
Belva masih saja memikirkan apa yang Budhe Rohimah ceritakan saat Budhe Rohimah beranjak ke dapur untuk mengambil air putih.
"Meski Tuan Satya tipe orang dingin dan cuek tapi dia bukan orang yang buruk. Dia pria yang bertanggung jawab selama aku bekerja di rumah besarnya dulu. Tapi kenapa Nyonya Sonia bisa sampai berbuat seperti itu."
"Aku masih tidak percaya jika Nyonya Sonia berselingkuh di belakang Tuan Satya. Buktinya saat itu dia benar-benar marah hingga menuduh ku sebagai pelakor."
Belva bergumam sendiri, jujur saja dirinya belum percaya. Sonia sudah memiliki segalanya tapi kenapa masih bisa berselingkuh. Selama ini Belva jarang sekali melihat rumah tangga mantan majikannya itu ribut. Hanya keributan kecil itu masih sangat wajar menurut Belva.
"Kamu tak percaya ? Tapi itulah kenyataannya. Sonia berselingkuh, dia berkhianat dari saya. Itulah alasannya mengapa saya bercerai dengannya."
Tanpa sadar sedari tadi Satya mendengar cerita antara Belva dan Budhe Rohimah. Meski rasa kecewa itu masih ada tapi Satya mencoba tak perduli. Toh saat ini mereka sudah berpisah jadi tak perlu dipikirkan lagi.
"Tu-tuan... Anda mendengarnya ?" Tanya Belva lirih.
"Semua... Cerita Bibi Imah dari awal saya mendengar semuanya." Ucap Satya yang masih berdiri di hadapan Belva dengan kedua tangan dimasukkan nya di dalam saku.
"Maaf Tuan... Kami tidak bermaksud membicarakan anda hanya saja..."
"Kalian masih khawatir Sonia akan mencelakai Kaili dan Kaila ?" Pertanyaan yang tepat yang memang menjadi topik utama pembahasan Budhe Rohimah dan Belva.
Wanita muda itu mengangguk membenarkan apa yang sampai saat ini masih dikhawatirkannya termasuk juga Budhe Rohimah.
"Saya sudah katakan anak-anak akan baik-baik saja. Percayalah dan tak perlu khawatir. Saya Daddy mereka, Ayah mana yang akan membiarkan anak-anaknya berada dalam bahaya. Hanya orang tua yang gila dan bodoh yang akan membiarkan anak-anaknya terluka. Dan saya bukan termasuk dalam bagian orang bodoh itu."
Entah ketika bersama Belva, pria itu bisa lebih banyak berbicara.
"Iya saya akan mempercayai ucapan anda. Tapi anda harus tahu jika anak-anak dalam bahaya karena kedekatan mereka dengan anda maka saya tidak akan mengijinkan mereka berada di dekat anda." Ucap Belva.
Wanita itu terlalu mencintai kedua anaknya. Anugrah terindah dalam hidupnya yang membuatnya berkembang menjadi seseorang yang lebih tegar dan kuat.
Satya beralih duduk di dekat Belva. "Saya tidak berjanji tapi saya akan berusaha untuk melindungi mereka sebisa saya sebagai Daddy mereka."
"Berusaha selalu ada untuk mereka. Keluarga saya satu-satunya saat ini hanyalah anak-anak. Jadi, tanpa kamu minta sekalipun saya akan menjada apa yang saya miliki."
Ucap Satya dengan tatapan mata yang terlihat sedikit sendu. Belva mampu melihat kesenduan di mata hazel itu.
"Satu-satunya ?" Tanya Belva lirih.
"Iya... Satu-satunya. Jadi, saya mohon berbagai lah mereka dengan saya. Saya tahu mereka bukan barang yang bisa dibagi-bagi. Saya hanya ingin memiliki keluarga, teman dan yang jelas orang yang benar-benar menyayangi saya. Saya yakin anak-anak pasti sangat menyayangi saya selain kamu."
"Tuan..." Ucap Belva.
"Kamu... Maukah menjadi bagian dari mereka ?" Tanya Satya.
"Maksud Tuan ?"
"Menjadi keluarga saya... Menjadi teman saya...dan... tolong jangan panggil saya Tuan lagi."
Satya mengurungkan niatnya untuk mengatakan bahwa Belva menjadi seseorang yang mau menyayanginya dengan tulus.
Terlalu cepat jika Satya bertanya seperti itu. Untuk mengubah kebiasaan Belva memanggil dirinya dengan sebutan Tuan saja masih butuh waktu apalagi membicarakan hal yang lebih jauh. Butuh langkah yang perlahan namun pasti.
"Saya akan mencobanya perlahan." Ucap Belva.
"Terima kasih." Senyum tipis Satya terukir.
Satya hendak pergi ke kamar Duo Kay kembali tapi Budhe Rohimah datang dengan membawa segelas air putih untuk Belva. Dirinya sudah minum terlebih dahulu di dapur.
"Tuan Satya... Anda disini ? Maaf saya hanya membawa segelas air putih."
"Tidak apa-apa Bi. Boleh saya berbicara dengan Bibi ?" Tanya Satya.
"Boleh Tuan, ada apa ya Tuan ?" Tanya Budhe Rohimah dengan serius.
"Pertama, jangan lagi panggil saya Tuan. Saya bukan lagi majikan Bibi Imah."
"Tapi... Saya harus panggil apa Tuan." Budhe Rohimah tampak bingung.
"Bibi tahu jika orang tua saya sudah lama tiada. Apa Bibi keberatan jika saya meminta Bibi untuk menjadi pengganti orang tua saya ?"
"Tuan... Tapi saya... Saya hanyalah orang biasa bahkan saya ini mantan pembantu anda Tuan. Apakah itu pantas ?" Budhe Rohimah merasa sungkan dan merasa tidak pantas menjadi apa yang Satya inginkan.
"Bukankah semua manusia itu sama saja Bi ? Apa yang membuat Bibi merasa tidak pantas ?"
"Tuan... Saya ini hanyalah orang kecil, yang hanya bisa bekerja sebagai pembantu saja. Sedangkan anda..."
"Bibi keberatan ya ? Tidak apa-apa Bi, saya mengerti." Ucap Satya.
"Bu-bukan seperti itu Tuan... Saya merasa terhormat jika Tuan meminta saya seperti itu."
"Jadi ? Apa Bibi mau menjadi pengganti ibu saya ?" Tanya Satya menatap Budhe Rohimah.
Wanita paruh baya itu mengangguk. "I-iiya Tuan."
"Jangan panggil Tuan lagi. Mana ada seorang ibu memanggil anaknya dengan sebutan itu."
"Iya... Nak Satya..." Ucap Budhe Rohimah tersenyum lembut. Ia merasa senang seorang yang hebat seperti Satya memintanya untuk menjadi pengganti ibunya yang sudah tiada.
"Boleh saya panggil ibu ?" Tanya Satya.
Budhe Rohimah tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja Nak."
Satya tersenyum, senyum dari hatinya yang sangat tulus. Dia kini bisa merasakan bagaimana memiliki seorang ibu kembali. Budhe Rohimah cukup terkejut, ia sangat jarang sekali melihat Satya tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Belva sedari tadi hanya bisa memperhatikan dan mendengarkan percakapan Satya dan Budhenya.
"Senyumnya terlihat begitu tulus dan bahagia meski tak lebar. Apa dia merasakan senang." Batin Belva menatap Satya.
"Satu hal lagi yang ingin saya tanyakan pada ibu. Saya mendengar semua yang ibu ceritakan pada Belva." Ucap Satya.
"Maksudnya Tuan... Eh Nak Satya mendengarkan cerita saya tadi ?" Budhe Rohimah terlihat sedikit khawatir.
"Tidak perlu khawatir Bu, saya sudah tak bersama Sonia lagi. Dan memang wanita itu telah berkhianat dari saya maka dari itu saya menceraikannya." Ucap Satya.
"Jadi, Nak Satya sudah tahu jika Nyonya Sonia selingkuh ?" Tanya Budhe Rohimah memastikan.
Satya mengotak-atik ponselnya lalu menunjukkan pada Budhe Rohimah.
"Apa pria ini yang ibu maksud ?" Tanya Satya.
"Apa dia seorang anggota ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Maksud ibu ?" Tanya Satya bingung.
"Pria yang waktu itu bersama Nyonya Sonia adalah seorang anggota polisi."
"Anggota polisi ? Tapi pria yang asaya tunjukkan bukan seorang anggota Bu." Ucap Satya.
Kening Budhe Rohimah mengerut. Sonia bukan hanya selingkuh pada satu pria saja ternyata.
"Apa pria itu juga berselingkuh dengan Nyonya Sonia ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Iya... Dan sudah terjadi sangat lama. Pria itu adalah mantan kekasih Sonia yang masih berlanjut selama kami menjalani kehidupan rumah tangga." Jawab Satya.
Mata Belva sedikit melebar mendengar penuturan Satya. Setega itu mantan Nyonya nya berkhianat dengan beberapa pria.
Tentu saja tega, bahkan wanita itu hampir saja membunuh Belva dulu dan mempermalukan Belva dengan seenaknya.
"Astaga... Apa maksudnya ini ? Bagaimana bisa terjadi seperti ini." Gumam Budhe Rohimah dalam hati. Tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Sonia. Dirinya kira jika Sonia hanya berselingkuh dengan satu pria saja.
"Nak, kamu pernah mengatakan jika Nona Alya bukan putri kandungmu kan ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Iya Alya memang bukan putri kandungku. Dia sepertinya anak dari hasil hubungan gelap Sonia dengan selingkuhannya. Dan selingkuhannya yang saya tahu hanyalah pria yang ada di ponselku." Ucap Satya.
"Ya Tuhan... Pantas saja mereka mirip." Gumam Budhe Rohimah dalam hati.
"Tapi ya sudahlah biarkan saja. Toh mereka bukan lagi bagian dari keluarga saya lagi."
"Yang sabar Nak, semua yang terjadi selalu ada hikmah dibaliknya. Rasa sedih dan kecewa mu pasti akan mendapatkan gantinya."
"Ya... Saya bersyukur di waktu yang sama, saya mengetahui fakta bahwa saya memiliki anak kandung dari Belva. Dan mereka ternyata anak yang pintar, Maminya mendidik mereka dengan baik." Ucap Satya sekilas melirik bwlva dengan senyum tipisnya.
Memang semua selalu ada hikmahnya. Satya bisa lepas dari belenggu keterpurukan nya dalam berumah tangga dan mendapatkan ganti dua bocah kecil yang cantik dan tampan serta pintar. Sang pencipta memang adil dalam mengatur setiap skenario kehidupan.
Berlarut dalam belenggu keterpurukan bukan berarti ditakdirkan memiliki kehidupan yang sial. Hanya saja sang pencipta percaya akan kemampuan makhluk ciptaan-Nya. Dan waktu yang tepat akan selalu didatangkan oleh-Nya.
Tak hanya mendapatkan dua anak dengan bibit unggul saja, Satya juga menemukan wanita yang menjadi dambaan hatinya setelah sekian lama mengubur dalam kisah cintanya dengan cinta pertamanya. Kebaikan yang lain Satya dapatkan saat Budhe Rohimah bersedia menjadi ibu pengganti untuknya. Tidak ada lagi status majikan dan pembantu diantara Satya dan Budhe Rohimah. Begitu pula diantara Satya dengan Belva.
***
Beberapa hari berlalu, Satya masih sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tapi sekarang sedikit berbeda jadwal kerjanya yang dulu selalu padat kini masih sama padat nya tapi Satya selalu meluangkan waktu pada siang hari untuk menjemput dua anaknya. Sore haripun Satya selalu menyempatkan untuk mengunjungi rumah Belva.
Bella yang sebelumnya merasa risih dengan kedatangan Satya yang hampir setiap hari itu kini sudah mulai terbiasa karena Budhe Rohimah sudah menceritakan semuanya pada gadis itu. Terkejut itu sudah pasti tapi mau bagaimana lagi itulah kenyataan yang tak bisa dirubah dan harus diterima.
Sore ini, Satya mengunjungi Duo Kay di rumah tapi kedua bocah itu tidak ada di rumah.
"Kemana mereka Bu ?" Tanya Satya.
"Di butik Nak, tadi siang setelah kamu antar mereka meminta bertemu dengan Belva." Ucap Budhe Rohimah.
Wanita paruh baya itu benar-benar membiasakan diri dan mencoba menikmati perannya menjadi ibu untuk Satya. Pria itu sudah dewasa tapi entah rasanya masih menginginkan sosok ibu. Dan Budhe Rohimah benar-benar bisa membuat Satya nyaman.
"Ya sudah, saya ke butik dulu ketemu anak-anak. Ibu tidak usah masak nanti saya beli makanan untuk makan malam."
"Baiklah... Hati-hati di jalan. Sore begini pasti macet."
Hal yang selalu Satya inginkan selama ini adalah masih adanya sosok ibu yang mengkhawatirkan kondisinya. Satya selalu merasa tersentuh dengan perhatian Budhe Rohimah.
"Iya Bu... Satya pamit." Satya menyalami Budhe Rohimah dengan mencium punggung tangan wanita itu. Saat memutuskan untuk meminta Budhe Rohimah menjadi ibunya. Satya memang merubah setiap kebiasaannya pada Budhe Rohimah.
Pria itu berlalu dengan mobilnya menuju ke butik. Sampai di butik Satya langsung masuk ke dalam butik. Beberapa pegawai sudah mengerti akan siapa Satya. Mereka menunduk hormat saat pria itu berjalan masuk.
Satya berpapasan dengan Bella yang hendak keluar butik dengan membawa tasnya. Bella berhenti dihadapan Satya.
"Mau bertemu si kembar ?" Tanya Bella.
"Hem.. dimana mereka ?" Tanya Satya.
"Di ruangan Nona Vanthe." Jawab Satya.
"Oke... Mau kemana kamu ?" Tanya Satya.
"Saya harus pergi menemui klien untuk kerjasama bahan baku. Sepertinya saya akan lama nanti jadi tidak bisa menjemput si kembar dan Nona Vanthe, Tuan." Jawab Bella.
"Tak masalah, itu urusan saya. Pergilah." Ucap Satya.
"Terima kasih Tuan, saya permisi."
__ADS_1
"Hem... Berhati-hatilah." Ujar Satya sebelum melangkah meninggalkan Bella.
Di lantai dua Satya berhenti di depan pintu ruangan Belva. Pria itu sudah beberapa kali memang memasuki ruangan khusus bagi pemilik butik itu. Terdengar suara Belva yang sedang memperingati kedua anaknya agar tidak berebut mainan. Satya langsung masuk saat suasana sudah tak terkondisikan lagi.
"Ada apa ini ?" Tanya Satya membuyarkan perhatu ketiga manusia yang ada di dalam ruangan itu.
"Daddy...!!!" Teriak Duo Kay.
Satya mendekati Duo Kay yang sedang duduk santai di karpet. Tapi pria itu lebih memilih duduk di sofa saja.
"Kalian berebut mainan hemm ? Sini pangku Daddy."
Duo Kay langsung beranjak untuk duduk di pangkuan Satya.
"Tidak kita hanya bergantian main saja tapi Kaili maunya pakai lama-lama mainannya." Ujar Kaila.
"Aku baru sebentar main, kamu sudah mau ambil lagi." Tak kalah Kaili mengadu dihadapan Daddy nya.
"Kalian sudah makan ?" Tanya Satya.
Duo Kay menggelengkan kepalanya. Satya menghela napasnya sudah sore anak-anak nya belum makan.
"Mami tidak memberikan kalian makan ?"
Pertanyaan yang sontak membuat Belva mengalihkan perhatian dari kertas-kertas nya pada Satya.
"Apa maksud nya ? Aku memang sibuk bekerja tapi mereka tidak terlupakan. Tadi siang mereka makan. Jangan membuatku seakan tega ada anak-anak ku sendiri."
Kini perlahan panggilan formal pun Belva hilangkan. Membiasakan diri agar anak-anak mereka tak menirukan dirinya saat memanggil Satya. Setelah kejadian dirinya yang dipanggil dengan sebutan nama saja. Pernah juga Duo Kay menirukannya memanggil Satya dengan sebutan Tuan dan Anda. Itu sangat menggelikan hingga akhirnya Satya protes akan hal itu.
"Saya tidak menuduh tapi bertanya. Kenapa kamu seperti tertuduh melakukan hal itu ?" Ujar Satya.
"Tapi pertanyaan mu seperti menyudutkan ku Daddy Satya."
"Anak-anak kenapa.kaloan berbohong di depan Daddy kalian ?" Taby Belva sedikit kesal pada dua anak kembarnya.
"Kami tidak berbohong. Tadi Daddy tanya sudah makan atau belum. Kan kami sore ini belum makan." Ujar Kaila.
"Tapi kalian siang tadi sudah makan sayang " ucap Belva.
"Daddy baru saja bertanya dan ini sudah sore bukan siang Mami." Ujar Kaila kembali mempertahankan pendapatnya. Kaili hanya mengangguk mendukung kembarannya.
Belva sedikit menganga tak percaya akan pertahanan debat Kaila. Satya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan ibu dan anak itu.
"Astaga... Putriku kenapa pintar sekali menjawab seperti ini." Gumam Satya dalam hati.
"Sudah... Sudah... Jangan ribut. Kita pulang saja, kita makan di rumah." Ujar Satya mengakhiri perdebatan ibu dan anak.
"Pekerjaan ku belum selesai." Belva menyela.
"Anak-anak mau makan, Mam. Pekerjaan tidak akan habis jika kamu turuti." Ucap Satya.
"Ya sudah sebentar, kalian tunggu di bawah saja tidak apa-apa. Mami bereskan barang-barang Mami dulu. Kaila dan Kaili juga harus bereskan barang-barang kalian sayang."
Seketika Duo Kay turun dari pangkuan Satya. Mereka bekerjasama untuk membereskan barang-barang mereka di atas karpet.
"Sini Daddy bantu." Satya menawarkan diri membantu anak-anak nya.
Satya dan Duo Kay selesai lebih dulu dari Belva karena barang-barang dua bocah itu tidak banyak. Tidak turun ke bawah tapi mereka tetap menunggu Belva di dalam ruangan itu.
"Sudah selesai ayo..." Ajak Belva.
"Gendong." Pinta Kaila.
"No... Kalian jalan Mami gandeng." Ucap Belva.
"Tapi mau gendong Daddy." Kaila merengek.
"Tidak sayang. Daddy juga baru pulang kerja pasti lelah. Kita jalan sama-sama, oke ?" Bujuk Belva.
"Tidak apa..." Ucapan Satya terpotong oleh Belva.
"Jangan biasakan mereka menjadi anak yang manja Dad. Tolonglah." Ujar Belva.
"Iya... Iya... Oke Baiklah, Mami selalu benar." Ujar Satya.
"Kita jalan sama-sama saja ya anak-anak Daddy." Ucap Satya pada Duo Kay.
Padahal Satya tak merasa lelah jika hanya untuk menggendong kedua anaknya itu. Tapi Belva tetap Belva yang kekeuh pada peraturan dirinya untuk mendidik Duo Kay. Semenjak kehadiran Satya anak-anak itu sudah mulai berubah sedikit manja. Berbeda dengan dulu yang selalu mandiri dan mengerti keadaan.
Keempat manusia itu turun dari lantai dua dengan dua bocah berada di tengah diapit dan digandeng oleh kedua orang tua mereka. Persis sekali sudah seperti keluarga harmonis dan bahagia.
Belva tak lagi menolak apa yang Satya lakukan saat ini. Dirinya membiasakan diri akan kehadiran Satya di kehidupan mereka terutama di kehidupan Belva sendiri. Tak bisa dipungkiri jika Satya memang akan selalu berada disekitarnya.
****
To Be Continue...
Perlahan tapi pasti ya Satya... bersabarlah Om 🤭
Hallo my dear para readers ku. Terima kasih banyak masih tetap setia support dengan komentar, like bahkan gift serta vote kalian. Semoga kalian selalu sehat dan dimudahkan segala sesuatunya karena kebaikan kalian. Amiinn.
Terima kasih banyak 🙏🙏
__ADS_1