatkan informasi mengenai siapa arsitek andalan Hector Group."


Jordi mungkin sudah gila. Pria itu berbicara sendiri di dalam mobil. Jika saja bukan karena kebaikan hati Satya dan gaji yang besar sudah pasti dirinya akan memilih hengkang dari jabatannya sebagai asisten kepercayaan Satya.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2