Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 118. Barang Langka


__ADS_3

"Malam pertama ? Yakin malam pertama ?" Ucap Belva.


Satya mengerutkan dahinya masih tak mengerti maksud Belva.


"Iya kita kan baru saja menikah jadi ini malam pertama kita."


"Lupa? Sudah punya Kaili dan Kaila? Masih merasa bujangan kamu?"


Belva langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Satya.


"Sayang, maaf... Iya mas ralat. Malam kedua kita tapi kan ini malam istimewa kita setelah menikah."


"Sayang, jangan marah. Mas tidak bisa melihat mu marah pada mas. Sayang, kita baru saja melakukan hal menyenangkan, apa harus mengulanginya agar mas tidak melihat kemarahan mu."


Cekit... Rasanya panas dan perih. Tangan kekar Belva mendapatkan cubitan dari Belva.


"Aduh... Sakit yank. Kamu jangan KDRT sama suami. Kamu balas dendam karena mas sempat membuat mu sakit tadi?"


"Mas apaan sih? Kenapa harus bahas-bahas itu terus. Aku tidak marah hanya kesal padamu."


"Ya sudah mas minta maaf lagi. Tidurlah, besok kita ke kantor polisi." Ujar Satya.


Perkataan itu sanggup membuat Belva memalingkan wajahnya pada Satya.


"Ke kantor polisi? Kenapa, ada apa?"


"Melaporkan tindak KDRT yang kamu lakukan. Ini tangan mas baru saja kamu sakiti."


"Mas, jangan berlebihan hanya dicubit begitu saja. Apa kabar kamu yang menyakiti aku juga tadi apa perlu aku melaporkan juga."


"Kamu yakin akan menceritakan peperangan panas kita tadi pada orang lain? Mas akan menjadi saksi yang memberikan laporan betapa hebatnya istri mas kuat dan tahan menerima serangan dari mas secara bertubi-tubi." Ucap Satya dengan nada santai dan tersenyum dalam hati.


Plak...


Kali ini Belva memukul lengan Satya yang melingkar di perutnya.


"Mas, kamu lama-lama bikin kesal. Malas sama kamu."


"Jangan bicara seperti itu, yank. Dengar... Kenapa mas harus pergi tadi, itu karena Sonia kabur dan mas harus segera pergi untuk menemukan Sonia."


"Kenapa kamu peduli sekali padanya? Kamu masih ada rasa sama dia?" Tanya Belva dengan nada kesal.


"Sst... Dengar dulu, mas belum selesai cerita. Jangan marah-marah dulu."


"Aku tidak marah tapi kesal sama kamu."


"Iyaaa... Kamu kesal sama mas tidak apa-apa tapi dengar dulu kalah mas sedang bicara. Biar tidak salah paham. Asal kamu tahu mas tidak pernah ada rasa sama Sonia bahkan selama menikah bertahun-tahun sama sekali tidak ada rasa cinta. Kamu tahu sendiri Alya bukan anak mas."


Satya mengeratkan pelukannya pada sang istri demi menjeda kalimatnya. "Bagaimana masa lalu mas bisa bersama Sonia mas minta maaf belum bisa bercerita padamu saat ini. Mas butuh waktu, sayang."


"Yang perlu kamu tahu dan harus selalu kamu ingat, mas sangat menyayangi mu dan mencintai mu. Memang perasaan itu tidak hadir saat kejadian itu terjadi."


"Tunggu... Stop... Aku mengingat sesuatu." Ujar Belva menghentikan pembicaraan suaminya.


"Apa?" Tanya Satya menatap Belva yang sedang menghadap dirinya.


"Membicarakan mengenai perasaan. Tapi dulu saat kejadian itu terjadi kenapa kamu memanggilku dengan nama Sonia? Kamu menganggap diriku sebagai mantan istri mu itu."


Satya menghela napas, "Saat itu mas sedang mabuk, hal itu dipicu karena Sonia yang selalu pergi dan tidak pernah ada waktu untuk mas. Dia sibuk di luar bersama teman-teman nya yang ternyata sibuk berselingkuh dengan kekasihnya."


"Dan kamu frustasi karena istri mu seperti itu?" Sahut Belva.


"Sebagai seorang suami tentu berharap mendapatkan perhatian dari istrinya. Mas tidak pernah mencintainya, hubungan kami tak sebaik yang orang-orang lihat. Ada sesuatu yang tidak orang lain pahami dari hubungan kami. Intinya mas ingin menuntun istri mas untuk patuh terhadap suami dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Tapi itu tidak bisa Sonia lakukan. Sudah... Kembali ke cerita awal, dengarkan."


Pikiran Belva sibuk memikirkan apa yang terjadi di masa lalu Satya. Hubungan suaminya dan mantan istrinya dulu pun membuat Belva bertanya. Jika tidak memiliki perasaan bagaimana bisa suaminya itu dulu bisa bertahan dengan Sonia begitulah pikir Belva.


"Mas, tadi pergi karena Jordi mengabari Sonia kabur. Kamu ingat kejadian saat mas melihat mu yang hampir saja membunuh Sonia. Mas benar-benar terkejut kamu perempuan yang lembut tapi bisa berubah menyeramkan seperti itu. Setelah kejadian itu Jordi membawa Sonia ke suatu tempat untuk menyekapnya sampai semua luka yang kamu timbulkan padanya sembuh dan menghilang."


"Kalian diam-diam mengobatinya? Perhatian sekali kalian." Ucap Belva sini.


Pletak...


Satya menyentil kening Belva hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Sakit, mas. Apaan sih." Keluh Belva mengusap keningnya.


"Iya maaf, sini mas lihat." Satya mendekat pada kening Belva dan mencium kening istrinya.


"Kamu kenapa selalu menyela saat mas berbicara. Mas merasa gemas dengan mu. Masih sakit?" Tanya Satya dengan lembut dan mengusap kening Belva.


"Masih sedikit, mendengar ceritamu aku semakin kesal, perhatian sekali dengan mantan istri."


"Bukan perhatian, sayang. Tapi itu cara mas dan Jordi untuk menjebloskan nya ke dalam penjara dengan tuduhan penganiayaan. Karyawan mu sudah mas suruh untuk melakukan visum saat Sonia mendorongnya dari tangga serta semua bukti-bukti yang mendukung nya masuk ke penjara."


"Jangan marah lagi, boleh kesal dengan mas tapi jangan lama-lama. Mas langsung pergi tadi karena harus mengurus wanita itu, jika dia kabur maka itu sangat berbahaya untuk istri dan anak-anak mas nanti."


Satya mengecup bibir Belva setelah menyelesaikan penjelasan nya pada Belva. Dia tak ingin salah paham itu berlarut-larut dalam rumah tangganya. Kali ini Satya tidak ingin gagal dalam pernikahan nya. Dia sangat menyayangi dan mencintai Belva.


"Oh..." Belva manggut-manggut setelah mendengar cerita suaminya.


"Kenapa tidak cerita lebih awal, kenapa harus berdebat dulu baru bercerita."


"Jika mas bercerita terlebih dahulu padamu, Sonia akan semakin jauh melarikan diri. Untuk sekarang dan sampai nanti satu-satunya wanita yang mas cintai hanya dirimu Belva. Mas akan melakukan apapun agar kamu dan anak-anak merasa aman, nyaman dan bahagia bersama mas."


Ucapan Satya membuat hari Belva merasa terharu dan bahagia. Sangat manis untuk di dengarkan dan diresapi.


"Terima kasih sudah memperhatikan kami dan mau melindungi kami." Ucap Belva.


"Itu sudah kewajiban mas, kalian adalah prioritas bagi mas."


"Lain kali apapun itu jangan ada yang ditutup-tutupi. Aku tidak mau kita salah paham dan berujung kita bertengkar."


"Iya sayang. Kamu kalau lagi marah benar-benar ya tidak sopan. Masa panggil suami cuma kamu-kamu begitu. Mas sudah bilang jangan pangil seperti itu."


"Maaf mas nama nya juga kesal emosi. Tidak tahu kenapa mau panggil mas saja rasanya berat." Belva tersenyum dengan memamerkan deretan giginya.


"Kamu ya dasar. Mas boleh tambah yank?"


Satya kembali mengeratkan pelukannya, mereka masih dalam keadaan polos hingga skin to skin masih terasa sangat jelas.


"Tambah apa?" Tanya belva tak paham.


Suaminya itu langsung mengistirahatkan dengan menghentakkan tubuh bawahnya hingga terasa sangat jelas bagi Belva, wanita itu baru paham apa maksud dari suaminya.


"Aku lelah mas, ini jam berapa coba lihat, mas pikir aku robot."


Satya terkekeh kecil mendengar respon istrinya yang mengeluh kelelahan.


"Iya sayang, tapi besok boleh ya." Pria itu tetap kekeuh pada keinginannya.


"Besok pikir besok, sekarang biarkan aku tidur mas."


Gemas dengan istrinya, Satya memeluk gemas istrinya dan mengecup bahu putih milik Belva.


"Tidurlah sayang, tapi setelah membersihkan diri. Ayo..."


"Mandi? Jam segini? Mas dingin mandi jam segini." Rengek Belva.


"Tidak usah mandi, tapi bersihkan bagian khusus mu saja sayang. Ada air hangat, mau mas gendong?"

__ADS_1


"Tidak usah aku bisa sendiri. Mana pakaian ku."


"Buat apa? Bukan kah mau membersihkan diri saja." Ucap Satya.


"Maaass... Ya masa aku ke kamar mandi telan*jang begini."


"Tidak ada yang melihat, sayang."


"Kan ada kamu, mas."


Satya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kamu itu lucu sekali, mas sudah lihat semuanya jadi tidak masalah. Kamu malu?"


"Ya malu lah..." Ucap Belva lirih dan sedikit ragu.


"Kita sudah sah menjadi suami istri. Semua yang ada padaku itu adalah milikmu dan semua yang ada padamu itu adalah milik mas. Kita sudah menjadi satu, sayang. Tidak perlu malu."


Pria gagah dengan pahatan tubuh yang cukup indah itu beranjak dari ranjang tanpa menggunakan apapun. Tanpa aba-aba dia mengangkat tubuh istrinya dan membawa masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas!!" Pekik Belva.


"Apa sayang jangan teriak-teriak, ini sudah malam."


"Aku kan sudah bilang bisa sendiri tidak harus digendong."


"Mas tidak yakin kamu bisa jalan sendiri."


Mereka telah masuk ke dalam kamar mandi, Satya menurunkan sang istri di depan wastafel.


"Coba jalan." Titah Satya.


Baru beberapa kali Belva berjalan keningnya mengerut, ia menggigit bi*birnya menahan rasa sakit. Terdiam sejenak untuk meredakan rasa sakitnya.


"Masih bisa jalan? Pasti sakit bukan? Mas sudah yakin hal itu sayang jadi jangan pernah membantah apapun yang mas lakukan untuk mu."


Satya berjalan mendekat pada Belva, dia kembali menuntun istrinya agar duduk di closed duduk.


"Mau berendam atau membasuhnya saja?" Tanya Satya.


"Dingin kalau mandi." Ucap Belva.


"Ada air hangat, mandi juga bisa pakai air hangat."


"Emm... Mandi saja kalau begitu."


"Tunggu mas siapkan dulu."


"Mas..." Panggil Belva.


"Ada apa?" Satya menoleh pada Belva.


"Bisakah tutupi itu mu." Ujar Belva.


"Apa?" Goda Satya berpura-pura tak mengerti.


"Iih mas, tutupi milikmu itu aku geli melihat nya." Ucap Belva dengan wajah memerah karena malu.


Satya terkekeh, "Biasakan dirimu dengan jarum pentul super ini, sayang. Barang langka ini hanya kamu yang punya."


"Masss!!!" Pekik Belva kesal.


"Iya.. iya... Mas ambil handuk dulu."


Tak mau membuat istrinya kembali kesal, karena akhir-akhir ini istrinya itu lebih mudah kesal jika berhadapan dengan dirinya. Satya menyadari memang dirinya merasa senang membuat Belva kesal dengan godaan-godaan kecil seperti itu asalkan bva tak sampai benar-benar kesal dan marah seperti sebelum terjadi peperangan.


Tanpa rasa keberatan sama sekali justru dengan rasa yang penuh keikhlasan dan rasa sayangnya terhadap sang istri Satya menyiapkan air hangat untuk istrinya.


Satya mendekati Belva dan mengangkat kembali tubuh Belva. Diletakkan dengan perlahan istrinya itu ke dalam bathtub. Tak lupa dirinya mengecup kening sang istri.


"Berendamlah, mas mau mandi dulu."


"Jangan pakai air dingin." Ujar Belva.


"Iya sayang." Satya tersenyum, merasa senang dengan perhatian sang istri.


Pukul empat subuh merek membersihkan tubuh mereka. Satya selesai lebih dulu, Belva masih tetap berada di dalam bathtub. Ternyata istrinya itu tertidur, pantas saja kamar mandi tidak ada suara dari sang istri.


"Astaga pasti kelelahan, maafkan aku sayang." Gumam Satya.


Pria itu sudah menggunakan bathrobe, rasanya lebih segar dan lebih ringan setelah membersihkan diri.


"Sayang." Panggil Satya tapi Belva tak merespon sama sekali.


Istrinya itu benar-benar merasa kelelahan, bagaimana tidak lelah jika sedari sore mereka melaksanakan acara pernikahan meski sederhana tapi tetap saja terasa melelahkan. Baru tertidur tidak sampai dua jam Satya menggangu tidurnya hinga dua kali dan mengajaknya berperang habis-habisan.


Mau tak mau Satya harus mengangkat tubuh sang istri. Untung saja Satya sempat menuangkan sabun cair ke dalam bathtub tapi tidak terlalu banyak sehingga dirinya hanya perlu mengelap sedikit tubuh istrinya agar kering.


Sebelum mengangkat tubuh Belva, Satya menyiapkan handuk di ranjang agar ranjang tak basah oleh air yang masih menempel ditubuh istrinya.


Bahkan sampai diangkat dari dalam air saja Belva masih tak sadar. Sampai di atas ranjang barulah ia sadar, terbangun dari tidurnya karena merasa dingin akibat hembusan angin dari AC dalam ruangan tersebut.


"Mas..."


"Kenapa bangun? Dingin ya? Mas lap dulu setelah itu tidurlah."


Dengan telaten Satya mengelap tubuh basah milik Belva. Wanita itu sudah tak kuat karena terlalu lelah dan mengantuk. Ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, malu? Masa bodoh dengan rasa malu toh suaminya sudah melihat dirinya bahkan menjangkau lebih luas.


Dibenahi posisi tidur Belva oleh Satya, mengambil handuk yang sempat tertindih oleh Belva lalu menyelimuti istrinya dengan selimut tebalnya. Tanpa memakai apapun, Satya memang sengaja karena agar lebih cepat saja dan tidak mengganggu kenyamanan nya Belva akibat terlalu banyak pergerakan.


Selesaikan dengan semua itu Satya pun sama, mengistirahatkan diri di samping sang istri tanpa menggunakan apapun. Di lepas bathrobe miliknya dan lebih memilih meringankan diri tanpa pintalan benang.


Mereka tertidur dibawah selimut tebal dengan Satya memeluk tubuh Belva dari belakang. Wanita tercintanya itu sudah tak lagi merespon pergerakan Satya saking lelah dan mengantuk.


Rasanya sangat nyaman, Satya dapat tidur dengan sangat nyenyak. Sudah merasa bahagia saat bisa berada di dekat wanitanya itu kini di tambah sudah bisa memiliki secara sah semakin membuat pria berkepala empat itu bahagia tiada terkira.


Mungkin mimpi di alam bawah sadarnya kini bukanlah mimpi yang buruk melainkan mimpi indah bersama wanitanya.


Belva yang terbiasa bangun di waktu subuh justru hari ini terbalik ia tidur di waktu yang seharusnya menjadi waktu bangunnya. Rasa lelah mendera hingga ia membutuhkan waktu tidur yang cukup lama. Hingga matahari sudah meninggi pun kedua pasangan itu belum juga bangun.


Para asisten rumah tangga tidak ada yang berani menaiki lantai tiga rumah besar itu. Mereka paham jika majikan mereka adalah pengantin baru. Hari ini hingga dua hari kedepan adalah waktu cuti bagi Satya yang ia ajukan sendiri dengan sepengetahuan Jordi sang asisten.


Di kantor seorang wanita cantik dan seksi datang bahkan hingga sampai ke lantai teratas dimana lantai tersebut hanya khusus untuk Tuan besar pemilik Bala Corp.


"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Grace dengan sopan.


"Saya mau bertemu dengan Tuan Satya." Dengan nada yang angkuh dan menatap remeh pada Garce.


"Maaf, Tuan Satya sedang tidak berada di tempatnya, Nona."


"Oke, kalau begitu saya tunggu saja di dalam."


Wanita itu berjalan melangkah menuju ruangan Satya, sampai di depan pintu Grace langsung menahan lengan wanita itu. Ingat akan pesan bos-nya yang tak pernah mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam ruangan itu jika sang pemilik tidak berada di tempat.


"Maaf Nona, anda tidak bisa masuk karena Tuan sedang tidak berada di dalam."


Wanita itu langsung menghempaskan tangan Grace yang menahan lengannya dengan kasar.


"Siapa kamu berani memegang tangan saya. Apa hal mu melarang saya menunggunya di dalam ruangan Tuan Satya?"


Grace merasa sedikit kesal dengan wnaita yang ada di depannya. Tidak hanya tidak sopan tapi juga menyebalkan baginya.

__ADS_1


"Ini perintah dari Tuan sendiri. Apa anda sudah membuat janji dengan Tuan Satya?" Tanya Grace dengan menahan kekesalan di dalam hatinya.


"Ayahku yang sudah membuat janji, saya mewakili beliau untuk bertemu dengan Tuan Satya."


"Tapi maaf Nona anda tidak bisa menunggu di dalam. Jika anda ingin menunggu maka tunggulah di sofa itu saja." Grace menunjukkan sofa yang berada di depan ruangan Satya yang juga berada di depan mejanya.


"Biasanya di tempat lain menunggu di dalam ruangan pun tidak masalah. Kamu jangan mengada-ada, kami sudah membuat janji dengan bos mu." Ucap wanita itu dengan nada tak menyenangkan.


Benar-benar menguji kesabaran Grace di pagi hari. Berusaha memahami jika wanita itu adalah tamu untuk bos-nya maka Grace bersusah payah menahan diri agar tidak sampai kelepasan mengumpat dan memaki wanita di depannya itu.


Tak lama seorang wanita canti juga datang ke kantor Satya. Jika wanita tersebut Grace sudah mengetahuinya karena memang dekat dengan bos-nya.


"Selamat pagi Nona Grace." Sapa wanita tersebut dengan ramah.


"Selamat pagi Nona. Anda ingin bertemu dengan Tuan Satya?" Tanya Grace dengan tak kalah ramah pada wanita itu sangat berbeda dengan Grace saat berbicara dengan wanita yang tak dikenalnya itu.


"Iya, apa Tuan mu ada?"


"Beliau sedang tidak ada di tempatnya, Nona. Apa ada pesan yang bisa saya sampaikan nanti kepada Tuan Satya?" Tanya Grace.


Wanita cantik yang ramah itu melirik ke arah wanita yang juga menatap dirinya dengan tatapan sinis dan tak suka.


"Tidak nona Grace. Biar nanti saya menghubunginya secara langsung saja. Memang dia pergi kemana?"


"Saya kurang tahu Nona karena menurut informasi dari asisten pribadinya Tuan ada keperluan mendadak."


"Oke,.kalau begitu saya permisi dulu. Selamat bekerja, Nona. Mari Nona Grace." Pamit wanita itu dengan ramah dan sopan.


Wanita itu adalah Rania teman dari Satya yang Grace kira adalah teman dekat Satya dalam arti yang spesial.


"Silahkan Nona, sampai bertemu lagi." Ucap Grace, ia tersenyum manis pada Rania. Begitu juga Rania membalas senyuman Grace.


Terhadap wanita yang tak dikenalnya itu Rania bersikap cuek, ia tak suka menatap wanita itu yang terkesan sombong dan tidak ramah. Rania berlalu tanpa menyapa atau sekedar mengangguk pada wanita tersebut.


"Siapa dia?" Tanya wanita sombong itu.


"Nona, bertanya pada saya?" Tanya Grace dengan sengaja.


Wanita itu terkesan memang seperti seorang Nyonya besar pemilik perusahaan Bala Corp. Grace tak suka itu, dia tipe wanita yang tak segan memperlihatkan ketidak suka-annya jika sudah dirasa keterlaluan.


"Ya iyalah kamu memang siapa lagi? Setan?"


"Astaga... Mulut wanita ini benar-benar tidak tahu sopan santun. Memangnya dia mengenalku sampai bisa berkata sejudes itu." Gumam Grace dalam hatinya.


"Maksud anda wanita cantik yang tadi? Dia adalah teman dekat Tuan Satya yang ramah dan sopan serta baik." Ucap Grace dengan sengaja sembari tersenyum.


Raut wajah wanita itu berubah menjadi sedikit mendung, terlihat tidak suka dengan jawaban Grace.


"Dimana Tuan Satya?"


"Maaf saya tidak tahu."


"Saya mau menunggunya di dalam." Ucap wanita itu yang memaksaku masuk ke dalam ruangan Satya.


"Tidak bisa, Nona!!! Anda harus mengerti. Bersikaplah sopan di kantor orang lain." Ucap Grace yang sudah tidak tahan bersikap sopan dan manis pada wanita itu.


"Apa maksud mu!! Saya tidak sopan? Kamu yang tidak sopan sudah menghalangi saya yang jelas-jelas tamu dari bos mu sendiri." Wanita itu menunjuk-nunjuk wajah garce dengan oenuh emosi.


Melihat ada wanita lain yang mencari Satya dan juga mendengar jawaban Grace membuat wanita itu semakin bertambah emosi.


"Ada apa ini?" Suara bariton seorang pria yang menghentikan sedikit keributan itu.


Dua wanita itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Jordi tampak berdiri sedikit jauh dari jarak mereka.


"Wanita ini ingin bertemu dengan Tuan Satya dan berusaha memasuki ruangan Tuan Satya." Ucap Grace.


Jordi melirik ke arah wanita yang dimaksud oleh Grace. Tatapannya dingin dan datar terhadap wanita itu.


"Apakah ada keperluan penting, Nona?" Tanya Jordi pada wanita itu.


"Ya ada keperluan penting. Dimana Tuan Satya." Ucap wanita tersebut.


"Tuan Satya sedang cuti, jadi keperluan penting apa yang ingin ada sampaikan. Semua keperluan pekerjaan saya yang handel."


Wanita itu tampak berpikir, tujuan datang ke perusahaan ini adalah untuk bertemu dengan Satya. Entah dengan tujuan seperti apa untuk menemui Satya.


"Keperluan saya bertemu secara langsung dengan Tuan Satya dan tidak bisa diwakilkan." Ucap nya dengan percaya diri dan sombongnya.


"Masalah pribadi atau pekerjaan?" Tanya Jordi.


"Anda terlalu ikut campur dan ingin tahu, Tuan. Itu tidak baik jika anda paham."


Jordi tersenyum sinis dalam hati. Melihat wanita itu sedari awal Jordi sudah paham jika wanita itu pasti wanita bermasalah.


"Saya tidak ikut campur, Nona. Tapi sayangnya semua yang berkaitan dengan Tuan Satya selalu ada saya di dalamnya."


"Nona, bersikaplah sopan. Tuan Jordi adalah asisten pribadi Tuan Satya. Jika memang anda memiliki kepentingan dengan Tuan Satya, sampaikan saja padanya." Ucap Grace yang tidak tahan dengan sikap wanita itu.


"Oh... Bisa kita bicara berdua saja tanpa wanita berisik ini?" Ucap wanita tersebut menunjuk pada Grace.


Grace mendelik tak suka, justru menurut Grace wanita berisik dan pengganggu itu adalah wanita itu sendiri.


"Mari ikut saya." Ucap Jordi.


"Nona Grace, kerjamu bagus. Tingkatkan." Ucap Jordi lalu berlalu begitu saja.


Wanita cantik dan seksi itu melirik Grace dengan sinis lalu pergi mengikuti Jordi. Berjalan lenggak-lenggok seakan memperlihatkan bagian belakang nya yang besar dan kenyal.


"Issh... Bibit wanita penggoda. Bagaimana bisa wanita itu ada di kantor ini. Anak siapa itu." Gumam Grace kesal.


Entah apa yang dibicarakan oleh Jordi dan wanita itu. Pertemuan keduanya tak berlangsung lama, mungkin hanya sekitar dua puluh menit saja.


Tanpa kata dan sikap yang menunjukkan rasa sopan untuk berpamitan, wanita itu berjalan dengan langkah sombong di hadapan Grace.


"Tidak ada sopan-sopan nya sama sekali. Adik kakak kali ya dengan si Nela." Gumam Grace kembali mengomentari wanita tadi.


Sebelum jam makan siang tiba Jordi keluar dari ruangannya. Tujuannya saat ini adalah ke rumah Tuan nya. Memastikan rencana mereka pada hari ini.


"Grace, saya keluar dulu. Nanti jika ada yang datang bertanya mengenai saya ataupun Tuan Satya, kamu handle dulu. Saya ada kepentingan di luar." Pamit Jordi pada Grace.


"Tunggu... Memang Tuan Satya kemana?"


"Ada acara keluarga." Jawab Jordi singkat lalu pergi meninggalkan Grace.


Untuk saat ini Jordi belum bisa berterus terang pada Grace. Satya belum memberikan mandat untuk membuka identitas nya yang kini telah menikah. Hal itu demi kenyamanan dan keamanan Belva serta anak-anak nya. Sebelum masalah nya beres Satya tetap akan menyembunyikan status nya di hadapan banyak orang.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author β€οΈπŸ™β˜ΊοΈ


Thanks buat Like Komen Kembang setaman dan Vote dari kalian.


Jangan lupa hehe hari Senin boleh lah kasih Vote nya πŸ˜πŸ€­πŸ™


Semoga sehat selalu dan lancar rejeki πŸ€—πŸ™

__ADS_1


__ADS_2