Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 65. Berbagai Sabun


__ADS_3

Seorang suster datang dengan membawa service stand trolley, ia memasuki ruang rawat Kaila.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya. Maaf menganggu waktu kalian. Ini makan siang untuk pasien Kaila." Ucap suster.


"Siang sus." Belva membalas dengan senyumnya.


"Ini makan siang nya jangan lupa obatnya untuk siang ini diberikan pada pasien." Ucap suster mengingatkan.


"Baik suster terima kasih." Ucap Belva.


"Sama-sama Nyonya. Putri anda pasti akan cepat sembuh, kalian sebagai kedua orang tua pasien terlihat sangat menyayanginya. Pasti putri kalian sangat bahagia." Ucap suster.


"Ah iya suster. Terima kasih atas doanya." Ucap Belva yang mulai risih dengan keberadaan suster tersebut.


"Putri kalian masih kecil tapi sangat cantik Nyonya, Tuan. Tidak heran jika kalian pun tampan dan cantik." Suster yang usianya sudah paruh baya tersebut tersenyum.


Satya menatap suster tersebut dengan tatapan datar dan dinginnya. Tak merespon apapun yang diucapkan oleh wanita itu meski dalam hati Satya merasa senang kala si suster memberikan pujian untuknya Belva dan juga Kaila.


"Emm maaf kalau begitu saya permisi. Maaf menggangu waktu kalian Tuan dan Nyonya." Pamit suster karena melihat tatapan Satya yang tidak ramah sama sekali padanya.


"Terima kasih suster, sudah mengerti." Ucap Satya.


Satya memang merasa sedikit terganggu dengan adanya suster tersebut. Waktunya bersama Kaila dan Belva berkurang dengan hadirnya suster yang tak kunjung keluar.


Setelah suster keluar, Belva kembali menatap Satya dengan tatapan tak suka. Wanita itu masih belum bisa menerima kehadiran Satya di dalam kehidupannya saat ini.


Jiwa seorang ibu untuk melindungi anak-anaknya lebih kental saat ini merasuk ke dalam diri Belva. Mungkin karena belum melihat lebih dalam bagaimana sikap dan tindakan Satya nanti terhadap Duo Kay. Maka Belva masih belum bisa menerima Satya.


"Apa sejak semalam Kaila tak bangun lagi ?" Tanya Satya tanpa melihat Belva. Matanya lebih tertarik menatap putrinya.


"Apa maksud anda ?" Tanya Belva tak mengerti.


"Dokter memberikan obat penenang untuknya, apa belum bangun sampai pagi ini ?"


"Jadi anda disini tadi malam ?"


Satya mengangguk. "Untuk menjaga putriku."


Belva malas mendengar hal itu, tapi tak bisa dipungkiri jika memang itulah faktanya. Tidak bisa ia menghindar akan ketetapan takdir yang diberikan sang pencipta.


"Kaila sudah bangun tadi. Jangan mengganggu nya." Ucap Belva.


Satya tak lagi menanggapi ucapan Belva. Dibelai lembut pipi cabi Kaila. Rasanya Satya gemas sekali dan ingin terus mencium pipi Kaila. Dia masih terus duduk di samping Kaila, menatap putrinya seakan tak pernah bosan.


Belva kembali melanjutkan pekerjaannya tak perduli dengan adanya Satya dalam ruangan tersebut. Selama tak mengganggu kenyamanan nya dan Kaila, maka Belva tak akan ambil sikap.


Terasa sepi di dalam ruangan tersebut Satya lalu menolehkan arah pandangannya ke arah Belva. Wanita yang diam-diam menarik perhatiannya itu saat itu sedang sibuk menggoreskan pensil di kertas putihnya. Wajah yang terlihat serius itu masih menampakkan kecantikan seorang Belva. Sedikit bibir Satya terangkat akibat senyumannya.


"Apa Kaili nanti akan ke sini ?" Tanya Satya memecahkan keheningan.


"Entahlah." Jawab Belva yang masih memfokus diri pada kertas-kertas nya.


"Apa boleh saya menjemputnya ?" Tanya Satya kembali.


Pertanyaan yang mampu mendongakkan kepalan Belva dan beralih menatap pria itu.


"Kaili tak akan mau dijemput oleh orang yang masih asing untuknya." Ujar Belva.


"Maka dari itu saya ingin mendekatkan diri pada mereka. Saya ingin merasa dekat dengan anak-anak saya."


"Tuan, sudah saya katakan bukan ? Jika anda harus menjauh dari kami. Kehadiran anda akan membahayakan Kaili dan Kaila."


"Lalu menurut mu dengan ada nya saya bersama mereka, saya akan diam saja jika anak-anak saya berada dalam bahaya ?"


"Mereka anak-anak saya, saya tahu bagaimana saya harus melindungi mereka. Jangan menjauhkanku dengan mereka Belva." Imbuh Satya.


Ucapan Satya sama seperti apa yang pernah diucapkan oleh Budhe Rohimah bahwa Satya tidak akan membiarkan anak-anaknya berada dalam bahaya.


"Terserah, tapi jika sampai Kaili dan Kaila berada dalam bahaya karena anda. Saya tidak akan pernah memaafkan anda." Ucap Belva sengit.


"Saya tahu jika saya pernah membuatmu terluka. Maaf jika saya tidak mengetahui kehadiran Kaili dan Kaila. Maaf saya tidak bisa berada di sampingmu saat mereka tumbuh dan berkembang dalam kandunganmu. Jika saja saat itu saya tahu maka saya tidak akan membiarkan mu dalam keadaan kesulitan." Ucap Satya serius meski wajahnya terlihat dingin tapi kalimat itu terselip kelembutan.


Penyesalan masih ada dalam diri Satya hingga sampai saat ini. Kita ketahui bersama jika hal itu terjadi tak sepenuhnya salah Satya. Tapi pria itu tetap terus berusaha meminta maaf sampai Belva benar-benar memberikan maafnya dengan tulus. Satya tahu jika masih ada luka yang tak akan pernah hilang atas kejadian lima tahun yang lalu.


Belva merasa tersentil akan ucapan Satya yang masih mau meminta maaf padanya meski dia pun tahu jika letak kesalahan ada pada Alya yang paling utama. Mengenai Satya hanya keadaan waktu itu saja yang tak sengaja dan tak direncanakan.


"Sudahlah Tuan tidak usah membahas hal yang sudah berlalu. Sekarang yang penting bagi saya adalah menjaga dan melindungi anak-anak saya." Ucap Belva.


"Anak-anak mu juga anak-anak saya Belva. Mungkin saat ini kamu belum bisa memaafkan saya. Tidak masalah dan saya mengerti. Tapi untuk saat ini ijinkan saya tetap bisa berada di samping Kaili dan Kaila. Saya ingin menebus kesalahan saya di masa lalu terhadap mu."


Belva terdiam, semua kalimat Satya berusaha dicernanya. Ketika pria itu berbicara, Belva menatap mata Satya. Tidak ada kebohongan dalam mata pria itu tapi sebuah penyesalan yang terlihat.


"Apa Tuan Satya se-menyesal itu. Tatapan matanya menunjukkan rasa bersalah saat berbicara padaku." Batin Belva.


"Saya harap anda bisa menjaga Kaili dan Kaila agar mereka tidak lagi terluka. Mereka harta berharga saya di dunia ini. Pengganti kedua orang tua saya untuk menemaninya saya selain Budhe Rohimah." Ucap Belva.


"Tentu saya pasti akan menjaga mereka." Ucap Satya.


"Dan menjaga mu, meski sudah ada Roichi di hidup mu." Sambung Satya dalam hatinya.


Cukup lama berbincang dan terhenti akibat pergerakan Kaila yang bangun dari tidurnya. Satya menatap lembut putrinya yang mencoba mengembalikan kesadarannya dengan mengerjapkan matanya, terlihat lucu dan menggemaskan.


Tatapan mata Kaila berhenti pada Satya yang duduk di sampingnya. Pikiran gadis kecil itu teringat saat kemarin dirinya menangis dan wajah Satya yang datang menenangkannya.


"Daddy..." Panggil Kaila lirih.

__ADS_1


Satya terkejut atas panggilan Kaila begitupun Belva. Bagaimana bisa Kaila memanggil Satya dengan sebutan seperti itu.


"Kaila..." Panggil Belva.


Hati Satya terasa menghangat saat Kaila memanggilnya dengan sebutan Daddy. Tapi pria itu juga bingung bagaimana Kaila bisa memanggilnya seperti itu.


"Apa yang kamu katakan sayang ?" Tanya Belva pada Kaila.


"Mami... Ini Daddy ? Tadi malam Opmud datang dan mengusap kepala Kaila. Opmud bilang Daddy menyayangi Kaila."


Belva menatap Satya, ia bingung apa yang terjadi sebenarnya tadi malam saat dirinya tak menjaga Kaila.


"Apa ? Kaila mendengar bisikan ku tadi malam ?" Batin Satya bertanya-tanya. Dia merasa senang jika memang Kaila bisa memulai memanggilnya dengan sebutan Daddy.


"Tadi malam Kaila sadar dan menangis mencarimu. Saya mencoba membantu untuk menenangkannya." Ucap Satya.


"Lalu ?" Tanya Belva.


"Sudah. Dokter memberikan obat penenang untuknya dan dia tertidur." Jawab Satya.


"Panggilan itu ?" Tanya Belva dengan tatapan menyelidik dan tajam.


"Saya belum menyuruhnya memanggil dengan sebutan itu. Mungkin Kaila mendengar saat saya membisikan jika Daddy nya menyayangi nya."


"Seharusnya anda tidak..."


"Apa itu salah ?" Tanya Satya memotong ucapan Belva.


"Terlalu cepat Tuan."


"Saya tahu tapi sampai kapan ? Sampai mereka benar-benar melupakan saya sebagai ayah mereka ?"


"Bukan begitu... Tolong anda mengerti sedikit posisi saya Tuan."


"Maaf, kamu benar. Mungkin kita harus membicarakannya dulu dengan suami mu. Tuan Roichi sebagai suami mu pasti akan terkejut jika Kaila tiba-tiba memanggil saya seperti itu." Ucap Satya.


Belva terdiam, ia melihat wajah Satya yang dingin terlihat sedih. Belva bingung harus bagaimana saat ini. Sebenarnya ini adalah rahasianya yang akan ditutupinya hingga Duo Kay beranjak dewasa baru dirinya akan mengatakan yang sebenarnya pada Duo Kay.


Satya beralih pada Kaila yang sedari tadi menyimak pembicaraan dua orang dewasa di hadapannya tapi bocah itu tak cukup mengerti arah pembicaraan mereka.


"Kaila, bagaimana sayang ? Apa yang Kaila rasakan ? Masih sakit hemm ?" Tanya Satya lembut. Senyum terukir dibibir satya untuk Kaila.


"Sedikit Opmud." Jawab Kaila. Panggilan yang kembali seperti semula. Satya tersenyum miris, sedih rasanya jika anak kandungnya sendiri tak bisa memanggil dirinya sebagai seorang ayah.


"Sudah siang, Kaila makan dulu lalu minum obat. Mau disuap Opmud ?" Tanya Satya.


Kaila mengangguk, Satya dengan senang hati menyuapi gadis kecilnya. Terlihat Kaila lahap saat Satya menyuapinya. Belva memperhatikan interaksi Ayah dan anak kandung tersebut. Ada rasa hangat dan bahagia yang Belva rasakan saat melihat Kaila terlihat senang disuap oleh Satya.


Tapi rasa takut itu lebih mendominasi untuk saat ini. Satya bukan orang sembarangan, pria itu seorang pebisnis terkenal. Bagaimana pandangan orang lain jika mereka tahu Satya memiliki anak darinya tanpa ikatan pernikahan. Sonia yang sudah pasti akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan dirinya. Belva tak ingin hal tak menyenangkan kembali menimpa Duo Kay seperti beberapa waktu yang lalu. Tak hanya dirinya tapi Belva tahu anak-anaknya juga merasa tertekan atas gosip kemarin.


Satya juga membantu Kaila meminum obat untuk gadis kecilnya. Rasa bahagia Satya dapatkan. Apapun akan dilakukan untuk Duo Kay. Meski kenyataannya saat ini Satya harus merasa sakit ketika tak bisa dengan bebas berinteraksi dengan anak-anaknya. Bahkan untuk mendapatkan panggilan Daddy saja pun masih sangat sulit Satya dapatkan. Satya mengerti ini memang terlalu cepat jadi dia akan berusaha memahami keadaan.


"Wah lucu sekali boneka nya, imut. Ini untukku benar ?"


"Tentu saja untuk anak cantik ini." Ucap Satya mencubit pipi chubby Kaila.


Pintu di ketuk dari luar, Satya beranjak berdiri dari ranjang Kaila. Dia tahu siapa yang mengetuk pintu itu. Jordi, membawakan sebuah paper bag berisi makan siang. Satya memang datang bersama Jordi, tapi pria itu lagi-lagi mengerti akan kondisi bos-nya yang membutuhkan waktu untuk bersama Kaila.


Jordi masuk bersama Satya, sekalian berniat menjenguk Kaila. Pertama Jordi menyapa Belva dengan sebuah anggukan dan senyuman tipis. Hal itu pun dibalas oleh Belva untuk menghargai Jordi yang sudah berkunjung.


"Hallo anak cantik. Bagaimana kabarmu apa masih sakit ?" Tanya Jordi.


"Masih." Jawab Kaila dengan suara khas cemprengnya.


"Asal rajin minum obat dan jadi anak yang penurut nanti pasti cepat sembuh." Uocap Jordi tersenyum pada Kaila.


"Oke Opmud." Jawab Kaila.


Paper bag yang dibawa Jordi di raih oleh Satya. Dan di sodorkan pada Belva, dia sengaja menyuruh Satya membelikan makan siang untuk Belva.


"Makanlah, jangan telat makan." Ucap Satya.


Tapi Belva masih diam tak menerima paper bag tersebut. Satya meraih tangan Belva untuk memberikan paper bag tersebut di tangan Belva.


"Kaila membutuhkan Maminya, jagalah kesehatan mu." Ucap Satya kembali.


"Kaila... Opmud pulang ya. Kaila cepat sembuh." Satya mengecup kening putrinya dan mengusap lembut kepala Kaila.


"Saya pulang. Maaf membuatmu tak nyaman." Pamit Satya pada Belva lalu pergi dari hadapan Belva.


"Cepat sembuh Kaila." Ucap Jordi.


"Permisi Nona." Pamit Jordi lalu mengikuti Satya yang sudah lebih dulu keluar.


Belva pun mengikuti Jordi dan satya hingga sampai pintu, tapi kedua pria itu sudah keluar ruangan Kaila. Pintu itu tak tertutup dengan rapat.


"Tuan, maaf apa sebaiknya anda makan dulu. Tak baik meminum kopi jika lambung anda masih kosong." Ucap Jordi pada Satya.


"Nanti saja." Ujar Satya.


"Tapi anda belum makan dari tadi pagi. Bahkan saya yakin jika tadi malam anda juga pasti belum makan."


"Saya belum lapar Jordi. Saya hanya butuh istirahat sebentar kepala saya pusing." Satya yang sejak keluar dari kamar Kaila langsung duduk di kursi tunggu depan kamar Kaila.


"Bagaimana tidak pusing, anda tidak makan sejak semalam ditambah anda tidak tidur untuk menjaga Kaila. Anda menyuruh orang lain untuk menjaga kesehatan tapi anda sendiri tidak menjaga kesehatan anda." Ucap Jordi panjang untuk Satya. Pria itu khawatir jika Satya jatuh sakit.

__ADS_1


"Kamu cerewet sekali hari ini. Tapi terima kasih Jordi, kamu selalu mengkhawatirkan ku. Hanya kamu yang selama ini perduli padaku." Ucap Satya.


"Demi menjaga putriku. Tak apa jika harus semalaman menjaganya. Apa jadwal hari ini ? Apa masih ada meeting penting ?" Tanya Satya.


"Hari ini tidak ada meeting apapun Tuan." Jawab Jordi.


"Saya sepertinya harus istirahat sejenak. Saya mau pulang dulu."


"Kita makan dulu Tuan di kantin rumah sakit."


"Tidak, kita pulang saja." Ucap Satya yang sudah berdiri dan berjalan menjauh dari ruangan Kaila.


"Kenapa keras kepala sekali. Bagaimana jika sakit ? Siapa yang akan mengurusnya sekarang." Gumam Jordi merasa kesal dan pasrah akan sikap Satya.


Jordi melangkah mengejar Satya yang sudah berlalu lebih dulu dengan langkah yang cukup cepat.


Dibalik pintu Belva mendengar semua percakapan Jordi dan Satya. Ia tak menyangka sesayang dan setulus itu kah Satya terhadap Kaila hingga menjaga Kaila semalaman tanpa diketahuinya.


"Dimana dia menjaga Kaila tadi malam ?" Tanya Belva pada dirinya sendiri. Lalu matanya mengarah pada paper bag yang ada di genggaman tangannya. Kotak makan siang untuknya dari Satya.


Satu-satunya pria dingin yang Belva pernah temukan selama hidupnya. Dibalik sikap dinginnya masih ada terselip perhatian untuknya dan kelembutan untuk Kaila.


Masihkah hati Belva akan tetap berkeras hati menerima kehadiran Satya dalam kehidupan mereka ? Butuh waktu dan pembuktian lebih dari Satya yang ingin Belva lihat.


Selain itu bagaimana jika Sonia tahu ? Beberapa hari ini Belva yakin jika Sonia belum tahu sama sekali jika Satya sudah mengetahui fakta yang telah lama ditutupi itu.


****


Di kantor Roichi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan nya dengan sangat serius. Banyak sekali yang harus di handle nya saat ini. Urusan pekerjaan di Jerman pun belum diselesaikan maka bertambah banyaklah pekerjaannya.


"Permisi Tuan Roichi. Tadi Tuan Hector menghubungi anda tapi tidak bisa jadi beliau menghubungi saya untuk menanyakan anda." Ucap Manda sekertaris Tuan Hector untuk cabang perusahaan yang ada di Indonesia.


"Ah oke. Terimakasih Manda nanti saya cek." Ucap Roichi.


"Baik Tuan saya permisi." Pamit Manda.


Dikeluarkan ponsel Roichi dari dalam saku jasnya. Ternyata ponsel itu mati sejak tadi tanpa disadarinya. Mungkin sejak semalam baterai ponsel itu sudah menipis tapi Roichi tak sempat atau tak terpikirkan untuk mengisi ulang saya ponselnya.


Untuk menghidupkan kembali maka pria itu mengisi daya ponselnya terlebih dahulu. Pasti ada hal penting yang membuat Tuan Hector sampai menghubungi dirinya. Pikiran Roichi sudah khawatir jika Tuannya mengetahui kondisi Kaila. Dia juga takut kabar tersebut akan mempengaruhi kesehatan pria lanjut usia itu.


"Ada apa Tuan Hector menghubungi ?" Gumam Roichi. Sembari menunggu baterai terisi, dia melanjutkannya pekerjaannya sejenak.


Menunggu hingga tiga puluh menit Roichi menghubungi kembali Tuan Hector. Rasa penasaran dan juga tak mungkin mengabaikan Tuannya itu membuatnya lebih mengutamakan mengubunginya daripada pekerjaan yang menumpuk dihadapannya.


Beberapa saat panggilan itu masuk dan diangkat oleh Tuan Hector. Rupanya bukan suatu hal yang menyangkut keadaan Kaila. Jadi Roichi masih bisa bernapas lega.


"Maaf Tuan, saya berada di Indonesia karena ada pekerjaan yang mendadak disini. Hanya untuk beberapa hari saja."


"Baiklah. Segera kembali ke Jerman karena pekerjaan disana masih menunggu kamu tahu asistenku yang satu itu tidak bisa mengatasinya sendiri. Hanya kamu yang bisa ku andalkan saat ini." Ucap Tuan Hector.


"Baik Tuan, besok saya akan kembali ke Jerman." Putus Roichi.


Memang pekerja yang ada di Jerman belum selesai baru saja setengah sudah ditinggalkannya karena Kaila yang kecelakaan. Jadi terpaksa untuk besok Roichi harus kembali lagi ke Jerman.


Saat ini Kaila sudah sadar meski belum sembuh total tapi setidaknya Roichi sudah bisa bernapas lega. Dia tidak terlalu khawatir untuk meninggalkan Kaila dan juga Belva.


Jam terus berjalan hingga tak terasa sore tiba. Roichi pulang dari kantor langsung menuju rumah sakit untuk menemui Kaila terlebih dahulu baru dirinya akan pulang ke rumah besar Tuan Hector.


Seperti biasa jalanan ibukota selalu macet terlebih jam pulang kantor bertambah macetlah jalanan itu. Tapi Roichi tak terlalu terburu-buru hingga tak perlu dirinya merasa kesal atau panik dalam keadaan macet seperti itu.


Belva masih ada di rumah sakit menemani Kaila. Bella belum bisa menyusul mungkin gadis itu masih berada di butik sedangkan Budhe Rohimah masih berada di rumah bersama Kaili. Belva tak mengijinkan Kaili terlalu lama di rumah sakit karena tak baik untuk kesehatan Kaili nantinya.


Sampai di dalam ruangan Kaila, Roichi melihat anak itu sedang asik menonton televisi yang di sediakan oleh pihak rumah sakit yang ada di dalam ruangannya.


"Hallo putri cantik nya Papi. Sudah terlihat lebih segar. Tidak menangis lagi kan ?" Tanya Roichi.


"No... Papi kata mami jangan terlalu banyak gerak biar tidak sakit."


"Iya karena beberapa luka Kaila masih belum kering. Sebentar Papi cuci tangan dulu."


Roichi memilih untuk mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum mendekati Kaila.


"Mandi sekalian saja Om di dalam ada peralatannya mandi milik ku." Ucap Belva.


"Saya tidak bawa baju ganti."


"Setidaknya lebih bersih setelah dari kantor."


"Baiklah. Apa tidak masalah aku menggunakan peralatan mandi milikmu ?" Tanya Roichi sebenarnya dia merasa sungkan.


"Tidak masalah, asal jangan pakai sikat gigi milikku." Belva tertawa membuat Roichi ikut tertawa.


Tiba-tiba Roichi mengingat jika mereka pernah berciuman beberapa waktu lalu tapi segera hal itu dienyahkan dari pikiran Roichi. Pria itu menggelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh itu.


"Papi kenapa geleng-geleng kepala ?" Tanya Kaila.


"Hah ? Tidak sayang. Papi sedikit pusing." Roichi berbohong. Tidak mungkin jika dirinya berkata jujur pada Kaila. Pikirannya adalah pikiran untuk orang dewasa.


Masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Terpaan air dingin yang membasahi tubuhnya membuat Roichi merasa lebih segar. Lelah di tubuhnya seakan menghilangkan luntur mengikuti air yang jatuh mengalir ke bawah. Ditambah aroma sabun milik Belva membuatnya semakin merasa nyaman. Aroma sabun yang manis, lembut dan segar perpaduan buah dan bunga yang diracik menjadi sabun khusu untuk wanita.


Roichi tak malu menggunakan sabun tersebut. Justru dirinya merasa senang berbagi sabun dengan Belva. Aroma Belva pasti akan melekat di tubuhnya sepanjang malam nanti. Selesai dengan membersihkan diri, Roichi menggunakan kaos dalaman yang tipis berwarna putih miliknya. Kemeja dan jas nya dia letakkan di sandaran sofa. Kini dirinya hanya menggunakan celana panjang kain yang dipakainya tadi dan kaos putih tipis miliknya serta sandal dari rumah sakit.


Roichi keluar kamar mandi dengan membawa handuk Belva untuk mengusap-usap rambutnya yang masih basah. Terlihat sangat keren pria matang itu dihadapan Belva. Wanita dua orang anak itu menatap cukup lama tapi setelah itu dialihkan padangannya pada tablet PC nya.


****

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Bonus satu bab hari ini untuk para readers setia aku. Terima kasih banyak atas supportnya sampai saat ini. Sehat selalu dan lancar rejeki. Amiinn πŸ™πŸ™


__ADS_2