Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 95. Sibuk


__ADS_3

Malam telah berganti pagi, Belva yang terbiasa bangun pagi-pagi buta, pukul empat pagi sudah terbangun. Dirinya ingin mempersiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya dan juga Satya yang otomatis karena dirinya tinggal di apartemen milik pria itu.


Saat terbangun Belva melihat Satya tidur di sofa. Pasti rasanya tak nyaman karena melihat tubuh Satya yang lebih dibandingkan ukuran sofa yang digunakan.


Tak ingin membangunkan pria itu, Belva berlalu ke dalam kamar mandi mencuci wajah agar terasa lebih segar. Lalu dirinya berjalan menuju dapur berukuran kecil di apartemen Satya.


Memasak sudah bukan hal yang sulit bagi Belva, sudah terbiasa hingga beberapa menu dapat diolahnya tanpa kesulitan. Selesai dengan kegiatan memasak Belva memilih untuk masuk ke dalam kamar Duo Kay. Dibangunkan nya dua bocah itu agar bersiap untuk membersihkan diri. Wanita itu juga membantu Kaili dan Kaila agar mereka selesai lebih cepat dan lebih rapi lagi.


"Nah, sudah... Sekarang kalian tunggu sebentar, Mami mandi dulu." Ucap Belva yang diangguki oleh si kembar.


Ibu muda yang masih tampak sangat cantik itu memilih mandi di dalam kamar mandi milik kedua anaknya. Lebih mempersingkat waktu karena tidak perlu berjalan keluar kamar lagi. Selesai mandi barulah dirinya akan kembali masuk ke kamar yang biasa ia gunakan untuk beristirahat.


"Tetap tunggu disini, Mami mau ganti baju dulu. Nanti selesai mandi baru Mami akan panggil kalian untuk makan bersama."


"Oke Mami..." Jawab Duo Kay serempak.


Belva masuk ke dalam kamar Satya guna untuk mengambil pakaian ganti miliknya dan sekalian membangunkan Satya. Tapi sampai di dalam kamar ternyata pria itu sudah siap dengan kemeja kantornya.


"Oh... Baru aku mau bangunkan ternyata sudah siap." Ucap Belva.


Lagi-lagi Satya tak merespon Belva, pria itu hanya melirik sekilas lalu melanjutkan aktivitas nya sendiri memasang jam tangan pada pergelangan tangannya. Selesai dengan itu Satya meraih ponselnya dan menghubungi Jordi. Benda pipih kotak itu sudah menempel pada telinga Satya, dia berjalan melewati Belva tanpa membuka suara pada wanita itu bahkan melirik saja juga tidak.


Belva terdiam, menatap sembarang arah namun sesekali menatap punggung Satya yang pergi melewatinya begitu saja. Pria itu masuk ke dalam kamar Duo Kay. Menemui kedua anaknya dan memastikan apakah anak-anaknya sudah siap atau belum. Ternyata mereka memang sudah siap, Satya keluar dengan menggandeng lengan kedua anaknya.


"Mami... Ayo kita sarapan." Teriak Kaila memanggil Maminya yang masih terdiam di dekat pintu.


Belva tersadar jika dirinya terhenti akibat sedikit melamun atas perubahan suasana dan sikap salah satu penghuni apartemen itu.


"Ah... Iya sayang. Tunggu Mami ganti baju." Belva cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja. Meski tak serapi dan seformal pakaian untuk ke kantor seperti Satya.


Mereka berempat duduk di kursi mereka masing-masing. Belva membantu menyiapkan makanan untuk kedua anaknya.


"Dad, mau pakai lauk yang mana ?" Tanya Belva dengan nada biasa saja karena berada di hadapannya Duo Kay.


"Saya bisa ambil sendiri." Ujar Satya dingin dan datar.


Belva tertegun mendengar nada Satya. Diletakkannya kembali piring yang sudah dipegangnya tadi denga perlahan. Satya menolak untum dibantu oleh dirinya. Biasanya pria itu tidak pernah menolak dan terkesan membuka diri untuk menerima setiap apa yang Belva lakukan.


"Ah baiklah." Ucap Belva dengan raut wajah yang cukup aneh tapi berusaha dikendalikan nya untuk tetap terlihat biasa saja.


Rasanya aneh sekali merasakan perbedaan yang cukup siginifikan dari Satya. Dirinya kembali merasakan sikap Satya sama seperti sikap Satya yang dulu masih menjadi majikannya.


Duo Kay malam dengan sedikit berbincang satu sama lain tapi tiba-tiba terhenti karena teguran dari Satya.


"Anak-anak berhentilah mengobrol dan habiskan makanan kalian. Kita akan segera berangkat nanti kalian terlambat."


"Oke Daddy..." Jawab Kaila.


"Siap Daddy..." Jawab Kaili.


Belva hanya bisa terdiam kembali, ingin membuka suara pin rasanya sungkan saat ini. Semakin merasa tak nyaman saja wanita itu tinggal di apartemen Satya.


"Daddy... Nanti siang Daddy jemput kita kan ?" Tanya Kaili.


"Emm... Jika Daddy tak sibuk, Daddy akan menjemput kalian. Jika tidak bisa nanti uncle Jordi yang akan menjemput kalian."


Duo Kay mengangguk. Belva makan dalam diam, menghabiskan sarapannya tanpa banyak berbicara kecuali Duo Kay bertanya atau mengajaknya berbicara. Ia melirik Satya, pria itu sama sekali tak mengalihkan perhatian untuknya. Terkesan dingin, datar dan cuek padanya.


"Daddy selesai... Kalian sudah selesai sayang ?" Tanya Satya pada Duo Kay.


"Yes Daddy... Kita sudah selesai." Ujar Kaila.


"Ambil tas kalian kita berangkat sekarang." Titah Satya lembut apda Duo Kay.


"Oke... Mami belum selesai makan ?" Tanya Kaili.


"Sebentar lagi sayang." Ucap Belva.


Duo Kay turun dari kursi mereka dan berlari ke dalam kamar mereka mengambil tas mereka masing-masing. Lalu mereka keluar setelah mendapat kan tas mereka.


"Ayo berangkat, uncle Jordi sudah menunggu kita di luar." Ajak Satya.


"Tapi Mami belum selesai makan Daddy." Ujar Kaila.


"Daddy, ada janji dengan seseorang pagi ini jadi harus berangkat lebih awal. Ayo... Mami kalian bisa berangkat dengan taksi." Ucap Satya.


Deg...


Dada Belva terasa tak nyaman saat Satya mengatakan hal itu. Pria itu lebih memilih meninggalkannya daripada harus menunggu barang sebentar saja.


"Tapi..." Ucap Kaila. Kaili memandang wajah Daddy nya lalu bergantian memandang wajah Mami nya.


"Tidak apa sayang, kalian berangkat saja lebih dulu. Mami juga harus membereskan ini dulu."


"Pergilah nanti siang jika Daddy tak bisa menjemput kalian, Mami yang akan menjemput." Imbuh Belva.


"Iya.. kita berangkat dulu Mami." Pamit Kaila.


"Benar tidak apa-apa kita tinggal Mami ?" Tanya Kaili memastikan. Pria kecil itu memang perhatian dengan keluarganya.


"Tidak apa-apa sayang. Pergilah." Ucap Belva.


"Ayo..." Satya mengulurkan tangannya setelah Duo Kay berpamitan pada Belva.

__ADS_1


Lagi-lagi tanpa memandang Satya pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Belva. Wanita cantik itu menatap kepergian putra putrinya dan juga Satya.


"Sikapnya berubah setelah kejadian waktu itu. Apa dia merasa sakit hati terhadap ku ?" Gumam Belva lirih.


"Tapi aku tak bisa menerimanya. Aku tidak mencintainya." Lirih Belva kembali.


Satya pergi bersam kedua anaknya.engantar Duo Kay adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Satya. Kegiatan baru yang menyenangkan dan sudah menjadi daftar favorit bagi rutinitasnya setelah bertemu dengan Duo Kay.


Belva tak lama juga berangkat ke butik dengan menggunakan taksi online. Tak masalah baginya jika haru pergi dengan taksi online. Ia sampai di butik, Bella juga sudah sampai di butik.


"Nona, anda sudah datang ?" Sapa Bella.


Seperti biasa jika sudah dalam waktu bekerja maka bahasa formal selalu keluar dari bibir Bella. Menjadilam diri sebagai seseorang yang profesional dalam bekerja.


"Iya... Apa ada info atau kabar terbaru dari butik ?" Tanya Belva.


"Nyonya Dimitri tadi malam menghubungi ku. Menanyakan mu karena ponselmu tak bisa dihubungi."


"Benarkah ? Entahlah ada masalah apa, sinyal di ponselku tadi malam tidak stabil dan cenderung menghilang."


Memang ada beberapa panggilan di dalam ponselnya tapi dengan nomor baru jadi Belva hanya mengabaikan nya saja. Merasa bukan nomor dari deretan orang terpenting dalam hidupnya ataupun dalam pekerjaannya. Pikirannya jika memang nomor itu sangat penting menghubungi nya makan tanpa membalas panggilan itu nomor itu akan kembali menghubunginya.


"Ada kabar apa dari nyonya Dimitri ?" Tanya Belva.


"Dalam waktu dekat ini, mungkin tiga hari lagi Nyonya Dimitri akan berkunjung lagi ke Indonesia dan ingin bertemu dengan anda. Membahas gaun pernikahan putrinya." Ucap Bella.


"Ah iya... Gaun itu dia bulan lagi sudah harus selesai." Ucap Belva.


Mereka terus saja berbincang membahas pekerjaan mereka di butik tersebut. Lalu beralih pada pekerja merek masing-masing yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan sesuai porsi mereka.


Hingga siang hari tiba, Belva berinisiatif menghubungi Satya menayangkan apakah pria itu sibuk atau tidak untuk menjemput Duo Kay. Beberapa kali sambungan telepon terhubung tapi tak kunjung diangkat oleh Satya. Hingga akhirnya oamggy dari belva di tolak oleh Satya.


"Kok di matikan ? Apa dia sesibuk itu ? Aku hanya mau memastikan saja apakah dia bisa menjemput anak-anak atau tidak." Gumam Belva.


Ia kembali memutuskan untuk menghubungi Satya kembali. Dua kali menghubungi panggilan itu akhir diangkat oleh Satya.


"Hallo ada apa ?" Tanya Satya dingin.


"Hallo... Apa kamu sibuk ? S..."


"Ya saya sibuk." Jawab Satya memotong kalimat Belva.


"Kalau begitu biar aku saja yang jemput Kaili dan Kaila."


"Tidak perlu, Jordi sudah menjemputnya."


"Seharusnya jika kamu sibuk biar aku saja yang menjemputnya."


"Sudah saya sibuk." Ucap Satya terakhir sebelum memutus panggilan telepon.


Belva mengernyitkan dahinya menatap layar ponselnya. "Kenapa jadi menyebalkan seperti ini. Tidak sopan sekali."


Belva kesal Satya tiba-tiba memutus panggilan telepon nya. Benar-benar Satya kembali berubah tak menyenangkan sama seperti saat dulu masih menjadi majikannya.


Kelembutan dan kehangatan Satya beberapa waktu lalu tak lagi terlihat. Belva hanya menghela napasnya meredakan kekesalan dalam hatinya.


Duo Kay sudah dijemput oleh Satya, Belva terpaksa tak jadi menjemput anak-anaknya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya di butinknya. Hingga sore tiba, Duo Kay tak juga kunjung pulang ke butiknya seperti biasa.


"Kok mereka belum pulang juga ya ?" Gumam Belva.


Kembali Belva menghubungi Satya tapi tak diangkat oleh pria itu. Mencoba beberapa kali tetap sama hingga akhirnya nomor Satya tak bisa dihubungi karena nomornya tidak aktif.


Belva merasa kesal dengan sikap Satya. "Ck... Dia kenapa sih ? Pakai acara tidak aktif segala. Lalu bagaimana dengan anak-anak ku." Gerutu Belva.


Lalu Belva beralih menghubungi Jordi, wanita itu sudah memiliki nomor ponsel Jordi karena Satya yang memberikannya beberapa hari setelah kejadian Sonia menampar Belva. Sebagai jaga-jaga jika Belva terjadi sesuatu dan nomor Satya tak bisa dihubungi maka Belva bisa menghubungi nya melalui Jordi.


"Hallo..." Jawab Jordi.


"Hallo Tuan Jordi, anda bersama Tuan Satya dan anak-anak ?"


"Emm iya Nona... Ada apa ?"


"Kenapa tak mengantarkan mereka kembali ke butik ? Bahkan aku sudah hampir mau pulang mereka belum juga kembali."


"Maaf Nona, Tuan Satya membawa mereka hari ini. Anda tenang saja mereka tidak membuat masalah."


"Cepat antar kesini. Aku mau pulang bersama anak-anak ku."


"Sesuai perintah Tuan, anda pulanglah terlebih dahulu Nona. Ini si kembar baru saja akan saya antar ke apartemen. Maaf saya tutup dulu Nona saya sedang menyetir."


Panggilan berakhir, Belva masih saja merasa kesal. Satya semakin seenaknya membawa Duo Kay. Bagaimana jika kedua anaknya itu kelelahan ? Bagaimana jika mereka bertemu dengan Sonia maupun Alya nanti.


Kekhawatiran menyelimuti hati Belva sebagai seorang ibu. Ia merasa cemas hampir satu hari ini tak mendapatkan kabar mengenai Duo Kay. Menunggu anaknya datang tapi tak juga kunjung datang.


Belva pulang ke apartemen menggunakan taksi online seperti pagi tadi. Baru saja sampai di apartemen meletakkan tas di atas sofa dan mengambil air putih untuk melegakan tenggorokannya, pintu apartemen terbuka. Jordi masuk bersama Duo Kay.


"Mamii..." Teriak Duo Kay berlarian menghambur kearah Maminya.


"Sayang kalian sudah pulang ? Mami merindukan kalian seharian ini tak mendapatkan kabar kalian." Belva memeluk kedua anaknya.


"Selamat sore Nona." Sapa Jordi.


"Eh... Selamat sore Tuan Jordi."

__ADS_1


Ada yang kurang dari pandangan mata Belva saat menatap Jordi. Satya tak ada bersama Jordi dan juga kedua anaknya.


"Tuan Satya kemana ?" Tanya Belva.


"Tuan sedang ada pertemuan dengan seseorang jadi belum bisa kembali."


"Oh... Oke..." Jawab Belva singkat tak ingin bertanya lebih lanjut.


"Kalau begitu saya permisi Nona." Pamit Jordi.


"Iya terima kasih Tuan sudah mengantar anak-anakku."


"Tidak masalah, ini sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya. Mari Nona."


"Iya... Berhati-hatilah." Ujar Belva.


"Anak-anak manis, uncle pergi dulu ya. Ini milik kalian." Pamit Jordi pada Duo Kay sekaligus mengulurkan dua paper bag milik Duo Kay.


"Terima kasih uncle... Hati-hati." Ucap Kaila dan Kaili.


"Ini apa ?" Tanya Belva.


"Itu milik si kembar. Iya uncle pergi dulu sampai bertemu besok."


Jordi pergi keluar dari apartemen Satya. Belva menuntun langkah Duo Kay memasuki kamar dua bocah itu.


"Sayang, ini isinya apa ?" Tanya Belva.


"Ini mainan, Mi. Tadi kami dibelikan mainan sama aunty teman Daddy. Dia baik dan cantik." Ucap Kaila.


"Teman Daddy ? Kenapa bisa dia membelikan mainan ini untuk kalian ?" Tanya Belva mengerutkam keningnya.


"Iya Daddy bilang itu teman Daddy." Jawan Kaili.


"Tadi uncle Odi... Jemput kami di sekolah lalu ajak kami ke mall bertemu Daddy dan teman Daddy. Di sana kita makan siang, main-main juga loh, Mi."


Jordi rupanya memiliki julukan spesial dari si cantik Kaila. Gadi kecil itu sangat antusias menceritakan waktu dan kegiatan yang dilaluinya sepanjang hari tadi bersama Daddy nya dan juga teman Daddy nya.


"Tapi Daddy tidak bisa pulang bersama karena masin bersama aunty tadi." Ucap Kaila merasa tidak suka karena mereka tak bisa pulang bersama.sang Daddy.


Belva diam mendengarkan cerita kedua anaknya. Ia paham itu sebabnya Satya mengatakan sibuk saat ai hubungi tadi.


"Ya sudah, letakkan mainannya. Kalian harus membersihkan diri dulu."


Belva mengarahkan kedua anaknya untuk mandi dan berpakaian dengan rapi. Sehabis mandi Duo Kay memilih untuk duduk di ruang tamu dan menonton televisi di ruangan tersebut. Kaili berbaring di atas sofa sedangkan Kaila berbaring di karpet bulu. Tak jarang salah satu diantar mereka sibuk sendiri dengan hal-hal kecil yang menarik perhatian mereka. Entah itu sibuk dengan bantal sofa yang sarungnya bisa dilepas oleh Kaili. Atau Kaila yang sibuka mengusap-usap kan lengannya di karpet bulu sembari berbaring di atas karpet tersebut seperti seseorang yang sedang berenang dengan gaya berbalik menghadap atas.


Belva selesai menyiapkan makan malam untuk mereka. Tepat pukul tujuh Belva mengajak Duo Kay untuk makan malam. Hingga makan malam tiba Satya tak kunjung pulang, Belva tak menghiraukan pria itu. Ia tahu mungkin memang pria itu sibuk dengan pekerjaannya. Meski di dalam hati merasa ada yang kurang karena ia sudah terbiasa akhir-akhir ini makan malam bersama Satya.


"Sudah, ayo kita gosok gigi lalu kalian tidur." Ajak Belva.


"No, Kaila mau tunggu Daddy pulang." Kaila menolak. Baru kali ini selama mereka tinggal bersama Satya meninggalkan mereka cukup lama untuk urusan pekerjaan.


"Iya kita tunggu Daddy pulang dulu ya, Mu. Baru nanti tidur kalau Daddy sudah pulang." Ujar Kaili mendukung.


"Tapi kan kita tidak tahu Daddy pulamg jam berapa. Jadi, lebih baik kalian gosok gigi dan cuci kaki tangan dulu baru nanti lanjut tunggu Daddy. Gimana ? Oke ?"


"Emm... Oke... Tapi nanti Mami temani ya ? Kita tunggu Daddy sambil menonton televisi di sofa itu." Jawab Kaila mengacung sofa ruang tamu.


"Oke cantik... Ayo anak cantik dan gantengnya Mami kita let's go ke kamar mandi...." Ucap Belva dengan riang pada kedua anaknya.


Dengan patuh Duo Kay berjalan beriringan bersama Maminya menuju kamar mereka dan masuk ke dalam kamar mandi. Menggosok gigi, mencuci muka, tangan dan juga kaki. Mereka juga sudah berganti pakaian dengan pakaian tidur berlengan panjang berbahan katun combed.


"Ayo Mami kita ke depan." Ajak Kaili.


"Iyaaa sayang, ayo..." Belva menggandeng Duo Kay kembali ke ruang tamu.


Acara televisi pada malam hari tidak bagus untuk anak-anak jadi Belva lebih memilih menyetel film kartun untuk anak-anak dengan petualangan seekor raja hutan yang disambungkan dari tablet PC Belva dari sebuah aplikasi ke layar televisi.


Sangat menarik untuk di tonton oleh Duo Kay karena film tersebut yang masih baru bagi Duo Kay. Saat menonton film tersebut beberapa kali mereka berkomentar atas apa yang mereka lihat.


"Wah... Rambutnya singa itu lebat sekali." Ujar Kaili. Pria kecil itu juga menirukan gaya auman singa.


"Ih... Itu hewannya galak sekali, bikin hewan yang lain takut." Sambar Kaila.


"Iya lah kan hewan nya itu dibilangnya raja. Jadi dia lebih kuat, Kaila." Kaili kembali merespon.


Perbincangan demi perbincangan terus saja mereka lakukan demi membahas film tersebut. Belva hanya sedekay menimpali saja sembari tersenyum. Hingga tanpa sadar satu persatu dari bocah-bocah itu tertidur.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Belva harus memindahkan Duo Kay ke kamar secara bergantian. Tidak mungkin dirinya menggendong Duo Kay sekaligus. Tenaganya tak seberapa jika harus menggendong dua bocah itu.


Belva tak langsung masuk ke dalam kamarnya Satya setelah memindahkan Duo Kay. Ia harus membereskan ruang tamu yang sempat di acak-acak oleh kedua anaknya. Lalu ia menghentikan film yang hampir selesai terputar di layar tablet PC nya. Beralih mengecek pekerjaannya.


Matanya sudah cukup berat, ia mencuci wajah dan juga menggosok gigi. Sudah pukul dua belas malam Satya juga belum kembali. Belva keluar dari kamar Satya dan masuk ke dalam kamar Duo Kay. Ia lebih memilih tidur di kamar anak kembaru saja.


Mengingat malam sebelumnya ia merasakan Satya tak nyaman tidur bersama dirinya. Hingga akhirnya memilih tidur di sofa. Wanita itu merasa tidak enak hati, Tuan rumah justru tidur tak nyaman di sofa sedangkan dirinya tidur di ranjang dengan nyaman.


"Lebih baik tidur saja disini. Sama-sama bisa tidur di ranjang." Gumam Belva.


Bahkan sampai semalam ini Satya masih saja belum pulang. Belva juga tak berniat untuk menghubungi Satya karena pria itu pasti sibuk dan tidak akan mengangkat panggilannya.


****


To Be Continue...

__ADS_1


Hai my dear para readers ku...


Up lagi buat kalian semua, nikmati saja alurnya ya dear... aku sangat berterima kasih buat kalian yang sampai detik ini masih setia support kasih semangat. Kalian luar biasa 👍👍 Terimakasih buanyaaakk 🙏🙏


__ADS_2