
Roichi berjalan menuju kamar Duo Kay dan di sana Jasmine sedang menemani Duo Kay. Pintu kamar Duo Kay memang tak pernah dikunci sehingga Roichi bisa masuk begitu saja.
Setelah sarapan, Duo Kay lebih memilih masuk ke dalam kamar untuk bermain dengan mainan baru mereka yang dibelikan oleh Tuan Hector. Sebagai seseorang yang sejak kembalinya Belva serta anak-anak mendapatkan tugas menjaga dan menemani Duo Kay, Jasmine tentu lebih mengutamakan menjaga dua bocah itu ketimbang berada di dapur. Apapun yang dua anak itu perintahkan Jasmine hanya bisa menurut saja asal mereka tak rewel dan terus merengek.
Seperti saat ini Jasmine harus bersedia menjadi kuda bagi Kaila. Entah kenapa bocah itu ingin sekali bermain kuda-kudaan, Kaili sempat menghalangi karena merasa itu tak sopan dan kasihan pada Jasmine tapi Kaila tetap kekeuh ingin bermain sesuai keinginannya karena sudah mulai merasa bosan dengan mainannya.
"Ayo aunty jalan." Perintah Kaila dengan tawa gembiranya.
Gadis kecil itu pernah melakukan permainan itu beberapa kali bersama Daddy nya. Satya lah yang mengajari mainan itu pada Duo Kay dulu saat bersama Belva mereka hanya sesekali saja itu pun karena mereka masih kecil belum bisa berjalan dengan lancar. Semakin besar Belva melarang karena bibit tubuh mereka yang bertambah berat tapi Satya tak perduli, pria itu akan melakukan apapun agar anak-anaknya senang dan bahagia.
Jasmine berjalan merangkak seperti kuda berkeliling kamar dengan kaila yang berada di atasnya. Bertepatan saat Roichi masuk ke dalam kamar Duo Kay, pria itu sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Ekhem..." Deham Roichi mengalihkan fokus mereka yang berada di dalam kamar.
"Papi." Panggil Kaili.
Kaila menoleh ke belakang bersama Jasmine.
"Papi." Panggil Kaila.
"Eh Tuan Roi." Ucap Jasmine sedikit canggung.
"Kaila, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Roichi.
"Main kuda-kudaan, Pi." Jawab Kaila santai dengan gigi yang terpajang rapi saat dirinya tersenyum.
"Turun sayang, kasihan aunty Jasmine."
"Iya itu Kaila sudah aku suruh turun tidak mau." Ujar Kaili.
"Cuma sebentar. Aunty juga tidak apa-apa, iya kan aunty?" Ucap Kaila dengan santai dan polosnya.
Bagaimana mungkin Jasmine menolak pasti Kaila akan merasa kesal dan terus merengek padanya nanti jika Jasmine tak mau mengikuti kemauan gadis kecil itu. Kaila anak yang sedikit manja.
"Eh iya tidak apa-apa, Nona Kaila." Ucap Jasmine tersenyum.
"Tidak Kaila, aunty Jasmine pasti punggung nya sakit. Lain kali jangan seperti ini, aunty Jasmine itu perempuan tenaganya tidak sekuat laki-laki." Ucap Roichi.
"Tapi aku bosan." Ujar Kaila dengan bibir yang sedikit cemberut.
"Kamu bosan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar. Papi sudah berjanji tadi pada kalian untuk mencari kado ulang tahun kalia. Ayo bersiaplah."
Wajah Kaila langsung berubah tersenyum, matanya berbinar ia sangat senang sekali dengan yang namanya jalan-jalan. Kaili pun begitu sedari awal sampai di Paris sudah ada dalam kepalanya untuk berjalan-jalan seperti dulu saat mereka masih tinggal di Paris.
"Benar Papi kita jalan-jalan?" Tanya Kaili.
"Iya kita jalan-jalan. Ayo siap-siap. Jasmine tolong bantu mereka bersiap." Ujar Roichi pada Duo Kay dan Jasmine.
"Baik, Tuan. Saya akan membantu mereka bersiap."
Jasmine bergerak cepat untuk menyiapkan Duo Kay. Gadis itu selalu kerja dengan cekatan, apapun yang diperintahkan salalu dikerjakannya sesuai perintah. Roichi tak lantas keluar begitu saja tapi membantu Jasmine menggantikan baju untuk dua bocah kembar itu.
Satya, Belva, Nyonya dan Tuan Hector masih berada di taman belakang untuk berbincang. Mereka kini tengah membicarakan perihal kehamilan Belva yang menjadi sumber kebahagiaan mereka sejak kemarin.
"Sayang, apa kamu benar-benar tidak merasakan mual?" Tanya Nyonya Hector pada Belva.
"Tidak, Ma. Aku sama sekali tidak merasakan hal itu, makanya aku sempat tidak tahu jika aku tengah hamil."
__ADS_1
"Bayi itu memang pintar tidak mau merepotkan ibu nya tapi justru membuat ayahnya kewalahan. Pasti jika Satya tidak sakit seperti kemarin kalian tidak akan pernah tahu kalau Vanthe tengah hamil." Ucap Tuan Hector.
"Iya, mungkin karena dulu saat hamil si kembar saya tidak mengetahuinya makanya sekarang saat kehamilan adik mereka justru saya yang merasakan semuanya." Ujar Satya.
Mereka semua terkekeh kecil, bisa saja takdir memang sengaja entah memberikan kesempatan atau memang membalas dendam padanya melalui kehamilan Belva kali ini. Tapi semua itu tak membuat Satya marah atau kesal justru dirinya merasa senang dan gemas dengan apa yang dialaminya saat ini. Satya baru merasakan bagaimana susahnya wanita yang tengah hamil.
"Saya justru senang bisa mengalami hal ini, kasihan juga kalau Belva yang mengalami nya." Ujar Satya kembali.
Tuan dan Nyonya Hector tersenyum.
"Mama senang putri Mama begitu disayangi oleh suaminya. Jaga anak Mama, Satya apalagi sekarang istrimu sedang hamil. Jangan buat macam-macam apalagi sampai membuatnya tertekan banyak pikiran." Nasihat Nyonya Hector pada Satya.
"Iya, Ma. Satya akan menjaga istri Satya dengan baik. Istri secantik ini tidak akan saya biarkan kesusahan, sayang sekali." Ucap Satya sembari merangkul dan menarik Belva pelan pada pelukannya.
Belva hanya tersenyum menatap suaminya, ia bisa merasakan betapa Satya menyayangi dan mencintainya begitu dalam.
Saat perbincangan mereka masih terus berlanjut, Roichi turun bersama Duo Kay dan Jasmine. Kedua anak kembar itu digandeng masing-masing oleh Roichi dan Jasmine. Mereka berempat menghampiri taman belakang untuk berpamitan pada Tuan dan Nyonya Hector serta kedua orang tua Duo Kay sendiri.
"Mami... Daddy..." Panggil Kaila.
Roichi mengalihkan pandangannya pada Tuan dan Nyonya Hector, dia tak ingin melihat sikap pasangan suami istri yang terlihat sangat harmonis itu. Hatinya terasa sakit tapi dirinya tidak berhak marah karena selama ini tugasnya hanyalah menjaga Belva dan Duo Kay saja. Tuan Hector akan marah besar saat mengetahui jika dirinya memiliki perasaan pada Belva. Pria itu berusaha mengubur perasaannya yang mulai tumbuh untuk wanita muda yang menjadi anak angkat majikannya.
"Sudah mau berangkat, sayang?" Tanya Satya.
"Iya Daddy. Daddy sama Mami ikut?" Tanya Kaila.
"Tidak, sayang. Daddy dan Mami di rumah saja, Mami tidak boleh kelelahan, sayang nanti kasihan adik bayinya." Ucap Satya memberikan peringatan pada putrinya.
"Kan yang jalan Mami bukan adik bayinya." Ucap Kaili.
Sebenarnya Belva tak masalah jika berjalan-jalan tapi suaminya tak mengijinkannya. Belva tak ingin memperkeruh suasana terlebih keadaan Satya sedang kurang baik dan sedikit lebih sensitif.
"Anak-anak kita berangkat sekarang, biar Mami kalian istirahat di rumah." Ujar Roichi, dia semakin tidak tahan untuk saat ini. Rasanya ingin segera pergi dari hadapan Satya dan Belva.
"Roi, kamu sendiri membawa mereka?" Tanya Nyonya Hector.
"Iya, Ma. Aku sudah berjanji akan membelikan mereka kado ulang tahun." Jawab Roichi.
"Kamu akan kerepotan membawa mereka sendiri. Pergilah bersama Jasmine, selama si kembar berada di sini Jasmine yang Mama tunjuk untuk menjaga mereka." Ucap Nyonya Hector.
Roichi menatap sekilas pada Jasmine, gadis itu hanya mengangguk saja saat Roichi menatapnya sekilas.
"Baiklah, ayo Jasmine tapi ganti dulu pakaian mu agar lebih santai." Ujar Roichi pada Jasmine.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu sebentar." Ucap Jasmine yang setelah mendapatkan anggukan dari Roichi gadis itu langsung melesat masuk ke arah belakang agar lebih cepat sampai di kamarnya dan segera mengganti pakaiannya.
Disudut negara lain, sepasang manusia sedang duduk berhadapan membicarakan hal penting. Ada kilatan marah, sedih dan dendam pada sorot mata mereka. Setelah sekian lama tak bertemu, hanya dalam hitungan lima jari saja tak sampai mereka bertemu.
Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah sekian lama. Pokok perbincangan mereka tak lain dan tak bukan adalah Alya. Tentu saja kedua pasang manusia itu adalah sosok yang mengenal Alya.
"Apa ini karena pria itu?" Tanya seorang pria yang duduk dihadapan seorang wanita yang menggunakan baju tahanan yang tak lain adalah Sonia.
"Ada apa kamu datang ke sini?" Bukan sebuah jawaban melainkan sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut wanita itu.
"Sonia, aku datang untuk membicarakan hal penting. Aku rasa ini sangat penting untuk mu."
"Cepat katakan saja tidak usah berbasa-basi, hal penting apa yang membuatmu mau menemui ku." Ujar Sonia. Ia tahu pria yang ada dihadapannya adalah seorang pria yang selalu menyebutkan dirinya sangat sibuk dalam pekerjaannya hingga untuk bertemu saja sangat sulit.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tahu berita mengenai Alya?"
"Alya? Ada apa dengan putriku?" Tanya Sonia dengan tatapan yang oenuh dengan keseriusan.
"Sungguh kasihan sekali sebagai seorang ibu kamu tidak pernah bisa menjaga putrimu?"
"Apa maksud mu?" Tanya Sonia.
"Apa kamu sudah tahu jika Alya telah tiada?"
Manik mata Sonia membulat penuh, terkejut sungguh sangat terkejut dengan penuturan pria yang ada dihadapannya.
"Tiada bagaimana? Katakan dengan jelas maksud kalimat mu." Desak Sonia.
"Alya meninggal dunia beberapa minggu yang lalu." Ujar pria itu dengan jelas.
"Me-mening-gal? Tidak!!! Tidak mungkin Alya meninggal!!! Dia baik-baik saja saat aku pergi Alya masih baik-baik saja!!" Ucap Sonia dengan keadaan syok.
Dua orang anggota kepolisian yang menjaga pertemuan mereka langsung mendekat dan menenangkan Sonia yang terlihat syok dan mulai tak terkendali. Air mata Sonia mengalir begitu saja saat mendengar kabar Alya telah meninggal dunia.
"Kamu bohong!!! Aku tidak percaya, Alya pasti baik-baik saja. Apa maksud mu mengatakan hal ini padaku huh!!!" Teriak Sonia.
Ingin rasanya Sonia memukul wajah prianitu hingga babak belur, ia tak terima jika putrinya dikatakan meninggal, menurut keyakinannya putrinya itu dalam keadaan baik-baik saja saat dirinya pergi.
"Tenanglah, Sonia. Aku tidam berbohong, ini kenyao yang harus kita terima jika Alya memang sudah meninggal." Ujar pria itu ikut berusaha menenangkan Sonia.
"Tidak!! Tidak mungkin!! Alyaku masih hidup hiks... Hiks..."
"Tenanglah... Aku tahu kamu pasti terpukul saat mendengarkan berita ini, tapi tidak mungkin jika aku tak mengabari hal sepenting ini padamu."
"Tidak... Hiks... Bagaimana bisa Alya meninggal. Apa Alya kecelakaan? Apa ada seseorang yang membunuhnya?" Tanya Sonia dengan manik mata bergetar saat menatap pria dihadapannya.
"Menurut orang-orang ku, dia meninggal karena melahirkan bayinya yang terlahir prematur."
"Melahirkan? Apa lagi ini maksudnya? Bagaimana Alya bisa melahirkan dia belum menikah, dia... Dia tidak hamil." Ujar Sonia kembali terkejut.
"Dia hamil, Sonia. Putrimu hamil tanpa suami. Bagaimana bisa kamu mendidiknya hingga menjadi gadis murahan yang hamil di luar nikah seperti itu." Ucap pria itu dengan nada sedikit kesal.
Sonia langsung menatap tajam pada pria itu. Ada amarah dan mungkin kebencian pada pria itu.
"Perempuan murahan itu adalah putri mu. Brengsek!!!" Ucap Sonia dengan lantang penuh amarah.
Sonia tak terima jika putrinya dikatakan murahan oleh seorang pria yang nyatanya adalah ayah kandung dari putrinya sendiri. Pria yang sejak dulu tak pernah mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Kini pria itu datang mengabarkan berita duka yang membuatnya syok dan merendahkan putrinya. Kabar ini membuat Sonia bagaikan mendapatkan terapi kejut bagi jantungnya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih atas kesetiaan kalian yang masih dukung author 🙏🙏
Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang menambah semangat author.
Tunggu kejutan author di akhir bulan buat kalian yang masuk rangking 3 besar kategori readers paling support author jika novel ini tembus 1jt view pada bulan ini. 🙏🙏
Btw pulsa 5rb jaman sekarang masih laku gk sih guys 😅
__ADS_1