
Selesai dengan pekerjaannya yang ada di ruang kerja, Satya keluar dari ruangan itu lalu masuk ke dalam kamar Duo Kay. Kedua anaknya masih tertidur pulas. Dipandanginya wajah kedua bocah kecil itu. Sebentar lagi mereka akan pulang ke rumah mereka. Pasti akan sepi sekali tanpa adanya Duo Kay di rumah besarnya itu.
Satya berpikir akan melakukan apapun agar bisa bersama dengan anak-anaknya. Informasi dari Jordi membuatnya semakin bersemangat dalam mencapai harapannya. Kini tidak ada lagi bayang-bayang seorang Roichi lagi yang akan menghalangi dirinya mendekati Belva.
Pria itu kembali berpikir, sungguh lucu dirinya bisa tertarik pada Belva yang usianya jauh dibawah dirinya terlebih wanita itu adalah mantan pembantunya sendiri. Wanita yang dulu hampir tidak pernah diliriknya sama sekali. Kini justru dirinya sangat ingin menatap wajah cantik itu lebih lama.
Cukup lama Satya berada di dalam kamar Duo Kay hingga Kaili mulai terbangun. Pertama kali yang dilihat pria kecil itu adalah wajah Daddy nya.
"Daddy..."
"Iya sayang, sudah bangun. Apa masih mengantuk ?"
Kaili menggeleng lemah. Kesadarannya belum pulih dengan benar. Matanya terasa masih sedikit berat. Pria kecil itu menyesuaikan pandangannya saat terbuka lebar.
"Daddy, Mami mana ?"
"Mami masih tidur, Kaili mau apa biar Daddy bantu hemm.."
"Mau minum." Ucap Kaili dengan suara serak nya.
"Tunggu disini Daddy ambilkan di dapur ya. Jangan kemana-mana." Satya pergi ke dapur karena di kamar anak-anak nya tak ada air minum.
Sampai di dapur semua asisten rumah tangga Satya menunduk hormat pada pria itu. Mbok Yati selalu sigap saat majikannya itu membutuhkan sesuatu selalu menawarkan bantuan. Tapi Satya tak membutuhkan bantuan Mbok Yati karena ingin mengambil sendiri air minum untuk Kaili.
Dia kembali lagi ke kamar Duo Kay. Ternyata kaila sudah bangun dan matanya sudah berkaca-kaca. Gadis kecil itu mencari Maminya.
"Sayang, kamu juga sudah bangun ? Kenapa menangis ?"
"Daddy... Mami dimana ?" Tanya Kaila dengan mata berkaca-kaca.
"Mami masih tidur sayang. Kaila mau minum ?" Tanya Satya lembut.
Kaila pun mengangguk. "Gantian sama kakak ya... Tadi Daddy cuma bawa satu gelas saja." Kembali Kaila mengangguk.
Duo Kay minum secara bergantian. Satya kembali mengajak Duo Kay untuk mengobrol. Mencari celah agar anak-anaknya itu semakin memiliki keinginan yang kuat untuk tinggal bersama dirinya.
"Kaili... Kaila... Kalian apa tidak mau tinggal bersama Daddy saja ? Daddy sangat kesepian jika kalian pergi dari rumah ini."
"Kaila mau tinggal disini bersama Daddy tapi Mami tidak mau." Ucap Kaila sedikit murung.
"Iya Kaili juga mau, padahal disini enak kamarnya luas lagi. Ditemani sama Daddy juga." Ucap Kaili.
Satya tersenyum rupanya kedua anaknya memang memiliki keinginan tinggal bersama dirinya. Satya semakin senang, dia tak perlu berusaha dengan keras membujuk si kembar.
"Kalau begitu kalian tinggal disini saja. Kalian bujuk Mami agar Mami mau tinggal disini juga. Kita tinggal sama-sama." Ucap Satya berusaha memprovokasi si kembar.
"Emm... Caranya ?" Tanya Kaili yang diangguki oleh Kaila.
"Nanti kalian Daddy antar pulang dulu ke rumah. Di rumah bujuk Mami, ajak Mami tinggal di rumah Daddy. Atau jika Mami tidak mau kalian ajak Daddy tinggal di rumah kalian. Bagaimana ?"
"Emm... Iya kalau Mami tidak mau. Daddy saja yang tinggal di rumah Mami." Ujar Kaila.
"Iya... Ya sudah kita mandi yuk, biar nanti saat Mami bangun kalian sudah harum.dan bersih." Ajak Satya.
"Tapi Daddy janji akan tinggal di rumah Mami ya." Kaila memastikan.
"Iya sayang. Tapi kalian juga harus bujuk Mami agar Mami kasih ijin buat Daddy tinggal di rumah kalian." Kembali Satya memprovokasi Duo Kay.
"Oke... Daddy tenang saja." Ucap Kaili mengacungkan jempolnya.
"Siap bos. Anak-anak Daddy memang pintar-pintar. Ayo kita mandi." Ajak Satya dengan tangan mengusap lembut kepala Duo Kay secara bergantian.
Mereka lalu menuju kamar mandi, Satya membantu Duo Kay untuk mandi tapi tak disangka anak-anaknya itu karena terlalu bersemangat dan asik mereka berdua menyemprotkan air ke baju Daddy mereka hingga basah.
"Anak-anak..." Geram Satya gemas.
"Hahaha... Baju Daddy basah." Kaili tergelak saat melihat Satya sudah setengah basah.
Melihat Kaili yang justru tertawa puas itu membuat Satya gemas dan berniat membalasnya. Satya menyiratkan air ke wajah Kaila dan Kaili.
__ADS_1
Satya mengisi bathtub dengan air penuh dan menuangkan sabun cair di dalamnya. Sabun cair dengan aroma buah-buahan khas anak-anak.
"Daddy... Daddy... Ayo kita masuk ke dalam bak besar ini." Ucap Kaila yang sudah masuk ke dalam bathtub.
Kaili juga sudah masuk di dalam bathtub itu. Pria kecil itu masih saja iseng menyemprotkan busa-busa itu pada wajah Satya. Mereka tertawa sangat bahagia menikmati momen kebersamaan mandi bersama Daddy mereka.
Satya pun sama sangat menikmati momen tersebut. Baru kali ini dirinya merasa sangat bahagia. Kegiatan yang tak pernah dilakukannya seumur hidupnya. Bermain-main dan mandi bersama anak-anak nya.
Akhirnya mereka bertiga berendam bersama di dalam bathtub berisi banyak busa. Tawa canda serta keriuhan menggema di dalam kamar mandi. Pria beranak balita di usianya yang sudah sangat matang itu memberikan tumpukan busa pada kepala Kaili dan Kaila. Para bocah itu tertawa senang saat bermain busa bersama Daddy mereka.
Di sisi lain, wanita muda dan cantik itu baru saja terbangun. Kelopak mata yang dihiasi oleh bulu mata lentik dari sang pencipta itu mengerjapkan matanya menyeimbangkan cahaya yang masuk dan juga mengumpulkan kesadarannya.
Ia melihat sekeliling terasa sepi, lalu dirinya bangun dari ranjang. Dilihatnya meja kerja Satya serta sekeliling tak ada siapapun. Belva akhirnya memilih untuk keluar ruangan tersebut. Langkah kaki wanita itu menuju kamar Duo Kay.
Belum sampai di kamar Duo Kay, di pertengahan jalannya Belva bertemu dengan Janis dan Tuti.
"Neng... Baru bangun tidur ?" Tanya Janis.
"Eh Mbak Janis... Hehe... Iya Mbak."
"Oh iya Tuan Satya kemana ya ?" Tanya Belva.
Tuti menatap Belva dengan tatapan tidak suka dan itu sangat terlihat jelas oleh Belva. Tapi wanita itu seakan mengabaikan tatapan dari Tuti. Ia merasa tak pernah melakukan kesalahan apapun jadi tidak ada yang perlu dipikirkan.
"Tuan... Saya kurang tahu neng. Mungkin di dalam kamarnya. Kalau tadi sih sempat ke dapur mengambil air minum." Ucap Janis.
"Ohh oke. Terima kasih Mbak. Saya permisi dulu ya." Ujar Belva dengan senyum manis dan lembut nya.
Janis tak kalah membalas senyuman Belva dengan sangat tulus. Janis begitu menaruh simpatik pada wanita itu karena sikapnya yang baik dan sopan. Lain dengan Tuti yang langsung tak menyukai Belva hanya karena asumsi nya sendiri.
Belva masuk ke dalam kamar Duo Kay. Manik matanya menatap sekeliling termasuk ranjang anak-anak nya. Si kembar tidak ada, lalu dimana anak-anak nya itu belva tak tahu. Tapi samar-samar Belva mendengar suara gaduh, gelak tawa terdengar oleh pendengaran Belva.
"Suara tertawa ? Suara siapa ? Apa suara anak-anak ? Tapi suaranya dari arah kamar mandi." Gumam Belva lirih.
Langkah kaki Belva mendekati pintu kamar mandi. Ditempelkan telinganya pada pintu kamar mandi. Ternyata benar suara gelak tawa itu dari dalam kamar mandi dan Belva hafal dengan suara tawa itu. Itu suara milik anak-anaknya, khawatir karena anak-anaknya akan berbuat macam-macam di dalam kamar mandi tanpa pengawasan Belva langsung membuka pintu kamar mandi.
Ceklek...!!!
Mata bwlva terbelalak melihat apa yang ketiga manusia itu lakukan. Terlebih melihat Satya yang juga berada di dalam bathtub dengan tawa di bibirnya yang sangat lebar.
"Kaila... Kaili... Apa yang kalian lakukan !?" Tanya Belva dengan suara terkejut yang sedikit keras.
"Hahaha... Daddy stop. Geli Daddy..." Ucap Kaili yang tengah digelitiki oleh Satya.
"Hahaha... Terus Daddy biar Kaili kapok hahaha." Ujar Kaila justru tertawa senang dan puas.
Pertanyaan Belva tak digubris sama sekali oleh kedua anaknya. Belva menatap tak percaya dirinya diacuhkan oleh Duo Kay. Hal yang tak pernah mereka lakukan padanya.
"Kaili... Kaila... Stop !!" Ucap Belva dengan nada yang sedikit keras.
Satya menghentikan kegiatannya dan memperhatikan Belva. Wanita itu hanya melirik sekilas pada Satya lalu kembali fokus pada Duo Kay.
"Anak-anak... Apa yang kalian lakukan. Jangan main air terlalu lama nanti kalian sakit. Kaila kamu baru saja sembuh sayang, lihat perban mu basah seperti itu, nanti lukamu lebih lama kering Kaila. Ayo kalian keluar dan mandi segera." Ucap Belva.
Naluri seorang ibu-ibu keluar dari diri Belva saat ini. Sikap yang cerewet dan khawatir pada anak-anak nya. Baru kali ini Satya melihat Belva secerewet itu pada Duo Kay.
"Anda... Harusnya tahu jika Kaila baru saja keluar dari rumah sakit kenapa justru mengajak mereka bermain air seperti ini." Kembali Belva mengeluarkan sikap cerewet nya pada Satya karena Kaila yang masih harus diperhatikan dengan benar.
Satya terdiam, dirinya merasa seperti dimarahi oleh seorang istri saja. Tapi entah kenapa Satya menurut saja saat Belva memarahinya. Pria itu keluar dari bathtub dengan celana pendek yang sudah basah dan bertelanjang dada.
"Anak-anak sekarang mandi yuk. Mami sudah marah, nanti bisa marah lagi jika kalian tidak segera mandi. Ayo Daddy bantu bilas." Ucap Satya lembut mengajak anak-anak nya.
Satya membantu Duo Kay membilas tubuh mereka yang penuh dengan busa dengan menggunakan air hangat yang mengalir. Hingga selesai Satya membantu memasangkan handuk kimono kecil pada Duo Kay. Belva hanya menatap apa yang dilakukan oleh Satya seperti seorang pengawas proyek.
"Sudah... Ayo keluar." Ucap Satya memandu anak-anaknya menuju pintu kamar mandi.
"Sudah Mami... Mami jangan marah-marah." Ucap Kaila.
Belva menghela napas, melirik Satya dengan kesal. Lalu mengajak anak-anak nya keluar kamar mandi untuk menggantikan baju mereka. Sebelum dirinya benar-benar pergi Satya bersuara.
__ADS_1
"Mam, tolong ambilkan pakaianku di kamar. Saya mau mandi disini sekalian." Ucap Satya.
"Iya nanti saya suruh Mbak Janis ambil pakaian anda." Ucap Belva.
"Saya memintamu bukan Janis." Satya menutup pintu kamar mandi lalu membilas dirinya sendiri.
Belva menatap kesal pintu kamarandi tersebut. Sikap Satya berubah sekali berbeda dengan dulu yang benar-benar dingin dan kaku dengannya. Saat ini pria itu lama-lama membuatnya kesal.
Tak peduli dengan permintaan Satya, Belva kembali melanjutkan apa yang harus dilakukannya. Mengurus kedua anaknya, mengganti pakaian dan merapikan mereka. Belum selesai dengan Kaili, Satya sudah keluar dengan menggunakan handuk kimono yang digunakan oleh Belva sebelumnya.
"Mana pakaian saya ?" Tanya Satya dengan santainya seperti meminta pada istrinya sendiri.
"Mana saya tahu." Ucap Belva dengan cueknya.
"Kamu tak mengambilkan nya untuk saya ?" Tanya Satya.
"Itu bukan pekerjaan saya." Ucap Belva.
Satya justru duduk di dekat Kaila yang telah siap dengan baju santainya yang girly meski tak menggunakan rok. Pria itu bercanda dan tertawa bersama Kaila.
"Daddy, kenapa belum ganti baju ?" Tanya Kaila.
"Baju Daddy tidak ada. Mami tak mau mengambilkan untuk Daddy." Adu Satya pada Kaila. Satya pikir mengadu pada anak-anak nya akan lebih ampuh membuat Belva menurut.
"Mami, kenapa tidak ambilkan baju untuk Daddy ?" Tanya Kaila.
"Mami tidak tahu dimana baju Daddy kalian." Ucap Belva seadanya.
Satya lalu beranjak berdiri dari ranjang dan mengambil alih apa yang Belva lakukan. Memakaikan pakaian untuk Kaili.
"Apa yang anda lakukan ?" Tanya Belva kesal.
"Anda... Anda... Siapa yang kamu maksud ? Nama saya bukan anda." Ucap Satya yang juga ikut kesal karena Belva masih saja memanggil dirinya dengan sebutan se-formal itu padanya.
"Apa yang Tuan Satya lakukan." Belva kembali mengulang pertanyaannya dengan sebutan yang berbeda.
"Lupa dengan perjanjian ?" Satya mengingatkan Belva.
Wanita itu menghela napas kesal. Satya benar-benar ingin sekali Belva mencakar wajah Satya saat ini.
"Nah, selesai... Kalian tunggu disini saja jangan keluar-keluar. Kalian main mainan kalian saja. Oke..."
"Oke Daddy." Jawna Duo Kay.
Satya menggamit lengan Belva dan menarik Belva untuk keluar kamar Duo Kay.
"Daddy dan Mami mau kemana ?" Tanya Kaili.
"Mami tidak tahu letak pakaian Daddy. Jadi, Daddy ingin menunjukkan pada Mami. Kalian disini saja." Ucap Satya lembut pada Kaili.
"Oohh... Oke." Jawab Kaili menurut saja.
"Maksud anda apa Tuan ?* Tanya Belva bingung dan panik.
"Ikut..." Ucap Satya menarik lengan Belva. Mereka keluar dari kamar Duo Kay.
Masih menggunakan handuk kimono Satya keluar dari ruangan itu dengan menggeret lengan Belva. Hal itu disaksikan oleh Janis dan juga Tuti yang masih berada di lantai dua.
Kedua ART itu menatap Satya dan Belva dengan tatapan penasaran. Apa yang terjadi hingga Satya menarik Belva seperti itu, bahkan terlihat oleh mereka jika Belva sedikit memberontak saat di tarik oleh Satya.
"Ada apa itu ?" Tanya Janis.
"Tidurlah, apalagi jika bukan tidur bersama. Wanita penggoda pasti akan selalu seperti itu kan. Memuaskan mangsanya, seperti itu kan pekerja mereka." Ucap Tuti dengan santai dan tidak ada rasa bersalah sedikitpun.
Janis menatap Tuti dengan tatapan tidak suka. Teman kerjanya itu lancang sekali berbicara seperti itu pada Belva. Janis pin marah pada Tuti yang seenaknya berbicara.
****
To Be Continue...
__ADS_1
Apalagi tuh yang mau Om Satya lakukan... Hadeeehh ada aja yaaa Om-om satu itu. 🤭
Selalu dan tak pernah lupa author berterima kasih buanyaaakk buat kalian my dear para readers ku yang masih setia sampai detik ini. Terima kasih yang sudah bantu Vote, yang sudah komen dan like cerita receh author. Semoga semua yang telah kalian lakukan ini akan mendapatkan balasan kebaikan yang berkali lipat ganda ya guys. 🙏🙏🙏