Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 178. Surat Perjanjian


__ADS_3

Di sebuah ruangan khusus untuk dirinya bekerja seorang pria kembali duduk di kursi ternyaman nya selama ini. Sehabis makan malam pria itu memilih masuk ke dalam ruangan tersebut. Istri dan anaknya tak berani mengganggu jika dirinya sudah memutuskan untuk melakukan apapun yang pria itu inginkan. Pria yang kejam dan egois, semua berubah setelah sang ibu meninggal dunia.


Selalu anak buah yang menjadi andalannya akan siap sedia saat dirinya membutuhkan. Pria berambut gondrong tersebut berdiri di samping meja menghadap bos-nya yang duduk membelakangi dirinya karena lebih memilih menatap pemandangan malam hari yang penuh dengan lampu-lampu yang menyala.


"Berikan hasil penyelidikan mu." Ucap pria tersebut.


"Dia memiliki seorang bayi yang berada di rumah sakit Mitra Medika. Bayi itu mendapatkan penanganan khusus karena kelahiran prematur. Tapi maaf saya tidak bisa mendapatkan informasi lebih lanjut karena ketatnya peraturan dan informasi di rumah sakit tersebut."


"Seharusnya kamu lebih cerdas, berapa tahun kamu bekerja dalam bidang menyelediki kasus. Gunakan wewenangmu untuk masuk ke sana." Ucap pria itu dengan rahang mengeras.


"Maaf bos, besok saya akan kembali menyelidikinya setelah kasus di kota Xx selesai."


"Oke, begitu kasus selesai langsung kerjakan tugas mu. Ada informasi lain?"


"Ada bos. Ini foto seorang wanita yang diduga menggantikan Nona menjaga bayi itu. Dan foto yang ini adalah pria yang menjadi ayah kandung bayi Nona."


Pria berambut gondrong bernama Agus itu memberikan dua lembar foto yang di dalamnya terlihat jelas wajah Noella saat duduk di depan ruang rawat bayi Alya dan juga wajah Jack yang duduk di kantin rumah sakit.


Pria yang sedari kemarin menyelidiki kasus kematian Alya mengambil kedua foto yang diberikan padanya. Tapi fokusnya lebih tertarik pada foto Jack yang didengarnya menjadi ayah kandung bayi Alya. Tatapannya tajam tertuju pada foto Jack.


"Apa kamu yakin jika pria ini adalah ayah kandung bayi itu?"


"Benar, bos karena saya sempat mendengar percakapan mereka saat tengah berdebat di arearumah sakit. Pria itu sepertinya tidak mau bertanggung jawab pada bayi Nona."


Mata pria yang tengah memegang foto Jack tiba-tiba menyipit tapi tatapan tajamnya masih tertuju pada gambar dihadapannya. Rahangnya mengeras tangannya meremas foto Jack hingga foto itu sudah bisa dipastikan berubah menjadi lusuh penuh lekukan dan garis lekukkan tak beraturan.


"Dengan alasan apa dia tak mau bertanggung jawab?"


"Pria itu sudah menikah dengan wanita yang saat ini menjaga bayi Nona setelah Nona meninggal."


"Kurang ajar." Umpat pria itu dengan lirih tapi penuh dengan penekanan. Genggaman tangannya pada foto Jack semakin mengeras.


"Ambil bayi itu dari wanita dan pria siyalan itu."


"Baik, Tuan. Setelah saya berhasil mengkorek informasi lebih dalam maka kita bisa mengambil bayi itu."


"Terlalu lama... Ambil bayi itu secepatnya." Titah pria itu dengan nada yang tak bisa dibantah.


"Siap." Jawab anak buah pria itu dengan tak kalah tegas.


Meski bayi Alya tak diharapkan oleh keluarga Jack dan Noella tapi masih ada beberapa orang yang mengharapkan bayi tersebut.


Kematian Alya dan perbuatan Jack hingga menghadirkan bayi itu membuat pria yang masih belum diketahui seperti apa tampak fisiknya itu merasa geram. Saat ini yang dirasakannya adalah hanya ingin mengambil bayi Alya dari pihak Jack.


***


Satya yang sudah berpakaian lengkap masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengambil surat perjanjian yang sudah di tanda tangan pihak Jack dan juga Satya saat keluarga Jack memutuskan untuk benar-benar menyerahkan bayi Alya.


Salinan perjanjian itu dipegang oleh Satya, diambilnya surat itu dari ruang kerja dan Satya kembali lagi ke kamar. Belva masih setia menunggu duduk Sofa kamar mereka sembari memainkan ponselnya.


"Sibuk banget, lihat apa?"


"Mas? Sini duduk, mana aku mau lihat suratnya."


"Tidak sabaran sekali ini, yank."


Satya memberikan amplop coklat berisi surat perjanjian penyerahan bayi Alya. Dengan rasa penasaran yang tinggi Belva langsung menerima dan membuka amplop itu dengan cepat.


"Ini copy-an? Kok materai nya beda."


"Iya sayang yang asli kan dibawa Jordi untuk mengurus hak asuh di pengadilan."


"Oh iya benar. Berapa lama mengurusnya?" Tanya Belva.


"Mas kurang tahu tapi mas meminta pada Jordi dan pengacara kita untuk mengurusnya dengan segera."


Belva mengangguk, "Hmm begitu, iya sih lebih cepat lebih bagus. Sebentar aku mau baca ini dulu."


Manik mata Belva beralih fokus pada deretan kalimat yang tersusun rapi dengan bahasa formal.


...Surat Perjanjian Pernyataan Penyerahan Anak...


Yang bertanda tangan dibawah ini, kami pasangan suami istri, dengan hal ini disebabkan sebagai PIHAK I (PERTAMA)




Nama Suami : Jackson Yakob


Tempat, tanggal lahir : Singapura, 10 November 1996


Agama : XXX


Alamat : Jakarta RT. 46/01


__ADS_1



Nama Istri : Noella Maureenata


Tempat, tanggal lahir : Amerika, 13 Desember 1997


Agama : XXX


Alamat : Jakarta RT.46/01




Selanjutnya disebut PIHAK II (KEDUA)




Nama Suami : Aryasatya Balakosa


Tempat, tanggal lahir : Itali, 19 Januari 1976


Agama : XXX


Alamat : Rose Golden Residence, Blok AB 01 Jakarta




Nama Istri : Belva Evanthe


Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 02 Juli 1997


Alamat : Rose Golden Residence, Blok AB 01 Jakarta




Bahwa dengan ini, PARA PIHAK telah sepakat untuk melakukan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :


...PASAL 1...


PIHAK PERTAMA dengan ini menyatakan bahwa akan menyerahkan hak asuh atas anak laki-laki PIHAK PERTAMA yang lahir pada tanggal 26 Desember 2021 kepada PIHAK KEDUA, untuk dirawat dan dibesarkan dengan sebaik-baiknya.


PIHAK PERTAMA dengan ini menyatakan akan melepaskan hak dan tanggung jawab selaku orang tua ataupun keluarga kepada PIHAK KEDUA, yang mana setelah ini dan seterusnya dapat diasuh dan diangkat anak sebagai anak oleh PIHAK KEDUA.


...PASAL III...


PIHAK KEDUA akan merawat, membesarkan dan mendidik dengan sebaik-baiknya selayaknya anak kandung PIHAK KEDUA.


...PASAL IV...


PIHAK PERTAMA dilarang bertemu dan mengakui anak yang telah diserahkan pada PIHAK KEDUA dalam keadaan apapun tanpa seijin PIHAK KEDUA.


...PASAL V...


PIHAK PERTAMA bersedia mengganti rugi sebesar Rp 1.000.000.000.000 (Satu Triliun rupiah) apabila melanggar perjanjian kecuali PIHAK KEDUA memberikan ijin untuk bertemu (dalam artian merawat anak tersebut) dan PIHAK KEDUA berhak melaporkan pada pihak yang berwajib serta melibatkan jalur hukum jika PIHAK PERTAMA nekat melanggar.


...PASAL VI...


PIHAK KEDUA berhak mencabut ijin yang sudah diberikan sewaktu-waktu apabila PIHAK PERTAMA (gagal/tidak baik dalam merawat anak tersebut.)


...PASAL VII...


PIHAK PERTAMA telah sepakat atas ketentuan PASAL I tersebut diatas dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta dalam keadaan sadar dan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun saat ditanda tanganinya perjanjian ini.


^^^Jakarta, 13 Februari 2022^^^


^^^PIHAK PERTAMA,^^^


^^^Tn. Jackson Yakob^^^


PIHAK KEDUA,


Tn. Aryasatya Balakosa


...SAKSI PERTAMA,...


...Ny. Noella Maureenata...


...SAKSI KEDUA,...


...Ny. Belva Evanthe...

__ADS_1


Surat perjanjian dengan bermateraikan sepuluh ribu itu ditanda tangani oleh keempat orang tersebut hingga goresan tinta mereka menyerempet materai dengan nominal sepuluh ribu tersebut. Surat yang benar-benar kuat jika suatu saat pihak pertama melakukan kecurangan atau melanggar perjanjian maka Satya dan Belva selaku pihak kedua bisa dengan mudah melaporkannya ke pihak berwajib.


Pasal yang tertera pada pasal ke empat hingga ke enam mampu membuat Jack merasa sedikit ragu. Dalam hati kecilnya sempat tersentak kala bunyi pasal tersebut yang mengatakan bahwa dirinya tidak diperbolehkan untuk bertemu dan mengakui bayi Alya bahkan harus membayar denda sebesar itu apabila melanggar perjanjian. Namun, ego rupanya lebih besar ditambah desakan dari orang tuanya yang tak menginginkan bayi itu.


Belva membulatkan matanya saat membaca pasal-pasal terakhir yang dinilai sangat memberatkan pihak keluarga Jack atas bayi Alya.


"Mas, apakah kamu yakin? Pada ke empat sampai ke enam ini apa tidak berlebiha."


"Berlebihan? Mas rasa tidak. Mas sengaja membuat pasal-pasal tersebut agar mereka tak mengganggu tumbuh kembang bayi itu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana reaksi orang tua Jack pada bayi itu."


"Iya juga sih, mereka terkesan tidak perduli tapi Noella bersedia menerima bayi itu bagaimana bila dia ingin bertemu pada bayi Alya."


"Jika hanya bertemu sebentar dan sesekali saja tak masalah jika kita mengijinkannya tapi tidak setiap saat. Dengan perjanjian itu maka bayi Alya sudah menjadi milik kita, sayang."


Belva mengangguk, apa yang sudah dilakukan oleh suaminya tentu sudah melalui pertimbangan yang matang. Ganti rugi sebesar itu bukan bertujuan untuk memeras, bahkan Satya sudah memiliki segalanya tanpa meminta pada orang lain. Semua hanya untuk berjaga-jaga saja, tumbuh kembang seorang anak harus benar-benar mereka jaga terlebih bayi Alya memiliki riwayat kesehatan khusus. Satya benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang untuk melindungi bayi Alya.


Belva kembali memasukkan surta perjanjian itu ke dalam amplop coklat dan meletakkannya di atas meja. Melihat istrinya sudah selesai dengan surat perjanjian itu Satya tersenyum lalu menarik sang istri agar lebih merapat padanya, memeluk tubuh wangi istrinya.


"Sudah selesai hemm?"


"Belum, masih ada yang ingin aku bicarakan mas."


"Apalagi, yank ini sudah larut malam. Kita istirahat baby kita butuh istirahat, Mam."


"Baby kita akan baik-baik saja, Daddy. Dulu saat mengandung Kaili dan Kaila aku bahkan bekerja keras dan kurang beristirahat tapi mereka tidak apa-apa."


"Sayang, setiap anak itu kan berbeda-beda kondisinya. Jika kamu membicarakan masa lalu mu mas merasa bersalah."


"Sudah ah kita kembali ke topik pembicaraan kita tadi. Mas, kita belum memberikan nama loh pada bayi Alya."


"Oh iya sayang kamu benar, mas belum menyiapkan nama untuknya. Apa kamu sudah menyiapkannya?"


"Belum juga sih makanya aku tanya sama, mas barangkali udah punya nama untuk bayi Alya."


"Mas malah belum menyiapkannya karena masih fokus dengan masalah kantor."


"Ya sudah besok kita harus menyiapkan satu nama untuknya. Mengenai masalah kantor apa sampai saat ini belum diketemukan karyawan yang melakukan penggelapan dana itu, mas?"


"Belum sayang maka dari itu mas meminta bantuan Kaili membuatkan desain bangunan yang baru kita akan merencanakan pembangunan tersebut seolah-olah kita melakukan pembangunan dengan bayangan profit yang sangat besar. Mas perkirakan orang tersebut memiliki dendam pribadi dan berusaha menjatuhkan, mas."


Belva yang berada di dalam pelukan suaminya itu langsung mendongak menatap sang suami. Ia sedikit berpikir apakah suaminya pernah melakukan kesalahan di masa lalu terhadap orang lain hingga memiliki musuh.


"Mas, memiliki musuh?"


"Dalam dunia bisnis itu wajar, sayang saling menjatuhkan demi menyelamatkan bisnis mereka masing-masing. Itu akan terjadi pada seseorang yang tak siap menerima kekalahan dalam berbisnis, merasa tertinggal atau mungkin iri dengan kemajuan bisnis orang lain." Ucap Satya.


"Sekalian mas juga mau mengatakan jika mungkin dalam beberapa hari kedepan selama permasalahan ini belum selesai mas minta kamu jangan membantah semua yang mas katakan atau mas lakukan karena semua itu untuk kebaikanmu dan anak-anak kita." Imbuh Satya.


"Maksudnya?" Tanya Belva.


"Mas dan Papa sudah sepakat untuk memberikan bodyguard untukmu dan anak-anak. Bukan masalah berlebihan tapi ini demi keselamatan kalian. Mas tahu kamu bisa menjaga diri tapi seseorang yang licik bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuannya."


Satya tahu jika istrinya tipe orang yang sederhana dan tidak ingin terlihat mencolok di depan umum. Tuan Hector sudah menceritakan semua pengalamannya mengenai Belva yang sulit untuk mau menerima fasilitas yang diberikan meski demi keselamatannya sendiri. Belva selalu beralasan bahwa dirinya akan baik-baik saja tanpa fasilitas yang hanya diperoleh oleh orang-orang berada.


"Jika kamu berpikiran bahwa kamu bisa menjaga diri sendiri tanpa bodyguard tapi sekarang rubah pemikiranmu bahwa keselamatanmu bukan hanya untuk dirimu sendiri tapi ini demi anak-anak kita yang masih membutuhkanmu dan untuk mas sebagai suamimu yang tidak ingin melihatmu terluka, tidak ingin melihat anak-anak kita bersedih dan mas pun masih membutuhkanmu untuk selalu menguatkan mas dalam segala kondisi mas nanti."


Belva mendengar dengan seksama semua kalimat yang diucapkan oleh suaminya. Mencoba mengalahkan ego yang seringkali menghempaskan niat baik orang lain untuk memberikan yang terbaik baginya yang sebenarnya ia sendiri hanya merasa tidak ingin orang lain repot demi dirinya.


"Pasti Papa bercerita padamu kan jika aku tak pernah suka dijaga oleh orang-orang bertubuh besar itu."


"Iya Papa sering merasa khawatir padamu maka dari itu Papa ingin menjaga dan melindungi mu dengan menyewa mereka untukmu karena Papa tidak bisa menjagamu secara langsung."


"Mas, sebenarnya aku hanya tidak ingin orang lain repot karena diriku, mengeluarkan banyak uang hanya untuk menjagaku. Sudha terlalu banyak aku merepotkan orang lain karena masalah hidupku."


Satya memejamkan matanya, bila mengingat itu semua berawal dari ketidak-tahuannya yang telah tak sengaja memberikan masalah pada sang istri di masa lalu.


"Papa sangat menyayangi mu, sayang. Beliau ingin yang terbaik untukmu terlebih untuk Kaili dan Kaila. Jika kamu merasa tak ingi merepotkan, mulai sekarang jauhkan pikiran itu. Mas ini suamimu semua yang kamu mau kamu berhak meminta pada mas dan semua yang terbaik untuk mu dan anak-anak akan mas lakukan. Jadi, jangan pernah membantah apa yang mas lakukan, jadilah istri penurut itu sudah menyenangkan hati mas."


Belva mengangguk, ia akan menjadi istri yang terbaik bagi sang suami. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada Satya, perbedaan setelah dan sebelum menikah dengan nya begitu terlihat jelas. Satya yang sekarang lebih banyak berbicara beda dengan yang dulu hanya seperlunya saja. Bukti bahwa Satya memang memperhatikan dirinya dan anak-anak mereka. Belva tahu dulu saat masih bersama mantan kelurga nya Satya terlihat tak seperduli itu pada Sonia ataupun Alya.


"Dunia bisnis itu kejam, mereka bisa nekat melakukan apapun. Kamu bukan hanya menjadi putri seorang pemilik Hector Group tapi sekarang kamu adalah istri dari seorang pemilik Bala Corp. Mengertilah sayang, kamu dan anak-anak adalah kekuatan dan kebahagiaan mas. Kalian dalam keadaan baik-baik saja maka mas bisa terus berjalan dan berdiri tegak. Jika kalian dalam bahaya mas akan ambruk dan hancur." Satya kembali mengungkapkan apa yang menjadi isi hatinya.


Kebahagiaan nya saat ini memang keluarga kecilnya yang baru didapatkannya. Dia tidak ingin apa yang telah diharapakan selama ini kembali hancur. Satya adalah sebatang kara keberadaan keluarga kecilnya saat ini adalah pondasi kokoh baginya. Kelurga kecilnya itu menjadi teman hidupnya, Satya tak pernah merasa kesepian lagi.


"Iya mas aku paham kok, ternyata susah juga ya kalau jadi istri orang kaya dan berprestasi di bidang bisnis. Aku kira dulu melihat seseorang menjadi istri orang kaya hidupnya enak dan nyaman-nyaman saja tanpa masalah ternyata justru lebih menyeramkan."


"Kamu tenang saja, ada mas yang menjagamu. Sudah ayo kita tidur, sudah larut." Ajak Satya.


"Mas, ada yang mau aku tanyakan lagi." Ucap Belva.


"Apa? Ini sudah malam, sayang."


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang

__ADS_1


Thanks buat kalian yang masih setia support author sampai saat ini. Terima kasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏🙏


Btw, kejutan kecil masih ada sisa satu slot yg kmrin egk klaim. Sabtu depan bakal author umumkan salah satu reader yang masuk ke rangking 1 kategori paling support author. Enggak seberapa sih tapi semoga bermanfaat. Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2