
Sudah beberapa hari saat Satya sadar, pria itu terus mencari keberadaan istri dan anaknya. Dia tidak melihat keluarga kecilnya datang untuk sekedar menjenguknya. Tapi Jordi selalu mengatakan bahwa Belva dan Duo Kay sedang beristirahat di rumah dan belum bisa menjenguk karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Satu minggu berlalu Satya sudah mendapatkan ijin untuk kembali ke rumah karena keadaan yang sudah membaik dan juga pria itu sudah memaksa ingin pulang. Jordi dan satu perawat membantu Satya untuk bersiap pulang ke rumah. Satya belum sadar jika perawat itu merupakan seseorang yang disiapkan oleh Tuan Hector untuk merawat dirinya sebagai pengganti Belva.
'Tuan Satya sudah mau pulang, bagaimanapun ceritanya nanti kalau sampai rumah istri dan anak-anaknya tidak ada.' Batin Jordi.
"Tuan semua sudah siap." Ujar sang perawat yang membuyarkan fokus Jordi pada pikirannya terhadap Satya.
"Ah iya, bantu angkat ke mobil." Ujar Jordi.
"Baik, Tuan."
Barang-barang Satya yang tak seberapa itu diangkat oleh sang perawat ke mobil. Sedangkan Jordi mengurus Satya.
"Tuan, mari kursi roda sudah siap."
"Jordi, saya tidak perlu kursi roda."
"Tapi anda baru saja sembuh, Tuan."
"Hei kamu pikir saya lumpuh? Yang sakit bahu saya bukan kaki saya." Ujar Satya sedikit kesal.
Pria itu sudah tidak sabar untuk pulang karena merindukan istri dan anaknya.
"Sudah ayo pulang."
"Baik, Tuan. Mobil sudah siap di depan lobby."
Mereka berjalan keluar ruang rawat inap. Satya diijinkan pulang pada pagi hari. Pria itu berjalan dengan masih memegang bahunya yang masih terasa nyeri.
Satya duduk di depan bersama dengan Jordi yang mengemudi. Dalam perjalanan mereka diisi oleh percakapan mengenai keberadaan Fahmi.
"Bagaimana pria brengsyek itu?" Tanya Satya.
"Aman. Pria itu sudah kami bawa ke Rumah singgah."
"Bagus. Jangan sampai lolos."
"Siap, Tuan. Penjagaan sudah diperketat semua aman."
Satya mengangguk, dirinya tidak akan tinggal diam setelah apa yang Fahmi lakukan terhadap dirinya dan keluarganya. Fahmi belum mengetahui bagaimana sifat Satya sebenarnya jika kedamaian nya diganggu oleh orang lain.
Mobil yang dikendarai Jordi sudah sampai di rumah besar Satya. Pak Amin membukakan pintu gerbang untuk mobil asisten majikannya. Kepulangan Satya sudah disambut oleh para asisten rumah tangganya. Jordi membukakan pintu mobil untuk Satya dan mereka memasuki rumah besar yang pintunya sudah di bukakan oleh Mbok Yati.
"Selamat atas kepulangan anda, Tuan." Ujar Mbok Yati.
Satya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, "Terima kasih, Mbok."
Mbok Yati mengangguk dan tersenyum. Satya justru langsung berubah aneh dan mengernyitkan dahinya. Keberadaan anak dan istrinya tak nampak untuk menyambut kepulangan dirinya.
"Mbok, istri dan anak-anak saya di mana?"
Mbok Yati tidak langsung menjawab, ia menatap Jordi. Pria yang ditatap Mbok Yati pun sudah bersiap dan waspada akan reaksi bos-nya.
"Emm... Itu Tuan. Nyonya dan anak-anak..." Mbok Yati tidak tega mengatakan jika Belva pergi di saat Satya sedang sakit dan membutuhkan sang istri.
Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Mbok Yati pun paham alasan Belva pergi dari rumah ini.
"Nyonya sudah pergi ke Paris gara-gara wanita kegiatan itu yang datang bikin ulah di rumah ini. Eh..." Inah langsung menutup mulutnya. Wanita itu memang ceplas-ceplos dan pedas saat berkata-kata.
Satya langsung menatap tajam pada Inah membuat wanita itu ketakutan setengah mati.
'Mati aku kenapa mulutku tidak bisa dikontrol seperti ini sih.' Batin Inah. Degup jantungnya sudah seperti orang berlari dikejar warga satu kampung.
"Apa maksudmu?" Tanya Satya dengan nada tidak suka.
Inah terdiam tak berani lagi berkata-kata, mulutnya sungguh lancang sekali. Jika tadi yang menjawab pertanyaan itu Mbok Yati saja maka mungkin dirinya tidak akan berada dalam situasi seperti ini.
"Tuan, lebih baik kita ke atas saja." Ujar Jordi.
Jordi tak tega melihat wajah Inah yang ketakutan. Tapi dirinya juga merutuki kekonyolan Inah yang spontan menjawab pertanyaan Satya.
Satya menatap Jordi dengan tajam. Jika apa yang diucapkan oleh asisten rumah tangganya itu benar maka Jordi menjadi salah satu yang paling utama mendapatkan reaksi keras dari Satya.
'Alamat kena amukan ini.' Batin Satya.
"Jordi, ikut saya." Titah Satya.
"Baik, Tuan."
Satya langsung pergi meninggalkan beberapa asisten rumah tangganya yang menyambut dirinya. Duasan menjadi tak nyaman bagi mereka karena perubahan sikap dan suasana hati majikan mereka.
Beberapa ada yang memukul kecil lengan Inah dan mengumpat kesal pada wanita itu. Inah hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Ya maaf aku keceplosan, Mbok Yati lagian lama sekali hanya menjawab pertanyaan seperti itu."
"Kamu itu bekerja di sini sudah berapa lama, kamu tidak tahu apa lupa kita kalau bicara dengan Tuan itu harus hati-hati." Ucap Mbok Yati.
Jordi mengikuti Satya, dalam hatinya terus merapalkan doa-doa agar dirinya masih bisa diberikan kelegaan bernapas saat menghadapi Satya nanti. Keduanya kini sudah masuk ke dalam ruang kerja. Suasana sudah terasa mencekam bagi Jordi.
Sementara disisi lain, Siwi baru saja tiba di rumah sakit di mana Satya dirawat. Wanita itu berniat untuk menjenguk Satya karena baru saja mendapatkan informasi jika sang pujaan hati dan juga calon suami versi pengakuannya itu tengah sakit. Entah dari mana ia mendapat informasi itu.
"Permisi, ruang rawat atas nama Tuan Satya Balakosa ada di mana ya?" Tanya Siwi pada resepsionis rumah sakit.
"Baik, sebentar kami cek dulu, mohon ditunggu."
Siwi mengangguk, tak lama hasil pencarian data dalam komputer itu telah didapatkan.
"Maaf, Nona pasien atas nama Satya Balakosa tidak ada tapi di sini yang ada atas nama Aryasatya Balakosa."
"Iya itu maksud saya. Dia ada di ruangan mana ya?"
"Paisen atas nama Aryasatya Balakosa sudah keluar tadi pagi, Nona."
"Loh sudah keluar?" Tanya Siwi memastikan.
"Benar, Nona."
"Suster, anda tidak berbohong kan?"
"Tidak, Nona. Pasien tersebut memang sudah keluar tadi pagi. Mungkin anda bisa cek sendiri ke rumahnya."
Siwi pikir saran dari suster tersebut memang benar. Dirinya akan mengecek ke rumah besar Satya jika mang benar Satya sudah pulang.
"Sebelumnya di ruangan mana, sus?" Siwi tetap kekeuh mempertanyakan, ia hendak mengecek sendiri apakah informasi dari suster itu benar atau hanya karangan saja.
"Di ruang Anggrek 005." Ujar suster tersebut.
Masih banyak pengunjung lain yang ingin dilayaninya. Suster tersebut membiarkan Siwi mengecek sendiri jika memang tidam percaya pada informasinya. Siwi masih bertanya petunjuk arah menuju ruangan tersebut. Suster merasa cukup kesal denga pengunjung yang satu ini, ia pun menunjukkan arah pada Siwi.
Wanita cantik itu langsung berjalan menuju arah jalan yang ditunjukkan oleh suster. Manik matanya bergerak liar mencari ruangan setiap ruangan yang dituju hingga akhirnya menemukan ruangan yang dimaksud.
Dibukanya ruangan tersebut kosong tidak ada siapapun. Siwi baru percaya ketika sudah melihat sendiri.
"Aku harus ke rumah mas Satya." Gumam Siwi.
Siwi langsung bergegas keluar rumah sakit dan menuju rumah besar Satya. Sedangkan di rumah itu tepatnya di ruang kerja salah satu orang sedang menghadapi kemarahan Satya.
"Bagaimana bisa wanita itu datang ke sini!! Siapa yang mengijinkan nya!!" Ucap Satya dengan nada tinggi.
"Maaf, Tuan. Saya pun tidak tahu jika Siwi datang ke sini."
"Belva pergi dan kamu pasti tahu ini tapi kenapa kamu tidak menyatakannya padaku, Jordi!!"
Jordi tertunduk diam, serba salah yang dirasakannya. Untuk mengatakan pada Satya itu tidak mungkin saat kondisi bos-nya sedang tidak dalam keadaan sehat. Sekarang dirinya juga harus disalahkan lagi dengan ketidak tahuan Satya akan kepergian Belva dan Duo Kay.
"Jawab Jordi!!!" Bentak Satya.
"Tuan, bukan maksud saya seperti itu. Semua demi kebaikan anda, agar pulih kembali."
__ADS_1
"Kebaikan apa huh!!! Istri dan anak-anak saya pergi, mereka pergi meninggalkan saya Jordi!!"
Brak!!!
Suara meja digerak oleh tangan kanan Satya.
"Aaarrghh!!!! Brengsyek!!!"
Prang!!!!
Vas bunga yang ada di atas meja pun menjadi sasaran bagi Satya untuk meluapkan amarah dan kekecewaan nya. Jordi yang sudah bertahun-tahun bersama Satya mendampingi pria itu pun merasa ngeri-ngeri sedap.
"Tuan, cukup... Anda baru saja pulih jangan seperti ini." Lerai Jordi menenangkan emosi Satya.
"Brengsyek!!! Ini semua gara-gara wanita siyalan itu!!!
"Jordi, ini semua juga salahmu, cepat siapakan tiket penerbangan untuk menyusul istri dan anak-anak saya." Titah Satya masih dalam keadaan emosi.
Tok...!! Tok...!! Tok...!!
Suara ketika pintu menginterupsi percakapan Satya dan Jordi. Suasana menegangkan dalam ruang kerja itu sedikit teralihkan dengan suara tersebut. Jordi membuka pintu, Janis berada di depan pintu.
"Ada apa?" Tanya Jordi.
"Tuan, ada wanita yang datang tempo hari dia ke sini lagi." Ucap Janis.
Jordi menatap Janis sembari berpikir siapa yang dimaksud Janis. Seketika tebakannya langsung menuju pada satu orang yakni Siwi.
"Apa dia mencari Tuan Satya?"
"Iya, Tuan. Dia menunggu di ruang tamu."
"Bilang saja, Tuan Satya tidak ada. Suruh saja dia pergi dari rumah ini." Titah Jordi.
"Baik, Tuan saya permisi dulu."
Sekilas Janis dapat melihat keadaan di dalam ruang kerja Satya tampak berantakan dan kacau. Jordi menutup pintu, Janis beranjak dari depan pintu.
'Di dalam kacau sekali, apa yang terjadi. Pasti Tuan marah besar saat ini.' Batin Janis.
Janis turun menemui seseorang yang menunggu di ruang tamu. Memang benar orang itu adalah Siwi.
"Nona, Tuan Satya tidak ada. Anda bisa datang lain waktu atau bisa mbuat janji temu terlebih dahulu dengan Tuan." Ujar Janis dengan sopan.
"Tidak mungkin di depan ada mobil Jordi. Pasti mas Satya ada di dalam." Ucap Siwi tak percaya.
Seperti sebelumnya dirinya tidak akan percaya jika tidak mengecek secara langsung keberadaan Satya. Siwi berdiri dari duduknya dan berniat untuk menaiki tangga mencari keberadaan Satya sendiri.
"Nona, anda mau ke mana?"
"Awas kamu, saya mau menemui mas Satya sendiri. Kami pasti berbohong saya tahu itu."
Siwi berjalan menaiki tangga dengan cepat. Janis berusaha mengejar Siwi dan menahan tangan Siwi.
"Lepaskan! Kamu mau membuat saya jatuh? Kamu mau membuat anak saya dan mas Satya ini celaka huh!!?" Ucap Siwi menunjukan perutnya.
Janis langsung melepaskan tangan Siwi. Ia tak berniat membuat wanita itu celaka hanya menahan wanita itu agar tidak lancang masuk ke rumah orang sembarangan.
"Tidak, Nona. Tuan Satya memang tidak ada, anda jangan bersikap lancang seperti ini."
"Lancang?? Hei kamu lupa saya ini calon istri mas Satya."
"Tuan Satya sudah mempunyai istri anda jangan lancang, Nona." Janis tak terima.
"Mana istrinya? Tidak ada kan? Itu artinya mas Satya akan segera bercerai dengannya dan menikah denganku."
Mbok Yati dan yang lain mendengar suara ribut di ruang depan langsung mereka keluar dari dapur untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa dari mereka memutar bola matanya malas melihat Janis ribut dengan wanita yang pernah mereka usir.
"Untuk apa lagi wanita itu datang?" Tanya Siti pada yang lain.
Siwi berhasil melepaskan cekalan Janis bahkan Janis hampir saja jatuh jika tidak berpegang pada pegangan tangga. Siwi naik tangga sambil berteriak memanggil nama Satya. Wanita itu benar-benar berani menjajaki rumah Satya.
"Jordi!" Panggil Siwi.
Sekarang wanita itu tanpa embel-embel Tuan untuk memanggu asisten Satya karena merasa dirinya berada di atas Jordi statusnya saat ini.
"Untuk apa kamu ke sini?" Tanya Jordi dengan wajah tidak ramah dan datar.
Sejujurnya Jordi menyimpan kesal dan emosi pada wanita itu karena semua menjadi kacau karena ulah Siwi.
"Di mana mas Satya, pasti berada di dalam ruangan itu kan?"
"Tuan Satya tidak ada sebaiknya kamu pergi saja." Usir Jordi.
"Tidak kamu berbohong. Aku sudah datang ke rumah sakit dan mereka bilang mas Satya baru saja pulang pagi ini."
Siwi hendak menerabas masuk ke ruang kerja tapi dicegah oleh Jordi. Bisa bertambah runyam jika Siwi bertemu Satya saat ini karena bos-nya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Lebih baik kamu pergi. Jangan sampai sikap keras kepalamu merugikan dirimu sendiri." Ujar Jordi menahan kedua bahu Siwi dari depan.
"Lepaskan!! Jangan kurang ajar kamu, Jordi!! Jangan menyentuhki sembarangan."
Jordi tersenyum sinis, "Cih... Oh ya? Tapi aku tak perduli."
Keributan dan perdebatan kembali terjadi di lantai dua. Semua asisten rumah tangga Satya yang penasaran dan ingin tahu pun menyusul ke lantai dua. Satya yang samar mendengar suara ribu dinluar ruangannya pun keluar.
Ceklek....
Suara pintu dibuka oleh Satya, semua menatap Satya demikian juga Satya menatap ke satu arah yaitu pada kedatangan Siwi. Emosinya yang mulai mereda kini kembali mencuat.
"Mas Satya." Panggil Siwi dengan mata berbinar.
Berbeda dengan Satya yang menatap penuh emosi pada Siwi. Satya melangkah mendekati Siwi untuk meluapkan emosinya pada wanita itu. Siwi pun sama mendekati Satya untuk memeluk pria pujaan hatinya.
"Berhenti di tempatmu." Ujar Satya.
"Mas aku merindukanmu." Ucap Siwi dengan nada manja.
Para asisten rumah tangga Satya menatap jijik pada Siwi bahkan Inah berparodi seperti orang yang mau memuntahkan sesuatu.
"Pergi dari rumah saya." Ujar Satya datar.
"Tapi aku sangat merindukanmu, baby kita juga merindukan Papanya." Siwi mengelus perutnya.
"Anak itu bukan anak saya. Pergi kamu dari sini."
"Mas!! Tega kamu tidak mengakui anak kita? Ini anak kamu mas." Siwi kesal Satya tak mengakui bayi yang dikandungnya.
"Pergi kamu dari sini!! Saya muak melihat wajahmu." Usir Satya kembali.
Siwi tak menghiraukan, ia mendekati Satya mencoba memeluk pria itu tapi Satya langsung mendorong Siwi. Satya menatap tajam pada Jordi yang hanya diam saja. Mengetahui ditatap mematikan seperti itu Jordi langsung menyeret Siwi.
"Siwi, keluarlah. Pergi dari sini, sudah kukatakan bukan sedari tadi."
"Lepaskan aku, Jordi. Jangan kurang ajar!!!" Berontak Siwi.
Beberapa asisten rumah tangga itu kemudian mengikuti Jordi yang tengah memaksa Siwi keluar dari rumah. Sudah seperti menangkap maling di dalam rumah mereka hingga menjadi tontonan. P
Jordi memanggil Pak Jajak dan Pak Amin untuk membantu menyeret paksa Siwi hingga keluar gerbang.
Siwi tentu saja merasa emosi saat diperlakukan seperti itu oleh orang-orang yang ada di rumah besar Satya. Ia mengumpat kesal di depan gerbang, kedua kalinya dirinya diperlakukan semena-mena oleh mereka.
Malam harinya, Satya dan Jordi bersiap untuk menyusul Belva dan juga Duo Kay. Tiket pesawat dan keberangkatan semua sudha diurus sehingga mereka hanya perlu datang, check in dan setelah itu menaiki pesawat sesuai dengan informasi yang diumumkan oleh pihak maskapai.
Rencananya saat kembali dari rumah sakit Satya ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya dan juga mertuanya yang sedang berkunjung tapi semua berantakan tanpa bisa diduganya.
Satya lebih banyak diam saat berada di dalam pesawat. Dia harus menyiapkan diri untuk mengahadapi mertuanya karena semua sudah diketahui oleh Tuan Hector. Ultimatum yang pernah mertuanya berikan agar jangan pernah mencoba menyakiti Belva kembali terbayangkan oleh Satya.
Jordi juga terdiam, dia turut merasakan dan bertanggung jawab atas segala yang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Tuan, saya akan mencoba menjelaskan semuanya pada Nyonya ketika kita sampai nanti." Ujar Jordi.
"Harus. Kamu juga harus ikut bertanggung jawab." Ujar Satya dingin dan datar.
Satya tak perduli pada kondisinya yang belum secara total sembuh. Rasa nyeri masih dirasakannya saat ini pada bagian bahunya. Keluarganya lebih penting ketimbang merasakan rasa sakitnya.
'Maafkan aku, sayang aku tidak bermaksud melukai hatimu. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian lagi melalui masa kehamilanmu. Tunggu kedatanganku, Belva.' Batin Satya.
Pria itu merasa sangat kacau sekali hatinya. Ia merasa sedih, kecewa dan juga kesal. Pasti semua keluarga dari istrinya menyalahkan dirinya saat ini.
Beberapa jam melakukan penerbangan dari Indonesia ke Paris, Satya dan Jordi langsung menaiki taksi menuju rumah Tuan Hector. Satya sudah mengerti alamat rumah mertuanya karena memang sudah pernah berkunjung.
Rasanya sudah tidak sabar untuk menemui istri dan anak-anaknya. Sampai di rumah Tuan Hector Satya langsung bergegas turun meninggalkan kopernya pada Jordi. Dia mengetuk pintu beberapa kali dan dibukakan oleh asisten rumah tangga Tuan Hector.
Menggunakan bahasa setempat asisten rumah tangga itu bertanya pada Satya mengenai kedatangannya. Ia mengenali Satya sebagai menantu Tuan Hector maka dengan sopan dirinya bertanya.
"Selamat datang, Tuan. Anda ke sini sendiri?"
"Iya, di mana istri dan anak-anak saya?"
Asisten rumah tangga itu mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti kenapa Satya justru menanyakan padanya akan keberadaan Belva dan Duo Kay.
"Maaf mereka tidak ada di sini, Tuan."
"Jangan berbohong, di mana istri dan anak-anak saya." Ujar Satya mulai kesal.
Apalagi ini? Kenapa orang-orang tak mengetahui keberadaan Belva dan Duo Kay pikir Satya.
Satya menerabas masuk ke dalam rumah. Asisten rumah tangga itu diam saja tak mencegah atau apapun itu. Ia membiarkan Satya mencari sendiri di dalam karena kenyataannya memang Belva dan Duo Kay tidak ada di rumah itu. Satya berteriak mencari Belva dan Duo Kay sama seperti yang dilakukan Siwi padannya sebelumnya.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang muncul dari arah dalam ruangan.
"Pa... Papa di mana istri dan anak-anak saya?"
Seseorang itu adalah Tuan Hector sendiri. Satya langsung menanyakan keberadaan orang-orang tercintanya.
"Untuk apa kamu mencari mereka? Bukankah kamu akan memiliki keluarga baru lagi."
"Pa, tidak seperti itu. Apa yang Papa katakan, saya tidak akan melepaskan istri dan anak-anak saya. Katakan di mana mereka, Pa." Ucap Satya dengan wajah memelas.
"Papa tidak tahu." Ujar Tuan Hector santai.
"Papa jangan berbohong, orang rumah mengatakan Belva ikut bersama Papa ke sini. Tolong Pa, kenapa Papa menyembunyikan mereka dari saya."
"Karena Papa menyayangi mereka tidak sepertimu yang hanya membuat mereka sedih dan terluka."
Satya terdiam sesaat, mengelak tidak mungkin karena kenyataannya memang benar tapi dirinya tidak bisa melepaskan dan membiarkan orang-orang yang dia cintai pergi begitu saja.
"Saya juga menyayangi mereka, saya ke sini untuk mencari mereka dan membawa mereka pulang. Istri saya sedang hamil dan saya harus mendampinginya, Pa."
"Bersamamu Vanthe akan merasa tertekan dan itu tidak baik untuk kandungannya. Anak-anak juga tidak akan bahagia jika melihat kedua orang tuanya bermasalah."
Satya frustasi, dia secara spontan mengacak rambutnya. Di mana mertuanya itu menyembunyikan istri dan anak-anaknya. Memohon seperti apapun Tuan Hector tidak bersedia memberitahukan keberadaan Belva dan anak-anak Satya.
"Pergilah. Bukankah kamu sudah memiliki calon istri yang sedang mengandung anakmu? Dia pasti menunggu dan membutuhkan dirimu. Mengenai Vanthe tidak perlu kamu pikirkan, dia akan baik-baik saja tanpamu. Vanthe tidak mau bertemu denganmu." Ujar Tuan Hector.
Deg...
Ucapan mertuanya itu membuat Satya merasakan bahwa Belva tak lagi membutuhkan dirinya. Tapi Satya tetaplah Satya yang masih ingin berjuang bertemu dengan istrinya.
"Pa, semua itu salah paham. Anak wanita itu bukan anak saya. Saya berani bersumpah, demi apapun anak-anak kandung saya hanya Kaila dan Kaili serta bayi yang ada di dalam kandungan Belva. Saya akan membuktikan itu." Ucap Satya dengan mata berkaca-kaca.
Takut jika benar Belva tak ingin bertemu dengan dirinya dan pergi meninggalkan dirinya. Satya tak ingin terjadi untuk kedua kalinya berpisah dengan wanita yang dicintainya.
"Pergilah kembali lah ke Indonesia. Buktikan jika ucapanmu benar. Papa tidak akan membiarkan kamu menyakiti putri Papa."
"Tapi Pa..."
"Papa ingin istirahat. Papa rasa tidak perlu menggunakan kekerasan bukan untuk membawamu keluar dari rumah ini."
Satya mengangguk lirih, dia cukup menghormati mertuanya. Sudah untuk mertuanya itu masih menerima Bain dirinya meski tidak dengan wajah yang ramah seperti biasanya. Satya memilih untuk keluar dari rumah besar Tuan Hector.
Jordi yang sudah masuk di ruang tamu pun masih menunggu Satya. Ia tak berani masuk secara sembarang di rumah Tuan Hector.
"Jordi, kita pergi." Ucap Satya saat sudah sampai di ruang tamu.
Jordi melirik Satya penuh tanya.
"Pergi, Tuan? Ke mana?" Tanya Jordi.
"Kita cari penginapan."
Jordi semakin bingung saja, kenapa harus cari penginapan jika mereka sudah sampai di rumah mertua Satya.
Satya keluar rumah maka Jordi otomatis mengikuti Satya dengan menggeret dua koper miliknya dan Satya meski masih bingung.
Salah satu supir Tuan Hector mengenali Satya, dia menyapa Satya dengan sopan.
"Tuan, anda datang? Anda mau ke mana? Tuan Hector ada di dalam."
"David, iya saya sudah bertemu Papa. Saya mau mencari penginapan karena ada acara dari kantor untuk beberapa hari."
"Oh baiklah biar saya antar saja, Tuan."
"Ya terima kasih, David." Ucap Satya mengangguk.
Satya dan Jordi akhirnya pergi meninggalkan rumah besar Tuan Hector. Dari dalam Tuan Hector melihat melalui kaca jendelanya. Dia membiarkan pekerja rumahnya mengantarkan menantunya itu.
Satya dan Jordi mencari penginapan untuk beberapa hari. Mereka tak bisa langsung kembali pulang ke Indonesia, baru saja mereka sampai bahkan belum bertemu dengan tujuan mereka. David membantu mencarikan penginapan terdekat lalu berpamitan pulang setelah mendapat penginapan yang sesuai.
"Taun, saya permisi dulu jika membutuhkan bantuan hubungi saja." Pamit David.
"Terima kasih, David." Ucap Satya.
David menundukkan kepalanya memberi hormat lalu pergi.
"Tuan, kenapa kita cari penginapan? Kenapa tidak menginap saja di rumah Tuan Hector?"
"Menurutmu jika saya di usir maka saya harus tetap berada di sana?" Ujar Satya datar.
'Waduh, apakah semarah itu Tuan Hector pada Tuan Satya.' Batin Jordi.
Kamar hotel yang dipilih adalah kamar dengan dua ranjang berukuran singel. Di dala kamar tersebut Satya mulai membicarakan semuanya pada Jordi.
"Besok cari apartemen untuk saya di sini. Saya akan mencari istri dan anak-anak saya." Ujar Satya dengan wajah serius.
"Apa Nyonya tidak ada di rumah Tuan Hector?"
"Sepertinya tidak ada, di rumah itu terlalu sepi untuk hitungan rumah yang menampung anak-anak."
"Mereka benar-benar menyembunyikan Nyonya dan anak-anak. Saya rasa apa yang kita lakukan sangat fatal, Tuan."
"Jangan ingatkan saya pada ide konyol mu itu atau aku akan membunuhmu sekarang juga. Besok carikan apartemen setelah itu kamu kembalilah ke Indonesia."
"Loh, tapi bagaimana dengan Tuan?"
"Saya bisa sendiri di sini, tugasmu di sana adalah urus wanita siyalan itu agar tidak berulah terlalu jauh dan cari bukti yang menunjukkan bahwa bayi itu bukan anak saya." Ujar Satya.
Jordi mengangguk, dia akan mengikuti saja perintah dari atasannya itu. Untuk kali ini dirinya tidak akan mengecewakan bos-nya dan berjanji akan membantu untuk membereskan semuanya.
****
To Be Continue...
Geregetan tak othornya lama wkwkwk. Berbelit-belit gt ya ? Haha dari awal di sampaikan memang alurnya lambat tapi aku rasa sih gak muter di situ doang tetep maju meski lambat.
Gimana-gimana? Om Satya menurut kalian hehe... Siwi enaknya di apapin nih guys π
Btw, selalu yaa othor ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya buat kalian my dear para readers ku tersayang yang masih setia sampai detik ini, terus menanti kelanjutan ceritanya. Terima sekali buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian πβΊοΈ. Apa yang kalian lakukan itu sangat bermanfaat buat author. Sehat selalu, bahagia selalu dan lancar rejeki buat kalian. Ditunggu terus ya kelanjutan kisahnya sampai akhir. Tenang gak la lagi kok π π
__ADS_1