Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 173. Menengok Adik Bayi


__ADS_3

Keinginan untuk memakan langsung hasil masakan sang istri kini sudan terwujud. Meski harus terlambat hingga hampir satu jam untuk sarapan tapi tak masalah bagi Satya yang terpenting dirinya bisa merasakan masakan istri tercintanya.


Bertambah bahagia saat dirinya bisa membantu sang istri memasak di dapur. Baginya menemani dan sesekali mengambilkan kebutuhan memasak serta mengambil alih tugas Belva saat memasak meski hanya mengaduk makanan saja di atas wajan itu sudah dianggapnya bekerja keras.


Satya selama ini hampir belasan hingga puluhan tahun tak pernah menginjakkan kaki di dapur semua selalu di sediakan oleh orang-orang sekitarnya saja. Bersama Belva semua berubah bahkan banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidupnya yang tak pernah dilakukannya selama ini.


"Sayang, ini enak sekali." Ucap Satya saat memakan nasi goreng udang buatan Belva.


"Coba. Aaaa buka mulutmu, sayang." Satya menyuapi Belva nasi goreng yang Barus saja dimakannya tadi.


Belva membuka mulutnya menerima suapan dari Satya. Nasi goreng hasil masakannya sendiri rasanya hampir sama dengan nasi goreng yang di buat oleh Mbok Yati tadi pagi.


"Rasanya sama kok dengan nasi goreng Mbok Yati tadi."


"Beda, yank ini lebih enak. Kalau dikasih penilaian ini bintang lima full kalau nasi goreng mbok Yati bintang empat." Ujar Satya dengan santai.


"Bintang empat bagaimana? Mas saja tidak makan nasi goreng buatan Mbok Yati tadi pagi bagaimana bisa menilai. Kalau menurut aku yang sudah mencicipi kedua nasi goreng pagi ini rasanya sama kok tidak ada bedanya."


"Yank, percaya lah dengan suamimu ini dari aromanya saja lebih terasa lezat nasi goreng buatan istriku."


Belva memutar bola matanya malas, berdebat dengan Satya adalah hal yang menyebalkan karena terkadang Satya tidak mau mengalah padanya apalagi saat ini Satya dalam mode mengidam.


"Yank, suapin dong." Pinta Satya merengek dengan nada cukup manja pada Belva.


Mengalah sudah pasti Belva lakukan demi suaminya yang tengah mengidam. Belva mengambil alih sendok dan piring Satya tanpa basa-basi lalu menyuapi Satya perlahan tapi Satya tampaknya cukup lahap dalam mengunyah makanannya.


"Pelan-pelan mas nanti kamu tersedak atau malah tergigit sendiri jadinya sariawan nanti." Ucap Belva mengingatkan.


"Enak yank apalagi disuap sama istri tercinta. Sini yank duduknya lebih dekat lagi sama mas. Mas mau pegang baby kita."


"Ya ampun mas. Dek lihat Daddy mu banyak sekali maunya." Ucap Belva menunduk memperhatikan perutnya.


Tak urung Belva menggeser kursinya agar duduk lebih dekat dengan Satya. Pria matang yang sudah terbebas dari status menduda itu menyambut dengan baik posisi Belva yang begitu dekat dengannya. Tangan Satya langsung terulur mengusap lembut perut istrinya yang di mana sudah hadir buat cinta mereka. Satya bertambah semangat dalam menikmati masa ngidamnya pagi ini.


Selesai dengan drama mengidam yang Satya inginkan, kini keluarga kecil Satya sudah berkumpul di kamar Duo Kay seperti apa yang sudah Belva dan Satya janjikan setelah sarapan. Satya mengumpulkan kedua anaknya di atas ranjang. Ayah ibu dan dua anak itu memulai perkumpulan mereka dengan cerita-cerita santai dan ringan sebelum Satya dan Belva membahas perihal kehadiran bayi Alya nanti di rumah mereka.


"Sayang, kalian senang kalau punya adik?" Tanya Satya memancing kedua anaknya.


"Senang Daddy, kan di perut Mami ada adik bayi kita." Ucap Kaila.


Satya tersenyum mendengar jawaban Kaila yang menerima kehadiran anggota keluarga baru yang masih berada di kandungan istrinya.


"Daddy senang kalau kalian senang memiliki adik bayi. Tapi adik bayi yang di perut Mami masih lama lahirnya. Emmm nanti beberapa hari lagi ada adik bayi baru lagi buat kalian, kalian mau kan?" Tanya Satya dengan hati-hati.


"Adik bayi baru? Dari mana? Katanya masih di perut Mami dan masih lama lahirnya. Bagaimana sih?" Tanya Kaili yang sedari tadi menyimak percakapan.


"Iya sayang, ada adik bayi baru lucu loh. Besok kalian mau lihat?" Tanya Belva.


"Di mana adik bayinya?" Tanya Kaili.


"Adik bayinya masih sakit, sayang. Dia masih di rumah sakit besok kita jenguk sama-sama, bagaimana hemm?"

__ADS_1


Duo Kay mengangguk menjawab pertanyaan Mami mereka.


"Adik bayinya sakit apa?" Tanya Kaila.


"Mami dan Daddy belum tahu, sayang. Besok setelah Daddy mempersiapkan semuanya baru kita bisa cek lagi ke dokternya adik bayinya sakit apa." Ucap Belva dengan lembut.


"Jadi bisa lihat adik bayinya kapan? Besok pulang sekolah?" Tanya Kaili.


Belva menatap Satya, ia pun masih belum tahu kapan bisa datang ke rumah sakit kembali.


"Besok setelah pulang sekolah kita tengok adik bayinya dulu tidak apa-apa kalau kalian mau tengok." Ucap Satya yang paham akan tatapan istrinya.


"Oke besok kita tengok adik bayinya ya, Daddy." Ujar Kaila.


"Boleh, besok Daddy dan Mami akan menjemput kalian sepulang sekolah dan kita pergi ke rumah sakit sama-sama." Ucap Satya tersenyum.


"Nanti adik bayinya akan kita bawa pulang setelah Daddy mengurus semuanya dan keluarga kita akan semakin ramai dengan adanya adik bayi." Ucap Belva.


"Benar? Jadi kita tidak perlu menunggu lama lagi sudah punya adik bayi?" Tanya Kaila.


"Iya sayang, nanti Daddy usahakan agar secepatnya kita bisa membawa adik bayinya agar kita bisa berkumpul bersama adik bayi kalian." Ucap Satya dengan semangat dan senang. Duo Kay terlihat menerbitkan senyum mereka tidam ada raut kesedihan atau kemarahan dari keduanya.


Satya dan Belva bisa menyimpulkan jika kedua anaknya bisa menerima kehadiran bayi Alya. Mereka sudah cukup lega dengan respon Duo Kay yang tidak menunjukkan penolakan dengan cerita mereka mengenai akan hadirnya bayi Alya nanti.


Setiap apapun yang Satya katakan selalu berusaha ditepati nya terutama untuk istri dan anak-anaknya. Setelah kegiatan belajar Duo Kay, Satya dan Belva sudah menjemput mereka. Seperti biasanya Satya akan selalu memilih menunggu di dalam mobil jika dirinya menjemput Duo Kay bersama dengan Belva. Dia membiarkan sang istri yang masuk mendekati ruang kelas anak-anaknya selama aman terkendali Satya akan diam dan tenang di dalam mobil.


"Ayo, sayang kita pulang Daddy sudah menunggu di mobil." Ajak Belva.


"Jadi sayang maka dari itu Daddy sudah menunggu kita."


"Ayo, Mami. Doni Farel, Yossy kami pulang ya." Pamit Kaila pada teman-temannya.


Belva memperhatikan Yossy yang berdiri di samping Doni. Rasa penasarannya kembali muncul saat melihat Yossy yang sangat jarang ditemui nya selama menjemput Duo Kay.


"Yossy, aunty jarang melihatmu, sayang." Ucap Belva tersenyum pada Yossy.


"Sisy, salu dijemput oleh uncle nya lebih dulu, Mi." Ucap Kaili yang mewakili Yossy.


Gadis kecil itu hanay diam dan terseny tipis saja menatap Belva.


"Oh kamu selalu pulang lebih awal ya pantas aunty tak pernah melihatmu. Kamu belum di jemput?" Tanya Belva.


Yossy menggelengkan kepalanya, "Belum aunty."


"Ammm... Yossy..."


"Sayang, ayo kita harus segera ke rumah sakit." Ucap Satya yang ternyata menyusul istrinya setelah mendapatkan panggilan telepon.


"Mas, kenapa menyusulku?" Tanya Belva.


Sebentar ada yang ingin ditanyakan nya pada Yossy tapi Satya sudah menghampirinya. Menghindar adanya kesalah pahaman bva lebih memilih mengurungkan niatnya karena Satya selalu merasa tak suka jika berhubungan dengan dokter Dimas.

__ADS_1


"Kita harus segera ke rumah sakit setelah itu mas harus ke kantor. Jordi menghubungi mas ada hal penting yang harus kami bahas."


"Ya sudah ayo kita pulang." Ucap Belva.


"Anak-anak, aunty, Kaila dan Kaili pulang dulu ya." Pamit Belva pada teman-teman anaknya.


Sednagkan Satya hanya tersenyum tipis pada ketiga anak kecil teman Duo Kay serta mengusap kepala mereka masing-masing secara bergantian.


Satya berserta anak dan istrinya akhirnya pergi dari sekolah Duo Kay dan menunju rumah sakit untum menengok adik bayi yang akan menjadi anggota baru keluarga Satya.


Sampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruang rawat bayi. Tapi lagi-lagi peraturan rumah sakit itu begitu ketat, mereka tak memperbolehkan Duo Kay masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, Tuan dan Nyonya. Untuk anak-anak yang masih kec seperti ini belum boleh masuk ke dalam ruangan." Ucap suster.


"Baiklah tidak apa suster, kami akan menengok dari sini saja." Ujar Belva yang memahami peraturan rumah sakit.


"Sayang, kita lihat adik bayinya dari sini saja ya." Ujar Belva.


Belva hendak menggendong Kaila tapi dicegah oleh Satya. Khawatir dengan kandungan istrinya yang masih mudah, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Mam, biar Daddy saja yang gendong Kay. Kamu tidak boleh menggendong yang berat-berat."


"Tapi mereka tidak berat, mas." Ucap Belva.


"Tidak sayang, menurutlah."


Satya menggendong Duo Kay dalam waktu yang bersamaan. Di sisi kiri Kaili dan di sisi kanan Kaila.


"Kenapa kita tidak masuk saja, Daddy?" Tanya Kaili.


"Kalian masih kecil belum boleh masuk, itu peraturan dari rumah sakit. Untuk sementara kita lihat adik bayinya dari sini saja ya. Daddy janji besok kita akan melihat adik bayi lebih dekat lagi." Ucap Satya.


"Itu sayang, adik bayinya yang ada di box, papan namanya warna biru itu." Ucap Belva menunjukkan keberadaan bayi Alya.


"Kecil sekali, lucu adik bayinya seperti boneka." Ujar Kaila mengomentari bayi Alya.


"Iya sayang, karena masih kecil. Besok kalau sudah besar pasti akan sama seperti kalian." Ucap Belva tersenyum.


Satya pun ikut tersenyum mendengar respon putrinya saat melihat bayi Alya. Kaila masih terus memperhatikan bayi Alya tanpa berkomentar apapun. Dia masih fokus karena sebenarnya penasaran ingin mendekati bayi mungil itu.


Keluarga kecil Satya terus berbincang membicarakan bayi Alya yang tampak menggemaskan bagi Kaila dan Kaili. Mereka baru melihat bayi secara langsung meski dalam jarak yang cukup jauh. Tampaknya Duo Kay akan merasa senang dengan kehadiran bayi Alya. Satya dan Belva tak bisa membayangkan tingkah apa saja yang akan Duo Kay lakukan jika nanti bayi Alya mereka bawa kembali ke rumah mereka.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang.


Thanks buat support kalian sampai saat ini, Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa menyuntikkan semangat untuk author 🙏🙏🙏


Buat kakak² yang kemarin masuk rangking 3 besar masih author tunggu bagi yang belum klaim kejutan kecilnya. Terima kasih ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2