Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 37. Tumbang


__ADS_3

Bella menatap kepergian customer itu dengan senyum mengejek. Sedangkan Belva hanya menggelengkan kepalanya saja. Merasa tak habis pikir kenapa ada orang seperti itu di muka bumi ini.


Bertindak tanpa berkaca. Bertindak tanpa berpikir. Sungguh memalukan diri sendiri. Belva berharap agar dirinya tak pernah lepas kendali untuk melakukan hal serupa.


"Cih jika tidak punya uang seharusnya jangan berlaku seperti itu. Memalukan." Ucap Bella.


Belva tersenyum pada Bella. "Sudahlah. Yang penting sudah selesai kita tak lagi berurusan dengannya. Blacklist dari daftar customer kita. Apa yang dia lakukan sudah fatal." Ucap Belva dengan tegas.


Bella mengangguk setuju akan perintah yang diberikan Belva. Belva kembali bekerja, ia disibukkan dengan merancang gaun pengantin putri Nyonya Dimitri. Ia akan melakukan yang terbaik untuk gaun pernikahan itu.


Waktu terus berjalan, pekerjaannya di butik semakin banyak dan membuatnya semakin sibuk. Ia tak menyangka dengan berjalannya waktu, pesanan demi pesanan kembali berdatangan untuk butiknya sendiri. Hingga beberapa pesanan butik de'La Hector kembali di serahkan Belva pada Fransy.


Pesanan itu datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Mereka yang dari luar negeri adalah teman-teman dari Nyonya Dimitri bahkan tidak hanya itu saja rupanya promosi dari mulut ke mulut juga secara tak sengaja dilakukan oleh Nyonya Dimitri dan juga teman-temannya. Tak sengaja karena saat mereka menggunakan gaun rancangan Belva yang memang cantik dan indah itu membuat orang-orang di sekitar mereka melirik dan tertarik. Keinginan tahuan timbul hingga pertanyaan di mana gaun itu bisa didapatkan.


Belva dan juga semua pegawai butiknya bekerja secara maksimal dan juga kompak. Ditambah lagi sejak pajangan gaunnya bisa laku terjual, Belva kembali mengisi manekinnya dengan gaun-gaun rancangan nya yang baru. Kini bagian depan butiknya cukup banyak berisi gantungan pakaian tidak hanya gaun pengantin saja tapi juga busana yang lain mulai hadir di butik itu. Banyak dress berbagai macam model, mulai dari yang formal hingga santai. Tak hanya itu pakaian pria dan anak pun kini Belva tambahkan di butiknya.


Semakin ramai, hingga Duo Kay lebih sering pulang sekolah ke butik. Budhe Rohimah pun ikut membantu butik yang Belva kelola. Mereka satu keluarga dengan kompak mengurus butik Evankay.


"Nona, apa tidak sebaiknya kita kembali mencari pegawai untuk menjaga butik di depan." Saran Bella.


"Kamu benar, kita tak bisa melakukan semuanya sendiri. Cari empat orang untuk menjaga butik di depan." Saran Bella bisa diterima oleh Belva.


"Baik Nona, segera saya buka lowongan itu. Apakah Nona sendiri yang akan mewawancarai mereka ?"


"Tidak. Kamu saja, aku percaya kamu bisa memilih orang-orang yang tepat untuk butik kita. Cari mereka orang-orang yang jujur, bertanggung jawab, sopan dan ramah. Oh iya perhatikan juga penampilan mereka karena mereka yang menjaga di garda depan tentu setiap hari akan bertemu dengan para customer." Ucap Belva.


"Baik Nona. Bagaimana penampilan yang anda inginkan ?"


"Standard dan yang jelas harus rapi dan sopan." Jawab Belva.


Bella melakukan semua perintah yang Belva inginkan. Baru saja Bella membuka lowongan langsung saja sudah ada beberapa yang menanyakannya. Syarat yang dipasang saat ini tidak terlalu berat bahkan lulusan SMP pun bisa masuk yang terpenting mereka bersikap sesuai yang Belva katakan pada Bella.


Disaat mencari pekerjaan sangat sulit, tentu syarat yang tak terlalu sulit itu pasti akan banyak diserbu oleh para pejuang amplop coklat dan pakaian hitam putih.


Dengan waktu yang sudah ditentukan Bella menghubungi mereka yang sudah mengirimkan surat lamaran melalui email.


Tak menunggu berlama-lama, tiga hari kemudian Bella masih duduk di ruangannya. Hari itu adalah hari yang ditentukan untuk melakukan tes wawancara bagi para pelamar. Sesuai dengan perintah Belva bahwa pemilik butik Evankay tidak akan ikut campur dalam penerimaan karyawan. Wanita muda itu sudah percaya akan kemampuan Bella dalam memilih karyawan.


Beberapa gadis datang dan duduk menunggu di sofa depan butik. Mereka menunggu giliran untuk melakukan wawancara bersama Bella. Ada perasaan gugup dan deg-degan yang menghampiri mereka. Hal yang wajar bagi para pelamar pekerjaan.


Waktu wawancara hanya membutuhkan sekitar tiga jam untuk dua puluh pelamar. Butik Evankay masih butik baru, berbeda dengan perusahaan besar yang pasti akan lebih banyak yang melamar.


Menunggu beberapa Bella memilih dan menimbang semua peserta yang dirasa sesuai kriteria yang diinginkan oleh Belva. Untuk ke empat peserta yang harus tinggal mereka lah yang terpilih.


****


Satya tak kalah sibuk saat ini, berbagai urusan pekerjaannya masih saja terus menanti. Kerjasama yang dilakukan dengan banyak perusahaan membuatnya juga sulit meluangkan waktu. Pertemuan demi pertemuan dengan beberapa kliennya memenuhi jadwalnya setiap hari.


"Bagaimana Jordi, kamu sudah mulai menyelidiki FF Group ?" Tanya Satya.


"Sudah Tuan. Saya menyuruh seseorang untuk masuk ke dalam perusahaan itu. Memang posisinya tak penting di sana. Karena belum ada posisi penting yang sedang kosong. Tapi setidaknya kita bisa terus mengawasi mereka." Ucap Jordi.


"Baiklah. Lakukan saja tak masalah asala kita tetap bisa terus mendapatkan informasi dari orang mu."


"Mengenai arsitek andalan Hector Group, apakah ada perkembangan darimu ?" Tanya Satya kembali.


"Kalau untuk itu maaf sekali Tuan. Saya masih belum bisa. Perusahaan itu benar-benar sangat ketat. Bagaimana jika kita meminta secara langsung saja untuk bertemu dengan orang itu ?"


"Sudah sempat kuutarakan tapi Tuan Roichi tak memberikan jawaban sama sekali." Ucap Satya.


Jordi tampak berpikir kenapa pihak Hector seakan tak ingin orang lain mengetahui salah satu karyawannya. Pasti ada sesuatu yang sangat penting hingga mereka seakan enggan.


"Kita terus saja coba untuk membujuknya Tuan. Disaat-saat pertemuan untuk membahas proyek resort itu."


"Besok akan ku coba lagi untuk membujuknya."


Saat membahas mengenai Hector Group, Satya selalu saja teringat akan wanita yang telah menjadi istri asisten pemilik Hector Group. Wanita itu entah mengapa selalu menyangkut dipokirannya.


Pembahasan telah selesai dengan asistennya sendiri, kini beberapa tumpuk berkas masih menanti untuk diperiksa kembali.


Tak terasa malam telah tiba, dia pulang bersama dengan Jodi. Rasa lelah selalu menyerangnya karena tak henti-hentinya pekerjaan menghampiri. Sudah menjadi tanggung jawabnya diberikan rejeki materi yang berlimpah dengan perusahaan yang berkembang. Terkadang pria itu hanya mendesah pelan dengan helaan nafas panjang untuk mengekspresikan rasa lelahnya.


"Pulanglah, jangan lupa jemput tepat waktu." Ucap Satya sebelum keluar dari mobil. Jordi mengangguk paham.


Sambutan datang dari Mbok Yati karena wanita lanjut usia itu yang telah membukakan pintu.


"Selama malam Tuan. Anda akan langsung makan malam ? Biar saya panaskan makanan kembali."


Satya mengangguk. "Saya ke kamar bersih-bersih dulu."


"Baik Tuan."


Mbok Yati berlalu ke dapur saat melihat Tuannya melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Hari sudah melewati jam makan malam, maka dari itu Mbok Yati menawarkan makan malam yang sudah berlalu dua jam yang lalu.


Anggota keluarga Satya yang lain sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing setelah makan malam usai. Sangat jarang sekali mereka melakukan kegiatan seperti kumpul bersama di ruang keluarga atau bercerai bersama sembari menonton televisi.


Pintu kamar Satya buka, di dalam tampak samg istri sudah berada di atas ranjang dengan bersandar di kepala ranjang. Tangan dan matanya sibuk dengan kawan setianya. Ponsel dengan layar lebar dengan logo setengah buah apel memang selalu menjadi kawan setia Sonia kala di dalam rumah.


"Kamu sudah pulang Dad ?" Tanya Sonia membuka suara saat melihat suaminya memasuki rumah.


"Hmm..." Satya hanya berdeham sebagai jawaban.

__ADS_1


Diletakkannya jas di sandaran sofa lalu duduk untuk melepas sepatunya. Tak ada lagi percakapan diantara sepasang suami istri itu. Sonia tak lagi menanggapi suaminya, ia sibuk dengan ponselnya. Satya membuka kemeja dan juga celana panjangnya. Pria itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan celana boxernya. Saat Satya memasuki kamar mandi sepintas Sonia melirik suaminya.


Tak butuh waktu lama untuk Satya menyelesaikan mandinya. Dia masuk ke dalam masuk ke dalam walk in closed. Meski di dekat ranjangnya terdapat satu lemari yang juga berisi pakaiannya, tapi pria itu lebih memilih ruangan khusus pakaian untuk berganti baju.


Tubuh dan rambutnya masih sedikit basah, bahkan tetesan air masih mengalir di punggung dan dada kekarnya. Selembar handuk menutupi bagian bawahnya hingga lutut. Aroma sabun yang begitu harum menguar dari tubuhnya.


Mulai dari keluar kamar mandi hingga memasuki walk in closed, aroma wangi segar itu mengganggu konsentrasi Sonia dari kesibukannya mengotak-atik ponsel. Wanita cantik dengan kulit hampir tanpa keriput, dada serta bokong yang terlihat kencang dan besar efek dari operasi kecantikan itu turun dari ranjang.


Diikutinya sang suami yang masuk ke dalam ruangan yang tertata banyak pakaian dengan berbagai model serta beberapa kaca menghiasi ruangan tersebut.


Satya meski telah berumur tapi wajah dan tubuhnya masih sangat bagus dan menarik untuk kaum wanita. Pria itu benar-benar menjaga penampilannya. Sebagai pemilik perusahaan besar dengan banyak uang tak mungkin dia tak memperhatikan penampilannya.


Tatapan kagum Sonia tujukan pada tubuh Satya dari arah belakang. Satya menggunakan handuk kecil untuk mengusap rambutnya agar air tak lagi menetes. Sonia mendekati suaminya meski masih ada sisa air yang menempel di tubuh Satya ia tak perduli. Wanita itu memeluk suaminya dari belakang.


Satya sedikit terkejut karena fokusnya mengeringkan rambut terganggu. Pandangan matanya beralih pada tangan dengan kuku jari yang cantik utu telah menempel pada perut dan dada bidangnya.


"Dad..." Panggil Sonia dengan suara manja dan lembut.


"Hmm..." Kembali hanya sahutan dingin Satya berikan untuk Sonia.


Mendengar suaminya tak merespon dengan hangat. Ia memilih untuk menghangatkan suasana. Tangannya mulai bergerak secara perlahan menyusuri kulit tubuh Satya. Perut dan dada bidang itu menjadi objek untuk Sonia telusuri. Gerakan abstrak Sonia berikan tak lupa kecupan untuk punggung suaminya dilabuhkan oleh Sonia.


"Sayang, aku sangat merindukanmu." Kini nada suara Sonia sudah tak normal lagi. Terdengar sensual ditelinga Satya. Bersamaan dengan itu tangan Sonia tak canggung menyentuh benda penting Satya. Dengan perlahan dan lembut Sonia mengusapnya.


Satya lelaki normal yang pasti akan merespon secara alamiah jika mendapat perlakuan dan gerakan seperti itu. Mata pria itu terpejam merasakan hal tersebut. Dalam hatinya mengumpat karena bendanya sudah mulai on.


"Sonia..." Suara itu sudah mulai terdengar berat dan parau.


"Yes sayang. Aku di sini. Kamu tak merindukan sentuhan ?" Pertanyaan dengan nada menantang. Seiring dengan gerakan tangan yang semakin intens.


Satya terus memejamkan mata merasakan apa yang kini ia rasakan. Sentuhan yang jarang sekali didapatkannya karena Sonia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Libidonya semakin meningkat, dia nikmati rangsangan yang istrinya berikan.


Tak tahan pria itupun membalikan badan, dengan gerakan cepat meraih tengkuk sang istri dan ******* bibir milik Sonia, tak lama bibir itu berilah pada leher Sonia.


Selesai menyapukan bibirnya, dia menatap wajah Sonia dengan kabut penuh gairah. Dipandang pula tubuh Sonia yang menggunakan baju tidur yang terbilang seksi. Dada kenyal dan big size akibat operasi di dokter kecantikan itu terlihat menyembul.


Semakin bergairah lah Satya melihat tubuh seksi milik istrinya. Meski rumah tangga mereka tak harmonis, tapi kebutuhan biologis itu tetap mereka butuhkan bukan ? Satya tak pernah menyalurkan semua itu pada wanita lain. Ia tak ingin mengotori tubuhnya dengan sentuhan wanita lain.


Keduanya sama-sama telah bergairah, entah bagaimana keduanya dengan cepat telah tampil polos. Masih berada di ruangan itu Satya mencumbu istrinya. Sofa yang ada di ruangan itu mereka gunakan untuk kegiatan mereka.


Tubuh Satya yang tadinya masih basah akibat air sehabis mandi kini berganti dengan air keringat. Meski tak lagi muda Satya masih sama seperti anak muda dalam hal seperti ini. Mampu membuat Sonia kewalahan mengimbangi suaminya.


Kini mereka telah berpindah tempat di ranjang besar mereka. Pergulatan masih berlanjut, bahkan Satya mengabaikan makan malamnya.


Tok... Tok... Tok...


"Tuan, makan malam sudah siap." Mbok Yati yang merasa Tuannya tak kunjung turun pun berniat mengingatkan tanpa diketahuinya kini majikannya sedang sibuk berolahraga.


"Sayanghh... Aaahh... Itu ada Mbok Yati sepertinya." Sonia mengingatkan Satya yang masih bergerak dengan tenaga yang masih kuat.


Pria itu tak lagi memikirkan makan malamnya. Kini yang dia pikirkan adalah kebutuhan terpentingnya saat ini. Jarang sekali mendapatkan haknya yang ini membuatnya mengabaikan hal yang lain.


Sonia hanya pasrah saja jika Satya sudah seperti itu. Tugasnya saat ini hanya melayani apa yang Satya inginkan. Semua perintah Satya malam ini diturutinya. Hingga tengah malam sebenarnya Sonia sudah lelah dan mengantuk tapi ia paksakan untuk tetap terjaga melayani suaminya yang masih on.


Perlahan tenaga Satya melemah, terkuras akibat olahraga malamnya. Dibaringkan tubuhnya di samping sang istri. Sonia yang sudah kelelahan, ia mendekat pada tubuh Satya dan memeluk tubuhku buh suaminya dengan manja.


"Kamu kelelahan ?" Kini suara Satya terdengar lembut. Sonia merasa senang dengan nada suara seperti itu, ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Hmm... Sangat lelah." Dengan manja pula Sonia menjawabnya. Satya mengecup kening Sonia yang terasa sedikit basah akibat keringat.


Satya yang biasanya dingin dan datar kini berubah lembut dan romantis seakan penuh cinta. Pria itu terbawa suasana, ya... Suasana yang selalu diharapkannya dalam menjalani rumah tangganya.


"Istirahatlah." Ucap Satya lembut.


****


Di saat Satya sibuk menikmati keromantisannya bersama sang istri. Berbeda dengan seorang wanita muda yang kini tengah merasa tak nyaman.


Tubuhnya mengigil dan kulit tubuhnya sudah mengeluarkan titik-titik air keringat hingga semakin lama semakin deras. Bahkan sebagian bajunya telah merembes basah akibat keringat.


"Nyonya jangan... Saya mohon..." Suara lirih itu keluar dari bibir wanita itu.


Wajah cantiknya kini telah pucat dan basah dengan keringat. Belva tengah malam kini menggigil dan ia merasa ketakutan. Seakan nyata yang tengah ia mimpikan saat ini.


Rintihan itu terdengar dan terasa pilu. Tubuhnya masih bergetar, mimpi itu semakin lama semakin membuatnya sesak.


"Saya mohon... Jangan bunuh saya." kembali kalimat lirih itu terdengar.


Bella yang malam terbangun, ia merasa tenggorokannya kering. Keluar dari kamar ia mengambil air ke dapur. Rasanya begitu lega kala air sudah membasahi tenggorokannya.


"Jangan... !!! Jangan... !!!"


Suara itu terdengar sedikit kencang di pendengaran Bella.


"Suara siapa itu ?" Gumam Bella.


Ada rasa takut dalam diri Bella kala mendengar suara itu di tengah malam. Tapi ia penasaran, suara itu masih terdengar olehnya.


"Dari kamar kak Vanthe." Gumam Bella.


Bella dengan cepat melangkah ke kamar Belva. Ia takut terjadi hal yang buruk terhadap ibu si kembar anak asuhnya. Diketuk kamar belva tapi tak juga kunjung dibukakan. Suara itu masih terus terdengar seperti orang ketakutan. Bella mendorong knop pintu. Untung tak terkunci, ia bisa masuk.

__ADS_1


"Tolong jangan bunuh saya." Suara itu kembali lirih dengan isakan lirih.


"Tolong... Jangan...!!! Jangan...!!!"


Teriakan Belva membuat Bella terkejut saat memperhatikan ibu muda itu. Ia berjalan cepat mendekati Belva. Dilihatnya wajah cantik itu sudah basah dengan keringat.


"Astaga kak Vanthe. Dia mengigau seperti orang ketakutan."


"Kak... Bangun kak." Bella menggoyangkan bahu Belva. Bahu itu terasa basah.


"Ya ampun keringatnya sampai membasahi bajunya."


"Kak... Kak Vanthe bangun. Hei.." Bella kini menepuk pipi Belva. Terasa suhu tubuh Belva berbeda dari biasanya.


"Jangan... Saya mohon..." Belva masih saja merintih memohon dalam mimpinya.


Bella terus berusaha membangunkan dan menyadarkan Belva. Hingga wanita itu terbangun, matanya sangat terlihat sekali menyorotkan ketakutan.


"Kak..."


"Bella..." lirih Belva.


Belva seperti orang bingung, matanya memindai ke sana kemari seperti mencari sosok yang ada di dalam mimpinya.


"Kak, kamu tidak apa-apa ? Kamu mimpi buruk ? Tubuhmu sepertinya demam." Ucap Bella.


"Mimpi ?" Berusaha mengingat apa saja yang baru saja terjadi dengan mata yang masih waspada dan napas yang tak beraturan.


"Iya kamu mimpi sampai mengigau dan berteriak-teriak. Sepertinya mimpimu buruk sekali."


"Suhu tubuhmu juga tinggi. Kamu demam, wajahmu pucat sekali." Ucap Bella.


"Badanku terasa tak enak sejak sore tadi." Ucap Belva dengan nada lirih.


Tubuhnya terasa lemas, terlebih mimpi itu membuatnya semakin membuatnya lemah. Ia pun merasakan tubuhnya sangat panas di dalam tapi juga merasa kedinginan.


"Kak Vanthe minum dulu." Bella mengambil air minum Belva yang ada di atas nakas dan menyodorkan pada Belva.


"Sebentar aku ambilkan obat. Tidurlah kembali."


Bella pergi keluar mengambil obat dan juga air untuk mengompres Belva. Setelah Bella pergi Belva tak bisa memejamkan matanya meski mata itu juga terasa panas akibat suhu tubuhnya yang panas.


"Aku hanya mimpi ? Ia akan membunuhku tapi itu hanya mimpi." Batin Belva.


Bella kembali masuk kedalam kamar Elva dengan membawa beberapa benda. Ia duduk di ranjang Belva. Meletakkan baskom dan juga handuk kecil di atas nakas.


"Kak, maaf obat di kotak p3k habis. Aku kompres saja ya." Ucap Bella. Belva hanya bisa mengangguk lemah.


Bella meletakkan handuk kecil yang telah basah di atas kening Belva. Karena mata yang terasa panas maka Belva memutuskan untuk memejamkan matanya. Hingga lama kelamaan ia tertidur masih dengan tubuh mengigil. Bella dengan telaten mengompresnya Belva, rasa kantuknya mendadak hilang saat mengetahui Belva sedang sakit.


Melihat Belva sudah tertidur, Bella masih saja mengompresnya karena suhu tubuh Belva belum juga turun. Baru beberapa menit tertidur, ibu muda itu kini kembali mengigau.


"Jangan... Tolong jangan lakukan..."


"Saya mohon ampuni saya."


Suara-suara lirih dari Belva membuat Bella mengernyitkan pusat dahinya. Ia mengamati wajah Belva yang kembali berkeringat dengan deras.


"Seburuk itukah mimpinya ?" Gumam Bella.


Tak lama Bella melihat Belva terisak dalam tidurnya. Air mata Belva bahkan bisa menetes di ke dua sisi kelopak matanya. Itu membuat Bella semakin penasaran akan mimpi apa yang sedang berkecimpung dalam tidur wanita cantik di depannya.


"Kak... Hei... Bangunlah kamu bermimpi buruk lagi." Bella tak tega melihatnya teriak dalam tidur. Kembali pipi Belva ditepuk pelan oleh Bella agar terbangun.


Mata yang tadi terpejam kini terbuka kembali, napasnya masih naik turun rasanya sesak yang Belva rasakan. Lagi-lagi ia tersadar jika itu hanyalah mimpi tapi masih saja merasa mimpi itu seperti nyata.


"Kak, seburuk apa mimpimu itu ?" Tanya Bella.


"Dia..." Ucapan Belva tak dilanjutkannya, justru kedua bola matanya sibuk memindai sekelilingnya. Mimpi itu memang menghampirinya tapi seperti nyata baginya.


"Dia siapa kak ?" Tanya Bella yang penasaran menunggu cerita akan mimpi yang diyakini buruk olehnya.


"Kepalaku pusing." Ucap Belva. Ia tak melanjutkan kata-katanya. Rasa pusing itu mengalihkan fokusnya.


Bella yang mendengar kata-kata lirih itu tak tega, wajah pucat itu masih mendominasi. Tak kalah keringat yang masih menempel membuat Bella tak tega. Ia mengurungkan niatnya menanyakan mimpi seperti apa yang sudah membuat Belva merasa ketakutan dalam tidurnya.


"Ya sudah, tidurlah kak agar pusingmu hilang. Aku akan mengambilkan air untuk mengompres kembali."


Belva kembali menutup matanya, dalam kelemahannya saat ini ia berharap mimpi itu tidak lagi menghampirinya. Bella tak lagi memikirkan mimpi yang dialami Belva, ia pikir itu wajar terjadi karena saat ini kondisi tubuh Belva yang sedang demam tinggi sehingga mempengaruhi alam bawah sadarnya.


Sejak keputusan untuk menetap di Indonesia, membuat Belva bekerja lebih keras mengurus serta mengembangkan butiknya. Demi hidup bersama sang Budhe yang notabene adalah keluarga kandung satu-satunya.


Butik yang sedang dikelolanya kini semakin hari semakin berkembang lebih baik. Banyaknya pesanan yang masuk membuatnya sedikit kerepotan. Apalagi semenjak kedatangan klien yang paling royal dan setia sejak dulu di butik Mamanya. Pesanan semakin banyak hingga membuat Belva menguras tenaga dan pikirannya demi kepuasan para customernya. Keinginannya memberikan yang terbaik tapi tubuhnya saat ini tak menyupportnya dengan baik akibat kelelahan hingga akhirnya tumbang.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.

__ADS_1


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2