
Luas butik milik Belva saat ini memang belum seluas butik-butik besar lainnya dan juga butik milik Mamanya. Tapi butik itu memiliki dua lantai, di mana ruangan khusus miliknya berada di sana.
"Sayang, pelan-pelan naiknya. Jangan lari-larian nanti terjatuh." Belva mengingatkan anak-anaknya.
"Kalian sudah pulang ternyata. Ayo ganti baju bersama aunty." Bella yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya melihat Duo Kay sudah datang.
Meski fokus membantu Belva di butik tapi tak menghilangkan pekerjaan awalnya. Ia dipekerjakan memang untuk mengasuh dua bocah itu. Dan tentu saja gaji yang diperolehnya menjadi lebih besar dari sebelumnya karena double nya pekerjaan yang dilakukannya.
Belva tidak keberatan akan apa yang dilakukan oleh Bella karena memang gadis itu sangat membantu dirinya sekali. Berkat Bella dan juga Budhe Rohimah Belva tak merasa kerepotan harus mengurus Duo Kay dan juga butik.
Dengan telaten Bella menuntun dua bocah kecil itu. Hingga sampai di suatu ruangan yang memang khusus untuk Belva dan anak-anaknya. Bella membantu mengantikan baju mereka. Celoteh kedua bocah itu yang menceritakan bagaimana kegiatan mereka di sekolah, membuat Bella tersenyum geli.
"Kalian duduk anteng di sini saja ya. Jangan keluar ruangan nanti Mami kalian marah. Oke." Pesan Bella sebelum pergi keluar ruangan.
Duo Kay mengacungkan jempolnya serta mengangguk. Tas yang berisi perlengkapan untuk mereka selalu dibawakan oleh Belva. Tablet PC milik kedua bocah itu kini sudah mereka keluarkan masing-masing.
Kaili langsung mencari aplikasi berwarna merah dengan logo tombol play untuk menonton film animasi dengan bahasa asing. Film animasi yang memang diciptakan untuk anak-anak agar mereka bisa belajar bahasa asing tersebut.
Kaila, gadis kecil itu bermain game dengan tema mendesain pakaian untuk para boneka berparas cantik dan bertubuh ramping proporsional.
Makanan ringan yang sempat dibeli di minimarket tadi mereka bongkar. Aneka kue dan juga kripik kentang serta beberapa kotak susu. Mereka saling berbagi satu sama lain.
Belva datang dengan membawa setumpuk kertas desainnya. Kali ini wanita itu akan mengerjakan pekerjaannya di dalam ruangan khususnya bersama sembari menemani si kembar.
Setumpuk kertas itu menjadi perhatian bagi si gadis kecil Kaila. Ia tahu akan pekerjaan Maminya. Memang sedari dulu Kaila lebih tertarik dengan pekerjaan Maminya.
"Mami banyak desain ?" Tanya Kaila.
"Iya sayang. Kali ini kita banyak mendapatkan orderan." Belva tersenyum pada putrinya.
"Boleh Kaila bantu ?"
"Tentu sayang. Jika Kaila tidak lelah boleh."
Kaila melompat senang, menggambar adalah hobinya terlebih mendesain baju sudah menjadi bakatnya sejak kecil. Bocah itu bertanya bagaimana konsep gaun yang ingin digambar. Dengan sabara dan penuturan yang lembut, Belva menjelaskan mapad putrinya.
Tidak mendapat kesulitan bagi Belva saat menjelaskan pada putrinya. Meski terkadang ada beberapa istilah yang kurang dimengerti oleh Kaila. Namun, gadis kecil itu sebgian besar mengerti maksud ibunya.
Ibu dan anak itu kini mulai mendesain gaun masing-masing. Usia Kaila memang masih kecil tapi kemampuannya sudah diakui oleh beberapa customer Oma dan juga Maminya yang sudah mengenal Kaila.
Belva bersyukur, tidak hanya pegawainya saja yang bisa membantunya. Melainkan anaknya sendiri juga sedari dulu selalu membantu pekerjaannya. Bahkan, Kaila pernah beberapa kali mengikuti perlombaan mendesain busana dan mampu menyabet juara satu.
Sampai detik ini Belva tak pernah menyangka jika kehidupannya akan seperti saat ini. Rencana awal saat masih bersemangat sekolah dulu kini berubah total. Kehadiran Kaila dan Kaili mampu memberi warna baru dan juga rencana baru dalam perjalanan hidupnya.
"Nona, ini pesanan untuk makan siang sudah datang." Bella mengantar tiga box makanan ke dalam ruangan Belva.
"Iya terima kasih Bella. Kenapa hanya tiga box saja. Milikmu mana ?" Tanya Belva.
"Ada di ruangan saya Nona."
"Bawalah kemari kita makan bersama. Lalu karyawan yang lain apa sudah dapat jatah mereka ?" Tanya Belva kembali.
"Sudah Nona, saya sudah mengantar jatah makan siang mereka. Mereka terlihat senang sekali hari ini." Bella tersenyum mengingat celotehan dan juga senyum para karyawan yang lain.
"Iya, sesekali kita memang harus menyenangkan mereka, agar mereka bersemangat dalam bekerja. Lagipula agar mereka juga bisa lebi irit tidak perlu beli makanan di luar lagi."
"Iya Nona. Ya sudah saya turun ke bawah dulu untuk mengambil makan siang saya."
Belva mengangguk sebelum Bella pergi. "Sayang, kita makan dulu ya. Mami siapkan makanannya, kalian bereskan dulu barang-barang kalian sebelum makan."
"Iya Mi..." Jawab Kaila.
"Oke Mi..." Jawab Kaili.
Saat Bella sudah datang mereka berempat memulai untuk makan siang. Obrolan ringan terjadi antara Belva dan juga Bella. Sesekali kedua orang dewasa itu menggoda kedua bocah kembar berparas kebule-bulean itu.
Wajah Kaili dan Kaila memang terlihat lebih bening dari anak-anak yang lain. Gen dari ayah mereka rupanya lebih kental. Ditambah dengan paras ayu milik ibunya yang memang terlihat sangat cantik dengan wajah Asia nya.
Bangga itulah yang dirasakan Belva, bahkan setiap hari wanita itu tak pernah lupa untuk bersyukur. Kehidupannya jauh lebih baik dan bahagia bila dibandingkan sebelum adanya masalah yang menimpanya waktu lalu. Justru masalah tersebut mengubah kehidupannya menjadi jauh lebih baik. Terkadang Belva menggoda dirinya sendiri untuk berterimakasih pada mantan temannya yang telah berhasil menjebak dirinya.
Dalam setiap kesempatan, saat tawa canda menghampirinya beserta orang-orang tersayangnya. Belva selalu saja masih tak percaya akan kehidupannya saat ini. Tapi itulah jalan hidupnya, takdir yang telah digariskan sang pemberi hidup.
"Mami, aku sudah selesai. Boleh aku kembali ke sana ?" Kaili menunjukkan bantal malas yang berukuran cukup besar. Benda tersebut merupakan benda favoritnya saat berada di butik sang Mami.
"Boleh sayang. Tapi jangan terlalu berbaring ya karena kamu baru saja makan."
"Oke Mami." Jawab Kaili. Dengan cepat pria kecil itu kembali duduk pada tempat favoritnya.
Tablet PC miliknya yang telah dimatikan kini kembali dinyalakannya. Dengan benda tersebut kini Kaili menggambarkan desain bangunan yang sudah diinformasikan oleh Roichi padanya.
Kecerdasan anak-anak Belva ini memang membuat orang dewasa kagum. Bocah sekecil Kaili bisa mengoperasikan email seperti orang dewasa. Beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan bocah kecil itu sudah dihafalkannya. Sejak orang dewasa disekitarnya mengajarkan sesuatu padanya, dan sekiranya itu penting maka akan selalu disimpan di dalam otak bocah kecil itu.
Menggambar dan mengirimkan hasil karyanya pada Roichi sudah mampu dilakukan oleh Kaili. Email milik Kaili hanya diketahui oleh keluarganya saja. Semua yang berhubungan dengan bocah itu hanya keluarga saja yang tahu. Jikapun ada beberapa orang terdekat mengetahui kemampuan anak-anak Belva itupun sudah dipertimbangkan dengan matang oleh Belva dan keluarga. Apakah bisa di ekspos atau tidak.
Beberapa hari berlalu bahkan sudah mendekati akhir bulan. Semua deadline sudah benar-benar dikerjakan oleh Belva sesuai targetnya. Bantuan dari Kaila dalam mendesain gaun sungguh sangat membantu. Menghandle pesanan yang datang berganti pun terjadwal dengan rapi oleh bantuan Bella. Jahit menjahit, potong memotong Belva pun dibantu oleh ketiga karyawan wanitanya.
"Sudah dicek semua gaun-gaun yang harus selesai sesuai deadline ?" Tanya Belva. Wanita itu mencoba mengecek hasil karyanya agar tidak ada yang kurang ataupun cacat saat diambil oleh customernya.
"Tidak ada Nona, semua sudah kami cek." Jawab salah karyawan Belva.
"Bagus kalau begitu. Terima kasih ya." Belva tersenyum pada karyawannya.
Tentu saja karyawannya juga membalas senyuman Belva dengan tulus. Dalam hati karyanya tersebut, ia sangat beruntung memiliki bos yang ramah dan juga baik. Pekerjaan mereka meski harus dikejar deadline tapi tidak mendapatkan tekanan yang membuat mereka semakin tegang dalam bekerja.
Ketika ada permasalahan dalam pekerjaan mereka, maka mereka akan memecahkan masalah tersebut dam mencari solusinya bersama. Meski memang dituntut untuk bisa bekerja secara mandiri tapi rasa kebersamaan dan kekeluargaan dalam bekerja sangatlah terasa.
Belva selesai mengontrol bagian produksi kini kembali lagi ke ruangan milik Bella yang ada di lantai satu. Di ruangan itu Bella sering menerima para customer untuk berkonsultasi desain dengan Belva.
Perempuan beranak dua itu tak mau memberikan ruangan khususnya untuk customer berkonsultasi dengannya. Baginya ruangan yang dikhususkan untuk dirinya itu hanya boleh dimasuki oleh orang-orang terdekatnya saja.
Saat Belva berlalu pergi, para karyawan Belva lagi-lagi masih sempat membicarakan Belva. "Nona bos, baik sekali ya. Aku beruntung bisa bekerja di sini setelah lulus SMA."
"Iya aku juga beruntung bisa mendapatkan pekerjaan ini. Jarang sekali jadi tukang jahit tapi dibayar dengan gaji yang lumayan besar."
"Sudah ayo kita lanjut kerja lagi. Kita tidak boleh mengecewakan Nona Evan. Jarang-jarang dapat bos yang baik sama karyawan."
Para karyawan memang lebih mudah memanggil Belva dengan sebutan Evan karena mereka melihat nama butik milik Belva. Lagipula mereka juga tak pernah mendengar sang asisten memanggil nama dengan sebutan Belva. Bella pun lebih terbiasa mendengar orang-orang terdekatnya memanggil dengan sebutan Vanthe.
"Bella, apakah Nona Winda sudah menghubungi ?" Tanya Belva.
__ADS_1
"Belum Nona. Sudah seharusnya dia menghubungi kita atau datang ke sini sejak kemarin."
"Oh oke. Mungkin dia masih ada kesibukan. Kita tunggu saja sampai besok."
Belva selalu berpikir positif terhadap para customernya. Banyak dari customernya yang dari kalangan berada jadi sudah pasti mereka sibuk dengan bekerja atau kegiatan mereka yang lain.
Ia selalu menanamkan kepercayaan terhadap para customernya sesuai dengan persyaratan yang ada. Baginya saling percaya adalah kunci untuk menjalankan bisnis. Karena usaha yang dibangun oleh Belva sangat bergantung juga dengan kepercayaan dan kenyamanan customer.
Hari ini ada beberapa customer yang datang mengambil orderan mereka. Melihat beberapa orang menggunakan gaun rancangannya, membuat beberapa orang yang lain tertarik dan mencoba sendiri.
"Terima kasih Nona. Saya sangat puas dengan hasilnya. Apakah butik ini milik anda sendiri ?" Tanya customer baru yang mencoba memesan gaun pada Belva.
"Syukurlah jika anda puas Nyonya. Saya sangat berharap bahwa semua customer saya merasakan kepuasan atas hasil karya saya."
"Iya ini adalah butik saya yang baru saja dirintis." Jawab Belva dengan senyum ramahnya.
"Anda sungguh berbakat, masih muda sudah memikirkan untuk berbisnis sendiri. Disaat banyak anak muda lain yang masih memikirkan untuk bersenang-senang anda sudah berpikir lebih maju." Puji customer Belva.
"Nyonya anda berlebihan, masih ada banyak anak muda yang juga sudah lebih sukses dari saya. Saya masih baru memulai."
"Hahaha iya Nona. Dan anda akan menjadi bagian dari mereka. Oke, semoga usaha anda sukses dan lancar. Saya permisi dulu Nona, lain kali saya akan datang kembali."
Customer yang usianya tampak sudah tak muda lagi itu mengulurkan tangan pada Belva. Salam perpisahan dan juga bentuk rasa terima kasih atas hasil yang memuaskan dari Belva. Tentu Belva menyambutnya dengan sangat baik. Sikap ramah memang sangat diperlukan dalam menyikapi pelanggan. Agar mereka merasa diterima dan mendapatkan pelayanan dengan baik.
Satu buah paper bag berisi box ekslusif dengan gaun hasil rancangannya di dalamnya. Diberikan oleh Bella pada customer paruh baya itu. Tak hanya Belva tapi juga Bella bersikap sangat ramah dan baik terhadap customer.
Dua wanita cantik dengan inisial nama yang sama itu mengantarnya customer sampai ke depan pintu butik mereka. Senyum tak pudar dari keduanya saat teringat akan kepuasan pelanggannya hari ini.
"Haahh akhirnya, beberapa sudah selesai. Dan rata-rata dari mereka puas dengan hasilnya Nona." Ucap Bella yang masih tersenyum lebar.
"Iya kamu benar Bella, melihat mereka sangat puas itu membuatku juga puas dengan kerja keras kita selama proses pembuatan gaun." Belva menanggapi dengan tak kalah senang.
Suatu kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi seorang penyedia jasa ketika melihat pelanggannya merasa puas dengan hasil kerja keras kita. Kepuasan pelanggan juga menjadi sebuah suntikan semangat bagi sang penyedia jasa.
"Kinerja Nona memang sudah tak bisa diragukan lagi. Buktinya de'La Hector pun meningkat pesat saat Nona turun andil di dalamnya hingga sampai saat ini."
"Kamu terlalu memujiku Bella. Ayo kita masuk ada yang ingin kusampaikan padamu."
Bella mengernyitkan dahi, matanya menatap Belva. Sedangkan perempuan di sampingnya merasa biasa-biasa saja. Justru saat ini Belva merangkul Bella dan berjalan ke dalam ruangan Bella.
Mereka berdua duduk di sofa di mana tempat yang digunakan Belva duduk bersama customer tadi.
"Ada apa Nona ?" Tanya Bella.
Belva tersenyum menanggapi pertanyaan asisten sekaligus pengasuh putranya. "Bella, kamu sudah bekerja cukup lama denganku. Aku meminta padamu sekali lagi, kini kamu tidak hanya mengasuh Kaili dan Kaila melainkan menjadi asisten ku juga. Usia kita sama Bella jangan selalu memanggilku seperti itu. Kamu adalah keluargaku dan juga temanku."
Bella paham dengan arah pembicaraan Belva. Memang ini adalah kali kedua Belva meminta agar Bella tak memanggilnya dengan sebutan Nona. Bagi ibu muda itu Bella tak hanya sebagai pegawai baginya tapi juga sudah menjadi teman dan saudara. Sudah lama mereka saling mengenal, Belva ingin sekali semakin dekat dengan Bella tapi terkadang gadis itu berusaha menjaga jarak. Alasannya adalah ia dibayar untuk bekerja sebagai atasan dan bawahan. Sama seperti Ayahnya, Roichi. Meski mereka sudah dianggap sebagai keluarga tapi Roichi selalu mengingatkan akan status mereka di keluarga Hector.
"Nona, anda tahu alasannya seperti apa." Ucap Bella.
"Ya aku tahu, tapi sekarang kamu tinggal bersamaku. Aku yang menggajimu. Apa susahnya menuruti permintaanku ? Kenapa kamu menyebalkan sekali Bella." Ucap Belva.
Bella terkejut dengan sikap Belva. Selama ini ia tak pernah melihat sikap Belva yang terlihat kesal padanya. Biasanya wanita itu selalu bersikap lembut dan dewasa. Bella menjadi bingung sendiri harus bersikap bagaimana.
Sedikit perdebatan terjadi atas permintaan Belva. Ibu muda itu semakin lama semakin merasa lebih nyaman hidup tanpa ada batasan antara bawahan dan atasan. Terlebih bersama Bella mereka sudah lama hidup bersama dalam satu atap.
"Baiklah. Tapi selama bekerja saya tetap harus profesional. Berbeda jika berada di rumah. Bagaimana ?" Bella tetap mengeluarkan pendapatnya atas permintaan yang sebenarnya tidaklah aneh.
Perbincangan mereka terhenti dengan adanya telepon masuk. Bella mengangkat panggilan tersebut. Pembicaraan antara Bella dan orang di seberang sana tak sampai lima menit. Belva menatap dengan sorot mata seakan bertanya siapa dan ada apa.
"Nyonya Dini, menunda jadwal pengambilan gaun. Besok pagi sopirnya yang akan mengambilnya. Beliau berada di luar negeri saat ini karena pekerjaan." Jelas Bella.
"Tidak masalah, aku mengerti. Dan bukan kah itu sudah biasa. Saat memegang de'La Hector pun sama seperti ini. Mereka terlalu sibuk dengan jadwal kerja mereka." Ucap Belva.
"Bagaimana kalau kita memberikan servis antar untuk customer tapi dengan syarat dan ketentuan yang harus diberlakukan."
"Ide bagus, tapi untuk sementara sepertinya belum bisa menambah karyawan lagi Bella. Kemarin kita sudah menambah satu karyawan jahit."
Belva masih menimbang adanya karyawan baru. Ia harus pintar-pintar menyeimbangkan antara modal dan keuntungan yang harus diputar untuk pengembangan butiknya.
"Saya mengerti Nona, bukankah untuk memulai memang kita harus bekerja lebih ekstra. Kita bisa mengantarkannya sendiri. Saya rasa itu tidak buruk toh kita sudah punya kendaraan sendiri jadi tidak perlu keluar uang banyak untuk kesana-kemari menggunakan taksi."
"Iya kamu benar. Aku setuju dengan idemu. Dengan adanya servis tambahan seperti ini akan memberikan nilai plus untuk butik kita. Mereka akan lebih nyaman dan tertarik untuk memesan di sini."
Hari ini Belva melihat jadwal order, cukup luang karena beberapa desain sudah ia selesaikan bersama Kaila kemarin. Jadi, ia memiliki waktu untuk memulai mengantar beberapa pesanan yang sudah jadi.
"Coba hubungi Nona Winda, pesanannya cukup banyak jadi bisa kita prioritaskan untuk mengantar terlebih dahulu. Bukankah deadline nya sudah hari kemarin."
"Baiklah Nona, tunggu sebentar." Bella bergerak cepat untuk menghubungi yang bersangkutan.
Hingga beberapa kali nomor tidak bisa dihubungi. Bella tetap berusaha menghubungi kembali. Akhirnya nomor itu bisa tersambung. Meminta informasi alamat untuk mengirimkan pesanan.
Pembayaran bisa dilakukan dengan mentransfer terlebih dahulu ataupun membayar dengan uang cash.
"Ini alamatnya Nona, Jalan xxx atas nama Winda Hara." Bella memberikan catatan kecil pada Belva.
"Oke. Kamu stay saja di sini. Aku yang akan mengantarkannya sekalian menjemput si kembar dulu."
Bella mempersiapkan semua pesanan di dalam beberapa paper bag. Karena pesanan gaun bersifat eksklusif tentu harus dikemas dengan ekslusif juga. Selagi Bella mempersiapkan semuanya dengan satu karyawan yang lain. Belva pergi mengambil tasnya dan kunci mobilnya.
"Sudah semua ?" Tanya Belva, Bella dan karyawannya mengangguk.
Mereka mereka bertiga membawa beberapa paper bag masuk ke dalam mobil. Dirasa sudah siap semua, Belva berpamitan pada Bella dan karyawannya.
Bertepatan dengan jam kepulauan anak-anaknya, Belva memutuskan untuk menjemput mereka terlebih dahulu. Sampai di sekolah rupanya Duo Kay sudah menunggu bersama Farel dan juga Donny.
Tak bisa berlama-lama, begitu sampai Belva mengajak Duo Kay untuk memasuki mobil. Dilihat oleh Belva jika alamat pengiriman cukup jauh dari butiknya.
"Mami, kenapa jalan pulang berbeda ?" Tanya Kaili.
"Oh maaf sayang, Mami lupa memberitahu kalian. Kalian ikut Mami mengantar pesanan dari butik dulu ya baru nanti kita pulang."
"Oke Mami." Jawab Kaili.
"Kita mengantar gaun yang Kaila gambar kemarin Mi ?" Tanya Kaila.
"Iya benar sayang. Semoga pemesannya menyukai hasil karya Kaila ya." Ucap Belva mengusap lembut kepala Kaila.
Kaila duduk di depan bersama Maminya. Sedangkan Kaili berada di kursi belakang. Mereka anak yang pengertian jika bersama Belva. Menurut dan tidak pernah membantah seakan mengerti dengan kondisi Maminya yang harus mengurus mereka sendirian.
__ADS_1
Beberapa lampu merah mereka lewati, alamat yang dituju masih jauh. Duo Kay sudah mengeluh kelaparan. Mau tak mau Belva tidak bisa mengabaikan kedua anaknya. Mereka memilih berhenti di sebuah cafe pinggir jalan untuk sekedar menikmati makan siang sejenak.
Setelah kenyang mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan selalu ada pembicaraan diantara ibu dan anak itu. Kedua bocah kecil itu menceritakan kegiatan mereka hari ini di sekolah.
Belva selalu antusias dengan kegiatan si kembar saat berada di sekolah. Mengetahui perkembangan mereka dari versi Duo Kay. Meski Belva juga sering bertanya pada guru mereka mengenai perkembangan kedua anaknya.
Tak pernah ada penilaian yang mengecewakan dari Duo Kay selama ini. Mereka sudah memahami segala aturan yang sudah ada di sekolah. Untuk belajar pun mereka juga tidak kesulitan untuk mengikutinya.
"Ini rumahnya jauh juga ya." Gumam Belva dalam hati.
Mobilnya telah berjalan sesuai dengan arah jalan yang ditunjukkan pada map ponselnya. Belva mengikuti sesuai arahan. Hingga tak terasa kedua anaknya telah tertidur dengan sendirinya. Sepertinya mereka kelelahan dalam melakukan aktivitas hari ini.
Di rasa sudah sesuai alamat, Belva turun dari mobil untuk bertanya pada orang-orang sekitar. Kondisi alamat itu cukup sepi tak seramai di kota. Dalam pikiran Belva tadi alamat rumahnya masih area perkotaan yang cukup ramai. Tapi ini berada di pinggir kota, masuk perkampungan.
"Permisi Bu, maaf mau tanya alamat ini di mana ya ?" Tanya Belva pada seorang ibu yang terlihat sedang menjemur tumpukan bantal.
"Iya Mbak ? Oh Mbaknya mau lihat-lihat rumahnya ya ? Kebetulan kuncinya suami saya yang pegang." Ucap ibu tersebut.
Secara otomatis Belva menjadi bingung dengan ucapan si Ibu yang ada di hadapannya.
"Maaf maksudnya bagaimana ya Bu ?" Tanya Belva.
"Loh Mbaknya mau lihat-lihat rumah itu kan ? Mbak lagi cari rumah untuk dibeli kan ?"
Deg...
Belva semakin bertambah bingung, ia menunjukkan sebuah alamat tapi justru pembahasan yang ia maksud mengapa berbeda penangkapan oleh si ibu tersebut.
"Oh bukan Bu. Saya hanya tanya alamat ini saja. Itu sebelah mana ya ?" Belva kembali menjelaskan maksudnya.
"Itu selang dua rumah mbak. Kalau bukan mau beli rumah lalu kenapa Mbak menanyakan alamat rumah ini ?"
Belva mulai berpikir, dalam pikirannya apakah rumah milik customernya akan dijual hingga si ibu mengira jika Belva sedang mencari rumah untuk dibelinya.
"Saya mau mengantarkan pesanan. Itu rumah milik Winda Hara kan ?"
"Winda Hara ? Siapa ya itu ? Rumah itu bukan milik Winda Hara Mbak tapi milik Pak Susilo. Dan setahu saya Pak Susilo tidak memiliki anak atau menantu bernama Winda Hara."
Jedeeer... !!!
Terkejut yang saat ini Belva rasakan. Pikirannya sudah berpikir yang tidak-tidak. Tapi ia tetap berusaha untuk berpikir positif.
"Mbak mungkin salah alamat. Coba dicek dulu saja Mbak." Pesan si ibu itu.
"Ini alamatnya benar kok Bu. Atas nama Winda Hara. Beliau juga yang memberikan alamat ini." Ucap Belva.
"Apa di sekita sini ada yang namanya Winda Hara, barangkali beliau salah tulis nomor rumah." Imbuh Belva.
Kini giliran si ibu yang menjadi bingung. Ia seperti berpikir cukup keras saat ini untuk mengingat apalah di kampungnya ada yang bernama Winda Hara.
"Eh... Eh... Tati... Sini sebentar. Di sini ada yang nama Winda Hara tidak ya ? Orang baru atau menantu siapa gitu. Kok aku tidak kenal ya ?" Si ibu sampai memberhentikan tetangganya untuk menanyakan apa yang ditanyakan oleh Belva.
Belva hanya menyimak saja saat ini, berharap ia tidak salah alamat. Kalaupun salah ia berharap masih bisa menemukan orang itu di sekitar perkampungan itu.
"Waduh kok baru dengar ya. Setahuku di sini tidak ada yang namanya Winda Hara. Memang ada apa ?" Tanya tetangga si ibu.
"Ini Mbaknya cari alamat atas nama orang itu, tapi alamat yang dikasih alamat rumah Pak Susilo yang dijual itu Ti."
"Lebih baik orangnya dihubungi saja untuk memastikan alamatnya. Bukankah rumah Pak Susilo masih belum laku ya ? Takutnya orang yang Mbak cari tidak beres itu. Alamat rumah Pak Susilo kan memang terpasang di beberapa surat kabar dan media sosial Mbak karena rumah itu sudah diiklankan." Ucap tetangga si ibu yang di ketahui bernama Tati.
Kini pikiran Belva sudah menerka kemana-mana. Mendengar penjelasan kedua wanita dihadapannya. Nomor yang sudah diberikan oleh Bella dicobanya untuk dihubungi. Nomor itu tidak aktif sama sekali. Belva sudah terlihat gusar. Akhirnya ibu muda itu memilih untuk berpamitan.
Di dalam mobil Belva masih mencoba menghubungi customernya. Ia pun sudah mulai menjalankan mobil, memutar arah untuk kembali. Sungguh malang tak bisa ia duga. Nomor itu beberapa kali dihubungi tapi tidak bisa terhubung.
Rasa gusar itu semakin mendera. Melirik ke arah damping dan belakang, kedua anaknya masih tertidur. Belva memutuskan kembali ke butik. Pikirannya masih memikirkan sang customer. Ia masih tak percaya mengapa bisa terjadi seperti ini. Apakah sebuah ketidak-sengajaan atau memang benar disengaja. Belva tak tahu sama sekali, ia harap ini hanya kesalahpahaman saja.
Meski pikirannya dipenuhi dengan permasalahan kecil yang baru saja terjadi. Ia tetap harus fokus dalam mengemudi, karena ada dua bocah kecil yang menjadi hidupnya. Ia harus memikirkan keselamatan mereka bersama. Hampir satu jam lebih perjalanan mereka sampai di rumah.
Belva tak ingin membawa Kaili dan Kaila kembali ke butik untuk kali ini. Mereka sudah terlalu lelah jadi harus beristirahat dengan nyaman di rumah. Menitipkan mereka pada Budhe Rohimah, Belva kembali lagi ke butik. Membicarakan lebih lanjut mengenai customernya yang satu ini.
Belva berjalan masuk dengan wajah yang tak seperti biasanya. Wajah cerah itu tak lagi terlihat bersinar terang, wajah itu saat ini terlihat cukup redup. Salah satu karyawan yang melihat kedatangan Belva hanya bisa menatap penuh pertanyaan.
Langkah kaki yang sedikit terburu-buru itu memasuki ruangan Bella. Tentu saja gadis yang ada di dalam ruangan itu seketika menatap kedatangan bosnya. Ada raut penasaran dari wajah Bella sama seperti karyawan mereka tadi.
"Nona, ada apa denganmu ? Apa ada yang terjadi ?" Tanya Bella.
Helaan nafas terdengar saat Belva duduk di sofa. "Bella, coba kamu hubungi kembali Nona Winda Hara."
"Memang ada apa Nona ?"
"Alamat yang kamu berikan salah. Itu alamat orang lain. Dan di sana tidan ada yang bernama Winda Hara."
Mata Bella melebar bersamaan dengan mulutnya yang terbuka. Tak menyangka jika alamat yang diberikan salah. Kini Bella pun mulai merasakan ketidak beresan dalam hal ini. Tangannya bergerak mengangkat gagang telepon untuk menghubungi customernya.
Belva mencoba untuk berpikir tenang. Pasti akan ada penjelasan dan solusi atas masalah yang belum pasti ini.
"Bagaimana ?" Tanya Belva.
Bella menggeleng lemah. "Nomor tidak aktif."
Mendengar jawaban yang sama saat dirinya mencoba menghubungi sebelumnya. Belva memejamkan matanya dan menarik napas perlahan.
"Apa dia mau menipu kita ? Kenapa ? Apa alasannya." Gumam Belva lirih yang masih bisa didengar oleh Bella.
Semangat yang semula menyala dari dalam diri mereka saat beberapa customer merasa puas atas hasil kerja mereka. Kini semangat itu meredup saat customer mereka yang memesan banyak gaun diduga melakukan penipuan.
"Maaf Nona, saya benar-benar tak menyangka hal ini akan terjadi. Orang tersebut memesan via online dan mentransfer uang sebagai DP. Hal yang sama seperti yang dilakukan customer yang lain." Bella ikut menjadi lesu saat ini. Ia pun merasa bersalah karena dirinya lah yang menghandle customer masuk.
"Sudahlah Bella, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara untuk menghubungi orang itu kembali."
Baru saja bisnis itu mulai merangkak dengan beberapa customer yang sedikit demi sedikit berdatangan. Tapi kini tanpa diduga usaha butik Belva harus mengalami guncangan. Bukan hanya diawal merintis usaha saja bahkan ketika sudah berjalan pun pasti akan ada guncangan. Hal yang sudah biasa terjadi dalam berbisnis, maka dari itu seorang pebisnis harus bisa mengendalikan bisnisnya dan bisa membaca kondisi untuk mencegah terjadinya kerugian.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
__ADS_1
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π