Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 215. Balas Dendam Dimulai


__ADS_3

"Minggir."


Jordi justru mengangkat satu alisnya menatap remeh pada Bella. Tak mendapatkan respon sesuai keinginannya membuat Bella mendorong tubuh Jordi dengan sekuat tenaga. Dorongan yang hanya mampu menggerakkan sedikit saja tubuh Jordi, pria itu kemudian memilih untuk berdiri.


Bella menatap Jordi dengan tatapan yang tak ramah sama sekali. Napas Bella terlihat sedikit naik turun, ia menahan emosi dan rasa kesalnya.


"Sudah ku katakan, aku tak perduli dengan apa yang terjadi pada kalian. Kenapa kamu justru mengintimidasi ku. Melarang membuka pintu itu hah?!"


"Selesaikan masalahmu jangan membawaku untuk ikut terjebak dengan permasalahan kalian."


Bella akhirnya meluapkan rasa kesalnya yang tertahan sejak tadi.


"Jangan membentak ku, Nona. Bersikaplah hormat pada orang yang lebih tua padamu."


"Bersikap hormat? Jangan mengajariku sopan santun ya bujang lapuk. Ajari saja dirimu sendiri."


Emosi Jordi semakin meningkat kala mendengar julukan yang selalu tak ingin ia dengarkan dari mulut Bella. Tangan besar itu mencapit kedua pipi Bella tanpa sadar.


"Lepas!!" Bentak Bella.


Plak!!!


Satu tamparan Bella layangkan pada salah satu wajah Jordi. Tamparan yang cukup keras dari Bella, wanita itu berusaha mempertahankan dirinya dari hal-hal yang menurutnya membahayakan dirinya. Bahkan setelah menampar wajah Jordi, Bella pun mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga hingga Jordi terjatuh di atas sofa kembali.


"Aku benci padamu. Aku benci pria yang tak bisa menghormati wanita!"


Bella langsung membuka kunci pintu, ia tak perduli apakah wanita hamil yang telah dihindari Jordi itu masih berada di depan pintu atau tidak. Saat ini yang jelas Bella ingin segera pergi dan bersumpah tak ingin bertemu dengan Jordi kembali.


"Kurang ajar. Siyalan si pria bujang lapuk itu. Aku bersumpah aku sangat membenci pria itu." Gumam Bella dalam hati.


Ia terus mengumpat meluapkan kekesalan hatinya. Bella berjalan cepat keluar kantor dan pergi menggunakan mobilnya menuju butik.


Di belahan negara lain sana seluruh keluarga merasakan kebahagiaan yang tak kunjung pudar. Kelahiran bayi laki-laki yang menggemaskan dan tampan itu membuat beberapa kolega dari keluarga Hector terus berdatangan mengucapkan turut berbahagia atas kelahiran cucu pemilik perusahaan besar di Asia dan mancanegara itu.


Beberapa teman lama Belva di negara itupun pun turut menjenguk bayi tampan itu. Bukti bahwa keluarga Hector memang keluarga yang cukup terpandang, banyak memiliki dukungan dan koneksi yang cukup kuat di negara tersebut.


Keadaan keluarga kecil Satya berangsur kembali seperti semula tapi terasa sedikit mengganjal ketika teringat batu kerikil sumber permasalahan dalam keluarga mereka belum juga terselesaikan. Satya merencanakan untuk kembali ke tanah air tapi keadaan sang anak yang masih terlalu kecil tak memungkinkan bagi Satya untuk membawa kembali anak dan istrinya ke Indonesia.


"Anakmu sudah lahir bagaimana rencanamu selanjutnya kalian mau menetap di sini saja?"


"Menetap di sini itu tidak mungkin karena sudah terlalu lama saya meninggalkan perusahaan. Beberapa hari kedepan saya berencana pulang ke Indonesia."


"Bersama anak dan istri mu? Cucuku bahkan saat membuka matanya dia belum bisa melihatku dengan jelas lalu kamu akan membawanya pergi."


"Tidak, Pa. Belva dan anak-anak tetap berada di sini sampai keadaan sudah benar-benar pulih dan aman. Saya tidak mau kehidupan keluarga saya terganggu lagi. Saya akan mengurus semuanya hingga tuntas lebih dulu."


"Baguslah berikan Papa kesempatan lebih banyak untuk bermain bersama mereka terutama dengan cucu baruku itu."


Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan Tuan Hector. Ia tahu mertuanya itu sangat menginginkan mereka untuk tinggal bersama tapi semua tidak mungkin Satya lakukan. Kehidupannya sebenarnya berada di Indonesia bukan berada di negara itu.


Sebelum kembali pulang Satya benar-benar berperan sebagai seorang ayah yang siap siaga. Cukup beruntung Belva bersuamikan Satya karena pria itu bersedia menggantikan dirinya menjaga bayi mereka tanpa ia meminta pada pria itu.


Satya rela bergadang tengah malam sembari mengerjakan pekerjaan nya. Jauh berada di negara tersebut membuatnya tetap harus terus mengontrol perusahaannya meski sudah ada Jordi yang sangat dipercayai nya.


"Mas, kamu belum tidur?"


"Sayang? Ada yang kamu butuhkan?"


"Tidak aku hanya ingin ke kamar kecil saja. Kenapa belum tidur ini sudah larut malam. Baby juga sedang tidur."


"Pekerjaan Mas masih belum selesai, sayang. Pergilah ke toilet lalu kembali beristirahat lah."


Belva mengangguk kecil, ia memang merasa panggilan alam sudah sangat mendesak dirinya hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Sesaat setelah menuntaskan panggilan alam nya Belva tak kembali tidur melainkan menghampiri sang suami dan duduk di samping suaminya.


"Sayang, jaga kesehatan mu. Ayo kita tidur ini sudah larut malam." Ajak Belva.


Satya memalingkan wajahnya ke arah istri cantiknya. Pria itu tersenyum manis dan merangkul pundak istrinya dengan lembut.


"Kamu tahu? Memiliki mu adalah anugerah terindah dan menjadi sumber kebahagiaan saya. Kamu istri yang baik dan cantik, kamu melengkapi kebahagiaan saya dengan memberikan si kembar, merawat baby As dan baby boy baru kita."


Belva pun memeluk suaminya dan meletakkan wajahnya di dada kekar suaminya. Ia tersenyum mendengar kalimat Satya. Ia pun merasakan kebahagiaan yang sama dengan sang suami. Memiliki keluarga kecil dengan banyak anak di usia nya yang masih muda tak pernah terpikirkan dan direncanakannya justru itu menjadi kejutan dalam hidupnya yang Tuhan berikan kepadanya.


"Aku pun tak pernah menyangka akan merasakan kebahagiaan seperti ini. Terimakasih kamu sudah berusaha menjadi suami dan Daddy yang baik untuk kami, Mas."


"Saya akan terus memberikan yang terbaik untuk kalian. Semua akan saya lakukan apapun itu demi kalian bahkan jika harus bertaruh nyawa sama seperti mu untuk anak-anak kita, sayang."


"Hmmm... Baiklah ayo kita tidur, Mas."


"Tidurlah lebih dulu. Memiliki banyak anak membuat saya harus berkerja keras, sayang." Ucap Satya dengan nada bergurau.


Belva tersenyum semakin lebar mendengar ucapan Satya. Sebenarnya memang bukan sekedar gurauan tapi itu memang kenyataan bahwa Satya harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecilnya.


Usia yang semakin lama semakin menua dengan anak-anak yang masih kecil mendorong Satya untuk memberikan yang terbaik. Secara pikiran kasar, dia memikirkan bahwa sebelum dirinya pergi semua kebutuhan istri dan anak-anaknya tetap tercukupi.


Keberangkatan Satya kembali ke Indonesia sudah dibicarakan dengan matang bersama keluarga. Belva pun mendukung penuh dan memberikan kepercayaan penuh pada Satya untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa keluarga mereka. Berbeda dengan Belva, Nyonya Hector justru masib sedikit ragu dengan sang menantu. Keraguan Nyonya Hector menimbulkan sebuah ultimatum kepada Satya. Di hadapan Nyonya Hector, Satya memang tak bisa berkutik karena akibatnya tak main-main.


"Ingat! Pulang dan bereskan semuanya. Jika tidak sesuai ekspektasi Mama lihat saja nanti. Kamu yang akan selesai di tangan Mama."


Semua menatap ke arah Nyonya Hector yang saat ini berwajah serius. Satya terdiam tak berani menyela saat Mama mertuanya berbicara.


Belva dan Tuan Hector saling tatap saat selesai mendengarkan ultimatum dari wanita tersayang mereka. Tuan Hector tampak menghendikan bahunya seolah tak ingin mencegah sang istri yang tengah menekan Satya dengan kalimat bernada kewaspadaan bagi Satya.


"Ma... Percayalah Mas Satya bisa menyelesaikan semuanya. Kita hanya perlu memberikan dukungan saja."


"Klo untuk menyingkirkan wanita gila itu Mama akan mendukung penuh tapi awas saja kalau justru main gila dengan wanita itu." Tatapan Nyonya Hector menatap tajam pada Satya.


"Saya tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu, Ma. Belva dan anak-anak adalah segala nya untuk saya jadi saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh istri saya."

__ADS_1


"Bagus kalau begitu. Pergilah selesai kan semuanya. Putri dan cucu Mama tetap akan berada di sini sampai Mama dengar kabar baik."


"Maksud Mama aku dan anak-anak jadi jaminan begitu?"


"Yaaa iya seperti itu. Tapi ini semua demi kebaikan kamu sayang. Mama tidak rela kamu tersakiti."


Tuan Hector menggelengkan kepala, saking sayangnya sang istri dengan putri mereka hingga berkelakuan sedikit konyol. Tapi tak apa dia pun mendukung hal konyol yang dilakukan oleh istrinya.


"Jadinya kapan kamu pulang, Sat?"


"Besok pagi, Pa. Jordi telah mengatur semuanya. Kita tidak bisa menunda lagi. Wanita itu semakin membuat kacau di perusahaan."


Hari yang telah dinantikan oleh Satya untuk kembali ke Indonesia telah tiba. Pria itu telah sampai di bandara. Pesawat jet pribadi yang akan dia gunakan telah disiapkan. Belva dan yang lain mengantar kepergian Satya.


"Daddy, kapan kembali lagi ke sini?" Tanya Kaila.


"Secepatnya, sayang. Nanti setelah urusan pekerjaan Daddy selesai Daddy akan menjemput kalian."


"Kenapa sekarang kami tidak boleh ikut?" Tanya Kaili.


"Karena belum saatnya. Adik kalian masih kecil jadi tidak memungkinkan untuk diajak bepergian yang jauh."


"Ueh... Ueh... Ehh..." Suara Baby As dengan tangan dan kaki bergerak-gerak menggeliat.


Bayi laki-laki itu hendak meminta ikut dengan Daddy nya seakan tahu jika Daddy nya akan pergi. Baby As mengulurkan tangannya meminta untuk di gendong oleh Satya. Merasa tak sabar bahkan baby As sudah mulai menangis.


"Eeehh... Eeehh... Hiks..."


"Usshh... Ussh... Iya sayang sabar ya nanti ikut Daddy sebentar." Ucap Belva dengan lembut.


Satya yang tahu jika putra nya sudah mulai tak sabar itu beralih dari si kembar lalu tersenyum melihat tingkah Baby As.


"Sini gendong Daddy sebentar. Kamu mau ikut Daddy hemm?"


Baby As hanya menatap wajah Satya, mendengarkan Daddy nya yang sibuk berbicara dengan dirinya. Tangan mungilnya meraih wajah Satya dan beralih jari mungilnya menyentuh mulut sang Daddy.


"Nanti Daddy akan menjemput mu sekarang ikut dengan Mami dulu ya. Bantu Daddy jaga Mami. Oke boy."


Satya mencium berkali-kali wajah Baby As hingga bayi laki-laki itu berusaha menghindar. Yang awalnya tertawa lama-lama menjadi risih dan tak nyaman. Pada akhirnya bayi laki-laki itu mencari perlindungan Maminya. Belva mengambil alih Baby As dari gendongan Satya.


Berpamitan satu persatu dari keluarga yang setia mengantarkan dirinya hingga yang terakhir dengan mencium dan memeluk sang istri tercinta. Satya sudah masuk ke dalam pesawat setelah berpamitan. Belva dan keluarga masih memperhatikan pesawat yang ditumpangi Satya dari balik kaca transparan bandara.


Kepulangannya masih dirahasiakan hanya Jordi saja yang mengetahui. Satya tak ingin semuanya kacau jika kepulangannya diketahui banyak orang terutama jika Siwi mengetahuinya. Wanita gila itu bisa melakukan hal-hal sesuka dirinya diluar dugaan Satya maupun Jordi.


"Grace, besok aku tidak masuk kerja handle semua pekerjaan."


"Kenapa? Apa ada meeting di luar kota setahuku kamu tak ada jadwal meeting."


"Ada urusan keluarga."


"Bukannya kamu selalu bisa menghandle nya?"


"Menguras tenaga. Lagian kenapa masih di perbolehkan datang ke kantor ini sih."


"Wanita gila itu sebenarnya sudah bukan karyawan di perusahaan ini. Tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana wanita itu."


"Sebenarnya aku tak paham bagaimana kelakuan nya bisa seperti itu. Dia selalu mengejar Tuan Satya dan seringkali mengaku hamil anak Tuan Satya. Jangan-jangan memang benar seperti itu. Selama ini kalian selalu pergi bersama."


Jordi menatap Grace tanpa merespon sedikitpun apa yang diucapkan wanita itu. Semua akan diungkap setelah kepulangan Satya jadi untuk saat ini dia tidak akan mengatakan apapun.


"Sudah kerjakan kembali pekerjaan mu." Ucap Jordi.


Pria itu pergi meninggalkan Grace tanpa mau membahas lebih lanjut perihal permasalahan Satya dan Siwi. Grace memonyongkan bibirnya ke kiri dan kanan merasa sedikit kesal dengan Jordi yang tak menanggapi celotehannya.


Keesokan harinya Jordi memang absend dari pekerjaannya. Pria itu menjalankan tugasnya yang lain untuk menjemput kepulangan bos nya. Namun, tetap jas serta kemeja melekat di tubuh kekarnya.


Mobil sedan berwarna hitam yang jarang sekali dia gunakan itu kini keluar dari garasi untuk menjemput Satya. Alasannya tak lain adalah menghindari hal-hal diluar dugaan. Selama ini Siwi tak henti memgawasi dirinya, wanita itu sangat terobsesi bertemi dengan Satya.


Tak banyak barang yang dibawa oleh Satya saat kembali ke Indonesia, cukup satu koper saja yang berdiri di sampingnya. Pria beranak empat itu sudah menunggu Jordi menjemput di kursi tunggu bandara.


"Selamat sore, Tuan."


Satya sibuk mengamati layar ponselnya saat menunggu kedatangan Jordi tapi ketika suara Jordi menyapa maka pandangan matanya beralih mendongak ke arah Jordi.


"Sore. Sudah kamu atur semuanya?"


"Sudah semuanya, Tuan. Kita langsung pulang?"


"Tidak. Kita ke gudang."


Gudang adalah sebutan yang Satya gunakan untuk satu rumah miliknya untuk menyimpan barang-barang yang sangat penting. Rumah tersebut tak nampak seperti gudang melainkan seperti rumah yang tergolong mewah untuk kalangan menengah ke atas.


Satya tak ingin lagi menunda waktu,dia ingin memastikan secara langsung semua perintah yang Jordi lakukan. Bukan tidak percaya pada sang asisten tapi memang Satya akan merasa lebih puas jika dirinya melihat sendiri hasil kerja Jordi.


"Baik, Tuan. Mari kita kembali ke gudang."


Jordi mengangkat koper Satya ke dalam mobil miliknya. Satya pun tak menunggu Jordi membukakan pintu untuknya, dia masuk sendiri dan duduk di samping kemudi.


Mobil berjalan menuju rumah yang disebut gudang oleh Satya dan Jordi. Sepanjang perjalanan mereka masih saja membahas perihal penyelesaian masalah rumah tangga Satya.


"Semua bukti sudah terkumpul?" Tanya Satya.


"Sudah siap semuanya. Tinggal eksekusi saja."


"Bagus. Lain kali jangan menyumbang kan ide gila seperti ini lagi untuk saya."


Jordi hanya menggaruk belakang kepalanya saja dan merasa bersalah. Tapi sebenarnya tak semua salah Jordi, Satya sendiri pun mengikuti saran dari sang asisten nya. Hanya saja permainan mereka sedikit melenceng dari rencana dan bayangan mereka.

__ADS_1


Sebuah rumah yang tampak sepi tapi tetap terlihat bersih dan terawat. Mobil yang ditumpangi Satya dan Jordi sampai di gudang. Di area depan tampak beberapa orang berjaga tak seperti biasanya.


"Selamat datang, Tuan."


"Hem. Semua aman?" Tanya Satya.


"Aman, Tuan."


Satya dan Jordi berjalan memasuki rumah tersebut. Tampak rapi untuk bagian dalam rumah tidak ada kesan berantakan dan sangat layak disebut sebagai hunian daripada disebut sebagai gudang.


Sebuah ruangan dengan pintu tertutup dan di jaga oleh beberapa orang secara ketat. Salah satu dari penjaga pintu membukakan pintu tersebut untuk Satya dan Jordi. Keduanya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Bunyi kunci pintu yang terbuka serta ketukan sepatu yang berjalan memasuki ruangan, membangunkan seseorang yang ada di dalam ruangan.


Ctek...


Saklar lampu yang terpasang tepat ditengah-tengah itu menyinari seseorang yang tengah tertunduk lesu dengan tubuh terikat dikursi.


Satya menatap pria itu dengan tatapan tajam tapi wajahnya terlihat datar tak berekspresi. Dia diam tak mengeluarkan suara hanya cukup memperhatikan pria yang terikat itu saja.


"Hei!!! Lepaskan aku!!! Bodoh!!"


"Siapa kalian berani mengikatku seperti ini!!!"


"Lepaskan brengsyek!!"


Pria itu terus berteriak tanpa bisa melihat siapa yang datang. Lampu yang tergantung itu hanya menyorot ke arah dirinya saja tidak bisa menjangkau ke arah yang lain.


Satya tetap dalam mode diamnya, sebenarnya pria itu sudah merasa geram dan ingin sekali memukul wajah pria yang sudah terlihat babak belur dihajar oleh anak buahnya.


"Hhhaaaaaahhh!!! Hei apa kamu tuli!! Lepaskan aku brengsyek!!!"


"Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa kamu hah?!!!"


"Jika kamu berani satu lawan satu jangan hanya bisa keroyokan seperti ini!!"


Pria itu terus saja mengoceh dan berteriak hingga napasnya terlihat naik turun. Satya tersenyum sinis mendengar ucapan pria itu. Musuh yang selama ini menjadi dalang untuk menghancurkan dirinya.


Rahang Satya mengeras mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pria itu seolah sok jago. Kenyataannya hanyalah seorang pecundang yang menjadi penyakit bagi kehidupan keluarganya.


"Nyalakan lampunya." Ucap Satya.


Pria itu mendadak terdiam dan kaku saat mendengar suara Satya yang tak asing bagi pendengarnya.


Tak... Tak... Tak


Semua lampu menyala di ruangan yang ternyata cukup besar. Kedua bola mata pria itu mendadak membulat lebar saat melihat siapa sosok yang ada di depannya.


Satya masih berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celananya. Tatapannya hanya tertuju pada wajah tawanannya.


"Brengsyek!! Kamu rupanya!! Akan kubunuh kamu brengsyek!!!"


"Hentikan. Mundur." Ucap Satya saat anak buahnya hendak maju untuk menghajar pria yang menjadi tawanan mereka.


Pria itu adalah Fahmi seorang yang cukup lama dikenal oleh Satya, pria yang menjadi pelaku atas penculikan Kayla beberapa waktu lalu dan juga dalang dari seluruh masalah yang selama ini kerap menghampiri Satya.


"Seberani itu kah kamu, Fahmi? Cih... Pria pecundang yang hanya menggunakan para kacung bod*ohnya untuk menghancurkan ku."


"Lepaskan dia." Titah Satya.


"Tapi Tuan..." Jordi ragu menjalankan perintah Satya.


"Kita lihat apa yang akan pria pecundang ini lakukan."


"Tuan, jangan membuatku berada dalam masalah. Nyonya dan anak-anak sangat mengharap keselamatan anda."


"Tidak akan ada masalah. Justru saya akan membereskan masalah." Ucap Satya sembari melepaskan beberapa kancing bajunya bagian atas dan menggulung lengan bajunya sebatas siku lengan.


"Lepaskan, pria itu." Titah Jordi pada anak buahnya.


Tiga pria berbadan besar itu mendekati Fahmi, satu di belakang Fahmi dan dua lainnya berada di sisi kanan dan kiri Fahmi yang bertugas melepaskan ikatan tangan dan juga kaki pria itu sedangkan pria di belakang memegang bahu Fahmi.


Bugh!!


Salah satu anak buah Satya yang melepaskan ikatan kaki itu ditendang oleh Fahmi. Kejadian itu menyulut emosi anak buah Satya, kedua pria kekar lainnya langsung menyerang Fahmi saat melihat salah satu teman mereka ditendang.


Fahmi pun jatuh tersungkur saat mendapatkan pukulan dari anak buah Satya. Hanya satu kali pukulan saja sudah jatuh tersungkur. Satya langsung menghentikan pemukulan tersebut.


"Hentikan. Kalian pergilah keluar." Titah Satya.


"Tuan, yakin?" Tanya Jordi.


"Hem. Termasuk kamu. Berikan saya waktu untuk mengobrol secara jantan dengan si jagoan ini."


Meski merasa berat Jordi akhirnya keluar dari ruangan tersebut bersama anak buah yang lainnya. Tinggallah Satya dan Fahmi di dalam ruangan tersebut.


Fahmi berdiri dan meregangkan otot-ototnya. Sudah terlalu lama dia duduk di kursi siyalan itu sejak aksinya menculik putri Satya. Tak diproses hukum melainkan disekap di tempat itu selama berbulan-bulan.


Tatapan mengejek dan dendam terlihat disorot mata Fahmi saat menatap Satya. Tatapan itu tak berpengaruh untuk Satya justru dia pun sama seperti Fahmi yang memiliki dendam hanya saja Satya lebih pandai dalam mengendalikan nya.


Satya masih tampak berdiri dengan santai menghadap Fahmi tapi dia pun sudah memiliki sikap waspada jika sewaktu-waktu pria yang ada dihadapannya itu mulai menyerang dirinya.


Kali ini Satya tidak akan mengampuni Fahmi beserta seluruh orang-orang yang bekerjasama untuk menghancurkan hidup dan keluarganya. Kesabaran Satya sudah cukup untuk menantikan hari dimana dirinya harus menyingkirkan semua pengganggu hidupnya. Balas dendam Satya akan dimulai pada hari itu juga demi keselamatan dan kedamaian hidup keluarganya. Manusia seperti Fahmi yang memiliki seribu rasa dendam itu tidak akan tinggal diam saat melihat Satya bahagia.


****


Hai dear.... Maafkan diri ini yang lama sekali update karena kesibukan dan berbagai hal lainnya. Semoga kalian tetap setia menunggu sampai cerita Om Satya dan Mami Belva berakhir yaaa. Semoga masih terhibur, sehat selalu buat kalian, bahagia selalu dan lancar rejeki buat kita semua ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2