Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 44. Tidak Punya Ayah


__ADS_3

Tampaknya meski Belva sudah menjelaskan semuanya pada Sonia. Tetap saja berbeda gosip yang telah beredar itu masih saja subur di telinga dan bibir orang-orang. Meski tak seramai gosip para selebriti.


Sekuat tenaga seorang ibu melindungi anak-anaknya, apapun akan dilakukan. Belva tahu sejak dulu kedua anaknya menginginkan seorang Ayah hadir dalam kehidupan mereka.


Meski bertahun-tahun berlalu nyatanya keinginan seorang Sonia untuk melenyapkan anak yang dikandung Belva tetap masih sama. Terpaksa agar ia masih bisa memeluk dan hidup bersama dua buah hatinya dengan tenang. Meski harus benar-benar menghilangkan sosok ayah kandung yang sejatinya begitu penting dan berharga dalam hidup kedua anaknya.


"Maaf Nak, maaf jika kehidupan kalian akan berjalan begitu rumit. Tapi ini yang terbaik untuk kita." Gumam Belva, ia menangis dalam ruangan khusus miliknya. Mengunci pintu agar siapapun tak bisa masuk saat ini.


Belva sebelumnya tak pernah berniat benar-benar menghilangkan jati diri ayah kandung Duo Kay. Suatu saat ia akan memberitahukan pada mereka siapa ayah kandung mereka. Tapi kini ia urungkan kembali niat yang sempat ragu dalam benaknya itu.


Kejadian pertemuannya dengan Sonia sejak keributan itu terjadi. Berhasil memenuhi pikiran Belva, ia kembali merasa tertekan. Sudah lama ia bisa hidup bahagia, tapi kenapa kebahagiaan itu luntur dengan datangnya orang-orang masa lalunya. Akan terasa lebih baik jika saat bertemu mereka seakan tak lagi saling mengenal satu sama lain meski bertemu dan berhadapan sekalipun. Tapi beda mereka datang selalu membawa ancaman yang membuat kebahagiaan itu perlahan memudar berganti dengan kesedihan.


Apa yang terjadi pada Belva saat ini, ia tak pernah mengijinkan siapapun mengetahuinya secara detail. Orang satu-satunya yang tahu bahkan hafal bagaimana permasalahan ini hanyalah Budhe Rohimah. Bella, gadis itu juga penasaran akan permasalahan Belva. Namun, ia tak berani bertanya lebih detail, meski sudah dekat tapi tetap saja masih ada jarak jika dalam urusan pribadi.


Tuan Hector dan Roichi pun hingga detik ini tak mengetahui kejadian yang menimpanya di butik saat itu. Ia sengaja menyembunyikan permasalahan itu agar tak semakin rumit nantinya jika orang tua angkatnya ikut campur.


Semakin sedikit yang mengetahui maka akan semakin tenang untuk Belva. Aibnya pun akan kecil kemungkinan untuk tersebar luas. Walau nyatanya gosip yang beredar bisa saja dianggap aib oleh kebanyakan orang.


Di sekolah Duo Kay, benar saja gosip itu juga berdampak untuk kedua anaknya. Duo Kay mendapatkan bullying dari teman-temannya akibat para orang tua siswa yang bergosip di depan anak-anak mereka.


"Kaili... Kalia... Kalian tidak punya Ayah ya ?" Tanya teman satu kelas Duo Kay.


"Punya... Papiku kerja tapi tidak pulang." Ucap Kaila.


"Itu namanya kamu tidak punya Ayah. Kaya aku dong Ayahku kerja tapi dia pulang ke rumah."


Kaili dan Kaila hanya diam saja, dalam hati mereka memang terus bertanya-tanya dimana Ayah mereka bekerja hingga tak pernah pulang.


Mami mereka hanya mengatakan jika Papi mereka bekerja dan tidak pulang karena lupa jalan untuk kembali ke rumah, Papi mereka hilang saat bekerja.


"Ayo Kaila kita main di luar." Ajak Kaili menggandeng gadis kecil kembarannya.


Dua bocah kembar itu lebih memilih menghindar untuk membahas seorang Ayah. Mereka bermain bersama Farel dan juga Dony di taman sekolah. Farel dan Dony berbeda dengan teman-temannya yang lain. Mereka tak pernah membahas permasalahan seorang Ayah. Meski Farel dulu pernah bertanya mengenai Ayah Duo Kay jauh sebelum gosip itu beredar.


Mungkin orang tua Farel dan Dony sudah menasehati anak-anak mereka agar tak membahas hal selain kegiatan sekolah. Iya orang tua dua bocah itu sudah mengenal Belva, mereka tahu jika Duo Kay begitu juga ibunya adalah orang yang baik. Mereka juga berteman sejak anak-anak mereka berteman.


"Kaila... Kaili... Kata para orang tua kalian anak haram." Ucap teman sekelas Duo Kay yang berbeda.


"Anak haram ? Apa itu anak haram ?" Tanya Kaili.


Kaila dan kedua bocah lelaki yang bermain dengannya pun merasa bingung dengan istilah itu.


"Iya anak haram katanya anak haram itu tidak punya Ayah."


"Enggak kita punya Papi kok, tapi Papi kita kerja." Ucap Kaili.


"Eh ayo... Ayo... Kita main prosotan." Ajak Farel yang tak mau ambil pusing dengan pembahasan aneh itu.


Kaili dan Kaila berlari ke arah Farel begitu juga Dony. Mereka berempat main bersama mengabaikan teman mereka yang membahas istilah aneh bagi mereka.


Hari itu berlalu beriringan dengan kegiatan yang mereka lakukan. Saatnya pulang sekolah, Belva tampaknya sedikit terlambat dalam menjemput Duo Kay. Mereka menunggu dengan ditemani oleh Farel dan Dony.


"Farel, ayo pulang Nak." Ajak Farah Mama dari Farel.


"Ma, kalau sebentar dulu bagaimana ? Kaili dan Kaila mereka belum dijemput. Aku mau temani mereka."


"Loh kalian belum dijemput sayang ?" Tanya Farah.


Kaili menggeleng. "Belum Mama Farel, mungkin Mami terlambat." Ucap Kaila.


"Dony, kamu juga belum dijemput ?" Tanya Farah.


"Sudah, tapi Mama lagi ke toilet sebentar."


"Ya sudah kita tunggu sama-sama ya." Ucap Farah.


Okta Mama dari Dony berjalan ke arah mereka. Benar saja memang wanita cantik itu baru saja dari toilet.


"Loh Far... Jemput Farel tumben masih disini tidak langsung pulang."


"Iya, Farel nya belum mau pulang. Masih mau temani si kembar. Maminya belum jemput."


"Dony tadi juga kuajak pulang belum mau dia." Ucap Okta.


"Tumben ini si Belva telat jemputnya." Ucap Farah.


"Kasihan dia Far."


"Sudah jangan bahas disini." Ucap Farah sembari melirik anak-anak mereka. Okta langsung paham.


Di butik Belva masih belum beranjak dari ruangannya. Ia masih menangis, meratapi sakit yang dia rasakan saat ini. Mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya atas beredarnya gosip mengenai dirinya.


Tok... Tok... Tok...


"Nona, ini sudah hampir makan siang. Bukalah pintunya Nona."


Bella sedari tadi membujuk agar Belva mau membuka pintu. Tapi hasilnya nihil sedari tadi wanita itu tak mau membuka pintu. Dilihatnya jam dipergelangan tangannya.


"Sudah waktunya si kembar pulang." Gumam Bella.


Ia memutuskan untuk menjemput si kembar dengan menggunakan taksi online. Kunci mobil Belva berada di ruangan Belva yang sejak tadi terkunci. Bingung dan penasaran apa yang terjadi setelah kedatangan Sonia tadi. Pasti hal yang sangat menyakitkan lagi yang diberikan oleh Sonia pada Belva karena Bella tadi melihat atasannya itu berlari sembari menangis.


Sepertinya masa lalu atasannya itu begitu rumit hingga terjadi keributan yang menurut Bella itu sangat keterlaluan. Tapi masa lalu yang seperti apa yang dihadapi Belva, ia pun tak tahu.


Sudah terlambat, hampir satu jam yang lalu adalah jadwal berakhirnya sekolah si kembar tapi karena keadaan yang membuat mereka sedikit mengabaikan si kembar.


Sampai di sekolah Duo Kay, Bella turun dengan terburu-buru. Ia masuk mencari keberadaan Duo Kay.


"Aunty !!" Panggil Kaili.


Bella menoleh saat mendengar suara yang dikenalnya. Ia tersenyum lega saat melihat kedua bocah yang disayanginya itu. Berjalan mendekat dimana si kembar menunggu jemputan bersama empat orang lainnya. Bella tersenyum ke arah mereka dan mengangguk.


"Maaf sayang, aunty baru menjemput kalian."


"Mami mana aunty ?" Tanya Kaila.


"Mami sedang sibuk sayang. Di butik sedang ramai." Bella beralasan agar anak-anak itu tidak khawatir dengan Mami mereka.


"Bagaimana keadaannya Belva ?" Tanya Farah pada Bella.


"Nyonya... Anda yang menemani si kembar ? Maaf sudah merepotkan. Kak Vanthe baik-baik saja."


"Jangan panggil Nyonya, aku Farah dan ini Okta kita sudah mengenal Belva sejak anak-anak sekolah dan sering menunggu jemputan bersama."


"Ah iya saya Bella kak." Bella lebih memilih memanggil kakak karena terlihat mereka berdua lebih tua dari dirinya dan juga Belva.


"Boleh kita berkunjung ke butik ?" Tanya Okta.


"Emmhh silakan kak boleh kebetulan butik juga ada koleksi baru kalian bisa lihat-lihat."

__ADS_1


Okta melirik Farah dan wanita itu tahu maksud dari Okta. Mereka tersenyum ke arah Bella. Akhirnya mereka pulang dari sekolah itu dan pergi ke butik.


"Baiklah, dimana mobil mu Bella ?" Tanya Farah.


"Aku datang menggunakan taksi online kak."


"Oke, pulang denganku saja. Suruh taksi onlinemu pergi saja."


Bella mengangguk, mereka berjalan menuju arah parkiran. Lain dengan Bella yang harus menghampiri taksi online nya dan membayarnya setelah itu taksi itu pergi. Bella kembali ke mobil Farah.


"Mama, aku mau ikut mobil Mama Farel saja." Ucap Donny.


Anak kecil itu tahu jika mereka akan berangkat ke butik si kembar. Paham jika Kaili dan Kaila serta Farel berada dalam satu mobil membuatnya juga ingin ikut dalam mobil yang sama.


"Haahh... Baiklah sudah sana masuk." Okta hanya pasrah saja.


"Rupanya pasukanku lebih banyak Ta." Farah tertawa terbahak-bahak. Mereka jadi ikut tertawa.


Para bocah kecil itu sudah masuk ke dalam mobil. Saat akan masuk ke dalam mobil rupanya mereka tak sengaja mendengar ada beberapa orang tua siswa yang masih saja membicarakan gosip Belva sebagai pelakor.


Bella terdiam saat mendengar hal itu, ada rasa iba dari dalam dirinya terhadap atasannya. Ia tahu benar jika Belva selama ini tak oernah dekat dengan seorang pria satupun. Pria yang dekat dengannya hanyalah Tuan Hector dan juga Roichi saja.


Farah dan Okta terlihat geram dengan mereka yang masih saja sibuk bergosip. Dua wanita itu sebenarnya adalah manusia-manusia yang tak suka bergosip dan cuek terhadap lingkungan tapi mereka tak bisa jika orang-orang terdekatnya menjadi bahan pergunjingan.


"Ibu-ibu permisi... Memang bisa ya belanja dengan bergosip ?" Tanya Farah yang sudah mendekati segerombolan ibu-ibu itu.


"Eh maksudnya bagaimana Bu ?" Tanya salah satu ibu yang tak paham maksud Farah.


"Maksudnya memang gosip yang keluar dari mulut kalian bisa digunakan untuk membayar belanjaan di toko ?" Ucap Farah.


"Atau mungkin SPP anak-anak ibu-ibu ini gratis kali ya dengan cara bergosip begini. Secara masih dilingkungan sekolah malah sibuk bergosip." Ucap Okta.


Perkumpulan ibu-ibu itu terdiam, ada yang merasa kesal karena kegiatan paling menyenangkan saat berkumpul itu diganggu oleh dua wanita yang sebagian dari mereka tak mengenal.


"Pulang Nyonya-Nyonya... Di rumah masih numpuk cucian piring, baju, lantai masih kotor." Ucap Farah.


"Mulut sama pikirannya juga masih kotor bisa sekalian dipel nanti di rumah." Imbuh Okta.


"Sudah ah ayo Far nanti kita ketularan kaya mereka, ish... Big no." Ucap Okta seakan jijik denga perkumpulan ibu-ibu itu.


Ada yang melotot tak terima dengan ucapan Okta. Mereka merasa seakan mereka adalah kuman yang menjijikan. Okta menarik tangan Farah, Bella mengikuti dari belakang.


Beruntung orang-orang yang mengenal Belva mereka sangat baik padanya. Mereka bisa seperti itu karena memang mengetahui jika Belva bukan tipe perempuan gatal dan neko-neko.


Dalam perjalanan, tampak para anak-anak asik berbincang sendiri seolah perkumpulan mereka lebih menarik ketimbang hal lain. Sedangkan Farah dan Bella tampak berbincang berdua.


Okta mengikuti mereka dari belakang dengan mobilnya. Wanita itu hanya sendiri saja karena memang niat awal hanya menjemput anaknya saja. Tapi begitu melihat si kembar yang tak kunjung di jemput, ia memiliki niat untuk mengunjungi Belva.


"Sejak berita itu bagaimana keadaannya ?" Tanya Farah pada Bella.


Sengaja tak menyebutkan nama karena di belakang ada anak-anak kecil yang tak seharusnya mendengar pembicaraan orang dewasa. Bella paham maksud pertanyaan Farah pasti ditujukan pada Belva. Tapi Bella hanya diam saja, ia baru saja mengenal Farah apakah wanita yang ada di sampingnya itu memang benar teman yang dekat dengan Belva ? Begitulah pikir Bella.


"Aku cukup terkejut dengan berita itu. Aku tahu dia perempuan baik-baik tak pernah neko-neko. Kami sering bersama saat acara anak-anak." Ucap Farah lagi.


"Kakak berteman baik dengannya ?" Tanya Bella.


"Ya aku dan Okta, kami sering bersama saat di sekolah."


"Dia lebih banyak murungnya kak. Dan itu juga salah satu alasan terlambat hari ini."


"Apa ada sesuatu ?" Tanya Farah.


"Aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya tapi kurasa ini sangat menyakitkan untuknya."


"Iya kak."


Kendaraan mereka akhirnya sampai di butik Evankay. Demikian juga mobil Okta mereka parkir secara berjajar. Para bocah turun dengan wajah ceria karena sepulang sekolah mereka masih bisa bermain bersama.


"Sayang tunggu di ruangan aunty dulu ya. Mami sedang sibuk jadi jangan ke ruangan Mami dulu." Ucap Bella.


Tentu Duo Kay merasa bingung, baru kali ini mereka tidak boleh masuk ke ruangan Mami mereka.


"Ta, kamu disini sama anak-anak dulu. Aku mau ke atas sama Bella nanti gantian." Ucap Farah.


Mereka sudah berbicara sebelum saat akan memasuki butik jika ada suatu hal yang terjadi pada Belva hingga tak bisa menjemput si kembar. Okta mengangguk, ia akan menjaga para bocah yang sibuk bercerita dan bermain sendiri.


Farah dan Bella naik ke lantai atas di ruangan Bella. Mereka akan membujuk Belva untuk membuka pintu. Sejujurnya sedari tadi Bella merasa khawatir pada atasannya itu.


Tok... Tok... Tok...


"Bel... Kamu di dalam ? Ini aku Farah."


"Nona buka pintunya." Ucap Bella.


Seketika Farah menatap Bella dengan mengernyitkan dahinya. "Di butik dan jam kerja, aku adalah asistennya."


Jawaban yang mampu dimengerti oleh Farah. Bella tahu tatapan itu jadi ia menjawab dengan tepat.


Farah berusaha memanggil Belva, Bella hanya terdiam. Mereka berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Apa ada kunci cadangan ?" Tanya Farah.


Bella baru ingat dengan benda itu, khawatir akan kondisi Belva membuatnya tak sampai berfikir pada benda satu itu. Ia berlari turun ke bawah, memasuki ruangannya dan mencari kunci cadangan di dalam laci mejanya.


Begitu benda yang diyakininya menjadi solusi mereka itu didapatkan. Gadis itu kembali naik ke lantai atas dan menyerahkan kunci pada Farah.


Akhirnya pintu itu terbuka, untung saja Belva tak mengantungkan kuncinya di lubang kunci. Memudahkan Farah dan Bella membuka pintu.


Wanita itu kini terdiam di sofa nya, jejak air mata masih ada di kedua pipi mulusnya. Penampilannya sudah kacau, tidak ada lagi tampak bersinar dan cetar dengan make up nya meski hanya tipis. Wajah ayu itu memang masih terlihat tapi sedikit tertutup oleh tampilan kacau akibat menangis dan merasa sedih.


Farah menghampiri dan memeluk Belva. Ia tak tega melihat wanita itu yang tak secerah biasanya. Saat bertemu Belva akan selalu tersenyum pada siapa saja yang ada dihadapannya. Tapi kini tak ada senyum itu, Farah tahu pasti masalah yang dihadapinya temannya itu pasti berat. Tak mungkin jika tidak berat, Belva bisa sekacau itu.


"Tenang lah. Semua pasti baik-baik saja."


Bella tak kalah sigap, ia mengambil air putih yang belum tersedia di ruangan itu. Gadis itu kembali turun menuju pantry untuk mengambil air putih.


"Apa yang terjadi ? Ceritakanlah agar hatimu terasa lega dan ringan."


"Aku bukan penggoda..." Lirih Belva. Kembali air mata itu menetes.


"Aku percaya. Jangan sedih, kami berada di pihakmu." Ucap Farah masih memeluk Belva.


Bella datang dengan segelas air putih di tangannya. "Minum lah Nona."


"Kamu minum dulu." Farah memberikan gelas yang disodorkan oleh Bella pada Belva.


"Nona, apa yang dikatakan wanita itu hingga membuat mu menangis ?"


Belva hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih belum bisa menceritakan pada mereka semua saat ini.

__ADS_1


"Baiklah jika Nona tak ingin berbicara. Tapi sebaiknya hapus air matamu. Kaili dan Kaila berada di bawah, mereka pasti akan khawatir bila melihat keadaan anda."


"Benar apa kata Bella. Jangan menangis dan bersedih lagi. Kasihan anak-anakmu." Ucap Farah.


"Mereka sudah pulang ?" Tanya Belva.


"Tentu saja. Jika bukan Bella yang menjemput mereka. Pasti aku yang harus mengantarkannya ke rumah mu."


"Nona, terlalu larut dalam masalah Nona hingga melupakan jam kepulangan si kembar."


Belva baru menyadari itu, ia mendesah pelan. Pikirannya kini kembali lebih fokus, Bella benar jika dirinya terlalu larut memikirkan persoalannya setelah bertemu dengan Sonia.


Tak seharusnya ia bersikap seperti itu hingga mengabaikan kedua anaknya. Sudah cukup anaknya menjadi korban akan kesalah-pahaman yang terjadi di masa lalu.


"Maafkan aku. Aku akan ke toilet sebentar."


Belva beranjak setelah Bella dan Farah mengangguk. Wanita itu akan membasuh wajahnya dan menatap lagi riasan wajahnya agar terlihat lebih segar lagi.


Tak mungkin ia menunjuk wajahnya yang kacau pada kedua buah hatinya. Mereka pasti sedih dan khawatir terutama Kaili yang sedikit sensitif terhadap keluarga.


Selesai dengan semua itu akhirnya Belva berusaha mengatur emosi dan perasaannya saat ini. Farah mengatakan jika di bawah juga ada Okta dan anak-anak mereka. Belva harus berpenampilan seperti biasanya agar tak mengundang banyak perhatian.


Waktu berlalu seperti biasa weekend pasti pria berwajah Asia itu akan datang mengunjungi rumah minimalis Belva. Dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan juga mainan.


Kedatangannya memang selalu disambut antusias oleh Duo Kay. Mereka berdua berlari menghampiri Roichi. Pelukan hangat terjadi diantara pria dewasa itu dengan si kembar.


Hari ini mereka hanya bertiga di rumah, duo Kay dan Belva. Budhe Rohimah sejak kemarin berpamitan untuk pulang kampung. Meski mereka tak memiliki keluarga lagi tapi keluarga almarhum suami Budhe Rohimah masih berada di kampung mereka. Salah satu keluarga almarhum suami Budhe Rohimah ada yang menikah.


Jadi, wanita paruh baya itu pergi menghadiri acara untuk beberapa hari di kampung. Tak lupa Belva memberikan satu set kebaya pernikahan untuk saudara Budhe itu sebagai bentuk dukungan atas acara tersebut dan permainan maaf karena tak bisa menemani pulang kampung.


Bella, berada di butik sejak kejadian Sonia menghampirinya Belva. Bella menyarankan agar Belva bekerja dari rumah saja. Mereka tak ingin sesuatu terjadi kembali. Terlebih Duo Kay tak ada yang menjaga di rumah.


Dalam kondisi seperti ini Belva tak mungkin membawa Duo Kay ke butik. Ia was-was jika nanti Sonia akan datang dan bertemu dengan kedua anaknya.


"Hallo anak ganteng dan cantik. Lihat apa yang Opmud bawa."


Roichi menunjukkan satu kantong plastik berisi mainan.


"Wah... Mainan banyak sekali Opmud." Ucap Kaila.


Wajah kedua bocah itu berbinar. Bahkan mereka tak lagi memikirkan masalah mereka saat berada di sekolah. Jangan dipikirkan jika duo bocah itu lupa dengan perkataan teman-teman mereka di sekolah. Justru perkataan mereka selalu melekat di pikiran mereka. Telah lama mereka mengharapkan seorang Ayah tapi teman-teman mereka justru mengatakan jika memang benar mereka tak punya Ayah.


"Apa kalian senang ?" Tanya Roichi.


"Tentu saja Opmud. Terima kasih." Kaili memeluk Roichi begitu juga Kaila.


Mereka berdua tak menyampaikan apa yang tengah mereka alami di sekolah. Mengingat bahwa pernah melihat Maminya murung saat mereka membahas perihal ayah mereka. Dua bocah itu terkadang bisa berpikir dewasa jika berhubungan dengan perasaan Mami mereka.


"Om... Baru datang ?" Tanya Belva yang baru saja keluar dari kamar.


"Nona, iya saya baru saja datang. Kenapa anda tidak di butik ? Dimana ibu ?"


"Budhe pulang kampung sejak kemarin. Mereka tidak ada yang jaga di rumah."


Roichi menyerahkan kantong plastik berisi makanan kepada Belva. Wanita itu membawanya ke dapur dengan diikuti oleh Roichi sedangkan Duo Kay sudah berlari masuk ke dalam kamar untuk membongkar mainan mereka.


"Biasanya mereka ikut ke butik."


"Iya tapi lebih baik mereka di rumah saja." Ucap Belva dengan tersenyum.


Senyuman itu tampak berbeda jika Roichi perhatikan. Seperti senyum yang dipaksakan untuk menutupi sesuatu.


"Apa terjadi sesuatu ?" Tanya Roichi.


"Tidak ada. Om mau minum ?"


"Kopi."


Belva membuatkan kopi untuk Roichi. Pria itu memperhatikan Nonanya. Tampak berbeda tak seperti biasanya. Wajah cantik itu biasanya terlihat cerah dan berseri tapi kini seperti meredup.


Roichi yakin pasti ada sesuatu hal yang membuat Nonanya tampak berbeda. Dia begitu penasaran, selain ditugaskan untuk mengurus pekerjaan di Indonesia. Dia juga harus menjaga Nonanya meski tak sepenuhnya bisa menjaga setiap saat.


Secangkir kopi panas itu diletakkan Belva di hadapan Roichi. Pria itu masih intens menatap wanita yang ada didepannya.


"Ada apa ?" Tanya Belva yang sadar jika sedari tadi menatap dirinya.


"Pasti ada masalah." Ucap Roichi.


"Masalah apa ?" Belva pura-pura tak mengerti.


"Entahlah Nona mencoba menutupinya."


"Jangan sok tahu Om." Belva kesal karena ditatap intens oleh asisten Papanya itu.


Wanita itu mengambil kue yang ada di dalam kulkas. Kue bolu yang dibelinya tadi pagi secara online. Sepiring kue itu disodorkan dihadapan Roichi berjajar dengan secangkir kopi.


Saat akan merapikan beberapa makanan yang ada di kantong plastik pemberi Roichi, ponselnya berbunyi. Nomor yang tak ia kenali karena tak ada nama dalam ponselnya. Ragu, ia mengernyit keningnya tapi tak urung tetap ia angkat panggilan itu.


"Hallo ?"


"Hai Belva Evanthe. Masih ingat dengan suara ku ?"


Belva sedikit terkejut. "Kamu, ada apa menelepon ku ?" Tanya Belva dengan menahan rasa kesal nya.


"Jangan coba-coba untuk main-main denganku perempuan kampung. Kamu ingat Budhe mu ? Aku bisa saja melakukan hal lebih dari itu. Dua bocah itu pasti kamu mencoba membohongi Mommy ku bukan ?"


Tubuh Belva kini menegang. Takut dan khawatir saat maksud kalimat Alya mengarah pada kedua anaknya. Berusaha itulah yang kini sedang Belva lakukan, berusaha kerasa agar kedua anaknya tak tersentuh oleh siapapun yang mencoba menyakiti mereka.


"Tidak aku tak pernah berbohong. Mereka bukan bagian dari kehidupan kalian. Berhenti membawa mereka dalam hal ini, Alya." Ucap Belva berusaha untuk tetap tenang.


Saat mendengar suara Alya dari ponselnya, ia tak sadar jika saat ini ia sedang berada di dapur bersama Roichi. Pria itu memasang wajah serius saat mendengar nama yang dilontarkan oleh Belva.


"Sebelum semua terbukti jangan harap hidupmu akan tenang. Sejujurnya aku sangat senang jika melihat mu ketakutan hahaha." Alya tertawa terbahak-bahak lalu mematikan ponselnya.


Wajah Belva berubah cemas, panik, khawatir. Tarikan napas terasa sulit hingga terlihat beberapa kali dada dan bahunya bergerak cepat akibat tarikan dan hembusan napasnya. Matanya sudah berkaca-kaca saat ini, bayangan Duo Kay yang berada dalam bahaya saat ini.


"Nona, ada apa ? Siapa yang menghubungi mu ?"


Seketika wanita itu terkejut mendengar pertanyaan dari suara berat dan tegas itu. Ia baru menyadari kehadiran Roichi yang sedari tadi berada di sana bersamanya.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2