Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 103. Lapar


__ADS_3

Budhe Rohimah dan Bella menyimak cerita Satya atas kejadian di butik Belva. Sesekali Satya melirik ke arah Belva yang ada di sampingnya. Ruang tamu di rumah minimalis Belva itu terasa sedikit menghangat akibat cengkrama diantara mereka.


"Om... Masa sih aku seperti itu tadi ?"


Satya melirik tajam pada Belva, lagi-lagi wanita itu masih memanggilnya Om. Kenapa sepertinya susah sekali hanya untuk manggil dirinya dengan sebutan Mas atau sayang. Belva langsung membuang muka mengalihkan tatapan matanya agar tak melihat tatapan mata Satya.


"Hem... Tadi kamu terlihat mengerikan." Ucap Satya.


"Berkaitan dengan masalah ini, ada yang ingin saya sampaikan." Imbuh Satya.


"Iya... Tadi nak Satya mau berbicara sesuatu. Katakan saja Nak." Ucap Budhe Rohimah.


"Begini Bu..." Satya melirik Belva.


"Saya dan Belva memutuskan akan menikah dalam waktu dekat." Tangan Satya beralih menggenggam tangan Belva. Si pemilik tangan merasa lebih deg-degan saat Satya menggenggam tangannya dan mengatakan jika mereka akan segera menikah dalam waktu dekat.


"Hah ? Menikah ?" Beo Bella. Gadis itu sedikit terkejut. Meski ia tahu bahwa Satya memanglah ayah kandung dari Duo Kay.


Belva langsung menatap Bella saat mendengar suara lirih Bella demikian juga tatapan matanya beralih pada Budhe Rohimah.


"Kapan kalian akan menikah ?" Tanya Budhe Rohimah. Sejujurnya wanita paruh baya itu merasa senang karena itu artinya Belva dan Duo Kay akan ada yang menjaga dan melindungi mereka secara langsung.


"Mungkin minggu depan Bu." Ucap Satya dengan tegas dan tanpa keraguan.


"Minggu depan ?" Ujar Belva dan Bella secara bersamaan.


"Kenapa ? Bukankah kita sudah sepakat ?" Ucap Satya.


"Tapi aku juga harus membicarakan ini pada Mama dan Papa. Tidak bisa seenaknya seperti itu dong Om."


Satya sedikit meremas genggaman tangannya pada Belva. Sadar akan apa yang diucapkannya Belva sedikit tersenyum garing.


"Kak, kamu tenang saja dalam waktu dekat ini Tuan dan Nyonya akan berkunjung ke sini. Kemarin Nyonya sempat menghubungi ku." Ucap Bella.


Satya semakin mengernyitkan dahinya. Dia benar-benar masih belum mengerti secara jelas kehidupan Belva saat ini. Bella yang selama ini memanggilnya kakak tapi justru manggil kedua orang tua angkat Belva dengan sebutan Tuan dan Nyonya.


"Mama menghubungi mu tapi kenapa tak menghubungi ku ?" Ucap Belva.


"Maaf... Sebenarnya Nyonya ingin membuat kekuatan padamu tapi karena aku rasa ini masalah yang serius jadi mau tak mau aku harus mengatakannya padamu."


" Baiklah... Ibu sebagai orang tua Belva disini, apakah ibu memberikan restu pada kami ?" Tanya Satya.


"Ibu akan setuju dan memberikan restu jika Belva merasa bahagia dan menerima pernikahan kalian." Ucap Budhe Rohimah.


"Sayang, dihadapan ibu dan Bella. Tolong katakan sekali lagi bagaimana jawaban dan keputusanmu." Ucap Satya.


Belva mengangguk. "Belva sudah menerima rencana pernikahan ini Budhe."


"Baiklah jika sudah seperti itu maka Budhe pasti memberikan restu pada kalian dengan penuh. Nak Satya, tolong jika kamu sudah membuat keputusan untuk menikahi Belva maka jaga dan lindungi dia. Termasuk anak-anak kalian juga."


"Ibu tenang saja. Belva dan anak-anak adalah tanggung jawab saya. Saya pasti akan melindungi mereka, menjaga dan berusaha membahagiakan mereka." Jawab Satya dengan tenang dan penuh keyakinan.


"Nyonya dan Tuan pasti akan terkejut mendengar berita ini. Tapi aku rasa mereka juga akan merasa senang atas kabar bahagia ini." Ucap Bella dengan wajah tersenyum.


"Bella, tolong jangan katakan apapun pada Mama. Biar aku saja yang mengatakannya." Pinta Belva.


"Oke... Aku tahu, itu memang bagian mu Kak."


"Emm... Ini apa masih ada yang ingin dibahas ?" Tanya Bella.


"Ada apa memang nya ?" Tanya Belva.


"Aku ingin mandi, sudah gerah. Belum lagi perutku sudah keroncongan." Ucap Bella memegang perutnya.


"Mandilah... Saya sudah selesai." Ucap Satya.


Bella akhirnya bisa kembali ke kamarnya, yang di dalam sana sudah terdapat Duo Kay. Wanita itu membersihkan diri karena sudah merasa gerah dan lengket.


Budhe Rohimah memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam setelah berbincang cukup serius dengan Satya dan Belva.


Belva masih tetap duduk di sofa ruang tamu karena masih di tahan oleh Satya. Budhe Rohimah pun juga tak keberatan jika Belva tak membantunya di dapur. Ia sangat paham jika Belva dan Satya ingin menikmati waktu berdua.


"Aku mau bantu Budhe."


"Disini saja dulu, temani saya." Satya memegang tangan Belva.


"Tapi kasihan Budhe cuma sendirian."


"Nanti saya carikan asisten rumah tangga buat bantu ibu atau nanti salah satu ART yang ada di rumah pindah tugas saja disini."


"Ck... Apaan sih orang aku mau bantu Budhe sekarang kasihan sekarang Budhe lagi siapin makan malam buat kita."


"Bisa tidak sih yank jangan bantah kalau suami sudah ngomong."


"Yeee... Suami... Suami... Belum nikah Tuan jangan ngarang deh." Ucap Belva.

__ADS_1


"Nikah atau belum sama saja saya itu suami kamu, kamu itu istri saya. Tidak ada perdebatan titik."


"Kok jadi suka maksa gitu sekarang." Ujar Belva menatap sedikit kesal pada Satya.


Perlu diingat kesal yang Belva rasakan adalah bukan kesal emosi tapi kesal manja.


"Habis kamu lebih suka saya paksa kan. Sudah disini saja, mumpung anak-anak sibuk di dalam. Kita manfaatkan waktu sayang."


Satya memeluk pinggang Belva dari samping. Pria itu tak ingin melepaskan wanitanya begitu saja. Menikmati waktu yang hanya berdua saja.


Selama ini mereka berdua memang sangat jarang menikmati waktu berdua kecuali saat beristirahat saja karena mereka tidur dalam kamar yang sama. Mengerti bagaimana status Satya, Belva berusaha menjaga jarak agar tak sampai kebablasan. Meski terkadang Satya tak bisa mengendalikan diri.


Terlihat sekali Satya memeluk mesra tubuh wanitanya. Belva tak menolak sedikitpun saat pria dingin itu kini berubah menjadi menghangat saat bersama nya.


Hari berganti, Belva dan Satya melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Bertanggung jawab atas pekerjaan mereka masing-masing.


Mengingat kejadian yang pernah kecolongan saat itu. Satya kini lebih memperketat pengamanan untuk Belva dan kedua anaknya.


Meski harus berdebat terlebih dahulu, tapi Satya tak mau tahu. Pria itu menempatkan dua satpam di butik Belva. Tak hanya itu Satya juga memberikan bodyguard bayangan yang berjaga di sekitar butik tanpa sepengetahuan Belva. Karena memberikannya satpam pada butiknya saja Satya harus berdebat lebih dulu dengan calon istri yang sudan dianggapnya sebagai istri sah nya itu.


Duo Kay juga tak luput dari penjagaan bodyguard dari Satya. Pengamanan Belva menjadi lebih ekstra karena bodyguard Roichi sampai saat ini juga masih melakukan fungsinya meski tak terlalu mencolok. Bodyguard Roichi hanya mengawasi Belva dan Duo Kay saat berada di luar saja.


Jadwal Satya yang padat itu kini berubah sedikit. Meski padat tapi pria itu menyempatkan untuk mengunjungi dan menjemput anaknya dan Belva.


"Pekerjaan mu masih banyak sayang ?"


Satya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Belva dan mengejutkan wanita itu.


"Om, bisa tidak sih jangan mengagetkan ku."


Satya menutup pintu dan berjalan mendekati kursi Belva. Pria itu berdiri di samping Belva dan membungkuk kan badannya. Satu tangannya bertumpu pada meja Belva satu lagi berpegangan pada sandaran kursi Belva.


"Rupanya kamu merindukan bibirku sayang." Bisik Satya.


"Eh... Bukan... Bukan begitu..."


"Sesulit itukah kamu memanggil ku dengan sebutan Mas atau sayang ?"


"Tidak... Aku..."


Cup...


Satya mengecup bibir Belva dan sedikit **********.


Belva mendelik lalu memukul perut Satya tapi tak terlalu keras.


"Yank... Kok mukul. Jangan kasar sama suami."


"Haahh... Sudahlah terserah. Ini kan jam kepulangan Kaili dan Kaila kok kamu masih disini, Mas ?"


"Mas, jemput kamu dulu. Kita jemput anak-anak bareng. Habis itu kita makan siang sama-sama."


Oke baiklah, Belva memang harus selalu membiasakan diri dengan perubahan-perubahan baru. Bertemu dan akan hidup bersama Satya tentu pasti nya akan ada beberapa hal yang bertambah ataupun berubah.


"Tunggu... Masih kurang sedikit lagi." Belva masih ingin menyelesaikan pekerjaan yang dirasakannya sangat tanggung sekali jika harus ditinggalkan.


"Sayang, kita bekerja setiap waktu. Tapi saat ini waktunya kita jemput anak-anak dan beristirahat." Satya mengingatkan Belva.


Pria itu akan berlaku bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga yang paling utama, bersama Duo Kay dan Belva tentu Satya tak akan menyia-nyiakan waktu kebersamaan mereka.


Belva mengikuti dan menyetujui apa.yang Satya katakan. Wanita itu membereskan berkas-berkas nya dan mengambil tasnya. Tak lupa ia berkaca sebentar untuk merapikan penampilannya.


"Istriku sudah cantik. Ayo..."


Satya meraih pinggang Belva, mengajak wanita itu untuk segera berjalan keluar. Sebentar lagi waktu sekolah Duo Kay usai.


Dengan mobilnya Satya mengemudikannya sendiri. Belva duduk di depan berdampingan dengan Satya yang sedang menyetir mobil.


Satya menggenggam tangan Belva dan membawanya serta meletakkan genggaman tangan mereka di atas paha Satya.


"Sayang, kira-kira nanti setelah nikah kamu mau bulan madu ke mana ?" Tanya Satya.


Sebagai seorang wanita pasti hati Belva merasakan senang dan malu-malu saat membahas mengenai bulan madu serta perilaku Satya yang sedari tadi membuatnya grogi.


"Memang harus bulan madu ?" Tanya Belva tanpa menoleh pada Satya yang fokus menyetir.


"Ya harus dong kan biar afdol yank. Kita bulan madu jalan-jalan berdua gitu. Kemana saja deh terserah sayang mau kemana."


"Nanti tanya anak-anak saja mereka mau pergi kemana." Ujar Belva.


"Loh kok tanya anak-anak, kan kita yang mau bulan madu yank."


"Mas, kamu lupa kalau kamu sudah punya dua buntut ? Mereka masih kecil-kecil juga, masa iya mau pergi tanpa mereka."


Berhenti di lampu merah, Satya melepas setir kemudi nya. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


Harapannya untuk bulan madu bersama Belva terancam pupus. Baru ingat jika Duo Kay masih kecil-kecil dan pasti tidak akan mau mereka tinggal pergi hanya berdua saja.


Satya menghembuskan napasnya perlahan. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya karena tak bisa merasakan yang namanya bukan madu secara bebas dengan sang istri nanti.


"Mas, lupa kalau Kay masih kecil-kecil. Tapi kalau mereka mau ditinggal, kamu mau kan yank ?"


"Mana mungkin aku tega tinggalin mereka mas. Lagian bulan madu itu ngapain sih pasti juga cuma jalan-jalan saja kan ? Kalau jalan-jalan kita ajak saja anak-anak sekalian pas mereka libur nanti."


"Yaaa... Tidak hanya jalan-jalan saja sayang. Kan nanti kita ekhem... Anu itu juga." Jawab Satya tiba-tiba merasa sungkan untuk berkata gamblang pada Belva.


"Anu apa... Eh awas !!" Pekik Belva.


Satya terkejut saat Belva memekik waspada. Hampir saja Satya menyerempet motor di depannya yang berjalan secara sembarang dan ugal-ugalan.


"Ck... Bisa bawa motor tidak sih itu orang." Gerutu Satya kesal.


Genggaman tangan merek terlepas karena Satya terkejut dan berusaha mengendalikan setir kemudi nya.


"Namanya juga jalan umum, pasti juga banyak yang berkendara dengan tingkah mereka masing-masing." Ujar Belva.


"Ya tapi tidak ugal-ugalan seperti itu juga yank. Bisa bahaya buat pengendara lain." Ucap Satya.


Seketika pembahasan mengenai bulan madu mereka lenyap secara tiba-tiba akibat hampir saja terjadi insiden.


Tak lama mobil Satya sampai di sekolah Duo Kay. Satya tak turun dari mobil karena Belva yang memintanya untuk menunggu saja di dalam mobil.


Belva, berjalan menghampiri tempat yang selalu digunakan Duo Kay menunggu jemputan. Ternyata tak hanya Duo Kay, Farel dan juga Donny saja yang menunggu tapi ada Yossy yang juga menunggu jemputan.


Saat Belva mendekat ke arah Duo Kay ternyata dokter Dimas juga berjalan ke arah yang sama namun pria itu datang dari arah yang berbeda dari Belva.


"Nona Belva... Anda menjemput juga ?" Sapa dokter Dimas.


"Dokter... Iya ini... Dokter juga mau menjemput Yossy ?" Ucap Belva berbasa-basi dengan dokter tampan itu.


"Iya... Pengasuh yang biasa menjemputnya sedang sakit jadi saya yang menjemput nya."


Kedua orang itu terlibat pembicaraan yang bisa dibilang menyita waktu hingga beberapa menit. Satya sedari tadi melihat interaksi anatar Belva dengan dokter Dimas. Rahangnya mengeras saat melihat dokter dimas yang tertawa senang saat berbicara dengan Belva.


Pria itu langsung turun dari mobil dan menyusul keberadaan Belva. Langkah kakinya cukup cepat namun masih terlihat santai di mata orang sekitar.


"Ekhem... Sayang, masih lama ?" Tanya Satya memecah pembicaraan antara Belva dan dokter Dimas.


"Eh... Mas... Maaf lama ya ? Ini dokter Dimas kebetulan juga menjemput Yossy.


"Tuan..." Sapa dokter Dimas pada Satya.


Satya hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada dokter Dimas.


"Kay... Kita pulang sekarang yuk. Kita makan siang nanti Daddy belikan es krim juga." Ajak Satya pada Duo Kay. Es krim adalah satu nama yang paling ampuh agar Duo Kay segera beranjak dari tempatnya.


"Beneran Daddy ?" Tanya Kaila dengan mata berbinar bahagia.


"Emm tentu saja... Ayo cepat." Ujar Satya.


Kaila dan Kaili bersorak gembira.


"Sayang, mas harus kembali ke kantor. Mas, bawa anak-anak saja kalau kamu masih mau disini." Ucap Satya dingin.


"Ayo Nak kita pulang. Dokter Dimas saya permisi." Imbuh Satya sebelum melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Mengerti akan perubahan wajah dan sikap Satya, Belva langsung berpamitan pada dokter Dimas. Ia berjalan menyusul Satya dan Duo Kay dengan langkah kaki yang cepat dan tergesa-gesa.


Duo Kay sudah duduk di bangku belakang. Satya sudah siap di belakang kemudi nya. Masih menunggu Belva masuk ke dalam mobil. Setelah Wanita masuk ke dalam mobil, barulah Satya melajukan mobilnya.


Satya hanya diam saja tak banyak bicara seperti sebelumnya. Dia fokus pada jalanan saja. Pertanyaan yang terlontar dari Duo Kay hanya dijawab sesuai dengan pertanyaan yang ada saja.


"Mas, kamu kenapa jadi diam begitu ?" tanya Belva.


"Lapar." Jawab Satya singkat.


"Kamu marah mas ?"


"Tidak."


Belva menghela napas, Satya memilih diam meredam apa yang dirasakannya saat ini. Pria itu tak ingin meledak-ledak meluapkan perasaan nya. Di dalam mobil pun juga masih ada Duo Kay.


Satya berhenti di sebuah restoran seafood sesuai dengan permintaan Duo Kay. Pria itu turun dengan membukakan pintu untuk kedua anaknya.


****


To Be Continue...


Helloooo my dear para readers ku tersayang.


setiap hari author bakal terus berterimakasih pada kalian yang masih setia support author. Masih selalu komen buat nunggu up dari aku. Uuuhh rasanya gak tega kalau gak up karena memang selalu kalian tunggu². 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2