
Satya menetralkan perasaannya yang semula merasa anjlok tiba-tiba menjadi biasa saja. Kedua manusia yang telah disatukan menjadi pasangan suami istri itu kini berjalan menuju taman belakang di mana Tuan Hector berada.
Belva menggandeng tangan Satya mengarahkan suaminya agar mengikuti dirinya menghampiri Tuan Hector. Tampak pria paruh baya itu sedang duduk dengan tangan memegang koran dan di sampingnya terletak satu cangkir yang Belva sudah yakin bahwa isi cangkir tersebut adalah kopi.
Tiba-tiba Belva melepaskan genggaman tangannya dari Satya dan berjalan lebih cepat tapi berjinjit agar tak diketahui oleh Papanya. Satu jari telunjuk wanita itu menempel pada bibirnya sendiri serta melihat ke arah Satya pertanda bahwa mereka harus diam tak mengeluarkan suara apapun. Belva dengan senyum senangnya mendekati Tuan Hector.
Hap...
Tangan Belva menutup kedua mata Tuan Hector dari arah belakang. Senyum bahagia Belva terlihat jelas saat itu. Ia merasa bahagia akhirnya bisa kembali lagi ke rumah yang dulu pernah menjadi tempatnya untuk bangkit dari keterpurukan.
"Siapa ini yang kurang ajar padaku!" Ucap Tuan Hector dengan tegas dan tak suka.
Belva menahan tawanya agar tak meledak begitu saja kala mendengar Papanya tak mengerti jika itu adalah perbuatannya. Satya yang melihat kelakuan istrinya hanya menggelengkan kepala heran dan tentu saja senyum Belva yang menampakkan rasa bahagia itu juga membuatnya ikut merasa bahagia.
"Jangan kurang ajar! Lepas siapa ini!"
Belva melepaskan tangannya dan merangkul pundak sang Papa semabari tertawa terbahak-bahak.
"Vanthe?"
"Hahaha iya Pa, ini Vanthe."
"Van, bagaimana kamu bisa ada di sini? Papa tidak bermimpi kan?"
Rangkulan Belva langsung berubah menjadi pelukan untuk Papanya.
"Bisa lah Pa, kan naik pesawat hahaha."
"Ck... Anak nakal. Kalau itu Papa tahu, kamu tidak sendiri kan?"
"Sama saya Pa." Ucap Satya menyahut sembari senyum tipis menghiasi wajah tampannya.
Tuan Hector langsung merubah arah pandangnya ke sumber suara yang jelas dikenalnya yaitu sang menantu.
"Satya." Panggil Tuan Hector.
"Iya Pa, tidak mungkin saya membiarkan anak dan istri saya pergi sejauh ini sendirian."
Satya berjalan mendekati mertuanya dan menyalami mertuanya dengan rasa hormat.
"Kapan kalian sampai sini? Kenapa kalian tidak memberitahu Papa. Meski sudah tua begini Papa masih bisa menyetir mobil untuk menjemput kalian."
Belva dan Satya tersenyum, fisik Tuan Hector memang masih terlihat gagah meski tak bisa dipungkiri kesehatannya memang sudah tak sekuat dulu karena faktor usia yang tak lagi muda.
__ADS_1
"Papa tak perlu repot-repot, saya ada orang yang bisa menjemput kami di bandara. Bagaimana keadaan Papa?"
"Ya seperti ini lah, seperti yang kalian lihat. Masih tampak sehat sebelum sakit haha."
"Papa bicara apa? Papa akan selalu sehat terus." Ucap Belva sedikit cemberut.
"Hahaha semoga saja, Nak. Doakan saja Papamu ini sehat-sehat terus, tapi kamu tahu sendiri papa sudah tidak muda lagi."
"Iya Van akan selalu doakan agar Papa dan Mama sehat selalu sampai nanti kalian bisa melihat cucu-cucu kalian menikah dan kalian akan punya cicit." Ucap Belva.
"Hahaha kamu lucu sekali, kedua cucuku bahkan masih sangat kecil, berapa tahun lagi mereka akan menikah. Papa memang sangat berharap bisa melihat mereka tumbuh dewasa maka tinggallah kalian di sini menemani Papa."
"Pa, pekerjaan Van dan Mas Satya kan ada di Indonesia, bagaimana nanti kalau kami tinggalkan."
"Itu nanti bisa kami pikirkan kembali, Pa. Yang terpenting Papa sehat-sehat selalu bersama Mama." Ucap Satya.
Pria itu merasa terenyuh saat mendengar permintaan Papa mertuanya. Sekarang Satya sudah tak memiliki orang tua, senang rasanya jika bisa memiliki kedekatan dengan mertuanya.
"Ah baiklah, ngomong-ngomong Mama kalian sedang ada di butik. Dia lebih aktif dari Papa."
"Jasmine mengatakannya tadi. Jam berapa Mama pulang, Pa?" Tanya Belva.
"Mungkin nanti saat makan siang Mama kalian pulang." Jawab Tuan Hector.
"Pa, Mas, aku ke dapur dulu ya."
Satya dan Tuan Hector mengangguk saja, Belva pergi ke dapur dan kedua lelaki itupun kembali melanjutkan perbincangan mereka perihal perusahaan.
"Bagaimana kabar perusahaanmu?" Tanya Tuan Hector.
"Cukup lancar hanya ada sedikit kendala di proyek kerjasama kita, Pa."
"Resort yang di Bali itu?"
"Iya Pa, ada penggelapan dana dan kami sedang menyelidikinya. Selama saya ke sini, saya sudah memerintahkan Jordi untuk menyelidiki semuanya sampai nanti kepulangan kami ke Indonesia kembali."
"Papa yakin kamu bisa mengatasinya. Jika memang nanti merasa kesulitan untuk kasus ini segera hubungi Papa." Ucap Tuan Hector.
"Terima kasih, Pa."
"Mas, ini kopi untukmu." Ucap Belva yang datang dengan membawa satu cangkir kopi.
"Terima kasih, sayang." Ucap Satya dan Belva hanya mengangguk tersenyum.
__ADS_1
Satya meminum kopi yang dibuatkan oleh istri tercinta. Rasa kopi yang selalu menjadi favorit baginya sebelum pergi ke kantor. Satay mengernyitkan dahinya setelah meminum kopi itu.
"Kok rasanya aneh." Batin Satya.
"Kenapa mas?" Tanya Belva.
"Tidak, sayang. Oh iya maaf bisa ambilkan mas air putih? Mas haus."
"Boleh mas. Sebentar aku ambilkan."
Belva kembali ke dapur untuk mengambil air putih. Lalu kembali lagi ke tempat di mana suami dan Papa nya berada.
"Terima kasih, sayang." Ucap Satya kembali setelah menerima satu gelas air putih dari istrinya.
Air putih itu digunakan oleh Satya untuk menetralisir rasa kopi yang kali ini rasanya benar-benar aneh baginya tidak seperti buatan sang istri seperti biasanya.
Waktu terus berputar hingga makan siang tiba, seperti ucapan sang Papa. Nyonya Hector kembali ke rumah sesuai dengan jadwalnya seperti biasa. Karena dirinya pun sudah tidak lagi muda maka untuk bekerja di butik pun tidak full seperti dulu.
Belva rupanya belum keluar dari kamar bersama sang suami setelah membersihkan diri sehabis berbincang dengan Tuan Hector. Keduanya masih menikmati waktu berdua sama seperti yang satya inginkan. Duo Kay sudah bangun sejak tadi dan mereka berpindah ke kamar mereka yang telah lama tak lagi mereka tempati. Semua juga masih sama tak ada yang berubah meski mereka telah pindah ke Indonesia. Tuan dan Nyonya Hector sangat menjaga kamar putri dan kedua cucunya dengan baik.
"Sayang, sini dekat mas."
"Ini sudah dekat loh mas." Ucap Belva.
"Ya dekat lagi sini, kamu peluk mas lalu mas juga peluk kamu."
Belva mengernyitkan dahinya, suaminya aneh sekali hari ini. Seperti menahan kerinduan akibat lama tak bertemu. Belva menuruti kemauan suaminya, ia lantas memeluk suaminya dengan erat begitu juga dengan Satya.
"Yank."
"Hem, kenapa?"
"Nanti malam...."
****
To Be Continue....
Hai my dear para readers ku tersayang
Sorry guys part kali ini sedikit banget karena udah malem jadi daripada gak update dan kalian menunggu lebih baik dikit aja dulu lanjut besok yaa 😬🙏
Thank banget buat kalian yang udah setia support author sampai saat ini. Thank buat Like, komen, kembang setaman dan Vote nya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Oh iya author bakal kasih kejutan kecil kalau novel ini tembus 1jt di bulan ini, kejutan itu bakal author kasih ke kalian yang rajin dan setia sama author. Kalian yang masuk rangking tiga besar di akhir bulan nanti yang akan dapat kejutan kecil itu. Semangat 🤗🙏🙏