
Sesuai permintaan Jordi mendapatkan sebuah apartemen yang disewa untuk keperluan bos-nya. Setelah mendapatkan semua yang diperlukan oleh Satya, Jordi langsung kembali ke Indonesia. Urusannya masih banyak untuk menyelesaikan permasalahan bos-nya.
Lelah sudah pasti tapi Jordi tetap harus bergerak dan bekerja sesuai kemampuannya. Dia paham mengikuti Satya sudah menjadi pilihannya dan juga sumber penghasilan untuk keberlangsungan hidupnya dan keluarga.
Sampai di bandara Jordi langsung kembali ke ke rumahnya terlebih dahulu. Mobil yang dipakainya waktu lalu menuju bandara bersama Satya dan dititipkan di bandara kini kembali dibawanya pulang. Di pertengahan jalan dia merasakan mobilnya sedikit aneh. Ditepikan mobil itu ke pinggir jalan untuk memeriksa keadaan mobil.
"Siyal!! Kenapa bisa kempes begini." Gumam Jordi kesal. Kedua tangannya berada di pinggang menatap ke arah ban yang kempes.
"Montir ya aku harus menghubungi montir." Jordi merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.
"Aargghh... Mati lagi, siyal sekali hari ini tidak tahu aku sedang lelah pakai acara ban kempes ponsel mati." Jordi mengumpat kesal.
Mengganti ban serep? Tidak, mobilnya tak membawa ban serep. Otaknya mencoba berputar mencari ide apa yang harus dia lakukan untuk keluar dari masalah mengesalkan itu. Meninggalkan mobil itu dipinggir jalan adalah hal yang tidak mungkin, dia tak sekaya Satya yang bebas membeli barang ini itu dengan harga mahal. Mobil itu adalah hasil kerja kerasnya selama mengabdi kepada Satya.
Tinn!!! Tin!!!
Suara klakson mobil mengalihkan fokus Jordi dari ban mobil pada suara tersebut. Sebuah mobil menepi di depan mobil Jordi, tak asing bagi pria itu karena mobil itu adalah mobil milik Belva yang saat ini digunakan boleh Bella.
Wanita cantik khas Asia itu turun dari mobil dan menghampiri Jordi. Ia mengerti sepertinya ada yang tidak beres dari Jordi karena tak mungkin orang seperti Jordi akan berhenti di pinggir jalan secara sembarangan seperti ini.
"Kenapa? Apa mobilmu bermasalah?" Tanya Bella.
"Ban kempes." Jawab Jordi singkat padat dan jelas.
"Tidak menghubungi montir?"
"Ponselku mati."
"Oh... Pakai saja ponselku." Tawar Bella.
Bella mengulurkan ponselnya pada Jordi, pria itu pun mengambil ponsel Bella. Nomor montir langganannya tak mungkin ia hafal di luar kepala.
"Buka instageram mu." Jordi kembali menyodorkan ponsel itu pada Bella.
Bella menatap penuh tanya, untuk apa membuka media sosialnya.
"Aku tidak hafal nomornya, aku harus cek di media sosial mereka."
"Oh..." Bella hanya ber-oh ria. Diambil ponselnya kembali dan membuka media sosialnya. Setelah itu diberikannya pada Jordi.
Jordi menerima ponsel Bella, sebelum masuk pada kolom pencarian dia sempat membaca nama akun Bella dan melihat sejenak foto-foto yang di posting oleh gadis itu.
'Cantik.' Batin Jordi, dia tersenyum tipis memandang foto Bella.
Hanya sesaat saja takut jika pemilik ponsel mengetahui apa yang dilakukannya. Jordi kembali pada niatnya mencari media sosial bengkel langganannya. Dihubungi bengkel tersebut agar segera mengirimkan montir untuk memperbaiki bannya.
Menunggu hingga tiga puluh menit montir itu tak kunjung datang. Hari semakin siang membuat sinar matahari semakin terasa panas menerpa kulit mereka.
"Nona, kamu masuk saja jika merasa kepanasan."
Jordi justru membukakan pintu mobilnya, Bella menurut saja karena memang merasa kepanasan. Jordi tetap berada di luar untuk memantau kedatangan montir. Beberapa saat kemudian yang ditunggu-tunggu datang.
"Selama siang, Tuan. Maaf tadi mobil kami sedikit ada kendala di jalan." Ucap salah satu montir itu meminta maaf.
"Iya segera urus mobilku. Ban kempes sepertinya bocor."
"Baik, Tuan."
"Bisa cepat kan?" Tanya Jordi.
"Kami usahakan, Tuan."
Kedua montir itu akhirnya melakukan pekerjaan mereka. Baru saja menunggu beberapa menit Jordi sudah mulai tak sabar.
"Nona, mana kunci mobilmu?" Tanya Jordi.
"Untuk apa?"
"Kita pulang, mobil ini biar diurus montir saja."
Tangan Jordi menengadah menunggu Bella memberikan kunci mobil itu padanya.
"Mana kuncinya atau kamu mau menunggu mereka di sini?"
Bella menggelengkan kepala lalu memberikan kunci mobilnya pada Jordi. Pria itu menarik tangan Bella untuk keluar mobil dan menuju mobil gadis itu.
Jordi mengemudi dan mengarahkan mobil itu ke apartemennya. Pria itu merasa sangat lelah, seharusnya dirinya sudah sampai sedari tadi dan sudah beristirahat. Sampai di tengah perjalanan Bella baru menyadari mobilnya mengarah ke jalan yang asing menurutnya.
__ADS_1
"Ini mau ke mana?" Tanya Bella.
"Pulang." Jawab Jordi.
"Pulang? Tapi ini bukan jalan menuju rumahku."
"Siapa bilang pulang ke rumahmu, aku mau pulang ke apartemen ku sendiri."
"Maksudnya aku mengantarmu pulang? Kenapa tidak menunggu mobilmu saja, mengganti ban kan tidak lama."
"Aku lelah, bisakah kamu diam? Kepalaku pusing mendengar suaramu yang terus bertanya sedari tadi."
Bella menatap kesal pada Jordi tapi tak urung dirinya pun diam tak lagi membuka suara.
'Seharusnya tadi aku tidak berhenti menolongnya.' Batin Bella.
Gadis itu tidak tahu jika Jordi baru saja melakukan penerbangan dari negara Perancis demi menyusul Belva bersama Satya. Bahkan masalah rumah tangga yang dihadapi Belva pun gadis itu tidak tahu. Belva sengaja tak menceritakan itu pada Bella dan Budhe Rohimah.
Sampai di bangunan yang tinggi menjulang, Jordi tetap melajukan mobil itu hingga terparkir di basemen.
"Kita sudah sampai, ayo turun."
"Kenapa aku harus turun, aku hanya mengantarkan mu saja." Ucap Bella.
"Kamu hafal jalan untuk pulang ke rumahmu?" Tanya Jordi.
"Tidak, tapi ada map aku bisa menggunakannya melalui ponselku."
"Terserah tapi aku butuh bantuanmu." Ujar Jordi.
"Apalagi... Sungguh merepotkan." Gerutu Bella.
"Sudah ayo turun cepat." Ajak Jordi.
Mereka berdua berjalan menuju ruang apartemen Jordi. Entah apa yang membuat Jordi pulang ke apartemen sebelumnya dia berniat pulang ke rumah ibunya.
Memasuki ruang apartemen, Bella dapat melihat jika ruangan itu tampak sangat bersih dan rapi untuk ukuran seorang laki-laki.
"Kamu bisa masak kan?" Tanya Jordi to the point pada Bella.
"Hah? Masak? Bisa kenapa?" Tanya Bella, begitu masuk ke apartemen Jordi langsung bertanya hal itu membuat Bella bertanya-tanya.
Bella membulatkan matanya melotot pada Jordi. Yang benar saja dirinya diajak ke apartemen hanya untuk disuruh masak.
"Hai kamu stress? Kamu membawaku ke sini untuk memasak, yang benar saja. Aku sibuk aku mau pulang." Ujar Bella kesal setengah mati pada Jordi.
"Ck kamu ini tidak sopan sekali, aku lebih tua darimu bersikaplah sopan padaku. Menolong orang lain itu pahalanya besar."
"Tidak mau, aku mau pulang." Kekeuh Bella.
"Pulang saja sana jalan kaki." Ucap Jordi dengan santai.
Pria itu berjalan masuk ke dalam kamarnya, tubuhnya terasa lelah dan lengket. Bella melongo, ia baru sadar jika kunci mobilnya masih dibawa oleh Jordi.
"Demi apapun aku selalu siyal bertemu pria itu. Siyalan." Gumam Bella semakin kesal pada Jordi.
"Jika kamu mau pulang pulang saja jalan kaki. Tapi kalau mau pakai mobil, masak dulu baru pulang." Teriak Jordi dengan santai, pria tersenyum bisa mengerjai Bella.
Di dalam kamar, Jordi langsung membersihkan tubuhnya setelah itu dia tidak bisa langsung istirahat. Teringat dengan perintah bos-nya untuk menyelidiki kehamilan Siwi. Andrew, nama itubyang diingatnya karena pria itu seorang dokter. Dihubungilah sahabatnya itu untuk menanyakan beberapa hal.
"Hallo, tumben menghubungiku. Kamu mau meminta tolong apa lagi?" Tanya Andrew secara langsung tanpa basa-basi.
"Cih... Tidak ada basa-basi nya sama sekali. Setidaknya kamu bertanya kabarku lebih dulu." Ucap Jordi.
"Aku tahu kabarmu buruk maka dari itu kami menghubungiku."
"Ck... Siyalan tapi kamu memang benar. Aku mau meminta tolong padamu."
"Sudah kuduga. Minta tolong apa?" Ujar Andrew.
"Tes DNA." Jawab Jordi singkat.
"Tes DNA? Siapa lagi yang mau kamu tes DNA? Hobi sekali tes DNA."
"Ada seorang wanita dia sedang hamil, aku mau melakukan tes DNA pada wanita itu."
"Wah parah, kamu menghamili seorang wanita dan kamu mau membuktikannya begitu?" Tanya Andrew. Jika Jordi melihat ekspresi Andrew saat ini pria itu melongo dan membulatkan matanya.
__ADS_1
"Ck mulutmu perlu ku sumpal selang infus. Yang benar saja aku menghamili wanita. Bukan aku yang menghamilinya, sudah jangan banyak tanya dulu."
"Ceritakan dulu padaku." Desak Andrew.
"Tidak penting saat ini nanti saja, yang terpenting segera melakukan tes DNA."
"Dia hamil berapa bulan?" Tanya Andrew.
"Sepertinya baru jalan satu bulan kalau tidak salah."
"Wah kalau usia kandungan masih semuda itu belum bisa dilakukan tes DNA, bro. Paling tidak kita harus menunggu sampai tiga bulan."
"Apa tidak bisa lebih cepat?" Tanya Jordi.
"Tidak bisa, itu akan membahayakan ibu dan bayi karena tes DNA bayi yang ada di dalam kandungan kita harus mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis atau dengan chorionic villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta."
"Kenapa lama sekali. Apa tidak ada cara lain?" Tanya Jordi.
"Tidak ada hanya itu cara tercepat untuk melakukan tes DNA sebelum bayi itu dilahirkan." Ujar Andrew.
Jordi menghembuskan napasnya secara kasar ternyata tidak bisa secepat yang dia harapkan.
"Ya sudah kalau begitu besok kuhubungi lagi."
Seperti biasa Jordi langsung menutup panggilan tersebut secara sepihak. Selalu saja membuat Andrew kesal padanya. Tingkah Jordi memang terkadang menjengkelkan.
Selesai melesai menghubungi Andrew, Jordi langsung membuka laptopnya mengecek segala file yang dimilikinya diceknya satu persatu agar tidak ada yang terlewatkan saat file itu dibutuhkan. Tubuhnya yang lelah tanpa sadar membuat matanya tak teekendali hingga pria itu tertidur di atas ranjangnya sendiri. Dia tak menyadari bahwa di luar tepatnya di dapur seorang gadis sedang mengomel dan mengumpat kesal padanya.
**
Satya sendiri di negara di mana anak dan istrinya diduga pergi meninggalkan dirinya tapi rupanya sang mertua benar-benar ada andil dalam menyembunyikan mereka. Berarti Satya harus mencari sendiri keberadaan istri dan anak-anaknya. Pria itu akan memantau rumah sang mertua dan berharap Belva dan Duo Kay serta baby As terlihat.
Sudah beberapa hari Satya menggunakan mobil sewaan untuk memantau sang istri dan anak-anaknya. Namun, hasilnya nihil sosok wanita yang dicintainya belum juga dia lihat begitu juga dengan kedua bocah kesayangannya pun tak nampak apalagi bayi mungilnya.
"Sayang, kalian di mana, Daddy tidak bisa tanpa kalian." Gumam Satya.
Perasaannya kacau saat ini, nomor ponsel Belva pun tidak bisa dihubungi sejak wanita yang telah sah dinikahi oleh Satya itu memutuskan pergi meninggalkan Indonesia.
Semua itu tentu saja suruhan dari Tuan Hector yang sudah merencanakan kepergian Belva dan anak-anak. Semua dilakukan memang demi kebaikan putri dan cucu-cucunya terlebih keadaan Belva yang tengah hamil.
Hari-hari Satya hanya dihabiskan untuk memantau keberadaan sang istri di rumah mertuanya. Keadaannya belum pulih secara total pun diabaikan, beberapa obat yang pernah dibawakan dari rumah sakit hanya itu saja yang Satya bawa itupun hanya bisa digunakan untuk beberapa hari saja.
Jordi yang khawatir selalu setia menghubungi Satya dua sampai tiga kali sehari. Bahkan Jordi sering mengingatkan untuk mengunjungi rumah sakit terdekat jika lukanya kembali terasa sakit dan menyampaikan beberapa nasehat untuk kebaikan Satya.
Jenuh dengan aktivitas yang sama setiap hari? Tidak, Satya am pernah jenuh karena berharap bisa bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Beberapa kali Satya juga mencoba berkunjung ke rumah mertuanya tapi tetap sama Tuan Hector tetap bungkam akan keberadaan Belva dan Duo Kay.
***
"Mami, kenapa Daddy tidak ikut ke sini?" Tanya Kaili.
"Apa Daddy sibuk bekerja?" Tanya Kaila.
Belva terdiam, sudah beberapa kali kedua anaknya menayangkan keberadaan Daddy mereka.
"Iya Daddy kalian sibuk bekerja, sayang. Kalian menginginkan sesuatu?" Bukan Belva yang bersuara melainkan Roichi.
Kepergian Belva tentu saja Tuan Hector tak membiarkannya sendiri. Roichi selalu ada untuk mengurus Belva dan anak-anak. Tuan Hector tahu jika bersama Roichi maka Duo Kay dan Belva akan aman. Roichi bisa mengalihkan Duo Kay untuk tak mencari Satya.
"Tidak, aku hanya rindu dengan Daddy." Jawab Kaili.
"Mami, Daddy tidak hilang lagi kan?" Tanya Kaila.
Lagi-lagi pertanya seperti itu muncul kembali. Kekhawatiran dari seorang bocah kecil terhadap ayahnya yang pernah diketahuinya menghilang akibat bekerja.
"Tidak, sayang Daddy kalian tidak hilang. Sudah ya kita main yuk, itu baby As sudah bangun." Ujar Belva mengalihkan.
Mendengar nama baby As dua bocah itu langsung menghampiri bayi mungil itu. Adik kesayang mereka yang seringkali bisa menghibur mereka karena bagi Duo Kay, baby As hampir mirip seperti boneka. Pipi gembul, tubuh yang subur hingga terlihat beberapa lipatan pada tangan dan kaki bayi laki-laki itu, belum lagi matanya yang sipit membuat Duo Kay atau beberapa orang sekitar merasa gemas.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Gimana nih Om Satya dipisah sajakah dengan Belva?? ππ€
Om Roi selalu siap siaga yaa βΊοΈβΊοΈ Ada yang setuju Om Roi sama Belva???
__ADS_1
Terima kasih banyak atas support kalian sampai saat ini. Terima kasih banyak buat kalian yang masih menunggu update cerita receh author, Terima kasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian πππ
Sehat selalu, bahagia selalu dan lancar rejeki buat kakak- readers sekalian πππ