
Sepasang kekasih itu masih saja berpelukan. Si pria seakan tak ingin melepaskan wanitanya begitu saja. Setelah drama kecemburuan dan berakhir dengan saling terbuka.
"Mas, kamu tidak kembali ke kantor ini sudah jam dua lebih loh."
"Sebentar lagi juga pulang kantor, mas disini saja lah." Ucap Satya.
"Loh kok gitu, kerjaaanmu tidak akan selesai kalau kamu begitu mas."
"Ada Jordi, mas menggajinya besar jadi tidak masalah."
Belva menatap pria kesayangannya itu dengan malas. Pria yang dulu sangat gila kerja dan tidak akan betah di rumah barang sebentar saja selama Belva menjadi pembantu rumah tangga di rumah besar Satya, kini pria itu lebih banyak membolos bekerja.
Satya tentu merasa nyaman dan menemukan titik bahagianya saat ini. Siapa saja pasti akan lebih betah berlama-lama dengan suatu hal yang membuatnya senang dan bahagia.
Saat bersama Sonia, pria itu memang tak mendapatkan kebahagiaan. Hanya sebuah janji yang berusaha dijaganya demi ibunya yang paling berharga dalam hidupnya.
"Seharusnya kamu lebih giat bekerja, ada aku dan anak-anak yang harus kamu biayai nanti."
"Memang kenapa ? Meski mas tidak masuk bekerja barang sehari dua hari saja. Mas tidak akan kehilangan pekerjaan. Kamu lupa mas yang punya perusahaan."
"Hemmm... Mentang-mentang yang punya perusahaan. Bisa seenaknya, kamu tidak takut bangkrut gara-gara bolos kerja."
"Jangan berbicara seperti itu sayang. Omongan itu doa. Apalagi doa istri, manjur sekali sayang."
"Lagi pula kalau mas bangkrut, masih ada butik ini. Kita bisa bekerja bersama setiap hari." Imbuh Satya.
"Dih... Memang kamu mau kerja apa disini ? Jadi tukang jahit ? Apa jadi manekin gaun-gaun buatan aku ?"
"Jadi tukang pijit." Celetuk Satya.
"Tidak ada hubungannya butik sama tukang pijit. Jangan mengada-ada kamu mas."
"Ada... Tukang pijit khusus buat kamu. Kalau kamu lelah mas yang pijit kamu, gimana oke kan ?"
"Apa-apaan... Tidak... Tidak... Semakin ngawur kamu mas. Sudah ah, aku mau lanjutin pekerjaan ku."
"Lanjutinnya disini saja, dekat sama Mas jangan di situ." Ucap Satya yang tak ingin berjauhan dengan Belva.
Memanfaatkan waktunya yang saat ini hanya ada mereka berdua. Duo Kay memang sengaja Satya titipkan pada budhe Rohimah. Niat awalnya adalah untuk menyelesaikan masalah kecemburuannya terhadap Belva dan dokter Dimas. Tak ingin jika Duo Kay melihat dirinya dan Belva bertengkar tapi akhirnya justru mereka bisa berbaikan lebih cepat dan tidak harus berhari-hari seperti anak SMA yang ngambek dengan pacarnya.
Demi menyelesaikan pekerjaan dengan cepat Belva tak membantah atau berdebat lebih dulu dengan Satya. Dibawanya semua pekerjaannya dan duduk di sofa tepat di samping Satya.
Belva sibuk meneruskan desainnya, Satya hanya sesekali memperhatikan Belva dan terkadang pria itu juga mengajak Belva berbicara. Menanyakan beberapa hal berkaitan dengan desain atau butik yang Belva kelola.
"Gambar kamu bagus sayang. Kamu belajar dimana ?" Tanya Satya.
"Dulu pernah les privat sama desainer di Perancis."
"Perancis ? Kamu pernah kesana ?" Tanya Satya.
Pria itu belum tahu dengan jelas bagaimana cerita penuh masa lalu Belva.
Belva mengangguk. "Mama dan Papa angkatku membawaku kesana saat mereka mengangkat ku menjadi anak mereka. Menetap disana selama empat tahun lebih beberapa bulan."
"Tunggu, jadi itu artinya anak-anak lahir disana dan kalian belum lama kembali ke sini ?"
"Iya... Saat temanku menikah dia mengundangku dan kami berangkat ke Indonesia."
"Siapa teman mu ? Bukankah selama sekolah dulu mas dengar dari Sonia kamu tak pernah punya teman selain Alya."
"Sebenarnya dia dulu adalah klien di butik Mama, tapi karena aku ikut membantu di butik Mama jadi kami sering bertemu. Namanya Mariana Maximilian."
Satya tersenyum tipis, dia mengingat saat pertama kali bertemu dengan seorang wanita cantik di malam saat pesta pernikahan salah satu rekan bisnis nya. Satya semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku merasa tidak enak jika tidak menghadiri undangan nya. Meskipun sebenarnya aku ragu untuk kembali ke Indonesia."
Belva bercerita dengan tenang, ia akan berusaha melepaskan masa lalu yang cukup sulit itu. Meski semua itu tak akan pernah terlupakan tapi terus tenggelam dalam kubangan masa kelam itu juga tidaklah baik.
"Ragu ?" Tanya Satya. Dia mengendurkan pelukannya pada Belva.
"Emm... Iya ragu karena belum siap dan takut untuk bertemu orang-orang di masa laluku. Walau pada akhirnya aku tetap tidak bisa benar-benar menghindari mereka."
"Maksud kamu Sonia dan Alya ?" Belva mengangguk.
"Termasuk saya ?" Tanya Satya lagi dan lagi-lagi Belva mengangguk.
Satya mencoba memahami lagi bagaimana masa lalu Belva. Meski terlihat tenang tapi Satya yakin pasti wanitanya itu merasa sedih saat mengenang masa lalu yang tak menyenangkan itu. Satya memang tak pernah tahu dan tak pernah merasakan bagaimana sulitnya hidup Belva dulu.
"Maaf sayang... Membuatmu harus mengenang masa lalumu." Satya memeluk Belva dari samping.
"Mas, apa sih... Aku biasa saja tidak perlu meminta maaf."
"Tapi dulu pasti kamu sangat kesulitan. Apalagi saat mengandung anak-anak kita dulu."
"Semua ibu hamil pasti akan merasakan sedikit kesulitan mas tidak hanya aku saja yang merasakannya." Ujar Belva.
"Tapi ibu hamil yang lainnya mereka ditemani suami mereka. Sedangkan kamu hanya sendiri, mas yakin pasti kamu merasakan kesulitan yang lebih dari ibu hamil lainnya." Ucap Satya dengan wajah sedihnya.
"Siapa bilang aku sendiri, dulu ada Mak Iyem yang temani aku tapi Mak Iyem sudah pergi lebih dulu. Akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan Om Roi dan Papa. Mereka pun menemani ku sampai Kaili dan Kaila lahir hingga tumbuh semakin besar."
"Seandainya dulu mas tahu, kamu tidak akan kesulitan seperti itu sayang."
__ADS_1
Belva tersenyum tipis. "Kamu yakin ? Pasti kamu tidak akan menerimanya dengan mudah. Aku hanya seorang pembantu yang dicap sebagai penggoda majikannya. Bahkan istri majikan ku sendiri berusaha keras melenyapkanku dan calon anakku saat itu."
Kembali Satya mempererat pelukannya. Mendengar Belva bercerita seperti itu tak akan pernah habis penyesalan dan rasa sedih yang Satya rasakan terhadap Belva.
Apa yang dikatakan Belva sebagian ada benarnya. Dirinya pasti tidak akan mudah menerima Belva dan kehadiran calon anaknya yang telah bersemayam di dalam perut Belva. Saat Jordi mengungkapkan fakta yang sebenarnya mengenai Duo Kay saja Satya hampir tak percaya.
"Maaf... Entah kata maafku ini sudah ke berapa kali kamu dengar. Tapi mas benar-benar minta maaf, mas menyesal baru menyadari keberadaan anak-anak mas yang lahir dari ibu yang hebat seperti kamu sayang."
Satya mengecup pelipis Belva dan kepala Belva beberapa kali. "Mas beruntung masih diberikan kesempatan untuk menyadari keberadaan kalian. Maka dari itu mas beberapa kali memintamu untuk menjadi istri mas. Berulangkali kamu menolak tapi mas katakan sekali lagi jika mas beruntung pada akhirnya."
"Mas tidak akan berjanji tapi mas akan selalu berusaha untuk menjagamu dan anak-anak kita nanti. Mas akan selalu ada buat kamu saat kamu mengandung nanti."
Belva menghentikan pekerjaannya sejenak, ia menatap Satya. "Mikirnya sudah jauh begitu. Kita menikah saja belum mas, kamu sudah bahas aku hamil segala."
"Memang kamu tidak mau hamil lagi nanti ? Padahal mas pingin sekali melihat kamu hamil. Mendampingi saat masa-masa kehamilan mu sayang."
"Memang mas tidak malu masih punya anak bayi ?" Tanya Belva. Sejujurnya dalam hatinya merasa berbunga-bunga sekaligus malu-malu.
"Kenapa harus malu, mas punya istri yang sah nanti. Jangan-jangan kamu yang malu nanti punya suami kaya mas yang usianya sangat jauh dari kamu."
"Kan suka mengada-ada kalau bicara. Sudah ah lepas dulu, pekerjaan aku tidak akan selesai nanti." Ucap Belva.
Namun Satya enggan melepaskan belitan tangannya pada tubuh Belva. "Mumpung berdua sayang."
"Tapi ini masih jam kerja aku. Mas harus mengerti itu. Lepas dulu tidak enak kalau ada karyawan yang tiba-tiba masuk dan lihat kita seperti ini."
Walau Belva tahu karyawannya tidak akan sembarangan masuk sebelum mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi wanita itu semakin merasa grogi jika Satya terus-menerus membahas kehidupan rumah tangga yang akan mereka jalani nanti. Terlebih pembahasan Satya sudah sangat mendalam seperti itu.
Belva terus saja mencari cara agar Satya mau melepaskan dirinya. Hingga sebuah ancaman dari Belva jika dirinya tidak mau pulang ke apartemen Satya jika pria itu tak mau mengikuti keinginan nya.
Mau tak mau Satya melepaskan pelukannya meski sebenarnya masih ingin terus memeluk wanitanya. Belva kembali melanjutkan pekerjaannya. Satya mengalihkan diri dengan menyibukkan diri memeriksa email dan pekerjaannya melalui ponselnya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu Satya sudah tiba. Pria itu sedari kemarin memang tak sabar untuk segera menikahi Belva. Tapi masih terkendala oleh ijin kedua orang tua angkat Belva yang belum mengetahui rencana Belva dan Satya.
Saat ini Belva dan Bella menjemput Tuan dan Nyonya Hector. Tanpa kehadiran Duo Kay dan juga Satya karena dua bocah itu masih berada di sekolah dan Satya tak mengetahui kedatangan orang tua angkat Belva.
"Mama... Papa..." Panggil Belva.
Tuan dan Nyonya Hector berjalan menghampiri kedua dua perempuannya cantik yang sedang menunggu mereka.
"Sayang, kamu ikut menjemput Mama." Ucap Nyonya Hector.
"Tentu saja. Aku merindukan Mama." Belva memeluk Nyonya Hector selaku Mama angkatnya.
"Jadi, yang kamu rindukan hanya Mamamu saja ?" Tuan Hector bersuara setelah bersalaman dan berpelukan dengan Bella.
"Papa... Tentu saja Vanthe juga merindukan papa."
Belva berpelukan dengan Tuan Hector. Ciuman penuh kasih sayang Belva dapatkan dari Tuan dan Nyonya Hector yang bersarang di keningnya..
"Padahal kami ingin membuat kejutan untukmu tapi sepertinya Bella gagal menjalankan misi." Ucap Nyonya Hector melirik Bella dengan berpura-pura kesal pada gadis itu.
"Maaf Nyonya... Sebenarnya ada alasan mengapa saya gagal menjalankan misi." Ucap Bella dengan wajah tertunduk.metasa bersalah.
"Alasannya apa Bella sampai kami gagal memberikan kejutan untuk putriku yang satu ini ?" Tanya Tuan Hector.
"Maaf Tuan... Saya tidak bisa menyebutkan alasannya sekarang. Saya tidak berhak karena Nona Vanthe yang lebih berhak untuk mengatakan nya." Jawba Bella.
"Ada apa ini ?" Tanya Nyonya Hector curiga.
"Sudah... Sudah... Mama, lihat itu wajah Bella, dia takut pada kalian." Ucap Belva.
Kompak kedua paruh bayabitu langsung menatap Bella. Gadis itu masih tertunduk. Tuan Hector menggelengkan kepala sedangkan Nyonya Hector tersenyum memperhatikan Bella.
"Sebegitu takutnya kamu dengan Papa dan Mama mu sendiri, Bella ?" Ucap Tuan Hector.
Bella mengangkat wajahnya menatap Tuan Hector. Wajah pria tua itu terlihat tenang dan damai. Tidak ada raut wajah marah atau sejenisnya. Begitu pula dengan Nyonya Hector yang tersenyum menatap dirinya.
"Kami tidak benar-benar marah sayang. Jangan takut dan bersedih." Ucap Nyonya Hector.
"Sudah ayo kita pulang. Mama dan Papa mau pulang ke rumah aku atau langsung pulang ke rumah besar ?" Tanya Belva.
"Kita langsung ke rumah besar saja sayang. Mama dan Papa harus beristirahat, maklum kami sudah tak sekuat dulu. Nanti ajaklah cucu-cucu Mama ke rumah, kita makan malam bersama." Ucap Nyonya Hector.
Belva mengangguk, akhirnya mereka pulang menuju rumah besar Hector. Belva juga berpikir rasanya tidak mungkin jika orang tuanya harus pulang ke rumah minimalisnya yang tidak akan cukup untuk di tempati banyak orang.
Waktu terus merangkak hendak berganti dengan hari yang lain. Satya menjemput Belva dan Duo Kay di butik. Akhir-akhir ini Satya lebih memilih menggunakan mobil sendiri agar bisa bebas menjemput Belva dan anak-anak nya.
"Mas, nanti malam kita makan malam yuk di luar." Ucap Belva.
Satya yang fokus pada jalan di depannya langsung menoleh ke arah Belva.
"Tumben Mam... Biasanya susah diajak makan malam di luar." Ujar Satya.
"Kali ini beda Dad, spesial. Anak-anak pasti suka sekali."
"Sayang, kalian mau kan makan malam di rumah Opa, kalian merindukan Opa ?" Tanya Belva beralih pada Duo Kay.
"Opa ? Kita beneran Mi, makan malam di rumah Opa ?" Tanya Kaili dengan semangat.
__ADS_1
Belva mengangguk. "Iya sayang, Opa dan Oma menunggu kedatangan kalian."
"Tunggu... Tunggu... Sayang maksud kamu bagaimana ini ? Opa ? Oma ? Orang tua kamu sudah datang ?" Tanya Satya kebingungan.
"Opa dan Oma kesini Mami ?" Tanya Kaila.
"Iya sayang-sayangnya Mami... Opa dan Oma tadi siang sampai di Indonesia. Dan Oma ingin makan malam bersama kita."
"Serius Mam ? Orang tua kamu sudah datang ?"
"Iya Dad, jadikan kamu ketemu orang tua aku ?" Tanya Belva memastikan.
"Jadi Mam... Tapi kok kamu kasih tahunya mendadak begini sih Mam."
"Bukan mendadak Dad, tapi tadi siang Mama dan Papa baru saja sampai. Itupun aku tidak tahu kalau mereka akan sampai hari ini. Bella tadi yang kasih tahu. Memang Daddy ada acara ?"
"Tidak sih Mam, cuma tiba-tiba Daddy jadi grogi saja habis mendadak Mami kasih tahu nya. Jam berapa makan malam ?"
"Jam tujuh. Biasa saja Dad, Mama Papa tidak akan menggigit mu. Bukannya sudah biasa berhadapan dengan klien penting."
"Tapi ini beda Mam, coba kalau orang tua Daddy masih ada pasti Mami juga bakalan sama seperti Daddy."
"Daddy takut ya ketemu Opa sama Oma ?" Tanya Kaila.
"Daddy tidak takut sayang." Ucap Satya.
"Kok tadi bilang grogi grogi, grogi itu takut kan ?" Tanya Kaila.
"Daddy hanya sedikit gugup sayang. Kan Daddy belum kenal dengan Opa dan Oma." Ucap Belva memberi pengertian pada Kaila.
"Oh... Berarti habis ini kita mandi terus berangkat ke rumah Opa kan Mi ?" Tanya Kaila.
"No sayang, kita berangkat masih agak nanti ya. Kan makan malam jam tujuh."
"Tapi aku mau cepat-cepat ketemu Opa dan Oma, Miii..." Ucap Kaili yang sudah tidak sabar.
Belva hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Kaili dan Kaila yang sangat bersemangat dan tidak sabar ingin bertemu dengan Opa dan Oma mereka.
Sampai di apartemen kedua bocah itu terus saja membicarakan rencana mereka yang akan bertemu dengan Opa dan Oma mereka. Bahkan mereka merengek agar lebih cepat datang ke rumah Opa mereka.
Tak tahan dengan rengekan mereka yang bising. Akhir Belva meminta Bella untuk menjemput Duo Kay lebih dulu dan membawa mereka ke rumah besar Tuan Hector.
Belva dan Satya bersiap untuk datang ke rumah besar Tuan Hector. Belva begitu merindukan kebersamaannya dengan keluarga angkat nya itu. Sedangkan Satya yang sejak kemarin tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tua Belva kini berubah menjadi gugup.
"Sayang, pakai yang mana ini baju nya ?" Tanya Satya yang berdiri di depan lemari dan berkacak pinggang.
Handuk masih menempel dipinggangnya dengan erat. Belva menggelengkan kepalanya melihat tingkah Satya yang berbeda dari biasanya yang terlihat tenang dan santai.
"Pakai yang mana saja yang penting rapi, sopan dan nyaman kamu pakai mas." Jawab Belva yang masih sibuk di depan cermin. Menatap pria kesayangannya dari balik cerminannya.
"Pilihkan dong yank. Mas pusing ini mau pakai baju yang mana."
Satya terlihat sedikit frustasi akibat rasa gugupnya. Dia sudah seperti anak ABG yang ingin berkencan untuk pertama kalinya bersama wanita incarannya.
Belva berdiri dari kursi rias, berjalan menghampirinya Satya yang berkacak pinggang di depan lemari.
"Awas mas minggir dulu deh."
Satya menggeser tubuhnya ke samping membiarkan Belva memilihkan baju untuknya.
Kemeja santai berwarna hitam dan juga celana jeans berwarna biru Satya pilihkan untuk pria tampan nya.
"Ini pakai yang ini saja." Pakaian itu disodorkan Belva pada Satya.
"Terima kasih sayang." Satya tersenyum lalu mengecup pipi Belva.
"Kebiasaan... Pakai cepat ini sudah setengah tujuh mas." Omel Belva meski ia sedikit menahan senyumnya.
"Iya sebentar ini mau jalan ke kamar mandi. Nanti ganti baju disini kamu ngomel-ngomel lagi."
Satya masuk ke dalam kamar mandi, dia berganti baju di depan cermin.
"Padahal kan lebih cepat kalau ganti baju sekalian tadi di sana. Pakai ngomel sih Belva kalau aku ganti baju di kamar, besok juga bakal keseringan sama si jarum pentul ini." Gerutu Satya di dalam kamar mandi.
Selesai berpakaian Satya keluar dari kamar mandi. Rupanya pakaian mereka senada, Belva juga menggunakan dress selutut berwarna hitam.
"Bagaimana sayang ? Sudah rapi belum ini ?" Tanya Satya pada Belva.
Biasanya pria itu selalu percaya diri tapi entah hari ini pria itu ribet sendiri karena rasa gugupnya hendak bertemu keluarga Belva.
"Sudah, ini pakai jam tangannya. Rambut disisir."
Kembali Satya menerima jam tangan dan sisir yang sudah disiapkan oleh Belva. Mereka berdua sudah benar-benar siap secara tampilan mereka.
Jika Belva merasa senang akan makan malam ini lain hal dengan Satya yang gugup. Bertemu dengan orang tua Belva sensasi nya berbeda ketika saat dia bertemu dengan klien terpenting di perusahaannya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang gak pernah lupa ya author ngucapin terima kasih banyak buat support nya sampai detik ini. Masih mengingat kan jika alurnya lambat jadi nikmati saja yaa... biarkan Satya dan Belva terbiasa menikmati kebersamaan mereka sebelum menikah. 🤗🤗🙏
__ADS_1